Sebenarnya Yoongi tidak ingat sejak kapan ia dan Namjoon bisa sedekat ini. Rasa-rasanya baru kemarin ia berkenalan dengan Namjoon dan mengatai bocah itu bocah ryan, tapi bahkan mereka sekarang ada di kamar milik Namjoon dengan badan yang tengkurap di lantai.
Oh omong-omong soal dirinya yang memanggil Namjoon dengan sebutan 'bocah ryan' ternyata sangat tepat, lihat saja kamarnya yang penuh dengan karakter tersebut, jangan lupa hampir setengah kasur Namjoon habis hanya untuk lapak si boneka ryan. Gila memang.
Sebenarnya tidak masalah jika si empu kamar itu seorang gadis SMA, atau setidaknya kalaupun laki-laki ya yang mukanya imut seperti di anime-anime. Tapi, hell man, ini Namjoon lho. Yang badannya besar seperti kingkong, yang rahangnya tajam, yang suaranya berat seberat beban hidup Yoongi. Mana cocok!
Tapi ya siapa yang tahu kan, Namjoon yang terlihat manly ini ternyata hatinya sepolos anak sekolah dasar.
"Hyung, err tidakkah kau terlalu banyak menggunakan kata kasar dilirikmu?" Namjoon mematai kertas dihadapan Yoongi dengan sedikit meringis.
Mereka memang sedang membuat lagu bersama-sama sebagai bekal audisi. Mendiskusikan banyak hal dengan teman yang satu selera denganmu itu memang sangat membantu. Namjoon bahkan baru tahu kalau Yoongi menyukai hip-hop dan akan menampilkan rapnya ketika audisi, ia pikir Yoongi adalah tipe orang yang suka bernyanyi lagu ballad jika dilihat dari bagaimana lembutnya jemari lentik itu menari diatas tuts piano.
Yoongi sontak membaca ulang lirik yang telah ditulisnya. Iya sih.
"Tapi kan ini rap, Namjoon. Jadi wajar saja, lagipula aku ingin menulis laguku dengan jujur."
"Jujur?"
Yoongi mengangguk dengan wajah senga, "Hidupku. Aku akan menceritakan hidupku melalui lagu." Ia berdecih, "Membuat lagu itu sederhana, kau tahu? Sesederhana bagaimana kau selalu memaki ketika kesal, tersenyum ketika senang, dan menangis ketika sedih. Jangan tulis apa yang belum pernah kau tahu rasanya, Namjoon. Anggap saja ini diary, tapi lebih tertata."
Namjoon mengangguk paham. Ada binar kekaguman dalam matanya yang kecil.
"Jadi?"
Kening Namjoon yang tertutup poni abunya mengernyit, "Jadi?" ulangnya seperti burung beo.
Sedangkan Yoongi menunjuk kertas lecak dihadapan Namjoon dengan matanya yang tajam, "Jadi apa yang kau tulis disana?"
Namjoon menunduk sebentar melihat tulisannya. Wajahnya memerah. Hal ini membuat Yoongi mengangkat sebelah alisnya heran.
Ketika tangan pucat itu merampas kertas dari hadapan Namjoon, wajah pemuda bersurai abu semakin memerah.
Apalagi ketika melihat wajah syok Yoongi begitu ia membaca tulisannya.
"What the fuck— Namjoon, kau—"
Namjoon menutup mulutnya dengan telapaknya yang besar. Gestur khasnya ketika malu.
"Apa kau bahkan tahu apa yang kau tulis disini?!"
Si pemuda abu mengangguk. Membuat Yoongi kembali dibuat syok.
"Baru saja aku bilang bahwa membuat lagu harus sesuai dengan apa yang pernah kita rasakan, kan? Lalu kenap— Astaga jangan bilang." Yoongi melotot tak percaya kearah Namjoon. Bahkan ketika pemuda itu menjawab dengan wajah yang polos mampu membuat kepalanya pening luar biasa.
"Bukankah wajar bagi remaja seumuran kita tahu rasanya sex, hyung?"
Masih bisa kan kalau Yoongi menarik perkataannya tadi yang bilang hati Namjoon sepolos anak sekolah dasar?
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Monday Kid
.
.
.
.
.
.
Happy Reading, bae.
.
.
.
.
.
.
Namjoon ternyata sangat kaya. Yoongi baru tahu fakta itu ketika Namjoon membawanya ke studio pribadinya. Studionya masih berada di dalam rumahnya sendiri, dalam artian Namjoon sengaja membagi lahan rumahnya menjadi 2 untuk 2 fungsi, yang satu digunakan untuk fungsinya sebagai rumah, dan satu lagi digunakan untuk membangun studionya.
Jika dilihat dari luar memang rumah Namjoon terlihat biasa saja. Dengan cat berwarna abu-abu dan putih dan furniture yang biasa mampu menjadikan rumah ini minimalis. Tapi ternyata rumah Namjoon memanjang ke belakang. Itulah mengapa jika tampak depan rumah ini terlihat kecil. Tetapi begitu kau masuk ke dalam ternyata lorongnya sangat panjang. Ada sekat berupa lemari rak besar yang memisahkan antara rumah Namjoon dan studionya. Dan ketika pertama kali masuk, Yoongi tidak sadar sama sekali.
Ketika pemuda itu bilang akan membawa Yoongi ke studionya ditengah-tengah kegiatan mereka di kamar Namjoon, sontak saja Yoongi langsung memakai jaketnya kembali karna ia kira mereka akan pergi keluar. Ternyata pemuda itu justru tertawa melihat tingkah Yoongi. Masih dengan tawa yang tersisa ia menggandeng Yoongi yang masih kebingungan menuju lorong yang mengarah ke studio. Ada sela kecil diantara rak raksasa yang menjadi pembatas, lalu ketika kau berjalan melaluinya maka akan ada tembok kedap suara dan satu pintu yang bertulis 'Mon Studio'.
Dan Yoongi kembali dibuat terperangah ketika mereka memasuki studio Namjoon. Ada meja besar dengan 3 monitor disana serta alat-alat lengkap untuk membuat lagu. Ada juga berbagai alat musik disudut kanan, Namjoon bilang sewaktu SMA ia memiliki band dan mereka sering berlatih disini. Ada juga ruang rekaman dengan kaca besar yang menghadap ke meja utama. Jangan lupa sofa empuk, tv dan kulkas yang juga tertata dengan apik.
"Kau pasti sudah sangat ahli dalam hal ini." kata Yoongi sambil memperhatikan setiap alat yang ada disana.
Namjoon mengusap tengkuknya canggung, "Aku memang suka membuat lagu untuk bandku ketika SMA."
Yoongi menghentikan kegiatannya dan menyilangkan tangannya di dada, menatap sangsi kearah Namjoon. "Lalu mengapa kau memintaku untuk mengajarimu membuat lagu jika kau sendiri sudah terbiasa dalam hal ini? Bahkan kau memiliki fasilitas yang lengkap."
"Aku mungkin memang bisa membuat nada, tapi kupikir aku masih lemah dalam merangkai lirik."
Namjoon mendekati Yoongi yang kembali asyik memerhatikan alat di meja besar.
"Jadi?"
Kali ini Yoongi yang melirik penuh tanda tanya. Membuat Namjoon melebarkan seringainya.
"Siap membuat lagu yang luar biasa?"
Pemuda pucat terkekeh sinis. Matanya seolah mengobarkan api penuh antusias dan dagu yang diangkat sombong.
"Siap-siap rahangmu patah karna terlalu lama menganga ketika mendengar laguku, Namjoon."
Namjoon bersiul, "Menarik."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jimin menggigit kuku jarinya yang mungil dengan perasaan cemas. Yoongi tidak mengangkat telepon atau membalas pesannya satu pun. Pemuda itu menghilang seharian tanpa kabar. Dan Jimin pun tidak sempat melihat ke rumah atau tempat kerja Yoongi mengingat ia hari ini sangat sibuk di tempat kerja.
Jimin khawatir. Tidak biasanya Yoongi menghilang tanpa kabar seperti ini. Pemuda itu selalu menghubungi Jimin setidaknya sekali dalam sehari, begitupun sebaliknya. Ataupun ketika Yoongi tidak bisa menelepon atau mengirim pesan ke Jimin karena sibuk, pasti ia setidaknya masih bisa mengangkat telepon dari Jimin. Tapi hari ini tidak sama sekali. Jelas saja, Jimin khawatir.
Takutnya Yoongi sakit. Yoongi memiliki kebiasaan akan mendekam di kamar seharian penuh jika sakit. Ia tidak beranjak dari kasur bahkan untuk makan sekalipun. Pemuda itu memang jarang sakit, tetapi sekalinya sakit tubuhnya akan drop luar biasa. Bahkan untuk membuka mata pun sepertinya sulit.
"Apa aku datangi rumahnya saja ya?" Pikir Jimin penuh dilema. Tapi ini sudah malam dan sebentar lagi ayahnya akan pulang, dan Jimin tidak yakin akan lolos dari amukan ayahnya jika ia nekat keluar rumah sekarang. Sumpah, Jimin dilema setengah mati.
"Ah Seokjin Hyung!" Jimin menepuk telapak tangannya ketika nama itu terlintas. Seokjin merupakan rekan kerja Yoongi di kafe, dan ia mendapat nomor Seokjin ketika pemuda itu menghubunginya dengan panik untuk memberitahunya bahwa Yoongi pingsan ditempat kerja kala itu.
Jimin kembali menggigit kukunya dengan cemas sambil menunggu nada hubung dari teleponnya. Dan refleks mendesis lega ketika mendengar suara halus pria cantik itu dari seberang sana.
"Halo?"
"Hyung, Ini Jimin."
"Iya Jim aku tahu, ada apa malam-malam begini meneleponku?"
"Ah apa aku mengganggumu, hyung?"
"Tidak, tentu saja tidak. Aigoo mana mungkin aku terganggu dengan bayiku ini."
Jimin terkekeh kecil. Seokjin memang selalu memanggilnya bayi, entah apa alasannya.
"Baiklah hyung, aku hanya ingin bertanya, apa Yoongi hyung masih di tempat kerja?"
"Yoongi? Ah tidak tuh, dia hari ini hanya sampai jam 5 sore saja."
"Ah begitu ya, berarti dia sudah pulang ke rumah ya."
"Ya sepertinya begitu, memang kenapa Jim?"
"Tidak apa-apa, hyung. Hanya saja aku khawatir karena Yoongi hyung tidak menghubungiku sama sekali hari ini. Tapi aku lega kalau dia sudah pulang, mungkin Yoongi hyung sangat lelah dan langsung tertidur."
"Aish dasar batu pucat itu, tenang saja Jim, aku akan mengomelinya besok karena sudah membuat bayiku khawatir seperti ini."
Jimin tertawa lebar. Seokjin memang memiliki kepribadian yang unik.
"Tidak hyung, tidak apa. Jangan diomeli, nanti justru hyung diomeli balik." Tawa Jimin semakin keras membayangkan bagimana Seokjin justru yang mengkerut ketakutan karena disembur oleh Yoongi. Jahat memang.
"Ah, benar juga. Yoongi kan titisan iblis."
Si kecil menghapus air mata disudut matanya karena tertawa terlalu keras.
"Yasudah Hyung, aku matikan teleponnya ya? Terimakasih banyak hyung, maaf juga aku mengganggu."
"Tentu saja, sayang. Oh ya Jim, aku lupa."
Seruan Seokjin membuat Jimin mengurungkan niatnya untuk menekan tombol merah. Ia kembali mendekatkan ponselnya ke telinga.
"Tadi ada yang menjemput Yoongi ketika ia pulang kerja. Seorang pemuda tampan, namanya Kim Namjoon kalau aku tidak keliru."
Jimin terdiam. Yoongi tidak pernah bercerita apapun padanya kalau ia memiliki teman baru. Kim Namjoon? Siapa?
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
KAMBEK 18 MEI GAES HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA. UDAH MALAH SI BIGHIT SEENAK UDEL BILANG JUDUL ALBUMNYA LY TEARS DUH KAMPRET GUE KIRA BAKAL LY WONDER IH SI BIGHIT MAH KAMPRET PISAN DAH. UDAH MALAH KATANYA BAKAL DARK GITU KONSEPNYA. BUNUH GUE AJA PLIS
Btw haloooo udah lama ya kita ga ketemu huhuhu. maaf banget updatenya telat karena tugas kuliah lagi super duper numpuk. DAN AKU TERHARU DAPET RESPON POSITIF DARI KALIAN HUHUHU. Btw itu namjoon sudah ku perbanyak partnya HAHAHA. Tenang, aku ga bakal bikin dia jadi orang jahat disini. Eh tapi ga tau deng hehe. Siapa tau berubah pikiran kan hehe/ups.
Daaan ga bakal bosen aku ucapin terimakasih dengan penuh cinta untuk :
AmminaLyeneta. Kim Hyeni. Catastrophile101. Honeymon. Itsathenazi. Veluvxt. Linkz Accouunt. Nochuyuu. Guest. Summer Chii. Gasuga. arvita.kim. CiminsCake. Baby Jiminie. Hanstorm0429. Dika Efelix.
Balasan review chapter kemarin :
Kim HyeNi : Aku juga ga mau bikin Yoongi jadi uke, masa nanti uke sama uke :( yang nusuk siapa? /eh
ChiminsCake : Jangan mati TT duh masa sih ff ku bikin nangis, padahal aku sendiri kurang dapet feel gitu huhuhu eh tapi kadang ga tega sih aku bikin Jimin menderita disini :(
Honeymon : KAMU TUH YA DASAR SWEETTALKER HUHUHU BISA BANGET MUJINYA BIKIN AKU ANGET/? Makasih sayang, luv luv.
Nochuyuu : Aaaaaahhhh makasih udah suka ff ini TT aku emang awalnya mau bikin ini jadi friendship aja tapi kok jadi goyah gini sih :(
Itsathenazi : AKU JUGA GA TEGA SEBENERNYA GINIIN MOCHIKUUUH HUHUHU Tapi gimana ya seneng juga liat dia menderita/dikroyok massa. Jadi boleh ga sih kalo aku siksa dia lebih lagi :(
