Between You and Me
.
.
.
.
[Hiruma Yoichi, Haruno Sakura], Anezaki Mamori
.
.
.
.
©Aomine Sakura
.
.
.
.
Naruto, Eyeshield 21
.
.
.
.
Riichiro Inazaki, Yusuke Murata, Masashi Kishimoto
.
.
.
.
DILARANG COPAS ATAU PLAGIAT DALAM BENTUK APAPUN DAN DIMANAPUN! JIKA TIDAK SUKA DENGAN CERITA YANG DIBUAT AUTHOR, SILAHKAN KLIK TOMBOL BACK!
Selamat Membaca!
oOo
Ikkyu menatap Ino dengan pandangan tidak percaya. Banyak sekali kejutan yang di dapatnya ketika berada di tim ini. Dia memang sudah terbiasa dengan Hiruma, mengetahui bahwa kaptennya sangat kaya hingga membawa tim mereka berlatih ke Amerika mengejutkannya, kemudian kekasih kaptennya yang sangat cantik dan keibuan sekali. Sekarang, sepupu jauh kaptennya yang sangat cantik bak seorang model.
Akaba Hayato menatap Ino tanpa minat dan memainkan gitarnya. Siapa yang tidak mengenal Yamanaka Ino? Seorang selebgram yang terkenal dengan channel video di MeTube dengan segala tutorial make up yang cocok untuk wanita. Sebagai seorang yang selalu merawat tubuhnya dan memiliki kekasih yang cantik, tidak mengejutkan bagi Akaba ketika melihat Yamanaka Ino ada disini. Namun, dia merasa jika Ino sama gesrek-nya dengan kapten mereka.
Dari awal, dia memang selalu dikelilingi oleh orang-orang yang tidak normal. Mulai dari timnya semasa sekolah menengah atas, ada Kotaro Sasaki dan managernya yang membuatnya emosi dan sakit kepala setiap kali melihat tingkah mereka. Kemudian ditambah lagi, dia bertemu dan melawan kapten dari Neraka ini saat kejuaran Christmas Bowl. Awalnya dia tidak begitu peduli dan tadinya, mungkin dia bisa ikut ke dalam timnya Marco atau masuk ke dalam tim seniornya, Kobanzame.
Namun, entah apa yang membuatnya berubah pikiran dan masuk ke dalam tim milik Hiruma Yoichi yang dia tahu, jika tim ini sama tidak beresnya dengan Kotaro. Dan benar saja, ternyata di dalam tim ini ada Agon dan yang lainnya. Baginya, hanya Yamato Takeru yang memiliki kewarasan dan dapat diajak bicara sesama manusia.
"Hooo.. bagus juga." Ino memandang sekelilingnya. "Aku sudah lama melihat pertandinganmu. Tidak kusangka begini caranya latihan dari neraka, kalian pasti sangat lelah. Kasihan."
"Oh, kau cantik sekali." Agon mendekati Ino dan tersenyum semanis mungkin. Mencoba mengeluarkan aura kharisma miliknya. "Perkenalkan, namaku Agon-"
Bruk brak!
"Apa yang kau lakukan, brengsek?!" Agon menatap Ino dengan pandangan tidak suka ketika tiba-tiba saja dia jatuh tersungkur karena tendangan milik Ino.
"Jangan menyentuhku, gimbal. Aku tidak suka ada laki-laki yang menyentuhku." Ino tersenyum mengerikan dan membuat bulu kuduk Ikkyu berdiri.
"Ano, Agon-san." Sakura memanggil Agon. "Sebaiknya, jangan sembarangan menyentuhnya. Ino adalah atlet Taekwondo profesional, jadi sebaiknya kamu berhati-hati."
Yamato menghela napas panjang dan bersyukur karena Mamori menerima ajakannya menikah. Untungnya dia tidak mendapatkan wanita seperti Ino yang menakutkan. Bisa-bisa dia patah tulang hanya karena memegang tangan Ino. Menyeramkan.
Sedangkan Mamori menundukan kepalanya. Ah, dia merasa semakin rendah diri setelah melihat Ino. Apalagi Sakura yang cantik dan pintar, memiliki teman secantik Yamanaka Ino. Bagaimana mungkin dia bisa berfikir, jika dia bisa bersanding dengan kaptennya. Matanya kemudian menatap Yamato dan pria itu balik menatapnya sebelum tersenyum. Ah, dia melupakan Yamato. Kaisar baik hati yang akan mendampinginya.
"Mau apa kau kemari?" Hiruma menatap Ino dengan pandangan tidak suka.
"Memangnya kenapa? Aku tidak boleh kemari?" Ino menantang Hiruma. "Sejak kapan kau bisa menantangku, hah?!"
"Sudahlah, kalian berdua." Sakura merasa sangat lelah menghadapi keduanya. Rasanya seperti dua anak kecil yang bertengkar karena berebut permen.
.
.
.
"Aku mendapatkan undangan ke pesta model, mau ikut?"
Sakura yang sedang meneguk susu hangatnya menatap Ino yang sedang menyisir helaian rambut berwarna kuningnya sebelum mengecat kukunya. Awalnya, dia bertemu dengan Ino saat wanita itu menjadi salah satu model pengisi acara di sebuah pesta. Sakura mengagumi bagaimana cantiknya Ino dan dia berfikir jika Ino dapat membantunya menggapai mimpinya.
Saat dia berkenalan dengan Ino, dia tidak menyangka jika Ino seumuran dengannya. Dilihat dari bagaimana Ino berpenampilan, tidak terlihat seperti anak seusianya waktu itu. Kemudian, mereka berteman baik dan Ino mengajarinya banyak hal. Mulai dari cara berpakaian dan cara mengenakan make up. Ino juga sering mengajaknya ke pesta yang diselenggarakan dan berkat itu, dia mendapatkan banyak pengalaman.
Ternyata, dunia ini sempit sekali. Siapa yang menyangka jika Ino adalah sepupu jauh dari Hiruma. Dia mengetahuinya saat Hiruma mengunjunginya di Paris dan saat itu musim dingin. Mereka berkencan di sebuah cafe dengan pakaian hangat mereka dan menikmati indahnya kota Paris. Sakura berfikir, jika itu adalah saat yang tepat untuk mengenalkan Ino sebagai sahabatnya dan juga orang yang selalu membantunya. Tetapi tidak disangka, jika pertemuan itu menjadi pertemuan antar saudara.
Sakura merasakan kepalanya ingin sekali pecah setiap kali Hiruma dan Ino bertemu. Baginya mustahil bisa membuat kedua makhluk beda gender itu berdamai meski satu jam saja. Rasanya dia seperti seorang ibu yang mengasuh anaknya yang rewel.
"Boleh juga." Sakura memandang Hiruma yang sedang berkutat pada laptopnya di ujung ruangan. "Bagaimana, Yo-kun. Kamu mau ikut?"
Hiruma yang sedang mengetikkan sesuatu di laptopnya melirik Sakura.
"Kenapa mengajak si bodoh itu?!" Ino memprotes Sakura. "Disana kamu akan bertemu dengan banyak model. Apa kamu tidak takut jika si bodoh itu jatuh Cinta pada salah satu model? Jadi lebih baik tidak usah mengajaknya."
"Hmm.. Aku tidak masalah." Sakura tersenyum. "Karena Yo-kun tidak akan pernah mencintai siapapun kecuali ibunya dan juga diriku. Nyatanya, dia mampu menungguku hingga semua impianku tercapai. Lagipula, aku merasa aman bersama dengannya."
"Ah." Ino mengerucutkan bibirnya. "Susah, bicara pada orang yang sedang kasmaran. Yah, terserahmu saja. Asalkan dia tidak mengganggu, aku tidak masalah."
.
.
"Yo-kun, aku sudah menyiapkan pakaian untukmu."
Hiruma mematikan kran air dan membalut tubuhnya dengan handuk. Rambutnya dia biarkan basah dan rasanya dia tidak menyeramkan ketika rambutnya basah seperti ini. Matanya memandang Sakura yang sedang berdandan dan malam ini wanitanya mengenakan sebuah gaun berwarna hitam yang membuat lekuk tubuhnya semakin menggoda dengan pantat yang sekal.
Mengambil kemeja berwarna hitam dan jas yang berwarna senada, Hiruma mulai mengenakannya. Semenjak Sakura datang ke Jepang dan menemaninya, rasanya ada yang berubah dari dirinya. Dia merasakan sebuah kehangatan yang masuk ke dalam dadanya. Dari dulu, dia selalu sendirian dan melalui hidupnya melalui perjuangannya sendiri.
Saat sekolah menengah pertama, masih ada Kurita dan Musashi. Namun, kepribadiannya yang terbentuk sekarang adalah buah dari ketegaran hatinya yang dibentuk selama bertahun-tahun. Tidak memiliki orang tua sedari dia kecil, membuatnya bertahan melawan kerasnya dunia, maka dari itu, kepribadian iblis terbentuk dalam dirinya.
Matanya memandang Sakura yang selesai memoleskan make up dan sekarang sedang memakai kalung. Hanya Sakura yang tahu, jika dirinya adalah sosok yang rapuh. Berdiri dibalik topeng bernama setan dari neraka. Saat dia bertemu Ino, wanita keras kepala itu menawarkannya untuk tinggal bersama kedua orang tuanya di Perancis. Namun sekali lagi, dia menolak bantuan orang yang menyayanginya.
"Bagaimana menurutmu?" Sakura membalikan tubuhnya.
Sakura tampak cantik dengan make up natural yang ada pada wajahnya. Mengenakan gaun hitam panjang yang menambah kesan tinggi dengan kalung yang menambah kesan jenjang pada lehernya. Dimata Hiruma, Sakura tampak sangat cantik.
"Kekeke.. Kau masih membutuhkan jawaban?" Hiruma tertawa dan Sakura merengut kesal.
"Kau ini masih saja menyebalkan." Sakura memasangkan dasi Hiruma.
"Biarpun menyebalkan, tapi kau mencintaiku, kan?"
"Jika aku tidak mencintaimu, aku tidak mungkin ada disini." Sakura mendaratkan ciuman di bibir Hiruma. "Sebaiknya kita segera berangkat sebelum Ino mulai marah-marah."
.
.
.
Mamori memandang langit malam yang menampilkan Bintang di langit. Meski dia sudah menerima lamaran Yamato, namun entah mengapa tidak ada yang berubah dalam hidupnya. Anggota amefuto yang lain sudah mengetahuinya dan beberapa memberinya selamat dan ada juga yang memberi umpatan pada kaisar dari Teikou itu karena bisa mendapatkan bidadari yang baik hati sepertinya.
Sakura turut senang dan berjanji akan membuatkannya makanan yang lezat sebagai ucapan selamat. Hiruma tidak memberikan respon apapun selain meniup permen karetnya sembari mengetikkan sesuatu di laptopnya. Memang seharusnya begitu.
Terkadang dia merasa ragu, apakah ini pilihannya yang tepat untuk menerima lamaran Yamato? Pria itu memang kaku dan tidak mengatakan apapun. Mereka hanya sesekali mengobrol dan Yamato sangat kaku. Akaba mengatakan padanya jika Yamato tidak memiliki teman wanita selain Karin Koizumi. Sedangkan Quarterback dari Teikou itu terlalu tomboy dan bukan wanita yang suka menceritakan masalahnya. Mungkin, karena Karin adalah seorang kapten wanita dan terlihat sangat tangguh.
Matanya memandang kamar Sena yang ada di depan jendela kamarnya. Biasanya, Sena akan belajar hingga malam dan dia akan memperhatikannya dari balik jendela kamarnya. Namun, kamar itu cukup gelap dan dia yakin jika Sena belum pulang ke rumahnya. Semenjak mereka berada di sekolah menengah atas, kamar adalah tempat mereka istirahat sejenak dan kembali beraktifitas keesokan harinya dan rasanya sangat singkat. Apalagi jika harus mengikuti kapten dari neraka mereka yang suka seenaknya sendiri membawa mereka ke Amerika tanpa persiapan apapun.
Di Universitas ini, dia tidak mengikuti kegiatan lain selain menjadi manager tim amefutonya. Untung saja, dia dibekali dengan otak yang cerdas dan sifat yang lemah lembut, itu membuatnya tidak kesulitan mencari teman. Terkadang, mereka juga belajar bersama sebelum ujian di ruangan klub. Ikkyu adalah orang yang selalu mendapatkan remidiasi dan membuat pria itu frustasi. Jika mengingat bagaimana wajah Ikkyu saat frustasi sangat lucu.
Pernah suatu ketika, mereka mengadakan belajar semalam suntuk di ruangan klub hanya untuk mengajari Ikkyu. Mamori merasa bahwa tim ini memiliki potensi untuk menang karena kekompakan mereka. Agon yang biasanya bandel, bahkan mengajari Ikkyu hingga mereka semua kelelahan. Mamori menyukai tim ini sama seperti dia menyukai Deimon Devil's Bat.
Ddrrtt.. Ddrrtt..
Mamori memandang ponselnya yang ada di meja belajarnya sebelum memandang siapa yang menelponnya. Baru saja dipikirkan, Yamato menelponnya.
"Moshi-moshi, Yamato-kun?"
"Belum tidur, Mamori?"
"Aku belum mengantuk."
"Jika begitu, bisa bukakan pintu rumahmu untukku?"
Mamori menolehkan kepalanya keluar jendela kamarnya dan menemukan Yamato berdiri di depan pagar rumahnya dengan telepon genggam di tangannya dan tangan lainnya membawa sebuah kantung plastik. Ah, dia merasa bodoh karena meragukan Yamato.
"Aku akan turun, tunggu sebentar."
.
.
.
.
.
Mobil yang dikendarai Hiruma berhenti di sebuah hotel mewah. Hiruma membiarkan valet memarkirkan mobil untuknya. Sakura menggandeng lengannya dan tersenyum kepada beberapa tamu yang hadir. Meski dia yakin, Sakura mungkin tidak begitu mengenal mereka semua.
Sebenarnya, dia begitu malas dengan keramaian seperti ini. Dia lebih suka berada di rumahnya dan menyelesaikan pekerjaannya. Namun, sekarang dia adalah Bintang dan namanya terkenal sebagai mantan kapten Deimon Devil's Bat yang memenangkan piala Christmas Bowl.
"Selamat datang, Ino. Aku senang kamu datang." Seorang wanita berambut pirang menyambut mereka dan mencium pipi Ino.
"Terima kasih sudah mengundangku, Shion." Ino tersenyum. "Perkenalkan, dia adalah Haruno Sakura sahabatku dan kekasihnya, Hiruma Yoichi."
"Salam kenal, Shion-san." Sakura tersenyum dan Hiruma hanya menanggapi seadanya.
"Salam kenal. Ne, Ino, ayo kita mengobrol disana."
Sakura hanya tersenyum simpul ketika Ino berlalu meninggalkannya. Pilihan yang Bagus karena dia mengajak Hiruma untuk ikut. Meski dia cukup terkenal di Perancis, namun dia tidak begitu terkenal di Jepang. Ino juga baru memulai debutnya sebagai selebgram. Ino memiliki sifat yang mudah akrab dengan siapapun sehingga dia memiliki banyak teman.
"Ingin sesuatu?"
"Hm?" Sakura menatap Hiruma. "Mungkin beberapa kue."
Hiruma merangkul pinggang Sakura dan membawa wanita itu menuju salah satu meja dimana terdapat beberapa kue. Sakura memandang sebuah kue dengan krim rasa mint dan langsung menggugah seleranya. Mengambil satu kue, Sakura melahapnya dan merasakan krim itu meleleh di dalam mulutnya.
Mengambil sampanye, Hiruma meminum dan membiarkan Sakura melakukan apapun yang wanita itu inginkan. Dia hanya ingin menunjukan kepada beberapa pria yang menatap Sakura dengan nakal, jika wanita itu adalah miliknya.
"Jadi, begitu ceritanya." seorang pria paruh baya berambut putih menatap sepasang anak manusia itu sebelum tersenyum. "Tunggu sebentar. Aku akan kesana."
"Permisi."
Sakura maupun Hiruma menolehkan kepalanya ketika seorang pria baruh baya dengan setelan jas rapi dan rambut putihnya mendekat dengan senyum ramah. Sakura membalas senyuman itu dengan tak kalah ramahnya, sedangkan Hiruma menatap curiga kearah pria itu.
"Apakah kamu seorang model?" tanyanya. "Ah, perkenalkan namaku Jiraiya dan aku seorang agen model."
Jiraiya memberikan kartu namanya dan diterima oleh Sakura.
"Jika kamu datang kesini, berarti kamu seorang model, bukan? Jika kamu mau, aku akan melakukan photoshoot untuk salah satu majalah dengan tema baju tidur. Apa kamu tertarik?"
Sakura memandang kekasihnya dengan mata yang berbinar dan menganggukan kepalanya dengan semangat. Sedangkan Hiruma memandang Jiraiya dengan pandangan curiga dan mengintimidasi. Dia merasa jika ada yang tidak beres dengan pria yang ada dihadapannya.
"Baiklah, aku terima." Sakura menganggukan kepalanya dengan semangat. Akhirnya, dia sekarang bisa menggapai mimpinya.
.
.
.
"Kamu suka, Mamori?" Yamato memandang Mamori yang duduk di sampingnya.
Mereka menonton film yang Mamori punya di ruang keluarga dan memakan Takoyaki dan beberapa makanan ringan yang dibawa Yamato ditemani dengan coklat hangat. Banyak hal yang bisa mereka bicarakan dan Mamori merasa jika Yamato sangat kaku dan itu sungguh lucu.
"Suka sekali, terima kasih." Mamori tersenyum manis.
Yamato merasa dewa cupid telah memanah hatinya. Tidak salah jika dia mencintai Mamori dan penantiannya terbayar.
"Ano, Mamori." Yamato memandang Mamori dan dia merasa sangat gugup. "Mungkin, sekarang aku belum bisa melamarmu dengan resmi. Setelah Christmas bowl, aku dan kedua orang tuaku akan datang melamarmu dan kita bisa menikah. Jadi, bisakah kamu tunggu aku sebentar saja?"
"Tentu saja, Yamato-kun. Aku akan menunggumu."
Kaisar dari Teikou itu merasa gugup. Dia benar-benar ingin mencium Mamori dan dia merasa malu. Padahal dia sudah mempersiapkan dirinya untuk melakukan hal ini. Matanya memandang bibir Mamori dan menerka-nerka apakah wanita itu sudah pernah berciuman atau belum.
"Ada apa-"
Kata-kata Mamori terputus ketika Yamato mencium bibirnya dengan lembut dan dalam. Mamori tidak bisa melakukan apapun selain membalas ciuman Yamato sembari meremas belakang rambut kekasihnya.
Mamori benar-benar telah melabuhkan hatinya pada Yamato.
.
.
"Kau ditawari menjadi model? Baguslah."
Sakura sedang memasak sarapan dan Ino yang duduk di kursi makan sembari meneguk jus jeruknya. Dia tidak bisa membendung kebahagiaannya dan dengan semangat menceritakan semuanya pada Ino pagi ini. Semalam, dia pulang duluan karena Ino masih memiliki beberapa urusan dan dia tidak tahu kapan Ino pulang.
Hiruma masih terlelap dan Sakura membiarkan kekasihnya tidur. Lagipula Hiruma terlihat sangat kelelahan dan dia menjadi tidak tega untuk membangunkan Hiruma.
"Ini bisa menjadi batu panjatan untukmu menggapai mimpimu."
"Semoga saja, ne." Sakura mengaduk masakannya dan seketika rasa mual menyerangnya. Dia berlari menuju kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya.
Ino memandang Sakura sembari mengangkat satu alisnya. Dia bangkit dari posisi duduknya dan mengikuti Sakura untuk memijat leher Sakura dengan lembut. Matanya menatap Sakura yang memuntahkan isi perutnya namun tidak ada yang keluar.
"Sakura, kamu yakin tidak mau memberitahu si bodoh itu?"
"Apa maksudmu?"
Ino berkacak pinggang menatap sahabatnya dengan pandangan tidak percaya. Memang konotasi tidak peka sudah melekat di jidat lebar sahabatnya itu. Dengan pakaiannya yang seksi itu, Ino berjalan menuju kamarnya dan memberikan sesuatu kepada Sakura. Wanita berambut pink itu memandang Ino dengan pandangan bingung.
"Dari mana kamu mendapatkan benda ini?"
"Kau ini bodoh sekali." Ino menepuk jidatnya. "Kita sudah dewasa, Sakura. Sudah mengenal surga dunia. Jangan bilang kau belum melakukannya dengan Yoichi?"
Sakura merasakan pipinya merona merah dan menghangat. Dia yakin wajahnya memerah sekarang. Meski dia dan Hiruma sudah melakukannya, tetapi dia tidak pernah menceritakannya pada siapapun termasuk Ino. Berbeda dengan Ino, wanita itu selalu menceritakan kehidupan seksualnya.
"Coba cek." Ino berkacak pinggang dengan kesal. "Setelah itu beritahu aku hasilnya."
.
.
.
"Kamu tidak perlu mengantarkanku, Yo-kun." Sakura menatap Hiruma yang sedang meniup permen karetnya dengan santai. "Aku kan hanya ke Shibuya."
"Kenapa aku tidak boleh mengantarkanmu?" tanya Hiruma.
"Bagaimana dengan timmu? Kamu kan harus melatih mereka."
Hiruma meniup permen karetnya hingga membentuk balon sebelum akhirnya pecah.
"Ada Carberus."
"Kebiasaanmu tidak pernah hilang." Sakura menghela napas panjang. Terkadang, Hiruma sangat menyebalkan dan membuatnya kesal. "Baiklah, ayo kita berangkat."
.
.
Jrenggg!
Mamori menolehkan kepalanya ketika mendengar suara gitar. Yamato yang ada di sampingnya ikut menolehkan kepalanya dan melihat Akaba sedang memainkan gitarnya di bawah pohon dengan santai. Beberapa orang memandangi Akaba dengan pandangan aneh, namun ada yang memandangi dengan pandangan terkagum-kagum.
"Siapa pasangan yang sedang kasmaran yang bahkan bergandengan terus." Akaba menaikan kacamatanya. "Aku memiliki lagu untuk-"
"Tidak perlu, terima kasih, Akaba." Yamato memotong perkataan Akaba.
"Aaahhh! Aku kesal sekali!"
Dari kejauhan, Ikkyu berteriak dan di sampingnya Banba merasa terganggu.
"Ada apa denganmu, Ikkyu?" Banba menatap Ikkyu dengan pandangan heran.
"Meski aku sudah tahu jika Yamato dan Mamori-san akan menikah, namun aku masih tidak bisa menerima jika mereka berdua bergandengan tangan seperti itu."
"Hahaha.. Jangan mengada-ada, Ikkyu-san." Mamori tertawa dan membuka pintu ruangan klub.
"Menyerahlah saja, kawan." Yamato menepuk bahu Ikkyu. "Dia sekarang milikku."
"Yamato! Kau menyebalkan!"
Yamato tidak bisa menahan tawanya dan mereka masuk ke dalam ruangan klub untuk memulai latihan.
"Jadi, Hiruma tidak datang?" tanya Banba.
"Dia bilang ingin ke suatu tempat dan kalian akan berlatih dengan Carberus."
"Fuh, jika ada hubungannya dengan Sakura dia bergerak cepat sekali." Akaba mendudukan dirinya di salah satu kursi.
Yamato menanggapi.
"Begitulah jatuh Cinta."
.
.
.
"Oh, kau sudah datang, Sakura-san." Jiraiya mendekatinya ketika memasuki ruang pemotretan. "Perkenalkan semua! Dia adalah model yang aku ceritakan kemarin, namanya Haruno Sakura."
"Namaku, Haruno Sakura. Salam kenal." Sakura tersenyum manis.
"Ah, sekarang kamu bisa mengikuti Matsuri untuk berganti pakaian dan di make up. Pemotretan akan dilakukan setengah jam lagi."
Hiruma Yoichi mendudukan dirinya di salah satu kursi sembari mengunyah permen karetnya. Dia sudah mencari tahu tentang agensi pemotretan ini dan beberapa model yang mereka keluarkan langsung bersinar layaknya Bintang. Banyak yang mencoba masuk ke agensi ini namun ditolak karena kriteria yang tinggi. Tetapi, Jiraiya selaku kepala agensi langsung menawarkan Sakura sebagai model.
Bukan berarti Sakura tidak pantas menjadi model. Dengan rambut berwarna pink lembut yang terawat, kulit putih tanpa cacat dengan tinggi yang mencukupi. Payudara yang sekal dan pantat yang kencang, Sakura memang pantas menjadi model. Namun, ada sesuatu yang menggangunya dan segala yang berhubungan dengan Sakura membuatnya frustasi.
"Model kita sudah siap!"
Sakura muncul dengan piyama berwarna pink yang begitu pas ditubuhnya dan memberi kesan lucu. Sakura tersenyum kearahnya sebelum berpose selucu mungkin, rasanya dia seperti melihat seorang gadis SMA yang mengenakan piyama lucu. Setelah beberapa set foto diambil, Sakura kembali menuju ruang ganti untuk mengenakan pakaian selanjutnya.
Dan pakaian selanjutnya yang dikenakan Sakura membuat Hiruma merasa terganggu dan tidak senang. Kekasihnya itu mengenakan sebuah gaun malam berwarna pink yang memperlihatkan sedikit belahan dada dan menambah kesan seksi. Beberapa orang memandang Sakura dengan pandangan nakal dan dia tidak suka dengan semua itu.
Setelah pengambilan foto selesai, Sakura berbincang dengan Jiraiya sebelum menganggukan kepalanya seperti anak kucing yang lucu dan menghampirinya.
"Katanya, besok fotoku akan masuk ke dalam majalah fashion dan aku senang sekali." Sakura tersenyum senang. "Jiraiya-san juga mengundangku untuk datang ke pesta yang diadakan di rumahnya."
"Hmm.."
Sakura menatap Hiruma yang tampak acuh tak acuh dengan kesal.
"Yo-kun, kamu mendengarkanku, tidak?"
"Iya, aku mendengarmu, cerewet." Hiruma mencubit hidung Sakura.
"Ah, kalau begitu kita makan yakiniku, bagaimana?"
.
.
.
.
.
"Musashi! Kau tidak akan mempercayai ini!"
Kurita berlari memasuki lapangan tempat sahabatnya berlatih. Musashi yang akan menendang bolanya menatap Kurita denga pandangan bingung. Bahkan Sena sampai menghentikan latihannya ketika melihat Kurita datang.
"Ada apa, Kurita?"
"Coba lihat majalah ini!" Kurita memberikan sebuah majalah pada Musashi yang menampilkan seorang model pakaian tidur yang tampak seksi. Namun, bukan itu yang menarik perhatian mereka, tetapi siapa yang menjadi modelnya.
"Ara? Bukankah dia Sakura-san? Aku tidak tahu jika dia adalah model." Sena berkomentar ketika tidak sengaja mengintip isi majalah itu.
"Kau mengenalnya, Sena?" tanya Musashi.
"Bukankah dia kekasih Hiruma-san?" Sena berkata dengan ragu-ragu. "Aku mengenalnya karena saat itu datang bersama dengan Hiruma-san dari Amerika. Hiruma-san tampak sangat menyayanginya, jadi aku secara tidak langsung mengenalnya."
"Si bodoh itu." Musashi menghela napas panjang. "Sebanarnya, apa yang dia rencanakan?"
.
.
.
"Bukankah ini Sakura-san?"
Ikkyu yang sedang membaca majalah tidak bisa menahan keterkejutannya dan mengundang beberapa anggota timnya untuk menghampirinya. Mereka memandang majalah yang di pegang Ikkyu dan memandang Sakura yang sedang berpose sensual.
"Ini benar, Sakura-san?" tanya Banba.
"Keh, masih muda tapi pengelihatan kalian sudah rusak!" Hiruma memandang gerombolan orang tidak berguna dihadapannya. "Lari keliling seratus kali, sialan! Kekekeke.."
Majalah yang dibawa Ikkyu ditinggalkan begitu saja dengan halaman yang terbuka. Mamori memandang Sakura yang berpose sangat cantik dengan gaun tidur berwarna pink miliknya. Benar-benar, cantik dan sempurna.
Menutup majalah yang di pegangnya, Mamori melanjutkan membersihkan ruangan klub. Dia sudah membuang jauh-jauh perasaannya dan kini perasaannya hanya untuk Yamato. Dia merasa lega dan juga bahagia karena pilihannya tidak salah.
.
.
.
Jiraiya memiliki rumah mewah di kota Tokyo dan malam ini ramai dengan beberapa model dan juga aktris yang datang. Jiraiya memang sering mengadakan pesta dan sembarang orang tidak bisa masuk. Malam ini pesta lebih ramai dan lebih meriah karena merayakan ulang tahun Jiraiya.
Sakura tampil dengan gaun berwarna merah dan sangat dewasa. Karena malam ini pesta bertema dewasa, Ino menyarankannya untuk mengenakan gaun yang lebih berani. Tetapi, Sakura merasa risih karena beberapa pasang mata memandanginya. Di sampingnya, Hiruma tetap Setia mendampinginya.
"Sakura-chan, kemarilah!" Jiraiya memanggilnya dan dia menghampiri kerumunan Jiraiya. "Ayo kita bersulang, untuk kesuksesanmu dan berkatmu majalah kita laku keras!"
Sakura tersenyum dan ikut bersulang. Sedangkan Hiruma mengunyah permen karetnya dan memandangi Sakura yang tampak selalu tersenyum. Dia tidak begitu suka menjadi pusat perhatian, sedangkan Sakura mempunyai mimpi yang tinggi untuk menjadi publik figur. Dia dan Sakura seperti matahari, Sakura adalah orang yang mudah bergaul dengan siapapun dan disukai banyak orang. Sedangkan dirinya, adalah orang yang kejam dan dibenci banyak orang. Namun, mungkin perbedaan itulah yang membuat hubungan mereka mampu bertahan hingga saat ini.
"Selamat ulang tahun, Jiraiya."
Seorang pria tinggi dan tegap datang menghampiri dengan setelan jas miliknya. Rambutnya yang hitam tumbuh agak panjang dengan garis wajah tegas namun tampan.
"Terima kasih sudah mau datang, Madara-san."
Madara memandangnya dan Sakura merasa aneh dengan pandangan Madara.
"Barang baru?" tanyanya kepada Jiraiya.
"Dia yang menjadi model untuk majalah minggu ini."
Madara tersenyum sebelum menyodorkan kartu namanya.
"Mari kita buat kesepakatan."
.
.
.
.
.
"Aku harus ke Yokohama, Yo-kun."
Hiruma mengunyah permen karetnya sembari menyandarkan tubuhnya di tembok. Tangannya dimasukan ke dalam saku cecelananya. Matanya memandang Sakura yang sedang sibuk memasukan beberapa barang-barangnya.
"Aku hanya sehari. Lagipula kamu tidak bisa terus meninggalkan timmu. Pikirkanlah tentang mimpimu." Sakura mencium pipi Hiruma. "Aku menyayangimu."
Tepat saat pintu kamar mereka ditutup. Permen karet Hiruma meletus.
.
.
.
"Selamat pagi!" Sakura masuk ke dalam ruang pemotretan dan disana sudah berkumpul beberapa orang.
"Selamat datang, Sakura-chan!" Jiraiya menyambut modelnya. "Kamu bisa berganti pakaian."
Sakura tersenyum dan memandang Madara yang ada di lokasi pemotretan. Semalam, Madara menawarkannya untuk menjadi model dari pakaian ternama, Uchiha's. Siapa yang tidak tahu keluarga Uchiha? Keluarga terkaya di Jepang yang menguasai pasar ekonomi Jepang. Tidak hanya pakaian dan aksesoris, namun perusahaan itu juga memiliki restaurant bahkan ponsel keluaran sendiri.
Dia benar-benar tersanjung karena ditawari oleh pemilik perusahaan menjadi model. Mungkin ini yang dinamakan rezeki dan keberuntungan.
Siap dengan gaun yang sangat cantik, Sakura sendiri terkagum-kagum dengan pakaian yang dikenakannya. Meski dia memiliki butiknya sendiri, dia menyukai pakaian yang Indah dan mewah. Dia yakin, harganya pastilah sangat mahal.
Sakura berpose semampu yang dia bisa. Fotografer juga mengarahkan bagaimana dia harus melakukan pose. Dia bisa melihat Madara menatapnya dengan pandangan yang tidak dia mengerti namun membuatnya merasa takut.
"Baiklah, sudah cukup." Madara menepukkan tangannya dan seolah memberi kode. Semua orang yang ada disana segera keluar. Sakura memandang bingung kearah studio yang seketika kosong.
"Ma-Madara-san, ada apa ini?" tanya Sakura bingung.
"Kau benar-benar masih baru di dunia permodelan? Aku tahu jika kamu menjadi model di Perancis. Namun, aku tidak tahu jika kamu sepolos ini." Madara melepas jas dan jam tangannya. Sakura merasakan firasat buruk menantinya. Dia memundurkan tubuhnya dan mulai mengerti apa yang diinginkan Madara.
Pria itu ingin dia memuaskannya sebagai balasannya.
"Jangan mendekat!" Sakura menendang Madara dan mengenai pria itu. Tetapi untuk pria sekuat Madara, sepertinya tendangannya tidak mempan padanya. Sakura memukul pria itu namun tangannya ditangkap dan di pegang dengan erat.
"Lepaskan aku!" Sakura meronta dan Madara mendorongnya hingga jatuh ke lantai. Pria itu ada diatasnya dan mengunci semua pergerakannya.
"Kau tidak akan bisa lepas." Madara menyeringai. "Semua ini tidak ada yang mudah."
Sakura mencoba meronta namun pria diatasnya begitu kuat. Madara mulai mencium lehernya dan menghisap lehernya. Sakura menjambak dan mendorong pria itu namun sepertinya pria itu terbuat dari batu yang kokoh.
Brak! Cekrek!
"Lepaskan dia, sialan!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Tbc
Halohaaaaaa halooooo... Adakah yang menunggu fict ini? :3 maaf untuk keterlambatannya..
Oh ya, Saku mencoba. Peruntungan baru di wattpad dengan nama yang sama yaitu 'Aomine Sakura' tenang aja. Meski Saku mencoba di wattpad, Saku bakal tetep disini untuk menghibur kalian kok. Jangan lupa follow yaaa..
Jangan lupa tinggalkan Review yang banyak, ya!
Sampai ketemu di chap depan!
-Aomine Sakura-
