Because of Fate
What…?
A Fanfiction Made by min_ve
Main Pairing: Kookv; Top! Jungkook x Bottom! Taehyung
.
.
Enjoy~
.
.
Terbangun karena suara penggorengan berminyak dengan bacon itu sebenarnya cukup menyenangkan. Bahkan sebenarnya dia bukan terbangun melainkan telah bangun dari tadi hanya saja berhubung jadwal aktifnya belum mulai ia hanya diam sambil membaca buku atau sekedar membaca kembali data yang telah diberikan oleh Namjoon. Lagipula dia tak bisa tertidur lelap sampai tak mendengar suara apapun. Ah—dan omong-omong—sialnya, dia diberikan kamar tepat di samping ruang pribadi si detektif sok tampan itu. Sebenarnya tak ada masalah berhubung detektif itu tinggal sendirian sehingga tetap saja ia melakukan banyak riset dan lainnya di ruang non pribadinya atau bahkan di ruang tengah, memberantaki dengan berbagai kertas dan tali yang berusaha menyambungkan satu titik dengan titik lainnya.
Membuka pintu kamarnya dan mendekati asal aroma bacon dan lainnya itu ternyata sang detektif sialan itu tengah sibuk memasak banyak hal. Dengan tali celemek mengikat pada pinggangnya menghadap kompor dengan kedua tangan yang dengan lihainya memegang gagang pan dan spatula. Kaus putihnya dengan punggung tegap. Entah mengapa daripada menjadi detektif ataupun pemimpin perusahaan dia lebih cocok menjadi seorang chef.
"Oh. Taehyung-ssi." Menyadari keberadaan Taehyung, detektif itu pun berbalik tetapi kedua tangannya masih setia melakukan kegiatan memasaknya, "Apa kau menyukai bacon? Atau mungkin kau tidak memakan daging babi?"
Pertanyaan itu jelas secara tak langsung menyatakan bahwa dia telah mempersiapkan sarapan untuk dirinya dan si bodyguard. Detektif macam apa yang memasak untuk bodyguard-nya?
"Anda tak perlu melakukannya." Ucap Taehyung.
"Don't be absurd. Sarapan adalah jadwal makan paling penting. Jadi apa kau menyukai bacon atau ingin memakan makanan lain?" tukas Jungkook sembari menunjuk kulkas tak jauh dari tempatnya berdiri, "Kau bisa mencari bahan makanan lain jika kau tak menyukai daging babi."
Taehyung menghela napas pelan. Tidak hanya detektif yang harus dilindunginya ini terlalu percaya diri, menyebalkan tapi juga keras kepala bahkan batu pun sepertinya kalah. Niatnya mengambil tempat duduk yang cukup berjauhan tetapi sayangnya Jungkook tak membiarkannya dengan bagaimana dua piring telah disiapkan di atas meja menandakan bahwa tempat duduknya adalah salah satu diantara dua kursi itu. Tapi serius, kenapa detektif itu tidak menjadi chef saja daripada melakukan pekerjaan berbahaya seperti menjadi detektif? Walaupun memang benar chef itu masuk ke dalam kategori melayani orang tetapi pemimpin perusahaan pun bukannya secara tak langsung melayani orang lain? Sebenarnya interaksi di dunia itu saling melayani bahkan pemimpin marga Kim pun tak dapat kabur dari konsep itu.
Bahkan pekerjaan membunuhnya pun merupakan bagian dari melayani orang lain tersebut.
.
.
.
Because of Fate Chapter Five
"What—?"
.
.
.
Menjadi bodyguard adalah menjadi pelindung dengan hawa keberadaan setipis udara kosong dan hanya menunjukkan keberadaannya ketika memang dibutuhkan, tetapi mungkin konsep yang dimiliki oleh Jungkook bukanlah seperti itu—dia menganggap bahwa Taehyung merupakan rekan yang bukan berjalan di belakangnya melainkan di sampingnya dan harus ikut ketika membahas mengenai semua petunjuk yang didapatkannya, tetapi juga Taehyung tak dijadikan suatu alat untuk menggunakan kekerasan ketika sumber informasi mereka tidak mengikuti keinginan si detektif. Jungkook dapat menganggapnya sebagai rekan tetapi Taehyung tak akan membantu sedikit pun. Dia hanya melindungi dan menjauhkan detektif itu dari bahaya yang mengancam nyawanya. Ironis sekali karena dia harus melindunginya padahal ujungnya harus membunuhnya.
Kliennya berkata bahwa dia akan mengetahui alasannya tega membunuh putranya sendiri seiring berjalannya waktu dan memang waktu itu bukan hanya sehari dua hari melainkan jangka waktu cukup lama. Tetapi jika harus dikatakan mungkin detektif ini bukanlah tipe yang selalu menunjukkan taringnya, mungkin dia hanya menunjukkannya dalam bidangnya saja seperti ketika tengah menginterogasi salah satu berandal yang menyatakan dirinya sebagai saksi mata dan melihat kejadian pembunuhan yang dilakukan—ironisnya—oleh Taehyung sendiri ketika berandal itu hendak pergi kabur setelah Jungkook mengetahui bahwa kesaksiannya merupakan kebohongan konyol.
Bagaimanapun Taehyung hanya dapat melihat, meskipun ikut berlari pun itu hanyalah untuk memastikan keselamatan si detektif sialan itu, bukan untuk membantunya. Diulangi, bukan untuk membantunya. Tetapi si penipu itu sudah lebih dahulu kabur sehingga Jungkook tak bisa menangkapnya dan membawanya ke kantor polisi sebagai bentuk percobaan penipuan atau malah bisa dikatakan memalsukan kesaksian. Si detektif itu sekarang beristirahat di pinggir jalan, sebelum melihat kembali buku kecil pada tangannya—klasik seorang detektif—berisi daftar orang beserta beberapa informasi kecil seperti dimana mereka biasa berada dimana dan sebagainya.
Itu semua ditulis dengan berantakan seolah disengaja agar orang lain—apalagi orang normal tidak akan mampu menebak isinya dengan lengkap. Tetapi yang menarik lainnya adalah tingkatan sosial mereka itu ditulis. Alpha, beta maupun omega itu semua ada dan tertera rapi, tepat berada di bawah nama orang yang ditemuinya ini. Jika informasi lainnya ditulis secara acak, mengapa hanya mengenai strata sosial yang ditulis dengan jelas?
"Penasaran?"
Sepertinya Taehyung tak sengaja menatapi buku catatan kecil itu terlalu lama sampai pemiliknya sadar dia memperhatikannya. Detektif itu menutup buku catatannya kemudian menunjukkan sampul berbahan kulit murahan berhubung dia akan menggunakan buku baru lagi andaikan kertas dalamnya tak lagi bisa terisi oleh satu huruf pun.
"Mengapa hanya strata sosialnya yang terlihat jelas? Jelas—karena akan aneh jika seorang alpha berada diantara para makhluk strata rendah. Dan andaikan terjadi sesuatu kepadaku orang yang kupercaya bisa mencari tahu alasan mereka disana."
Bloody hell. Untung saja Taehyung cukup waras untuk tak segera menusuk detektif keparat ini ketika mengatakan bahwa strata di bawah alpha merupakan strata rendah.
Di sisi lain Taehyung ingin menanyakan apakah Jungkook telah menemukan seorang alpha di kalangan strata rendah tetapi jika ia menanyakan pertanyaan berlebih mungkin akan terkesan mencurigakan. Lagipula dia tahu Jungkook menggunakan siasat 'apakah kau ingin tahu?' untuk mengorek informasi perubahan ekspresi, menandakan bahwa detektif ini sebenarnya belum dapat menerima keberadaan bodyguard-nya sepenuhnya. Curiosity killed the cat—ia harus mampu menahan diri dan bersikap seolah tak peduli karena sejak awal tak merasa penasaran.
"No?" Jungkook bertanya lagi, memastikan bahwa bodyguard-nya ini sama sekali tak penasaran—lengkap dengan raut muka jahil seribu makna.
Fucking bloody hell, just let me fucking kill this motherfucker.
"Then shall we move on?" Jungkook memasukkan buku catatan kecil itu ke dalam saku mantelnya, melangkah lebih dahulu berlagak seperti seorang pemandu.
Itu bagus karena Taehyung merasa tangannya sudah gatal sekali untuk membunuh si detektif ini.
.
.
.
Keduanya melanjutkan pencarian menemukan sebuah petunjuk meski petunjuk sekecil semut sekalipun, sekarang berada di sebuah hotel kecil dengan kolam renang sederhana sebagai nilai tambah nama mereka. Dan kebetulan salah satu kamar yang menjadi tempat penginapan salah satu dari bahan petunjuk Jungkook berada di lantai atas, mungkin sekitaran di pertengahan dari jumlah keseluruhan lantai. Taehyung hanya ikut di belakang sementara Jungkook menggedor pintu kayu tak berbahan kayu mahal itu, membuat bodyguard itu sejenak berpikir apa detektif itu tahu tata cara menjadi detektif yang baik dan benar.
Tapi sama sekali tak ada jawaban apapun, Jungkook kehilangan kesabaran langsung menendang pintu itu dengan keras namun tendangannya terlalu keras sampai pintu rusak dan faktor bahwa pintu itu tak terkunci. Pemuda di depan itu masuk duluan dan melihat-lihat ke dalam, menyadari tak ada hawa keberadaan makhluk hidup disana satu pun. Detektif seperti Jungkook pun terheran-heran bagaimana dengan Taehyung yang telah berpengalaman dalam hal kabur dan sebagainya.
But—this pattern…
Detektif itu melihat-lihat di bawah bantal dan selimut namun tak menemukan apapun. Sementara dia sibuk, Taehyung memperhatikan daerah sekelilingnya kemudian menyadari hal mengganjal dari sebuah kursi yang seolah sengaja diletakkan tepat di dekat sebuah meja dan sehelai kemeja menutupi sesuatu—
Tepat ketika angin yang berhembus masuk menjatuhkan kemeja tersebut dan menunjukkan sebuah benda mengerikan,
BOM WAKTU.
Dan penghitung mundurnya itu sudah menginjak angka 10 yang menyatakan hanya tersisa waktu sepuluh detik sebelum bom tersebut meledak. Tak ada waktu untuk kabur melewati tangga, bisa saja bom itu cukup kuat untuk menghancurkan beberapa kamar di samping kanan dan kiri kamar ini. Taehyung harus bertindak cepat atau nyawanya pun akan ikut dibawa mati oleh benda sialan ini.
Kolam renang!
Menarik tangan Jungkook yang dengan konyolnya masih sibuk mencari tahu petunjuk sampai detektif itu melontarkan kata protes apalagi saat Taehyung mendorongnya untuk cepat ke teras. Merasa tak ada waktu untuk memerintah detektif itu, sang bodyguard mengangkat Jungkook kemudian melemparkannya ke daerah kolam renang yang untungnya tengah sangat sepi. Tak ada siapapun di dalamnya selain beberapa orang di luar daerah air tengah sibuk dengan kegiatan masing-masing namun kemudian terkejut bukan main saat rintikan air mengguyur mereka akibat gaya dari massa Jungkook bertemu dengan massa air.
Tepat pada detik terakhir Taehyung melompat dari teras tersebut.
Saat dirinya masih berada di udara bom itu meledakkan sekelilingnya, menghasilkan pemandangan menegangkan bagi para penontonnya. Taehyung bagaikan selamat pada detik terakhir yang bisa membawanya bertemu ajalnya. Jungkook hanya dapat melihat bagaimana bodyguard-nya itu melakukan tugasnya kemudian saat penyelamatnya sampai pada kolam renang yang sama dengannya ia hanya menghela napas sejenak. Kecewa karena kemungkinan besar ada petunjuk di dalam kamar tersebut, hanya belum ditemukannya namun sekarang hangus karena bom sialan itu.
Rambut cokelat manis itu muncul ke permukaan air, tangannya menyibak poni yang menghalangi pandangannya, berganti menatap ruangan yang telah hancur itu baru memastikan keadaan si detektif itu—baik-baik saja. Ternyata inilah bayaran miliaran won yang bisa ia minta tambah, karena melindunginya itu benar-benar bagaikan mengorbankan nyawanya sendiri.
Taehyung segera keluar dari kolam renang tersebut dan sebagai sifat alami air—menyerap ke dalam semua bahan kain—pakaiannya itu sekarang benar-benar menempel pada tubuhnya sehingga mempertunjukkan lekukan tubuhnya. Dimana Jungkook merasa heran, karena tak ada satupun beta yang memiliki lekuk tubuh seperti itu selain para omega.
Para omega—seakan menjadi peraturan dasar mereka, selalu memiliki lekukan tubuh yang unik dan menurut beberapa cerita menyerupai dewi kecantikan. Berlaku untuk baik laki-laki atau perempuan. Selebar apapun pundak para omega, pinggang dan pinggul memiliki bentuk yang serupa. Dan Taehyung memilikinya.
"…?"
Kebingungan karena pergerakannya terhenti. Ternyata kedua tangan Jungkook menahannya. Andaikan dunia mereka tak mengenal hubungan sesama jenis mungkin posisi mereka telah dimasukkan ke dalam badan sensor, beruntungnya hubungan sesama jenis itu telah menjadi hal paling normal. Pemuda cantik itu hanya diam, bahkan ketika pucuk hidung detektif itu mengendus tengkuknya—letak dimana seharusnya feromon seseorang paling kuat.
Aroma feromon Taehyung itu—biasa. Tak ada yang spesial, sebagaimana seorang beta seharusnya.
Tapi ini tak mungkin—bentuk tubuh itu seharusnya hanya dimiliki oleh seorang omega.
T-tak logis—!
"Bisakah Anda melepaskanku sekarang?" tanya Taehyung, merasa resah karena Jungkook terlalu lama mengendus tengkuknya.
"O-oh… Ya…"
Sementara Taehyung masih memasang wajah datar, seolah tak terjadi apapun Jungkook masih terbeku, tak menemukan jawaban akan ketidaklogisan dari bentuk tubuh bodyguard-nya dengan feromonnya. Sekali detektif ini tak menemukan jawaban meskipun telah berpikir jutaan kali lebih keras dari biasanya, dia akan diam membeku. Matanya melebar seolah tengah menganalisis semua data dalam otaknya untuk menemukan jawaban dari pertanyaan tak dijawabnya. Bibirnya bergetar, menyuarakan kalimat yang sama berulang kali—
"Tak logis. Tak mungkin—tak—tak—tak—tak—"
Beginilah ketika warna putih bertemu dengan warna lain.
"Tak ada kemungkinan yang 0 bulat. Meskipun itu hanya 0,1 itu adalah kemungkinan yang bukan 0. Saya merasa tak akan ada gunanya melanjutkan pencarian dalam keadaan basah seperti ini, sebaiknya kita berganti pakaian dulu."
Kemungkinan tak ada yang 0 bulat—?
Kalimat tersebut terngiang berulang kali bagaikan kaset rusak pada kepala Jungkook. Kakinya berjalan namun otaknya tak benar fokus ke organ lainnya, hanya kepada kalimat tersebut. Jika kemungkinan tak ada yang 0 bulat, maka seharusnya kebenaran pun tak ada kebenaran sejati bukan?
So, everything is a—
.
.
.
To Be Continued
Follow me on other social media
Wattpad: min_ve
kiraranik
Instagram: min_veve
