Yoongi baru pulang dari rumah Namjoon sekitar pukul 12 malam. Tadinya Namjoon menyuruhnya menginap saja, tapi tentu Yoongi menolak, ia harus bekerja esok dan ia tidak membawa baju ganti. Tidak mungkin juga ia meminjam baju Namjoon yang sebesar titan itu, bisa-bisa ia dikira pangsit rebus lagi oleh temannya yang bermulut layaknya bibi berisik sebelah flatnya.
Tadinya Namjoon pun menawarkan diri untuk mengantarnya pulang dengan mobil mewah yang ia miliki. Jelas ditolak plus jitakan penuh energi dikepala teman barunya itu. Ia bukan anak gadis, astaga. Namjoon bilang ia terlihat seperti gadis dengan perawakan kecil, kulit putih bersih, dan wajah kecil. Tapi tolong, ia tetap seorang pria matang dan tidak selemah itu untuk pulang sendiri.
"Aku tidak percaya hyung itu pria, coba tunjukan."
Dan begitu melihat mata Namjoon berkeliaran disekitaran selangkangannya, ia tidak ragu untuk menonjok perut temannya itu hingga ia mengaduh. Bangsat memang.
Lucunya, kalau dipikir-pikir lagi, ia tidak tahu kenapa ia bisa sedekat itu dengan Namjoon. Ini baru beberapa hari sejak pertemuan pertama mereka, tapi mereka sudah menghabiskan hampir 1 jam untuk bertelpon, berkunjung ke rumah masing-masing sampai larut malam, makan bersama, dan kegiatan lain yang mustahil bagi seorang Min Yoongi lakukan dengan orang asing. Biasanya Yoongi tidak mudah dekat dengan orang yang baru dikenalnya seperti ini. Bahkan butuh beberapa lama untuk Jimin bisa masuk menjadi satu-satunya orang terpenting dalan hidup Yoongi.
Omong-omong soal Jimin, tolong katakan pada Yoongi bahwa sosok mungil yang meringkuk kedinginan di teras rumahnya bukanlah Park Jimin.
Mata Yoongi menyipit untuk memfokuskan pandangannya. Namun seketika melebar begitu yakin bahwa sosok itu benar Park Jimin.
Bangsat.
Sialan!
Dengan sekuat tenaga ia berlari menuju teras rumahnya, menghampiri sosok yang meringkuk menyedihkan di lantai sambil memeluk dirinya sendiri.
"Jimin? Jimin! Hei!"
Tangannya menggapai tubuh Jimin dan menyandarkan tubuh bergetar itu pada tubuh kokohnya. Sialan, ia bisa merasakan betapa dingin kulit Jimin. Sudah berapa lama bocah itu disini?
"Jimin, ini Yoongi hyung, hei!"
Ia menepuk sekilas pipi itu agar mengembalikan kesadaran pemiliknya. Berhasil. Mata bulatnya terbuka sayu, terlihat begitu kepayahan dengan bibir yang bergetar hebat.
"H-hyung."
"Iya sayang, ini Yoongi hyung." Tangannya semakin merapatkan tubuh itu pada tubuhnya. Merangkul erat agar angin malam yang dingin tidak bisa menerpa tubuh dalam dekapannya.
"Dingin sekali, hyung." Jimin meracau dengan kepala yang semakin menyusup pada dada Yoongi yang hangat.
"Sshhh, hei bertahan, okay? Tunggu sebentar."
Dengan cekatan ia mencari kunci dalam tasnya dan membuka pintu reot itu. Tangannya bergetar luar biasa karena perasaan khawatir dan bersalah yang meletup-letup.
Setelah pintu terbuka, ia menggendong Jimin masuk ke dalam rumah, kemudian meletakannya hati-hati diatas ranjang. Ia mencari selimut tebal dengan panik, tidak lupa baju yang lebih hangat untuk mengganti pakaian Jimin yang tipis itu. Ia sedikit merutuk keadaannya yang miskin membuat ia tidak mampu memiliki penghangat ruangan.
Yoongi dengan telaten membuka baju Jimin satu persatu. Sedikit meringis dan merasa dadanya sesak ketika melihat begitu banyak luka di tubuhnya. Ada garis melintang yang banyak di area punggung, yang ia yakini sebagai bekas cambukan. Ada juga lebam-lebam di dada dan perut seperti bekas tinjuan. Terkutuklah iblis keparat yang tidak lain adalah ayah bocah ini sendiri.
Dan yang membuat Yoongi semakin marah adalah dirinya sendiri karena menambah sakit Jimin dengan bertindak brengsek seperti ini. Jimin pasti menunggunya sepanjang malam karena ia ingat ia tidak mengabari Jimin sama sekali hari ini. Pemuda di depannya itu jelas merasa khawatir pada Yoongi dan berakhir kepayahan.
"Maaf, maaf Jimin, maaf." suaranya lirih penuh sesal sambil tangannya yang terus bekerja. Ia pernah berjanji pada dirinya sendiri tidak akan menyakiti Jimin, akan selalu melindungi pemuda itu dan menjadi pelabuhan ketika Jimin merasa lelah. Tapi melihat Jimin seperti ini, membuat ia memaki dirinya karena merasa ingkar.
"Hyung?"
Yoongi mendongak, menatap mata sayu pemudanya. Ia beringsut mendekat untuk mendengar jelas suara Jimin yang halus. Jemarinya mengusap dahi panas Jimin. Sial, Jimin demam.
"Kenapa humm? Dingin? Butuh sesuatu? Atau ada yang sakit?"
Jimin menggeleng.
Lengannya terangkat pelan, mencengkram kaos Yoongi bagian depan. Ia terisak pelan.
"Peluk, hyung, peluk aku." isaknya.
Yoongi mencelos melihat Jimin yang mulai terisak. Ia menaikkan dirinya ke ranjang, membaringkan tubuhnya disamping Jimin, lengan kirinya menyusup dibawah kepala Jimin dan menarik kepala itu mendekati dadanya. Sedangkan tangan kanannya memeluk erat pinggang Jimin yang kurus. Ia membubuhkan beberapa kecupan menenangkan dipelipis Jimin. Baju bagian depannya basah, dan tubuh dalam dekapannya terus bergetar. Tapi Yoongi terus mendekapnya erat tanpa sepatah kata pun yang keluar. Membiarkan Jimin mengeluarkan emosinya. Serta mengabaikan hatinya yang bergemuruh kebingungan. Kenapa pemudanya menangis?
Sedangkan Jimin mencengkram erat baju Yoongi bagian punggung. Tidak menahan lagi air matanya yang terus keluar. Melepas lega karena Yoongi hyungnya ada disini, memeluknya, dan mematahkan prasangka bahwa Yoongi hyungnya pergi dari sisinya. Setidaknya untuk saat ini.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Monday Kid
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Tubuhnya tersungkur untuk kesekian kalinya. Kepayahan melawan 3 orang dengan tubuh bak kingkong sendirian. Kerahnya kembali dicengkram hingga ia merasa tercekik.
"Orang miskin sepertimu memang menjijikan, sudah tau tidak punya uang tapi bisa-bisanya memakai jalang-jalangku dan pergi begitu saja tanpa membayar. Cih!"
BUGH
Satu tinjuan kembali mengenai rahang pria tua itu.
"Hei pak tua, daripada menunggu malaikat maut mencabut nyawamu, bagaimana jika aku yang melakukannya agar kau bisa cepat-cepat mati? Kau muak kan menjadi orang miskin?" Pria dengan tato melintang sepanjang lengan kirinya tertawa terbahak seolah perkataannya lucu.
"Jangan, tolong beri aku kesempatan, aku akan bayar."
Ketiga pria berbadan besar itu kembali tertawa.
"Membayar? Dengan apa? Bahkan jika kau menjual organ tubuhmu pun tidak bisa membayar semua hutangmu, bangsat."
BUGH
Kepalanya terbanting membentur dinding. Darah segar mengalir membasahi tubuhnya. Ia sekarat tapi ia tidak ingin mati sekarang.
"Aku akan bayar, aku janji."
"Persetan."
Satu kepalan tangan hampir mendarat ke wajah pria itu, sebelum si pria akhirnya membuka mulut kembali.
"Aku memiliki anak."
Kepalannya menggantung begitu saja lalu turun perlahan. Menunggu ucapan selanjutnya pria itu.
Si pria yang telah babak belur itu mengetahui ia memiliki kesempatan, ia menyeringai pelan. Meludahkan darah dimulutnya ke jalan sebelum melanjutkan perkataannya.
"Kudengar dari bartendermu kalau clubmu sedang mencari perjaka yang bisa memuaskan pengunjung-pengunjungmu yang gay, benar?"
Si pria berdiri dengan kepayahan. Namun begitu bibirnya terus mengulas seringai lebar.
"Aku memiliki anak laki-laki, bawa dan gunakan dia, tapi dengan begitu seluruh hutangku lunas, deal?"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Mendapati ranjang sebelahnya kosong ketika bangun, jelas Yoongi panik. Dengan keadaan masih setengah sadar, Yoongi berjalan terburu-buru keluar dari kamar, bahkan ia sempat terantuk meja nakas.
Tapi ia kemudian mendesah lega begitu mendapati orang yang dicarinya sedang memasak makanan di dapur.
"Jimin."
Pemuda mungil itu menengok ke sumber suara. Lalu mengulas senyum manis dengan bibirnya yang masih sedikit pucat.
"Selamat pagi, Yoongi hyung."
Yoongi menghampiri Jimin lalu meletakkan punggung tangannya pada dahi, pipi, lalu lehernya.
"Kau masih demam, kenapa sudah memasak begini sih?" dengusnya sebal karena tingkah sok kuat Jimin.
"Sudah kuat kok, tidak selemas kemarin malam. Terimakasih pada pelukan hangatnya, itu efektif lho." matanya mengerling jahil dengan seringai menggoda. Sialan bocah ini.
"Terserah kau lah."
Yoongi menuang air putih ke dalam gelas lalu meminumnya rakus. Matanya melirik punggung sempit Jimin yang membelakanginya.
"Jimin?"
Jimin menoleh sebentar, lalu kembali berkutat dengan masakannya, "Ya?"
"Maaf."
Hanya dentingan antara sudip dan penggorengan yang terdengar untuk beberapa saat.
"Untuk?"
Yoongi menenggelamkan kepalanya pada meja makan. Menekan dadanya kuat-kuat karena merasa sesak dengan perasaan bersalah.
"Untuk tidak mengabarimu apapun seharian, untuk membuatmu khawatir dan nekat menunggu di teras rumahku, dan untuk membuatmu sakit."
Tidak terdengar balasan. Tapi ia bisa mendengar suara kompor yang dimatikan dan langkah kaki Jimin yang mendekat. Ia bisa merasakan sebuah piring dengan harus masakan yang begitu lezat diletakkan diatas meja. Serta sebuah usapan lembut dikepala bagian belakangnya.
Yoongi mengangkat kepalanya hanya untuk menemukan Jimin dengan senyumnya yang manis. Sahabatnya manis. Manis sekali. Membuat ia ketagihan untuk melihat senyum itu terus menerus.
"Aku sudah memaafkannya. Dibanding itu, bisa hyung jelaskan kemana hyung seharian tanpa kabar? Dan—"
Yoongi menunggu, "Dan?"
"—mengenalkan padaku teman barumu itu?"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Holaaaa ada yang kangen? :v Maaf sempat terbengkalai karna aku juga sibuk di kampus huhuhu. Kangen ih udah lama ga publish cerita.
BTW BTS MAU KAMBEK LY ANSWER GAES HAHAHAHAHA BODO AMAT DUIT GUE BODO
Seperti biasa, tanpa mengurangi cinta, aku ucapin banyak-banyak terimakasih untuk :
AmminaLyeneta. Kim Hyeni. Catastrophile101. Honeymon. Itsathenazi. Veluvxt. Linkz Accouunt. Nochuyuu. Guest. Summer Chii. Gasuga. arvita.kim. CiminsCake. Baby Jiminie. Hanstorm0429. Dika Efelix. Keei luen.
Balasan review untum chapter sebelumnya :
Honeymon : awww jadi malu dipuji gini hihi/slap. Thank u so mucccchhh. Namjin? Hehehehe. I hope it'll end with happiest ending too :"( makasih untuk semangatnyaaa *tebar cintanya yungi*
Catastrophile101 : Namjoon bukan orang ketiga kok qaqa, kan dia mah sama aku/dibacoq. YAP BETUL SAMPAI KETEMU DI WP YAAAHH
Itsathenazi : its time to hajimaaaaa. Jangan nangis, si mochi kan maso jadi dia mah senang-senang aja disiksa/eh. TOLONG YA JANGAN INGETIN AKU SAMA DADDY NAMJUN DI MIXTAPE. ITS TIME TO HAJIMAAA
Kim Hyeni : Disaat yang lain pengen jangan buat jimin makin menderita, kamu malah pengen jimin mati. Siap :) JANGAN KAGET FFN EMANG BIKIN EMOSI
Arvita kim : Ih sama banget deh kita. Aku juga suka kalo ukenya menderita HAHA. jangan-jangan kita jo...mblo
Baby Jiminnie : kenawhy semua orang ngira jimin bakal mati? Kan aku jadi tergoda buat bikin endingnya begitu hmm
Keei.luen : Tau nih yoongi ga ngabarin jimin ampe baby chim khawatir, dasar kamu bang toyib! Jyjyic aku mas jyjyc!/slap
SAMPAI JUMPA CHAP BERIKUTNYA SAYANG-SAYANGKUUUU
