FLUSTERED HEART

CAST : Jeon Wonwoo, Kim Mingyu, dll.

RATE : M

YAOI (BXB), DLDR, OOC, TYPO(S)

.

.

.

"Kita harus segera pindah dari sini." Ucap sang eomma pada anak semata wayangnya, satu-satunya keluarga yang ia miliki.

"Wae ?" tanya sang anak penasaran.

"Karena kita tidak memiliki tempat lagi disini, sayang." Sang eomma berkata seraya mengelus rambut anaknya.

"Tapi kalau kita pindah., bagaimana dengan Appa ? Kalau Appa mencari kita bagaimana ?" tanya sang anak penasaran.

"Appa tidak akan kembali, sayang." Ucap sang Eomma lirih.

.

.

.

Wonwoo terlihat serius menonton adegan-adegan film yang tersedia di depannya. Tetapi sebenarnya ia tak pernah tertarik menonton film seperti ini. Matanya pun menjadi tak fokus. Sesekali ia melirik ke samping kanannya, Kim Mingyu. Bahkan di tempat gelap sekalipun Wonwoo tidak bisa mengalihkan padangannya dari lelaki tampan itu.

"Hei, kau marah padaku ?" Mingyu membuka suaranya dengan berbisik setelah Jeonghan menghilang dari pandangannya menuju ke toilet.

"Kenapa aku harus marah ?" Wonwoo mengernyitkan keningnya memandang Mingyu.

"Lalu kenapa sedari tadi hanya diam ?"

"Aku memang pendiam kok."

"Tapi kau tak pernah sependiam ini, Wonwoo."

"Itu mungkin hanya perasaanmu saja."

"Jangan membuatku semakin frustasi Jeon. Sedari tadi aku mencoba untuk menahan agar tidak mencium bibirmu yang sialnya terlihat sangat menggoda di depan pacarku sendiri." Ucap Mingyu dengan tajam.

Mendengar hal itu Wonwoo refleks mengantupkan bibirnya. Benar sih. Wonwoo tadi sempat menggunakan lip balm. Tapi ia tak pernah bermaksud untuk menggoda Mingyu. Itu hanya karena bibirnya terasa sangat kering akhir-akhir ini.

"Aku ingin pulang." Wonwoo mencicit pelan dikursinya. Ia segera bangkit dari kursinya, namun belum sempat melangkah Mingyu sudah lebih dulu menahan tangannya.

"Kumohon tunggulah sebentar disini, paling tidak sampai film-nya selesai. Kalau kau tiba-tiba pergi, Jeonghan bisa curiga." Ucap Mingyu.

Wonwoo sedikit banyak kesal dalam hati karena alasan mengapa Mingyu menahannya adalah Jeonghan. Itu bahkan lebih mengesalkan melihat keduanya bermesraan secara langsung di depan matanya. Karena secara tidak langsung Mingyu hanya ingin image pacar baik yang selama ini Mingyu perankan tetap terjaga di mata Jeonghan bahkan setelah Mingyu terang-terangan menginginkannya.

"Aku akan menelpon Jeonghan nanti." Ucap Wonwoo sambil menyentak tangan Mingyu.

Dengan cepat Wonwoo berjalan keluar ruangan bioskop lalu menghela nafasnya lelah. Sial ! Hari ini benar-benar bukan hari keberuntungannya. Ia lelah menyukai Mingyu yang jelas-jelas sudah punya pacar, tapi perasaannya tidak bisa hilang begitu saja setelah mengetahui Mingyu juga menyukainya. Percayalah, Wonwoo tidak pernah merasa seburuk ini karena menyukai pacar sahabatnya. Dengan langkah terburu-buru Wonwoo meninggalkan gedung bioskop menuju parkiran.

Brukk ..

Wonwoo menahan nafasnya merasakan agak ngilu di punggungnya yang berbenturan dengan bagian samping mobilnya. Hal yang pertama ia lihat adalah wajah Mingyu yang hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya. Wonwoo merasakan hembusan nafas Mingyu yang tak beraturan seolah lelaki itu habis berlarian.

"Bisakah kau tinggal sebentar saja ? Aku ingin kau disini." Ucap Mingyu.

Wonwoo mengerutkan keningnya memandang dalam mata Mingyu begitu pula dengan Mingyu. Keduanya tenggelam dalam keheningan, tenggelam dalam padangannya satu sama lain. Wonwoo bahkan baru tahu kalau ternyata Mingyu punya retina berwarna abu-abu yang harus ia akui itu benar-benar menarik perhatiannya. Dan menggoda, tentu saja. Wonwoo melihat dengan jelas tatapan tajam dari Mingyu untuknya seolah ingin menyampaikan padanya bahwa ia menginginkan Wonwoo.

"Aku menginginkanmu untuk berada di sampingku Wonwoo-yah. Aku benar-benar menginginkanmu berada bersamaku. Dan aku akan mewujudkan itu apapun caranya." Lanjut Mingyu.

Cara Mingyu mengatakannya benar-benar membuat Wonwoo merasa telah di dominasi. Seketika ia merasa seperti liliput dalam dekapan Mingyu. Mingyu benar-benar mengatakannya dengan sungguh-sungguh. Dan Wonwoo tahu kalau Mingyu benar-benar akan melakukan semua yang ia ucapkan barusan.

Entah, Mingyu tak tahu lagi apa yang sebenarnya terjadi dengannya. Lebih tepatnya ia tak tahu apa yang telah Wonwoo lakukan pada dirinya. Wonwoo tak pernah menggodanya. Jangankan menggoda menyentuhkan seujung kukunya pada badan Mingyu saja tidak. Semua sentuhan sensual itu selalu dimulai dari Mingyu. Tapi bukan berarti Mingyu-lah yang menggoda Wonwoo. Harus ia akui bahwa Wonwoo terlihat menggoda bahkan saat ia hanya diam.

"Tapi kau sudah punya Jeonghan untuk berada disampingmu Mingyu." Balas Wonwoo.

"Kau cemburu ?"

"Aku menyukaimu, bagaimana mungkin aku tidak cemburu ?"

Hening.

Mingyu terperanjat mendengar jawaban Wonwoo. Dan Wonwoo sendiri terdiam, dalam hatinya mulai ada rasa sesal karena telah mengatakan kalimat laknat itu. Wonwoo mulai mencurigai bahwa Mingyu telah melakukan sesuatu padanya. Wonwoo tak akan mungkin menyukai pacar sahabatnya sendiri dan langsung mengakuinya. Hell! Disisi lain Wonwoo menyukai sensasi saat ia mengatakan bahwa ia menyukai Mingyu. Seolah ada sebongkah beban yang terangkat, sedikitnya Wonwoo mulai merasakan perasaan lega. Dan banyaknya Wonwoo merasakan perasaan tak tega. Wonwoo sendiri tak bisa membayangkan apabila ia yang berada di posisi Jeonghan. Lelaki cantik itu pasti akan patah hati dengan dramatis.

"Tapi itu dulu. Sebelum aku tahu kau sudah punya pacar. Aku menyukaimu. Dulu."

Dengan kurang ajarnya Wonwoo mengatakan itu untuk Mingyu. Lebih kurang ajarnya Wonwoo malah merasa kalimat itu bukan untuk Mingyu tapi untuknya sendiri. Wonwoo sedang mensugesti dirinya sendiri. Berusaha meyakinkan dirinya sendiri kalau ia memang tak lagi menyukai pria tampan yang berdiri di depannya saat ini.

"Oh ya ? Tapi kurasa sampai sekarang pun kau masih menyukaiku. You love me don't you ?" desak Mingyu.

Mingyu menatap dalam mata Wonwoo. Mencoba mencari kebohongan dalam mata rubah Wonwoo saat pemuda itu mengatakan tak lagi menyukainya.

"A-Aku ... Mingyu, kurasa..."

"Mingyu ?"

Sebuah suara yang datang dari belakang badan Mingyu sontak menginterupsi obrolan keduanya.

.

.

.

Sengaja aku bikin pendek karena aku pengen liat dulu respon kalian, masihkah kalian menginginkan ff ini untuk dilanjut atau ngga. Karena aku sadar ff ini sudah terlalu lama aku anggurin. So i need your thought about this fanfic, please let me know.

Aku butuh review kalian supaya aku bisa tahu ini ff layak lanjut atau engga. Thank you guys. Hug and Kiss.

Terima kasih buat kalian yang udah menyempatkan review di dua chapter sebelumnya. Aku seneng banget bisa baca review kalian. Aku seneng karena kalian penasaran sama flashback di awal cerita. Hehehe. Aku berhasil dong buat kalian penasaran.