'You are Mine'

•Markhyuck -main pair

•MarkRen •NoMin - slight pair

typo(s)

Drama, hurt-comfort, boyslove, bxb, yaoi!!!

DLDR!

-

note: italic - flashback

.

Angin semakin berhembus kencang, sungai Han yang beberapa waktu tadi ramai sekarang mulai sepi. Orang-orang memilih mengurung diri di tempat tidur dengan selimut tebal menggulung tubuh mereka. Tapi tidak dengan sepasang lelaki yang sedari tadi berdiri di pinggir sungai.

Mark ingin mengutarakannya, mengatakan sebenarnya yang dia rasakan, sehingga keluarlah kalimat yang membuat lelaki manis di depannya menangis.

"-Mark, kekasih Haechan"

Air mata mengalir dengan derasnya dipipi Haechan. Lelaki manis tadi menangis tanpa suara, hanya air mata yang terus keluar dari kelopak indahnya yang membasahi pipi bulat itu.

Jantungnya terasa seperti diremat oleh sesuatu yang tak terlihat mata, rasanya ada perih, sakit, sesak, namun juga ada setitik bahagia yang dirasakannya dalam waktu bersamaan.

"Aku kekasihmu Haechan, dari dulu dan sampai saat ini. Percayalah padaku"

Mark menarik tubuh Haechan, membawanya pada dekapan terhangat yang pernah ia miliki. Memeluk erat tak ingin lepas. Mengusap perlahan punggung yang bergetar itu dengan kasih, mengecup puncak kepala Haechan dengan perasaan menggebu.

"Mark..." Haechan mendongak dengan mata penuh air mata.

Mark berdehem dan mengusap pelan air mata yang membasahi pipi Haechan.

"Kau tidak bisa berkata seperti itu. Kita sudah mengakhiri hubungan ini 6 tahun yang lalu" Haechan kembali meneteskan air mata.

"Tidak, tidak Haechan. Kau salah. Kau yang memutuskannya bukan aku. Aku tidak pernah memutuskan hubungan ini"

Haechan ingat betul kejadian 6 tahun lalu, dimana dia yang harus pergi dari Seoul meninggalkan -kekasihnya- Mark.

000

Malam itu, tepat seminggu Mark berusia 21 tahun, dengan senyum cerah dia memasuki cafe yang dijanjikannya bersama Haechan, Haechan bilang ada hal yang ingin dia sampaikan kepada Mark, dan Mark yang tidak berpikir apapun hanya mengiyakan ajakan Haechan tanpa tahu apa yang setelahnya akan terjadi.

Mark mendongak saat namanya dipanggil seseorang dan seketika senyumnya mengembang saat Haechan sudah tiba dan ada di hadapannya.

"Mark~"

"Ya?" Mark menatap Haechan dengan satu tangan sebagai tumpuan kepalanya. Menatap Haechan tanpa berkedip dan tak lupa senyum tercetak jelas dibibirnya.

"Berhenti menatapku seperti itu" Haechan mengerucutkan bibirnya, tidak suka ditatapi Mark seperti itu. Dia malu okay.

"Memangnya kenapa? Aku ini kekasihmu, sudah menjadi hakku menatapimu sesukaku."

"Eyy mana bisa begitu?" Haechan menggembungkan pipinya, sedikit tidak terima dengan perkataan Mark. Seenaknya saja -Haechan

"Bisa, karena aku kekasihmu"

"Yak! Sakit tahu!" Haechan memukul lengan Mark karena menarik hidungnya dengan kuat.

"Kalau begitu hakku juga untuk tidak mau ditatapi seperti itu olehmu" Haechan memalingkan wajahnya ke samping, merajuk.

"Tidak bisa. Kau tidak boleh menolak apa yang aku lakukan kepadamu."

"Hey mana boleh seperti itu! Kau curang Mark" Haechan menyilangkan kedua tangannya didada dengan raut wajah sebal. Sebal dengan tingkah Mark tentunya.

Mark hanya tertawa kecil dan setelahnya menganggukkan kepala berkali-kali mengikuti alunan musik jazz yang diputar di cafe itu. Suasana hatinya benar-benar okay saat itu.

Haechan yang sedari tadi memerhatikan Mark dalam diam dengan perlahan menyeruput vanilla latte miliknya dan merubah raut wajahnya yang semula santai menjadi serius. Dia menarik nafas dan mengeluarkannya perlahan, mengontrol detak jantungnya yang sangat tidak beraturan.

"Mark?" Haechan memanggil kekasihnya itu perlahan.

"Ya?"

"Ada yang ingin kukatakan padamu-"

"Katakan saja, aku akan mendengar" Mark berkata dengan mata yang terus menatap Haechan dan jangan lupakan senyum yang mengembang itu.

"-Aku ingin mengakhiri hubungan ini"

Deg

Bagai petir di siang hari yang terik. Mark membeku, lidahnya kelu, tangannya bahkan terasa kaku. Sedetik kemudian hatinya benar-benar seperti dibom atom dan dihancurkan sehancur-hancurnya. Porak poranda oleh badai Katrina.

Senyumnya luntur seketika, dia tidak mengerti. Dia berharap yang diucapkan Haechan semacam kalimat cinta dan bukan kalimat sampah seperti itu.

"Kenapa?" Mark bertanya, meminta penjelasan.

"Kakek meminta Ayah untuk memegang perusahaannya yang ada di Amerika. Jadi, aku dan ibuku harus ikut pergi." Haechan menangis, menangkup wajahnya dengan kedua tangan dan menunduk.

"Lalu? Hanya seperti itu bukan? Kita bisa berhubungan jarak jauh? Tidak perlu mengakhirinya" Mata Mark berkaca-kaca, sekali berkedip saja dia yakin air matanya akan turun.

"Tidak Mark, kau tidak mengerti. Aku tidak bisa jauh darimu, dan jika status kita masih bersama aku tidak yakin apakah aku mampu. Karena itu sama saja menyiksaku. Jadi aku berpikir untuk mengakhirinya saja. Kau bisa mencari penggantiku, dan hidup bahagia

Inilah Haechan, dengan pemikiran realistisnya yang rasional. Berpikir untuk mengakhiri hubungannya dengan Mark adalah keputusan tepat. Dia tidak berbohong bahwa hubungan jarak jauh itu akan menimbulkan luka, perasaan was-was teramat, juga penuh ketidak percayaan, itu semua berpeluang terjadinya kerusakan dalam hubungan. Faktor kebersamaan yang selalu terjalin, adanya contact fisik, dan hal lainnya menjadi alasan kenapa hubungan jarak jauh itu sulit. Jadi daripada keduanya terlalu dalam makan hati, baik Haechan ataupun Mark sendiri, mengakhiri hubungan adalah hal yang tepat -itu menurut Haechan. Kalian pikir hubungan jarak jauh itu mudah? Itu sangat sulit bruhh sangaaaaat sulit ughh.

"Tunggu dulu. Kau berkata seperti ini apa karena kau dijodohkan oleh orang tuamu atau kau memang sudah tidak mencintaiku?" Mark berkata dengan perasaan menahan amarahnya. Ingin dia berteriak kearah Haechan, tapi dia tidak bisa.

Haechan menggeleng dengan uraian air mata. Tangannya bergetar menutup bibirnya. Benar-benar membingungkan.

"Tidak. Kau salah. Aku tidak dijodohkan, serius. Itulah alasanku dan aku mencintaimu Mark. Sungguh, percayalah padaku"

"Kau yakin?" Ada kesan mengejek yang Mark ucapkan -mengejek diri sendiri lebih tepatnya.

"Iya aku yakin"

"Kalau begitu kita tidak perlu mengakhirinya bukan? Bagaimana jika kita jalani ini saja. Kita tak perlu mengakhiri. Aku tau kau akan kembali, Haechan-ah

"Tapi Mark..."

"Tidak! Terserah apa katamu aku tidak akan mengakhiri hubungan ini. Aku masih mencintaimu Haechan, sangat mencintaimu. Tolong mengertilah." Setetes liquid bening mengalir dipipi Mark. Persetan dengan imagecool miliknya, dia tidak peduli. Haechan hidupnya, Haechan segalanya.

"Maafkan aku Mark, aku sungguh minta maaf-" Haechan menangis sesenggukan.

"-Maaf sudah membuatmu kecewa"

"Tidak. Kau tidak salah-" Mark mengangkat kepalanya dan menatap manik Haechan.

"-Kapan kau akan pergi?" Mark bertanya dengan air mata yang sudah dihapus, raut wajahnya berubah datar, sorot matanya juga terlihat dingin, dan Haechan tahu itu bukan hal yang baik.

"B-besok. Besok pagi aku harus pergi" Haechan berkata dengan menundukkan kepala dan memainkan jarinya diatas meja.

"Kalau begitu kau boleh pergi. Tapi jangan harap aku mau mengakhiri hubungan ini!" Mark berkata dengan tegas, dan detik berikutnya Mark meninggalkan Haechan yang menangis sendirian di cafe ditemani suasana malam yang sunyi.

[From. Haechaniee]

Tuesday, 2012 August 10th

09.00 a.m kst

'Aku pergi dulu, carilah penggantiku bila kau mau dan jangan menungguku. Jaga dirimu baik-baik Mark. I love you, I'm sorry

Ur. (ex) Lover - Lee Haechan

000

"Aku tahu kau masih mencintaiku, perasaan ini nyata. Aku merasakannya. Detakan yang sama seperti 6 tahun yang lalu saat aku memelukmu" Mark berkata dengan pandangan yang tak lepas dari manik hitam Haechan.

"Senyum yang sama saat terakhir kali kita bertemu sebelum keadaan memisahkan kita."

"Sorot mata yang sama saat kau menatapku, masih sama Haechan. Masih sama seperti 6 tahun yang lalu. Dan kau tidak bisa membohongi itu"

Tes

Tes

Kembali. Air mata Haechan kembali mengalir dengan tidak sopannya. Membasahi pipinya dengan banyak air mata yang tak hentinya keluar. Dia benci menangis di depan Mark, karena dia tahu Mark tidak menyukainya yang menangis.

"Cukup. Kau memang keterlaluan Mark" Haechan sesenggukan kembali, menangis tak karuan.

"Ya! Apa yang kau ucapkan benar adanya-"

"-Aku masih menyayangimu ah- tidak, tapi aku mencintaimu. Bahkan sangat mencintaimu"

"6 tahun ku lewati tanpa dirimu. Sungguh sangat menyakitkan. Maka dari itu selain urusan pekerjaan, aku kembali ke Seoul untuk menemuimu, berharap rasa rindu ini akan terobati" Haechan berucap dengan lantang dalam satu tarikan nafas tapi nyatanya dia masih menangis tak karuan.

Senyum Mark mengembang setelahnya. Mendengar penuturan Haechan yang masih mencintainya benar-benar membuatnya bagai diawan, terbang.

Satu kelebihan Mark yang tak Haechan tahu, kepekaannya membuatnya benar-benar merasa menjadi orang beruntung. Dia peka terhadap perasaan Haechan dalam sekali pandang.

Mark yang mengerti perasaan Haechan kembali memeluk Haechan lebih erat. Sangat erat. Sampai angin saja tak berani menyentuh Haechannya, iya Haechan-nya Mark.

Hangat.

Itu yang Haechan rasakan, semuanya tak berubah. Masih sama seperti 6 tahun yang lalu. Pelukan Mark benar-benar candu baginya. Haechan mengangkat lengannya dan memeluk perut Mark dengan erat seakan dengan ini perasaannya akan tersalurkan.

"Jangan menangis. Ini sudah berlalu, yang penting kau sudah kembali Haechan-" Mark menangkup kedua pipi berisi Haechan.

"-Mari kita mulai semuanya dari awal dan biarkan waktu yang mengobati semua luka kita"

Dan tepat Haechan menganggukkan kepalanya, bibir Mark sudah menyentuh bibir milik Haechan. Menyesapi rasa manis yang tercipta. Bagaimana mengutarakan perasaan rindu yang teramat dalam. 6 tahun bukan waktu yang singkat untuk keduanya saling merindu.

Mark melumat bibir bawah Haechan dengan lembut, bibir Haechan adalah permen kapas yang sangat mudah meleleh -itu menurut Mark-. Benar-benar menakjubkan. Seakan penantiannya selama ini akan segera berakhir.

Haechan mengalungkan lengannya di leher Mark. Mengecap bibir Mark yang sudah dia rindukan. Merasakan betapa istimewanya bibir itu tanpa henti.

Pertemuan yang Haechan harap hanya sebatas rekan kerja tidak menyangka akan menjadi seperti ini. Sungguh diluar ekspektasinya!

Hal yang terpenting bagi Mark dan Haechan adalah, dimana keduanya masih saling menyayangi, bahkan masih saling mencintai. Simple but surely.

'No reason for people to loving each other. They're will find their mates by the love way'

.

.

Renjun duduk di kursi yang ada di sudut cafe yang buka 24 jam dengan raut wajah cemas. Perasaannya benar-benar tak karuan. Ada sesuatu yang mengganjal sejak tadi pagi, bahkan saat mereka -Mark dan dirinya- pergi ke butik.

Pandangannya terus tertuju ke arah pintu cafe menunggu kedatangan seseorang. Renjun berulang kali melihat ponselnya, mengecek berapa lama dia menunggu karena dia merasa hampir setengah jam sudah menunggu.

Kala perasaan putus asa bercampur gelisah menghantuinya, seseorang yang dia tunggu akhirnya datang juga, membuat Renjun sedikit bernafas lega. Tak sia-sia dia membayar parkir di luar 'kan kalau begini.

"Maaf aku terlambat-" Jaemin duduk dihadapan Renjun dengan terengah. Mengambil minum Renjun dan meneguknya secara brutal, sepertinya dia baru saja mengikuti lomba marathon.

"-Astagaaaa lelahnyaa~" Jaemin menyandarkan punggungnya di sandaran kursi cafe dengan terus mengatur nafas.

"Hey! Kau ini, bukannya minta maaf dengan benar malah menghabiskan minumku. Dasar Na Jaemin" Renjun menggerutu sembari menarik kembali minumannya.

"Tak apa, biar Jeno yang membayarnya nanti"

"Ngomong-ngomong, kau kemari sendiri? Dimana Jeno?"

"Ah tidak, tadinya aku bersama Jeno, tapi ban mobilnya kempes dan yah aku memutuskan untuk memesan taxi dan meninggalkan Jeno disana." Jaemin tertawa menceritakan pengalamannya kepada Renjun sampai matanya menghilang.

"Jadi kau meninggalkan Jeno sendiri?" Renjun bertanya dan Jaemin menggangguk sebagai jawaban.

"Kau tak takut Jeno dibawa pergi wanita lain atau bahkan pria lain?" Seketika Jaemin menegakkan tubuhnya dan men-death glare Renjun, yang ditatap begitu hanya tertawa dengan memegangi perutnya.

"Jadi apa yang ingin kau katakan Jaemin? Tak biasanya kau mengajakku keluar malam seperti ini" Renjun meneguk pelan minumannya, menunggu jawaban Jaemin.

"Ah itu-" Jaemin mulai tak nyaman, matanya memandang ke segala arah asalkan bukan kearah Renjun.

"Sebenarnya sih bukan hal penting kau tahu, bahkan aku hampir melupakannya. Tapi si Lee sialan Jeno itu terus memintaku untuk menanyakan hal ini padamu-" Jaemin menghembuskan nafasnya lelah dan kembali berbicara, "-Jadi terpaksa aku mengatakannya padamu walau dalam hati aku benar-benar malas dan sedikit tak peduli, sedikit okay"

"Aku kesal padanya jika dia terus menanyakan 'Apa kau sudah bertanya pada Renjun?', 'Apa sudah kau bilang?' dan 'Jangan lupa untuk menanyakannya pada Renjun!'. Astagaaa lelaki sialan itu benar-benar menyusahkanku" Jaemin menggerutu di tempat duduknya, persis seperti bocah berusia 10.

Renjun yang tak mengerti hanya mengernyitkan dahinya, sungguh dia bingung kenapa dirinya dibawa-bawa, membuatnya penasaran saja.

"Rrrr~ Jaemin?"

"Ya?" Jaemin menjawab dengan mulut dan tangan yang terfokus pada cake di depannya, tentunya itu milik Renjun.

"Jadi apa yang ingin kau tanyakan? Kau sungguh berbelit" Renjun bertanya dengan raut wajah bingung yang kentara.

"Ah iya kan aku jadi lupa. Kau sih pakai acara memesan cake segala jadinya aku fokus pada cakemu ini daripada tujuan awalku"

"Jadi? Intinya?" Renjun mulai tak sabar dengan temannya ini, ayolah rasanya dia ingin mencakar wajah manis orang yang ada di hadapannya sekarang.

"Iya iya, dasar bawel. Jadi pertanyaannya adalah 'Apa perasaanmu jika 'dia' kembali, Renjun?'"

Deg

Seketika, Renjun ingin menangis mendengarnya. Bagai ditampar keras-keras dia menyadari satu hal, bahwa perjalanan cintanya tak seindah drama korea yang dia tonton.

"Ah itu? Entah aku belum memikirkannya. Kurasa biar aku yang mengatasinya sendiri"

"Renjun, kita berteman sudah lama. Jangan kau pendam ini semua sendirian. Kau harus membaginya, jika kau tidak bisa kepadaku kau bisa kepada Jeno. Dia cukup bisa diandalkan yah walaupun terkadang dia terlihat bodoh tapi aku mencintainya -eh tidak maksudku aku mempercayainya"

Renjun yang mendengarnya hanya tersenyum geli, Jaemin itu kekasih denial-nya Jeno. Wajar saja seperti itu walau sudah berstatus -calon- tunangan sekalipun, kalau tidak denial ya bukan Jaemin namanya.

"Na!" Jaemin mendongak saat suara yang dihafalnya memanggil namanya.

"Oh hay Jeno. Bagaimana? Sudah selesai mobilnya?" Jeno hanya mendengus, kesal dengan tingkah kekasihnya lalu duduk di sebelah Jaemin.

"Renjun, bagaimana kabarmu? Are you okay?" Jeno bertanya kepada Renjun dan mengacuhkan Jaemin yang mulai mendusal kearahnya. Mencari perhatian.

"Ya seperti yang kau lihat, aku baik-baik sa-"

"...Na! Berhenti menarik pipiku!

"Yak! Astaga jangan hidungku!"

"Cukup! Jangan telinga ataupun dagu!"

"Na!..."

"Na!..."

"Na!-"

Dan masih banyak 'Na' lagi yang keluar dari mulut Jeno, tak peduli tatapan Renjun yang kian surut, memikirkan kehidupannya yang akan segera berubah, cepat atau lambat.

Renjun menatap sepasang kekasih di hadapannya dengan tatapan yang sulit diartikan. Banyak hal yang dia pikirkan termasuk-

Jadi 'dia' sudah kembali ya? -Renjun

..

=

..

TBC

.

Halooo ku up chapter 2 nih. Gimana? Puas gak? Kurang yaaaa? Bisa ditambahin di kolom komentarrr wkwkw

Ku up secepatnya jadi aku minta maaf yaa

kalo ini kelamaan TT.TT

Btw makasih yang udh mau reviewwwww lophelophe sekaliii

JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK #chu

Ku mau balasin komen ehe :

Dety daceut : ini udh diup kok, btw makasih yaaa cyank

Honeydew96 : maafkan aku karena aku bohongin renjun :(( -Mark

Park Youngie : Hayoo hayooo tebak tebak berhadiah lohh wkwkw

Alpheratz3100 : Aaa sama aku juga ingin markhyuckk :((

Chansooloveyou : iya makasih reviewnya. ini udh diup ya

Zero082 : sama ihh :( disisi lain aku ingin sama Jaehyun /digampar TY/

Yehetmania : Ihh kok tauw sihh :((( -Renjun

Byeolie : ampun qq jangan musnahkan cogan macem aq -Mark

Haecahnie : Hayoo mantan atau mantan nuihh wkwk

Darkzhang.412 : Yahh maafkan aku kakak. Cuma minjem orang aja ih :(( wkwkwk

Dindch22 : Yah Renjun tersingkir wkwkw

Rimm : Iya aku juga mau Haechan bahagia terus T.T

-sekian ea-

.

~MARKMARKHYUCK~