Awal Yoongi kenal Jimin adalah kala pemuda kecil itu memperkenalkan diri di depannya pada suatu hari di awal musim semi. Yoongi yang tengah berkutat dengan piring-piring kotor langsung mendongak kala telinganya mendengar namanya dipanggil oleh suara pemuda dengan lengkingan yang tak biasa. Begitu mendongak yang ia dapatkan adalah wajah lugu seorang pemuda berambut hitam dengan senyumnya yang lebar.
"Halo, kau pasti Min Yoongi kan? Aku Park Jimin, karyawan baru disini. Salam kenal ya Yoongi."
Yoongi yang kala itu masih Min Yoongi yang tertutup hanya membalas sapaan ceria itu dengan dengusan lirih. Tak peduli dengan eksistensi pemuda dihadapannya dan balik berkutat pada piring sialan di depannya. Ia yang memang asalnya tidak peduli pada orang-orang disekitar tidak ambil pusing dengan kedatangan Jimin. Toh ada atau tidaknya pemuda itu tidak akan mempengaruhi apapun dalam hal finansial maupun hidupnya.
Yoongi memiliki batas. Batas sampai mana orang lain bisa masuk ke kehidupannya, pun batas sampai mana Yoongi masuk ke dalam hidup orang lain. Sejauh ini orang-orang kenalan yang Yoongi punya hanya sebatas 'kenalan', tidak pernah lebih hingga bisa mengusik hidupnya.
Sejak awal ia memang sudah sendirian. Menghidupi hidupnya sendirian sampai sejauh ini. Jadi ia pikir ia tidak memerlukan siapapun untuk hadir dalam hidupnya. Menurut Yoongi, kehadiran orang lain dalam hidupnya justru mampu mengacaukan segala yang telah ia susun. Ia tahu bagaimana peran seseorang itu sangat diperlukan untuk makhluk sosial yang disebut manusia. Mereka bisa menjadi sosok yang menemani, memberi kekuatan dan cinta, serta tempat untuk berkeluh kesah. Tapi orang-orang terlalu naif dengan berpikir bahwa orang lain pasti memberikan kebahagiaan pada kita, tanpa berpikir bahwa kesakitan yang dialami pun berasal dari orang-orang itu. Manusia adalah hal yang paling menyeramkan di dunia ini. Dan sialnya Yoongi adalah bagian dari mereka.
Awalnya ia pikir memang begitu.
Namun kala pemuda yang baru saja hadir entar darimana asalnya duduk disamping Yoongi, melirik penasaran pada bait-bait lagu yang Yoongi untai dengan asal di samping meja kasir kedai, Yoongi sadar ada hal lain yang menarik perhatiannya selain uang dan makanan.
"Woah hyung, kau membuat lagu?" Pemuda itu memanggilnya hyung baru-baru ini semenjak tahu bahwa pemuda berkulit pucat itu 2 tahun lebih tua darinya.
Yoongi balas mendengus, "Bukan urusanmu, bocah."
Tapi Park Jimin mana peduli dengan balasan tajam itu, matanya justru semakin berbinar kala membaca setiap bait lagu yang Yoongi tulis.
"Hyung! Ini bagus sekali! Wah apa kau bercita-cita menjadi seorang produser nantinya?"
Naif.
"Apanya yang produser, orang yang baru saja kau puji hanya seorang tukang cuci piring, bocah."
Jimin mencebik, "Eeyy jangan putus asa begitu, kau tau pendiri Disney? Atau pendiri McDonald? Mereka juga dulunya orang miskin seperti kita, hyung."
Yoongi mendelik, "Jadi sebenarnya apa yang ingin kau katakan bocah?" ketusnya namun ia tidak menampik bahwa ia ingin tahu sejauh mana bocah dihadapannya ini berbicara.
Tiba-tiba Jimin menegakkan punggungnya penuh semangat, "Ya mereka saja bisa sukses, berarti hyung juga bisa dong!"
Yoongi dapat merasakan jemari gendut pemuda dihadapannya ini menangkup kedua pipinya, membuat ia terkesiap sepersekian detik.
"Kalau hyung tidak menyerah, aku yakin hyung bisa menjadi pembuat lagu yang terkenal."
Kemudian ia bisa merasakan punggungnya dipukul dengan penuh tenaga.
"Bangsat! Kenapa kau—"
"Kalau hyung bisa menjadi produser terkenal nanti, aku akan menjadi penikmat nomor satu lagumu hyung!"
Yoongi terdiam. Matanya menatap pemuda di depannya yang tengah tersenyum amat lebar hingga kedua mata kecil itu menghilang. Pipinya bersemu dengan rona yang amat cantik, serta lesung pipi kecil yang malu-malu muncul dipipinya yang bulat.
Yoongi mendengus, terkekeh kecil saat merasakan hatinya menghangat tiba-tiba.
Katakan Yoongi hipokrit, karena nyatanya Yoongi membiarkan pemuda di hadapannya itu melewati batas yang telah ia tentukan.
Namun alih-alih mendengus kasar seperti yang awal-awal ia lakukan setiap pemuda didepannya berbicara, Yoongi justru menempatkan tangan besarnya diatas kepala pemuda itu.
"Dasar bocah, tapi terimakasih."
Tidak lupa memberikan senyum tipis sebagai pelengkap.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Calico Cat and Blue Mold
Monday Kid
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Setelah perdebatan yang lumayan panjang di jalan tadi akhirnya mereka memutuskan untuk menepi di salah satu kedai odeng langganan mereka. Kali ini Yoongi yang bayar sebagai permintaan maaf karena sudah hilang kendali pada pemuda berpipi bulat itu. Sesekali mereka bercerita tentang apa saja yang sudah terjadi hari ini. Jimin tentu menjadi yang paling semangat dalam bercerita, anak itu seolah tidak pernah kehabisan tenaga walaupun tenaganya sudah dikuras habis untuk bekerja. Dan Yoongi pun hanya menanggapi seadanya sambil menikmati odengnya yang masih panas. Tidak lagi membahas mengenai lebam di punggung Jimin ataupun ayahnya yang brengsek. Mereka sudah sepakat untuk tidak pernah membahas itu meskipun Yoongi berhasil memaksa Jimin untuk setidaknya bercerita apabila ayahnya kembali memukulnya.
"Oh iya hyung, omong-omong—" Jimin merogoh tas selempang lusuhnya, berusaha meraih sesuatu dari dalam sana. Begitu tangannya meraih apa yang ia cari, ia tersenyum lebar.
"—Tadaaa!"
Sebuah pamflet. Dengan sebuah nama perusahaan yang tercetak besar diatas. Yoongi tidak bodoh untuk tidak tahu perusahaan apa itu. Kemudian matanya bergulir kebawah, ada sebuah tulisan disana yang Yoongi yakin merupakan alasan Jimin begitu antusias menunjukannya padanya.
Hit It Audition
"Aku menemukan pamflet ini dipapan pengumuman taman kota saat akan berangkat kerja tadi."
Ia bisa melihat mata Jimin yang berbinar-binar. Yoongi tidan mengerti mengapa anak itu sebegitu antusiasnya.
"Hyung, ini kesempatan yang besar! Kau bisa mewujudkan cita-citamu. Jika kau lolos, kau tidak perlu lagi susah payah kesana kemarin mencari uang, kerepotan membayar tagihan yang membludak, dan yang paling penting mimpimu menjadi seorang produser akan menjadi nyata." katanya dengan antusias. Tapi senyumnya surut dan berganti dengan wajah bingung kala melihat reaksi Yoongi yang biasa saja.
"Kok lemas? Hyung tidak senang?"
Yoongi segera mendongak, "Ah tidak, bukan begitu, hanya saja—"
"Hyung tidak percaya diri lagi ya? Hyung dengar ya, kau ini berbakat, jago menulis lagu, pun sekarang kau menjadi pemain keyboard di kafe. Jiwa musikmu itu bagus sekali, hyung. Lagipula ini mimpimu kan?"
Ah Jimin tidak mengerti. Atau mungkin justru Yoongi yang tidak mengerti dengan perasaannya. Menjadi seorang produser lagu memang mimpinya, ia tahu itu sejak masih duduk di bangku SD. Tapi entahlah, rasanya ada sesuatu yang mengganjal kala matanya melihat pamflet yang ditunjukkan Jimin.
Bighit itu bukan perusahaan kecil. Sudah banyak artis-artis sukses yang mereka cetak. Dan Yoongi yakin mimpinya akan menjadi nyata disana. Hidupnya bisa berubah menjadi jauh lebih baik jika bisa masuk kesana. Tapi yang menjadi permasalahan adalah Bighit berada di seoul.
"Hyung mau ikut kan?"
Lamunannya buyar oleh suara Jimin yang kembali mengintrupsi.
"Tapi—"
Jimin meraih tangan Yoongi. Menggenggamnya hangat untuk memberi keyakinan.
"Hyung pasti bisa, aku mendukungmu."
Yoongi menatap dengan seksama mata bulat itu. Ada keyakinan dan pengharapan disana. Membuat Yoongi perlahan mengais keyakinannya juga. Mendapat kekuatan dari tatapan dan genggaman hangat Jimin untuknya.
Akhirnya ia mengangguk.
Dengan senyum tipis ia mengiyakan, "Baiklah, aku coba."
Dalam hati ia berusaha menepis keraguannya. Alasan keraguan untuk mengikuti audisi Bighit. Yaitu meninggalkan Jimin seorang diri di Daegu.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
.
.
Halooooooo! Monday kid kembali dengan chapter 3. Duh ga nyangka cerita ini dapet respon yang baik huhuhuhu. Aku ucapin terimakasih banyak dengan penuh cinta untuk kalian semua. sayang kalian gaes huhuhu. Mind to give me some review? Review juseyooong.
Big thanks with love for :
AmminaLyeneta. Kim Hyeni. Catastrophile101. Honeymon. Itsathenazi. Veluvxt. Linkz Accouunt. Nochuyuu. Guest. Summer Chii.
Nochuyuu : Hmm padahal aku ga kepikiran Jimin bakal suicide nanti loh, tapi ide bagus tuh wkwk.
itsathenazi : Aku juga tertohok nih mereka cuma sahabat wkwk liat nanti ya dear.
Summer Chii : Pengennya friendzone gimana dong? Abis suka sih ngeliat Yoonmin tersiksa/slap. Hehe liat nanti ya dear.
TERIMAKASIH UNTUK KALIAN SEMUA. AKU CINTA KALIAN TANPA BATAS.
