Between You and Me
.
.
.
.
[Hiruma Yoichi, Haruno Sakura] Anezaki Mamori
.
.
.
©Aomine Sakura
.
.
.
Riichiro Inagaki, Yusuke Murata, Masashi Kishimoto
.
.
.
(Jika tidak suka dengan cerita yang dibuat Author atau adegan didalamnya, silahkan klik tombol 'Back')
DLDR! DILARANG COPAS dan PLAGIAT dalam bentuk APAPUN!
Selamat Membaca
oOo Between You and Me oOo
Tokyo, beberapa jam sebelumnya.
"Hah.. Hah.. Hah.. Aku lelah." Ikkyu membungkukan dirinya dengan napas yang tak beraturan.
"Keh, siapa yang menyuruh kalian berhenti berlatih?" tanya Hiruma dari tempatnya duduk.
"Tapi kau sendiri selalu bersantai, sialan!" Agon memandang Hiruma dengan pandangan membunuhnya.
Cling!
Hiruma melirik laptopnya ketika sebuah pesan email masuk. Dia memandang laptopnya sebelum bangkit dari duduknya. Agon menatap Hiruma sebelum emosinya memuncak.
"Kau mau kemana, sialan?!" Agon menarik kerah Hiruma.
"Bukan urusanmu, gimbal sialan."
"Ini bukan waktunya kalian bertengkar." Yamato mencoba menengahi manusia dengan level emosi tinggi seperti Agon maupun Hiruma.
Agon merasa curiga ketika Hiruma nampak sangat tenang. Dia melirik laptop milik pria berambut pirang itu sebelum mengambilnya.
"Apa ini, sialan?" Agon membaca kata demi kata yang ada di laptop Hiruma. "Sakura sedang coba diperkosa oleh Uchiha Madara? Oi, apakah ini benar, sialan?"
Hiruma terdiam. Tidak menanggapi ucapan Agon dan kerah lehernya masih ditarik oleh Agon.
"Hiruma-san, apa ini sungguhan?" Ikkyu yang ikut membaca memandang Hiruma dengan pandangan tidak percaya.
"Fuh, dan kamu mencoba untuk menyelamatkannya seorang diri? Kau memang egois, Hiruma."
"Meski aku tidak bisa memakai senjata, tapi aku bisa memukul orang sampai mati," ucap Banba.
"Banba, kau menakutkan." Ikkyu menatap Banba dengan pandangan ngeri.
Bruk!
"Cih, dasar sampah egois!" Agon mendorong Hiruma hingga jatuh ke lantai.
Anggota tim Teikou memandang Hiruma yang tidak bergerak. Ikkyu ingin buka suara jika apa yang dilakukan Agon adalah tindakan yang tidak benar, namun Agon sama menyeramkannya dengan Hiruma dan dia tidak berani melakukan apapun. Yamato sebenarnya ingin menengahi, namun di sisi lain dia merasa jika apa yang dilakukan Agon adalah benar. Hiruma tidak seharusnya menyimpan semuanya sendiri meski ini adalah urusan pribadi kaptennya.
"Kekekeke.. Kekekeke.."
Ikkyu menatap ngeri kaptennya yang tiba-tiba tertawa. Dan kini tawa Hiruma menjadi semakin keras dan tidak terkendali. Dia merasakan sebuah firasat buruk dan dia tidak memiliki kesempatan untuk kabur.
"Baiklah, sialan." Hiruma menyeringai. "Kita hancurkan bedebah itu."
.
.
.
"Yamato-kun, kamu tidak harus pergi bersamanya."
Mamori menatap kekasihnya yang kini tengah mengenakan helm. Dia tidak setuju jika Yamato harus ikut bersama dengan kapten mereka apalagi menghajar orang dengan sembarangan. Dia hanya takut jika terjadi sesuatu yang buruk pada Yamato.
"Aku baik-baik saja, Mamori. Tenang saja." Yamato mengecup tangan kekasihnya. Betapa beruntungnya dirinya mendapatkan kekasih malaikat seperti Mamori.
"Kenapa kau tidak mengatakannya padaku?! Aku bisa kesana untuk menghajarnya!"
"Keh, kau ke kampus saja dan jaga manager sialan ini." Hiruma muncul dengan telepon di telinganya dan menatap anggota timnya yang sudah bersiap. Dia tidak melihat Agon dan dia juga tidak terlalu mempedulikannya.
Menutup sambungan telepon, Hiruma meniup permen karetnya dan memandang anggota tim amefutonya.
"Baiklah, sialan! Ayo kita pergi."
"Tunggu, Hiruma-kun." Mamori mencegah kaptennya itu. "Bisakah kamu berjanji jika Yamato-kun tidak akan terluka?"
"Setan tidak pernah menjanjikan sesuatu yang baik." Hiruma meniup permen karetnya. "Tapi, akan kupastikan jika kekasih sialanmu itu tidak akan mati."
Mamori tersenyum meski dia tidak rela jika Yamato harus ikut bersama Hiruma. Namun, tim ini sangat kompak dan dia yakin, jika semuanya akan baik-baik saja.
.
.
.
Akaba menghentikan motornya tepat di depan sebuah gedung pemotretan dan Hiruma yang mengendarai motornya juga menghentikan laju motornya. Dia membonceng Yamato sedangkan Banba bersama dengan Ikkyu.
"Kalian terlambat, sampah."
Dihadapan mereka, beberapa pengawal berbaju hitam sudah terkapar tak berdaya dan Agon yang duduk diatas salah satu pengawal itu. Ikkyu memandang Agon dengan pandangan ngeri, dia kadang sulit membedakan lebih menyeramkan Agon atau Hiruma dalam masalah seperti ini.
"Ikkyu, jangan bengong saja. Ayo masuk." Banba menatap anggota terpendek di klubnya.
"Jangan bicara padaku, Banba! Kau hampir membuatku mati karena cara berkendaramu yang menyeramkan itu."
Hiruma berjalan dengan mengeluarkan aura yang menyeramkan. Tidak ada yang berani menegur kaptennya karena kondisi mental Hiruma yang bisa saja menembak siapapun yang mengajaknya berbicara. Sedangkan Agon dengan senang hati menghajar siapa saja pengawal yang menghalangi mereka. Sebagai mantan preman dan juga petarung, dia sudah lama tidak menghajar orang karena hak bermainnya bisa saja dicabut jika dia terkena masalah dan dia yakin Hiruma akan tertawa mengejeknya karena hal itu.
Dia tidak suka melihat tawa kemenangan Hiruma dan sekarang dia bisa dengan puas menghajar siapapun yang ada dihadapannya. Sedangkan Ikkyu berjalan di belakang Banba tanpa mengatakan apapun. Matanya menatap beberapa orang yang sudah terkapar tak berdaya seperti ikan teri.
Brak! Ceklek!
"Lepaskan dia, sialan!"
Uchiha Madara yang sudah siap menggagahi wanita dihadapannya memandang gerombolan anak kuliahan yang dimatanya saja tidak memiliki kekuatan.
"Hei, hei, hei, lihat siapa yang datang." Madara bangkit dari posisinya dan memandang gerombolan kecoa dihadapannya. "Kalian semua bisa mengalahkan pengawalku? Hebat juga, ayo kita lihat bagaimana kalian mengalahkanku."
Hiruma mengeluarkan pistolnya namun dapat ditangkis dengan mudah oleh Madara dan sebuah pukulan melayang pada Hiruma dan membuat pria itu jatuh tersungkur.
"Cih, aku tidak paham kenapa aku mengikuti kapten sepertimu." Agon mendecih kesal dan maju. "Aku yang akan menghajarmu, sialan. Kebetulan aku belum menghajar orang karena izin bermainku bisa dicabut dan aku tidak mau hal itu terjadi."
"Aku akan membantumu, Agon." Banba berdiri di samping Agon.
"Aku tidak butuh bantuanmu, sampah."
"Orang itu sepertinya kuat. Aku tidak yakin kamu bisa menanganinya."
"Baiklah, ayo kita lakukan."
Agon dan Banba menyerang Madara namun pria itu mampu menepis serangan Agon maupun Banba. Dilihat dari usianya, Madara bukanlah pria berusia muda, namun stamina dan kekuatannya bahkan mampu mengimbangi Agon dan Banba. Ikkyu memandang Madara dengan pandangan bertanya, latihan seperti apa yang sudah dilalui oleh pria itu. Padahal Agon dan Banba adalah pria terkuat yang pernah dia kenal selain Gaou Rikiya dari Haukushu Dinosaurus.
Yamato dan Akaba tidak diam saja. Mereka segera menghampiri Sakura yang tampak tak berdaya. Tidak ada yang terluka, namun sepertinya Sakura sedikit shock. Yamato bisa membayangkan jika Mamori yang ada di posisi Sakura, sudah pasti shock dan tidak akan bisa bergerak.
"Sakura-san, kamu bisa mendengarku?" tanya Yamato.
"Sepertinya dia shock. Kita harus segera membawanya keluar dari sini." Akaba memberi perintah.
Mereka segera membawa Sakura keluar untuk diamankan. Mereka adalah pria yang tidak suka bertarung, jadi menyelamatkan Sakura adalah tugas mereka.
Sedangkan Madara jatuh tersungkur dan dia meludahkan darah dari mulutnya. Dihadapannya berdiri Agon dan Banba dengan napas yang terengah-engah dan wajah yang babak belur. Hiruma kemudian berdiri dihadapan Agon dan Banba tanpa tawa khas milik kapten dari neraka itu. Aura kegelapan terlihat sangat jelas dan Ikkyu dibuat ketakutan seratus kali lipat dari pada saat Hiruma tertawa.
Dor!
Sebuah peluru melesat dan mengenai bahu milik Madara. Pria berambut kehitaman itu memegang bahunya yang kini terasa nyeri dan mengeluarkan darah.
"Aku tidak segan akan membunuhmu, sialan. Jika kau berani mengganggu Sakura lagi."
Hiruma berjalan keluar ruangan dan meniup permen karetnya hingga membentuk sebuah balon di mulutnya. Dia bisa saja membunuh atau mencelakai Madara guna meluapkan emosinya. Tetapi, logika dan otaknya yang jenius mengalahkan emosinya. Dia berhadapan dengan pria licik yang jika dia melakukan tindakan yang lebih dari ini, maka timnya akan terkena masalah dan didiskualifikasi dari pertandingan. Maka dari itu, dia tidak mau hal itu terjadi.
"Ah, sialan!" Agon menendang tempat sampah yang ada dihadapannya dan berjalan pergi mendahului timnya yang lainnya.
Yamato memandang Banba dengan pandangan bertanya. Banba memandang punggung Agon yang lama kelamaan mulai tak terlihat. Sebagai mantan petarung di jalanan, dia tahu bagaimana perasaan Agon saat ini.
"Ada apa dengan Agon?" tanya Yamato.
"Dia pasti tertekan." Banba menjawab pertanyaan Yamato. "Uchiha Madara adalah pria yang sudah berumur namun kami bahkan kesulitan saat melawannya. Lalu, bagaimana kami bisa mengalahkan line sekelas Gaou Rikiya nantinya? Sepertinya Agon sedang emosi karena hal itu dan biarkan dia merenunginya. Aku juga mendapatkan pelajaran jika kekuatanku belum bisa menandingi line sekelas Gaou."
"Kekekeke.. Baguslah jika kalian sadar, sialan." Hiruma tertawa. "Jangan kalian pikir, kalian sudah berada diatas karena berlatih di Amerika. Karena pertandingan yang sesungguhnya, akan segera dimulai."
"Fuh, Hiruma yang lama sudah kembali," ucap Akaba. "Aku lebih suka melihatmu seperti ini dari pada mode iblis menyeramkan seperti tadi."
"Aku setuju denganmu, Akaba." Ikkyu berkomentar.
Terdengar suara tembakan peluru disertai tawa milik Hiruma.
"Lari keliling lapangan dikejar Carberus untuk hukuman kalian, sialan!"
Dan latihan di neraka mereka akan segera dimulai.
.
.
.
.
"Bagaimana rasanya, Sakura?"
Ino memandang luka memar di tubuh Sakura dan mengompresnya dengan air dingin. Seharusnya dia mengatakan pada Sakura betapa gelapnya dunia permodelan. Bahkan di Korea, seorang idol harus menjalani latihan dan peraturan yang ketat saat menjadi trainee sebelum akhirnya memulai debutnya sebagai seorang idol.
Mereka berkumpul di apartemen milik Hiruma dan sebagian besar anggota tim Teikou memutuskan untuk pulang. Hanya ada dirinya Sakura, Hiruma, Yamato dan Mamori yang tersisa.
Setelah dia menerima telepon dari Hiruma, dia ingin sekali datang dan menghajar Uchiha Madara. Namun, ini adalah bentuk tanggung jawab Hiruma sebagai kekasih Sakura dan dia senang melihat bagaimana perjuangan sepupunya itu.
"Hiruma-kun, apa semuanya tidak apa-apa?" tanya Mamori. "Maksudku, Madara adalah salah satu pejabat penting di Jepang. Dia bisa menggunakan kekuasaanya untuk mendiskualifikasi kita."
"Tenanglah, manager sialan." Hiruma menatap Mamori. "Berhentilah khawatir, serahkan saja padaku, kekekekeke.."
"Hiruma benar, Mamori. Sebaiknya kita serahkan pada Hiruma dan pulang saja." Yamato bangkit dari duduknya. "Kami permisi."
Pintu apartemennya ditutup dan Mamori juga Yamato pulang menuju rumah mereka. Ino menghela napas panjang. Memang solusi terbaik adalah menenangkan diri dan berfikir dengan jernih.
"Sebaiknya kita juga tidur. Hari ini benar-benar tidak di duga. Aku akan ke kamarku dan menikmati bir sebelum tidur."
.
.
.
.
Sakura membuka matanya dan mengumpulkan nyawanya. Dia berada diatas ranjangnya dalam pelukan Hiruma dan dia bisa mencium bau pheromone milik kekasihnya. Entah sekarang pukul berapa karena kamarnya sangat gelap, mungkin sekitar pukul dua atau tiga dini hari, dia tidak bisa melihat jam karena berada dalam pelukan Hiruma.
Seharusnya, dia tidak mengikuti ambisinya untuk menjadi seorang model guna menunjukan pada orang tuanya jika dia akan menjadi sukses. Mungkin, dia memang harus menjalani bisnis butiknya dari pada menjadi seorang model. Dia memang pernah mendengar dunia hitam permodelan, namun dia tidak menyangka jika akan terjadi padanya juga.
"Memikirkan sesuatu?"
Sebelum Sakura sempat sadar, posisinya sudah berubah. Dia berada diatas tubuh Hiruma dengan kekasihnya yang sekarang memasang pose menggoda.
"Jangan memasang pose menggoda seperti itu, bodoh!" Sakura tertawa dan mencium bibir Hiruma dengan lembut.
"Kekekeke.. Apa kau sedang berpikiran mesum?" tanya Hiruma setelah ciuman mereka terlepas.
"Mungkin." Sakura menjawab ambigu. "Yo-kun, aku minta maaf karena telah membuatmu khawatir. Kamu bisa saja didiskualifikasi karena ulahku."
"Baguslah jika kamu sadar." Hiruma menyeringai. "Aku tidak suka melihatmu memakai pakaian seksi seperti itu, apalagi semua orang bisa melihatnya."
"Kau egois, Yo-kun." Sakura tertawa. "Baiklah, aku akan mengenakan pakaian seksi hanya untukmu saja."
Ciuman panjang dan dalam menutup malam keduanya.
oOo
Yamanaka Ino membuka matanya ketika jam menunjukan pukul delapan pagi. Mungkin semalam dia terlalu banyak minum bir dan kepalanya sekarang sakit sekali. Bau harum masakan menggelitik Indra penciumannya dan segera dia keluar dari kamarnya, menemukan sahabatnya sedang memasak.
"Sudah baikan, Sakura?" tanya Ino.
"Hmm.. Aku sudah baikan." Sakura tertawa. "Hari ini, mau melihat pembukaan Christmas Bowl? Kebetulan, Yo-kun mendapatkan pertandingan pertama hari ini."
"Apakah Musashi akan datang?"
Sepertinya, hormon milik Ino kembali meningkat.
.
.
.
.
Pertandingan Christmas bowl, dibuka dengan upacara yang dilakukan oleh beberapa Universitas yang akan berlaga. Mamori berdiri di pinggir lapangan dan memandang anggota timnya yang sedang melakukan upacara. Hiruma berada di barisan paling depan dengan permen karet di mulutnya. Berjajar dengan beberapa kapten tim Amefuto yang dulunya sempat berlaga bersama mereka, seperti Kid, Kobanzame, dan Shin yang sebagai mahasiswa baru tetapi sudah menjadi kapten di Universitas Ojo White Knight.
"Sepertinya kita terlambat melihat upacara pembukaannya. Tetapi untungnya pertandingan belum dimulai." Sakura mengusap peluh di dahinya karena banyaknya penonton yang datang untuk menonton Amefuto.
"Sakuraaa!"
Sakura terkejut ketika sebuah pelukan di terimanya. Kurita langsung memeluknya dan membuatnya sesak napas karenanya. Air matanya seketika tumpah ketika Kurita memeluknya.
"Huweeee.. Hiruma-kun jahat! Kenapa dia tega menyembunyikanmu."
Mengusap air matanya, Sakura tersenyum.
"Entahlah, aku juga sibuk dengan urusan butikku." Sakura kemudian memandang Musashi yang duduk dengan santai. "Musashi-kun."
Musashi tersenyum kecil ketika Sakura memeluknya. Tangan besarnya memeluk Sakura dan mengelus rambut merah muda itu dengan lembut.
"Aku merindukanmu." Sakura duduk di samping Musashi. Betapa dia sangat bahagia bisa bertemu dengan sahabatnya.
"Aku melihatmu di majalah tempo hari."
"Oh, saat mengenakan piyama itu ya?" Sakura tertawa. "Yah, tetapi sekarang aku sudah berhenti jadi model karena suatu hal."
"Ah, Musashi-kun."
Sakura hampir saja melupakan Ino jika wanita berambut kuning itu tidak buka suara. Sakura tersenyum nakal ketika melihat wajah malu-malu milik Ino ketika melihat Musashi. Yah, memang bukan rahasia lagi jika Ino memang menyukai Gen Takekura atau yang biasa dipanggil Musashi.
"Oh, Ino. Lama tidak berjumpa."
Ino duduk di samping Musashi dan Sakura tersenyum penuh arti pada Ino. Entah Musashi menyadarinya atau tidak, jika Ino menaruh rasa padanya.
"Set, hut, hut!"
Hari ini, tim Teikou akan melawan tim Hakushu dari Universitas Hakushu. Hiruma sudah bersiap sebagai Quarterback. Dia memang tidak begitu mengerti permainan ini pada awalnya. Namun, lambat laun dia mengikuti permaianan ini dan mulai mengerti tentang pola permainan, aturan hingga posisi pemain.
Sakura mengernyit ketika melihat Hiruma jatuh. Permainan sudah berjalan sepuluh menit di babak pertama dan permainan ini sangat sadis. Dia tidak tega melihat bagaimana kekasihnya terjatuh ataupun terluka karena permainan ini. Namun, Hiruma begitu menyukainya dan dia tidak bisa berkata apapun.
"Line-man itu benar-benar menyeramkan," komentarnya.
"Namanya adalah Gaou Rikiya dan dia pernah menjadi line terkuat di Jepang. Dia bahkan pernah mematahkan kaki Hiruma dan membuatnya cedera."
Ah, Sakura tahu itu. Saat kaki Hiruma patah, Mamori menangis di ruang kesehatan dan setelah itu, Hiruma memilih untuk mengasingkan dirinya guna memulihkan tubuhnya. Saat dia mengetahui jika kekasihnya terluka, dia menangis sembari memeluk Hiruma dan kekasihnya itu malah tertawa menyebalkan. Terkadang, bicara dengan Hiruma menguras tenaganya.
Dia yang mengurusi semua keperluan Hiruma. Hanya Musashi dan Kurita yang tahu. Hiruma menyembunyikannya dari publik entah apa alasannya. Baru sekarang Hiruma memperkenalkannya sebagai kekasihnya.
Pertandingan pertama sebagai pembuka ini memang sungguh menegangkan. Reiji Marco selaku kapten timnas begitu tenang namun Hiruma tak kalah tenang darinya. Sakura hanya bisa berdoa, jika semuanya akan baik-baik saja.
.
.
.
.
"Selamat atas kemenangan pertama kalian!"
Suara tawa dan gelas yang beradu terdengar di sebuah restaurant yang sudah dipesan sebelumnya oleh Sakura. Sakura mengundang tim Teikou untuk makan bersama guna merayakan kemenangan pertama mereka dan juga rasa terima kasihnya karena tim ini sudah menyelamatkannya.
"Ada yang kurang? Jika kurang katakan saja padaku." Sakura tersenyum.
Suara tembakan terdengar memenuhi ruangan dan Hiruma memandang anggota timnya.
"Jangan senang dulu, sialan! Lawan terkuat kita belum muncul!"
"Jangan terlalu kaku, Hiruma. Nikmati saja makanannya," ucap Akaba.
Hiruma menodongkan Ak47 miliknya kepada Akaba dan membuat Sakura marah-marah. Mamori tersenyum tipis dan meminum ocha hangatnya. Dia sempat merasa deg-degan saat melihat tim ini melawan Hakushu tadi. Namun, dia juga melakukan tugasnya sebagai manager. Mengamati permainan dan memberitahu Hiruma tentang kelemahan lawan lalu, Hiruma akan membuat strategi untuk mengalahkan lawan.
"Mamori, kamu terlihat pucat." Yamato memandang kekasihnya.
"Aku mengkhawatirkanmu. Apa kamu baik-baik saja? Kamu banyak berlari hari ini sebagai umpan." Mamori mengusap wajah Yamato.
"Aku tidak apa-apa. Semuanya juga sudah bekerja keras. Lagi pula, aku rasa musuh yang sebenarnya belum muncul."
Yamato memandang Musashi dan Kurita yang ikut makan bersama mereka. Lawan terkuat yang ditakutkan bukanlah Hakushu dengan Line terkuatnya Gaou Rikiya dan tiga bersaudara Haha, mantan line dari Deimon Devil Bats. Melainkan dari Universitas terbaik di Tokyo, tokyo University dengan Kapten Kid, line mereka ada Kurita dan si fugo-fugo itu, receiver mematikan Tetsuma Jo, penendang terbaik mereka, Musashi dan Eyeshieled 21 yang legendaris itu.
Meneguk ocha hangatnya, Yamato menghela napas panjang. Jika mereka tidak sungguh-sungguh, sepertinya mereka tidak memiliki kemungkinan menang.
.
.
.
"Yo-kun, bagaimana tubuhmu?"
Sakura masuk ke dalam kamarnya sembari membawa segelas susu hangat dan roti dengan selai strawberry dan selai kacang. Meletakannya diatas meja, dia memandang kekasihnya yang sedang berkutat dengan laptopnya. Mendekati Hiruma, Sakura memijat pundak kurus milik Hiruma. Kekasihnya ini memang sulit jika disuruh makan. Lebih suka minum kopi hitam dan itu sungguh menyebalkan.
"Tidurlah, Yo-kun." Sakura mengusap bahu itu dengan lembut. "Apa yang sedang kamu kerjakan?"
"Membuat strategi." Hiruma meniup permen karetnya.
"Baiklah, pastikan jika kamu tidur sebelum pukul satu malam." Sakura menghela napas panjang. Kadang, ada kalanya Hiruma sangat keras kepala seperti ini.
oOo
Setelah berhari-hari Christmas Bowl dilaksanakan, kini sampailah pada final dari acara olah raga American Football tersebut. Setiap orang dari penjuru Jepang datang ke stadion yang ada di Tokyo untuk menonton pertandingan bergengsi ini. Bahkan, pembawa acara kali ini cukup heboh.
Sakura duduk di bangku penonton bagian VIP. Padahal dia sudah meminta pada Hiruma untuk diberikan kursi yang biasa saja. Tetapi, kekasihnya itu sepertinya ingin memberikan yang terbaik baginya.
Emeraldnya kemudian memandang Madara yang duduk di seberang dengan pandangan mematikan. Mau apa Madara ada disini? Perasaannya menjadi kurang menyenangkan.
Masing-masing anggota tim sudah bersiap di posisinya masing-masing. Sakura berdoa dan berharap, jika semuanya akan baik-baik saja.
.
.
.
.
Pertandingan berakhir dengan ketegangan dan kemenangan dari tim Teikou. Sakura hampir tidak bisa menahan dirinya untuk melompat ketika tim kekasihnya berhasil memenangkan pertandingan. Bahkan, mereka semua melempar Ikkyu ke udara untuk merayakan kemenangan kita.
"Hiruma memang yang terbaik." Kid memakai topinya. "Ayo Tetsuma, kita pulang untuk makan daging."
Sena jatuh terduduk dan menghembuskan napasnya. Sudah dia duga, mantan kapten yang sudah membesarkan namanya dan terlahir sebagai seorang jenius memang susah untuk dikalahkan. Dia benci yang namanya kalah, namun dia turut senang dengan kemenangan mantan kaptennya.
"Astagaaa.. Ini kemenangan pertama kita!" Ikkyu tidak bisa menahan kegembiraannya.
"Ngomong-ngomong, dimana Hiruma?"
Pertanyaan Akaba membuat euphoria mereka terhenti. Mereka seketika baru menyadari jika sosok kapten sadis yang tidak bisa diam itu tidak ada disini. Lalu, dimana kapten mereka?
Suara helikopter terdengar dan tiba-tiba saja sebuah helikopter mendekat dan berada diatas mereka. Kemudian, layar yang digunakan untuk memperlihatkan pertandingan berubah menjadi wajah kaptennya.
"Ya-ha! Sampai disini dulu kesenangan kalian, sialan! Sekarang, aku punya pengumuman penting untuk kalian semua!"
Beberapa orang berkasak-kusuk bingung. Bagaimana bisa ada Hiruma di keempat layar besar di stadion di sertai dengan suara helikopter.
"Apa yang sialan itu lakukan disana?" tanya Agon.
"Kekekek.. Kekeke.. Kekeke.."
Hiruma muncul dengan mikrofon di tangannya. Bahkan tim lawan tidak kalah terkejut dan heran ketika melihat Hiruma muncul dengan mikrofon di tangannya.
"Aku akan memberikan pengumuman untuk kalian!" Hiruma menatap penonton dihadapannya. "Aku kapten tim Teikou, setan dari Neraka, hari ini akan melamar kekasihku. Haruno Sakura!"
Demi apapun. Sakura menutup mulutnya tidak percaya ketika ucapan yang ditunggunya keluar dari mulut kekasihnya. Ino bahkan membuka mulutnya karena tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh Hiruma. Begitu pula dengan beberapa orang yang mengenal betapa kejamnya Hiruma. Merasa ini sebuah mimpi.
Tentu saja, bagaimana mungkin seseorang yang sukanya mengancam orang lain, membuat keributan, berkata kasar dan masih banyak tindakan buruk lainnya, melamar seseorang yang dicintainya di depan banyaknya penonton, di depan televisi yang disiarkan di seluruh penjuru Jepang. Dan dia adalah Hiruma Yoichi.
"Hiruma?" Takumi bahkan terkejut sekali.
"Nyahahaha.. Aku rasa dia adalah peramal yang hebat karena mau meramal di depan banyak orang," ucap Otawara.
"Otawara, dia mau melamar, bukan meramal." Sakuraba menghela napas panjang. "Tapi ini sulit sekali di percaya. Wanita itu pastilah wanita yang sangat dicintai Hiruma."
"Sakura, will you marry me?"
Sakura kini sudah ada dihadapan Hiruma dengan senyuman di wajahnya dan rona kebahagiaan yang tidak bisa dia sembunyikan. Dilamar dengan cara seperti ini? Dalam hidupnya, dia bahkan tidak pernah memikirkan hal ini akan terjadi.
Menganggukan kepalanya, Sakura tersenyum.
"I will, Yo-kun."
Suara riuh tepuk tangan terdengar. Mamori mengusap sudut matanya dan menggandeng tangan Yamato. Tidak. Dia menangis bukan karena patah hati, melainkan karena dia merasa turut senang dengan kebahagiaan kaptennya.
Bahkan, anggota timnya sendiri tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ini adalah cara paling romantis untuk melamar kekasihnya.
"Yo-kun, ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu." Sakura berbisik di telinga Hiruma dan sedetik kemudian, tawa Hiruma pecah dan semakin keras. Sedangkan Sakura tidak bisa menahan tawa malu-malu miliknya.
"Ada satu kebahagiaan lagi!" Hiruma tidak bisa menahan tawanya. "Kini kekasihku tengah hamil dan dalam 8 bulan ke depan akan lahir penerus setan dari Neraka!"
Suara sorakan terdengar menggema di seluruh penjuru stadion. Dilihat dari manapun, lamaran Hiruma memang mengejutkan. Tetapi kehamilan Sakura lebih mengejutkan lagi. Kurita memandang Musashi dengan pandangan bahagianya.
"Kau dengar itu, Musashi! Sakura hamil!"
"Aku bisa mendengarnya, Kurita."
"Hieeeee!" Sena memegang wajahnya terkejut. Melihat mantan kaptennya saja sudah membuat semua orang takut dan kini akan ada bayi mungil keturunan setan dari neraka itu. Melawan bapaknya saja sudah susah, bagaimana dengan anaknya?
Hiruma tidak bisa menahan tawa bahagianya. Dia menembakan senapannya ke segala arah dengan penuh semangat dan Sakura yang mulai mengomel panjang lebar. Tim Teikou hanya bisa berharap, jika kelak anaknya tidak menurun sifat ayahnya yang menyusahkan.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
-Tbc-
Halooooo.. Chap depan chap terakhir dari ffn ini yaaa.. Hahaha.. Maaf sekali karena chap depan adalah ending dari ffn ini.. Huuhuuuu.. Sedih juga ysaa..
Tadinya mau dibikin dua chap lagi tamat, tapi dengan pertimbangan akhirnya chap depan sudah tamat dan semoga kalian suka yaaaaa...
Sampai ketemu di endinggggg!
Jangan lupa tinggalkan review yaaa!
Salam hangat,
-Aomine Sakura-
