Setelah perbincangan panjang mengenai audisi Bighit dengan Jimin di kedai malam itu, Yoongi akhirnya benar-benar mendaftarkan dirinya. Bermodal beberapa lembar uang disaku, kakinya melangkah menuju salah satu tempat rental komputer. Bung, ia tidak punya laptop atau semacamnya omong-omong. Ia harus melakukan registrasi online terlebih dahulu sebelum melangkah pada step selanjutnya.

Jemari panjangnya dengan lincah mengetik beberapa kata untuk mengisi kolom yang tersedia disitus web. Tidak ada kesulitan dalam registrasi online ini. Ia hanya perlu mengisi data diri dan beberapa pertanyaan yang umum.

Tek

Suara papan keyboard yang sejak tadi berbunyi berhenti, menandakan pertanyaan terakhir sudah ia ketik. Semua sudah rampung. Hanya tinggal menekan tombol 'Submit' maka ia bisa menyetak data diri yang sudah dalam bentuk file pdf. Jarinya kembali mengarahkan kursor ke halaman teratas. Matanya kembali menjelajah layar persegi dihadapannya dengan teliti, membaca ulang setiap kata yang ia ketik agar tidak ada yang keliru. Setelah memastikan data yang ia input sudah benar, ia mengarahkan kursornya ke tulisan 'submit' yang tertera disana.

Tetapi ia tertegun sebentar.

Jika ia benar-benar menekan tombol itu maka ia sudah resmi terdaftar secara online untuk mengikuti audisi. Tapi perasaan ragu itu kembali menghampiri hatinya.

Apakah ini sudah benar?

Yoongi sendiri tidak mengerti dengan jalan pikiran dan perasaannya sekarang. Ini mimpinya. Sesuatu yang ia idamkan sejak masih duduk di bangku sekolah. Ia memimpikan duduk di studio miliknya, berkutat dengan not dan rangkaian tulisan, lalu menikmati penyanyi kelas dunia menyanyikan lagu ciptaannya. Jika ia berhasil meraih mimpinya maka hidupnya akan berubah pula. Ia akan terbebas dari penderitaan yang ia tanggung selama ini. Tapi kenapa sekarang ia justru ragu? Seharusnya tidak ada lagi kata ragu untuk mendaftar.

"Hyung pasti bisa, aku mendukungmu"

Suara lembut Jimin yang penuh kekuatan itu kembali berdenging mengisi otaknya. Bahkan perasaan hangat kala jemari kecil anak itu menggenggam tangannyayang besar pun masih bisa ia rasakan. Tangan Jimin itu kecil dibanding miliknya, tetapi ada keyakinan dan kekuatan disana. Berusaha menjadi penyemangat untuk Yoongi dan mengusir keraguan hatinya.

Ah anak itu.

Rasanya Yoongi tidak bisa menahan kedua sudut bibirnya untuk tidak tertarik keatas membentuk senyuman kecil. Park Jimin, si cerewet yang selalu bisa memberikannya perasaan bahagia bahkan hanya dengan mendengar suara tertawanya yang lucu. Ia selalu suka bagaimana pipi bulat itu akan berkumpul diatas dan menelan matanya yang kecil ketika pemiliknya tersenyum lebar. Jangan lupakan juga rona merah jambu yang membuatnya indah luat biasa.

Dan Yoongi sadar, sahabatnya yang cantik itu lah yang membuatnya ragu untuk ke Seoul dan melakukan audisi. Jimin hanya punya dirinya, begitupun sebaliknya. Jika ia ke Seoul, ia tidak yakin ia bisa melihat wajah cantik sahabatnya itu lagi. Meninggalkan Jimin seorang diri di Daegu bukanlah ide yang bagus. Ditambah lagi anak itu punya ayah yang jahanam. Perasaannya tidak tenang jika meninggalkan Jimin sendirian. Ketika ada bersamanya saja anak itu masih sebegitu menderitanya, bagaimana jika ia pergi? Bagaimana anak itu bisa melewati harinya yang berat tanpa ia disisinya?

Tapi pemikiran lain kembali membuatnya tertegun. Jika ia mengikuti audisi, menjadi orang yang sukses, maka ia juga bisa menarik Jimin keluar dari penderitaannya. Ia akan menjamin hidup anak itu sepenuhnya agar tidak lagi berurusan dengan ayahnya yang brengsek. Ia tidak akan membiarkan Jimin bekerja seperti robot lagi jika ia sudah sukses. Bahkan mungkin ia juga bisa memfasilitasi Jimin agar ia bisa belajar menari seperti impian anak itu, atau ia juga bisa membuat Jimin menjadi penyanyinya mengingat anak itu memiliki suara yang indah.

Tiba-tiba saja semua ambisi yang sejak dulu ia pendam kembali bergejolak didadanya. Keyakinan, kemauan, kekuatan, semua berkumpul menjadi satu. Membangunkan kembali Min Yoongi yang ambisius. Menepis jauh-jauh keraguan yang tadi sempat menghantuinya.

Jam dinding di tempat rental menunjukkan pukul 10 pagi, setengah jam lagi ia harus sudah tiba di tempat kerja. Maka dengan segera ia menyelesaikan urusannya dan bergegas keluar dari sana dengan langkah yang lebar. Dengan tas selempang yang berisi hasil print out data diri yang tadi ia isi, ia berjalan menuju tempat kerja.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Calico Cat and Blue Mold

Monday Kid's

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Kafe hari ini cukup ramai pengunjung. Yoongi bisa melihat rekan-rekan kerjanya kewalahan melayani pelanggan. Suara orang mengobrol, suara tertawa, suara riuh dari rekan kerjanya mengisi suasana kafe yang penuh.

"Oh! Yoongi, kok sudah datang?"

Suara lembut dari salah satu rekan kerjanya itu menyapa gendang telinganya. Refleks ia menoleh ke sumber suara.

"Ya, kupikir aku akan telat makanya tadi terburu-buru ternyata justru 15 menit lebih cepat."

Seokjin tertawa, "Yasudah lebih baik kau mempersiapkan diri untuk tampil nanti."

Yoongi hanya bergumam mengiyakan sambil meletakan tasnya di loker yang disediakan.

"Oh ya Yoongi."

"Apa?"

"Pelanggan di meja nomor 7 tadi saat memesan makanan bilang ingin request lagu, sepertinya ia pelanggan tetap disini yang sering memperhatikanmu bermain piano."

Pemuda berkulit pucat itu sontak melirik ke arah meja nomor 7. Ada seorang lelaki muda disana seorang diri berkutat dengan laptop di meja. Perawakannya tinggi dan tegap. Terlihat manly dan jantan. Ditambah lagi secangkir kopi yang masih mengebul uapnya dan sepotong panekuk madu membuat Yoongi teringat dengan pemeran utama lelaki muda kaya raya yang intelektual dalam drama yang ditonton oleh Jimin. Tapi melihat laptopnya yang penuh dengan stiker karakter Ryan membuat Yoongi tertawa mengejek dalam hati. Astaga bocah banyak gaya ternyata.

"Lagu apa, hyung?"

"Autumn Leaves katanya."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Pada akhirnya Yoongi menghabiskan waktu yang tersisa sebelum waktu kerjanya dimulai untuk browsing lagu Autumn Leaves. Kafe mereka memang suka menerima request dari pengunjung untuk lagu yang akan Yoongi mainkan. Perlu diakui kafe itu ramai karena pengunjung yang ingin melihat permainan piano Yoongi. Biasanya pemuda berkulit pucat itu hanya memainkan pianonya sepanjang hari dari berbagai lagu yang random ia pilih. Bung, suaranya seperti tikus sekarat omong-omong, ini kata Jimin, jadi daripada pengunjung kabur dari kafe lebih baik ia tidak bernyanyi. Tapi terkadang bahkan ada konser dadakan jika ada pengunjung yang nekat naik ke atas panggung kecil untuk bernyanyi diiringin oleh Yoongi.

Terbukti, ketika Yoongi naik keatas panggung kecil di tengah-tengah kafe, semua suara bising yang tadi mengisi kafe tiba-tiba senyap. Semua mata tertuju padanya. Yoongi bisa melihat mereka sudah siap memasang telinga masing-masing. Bahkan ada perempuan di ujung sana yang menyelipkan rambutnya kebelakang telinga agar tidak menghalangi pendengarannya. Astaga.

Tanpa mengucapkan satu patah katapun ia mulai menarikan jemari panjangnya diantara tuts. Seperti permintaan si pengunjung nomor 7, ia memainkan Autumn Leaves. Matanya terpejam mengikuti alunan pianonya. Sesekali terbuka untuk melihat reaksi pengunjung. Kemudian ia menyeringai puas melihat reaksi yang sesuai dengan harapannya.

Matanya melirik ke pengunjung nomor 7. Senyum di pemuda itu mengembang sepanjang lagu, bahkan laptopnya pun sudah ia tutup.

Ketika Yoongi menyelesaikan permainannya, riuh tepuk tangan terdengar seolah memujinya. Ia menyempatkan untuk membungkuk kearah pengjung sebelum melanjutkan permainan ke lagu berikutnya. Semua orang kembali berdecak kagum. Min Yoongi dan musik memang suatu hal yang luar biasa.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Jimin menutup matanya sejenak sambil menunggu cuciannya selesai. Ia mengantuk sekali hari ini. Kemarin ia lembur sampai pukul 12 malam karena office boy yang bekerja di toko tidak masuk sehingga ia mendapat pekerjaan tambahan untuk menggantikannya. Tapi ya lumayan ia mendapat bonus dari situ.

Tubuh Jimin rasanya lelah. Jam 4 pagi ia harus sudah bangun untuk memasakkan sesuatu untuk ayahnya. Lalu jam 6 ia akan bekerja menjadi pelayan di kedai jjangmyeon sampai pukul 1 siang. Kemudian dilanjut bekerja di toko buku sebagai sales sampai pukul 9 malam. Saat pulang pun ia masih harus mencuci piring dan pakaian, menyetrika pakaian, atau jika ayahnya sedang mengamuk ia harus merapihkan rumah yang dibuat berantakan oleh ayahnya.

Sehabis bekerja dari kedai jjangmyeon tadi pagi, ia langsung pulang ke rumah karena hari ini gilirannya libur di toko buku. Jadi ia memanfaatkan waktu untuk menyelesaikan pekerjaan rumah.

Jimin bangkit dan segera mengeluarkan pakaiannya ketika mesin cuci itu berhenti berputar. Hari ini ia harus bekerja ekstra karena pengering mesin cuci yang rusak.

'sepertinya aku harus mulai menabung untuk membeli mesin cuci baru.' gumam Jimin dalam hati. Tangannya dengan cekatan menggantung tiap baju ditiang jemuran. Bajunya sudah lepek terkena tetesan air.

Selesai menjemur, tanpa beristirahat sejenak, ia langsung mengambil setrika dari rak dan mulai menyetrika pakaian yang kemarin tidak sempat ia lakukan.

Brak

Jimin berjengkit kaget. Ia mengamankan setrikaannya sebentar dan melihat kearah ruang tamu kala ia mendengar pintu didobrak.

"Ayah..." lirihnya pelan. Matanya melirik takut sang ayah yang tampak marah diambang pintu. Kakinya refleks mundur beberapa langkah ketika ayahnya itu mengambil langkah mendekat.

Bahunya dicengkram begitu keras membuatnya meringis. Jimin menciut melihat mata memerah ayahnya yang tampak menyeramkan.

"Berikan aku uangmu."

Jimin memberanikan diri melihat ayahnya, "Untuk apa?"

"Berikan saja! Cepat!"

"Aku tidak punya uang." ia tidak bohong. Sungguh. Uangnya habis untuk membayar listrik, membeli bahan makanan, dan membayar uang bulanan kontrakan mereka. Meskipun Jimin bekerja diberbagai tempat tetapi tetap saja uang yang ia hasilkan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhannya.

"Ah!" Jimin meringis ketika ayahnya menjambak rambutnya begitu keras.

"Bangsat! Kau sudah berani berbohong?!"

"Demi Tuhan, aku tidak punya uang, ayah! Lagipula untuk apa? Membeli alkohol? Menyewa jalang murahan?"

PLAK

"Keparat!"

Jimin memberontak sekuat tenaga kala sang ayah menariknya dengan kuat hingga tubuh Jimin terantuk-antuk. Mulutnya berteriak takut melihat sang ayah mengambil setrikaan yang masih terlihat panas itu.

"Ayah, ayah, tidak, tidak ayah." Jimin menangis tergugu. Mukanya memerah karena terlalu keras menangis. Tangannya terkatup didepan dada memohon ampun. Menyesali dalam hati sudah berbicara seperti pada ayahnya. Padahal ia tahu benar apa yang akan terjadi kalau ia melawan sang ayah.

"—!" mulutnya terbuka lebar namun tidak ada suara yang keluar. Ia bahkan tidak sanggup lagi untuk berteriak ketika rasa panas yang luar biasa menyentuh lengannya. Air mata terus mengalir deras dimatanya yang bulat.

Tubuhnya jatuh terduduk ketika ayahnya melepas pegangannya. Tangan kanan Jimin bergetar dengan luka melepuh dilengan.

Wajahnya dicengkram dengan satu telapak tangan yang begitu besar. Membawa matanya bertemu landang dengan mata ayahnya yang bengis.

"Kau seharusnya tahu dengan siapa kau berhadapan." desis sang ayah sebelum pergi keluar dari rumahnya yang entah mau kemana. Jimin tidak peduli. Ia kesakitan. Terlalu sakit untuk ia tanggung sendiri.

Jimin menangis semakin kencang. Meratapi nasibnya yang sebegini sial. Tangan kirinya mencengkram lengan kanannya yang semakin terasa perih. Pun dengan hatinya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Yoongi merapihkan barang-barangnya, pria itu bersiap untuk pulang. Jam kerjanya sudah habis dan ia berencana untuk membeli beberapa bahan makanan di swalayan sebelum pulang mengingat isi kulkasnya yang sudah kosong.

"Kau lembur, hyung?" tanyanya pada Jin yang sibuk menghitung uang dimeja kasir. Kafe sudah tutup karena sekarang sudah pukul 9 malam. Oh iya untuk informasi, selain menjadi pianis di kafe, ia juga menjadi tukang bersih-bersih setiap kafe akan tutup. Lumayan gajinya akan ditambah dengan pekerjaannya itu.

"Oh kau ingin pulang, Yoon? Dan ya, aku harus membuat laporan pemasukan kafe untuk diserahkan besok pada bos." Jin menghela nafas berat. Terlihat sekali ia sudah kelelahan.

"Perlu kutemani?"

Jin mendelik, "Tumben sekali baik, tapi tidak perlu."

Sedangkan Yoongi hanya mengendikkan bahunya, "Karena aku tahu kau akan menolak, jadi ya hanya basa-basi saja sih sebenarnya."

Sebuah lap melayang mengenai kepala Yoongi.

"Sialan."

"Aku pulang." pamitnya setelah melempar balik lap tersebut.

Yang lebih tua melambaikan tangannya, "Hati-hati di jalan, Yoon."

Yoongi mendorong pintu kafe dan segera keluar dari sana. Ia mengeluarkan ponsel bututnya dari ransel. Ia memang jarang memegang ponsel saat jam kerja. Dan ia terkejut melihat 4 panggilan tak terjawab serta 5 pesan. Dari Jimin.

'Hyung, bisa kita bertemu setelah hyung pulang kerja?'

'Yoongi hyung, aku butuh untuk bertemu sekarang.'

'Hyung, kenapa tidak jawab?'

'Apa hyung sedang sibuk?'

'Baiklah tak apa, lagipula tidak terlalu penting sih haha. Bekerjalah dengan baik hyung!'

Maka dengan segera ia menelepon Jimin. Perasaannya tidak enak karena bocah itu tidak biasanya menghubunginya sebanyak itu. Tetapi sebelum jarinya menekan nomor Jimin, sebuah tangan menepuk bahunya. Ia terlonjak kaget dan refleks menoleh ke belakang.

Alisnya berkerut, "Siapa?" ucapnya tajam.

Pria dihadapannya tersenyum lebar sebelum akhirnya menggaruk leher belakangnya dengan canggung.

"Aku yang tadi request lagu Autumn Leaves."

Yoongi berpikir sejenak. Lalu mulutnya terbuka membentuk huruf 'a' saat sudah mengingat pria didepannya.

"Oh bocah ryan."

Pria berambut abu-abu itu melongo mendengar panggilan dari si pucat, "Hah?"

"Tidak, lupakan, jadi ada apa?"

"Eum, aku memperhatikan permainan pianomu beberapa hari ini, pemuda manis dikasir itu bilang kalau kau juga menulis lagumu sendiri, aku—"

"Bisa langsung ke inti?" Oke, Yoongi memang pada dasarnya bermulut tajam, tapi sungguh ia sedang buru-buru ingin menghubungi Jimin dan pemuda di depannya ini justru menghambatnya. Astaga.

Pria itu langsung salah tingkah saat sadar bahwa ia telah menganggu waktu pemuda dihadapannya.

"Bisa kau mengajariku? Maksudku aku akan mengikuti audisi dan berencana untuk membuat laguku sen—"

"Kau akan ikut audisi?" tanya Yoongi cepat.

Pria itu mengangguk cepat, Yoongi sampai takut kepalanya akan putus.

"Ya, audisi bighit, kau tahu bighit? Bighit itu—"

"Ya ya ya aku tahu, tidak perlu dijelaskan astaga, karena aku juga akan mengikuti audisinya."

Pria dihadapannya terlonjak senang, senyumnya melebar. Dari sekali lihat Yoongi bisa menebak pria ini masih terlihat seperti bocah, ceroboh, dan unik.

"Benarkah? Wah kebetulan sekali! Jadi apa kau bersedia? Maksudku kita bisa mendiskusikan beberapa hal bersama."

Yoongi mengangguk pelan, "Tak masalah."

"Baguslah! Jadi bisakah kita mencari tempat makan untuk duduk sebentar dan membicarakan rencana kita ke depan sekarang? Aku yang traktir."

Yoongi terdiam. Ia menatap ponselnya sebentar. Pesan dari Jimin masih terbuka dilayar ponselnya yang menyala. Ia khawatir pada sahabatnya itu.

"Jadi bagaimana, Hyung?"

Yoongi menatap pria yang entah siapa namanya karena ia belum berkenalan tadi. Kemudian menatap ponselnya lagi. Tapi sesaat setelahnya ia menyimpan ponselnya disaku jaket dan mengangguk.

"Baiklah, ayo."

Pria berambut abu-abu itu tersenyum lebar, "Aku Kim Namjoon omong-omong."

"Min Yoongi."

Yoongi pikir ia bisa menghubungi Jimin nanti sepulangnya ia kerumah.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Halo!!! Maaf lama ga update, tapi ini aku bawa chapter 4. Chapter ini lebih panjang dibanding chapter sebelumnya hohoho. Ngomong-ngomong pendapat kalian tentang ff ini apa sih? Kuingin tahu dong. Btw ini masih awal loh ya. Permasalahannya aja belom muncul, eh udah deng tapi baru dikit. Jadi aku rasa ff ini bakal panjang, doain aku bisa lajutin ff ini ya soalnya aku suka tiba-tiba mager haha/slap. Dan setiap minggu aku usahain aku update. Tergantung sikon sih, tapi aku usahain. Ciyus.

Btw ga tega ya liat jimin digituin sama ayahnya huhu, tapi abis gimana ya, aku suka sih liat jimin menderita di ff/digorok.

Daaaan terimakasih untuk yang bersedia membaca ff abal ini. Aku cinta kalian muaaah. Mind to review? Bbuing.

Seperti biasa, tanpa mengurangi cinta, aku ucapin banyak-banyak terimakasih untuk :

AmminaLyeneta. Kim Hyeni. Catastrophile101. Honeymon. Itsathenazi. Veluvxt. Linkz Accouunt. Nochuyuu. Guest. Summer Chii. Gasuga. arvita.kim. CiminsCake. Baby Jiminie.

Gasuga : Kata Yoongi si jimin keberatan jadi ga bisa dia bawa, jahat emang dia mah huhu.

arvita.kim : ayo kita bikin yoongi nyesel bareng-bareng diakhir nanti. Jimin ga boleh mati huweee nanti yoongi sama siapa. Eh gapapa deng kan ada aku/slap.

ChiminsCake : Jangan nangiiiiis

Itsathenazi : dulunya emang nguli kan dia mah, makanya perutnya kotak-kotak begitu. Kalo jimin dijual, nih rumah aku jual biar bisa beli.

Baby Jiminnie : aku akan pergi tuk sementara, bukan tuk meninggalkanmu selamanyaaaaa. Eh kok malah nyanyi.

Catastrophile101 : Jimin emang selalu supportive huhuhu pengen ih cowo kayak jimin.