Because of Fate

Number One Detective

A Fanfiction Made by min_ve

Main Pairing: Kookv; Top! Jungkook x Bottom! Taehyung

.

.

Enjoy~

.

.

"Penyebaran data internal akan disebarkan dalam hitungan ke 10."

Hari terakhirnya untuk berada di bar sebagai tempat dimana ia mendikusikan banyak hal dengan rekannya, berhubung dirinya sendiri tak menyukai untuk membawa bahkan rekannya sendiri ke tempat tinggalnya. Keadaan masih menjelang pagi dan belum banyak orang datang selain untuk meminta segelas minuman kemudian pergi untuk beristirahat setelah melakukan pekerjaan mereka masing-masing. Dengan marga baru tersandang pada punggungnya, dengan warna rambut yang berbeda, ini adalah saat terakhir untuk sang bartender menyentuhnya dengan bebas.

"Sepuluh."

Penyebaran data internal merupakan data yang akan disebarkan diantara para mereka yang berada di dunia belakang. Ini merupakan hal yang sangat umum dan bukanlah hal baru, selama para pembunuh bayaran memang menerima pekerjaan yang mengharuskan mereka menyamar data internal akan disebarkan melalui sebuah program. Tidak hanya itu tetapi program ini akan mendata apakah data yang diterima telah dibaca atau tidak. Tentunya—program itu memiliki kata sandi dan hanya diketahui oleh para pembunuh bayaran itu sendiri. Berhubung itu adalah program khusus untuk para pembunuh bayaran bukan untuk para pekerja di belakang.

"Sembilan."

Bagaikan ibu yang akan mengantarkan anaknya sekolah jauh dari jangkauannya, ia menyisir rambut cokelat manis Taehyung dengan jarinya. Sementara yang dielus hanya diam, tak memedulikan apapun selain mendengar suara dari speaker biasa menyuarakan hitungan mundur dengan nada robotik itu. Jimin masih berkutik dengan komputernya untuk dapat segera melihat siapa saja yang telah menerima data internal dan membacanya.

"Delapan."

"Selalu jaga dirimu, Taehyung. Andaikan memang itu bukan lagi hal yang bisa kau tangani jangan ragu untuk menghubungiku." Ucap sang bartender menjauhkan tangannya dari kepala Taehyung.

"Tujuh."

Taehyung bertingkah seolah tak mendengarkan perkataan si bartender. Malah melirik Jimin yang sekarang ekspresinya mulai menghangat, menandakan bahwa apapun yang tengah dilakukannya mulai berkurang intensitasnya dan dapat mengalihkan perhatiannya dari benda elektronik itu ke rekannya.

"Enam."

"Aku bukan lagi anak yang membutuhkan bantuan untuk menyelesaikan masalahku sendiri, Yuta-ah. Kau tak perlu menghunuskan kembali pedangmu untuk menyelesaikan masalah yang kutuai sendiri." Taehyung akhirnya membalas perkataan si bartender.

Tetapi tentu itu sedikit menimbulkan tarikan pada sudut bibir si bartender. Semenjak Taehyung mulai dewasa dia tak pernah menyebutkan namanya bahkan selalu terdengar berusaha menemukan jalur kabur agar tak menyebutkan namanya. Entah apa alasannya tetapi dapat mendengar suara husky yang sejak dahulu telah menarik perhatiannya menyebutkan namanya meski untuk terakhir kali sungguh cukup untuk membuatnya merasa senang—betapa murahnya dia untuk menunjukkan senyum bahagia. Mendengarnya—tapi—membuat rasa nostalgia kembali datang.

"Lima."

Semakin telinganya mendengar suara hitungan mundur, semakin pikirannya malah memutar ulang lagi semua saat ketika bertemu dengan Taehyung. Mengambil tangan yang ukurannya tak jauh berbeda dengannya. Mendengar penjelasan dari orang yang memungut Taehyung mengenainya, bagaimana keberadaan Taehyung merupakan sesuatu yang begitu dirahasiakan dan sebenarnya secara dokumen resmi telah dinyatakan meninggal. Dimana pulang mendengarnya hampir saja menebas Jimin meskipun tahu bahwa pemuda berambut abu-abu itu tak mengetahui apapun karena telah membuang semua mengenainya. Entah apa yang akan terjadi andaikan si brengsek Yugyeom tak berada disana untuk menendang lengannya sampai terasa tulangnya patah kemudian secara refleks menjatuhkan pedangnya.

"Empat."

"Kau akan pergi sekarang? Hitungan mundur belum selesai—" perkataan Jimin seketika terpotong.

"Aku akan pergi sekarang. Bertepatan dengan hitungan mundur selesai dunia harus melihat Jung Taehyung, maka aku harus pergi sekarang." Jelas Taehyung berbalik menatap Jimin, "Aku akan tetap memiliki kontakmu—Park Jimin. Jung Taehyung tak mengenal Jim, ia hanya mengenal Park Jimin."

Sebuah kekehan kecil keluar dari belah bibir Jimin, "Dork. Get out then, fucker." Mengucapkannya seraya menyikutnya dengan pelan, tidak ada niat untuk benar-benar menyikutnya sampai terasa sakit. Ditambah dalam hatinya pun sebenarnya Jimin tak ingin melihat rekan terbaiknya untuk pergi keluar dan tidak dapat dilihatnya lagi dengan bebas. Bagaimanapun Taehyung merupakan rekan terbaiknya dalam banyak hal.

"Tiga."

"Dua."

Tepat ketika Taehyung membuka pintu bar tersebut hitungan mundur telah hampir selesai. Hanya dengan satu langkah keluar hitungan mundur itu akan selesai. Berlagak seperti bagaimana seorang Taehyung dia pergi keluar tanpa mengatakan apapun bahkan lambaian tangan kecil pun—tidak.

"Satu."

Blam.

Suara pintu tertutup—

"Data internal telah disebarkan. Status saat ini; data telah diterima oleh semua pembunuh bayaran."

"—Telah dibaca oleh satu; Yugyeom."

.

.

Because Of Fate Chapter Four

Number One

.

.

.

Tangan kekarnya memutar kenop shower ke arah kiri untuk mematikan aliran air yang menetes tanpa henti pada tubuh telanjangnya. Mengusak rambut basah yang telah dicuci bersih—tentu saja ia harus mencucinya setiap hari dengan banyaknya debu yang mengenainya karena berpergian kesana-kemari untuk menemukan bukti meskipun hanya helaian rambut. Sayang, sepertinya takdir tak pernah berada di sisinya. Semua investigasi bagaikan usaha sia-sia, bahkan sidik jari pun tak ada—sama sekali tak ada petunjuk apapun. Ditambah juga semalam ayahnya menelepon ingin bertemu dengannya. Apa yang diinginkannya? Dia telah membanting setir untuk menentukan profesinya yang sama sekali tak ada hubungannya dengan ekonomi atau bisnis.

Sayang dia tak dapat membuang marganya dengan bagaimana nama 'Jeon' telah merambatkan akarnya dalam tubuhnya, sampai pembuluh darahnya.

Memakai pakaian yang telah merupakan style-nya, menyimpan sebuah pistol pada sisi kiri tubuhnya juga memasukkan emblem yang sering digunakannya untuk dapat mudah menginterogasi siapapun termasuk anggota pemerintah sekalipun. Bercermin di depan cermin untuk kembali memeriksa penampilannya—apakah ada yang kurang atau sesuatu?

Tidak ada, saatnya berangkat.

Dengan menggunakan mobil sebagai transportasi utamanya hanya dibutuhkan waktu kurang dari dua puluh menit untuk sampai di gedung dimana ayahnya pasti berada. Menggunakan elevator untuk naik ke lantai paling atas—entah mengapa sepertinya telah menjadi budaya agar para pemimpin perusahaan diberikan kantor di lantai teratas, mengapa mereka tak pernah diberikan lantai paling bawah atau setidaknya di te—

Ting!

Tentu saja itu lantai yang ditujunya, toh ini elevator khusus untuk para marga Jeon strata atas jadi tak mungkin ada pegawai lain yang menggunakannya. Dia hanya perlu bersandar pada cermin dinding, menutup matanya sampai mendengar suara penanda telah sampai di lantai yang diinginkannya. Berjalan di lorong sepi menuju pintu ganda dengan ukiran indah, berlagak seperti dirinya sendiri—tak mengenal sopan santun kepada keluarganya sendiri—tangannya langsung membuka begitu saja pintu tersebut tanpa mengetuk meski sekedar untuk basa-basi.

Mengesampingkan keberadaan ayahnya yang tengah duduk sambil membaca beberapa dokumen, di dekatnya terdapat seseorang yang tak pernah dilihatnya. Dengan mengenakan mantel biru dongker dengan garis putih tipis, rambut cokelatnya dan postur tubuhnya yang tak terlalu tegap namun dapat dikatakan tegap, belum lagi rupa wajahnya yang cukup cantik.

"Tidakkah kau mengenal 'mengetuk', Kook?"

Suara berat dan penuh wibawa itu menarik perhatiannya dari sosok pemuda cantik itu, mengerlingkan pandangannya untuk menatap sang ayah yang menatapnya dengan penuh resah. Wajahnya menunjukkan kemampuan memimpinnya, sekilas terlihat ramah namun ketika matanya menyipit sedikit saja langsung membuat aura gelap. Meletakkan dokumen tersebut di samping, kedua sikutnya digunakannya untuk menopang telapak tangan yang berada di bawah dagunya.

"Aku pikir aku tak perlu mengetuk berhubung aku diundang." Dengus Jungkook menggunakan nada yang menunjukkan keangkuhannya, tak memedulikan jika lawan bicaranya sendiri merupakan ayahnya, "Apa yang kau butuhkan, ayahanda? Aku memiliki banyak pekerjaan yang harus dikerja—"

"'Dikerjakan'?"

Andaikan itu bukanlah putranya sendiri, pengulangan kata itu mungkin telah membuat pegawainya langsung menunduk takut atau bahkan tunduk dalam dominasinya. Meskipun telah bercampur dengan darah ibunya tetap saja pemuda di hadapannya memiliki darahnya juga, tak mudah membuatnya tunduk.

"Apa yang sebenarnya kau kerjakan?" kata akhirnya bagai ditekankan dengan sangat, "Selain berkeliling ke daerah kumuh, terluka bahkan sekarat? Apa kau sadar meskipun dengan profesimu, seorang alpha murni dari marga Jeon mati karena manusia dengan strata di bawahnya merupakan hal yang paling menghina?"

Pria dengan jas seharga jutaan ginjal bangkit berdiri dari kursi nyamannya. Melangkah kemudian terhenti di samping meja berbahan kayu terbaik di negaranya. Dengan jarak pun dia dapat membuat putranya merasakan aura dominasinya yang lebih dari apa yang dimiliki putranya. Meskipun tak cukup untuk membuatnya melangkah mundur, setidaknya tahu bahwa pria ini serius dengan semua perkataannya, Sejak awal Jeon Namjoon bukan tipe orang yang ingin bermain-main dengan perkataannya dan dunia telah mengetahui fakta itu. Pemuda yang tentu tak dapat ikut campur dengan urusan internal mereka hanya diam di tempat sampai menunggu dirinya dipanggil.

"Untuk menghindari agar kau tidak lagi sekarat karena peluru dari manusia dengan strata lebih rendah, mulai sekarang kemanapun kau akan pergi akan didampingi oleh bodyguard."

"Aku tak membutuhkan bodyguard. Kekuatan keadilan akan selalu melindungiku! Ayahandatak perlu menyediakanku bodyguard!"

Suara yang tetiba naik itu langsung menarik perhatian si pemuda itu. Tentu—dengan bagaimana yang terdengarnya putra si kliennya itu menggunakan suara yang sangat tenang bahkan ketika ayahnya menegurnya mengenai mengetuk pintu sebelum masuk. Apa mungkin dia hanya terpancing ketika sesuatu berhubungan dengan keadilan? Sepertinya dia harus mengambil data sebanyak-banyaknya untuk sementara ini dari interaksi antara ayah dan putranya.

"Mau kau memerlukannya atau tidak, aku akan memaksamu membawanya. Selain jika kau ingin pekerjaan menjadi detektifmu diambil paksa kemudian dikotori, Jungkook."

Checkmate—sepertinya.

Menatap minimnya suara dari si lelaki berambut hitam arang itu menunjukkan kekalahannya dalam perdebatan antar putra dan ayah. Ayahnya menatap ke arah dimana si pemuda yang sedaritadi hanya berdiam bagaikan patung. Itu adalah pertanda untuknya. Seiring dengan langkah kaki maju ke depan si pemuda itu, pemakai jas hitam mahal itu kembali berkata untuk membuat anaknya tersadar dari kekalahan telaknya.

"Temui bodyguard-mu dari sekarang, Jungkook."

Tentu saja Jungkook terkejut. Ia menganggap bahwa lelaki dengan wajah cantik itu merupakan bahan seks baru ayahnya tetapi ternyata dia adalah bodyguard-nya!? Bagaimana mungkin lelaki cantik sepertinya dapat melindunginya? Apakah sejak awal ini adalah lelucon yang telah direncanakan oleh ayahnya?

"Ayahanda… Kau serius menjadikan seorang lelaki cantik seperti—"

Jungkook tak pernah tahu bahwa menunjuk kemudian hampir menyentuh si pemuda cantik itu merupakan kesalahan besar. Dengan gerakan cukup lamban namun kuat ia menangkap tangan Jungkook kemudian segera membawanya ke belakang punggung dan sendi bahu tak didesain untuk dapat berputar seratus delapah puluh derajat sehingga tak mungkin Jeon Jungkook sekalipun tak merasa kesakitan belum lagi memukulkan wajahnya ke atas meja kemudian menahannya.

"Aww!"

Jangan salah—Jungkook sendiri sebenarnya tak selemah itu, tetapi memang sejak kejadian penembakan sebelumnya kecakapan untuk merespon hal mendadak menjadi berkurang. Terbukti bahkan dia tidak dapat membela diri dari serangan mendadak si pemuda cantik, dan sekarang mulai sedikit terlihat alasan mengapa ayahnya memerintahkannya untuk memiliki bodyguard bahkan dengan serangan kecil seperti ini dia tak dapat berkutik bagaimana dengan benda tajam atau senapan.

"AWW! Kau ingin mematahkan tanganku!?" teriak Jungkook kesakitan ketika genggaman pada pergelangan tangannya semakin kuat sampai terasa sendinya retak mendadak.

"Ini bukan kekuatan yang bisa membuat tulang Anda retak."

Mata bundar hitam bagaikan lubang hitam Jungkook membulat. Sekilas bagaimana pemuda cantik itu berbicara dengan suaranya mengingatkannya akan deskripsi sesuatu, tetapi entah mengapa otaknya tak mampu mengingatnya saat itu. Namun ia begitu yakin ketika mendengar suaranya bulu kuduknya sempat berdiri bagai merasa menggigil karena kedinginan

Ayah Jungkook memerintahkan kepada si pemuda cantik untuk berhenti kemudian menatap putranya seakan bertanya apakah dia telah mengerti kekuatan sang bodyguard-nya sekarang yang bahkan dengan mudahnya mampu menahannya di atas meja. Melihat tatapan mata bundar hitam itu dia tahu putranya telah mengerti karena netra itu memancarkan rasa kekesalan namun juga kesadaran bahwa ia terkalahkan oleh sesuatu meskipun para dokter telah mengatakan berjuta-juta kali bahwa sarafnya telah memiliki banyak kerusakan sehingga respon refleksnya melambat dan harus belajar menerima keadaannya sekarang.

"Perkenalkan dirimu." Ucap ayah Jungkook kepada pemuda cantik.

Dengan saling berhadapan netra pemuda cantik itu menilik semua sisi wajah Jungkook bahkan berapa helai bulu matanya pun harus terdata.

"Jung Taehyung." Taehyung mengulurkan tangannya, berniat menjabat tangan detektif yang harus dilindunginya mulai dari sekarang. Omong-omong di pikirannya sekarang memikirkan berapa banyak tulang yang akan patah dengan melindungi detektif sepertinya.

Meskipun ragu pada awalnya detektif itu menjabat tangan bodyguard-nya. Tidak—ia bukan ragu karena ketakutan kepada pelindungnya sendiri tetapi hati kecilnya masih tak ingin mengakui dan menerima bahwa dia memang harus dilindungi. Bersentuhan fisik dengan kulit Taehyung—hangat—sepertinya pemuda itu bukanlah si pembunuh yang telah ia cari sampai terluka seperti ini. Hampir saja Jungkook pun berpikir bahwa Taehyung di hadapannya adalah si Kim Taehyung hanya karena nama pemberian mereka sama—jika dia benar-benar berpikir demikian gagal sekali sebagai detektif. Sayangnya tak hanya marga pun bisa sama, nama pemberian di negara mereka pun dapat sama tetapi bukanlah orang yang sama oleh karena itu pendataan secara fisik merupakan hal fundamental untuk menemukan orang yang tepat.

"Jeon Jungkook. Detektif nomor satu di Korea Selatan." Jungkook menjabat tangan dengan perkenalan diri yang sangat sesuatu. "Kau begitu cantik, Taehyung-ssi—bolehkah aku mengetahui stratamu?"

Andaikan saja Taehyung tak terlatih pasti matanya telah menyipit sejenak sebagai reaksi ketidaknyamanannya dari pertanyaan Jungkook. Tak mungkin seorang detektif sepertinya bertanya hanya karena rasa ingin tahu. Dia telah mencurigai sesuatu—dan bertanya untuk mengetahui apakah kecurigaannya benar atau tidak.

"Beta—"

"Benarkah?"

"Bukankah kau terlalu cantik untuk menjadi beta sekalipun?"

Bertanya dengan niat menaklukan jawabannya. Meskipun pertanyaannya sebenarnya tak masuk di akal karena banyak beta yang bahkan lebih tampan dan cantik dibandingkan dirinya namun keberadaan alpha selalu menutupi mereka. Jungkook mencari perubahan ekspresi terkecil sekalipun dan netranya pun dengan tajam akan menangkap perubahan ekspresi meski hanya kurang dari sedetik. Mencari ekspresi keterkejutan dari Taehyung—licik sekali detektif nomor satu di Korea Selatan.

"Penampilanku ditentukan oleh penampilan orangtuaku. Dan dengan sangat lancang, masih banyak beta di luar sana yang bahkan lebih tampan dari Anda."

"Jadi kau menyebutku tampan?"

Dafuq?

Jungkook menarik dirinya dari dekat daerah privasi Taehyung, menggunakan tangan kanannya untuk menyibak rambutnya ke belakang. Dan sialnya memang Taehyung harus akui ketika rambut lembut dan berwarna hitam alami bagaikan arang itu mengikuti jari kemudian kembali terjatuh dengan lembutnya sangat menarik.

"Aku memang tampan. Jika tak tampan, akan sulit memeras informasi dari para jalang di luar sana. Karena jalang terlalu banyak berada di jalanan dan melihat apapun yang terjadi di jalan. Terkadang mereka lebih memiliki informasi dibandingkan bawahanku sendiri." Jelas Jungkook, memasang wajah penuh bangga sembari menjilat bibirnya, "Dan memang terkadang ada jalang disana yang rasanya sungguh lezat."

Brengsek. Wajah penuh bangganya itu membuat Taehyung ingin menusukkan pisau ke wajahnya.

"Sekali lagi, salam kenal, Taehyung-ssi." Ucap Jungkook kemudian menatap ayahnya yang hanya menonton sedari tadi, "Jadi—aku menganggap dia akan tinggal satu atap denganku, ayahanda?"

Ayah Jungkook hanya mengangguk. Entah mengapa Taehyung harus bersyukur kliennya ini telah memerintahkan agar Taehyung mendapatkan kamar yang tak terlalu berdekatan dengan ruang pribadi Jungkook. Sepertinya emosinya tak akan kuat menahan kesal dari melihat wajah penuh bangganya.

.

.

.

"Selamat datang—Tuan!?"

Napasnya berat. Pergelangan tangan kanannya penuh dengan darah dan masih banyak yang menetes ke jalanan berhubung tubuhnya belum masuk ke dalam bar tersebut. Melihat dari betapa kotornya pakaiannya oleh darah sepertinya luka pada daerah lengan atau pergelangan tangannya telah terjadi cukup lama sebelumnya. Sang bartender yang tengah melayani pemuda tinggi yang memakai sarung tangan hitam bergegas mendekati orang yang bersimbah darah.

"…-rima aku…"

"He?"

"T-terima… aku… Tolong… Aku telah membuang margaku… Oleh karena itu…"

Dia ingin membuang semua yang berhubungan dengan marganya. Meskipun harus mengiris pergelangan tangannya dan membuang semua darahnya. Demi menemukan tempat baru, demi kabur dari kehidupan yang telah terukir pada darahnya.

Darah—Park-nya.

.

.

.

To Be Continued