Between You and Me
.
.
.
.
[Hiruma Yoichi, Haruno Sakura] Anezaki Mamori
.
.
.
©Aomine Sakura
.
.
.
Riichiro Inagaki, Yusuke Murata, Masashi Kishimoto
.
.
.
(Jika tidak suka dengan cerita yang dibuat Author atau adegan didalamnya, silahkan klik tombol 'Back')
DLDR! DILARANG COPAS dan PLAGIAT dalam bentuk APAPUN!
Selamat Membaca
oOo Between You and Me oOo
"Untuk kaa-san dan tou-san,
Maafkan Saku, kaa-san, tou-san. Bukannya Saku ingin menjadi anak durhaka, namun Saku hanya ingin mengejar mimpi Saku menjadi desainer yang hebat. Saku juga ingin memiliki keluarga kecil Saku dengan Yoichi-kun. Silahkan jika kalian ingin membenci Saku, namun Saku janji. Jika Saku sudah menjadi sukses, Saku akan menjenguk kalian.
Terima Kasih karena telah susah payah membesarkan Saku. Saku sayang tou-san dan kaa-san."
.
.
.
.
.
.
.
.
Suara pesawat terdengar di udara. Sepasang anak manusia duduk di salah satu kursi dan tidak biasanya bandara menjadi lebih sepi dari biasanya. Lagi pula, sekarang hari sudah mulai malam.
"Sena-kun, menurutmu bagaimana Mamo-nee sekarang, ya?"
Taki Suzuna memandang kekasihnya yang duduk di sampingnya. Kobayakawa Sena, salah satu Running Back terkenal yang disebut-sebut sebagai Eyeshield 21, pelari tercepat yang ada di dalam tim American Football.
Setelah lulus dari Deimon, mereka memutuskan masuk ke Universitas yang sama dan di jurusan yang sama. Mereka masuk di Deimon University dan masuk ke dalam jurusan olah raga. Bersama dengan Musashi dan Kurita, mereka bergabung dalam tim Amefuto Deimon University.
Sekarang, mereka berada di Bandara Haneda untuk menjemput tim dari mantan kapten mereka di sekolah menengah atas dulu. Mereka juga ingin bertemu dengan orang-orang yang sekarang menjadi rival mereka. Namun, meski sekarang mereka berada di kubu yang berbeda, namun mereka tetap berteman baik.
"Mungkin tidak ada yang berubah." Sena mencoba membayangkan bagaimana rupa tetangganya itu.
Dia masih ingat, saat dia ingin menapaki jalan menjadi anggota Deimon Devil bats dulunya, Anezaki Mamori selaku komite kedisplinan melarangnya untuk ikut ke dalam tim olahraga laknat sekolahnya. Namun, dia memilih menapaki jalan yang berbeda, meski pada akhirnya tetangganya itu menjadi manager di timnya. Dari awal mereka bergabung di tim Amefuto, sebenarnya mereka sudah menapaki jalan yang berbeda. Mamori memilih untuk bersama dengan mantan kapten mereka dulunya.
"Aku ingin tahu bagaimana hubungan antara Yo-nii dan Mamo-nee. Aku yakin mereka pasti pacaran." Suzuna menerawang jauh. "Mereka sudah dekat sejak SMA, mereka pasangan yang serasi."
Sena membayangkan bagaimana wajah mantan kaptennya yang menyeramkan itu. Dia pikir, tidak ada serasinya sama sekali.
"Akhirnya! Jepang!"
Beberapa anggota Teikou datang. Ikkyu adalah yang berteriak paling keras disertai dengan umpatan milik Agon. Suzuna tersenyum aneh melihat anggota yang antusias itu.
"Mereka heboh seperti biasanya." Sena tersenyum aneh.
"Fuh, jadi kamu yang menjemput kami." Akaba Hayato tersenyum. "Lama tidak berjumpa, Sena."
"Oi, oi, ternyata cebol sialan ini yang menjemput. Cih, sialan." Agon melirik Sena sebelum melewatinya.
"Agon, kau mau kemana?" Banba menatap anggotanya itu.
"Bar."
Sena menatap kepergian Agon sembari bergidik ngeri. Biarpun dia sudah menjadi kuat sekarang, rasanya setiap kali melihat Agon pria itu masih saja menyeramkan.
"Sena! Suzuna!"
Mamori datang dan langsung memeluk mereka begitu saja. Betapa dia merindukan Sena dan Suzuna, terutama Sena yang telah menjadi tetangganya dan dia merasa bertanggung jawab atas semua keselamatan Sena.
"Aku rasa kamu berubah menjadi lebih kuat, Sena." Mamori tersenyum.
"Tentu saja, Mamo-nee! Sena selalu menjalani latihan dengan rutin." Suzuna memeluk wanita dihadapannya. "Aku merindukan Mamo-nee."
Mamori tersenyum. Ah, rasanya sudah lama sekali dia tidak bertemu dengan Sena dan Suzuna. Betapa dia merindukan mereka berdua.
"Mamori-san, kamu melupakan tasmu." Yamato muncul dengan berbagai barang di tangannya.
"Oh, terima kasih Yamato." Mamori menatap pria berambut coklat itu.
"Lama tidak berjumpa, Yamato-san."
Yamato baru menyadari kehadiran rivalnya saat memperebutkan kursi kemenangan saat Christmas Bowl dulu.
"Oh, Sena. Maaf aku tidak menyadari jika kamu ada disitu." Yamato tersenyum. "Aku sudah tidak sabar untuk bertanding denganmu, Sena."
"Aku juga."
Suzuna yang sedari tadi memperhatikan mereka kemudian mendekati Mamori, dia membisikan hal yang membuatnya penasaran. Karena sedari tadi, dia tidak melihat mantan kapten dari neraka mereka.
"Ne, Mamo-nee. Dimana Yo-nii?"
Mamori menggigit bibirnya dan memandang Yamato dengan pandangan terluka. Kaisar dari Teikou itu ingin sekali memeluk malaikat berambut auburn itu saat ini juga. Tetapi, dia tidak mungkin melakukannya.
"Sudah aku katakan untuk makan sebelum kita berangkat."
"Maafkan aku, Yo-kun. Aku membuatmu khawatir."
Pasangan yang sedang kasmaran itu muncul. Hiruma tampak gagah dengan kaos hitam dan celana jeans hitam miliknya. Pria berambut kuning itu tidak malu menenteng tas berwarna pink di tangannya. Sedangkan Sakura memeluk lengan pria di sampingnya.
Hiruma menyeringai ketika menatap mantan anggota timnya saat berada di SMA dulu.
"Kekekeke.. ternyata kalian berdua, cebol sialan."
"Mou, Yo-kun! Aku bilang jangan mengatai seseorang!"
"Siapa dia, Mamo-nee?" tanya Suzuna.
"Dia adalah calon istriku, kekekekeke."
"Hieeeeee?!"
Suzuna dan Sena menatap Sakura dengan pandangan tidak percaya. Bagaimana bisa, ada seseorang yang bersama dengan kapten mereka. Mereka sangat terkejut hingga tidak bisa mengatakan apapun.
"Ah, kalian temannya Yo-kun, ya?" Sakura tersenyum. "Perkenalkan, namaku Haruno Sakura. Salam ke-"
"Sudah, kita harus segera beristirahat." Hiruma segera membawa Sakura pergi. "Oi, manajer sialan. Katakan pada anak-anak sialan itu untuk datang lebih pagi lusa untuk berlatih. Besok kalian libur."
Mamori memandang kepergian mereka berdua dengan pandangan yang sulit diartikan. Meski dia sudah mencoba untuk melepaskan perasaannya, namun entah mengapa dadanya masih terasa sangat sesak.
"Mamori." Yamato memanggil gadis itu. "Sebaiknya kita pulang."
.
.
.
.
"Segarnyaaa..."
Sakura keluar dari kamar mandi dengan rambut yang setengah basah. Hiruma membawanya menuju apartemen milik pria itu yang ada di tengah kota Tokyo. Meski sudah bertahun-tahun menjalin kasih dan mengenal Hiruma secara luar dalam, dia masih saja terkejut melihat kekasihnya.
Dia tidak mengerti, seberapa kaya Hiruma hingga bisa tinggal di apartemen mewah nan mahal seperti ini. Dia juga tidak mengerti, seberapa pintar dan jenius Hiruma hingga bisa mengerti aib orang lain, menghafalnya dan membuat mereka ketakutan dengan ancaman miliknya.
"Yo-kun, tidurlah."
Sakura berjalan mendekati Hiruma dan menutup laptop milik pria itu. Hiruma sudah bekerja keras dan dia menginginkan saat bersamanya, Hiruma hanya fokus padanya dan bukan pada yang lain. Namun, sepertinya akan sulit.
"Ck, kau ini." Hiruma berdecak melihat rambut Sakura yang belum kering benar. "Sini, biar aku keringkan."
Sakura tersenyum dan membiarkan Hiruma mengeringkan rambutnya. Entah sejak kapan, Hiruma menjadi sangat romantis dan pengertian seperti ini. Dia tidak paham, mengapa hanya padanya Hiruma mampu seperti ini.
Teman-temannya selalu mengatakan jika Hiruma bukanlah lelaki yang baik. Apalagi dengan perangai kasar, urakan dan cuek miliknya, membuat beberapa teman-temannya tidak menyukainya. Dia juga tidak mengerti, mengapa dia bisa jatuh Cinta pada pria semacam Hiruma.
"Yo-kun." Sakura membalikan badannya dan menatap Hiruma. "Aku mencintaimu."
Hiruma mendenguskan wajahnya.
"Dasar bodoh."
Sakura mendorong tubuh Hiruma sebelum menindihnya, Hiruma nampak sangat seksi sekarang. Memejamkan matanya, Sakura mencoba mengatur detak jantungnya.
Tidak. Dia tidak menyesal berada disini sekarang. Dia tidak menyesal akan pilihannya untuk bersama dengan Hiruma. Dia tidak menyesal memilih masa depannya bersama dengan Hiruma. Dia mencintai Hiruma.
Ciuman yang di daratkan Sakura menutup malam mereka.
.
.
.
Yamato memandang ponselnya sebelum mencari nama kontak di ponselnya. Dia ingin sekali menekan tombol hijau di layar ponselnya, namun dia merasa ragu-ragu dan mengurungkan niatnya. Tetapi, dia juga ingin tahu bagaimana kabar dara pujaan hatinya.
Akhirnya, dia menguatkan hatinya dan menekan tombol hijau di layar ponselnya. Hingga akhirnya, suara yang dinantikannya terdengar.
"Moshi-moshi, Yamato-kun?"
"Belum tidur, Mamori?"
Ah, meskipun orang-orang memanggilnya kaisar dari Kanto. Namun, untuk urusan wanita, mungkin nilainya nol besar.
"Aku baru saja selesai berbincang dengan keluargaku. Apa ada masalah, Yamato?"
"Tidak ada. Aku hanya ingin tahu apakah kamu baik-baik saja?"
"Jangan mengkhawatirkanku, Yamato-kun. Aku baik-baik saja. Sebaiknya kamu segera istirahat."
Bisakah Yamato tidak jatuh Cinta?
.
.
.
.
"Sena, apa kamu yakin jika Mamo-nee akan baik-baik saja?"
Mereka sedang berada di rumah Suzuna. Dia mengantarkan Suzuna pulang setelah melepas rindu dengan Mamori. Sena tersenyum sebelum mengusap kepala kekasihnya dengan lembut.
"Jangan khawatir dengan Mamo-nee, dia adalah wanita yang kuat. Aku yakin jika dia akan baik-baik saja."
"Aku benar-benar tidak menyangka jika Yo-nii memiliki kekasih. Padahal hubungan mereka berdua sudah sangat dekat. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Mamo-nee."
Sena menghela napas panjang. Sejujurnya, dia juga terkejut ketika melihat mantan kaptennya menggandeng wanita lain. Tetapi, dia tahu jika tetangganya itu adalah wanita yang kuat dan dia yakin jika semuanya akan baik-baik saja.
"Cepatlah masuk, Suzuna. Nanti kamu kedinginan."
Suzuna tersenyum sebelum mencium pipi Sena.
"Aku mencintaimu, Sena."
Sena hanya bisa membeku di tempatnya dengan wajahnya yang memerah.
oOo
Suara ketukan keyboard terdengar di sebuah ruangan yang sepi. Seorang pria mengunyah permen karetnya dan meniupnya hingga membentuk sebuah balon di mulutnya. Wajahnya terlihat serius dan tangannya yang sibuk mengetikkan sesuatu di keyboardnya.
Terlahir dari keluarga yang tidak pernah harmonis, membuatnya menjadi kebal dan mandiri sebelum waktunya. Apalagi dia dikaruniai otak yang cerdas dan jenius.
Di usianya yang keempat belas tahun, dia mendirikan sebuah toko olah raga miliknya sendiri dan di usianya yang keenam belas tahun, dia sudah menjadi pengusaha sukses yang mampu disejajarkan dengan pengusaha kaya lainnya. Namun, dia tidak suka namanya menjadi dikenal oleh banyak orang, jadi dia menyembunyikan semua identitasnya. Semua orang hanya tahu jika dia adalah Hiruma Yoichi, setan dari Neraka.
Cring!
Sebuah email muncul di layar laptopnya, membuatnya menghentikan kegiatannya.
Yo-kun, bagaimana kabarmu? Ayah dengar, kamu sudah sampai di Jepang. Aku harap, kita bisa bertemu.
Mengunyah permen karetnya, dia segera menekan tombol delete dan memblokir email yang masuk ke akunnya.
"Sedang apa, Yo-kun?"
Sakura memeluk prianya dari belakang. Rambutnya acak-acakan dan dia hanya ditutupi selimut yang membungkus tubuh indahnya. Sedangkan Hiruma, hanya untuk mengenakan celana panjang hitam miliknya.
"Berhentilah, bekerja, Yo-kun." Sakura memeluk kekasihnya dengan erat. "Pikirkanlah kondisi tubuhmu. Kamu juga butuh istirahat."
Hiruma menutup laptopnya dan memandang Sakura.
Ah, mengapa dia selalu luluh pada wanita secantik Sakura?
.
.
.
.
.
Sakura membuka matanya dan tidak menemukan kekasihnya ada di sampingnya. Menggeliat dengan malas, Sakura mengikat rambutnya sebelum mengenakan kemeja hitam kebesaran milik Hiruma. Dia benar-benar tidak menyesal melepas semuanya dan memulai hidupnya bersama dengan Hiruma.
Melangkahkan kakinya keluar dari kamar mereka berdua, Sakura berjalan menuju ruang makan. Disana, dia tidak menemukan Hiruma, namun dia melihat banyak makanan sudah ada diatas meja. Mengalihkan langkahnya, emeraldnya menatap Hiruma yang sedang berdiri di balkon apartemen mereka dengan bertelanjang dada dan mengunyah permen karetnya.
"Ohayou, Yo-kun."
Merasakan sebuah pelukan dan sebuah benda kenyal yang menempel di punggungnya, membuat Hiruma menyeringai.
"Kau sudah bangun, eh?" Hiruma membalikan badannya masih dengan seringai yang menurut Sakura sangat seksi.
"Hmm, ya." Sakura tersenyum. "Ingin sarapan? Kamu yang menyiapkannya?"
"Kekekekeke.. Bagaimana menurutmu?"
"Itu tidak mungkin. Kamu pasti memesan dari restaurant yang ada di lantai bawah, kan?"
"Kekekekek.." Hiruma tertawa dan membuat Sakura merasa gemas.
"Sakura, aku punya kejutan untukmu."
.
.
.
Mamori menghela napas panjang dan menjemur beberapa pakaian yang dibawanya dari Amerika. Meski kedua orang tuanya sudah memintanya untuk beristirahat saja, namun dia tidak ingin istirahat. Istirahat hanya akan membuat dadanya terasa sangat sesak, apalagi ketika mengingat bagaimana hubungan antara kaptennya dan Haruno Sakura.
Apalagi, dia melihat beberapa foto yang diunggah oleh Sakura di akun media sosial wanita itu. Ternyata, Haruno Sakura sangat terkenal dengan karya busananya dan kemesraannya dengan Hiruma. Melihat foto-foto mereka berdua saja, Mamori tahu jika Sakura adalah orang yang sangat berarti untuk Hiruma dan dia tidak akan memiliki kesempatan untuk bersama dengan pria berambut kuning itu.
Seharusnya dari awal, dia memang tidak usah berharap pada pria itu.
Bel pintu rumahnya dibunyikan dan membuatnya menghentikan kegiatannya. Ibunya pasti sedang memasak, jadi alangkah lebih baiknya jika dia yang membuka pintu bagi tamu yang datang.
"Mamori."
Mamori terkejut melihat siapa yang ada di depan pintu rumahnya.
.
.
"Yo-kun, aku boleh membuka penutup mataku?"
Sakura benar-benar tidak mengerti, kenapa Hiruma harus menutup matanya jika ingin memberikannya kejutan. Tidak biasanya Hiruma seperti ini, karena Hiruma bukanlah sosok yang romantis dan dia tahu itu. Namun, entah mengapa baginya semua sikap Hiruma sangatlah manis.
"Sekarang, kamu boleh membukanya."
Membuka penutup mata yang menutupi pengelihatannya, Sakura merasa silau. Sepersekian detik lamanya, dia menatap sebuah butik yang ada dihadapannya. Sakura memandang kekasihnya dengan pandangan tidak percaya.
"Yo-kun?"
"Kekekekeke.. Kamu tidak suka?" tanya Hiruma.
"Ini untukku?" Sakura masih tidak percaya dengan apa yang ada dihadapannya.
"Kamu bisa mewujudkan semua mimpimu."
Hiruma tersenyum ketika Sakura memeluknya dan menenggelamkan kepalanya di dada bidangnya. Demi wanita berambut merah muda itu, dia bahkan rela melakukan apa saja untuk membuat wanita itu bahagia.
Sakura benar-benar tidak menyesal untuk tetap berada di sisi Hiruma.
.
.
"Mamori, kamu mau nonton apa?"
"Hmm.. Apa saja."
Mamori memandang sekelilingnya, bioskop cukup ramai meski ini adalah hari kerja. Padahal dia kira, bioskop akan sepi pada saat hari sibuk seperti ini.
Dia sungguh terkejut ketika melihat Yamato ada di depan rumahnya. Padahal, dia mengira jika semua anggota timnya sibuk dengan keluarganya karena mereka berada di Amerika dalam waktu yang cukup lama. Matanya memandang Yamato yang tampak berbeda dengan pakaian santainya, meski selama di Amerika dia sudah terbiasa melihat beberapa anggota timnya dengan pakaian bebas mereka. Entah mengapa, dia baru menyadari jika Yamato juga tampan.
Ddrrtt..
Notifikasi ponselnya bergetar dan membuatnya mengambil ponselnya. Matanya memembuka aplikasi media sosialnya dan menemukan foto yang diunggah oleh Sakura. Disana, Hiruma dan Sakura berdiri di depan sebuah butik dengan senyuman merekah milik Sakura dan Hiruma yang menyeringai.
Terima Kasih karena telah mewujudkan semua mimpiku.
Dadanya terasa sangat sesak. Sakura dan Hiruma adalah pasangan yang sempurna dan mereka terlihat saling menyayangi dan sangat serasi. Mamori benar-benar merasa bodoh telah menyukai Hiruma Yoichi sang setan dari Neraka. Seharusnya, dia tidak menyukai pria itu dari awal.
"Mamori?"
"Oh, iya. Ada apa?" Mamori mengangkat kepalanya.
"Ada apa? Kamu memandangi ponselmu seperti itu." Yamato memandang Mamori dengan pandangan aneh.
"Tidak ada apa-apa." Mamori tersenyum. "Jadi, kita mau nonton apa?"
"Aku membelikanmu tiket film romantis, tidak apa-apa?"
"Tidak apa-apa. Ayo kita nonton."
Mamori memandang tangannya yang digenggam oleh Yamato. Mungkin, dia bisa mencoba untuk membuka hatinya dan melupakan Hiruma.
.
.
.
Yoichi : "Jangan bertingkah macam-macam, Sakura."
Sakura : "Hahaha, aku menantimu saat makan siang. Semangat latihannya, Yo-kun."
Sakura meletakan ponselnya dan tersenyum. Dia memandang butiknya yang dibangun Hiruma untuknya, dia benar-benar tidak menyangka jika Hiruma akan melakukan hal ini untuknya.
Mungkin, dia akan membuat perencanaan untuk mengangkat asisten yang akan membantunya, membuat pameran untuk mempromosikan butiknya atau membuat selebaran yang bisa dibagikan kepada orang-orang mengenai butiknya. Pekerjaannya masih banyak dan tidak ada waktu untuk bersantai.
Meregangkan bahunya, dia mungkin bisa membuat secangkir kopi untuk membuka hatinya. Entah sejak kapan, kopi mulai melekat dalam hidupnya dan itu semua karena Hiruma.
Clining!
Suara lonceng di pintunya menandakan ada pelanggan yang datang. Akhirnya, pelanggan pertamanya.
"Selamat da-"
Kata-kata Sakura terhenti ketika melihat siapa yang berdiri dihadapannya.
"-tang."
"Sakura-chan, bisa kita bicara?"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
Kembali bersama Saku disini! Maafkan atas keterlambatan ini :( selain karena kesibukan kuliah yang semakin hari semakin sibuk, sibuk dan sibuk, tubuh Saku udah gak sekuat dulu lagi :( jadi lebih cepet capek :(
Dalam Bulan ini, Saku juga dua kali jatuh sakit dengan penyakit yang sama dan jadi mengurangi produktifitas.. Maafkan Saku :(
Dan terima Kasih banyak bagi yang sudah mendukung dan jangan lupa tinggalkan review yang banyak!
Salam hangat,
-Aomine Sakura-
