Between You and Me
.
.
.
.
[Hiruma Yoichi, Haruno Sakura] Anezaki Mamori
.
.
.
.
.
©Aomine Sakura
.
.
.
.
.
Riichiro Inagaki, Yusuke Murata, Masashi Kishimoto
.
.
.
.
.
JIKA TIDAK SUKA DENGAN CERITA ATAU ADEGAN DI DALAMNYA, SILAHKAN KLIK TOMBOL BACK! DILARANG COPAS DAN PLAGIAT DALAM BENTUK APAPUN DAN DI MEDIA MANAPUN! DLDR!
Selamat membaca!
oOo Between You and Me oOo
Sakura memandang pria dihadapannya dengan pandangan tidak percaya. Pria dihadapannya mengenakan setelan jas berwarna putih dan pria itu melepas topinya yang berwarna putih juga. Sakura terpengarah bahkan sangat terkejut ketika memandang siapa yang datang berkunjung ke butiknya.
"Yuuya-san?"
Hiruma Yuuya tersenyum memandang Sakura. Dia meletakan topi putihnya diatas mejanya dan mendudukan dirinya di salah satu kursi yang ada di dekat Sakura. Wanita berambut pink itu masih terkejut dan mematung di tempatnya berdiri.
"Lama tidak berjumpa, Sakura."
Yuuya Hiruma memiliki perawakan yang cukup tinggi dengan postur tubuh yang cukup tegap. Dia memiliki rambut kecoklatan dengan mata tajam seperti Hiruma dan masih cukup tampan untuk usianya yang sudah memasuki paruh baya. Sakura tidak akan pernah melupakan bagaimana wajah kedua orang tua Hiruma.
Terakhir kali dia melihat kedua orang tua Hiruma adalah saat mereka masih berada di sekolah dasar. Kemudian dia mendengar perpisahan yang menimpa kedua orang tua Hiruma dan sampai sekarang, dia tidak pernah menyinggung tentang kedua orang tua kekasihnya. Karena baginya, Hiruma akan tampak lebih rapuh saat membicarakan masa lalunya.
Baginya, Musashi dan Kurita. Segala tingkah laku Hiruma merupakan bentuk dari ketegaran hatinya yang selama ini di bangunnya. Bertahun-tahun dan akhirnya kepribadian menyeramkan itu muncul. Namun, jauh di dasar hati Hiruma, dia adalah orang yang paling peduli pada sekitarnya dan juga teman-temannya.
Dulu, banyak sekali orang yang takut dengan Hiruma. Hanya dia, Musashi dan Kurita yang selalu menemaninya. Kemudian, dia selalu berkirim kabar dengan Musashi dan merasa senang ketika mengetahui jika Hiruma sudah memiliki banyak teman. Apalagi, ketika dia menonton pertandingan Christmas bowl yang disiarkan di televisi. Rasa harunya memuncak dan tengah malam buta, dia menelpon Hiruma dan menangis karena bahagia. Dan hal yang menyebalkan, ketika Hiruma malah tertawa keras dan meledeknya.
Tadinya, dia khawatir dengan kondisi kekasihnya. Apakah selamanya Hiruma akan berteman dengan Musashi dan Kurita dan senang mengancam orang lain. Namun, ketika dia melihat tim yang begitu kuat dan menghormati kaptennya, dia merasa senang karena pada akhirnya Hiruma kini tidak sendiri lagi.
"Paman ingin meminum sesuatu?" Sakura membuka kulkas yang ada di butiknya dan mengeluarkan sekaleng kopi.
"Terima kasih, Sakura. Aku kemari hanya ingin tahu bagaimana kabar Yoichi."
"Yo-kun baik-baik saja, paman." Sakura duduk di salah satu kursi dan tersenyum. "Apalagi dengan timnya yang sekarang, aku rasa, Yo-kun sangat senang dengan tim Deimon Devil's bat ataupun yang saat ini."
"Terakhir kali aku menelponnya, Yoichi langsung mematikannya dan mengganti nomornya. Aku mengiriminya Email namun di blokir begitu saja."
"Yah, hal yang sulit untuk kembali seperti semula, paman." Sakura menerawang jauh. "Paman dan bibi bercerai saat Yo-kun masih sangat muda dan meninggalkannya begitu saja dengan ketegaran hati yang dibentuknya sendiri. Sulit bagi Yo-kun untuk memaafkan atau menerima paman kembali. Karena hal itu pasti sangat menyakitkan baginya jika diingat kembali."
"Kau pasti selalu ada disisinya, kan?" Yuuya bangkit dari duduknya. "Aku hanya ingin tahu bagaimana kabarnya. Sepertinya sulit sekali untuk memaafkanku, ya."
"Aku tidak tahu paman. Tapi, mungkin sekarang Yo-kun sudah banyak berubah."
Hiruma Yuuya bangkit dari duduknya dan memakai kembali topinya. Ada perasaan lega ketika mengetahui jika putranya mendapatkan orang yang tepat untuk berada disisinya.
"Terima kasih, Sakura. Semoga butikmu sukses."
Memakai kembali topinya, Hiruma Yuuya melangkahkan kakinya menjauh dari butik milik Sakura.
.
.
.
Sakura menghela napas panjang dan mendudukan dirinya di salah satu kursi. Setelah ayah Hiruma pergi, dia mendapatkan lima pelanggan dan butiknya sepertinya cukup menarik perhatian. Dia berharap, jika pakaian yang dihasilkannya tidak akan mengecewakan.
Kedatangan ayah kekasihnya membuatnya terkejut. Rasanya, sudah sangat lama dia tidak mendengar kabar kedua orang tua dari Hiruma. Kekasihnya juga tidak pernah menyinggung tentang kedua orang tuanya.
Tetapi, dia merasa jika ayah Hiruma merasa bersalah dan ingin menebus kesalahannya. Biar bagaimanapun, di dunia ini ada yang namanya mantan istri atau mantan suami, namun tidak ada yang namanya mantan anak. Karena darah tidak akan bisa berbohong.
"Yo, Sakura."
Menolehkan kepalanya, dia melihat anggota tim Teikou masuk ke dalam butiknya. Sakura merasa surprise melihat kedatangan mereka semua.
"Apa yang kalian lakukan disini?" tanya Sakura.
"Kami kebetulan ingin jalan-jalan dan lewat sini." Banba memberi penjelasan.
"Fuh, aku tidak menyangka jika seseorang seperti Hiruma mau repot-repot membangun butik seperti ini." Akaba memandang sekelilingnya.
"Jika bukan karena Sakura-san, mungkin dia tidak akan mau." Ikkyu buka suara.
"Apa ada yang ingin kalian minum?" tanya Sakura. "Maaf, tapi aku hanya punya teh kaleng."
"Tidak usah repot-repot, cantik." Agon membuka kacamatanya dan mencoba menggoda Sakura.
"Apa yang kalian lakukan disini, sialan?!"
Mereka menolehkan kepalanya ketika mendengar suara yang tidak asing terdengar. Hiruma Yoichi, kapten dari neraka mereka berdiri di depan pintu butik dengan tampang sangar dan satu tangannya yang dimasukan ke dalam saku celananya.
"Fuh, orang yang posesif itu sudah datang." Akaba menaikan kacamatanya.
"Kami hanya kebetulan lewat dan mampir." Banba memberi penjelasan.
"Cih, kalian kuberi waktu libur untuk istirahat, makhluk-makhluk sialan!"
"Sudahlah, Yo-kun. Tidak apa-apa." Sakura tersenyum. "Apa kalian mau ke kedai terdekat? Biar aku yang mentraktir kalian, lagipula sekalian syukuran untuk butik baruku."
"Cih, setan tidak percaya dengan Tuhan." Hiruma mencibir.
"Hahaha.. Karena Sakura-san sudah mengatakanya, kita tidak bisa menolaknya." Ikkyu tersenyum bahagia.
"Hoi! Tidak ada yang menyuruh kalian-"
Hiruma menghentikan perkataannya ketika melihat wajah Sakura yang tersenyum. Dia mengumpat dalam hati ketika melihat bagaimana kekasihnya ini tersenyum.
.
.
.
Suara ketikan ponsel terdengar diiringi dengan musik klasik yang mengalun. Yamato mengerikan sesuatu di ponselnya dan Mamori yang memandang sekelilingnya. Sepulangnya dari bioskop, dia mendapatkan pesan singkat dari Ikkyu jika Hiruma mengundang mereka makan bersama dalam rangka merayakan pembukaan butik milik Sakura.
"Mamori, kamu baik-baik saja?" tanya Yamato.
Mamori menolehkan kepalanya dan tersenyum. Dia menganggukan kepalanya dan meyakinkan pada dirinya jika semua akan baik-baik saja. Meski, rasanya hatinya bisa hancur kapan saja.
Semalam, dia sudah meyakinkan pada dirinya jika dia akan melupakan kaptennya dan mulai membuka hatinya untuk orang lain. Namun, rasanya mungkin akan sedikit sulit. Mengingat, dia sudah ada disisi Hiruma hampir dua tahun lamanya. Dialah yang selalu menemani Hiruma, entah dalam pertandingan ataupun latihan.
Awalnya, dia berada di sisi Hiruma untuk meyakinkan jika Hiruma tidak akan melukai Sena. Karena baginya, Sena yang merupakan tetangganya dan teman semasa kecilnya adalah adiknya sendiri. Dia sudah menganggap Sena layaknya adiknya sendiri. Namun lama kelamaan, dia berfikir jika timnya layak untuk menang. Dia mulai memperhatikan Hiruma dan jatuh Cinta padanya.
Bahkan dalam latihan death march yang mereka lakukan di Amerika, dia menemani Hiruma dan memperhatikan pria itu hingga luka sekecil apapun. Ah, namun siapa yang menyangka jika Hiruma ternyata sudah memiliki orang yang dicintainya. Hiruma sangat tertutup hingga tidak membiarkan siapapun dapat masuk ke dalam zona pribadinya.
Mengingat kaptennya itu membuat dadanya terasa sangat sesak.
"Oh, itu dia Mamori-san dan Yamato."
Gerombolan manusia yang seperti akan tawuran itu datang. Mamori merasakan dadanya semakin sesak ketika melihat bagaimana Sakura menggandeng lengan Hiruma dengan mesra.
"Hoi! Jadi wanita yang kamu cintai waktu itu adalah Mamori-san?!" Ikkyu menunjuk Yamato tepat didepan hidungnya. "Kau curang, Yamato!"
"Kau juga menyukai Mamori-san, Ikkyu?" tanya Yamato.
"Tentu saja!"
"Kalian berisik, sialan!"
"Yo-kun, sudah aku katakan untuk tidak mengumpat." Sakura tersenyum memandang tim amefuto Teikou yang ada dihadapannya. "Baiklah, pesanlah sesuka kalian. Aku yang akan membayarnya."
Sebuah kartu kredit ada dihadapannya. Hiruma menyodorkan kartu kreditnya kepada Sakura dan membuat wanita berambut pink itu tersenyum.
"Terima kasih, Yo-kun."
Akaba menaikan kacamatanya dan mengambil buku menu. Semua kegiatan yang dilakukan dua sejoli yang sedang kasmaran itu tak luput dari pandangannya.
"Fuh, karena Hiruma yang membayarnya, aku ingin makanan yang paling mahal."
"Kau benar juga, sialan." Agon memanggil pelayan. "Oi, bawakan kami semua menu makanan yang paling mahal disini!"
"Aku akan menembakmu, gimbal sialan!"
"Aku tidak takut padamu, sampah!"
Saphire milik Mamori meredup, dia merasa seperti berada di tempat yang asing. Bagaimana Hiruma memperhatikan Sakura dan tampak berbeda. Bohong jika jauh di dalam lubuk hatinya dia tidak merasakan sakit.
Tiba-tiba dia merasakan tangannya di genggam. Menolehkan kepalanya, matanya memandang Yamato yang tersenyum.
Ah, kenapa harus Yamato?
.
.
.
"Cih, anak-anak sialan itu membuatku bangkrut!"
Sakura tidak bisa menahan tawanya ketika mendengar omelan kekasihnya. Sakura meletakan tasnya dan merebahkan dirinya diatas ranjangnya. Rasanya sangat menyenangkan dan rasa lelahnya berkurang.
"Sudahlah, Yo-kun. Biarpun begitu, kamu peduli pada mereka."
"Cih, aku tidak mungkin peduli pada makhluk sialan seperti mereka!"
Tawa milik Sakura semakin terdengar keras. Hiruma memang seperti itu, menyangkal perasaannya sendiri namun sikapnya selalu berkebalikan.
"Mandilah sana, tuan."
Hiruma memilih menuruti perintah kekasihnya dan masuk ke dalam kamar mandinya untuk membersihkan dirinya. Rasanya air yang mengalir membuat rasa lelahnya berkurang. Pekerjaannya dan latihannya membuatnya merasa lelah, namun memijat bagaimana senyuman Sakura membuatnya menjadi lebih hidup.
Saat mandi pun otaknya tidak berhenti berfikir. Dia bukannya tidak ada niatan untuk segera mempersunting Sakura. Namun, dia menunggu waktu yang tepat untuk melakukannya. Bohong jika dia tidak memikirkannya.
Sakura sudah seperti bagian dari hidupnya. Sakura bagaikan ibunya, orang tuanya bercerai saat dia masih belia dan dia kehilangan kasih sayang kedua orang tuanya. Sakura adalah satu-satunya wanita yang tidak takut padanya dan selalu ada disisinya penuh dengan kasih sayang. Saat dirinya sakit, Kurita adalah orang yang paling panik sedangkan Musashi dan Sakura adalah orang yang paling rasional.
Sakura dengan penuh kasih sayang membuatkannya bubur dan bahkan menginap di rumahnya, sedangkan Musashi mengomelinya tentang gaya hidup sehat dan Kurita yang menangis sepanjang malam. Pada akhirnya, mereka menghabiskan waktu di rumahnya untuk menjaganya. Bohong, jika dia mengatakan jika tidak mencintai Sakura dan menyayangi kedua sahabatnya. Jika dia tidak menyayangi Musashi ataupun Kurita, terbukti dari dia yang menunggu Musashi kembali untuk menjadi kicker di timnya. Meski kini, mereka berada di jalan yang berbeda.
Mengenakan celana panjang hitam miliknya, Hiruma melangkahkan kakinya keluar dari kamar mandi dengan rambut yang setengah basah. Sedangkan Sakura sudah berganti pakaian dengan gaun malam miliknya.
"Sudah selesai?" Sakura menepuk kasur di sampingnya. Hiruma mengerti maksud kekasihnya dan duduk di tempat yang di maksud Sakura.
"Sebaiknya, kamu keringkan rambutmu, tuan." Sakura mengeringkan rambut Hiruma dengan handuk kering yang diambilnya dari lemari. "Sekali-kali, pikirkanlah soal kesehatanmu, Yo-kun."
"Cih, setan tidak akan sakit."
"Berhentilah mengatakan hal itu." Sakura mengecup punggung Hiruma yang tak tertutupi apapun. "Aku tahu, jika kamu adalah orang yang rapuh. Kamu tidak bisa membohongiku."
Sakura turun dari ranjang dan berjongkok dihadapan Hiruma.
"Kau mau apa?"
"Gulung celanamu."
Hiruma awalnya tidak mau menuruti kekasihnya, namun melihat mata yang tegas itu memandangnya, mau tidak mau membuatnya menggulung celananya. Disana, terlihat beberapa luka akibat latihan keras yang dilaluinya.
"Biar aku mengobati lukamu."
Dia benar-benar tidak mengerti. Dia dijuluki setan dari neraka yang jenius, dia ahli strategi dan mampu memanipulasi psikologi lawannya. Dia bahkan selalu menggunakan trik yang tidak diketahui oleh lawannya. Dalam amefuto, tidak hanya otot dan kerja sama tim yang membuat kemenangan itu ada, namun strategi untuk mengecoh lawan juga berpengaruh.
Padahal, dia sudah menyembunyikan luka-luka yang di dideritanya akibat latihan. Setiap hari saat sore hari, dia datang ke gym untuk melatih otot-ototnya. Tidak hanya timnya yang berlatih keras, dia juga harus berlatih guna memenangkan pertandingan antara Universitas. Tidak ada yang tidak berusaha dalam timnya.
"Sudah selesai." Sakura tersenyum dan mendudukan dirinya di pangkuan kekasihnya. Sakura tersenyum sensual sebelum mencium bibir Hiruma dengan lembut.
Pagutan-pagutan lembut itu berubah menjadi ciuman ganas yang disertai desahan dan juga remasan pada rambut Hiruma. Sakura melepaskan ciumannya sebelum menenggelamkan kepalanya di perpotongan leher Hiruma.
Dia selalu menyukai aroma parfum milik Hiruma. Aroma maskulin yang khas dan juga perpaduan aroma mint yang menyegarkan. Bahkan masih segar dalam ingatannya, ketika mereka berbelanja ke Ginza. Dia mengajak Hiruma masuk ke dalam toko parfum. Disana, dia memilihkan sebuah minyak Wangi yang hingga sekarang selalu digunakan oleh Hiruma. Begitu juga dengan Hiruma, dihari ulang tahunnya, pria berambut pirang itu membelikan jam tangan mungil berwarna pink yang sampai sekarang masih dia kenakan.
"Ada apa?"
Nada suara Hiruma merendah, menandakan jika pria itu sedang khawatir.
"Aku hanya lelah." Sakura mengangkat kepalanya. "Sebaiknya kamu juga mengistirahatkan tubuhmu."
.
.
.
Tokyo tampak Indah dengan taburan Bintang di langit malamnya. Gedung-gedung masih bercahaya menandakan jika masih ada orang yang bekerja di dalamnya. Anezaki Mamori memandang langit malam Tokyo dari balik jendela kamarnya dan memandang gedung tinggi dengan lampu yang masih menyala. Dia bertanya dalam hati, apakah suatu hari nanti dia akan bekerja seperti itu?
Dia bukanlah anak yang suka keluar malam. Dia lebih suka berada di dalam rumah dan mengerjakan berbagai pekerjaan rumah yang bisa dia kerjakan. Sekilas, dia merasa hidupnya tidak adil.
Mengapa, wanita yang baik sepertinya tidak kunjung mendapatkan pendamping hidup? Padahal, dia banyak melihat jika wanita dengan penampilan seronok dan terkesan nakal malah mendapatkan hidup yang mudah dan banyak yang menyukainya. Pikirannya kemudian melayang pada kapten tim amefutonya.
Dadanya terasa sakit ketika membayangkan apa yang dilakukan Hiruma dan Sakura saat berada di apartemen seperti ini. Dulu, saat berada di sekolah menengah atas, banyak yang menjulukinya malaikat dan banyak yabg menyukainya. Dia adalah anggota komite kedisiplinan dan tak ayal banyak yang menyebutnya baik hati.
Kemudian, ada yang mengatakan jika wanita sepertinya mampu menaklukan hati seorang setan dari Neraka seperti Hiruma Yoichi. Entah sejak kapan, dia merasa tinggi hati dan merasa jika Hiruma hanya mencintainya. Mungkin, dia terlalu berharap tanpa tahu jika Hiruma hanya mencintai satu orang.
Dan itu bukan dirinya.
Ddrrtt.. Ddrrtt..
Getaran ponselnya menyadarkannya dari lamunannya. Mengambil ponselnya, dia mengira jika Suzuna yang menelponnya karena ingin curhat perihal pertengkarannya dengan Sena atau apapun itu.
Namun, dugaannya salah ketika melihat nama Yamato Takeru tertera di layar ponselnya.
"Yamato-kun, ada apa?"
"Aku hanya mengecek. Kenapa belum tidur, Mamori?"
"Aku tidak bisa tidur. Mungkin.. Insomnia?"
"Jika kamu memikirkan Hiruma-san, itu tidak ada gunanya."
Yah, dia tahu jika dia sangat bodoh.
"Aku tahu."
"Ada yang ingin aku katakan padamu, Mamori." Yamato memberi jeda. "Maukah.. Maukah kamu menikah denganku?"
Demi kami-sama..
.
.
.
Suara ketikan keyboard terdengar di keheningan malam. Bagi beberapa orang, mungkin malam hari adalah waktu untuk mereka berisitirahat. Namun bagi sebagian orang, malam hari adalah waktu yang menyenangkan untuk menikmati anime malam disertai dengan cemilan yang lezat.
Hiruma Yoichi meniup permen karetnya hingga membentuk balon di mulutnya sebelum pecah. Dia mengirimkan beberapa email permintaan barang untuk mengisi toko olah raga yang ada di Ginza. Dia sedang mengusahakan cabang toko olah raga yang bernama H-Sport agar dibuka di salah satu mall yang ada di pusat kota.
Matanya melirik kekasihnya yang sudah terlelap nyenyak. Dia meniup kembali permen karetnya dan memeriksa cctv yang diam-diam dia pasang di butik milik Sakura. Seperti Sakura yang mengetahui luka yang ada di lututnya meski dia sembunyikan, dia juga tahu jika ada yang disembunyikan oleh kekasihnya.
Layar laptopnya menggambarkan kondisi butik milik kekasihnya. Alisnya mengernyit ketika seseorang masuk dan Sakura menjamunya. Meski dengan volume yang kecil. Dia mampu mendengar percakapan antara ayahnya dan kekasihnya.
"Umm.. Yo-kun?"
Hiruma mematikan rekaman cctv yang dia pasang di butik kekasihnya sebelum menutup laptopnya. Dia meletakannya di meja nakas dan memandang Sakura yang membuka matanya.
"Hm?"
"Kenapa tidak tidur?" tanya Sakura. "Tidurlah dan istirahatkan tubuhmu."
Hiruma merebahkan dirinya di samping Sakura dan memeluk kekasihnya. Meski dia kuat untuk tidak tidur, namun entah mengapa dia tidak pernah bisa menolak permintaan Sakura.
oOo
Suara muntahan terdengar samar-samar tertutup dengan suara air yang mengalir. Sakura memuntahkan isi perutnya sebelum membasuh mulutnya dengan air mengalir. Rasanya perutnya terasa tegang dan rasa mual menyerangnya. Mungkin dia terlalu lelah hingga membuat daya tahan tubuhnya menurun.
"Oh, Yo-kun." Sakura mengikat rambutnya ketika menemukan kekasihnya sedang menyeduh kopi di dapur. "Maaf karena aku tidak sempat membuatkanmu sarapan."
"Tidak apa." Hiruma meminum kopinya.
"Aku janji akan mampir ke kampusmu dan membawakanmu makan siang." Sakura tersenyum. Merasakan ponselnya bergetar, Sakura mengambil ponselnya dan membaca pesan yang masuk.
"Yo-kun, aku harus ke bandara sekarang."
.
.
.
.
Seorang wanita cantik berjalan dengan anggun melewati pintu kedatangan. Seorang petugas bandara tersenyum kearahnya dan dibalasnya dengan ramah.
"Selamat datang di Jepang, semoga harimu menyenangkan."
Mengenakan sebuah terusan berwarna kuning, dia membiarkan rambutnya diikat ekor kuda dengan kacamata hitam yang bertengger di antara hidungnya. Bibirnya begitu sensual dengan tubuh yang tinggi dan langsing. Tubuh idaman wanita manapun.
Mungkin sebagian orang, akan mengiranya seorang artis atau selebriti ternama. Namun kenyataannya, dia bukanlah bagian dari keduanya.
"Ino!"
Wanita berambut pirang itu tersenyum dan membiarkan sahabatnya yang berambut pink memeluknya. Padahal rasanya baru saja mereka berpisah di Perancis, namun dia sudah merindukan sahabatnya.
"Bagaimana kabarmu, Sakura?" tanyanya. Melepas kacamatanya, aquamarinenya menatap seorang pria berambut pirang yang berdiri tidak jauh dari mereka. "Akhirnya kau memilih bersamanya dan meninggalkan kedua orang tuamu? Apa dia memperlakukanmu dengan baik?"
"Cih, jangan bersikap posesif seperti itu, sialan! Menjijikan sekali." Hiruma memandang wanita dihadapannya dengan pandangan menantang.
"Hah? Kau mengatakan sesuatu? Aku akan membunuhmu, sialan!"
Sakura menghela napas panjang. Sudah dia duga, jika kedua orang beda gender dengan warna rambut yang sama ini tidak akan bisa bersatu.
.
.
.
.
"Selamat pagi."
"Oh, selamat pagi, Mamori-san." Ikkyu membalas sapaan manajer timnya itu.
"Apa sampah sialan itu tidak datang lagi?" tanya Agon.
"Katanya dia sedikit terlambat karena ada urusan."
"Fuh, jika itu ada hubungannya dengan Sakura-san dia akan langsung bertindak cepat."
Mamori hanya tersenyum seadanya dan membuka lokernya. Dia memasukan tasnya dan mengeluarkan beberapa catatan tim mereka. Sebagai seorang manager, dia bertugas untuk mengamati perkembangan anggota tim mereka.
Matanya bertatapan dengan mata milik Yamato dan entah mengapa dia menjadi sedikit salah tingkah. Dia masih merasa canggung pasca lamaran dadakan yang dinyatakan Yamato semalam. Bahkan saking terkejutnya, dia sampai mematikan sambungan telepon tanpa mengatakan apapun. Hal ini sungguh mengejutkan baginya.
Sedangkan Yamato merutuki kebodohannya sendiri. Andaikan dia menahan perasaannya lebih lama, mungkin suasanannya tidak akan secanggung ini. Lagipula, dia bodoh sekali langsung mengajak Mamori menikah begitu saja.
"Apa yang kau lakukan anak-anak sialan! Cepat keluar!" terdengar suara teriakan disertai dengan suara tembakan senapan.
"Cih, sampah sialan itu sudah datang." Agon meregangkan tangannya.
"Fuh, sepertinya dia sedang bersemangat." Akaba bangkit dari duduknya.
Selagi anggota timnya berlatih, Mamori memakai kesempatan untuk membersihkan ruangan klub. Memiliki anggota tim laki-laki memang sebagai manager dia harus bekerja ekstra keras untuk membersihkan ruangan klub mereka.
Baru saja dia memegang sapu, pintu ruangan klub dibuka dan Yamato muncul.
"Apa ada yang ketinggalan?" tanya Mamori.
"Aku melupakan ban tanganku." Yamato mengambilnya dari lokernya.
"Jika dipikir-pikir sepertinya Yamato tidak pernah melupakan ban tangan itu meski saat berlatih sekalipun."
"Oh ya. Ban tangan ini pemberian dari Karin dan Taka. Jadi aku selalu memakainya dan menjaganya." pria yang mendapatkan julukan kaisar itu menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. "Soal perkataanku semalam-"
"Aku akan memikirkannya, Yamato-kun." Mamori tersenyum. "Maafkan aku karena tidak sopan dan mematikan sambungan telepon begitu saja. Sungguh, semalam aku benar-benar terkejut hingga tidak bisa berfikir. Namun, aku akan pertimbangkan ajakanmu untuk menikah."
Yamato tidak tahu kapan dia merasa sebahagia ini? Apakah saat dia memenangkan Christmas bowl berkali-kali, atau saat dia mendapatkan hadiah saat Natal atau ulang tahunnya? Tidak, rasanya tidak ada yang lebih membahagiakan daripada hal ini.
"Apa yang kau lakukan, sialan?!" Hiruma berdiri di depan pintu klub. "Segera berlatih sialan!"
Yamato berlari dengan semangat, dia bahkan tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya.
"Ano, Hiruma-kun."
Hiruma melirik managernya sebelum meniup permen karetnya.
"Terima kasih." Mamori tersenyum. Dia memberanikan dirinya untuk mengatakan perasaannya untuk yang terakhir kalinya. "Jika kamu tidak menunjukan kepada siapa kamu mencinta, mungkin aku akan terjebak dalam perasaan semuku. Aku mempertimbangkan ajakan Yamato-kun menikah bukan semata-mata menjadikannya pelampiasan. Namun, aku akan melupakanmu dan mencintainya dengan kepingan hatiku yang tersisa dengan tulus."
"Apa yang kau katakan, manager sialan?" Hiruma menenteng senjata Ak-47 miliknya. "Jika kamu bisa mengatakan hal sialan seperti itu, lebih baik pikirkan strategi untuk menghadapi pertandingan sebentar lagi."
Mamori tersenyum. Ah, Hiruma memang selalu seperti itu. Tidak mendengarkan perkataan orang lain, padahal dia yang paling peduli dengan sekitarnya.
.
.
.
"Kenapa kecepatanmu menurun, sialan!"
"Lemparanmu terlalu cepat, Hiruma-san."
"Apa hanya segini, kemampuan line kalian, sampah?"
"Hadapi aku, Agon."
"Fuh, nada kalian satu sama lain tidak ada yang menyambung."
"Oh, jadi ini tempat latihan si menyebalkan itu?"
Ikkyu yang sedang mengatur napasnya menolehkan kepalanya. Mamori juga ikut menolehkan kepalanya ketika mendengar suara yang asing di telinganya. Banba yang sedang menghadapi Agon juga menghentikan kegiatan mereka.
"Oh, Sakura-san!" Ikkyu menyapa wanita berambut merah muda itu dengan semangat. Biasanya kedatangan Sakura menjadi penyelamat mereka untuk beristirahat sejenak.
"Kenapa kau membawa wanita sialan itu kemari?" tanya Hiruma.
"Yo-kun, sudah aku katakan untuk tidak mengumpat." Sakura menggembungkan pipinya. "Aku kemari untuk mengantarkan makan siang bagi kalian semua. Oh ya, dan perkenalkan-"
"Halo, namaku Yamanaka Ino dan aku adalah sepupu jauh dari Hiruma Yoichi, kapten kalian." Ino tersenyum manis.
"Hah?!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
Halooooooo.. Kembali lagi dengan Saku disini! Yaa-haaaaaaa... Apakah ada yang rindu dengan pair ini? Hahahaa.. Semoga rindu kalian terobati yaaa..
Semoga para reader suka dan maaf karena terlalu lamaa.. Silahkan tinggalkan Review!
Sampai jumpa di chap selanjutnya!
Trima kasih atas dukungan kalian semua! Maaf Saku tidak bisa membalas satu persatu!
Salam hangat,
-Aomine Sakura-
