Jimin mengetuk pintu kayu dihadapannya dengan sebal. Alisnya mengerut lucu dengan bibir yang mencebik. Demi Tuhan, sudah 15 menit ia berdiri seperti orang bodoh mengetuk pintu reot tersebut, namun tidak ada tanda-tanda pintu itu akan terbuka.

"Kemana sih Yoongi hyung?"

Ponselnya ia keluarkan untuk menghubungi pemuda pemilik kontrakan yang sejak tadi ia ketuk pintunya. Jimin tidak akan lupa bagaimana sahabatnya itu tidur seperti orang mati di hari libur, tapi Jimin tidak menyangka akan separah ini. Karena, astaga, ia sudah mengetuk pintu dari ketukan lembut sampai keras-keras seperti akan menghancurkan pintu reot itu tetapi Yoongi tidak juga membuka pintunya. Bahkan tadi ia sempat menendang pintu itu —alhasil tetangga sebelah keluar dan memarahi Jimin— dengan tendangan kuat.

"Ish dasar beruang payah." umpat Jimin ketika lagi-lagi hanya suara operator yang ia dengar dari ponselnya.

Jimin mengepalkan tangan kecilnya kuat-kuat, menghirup nafas dalam-dalam dengan mata berkobar api imajiner.

"MIN-BODOH-PAYAH-PENDEK-JELEK KERBAU-BAU-YOONGI BANGUN DAN BUKA PINTU SEBELUM AKU MEMBAKAR RUMAHMU!"

BRAK

Pintu terbuka lebar dengan keras. Akhirnya. Muncul sosok pucat dengan rambut hitamnya yang berantakan dan jejak liur disudut kanan bibirnya, ewh. Jangan lupa matanya yang merah dan membengkak seperti monster karna efek tidur larut. Sedangkan Jimin menunjukan cengir cemerlangnya ketika melihat pemuda pucat muncul di depannya dengan wajah keruh dan mata memicing tajam. Dasar night owl, cibir Jimin dalam hati.

"Pagi Yoongi Hyuuuuung." sapanya ceria. Well, cukup ampuh untuk melunakan ekspresi Yoongi yang keras.

"Kenapa datang pagi sekali, bocah?"

Jimin melebarkan matanya hiperbolis, "PAGI?! Jam 12 kau bilang pagi? Aduduh kau menyakiti perasaan morning person sepertiku, hyung." Mata Jimin terpejam dramatis dengan tangan menekan dadanya. Lebay memang.

Yoongi memutar bola matanya malas. Ia mengacak rambutnya sebentar dan menguap lebar seperti kudanil sebelum menyuruh Jimin masuk.

Lagi-lagi Jimin berdecak begitu sampai di dalam. Rumah kontrakan kecil ini sudah seperti rumah angker. Bungkus makanan instan dimana-mana, cup ramen bekas yang bahkan masih ada sisa kuah di dalamnya, pakaian kotor yang diletakan sembarangan di sudut ruang tamu, sarang laba-laba yang menjalar di plafon, dan, astaga, piring kotor yang menggunung di dapur sanggup membuat Jimin menganga lebar.

"Paus bisa saja masuk jika mulutmu terbuka selebar itu, Jimin."

Sontak Jimin gelagapan menutup mulutnya. Malu sekali astaga. Tapi sedetik kemudian ia berkacak pinggang, wajahnya mengerut sebal.

"Sudah berapa lama kau tidak membersihkan rumahmu, hyung? Lihat ini, ckck, bahkan kambing pun ogah tinggal disini." cibirnya tajam.

Yoongi membawa 2 cangkir berisi kopi hitam untuknya dan susu vanila untuk Jimin. "Kambing tidak mau tinggal disini bukan karena rumahku berantakan, Jimin. Tetapi ia bisa jantungan jika tinggal serumah dengan lelaki panas sepertiku."

Jimin tersedak susunya.

Pft.

Haha lucu sekali. Sarkas Jimin dalam hati.

Meskipun ia akuin Yoongi memang panas.

Eh?

"Mukamu merah."

Jimin melotot. "Apa sih!" sentaknya galak. Ia segera melangkahkan kakinya ke dapur untuk mencuci piring kotor yang menggunung itu. Ya sekali-kali beramal. Dan sekaligus mengalihkan jantungnya yang berpacu hebat.

Lengan baju ia sisingkan sebatas siku. Tidak lupa juga memasang sarung tangan karet berwarna merah dikedua tangannya yang mungil. Dalam hati ia menggerutu melihat masih banyak space tersisa diantara jari-jari sarung tangan karna jarinya yang terlalu mungil.

Tiba-tiba ia terlonjak ketika ada tangan kekar yang menjulur dari arah belakangnya. Jemari panjang itu mengelus perban dilengannya yang terlihat karna ia menyisingkan lengan baju. Punggungnya menempel sempurna dengan dada keras orang dibelakangnya, tidak lupa juga bahu bagian kiri yang terasa berat karna menjadi tumpuan orang tersebut.

"Ada apa dengan lenganmu?" Intonasinya sangat datar, namun berbahaya dan penuh waspada. Tiba-tiba aura disekelilingnya menjadi dingin hingga mampu mendirikan bulu roma disekujur tubuhnya.

"Bukan—"

"Kucium kau jika menjawab ini bukan apa-apa."

Jimin membeku. Ia kalah telak. Dirinya memang tidak pernah bisa mengelak atau berbohong dari Yoongi.

"Kenapa hyung tidak membalas pesanku waktu itu?" Jimin menggantung pertanyaan Yoongi itu dengan bertanya balik.

Ini sudah 3 hari semenjak lengannya disetrika omong-omong. Dan selama itu juga Yoongi tidak ada kabar. Baru kemarin malam pemuda dibelakangnya itu mengirimnya pesan untuk datang ke rumahnya hari ini.

"Maaf, untuk itu aku menyuruhmu kesini, aku ingin minta maaf karena tidak membalas pesanmu, sekaligus menanyakan apa yang terjadi. Jadi, berniat memberitahuku?"

Yoongi semakin membenamkan hidungnya pada bahu Jimin ketika melihat pemuda kecil dipelukannya semakin menunduk. Suara air keran yang terus menyala menjadi pengisi kesunyian.

"Ayah marah karena aku tidak memberinya uang."

"Lalu?"

"La-lalu hm dia menyetrika lenganku, jadi ya, ya begitulah."

Jimin mengulum bibirnya gugup. Ia bisa merasakan tubuh Yoongi yang menegang. Bahkan jari-jari panjang pemuda tampan itu sudah berhenti mengelus perbannya.

Yoongi marah. Ia mengerti.

"Dia brengsek."

Jimin tersenyum maklum, "Aku tahu."

"Taik."

"Sshh hyung."

"Anjing."

"Keparat."

"Bedebah."

"Bangsat."

"Sshh hyung sudah sudah." Jimin membalikan badannya. Memeluk pemuda yang sedang emosi dengan lembut. Sarung tangan ia lepas begitu saja, tangannya sudah berganti tugas untuk mengelus halus rambut dan punggung Yoongi.

"Tidak apa-apa, hyung. Sshh."

Jimin dapat merasakan nafas Yoongi yang terengah. Mukanya merah menahan amarah. Dan Jimin tidak mau mengambil resiko Yoongi akan mengamuk dan menghancurkan seisi rumah, maka dari itu ia sebisa mungkin menenangkan Yoongi dengan perlakuan lembutnya.

Tangan kanannya memeluk bahu Yoongi rapat-rapat, sedangkan yang sebelah lagi memainkan rambut hitam itu dengan lembut. Sahabatnya itu selalu suka jika Jimin memainkan rambutnya. Nyaman, katanya. Maka dari itu Jimin berusaha membuat Yoongi tenang dengan kenyamanan dari telapaknya. Ia melilitkan main-main rambut Yoongi diantara jari kecilnya lalu kembali mengurainya kembali. Begitu seterusnya.

Jimin menghentikan pergerakan tangannya ketika dirasa Yoongi sudah tenang. Ia melepas pelukannya dan menatap Yoongi dengan sorot mata yang tenang.

"Basuh mukamu, hyung. Mukamu seram seperti setan neraka." Sahut Jimin dengan kerlingan jahil.

Yoongi mengusap wajahnya dengan kasar, "Aku sedang tidak ingin bercanda, Park Jimin."

Sedangkan yang diajak bicara hanya membalik badan dan kembali berkutat dengan cucian piringnya. Melihat sahabatnya yang acuh, Yoongi hanya mendengus keras. Ia kemudian melangkahkan kakinya ke kamar mandi. Mungkin air dingin dapat menyurutkan api yang berkobar dihatinya.

Sedangkan Jimin hanya terkekeh kecil melihat punggung Yoongi yang menghilang dibalik pintu kamar mandi. Menjahili Yoongi memang sangat mengasyikan menurutnya. Melihat wajah sahabatnya yang tampan menjadi berkerut berkali lipat sangatlah lucu. Apalagi pemuda itu sering mencebikan bibir bawahnya tanpa sadar. Benar-benar membuat gemas.

Tapi kemudian pikirannya kembali melayang pada kejadian barusan. Bukan sekali ini saja Yoongi kehilangan kendali. Yoongi dan ayahnya memang belum pernah bertemu langsung, tetapi pemuda itu tahu segala yang terjadi pada dirinya. Jimin memang tidak pernah memulai cerita duluan, tapi mengingat ayahnya selalu meninggalkan luka fisik serta intensitas waktu bertemu dirinya dengan Yoongi yang sering, membuat pemuda tampan itu menyadari kondisi Jimin tiap mereka bertemu.

Kehadirian Yoongi sudah lebih dari cukup untuk Jimin. Ia bahagia dengan Yoongi berada disisinya. Siapa sangka pertemuan yang bermula dari sekedar partner kerja justru membawa mereka ke ikatan persahabatan yang sebegini erat. Ia sayang Yoongi, dan dilihat dari cara Yoongi bersikap pun ia tahu Yoongi juga menyayanginya. Dibanding sekedar persahabatan, hubungan Jimin dan Yoongi mungkin sudah cenderung ke hubungan platonik. Perasaan sayang ini Jimin yakin lebih dari perasaan sayang seorang sahabat, namun juga bukan perasaan cinta kepada kekasih. Satu-satunya yang bisa menjelaskan jenis perasaan ini adalah cinta platonik.

"Sudah selesai?"

Jimin meletakan piring terakhir dan segera mencuci tangannya. Kemudian menoleh pada sumber suara. Terlihat Yoongi dengan rambut basah dan wajah yang lebih segar keluar dari pintu kamar mandi.

"Keringkan rambutmu segera, hyung. Nanti sakit kan aku yang repot." gerutu Jimin. Namun meskipun menggerutu, ia tetap merebut handuk dari tangan Yoongi dan membantu pemuda itu untuk mengeringkan rambutnya.

Yoongi duduk dengan tenang di lantai. Pantulan wajah serius Jimin dari laci kaca di depannya membuat pikiran Yoongi berkecamuk.

"Hyung, apa kau sudah sarapan? Kau ingin—"

"Jimin-ah." Yoongi mencekal pergelangan tangan Jimin dengan lembut, namun berhasil menghentikan pergerakan empunya.

"Ikutlah denganku."

"Hah?"

Yoongi membalikan tubuhnya menjadi menghadap Jimin. Menatap kedua mata bulat yang menggemaskan itu selembut mungkin. Mencoba untuk memberi pengertian melalui tatapannya.

"Aku akan audisi di Seoul, Jimin. Jika aku lolos maka aku akan tinggal di asrama sana untuk menjalani trainee entah sampai kapan. Daegu dan Seoul jauh, Jim."

Jimin terdiam. Ia sudah memikirkan hal ini dari awal ketika ia menunjukkan pamflet audisi Bighit pada Yoongi. Ini sudah menjadi konsekuensi yang akan ia terima jika Yoongi benar-benar lolos dari audisi. Jika boleh egois mungkin Jimin tidak akan pernah menunjukkan pamflet tersebut pada Yoongi jadi pemuda itu akan terus disini menemaninya. Tapi tidak. Jimin tidak boleh egois. Bagaimanapun ini adalah mimpi Yoongi, dan ia sebagai sahabatnya sudah patut mendukung pemuda itu.

Jimin menarik kedua sudut bibirnya, "Aku tidak bisa meninggalkan ayah, hyung." ucapnya halus.

"Kenapa kau masih memikirkan pria brengsek itu, Jimin?"

"Dia ayahku, tentu saja."

"Panggilan ayah bahkan tidak cocok tersemat untuknya." desis Yoongi tajam. "Jim, dengarkan aku."

Yoongi mengeratkan genggamannya pada tangan kecil Jimin.

"Aku tidak bisa membiarkanmu di Daegu bersama si keparat itu. Tidak Jimin, kumohon."

"Apa yang kau takutkan, hyung? Aku bisa menjaga diriku—"

"SEPERTI INI YANG KAU BILANG BISA?!" Yoongi mengangkat lengan Jimin yang diperban tepat di depan muka Jimin dengan wajah yang mengeras.

Jimin menatap Yoongi sendu, "Hyung, mengertilah."

"Kau yang harusnya mengerti, Jimin." Yoongi mengacak rambutnya fruatasi. "Kumohon?"

Yang lebih muda justru memeluk bahu Yoongi erat-erat. Erat sekali hingga mereka bisa saja kehabisan nafas, tetapi mereka tidak peduli. Pelukan itu adalah cara mereka mengungkapkan kekhawatiran mereka masing-masing.

"Aku juga takut, hyung. Bisa apa aku tanpamu? Tapi ayah tidak mungkin melepasku begitu saja. Bagaimana jika ayah tahu bahwa kau yang membuatku pergi dari rumah? Aku tidak mau ia melakukan yang tidak-tidak padamu. Jadi biarkan aku disini"

Jimin menghirup dalam aroma sabun yang menguar pada tubuh Yoongi. "Cukup hubungi aku sesekali maka aku berjanji aku akan baik-baik saja."

Yoongi menghela nafas berat. Ia melingkarkan lengannya pada pinggang Jimin yang ramping.

"Tolong jangan sampai sakit, Jimin."

Jimin tersenyum, "Jangan sampai sakit juga, hyung."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Jadi sudah sampai mana persiapanmu untuk audisi, hyung?"

Jimin meletakan satu mangkuk odeng pedas yang tadi dibelinya dihadapan Yoongi. Sementara pria itu sedang berkutat pada lembaran kertas digenggamannya.

"Hm aku baru mengarang lirik saja." jawabnya dengan mata yang tetap fokus pada kertas. Sesekali tangannya mengambil satu tusuk odeng dari mangkuk dan mengunyahnya.

"Wah masih awal sekali dong? Memang audisinya kapan sih?" tanya Jimin penasaran. Ia membuka mulutnya ketika Yoongi menyuapkan odeng untuknya. "Ashh pedaaaas." keluhnya lebay sambil mengipas lidah dengan telapak tangannya yang mungil.

"Tidak perlu terburu-buru dalam membuat lagu," Yoongi menyodorkan segelas air minum pada Jimin sambil terkekeh gemas, "Lagipula audisinya masih satu bulan dari sekarang."

Wajah Jimin memerah seluruhnya. Membuat Yoongi merasa bersalah bercampur bingung.

"Memang odengnya pedas sekali ya?"

"Aku kan tidak suka pedas hyuuung."

Satu gelas air kandas masuk kedalam perut Jimin yang lucu.

"Payah, dari dulu masih saja tidak suka pedas. Katanya manly—AWW Kenapa aku dicubit?!"

Sang pelaku hanya melotot lucu, "Kau menyebalkan, bodoh."

Mata Yoongi melebar hiperbolis, "K-kau mengataiku apa? Benar-benar ya anak ini eeeyyss." Tangannya terangkat untuk memukul kepala Jimin.

Sedangkan Jimin hanya memeletkan lidahnya mengejek Yoongi. Yang mau tidak mau Yoongi harus kembali mengalah karena, astaga, siapa juga yang bisa marah pada si bayi ini?

Jadi daripada membalas omongan Jimin, maka Yoongi kembali berkutat pada lembaran kertasnya. Jimin yang melihat itu hanya duduk manis karena ia tahu ini bukan waktunya yang tepat untuk bercanda. Sesekali ia melongokan kepalanya mengintip isi kertas itu. Sesekali juga menyenderkan kepalanya pada bahu Yoongi dengan manja. Atau yang lebih menggemaskan, Jimin akan mengusel hidung kecilnya pada lengan Yoongi.

"Hyung."

"Hm?"

Si kecil masih asyik mengusel.

"Apakah nanti, satu bulan dari sekarang, kita masih bisa makan odeng bersama?"

Pergerakan tangan Yoongi yang sedang menulis langsung terhenti. Ia menolehkan kepalanya dan mendapati Jimin sedang menatapnya dengan sorot yang tidak bisa ditebak.

Ia mengangkat tangannya untuk menyentuh pucuk kepala anak itu.

"Ayo makan odeng lebih sering bersama-sama, Jimin."

Dan Jimin tidak tahu, apakah itu artinya Yoongi mengiyakan pertanyaannya atau suatu isyarat bahwa tidak akan ada lagi 2 mangkuk odeng di meja setelah satu bulan dari sekarang.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Halo! Maaf lama update karena kuliah lagi sibuk-sibuknya huhuhu. Tapi dari awal aku udah komitmen untuk menamatkan ff ini, jadi insya Allah selalu aku usahain buat rajin update.

Btw aku mau nanya deh, mending disini cuma ceritain tentang yoonmin aja atau mau aku munculin orang buat ganggu mereka nih? sebenernya sih aku udah keep namjoon HAHA tapi terserah readers tercinta maunya kayak gimana.

Dan seperti biasa, aku ucupkan banyak-banyak terima kasih dengan penuh cinta untuk :

AmminaLyeneta. Kim Hyeni. Catastrophile101. Honeymon. Itsathenazi. Veluvxt. Linkz Accouunt. Nochuyuu. Guest. Summer Chii. Gasuga. arvita.kim. CiminsCake. Baby Jiminie. Hanstorm0429. Dika Efelix.

Balasan Review chap kemarin :

Gasuga : IYA AYO KUTUK AJA ITU BAPAKE EMANG BAJING— eh sabar-sabar :)

Ciminscake : Jimin jangan mati hiks TT

Kim HyeNi : WOW HALO KAK AO_HIKARU SALAM KENAAAAL. Kita saling follow di wp hehe. Iya iya gapapa kok wkwk seliiiw kamu bersedia baca aja aku udah seneng kok. Aku juga sayang kamu, sini ih kecup dulu. muah.

Hanstorm0420 : Sabar ya sabar, Yoongi emang begitu.

Honeymon : Sini aku sama jimjn kasih kekuatan *

Catastrophile101 : Terserah asal jangan galau ke aku ya hiks :(

Guest : Sudah aku lanjut yaaaa

Dika Efelix : Wah terima kasih pujiannyaaaaa. semoga menikmati sampe akhir cerita yaaa :)

OKAY SAMPAI BERTEMU DI CHAP SELANJUTNYA GENGS. MUAH MUAH.