'You are Mine'
MarkHyuck - mainpair
•MarkRen •NoMin - slightpair
bxb, typo(s), drama, hurt-comfort!!!
DLDR!
=
note : italic-flashback
.
Matahari bersinar dengan cerahnya, awan putih pun juga nampak menggantung cantik di langit menandakan bahwa hari ini akan menjadi hari yang indah.
Jalanan padat Seoul telah dimulai sejak 3 jam yang lalu dan sekarang waktu sudah menunjukkan pukul 10, jadilah suasana di perusahaan milik Mark mulai ramai.
Direktur Utama mereka berjalan dengan tenangnya, penuh kharisma, elegan, dan terkesan sangat hangat. Tersenyum kepada seluruh karyawan yang menyapanya dengan senyuman kepemimpinan miliknya.
Mark memasuki ruang kerjanya, duduk di kursi kerjanya dan segera mengoperasikan portable computer yang ada dihadapannya, dia ingat setelah makan siang nanti ada pertemuan penting, jadi dia harus menyelesaikan seluruh laporan yang menumpuk di meja.
Belum juga Mark menyelesaikan satu pekerjaan suara ketukan pintu menginterupsi kegiatannya dan mau tidak mau dia berteriak menyuruh seseorang itu untuk masuk.
Jeno memasuki ruangan Mark dengan setumpuk berkas di tangannya, Mark yang melihatnya hanya menghela nafas lelah.
"Mark ini berkas-berkas yang kau minta waktu lalu dan ada juga berkas yang harus segera kau tanda tangani"
"Ah iya, taruh saja disitu, nanti akan ku periksa"
"Baiklah. Nanti jangan lupa untuk menghadiri pertemuan bersama para pemegang saham setelah makan siang"
"Iya, pasti aku datang."
"Baguslah. Tapi-"
"Tapi apa?" Mark menatap Jeno yang sepertinya masih ingin berbicara.
"Bisakah nanti kita pergi makan siang bersama? Ada yang ingin aku dan Jaemin bicarakan"
Mark terlihat menimang, berpikir apa yang harus dilakukan, menerima atau menolaknya.
"Bolehlah, asal kau yang traktir"
"Enak saja, kau ini kaya, untuk membelikan aku satu unit mansion mewah kau juga tidak akan bangkrut" Jeno mengejek Mark dengan sebal.
"Astaga aku tidak bawa uang cash kali ini, ayolah Jeno traktir aku ya"
"Astaga kau ini, berhenti ber-aegyo kau sudah 27 dan ya, aku traktir kau, tapi berikan aku kunci mobilmu"
"Hey! Ya! mana bisa begitu! Hey! Jeno!" Mark berteriak keras melihat aksi Jeno yang dengan seenaknya berlari keluar setelah berhasil mengambil kunci mobil miliknya di meja.
"Dasar anak itu"
.
Mark, Jeno, dan juga Jaemin sudah berada di restaurant Italia, seperti yang dikatakan Jeno tadi, dia mentraktir Mark tapi mobil miliknya akan dia bawa untuk 2 hari ini. Sungguh beruntungnya Jeno ini memiliki atasan yang juga sahabatnya, jadilah Mark tidak keberatan dengan sikapnya.
Beberapa menit berlalu yang hanya diisi suara piring dan sendok yang beradu, sepertinya mereka sangat kelaparan sampai lupa tujuan awal.
"Jeno, kau sudah bertanya pada Mark?" Jaemin berbisik tepat ditelinga kanan Jeno.
"Belum, rencananya setelah ini aku akan bertanya"
"Oh ya sudah, tanyalah, aku akan mendengar-"
"Ya! Kalian apaan sih, berani-beraninya berbisik didepanku, kalian menggosipkanku?" Mark yang telah selesai dengan makan siangnya segera menginterupsi kegiatan 2 lelaki dihadapannya.
"Enak saja, kau ini narsis sekali. Daripada menggosipkanmu lebih baik aku menggosipkan Yukhei saja. Dia lebih tampan darimu" Jaemin mengomel didepan Mark tanpa henti, membuat 2 lelaki yang lain memutar bola mata bosan. Mulai lagi ganjennya -Jeno.
"Sudah cukup, diam ya Nana. Sekarang giliranku yang berbicara kepada Mark, okay"
Mark yang tidak mengerti pembicaraan ini hanya diam dan mengamati, sesekali otak cerdasnya menangkap maksud dari kedua insan ini. Ada hal yang ingin Jeno sampaikan, penting.
"Mark? Aku bertanya padamu. Tapi jawab dengan jujur"
"Ya terserah"
"Saat kita membuka cabang fashion di Chicago waktu itu, benar ya Haechan disana?"
DEG
Mark terkejut, seketika dia berhenti meneguk cola miliknya, dan berusaha menyembunyikan raut khawatir miliknya, juga mencoba tetap tenang.
"Iya, dia disana"
"Astaga Mark!!! Lalu apa dia menghampirimu? Apa dia mau menatapmu? Apa dia berani memanggil dan berbicara padamu?" Jaemin bertanya dengan menggebu, dia terlihat bersemangat daripada yang lain.
"Hey Jaemin, bertanyalah satu-satu kau membuatku bingung"
"Iya Mark, maaf."
"It's okay, bukan masalah. Kalau begitu aku akan sedikit bercerita-" Mark menarik nafas, memantapkan hati untuk bercerita kepada 2 sahabatnya ini.
"-Jadi benar apa kata Jeno, waktu itu aku tidak tahu kalau perusahaanku akan bekerja sama dengan perusahaan milik ayahnya Haechan, saat aku sudah mengetahuinya aku terus menimang apa yang harus aku lakukan, dan aku memutuskan seminggu sebelum launchingnya cabang baruku di Chicago, aku menghubungi ayahnya secara pribadi dan memintanya untuk membawa Haechan yang kebetulan juga mulai bekerja di perusahaan ayahnya. Jadi itulah bagaimana ini semua bisa terjadi-"
Jeno dan Jaemin yang sedari tadi menjadi pendengar setia kini mulai bertatap, mengirim sinyal melalui mata keduanya, dan sedetik kemudian Jaemin mengangguk.
"Hey Mark, aku bertanya satu hal kepadamu. Apa yang setelah ini kau akan lakukan kepada Renjun?"
Mark tersedak ludahnya, ini benar-benar belum Mark pikirkan, dia lupa dengan Renjun tentu saja. Bahkan semalam dia tidak pulang ke apartement Renjun dan memilih tidur di mansion miliknya. Astaga Mark sangat bodoh.
"Aku belum tahu"
.
.
Haechan terus menatap ponsel miliknya, lima belas menit yang lalu Haechan baru saja menyelesaikan makan siang dan sekarang dia sedang berada di kantor milik ayahnya yang ada di Seoul.
Dia mulai sibuk kembali dengan beberapa berkas di hadapannya, sibuk membuka satu persatu berkas tersebut sampai dia tidak sadar banyak pesan masuk di ponselnya.
Haechan melirik kembali ponselnya yang menyala terang dan dengan tergesa dia membuka ponsel pintarnya dan membaca seluruh pesan masuk yang dia terima.
[From. Markeuu] - 12.43 pm
'Hay manis, sudah makan siang?'
[From. Markeuu] - 01.03 pm
'Aku sudah makan siang, baru saja selesai.'
[From. Markeuu] - 01. 15 pm
'Selamat bekerja kembali, aku merindukanmu (kiss)(kiss)(kiss)'
Blush
Pipi Haechan merona dengan sendirinya hanya dengan membaca pesan terakhir dari Mark. Menurut Haechan Mark itu kaku, tapi dia bisa romantis dengan caranya sendiri. Itu alasan kenapa Haechan menyukai pria Korea setengah Canada tersebut.
[To. Markeuu] - 01. 17 pm
'Maaf Mark, aku tidak tahu kalau kau mengirimiku pesan.
Aku sudah makan siang
Dan, aku juga merindukanmu (shy)(shy)'
[send]
Selesai mengetik pesan balasan untuk Mark, Haechan segera mematikan ponselnya dan menyimpannya didalam laci meja, dia tidak ingin terus-terusan chatting dengan Mark dan malah mengabaikan pekerjaannya, kalau dia lambat bekerja itu sama saja dengan dia lambat bertemu dengan Mark.
..
Renjun berjalan santai di taman Kota, malam ini udaranya benar-benar nyaman untuk keluar rumah jadi dia memutuskan untuk berkeliling sebentar di taman sebelum membeli beberapa camilan di supermarket seberang taman.
Renjun mendudukan dirinya di sebuah bench yang ada di taman sembari merenggangkan otot-ototnya yang lelah. Beberapa hari ini dia merasa pikirannya mulai bercabang, caffenya yang mulai sepi, belum lagi mengenai perasaannya.
Dia terus memikirkan bagaimana jadinya kalau yang dikatakan Jaemin 3 hari yang lalu itu adalah kenyataan. Membayangkannya saja Renjun rasa tidak mampu.
Mata bulat seperti moomin itu kembali mengedarkan pandangan ke seluruh arah, mencari pemandangan yang menurutnya menarik perhatian, sampai matanya menyipit ke arah sepasang lelaki yang berjalan memasuki caffe yang ada di seberang tempatnya duduk.
Dia merasa familiar dengan lelaki bersurai hitam tinggi itu tapi tidak dengan lelaki di sampingnya. Matanya terus memerhatikan dari jauh, menyaksikan seluruh pergerakan yang terjadi disana.
Otaknya terus menduga hal positif, tapi tidak dengan hatinya. Keduanya tidak sejalan. Matanya membola saat yang ditakuti benar terjadi, itu Mark, dia disana bersama dengan...seseorang.
Sedetik kemudian air matanya melesak untuk turun dengan mata yang terus menatap sepasang lelaki tersebut yang mulai bertingkah mesra. Dia tidak tahan, berdiri dari acara duduknya dan berbalik menuju apartement miliknya. Kalau tahu akan begini, lebih baik aku ke supermarket saja tadi -Renjun.
Renjun memasuki kamar miliknya dengan suara pintu yang dibanting keras. Hatinya tak karuan, rasanya sungguh sakit, dia tahu ini terjadi karena dirinya juga, tapi kenapa sesakit ini?
00
Malam itu cuaca di luar sedang dalam keadaan yang mendukung, banyak orang memilih berjalan-jalan di taman atau sekedar makan bersama di restaurant. Tapi tidak untuk Renjun, lelaki manis itu terus berkutat dengan beberapa tumpukan baju miliknya -memasukannya ke dalam lemari pakaian-.
Fokusnya hanya pada pakaian yang baru saja diantar oleh petugas laundry langganannya dan ingin menyelesaikan pekerjaan lainnya, tapi kegiatannya harus terhenti karena panggilan masuk di ponselnya.
Dahinya berkerut bingung melihat ID caller yang meneleponnya, dengan segera Renjun menggeser tombol hijau ke kanan dan menyapa si penelepon dengan beribu pertanyaan di otaknya.
"Halo? Mark?"
"Renjun?"
"Iya, ada apa? Mengapa menelepon malam-malam begini"
"Aku membutuhkanmu. Bisakah kau ke apartementku sebentar?"
"Harus sekarang? Tidak bisa besok siang?"
"Terserah kau saja, aku tidak memaksa"
Renjun yang mendengarnya hanya terus bertanya-tanya ada apa yang sebenarnya terjadi. Dan jangan lupakan detak jantung Renjun yang mulai bertalu saat Mark mulai memanggilnya tadi.
"Baiklah, 10 menit lagi aku disana"
"Ya, terima kasih"
Beep
Sambungan terputus, Mark yang memutuskannya. Renjun yang penasaran hanya kembali menyelesaikan kegiatannya yang tertunda dengan segera, dia cukup penasaran dengan Mark, okay.
Renjun memasuki apartement Mark tanpa memencet bel terlebih dahulu karena Mark sudah memberi tahu password miliknya sebelum dia datang, tapi dia heran, ada 4 digit yang dia ketahui itu adalah tanggal lahir seseorang, sepertinya Haechan -kekasih Mark- karena Mark tidak lahir ditanggal itu.
'0606' -Lee Haechan.
Renjun memasuki apartement besar milik Mark yang sepi, hanya beberapa lampu kecil yang menyala, hening tak ada suara apapun selain jarum jam dinding diatas pintu masuk.
"Mark? Aku disini. Kau dimana?"
Renjun terus berkeliling mencari sosok Mark, dan terkejut karena menemukan Mark yang duduk di sofa ruang tamu miliknya. Hati Renjun mencelos saat tahu keadaan Mark yang jauh dari kata baik. Kantong mata hitam besar menggantung, rambut acak-acakan, baju kusut hampir menyerupai kain gosokan kompor milik ibunya.
Renjun mendekat dan mendudukan dirinya di samping Mark, menyentuh pundak lemas itu dengan perlahan dan mengusapnya dengan nyaman, berharap dapat menyalurkan sedikit perasaan tenang miliknya kepada Mark. Dia tahu Mark sedang dalam masa kritis.
"Hey Mark, kau kenapa? Ada yang ingin kau ceritakan?" Renjun berkata pelan, bertanya dengan lembut agar tidak menyinggung perasaannya.
"Dia pergi, dia telah pergi Renjun" Renjun yang ada disampingnya sungguh tidak mengerti apa yang Mark ucapakan, dia siapa? Memangnya ada hubungan apa Renjun dengan 'dia' yang dimaksudkan si Mark?
"Haechan pergi dariku Renjun" Sedetik kemudian Renjun tertegun melihat Mark yang meneteskan air mata -menangis- untuk pertama kalinya.
Dengan inisiatif diri sendiri Renjun mendekatkan tubuhnya dan memeluk seseorang yang sedang terluka tadi dengan hangat, menyalurkan seluruh perasaan sayang miliknya kepada Mark. Memberikan usapan menenangkan dan beberapa kalimat dorongan, berharap Mark dapat segera bangkit dari rasa sakitnya.
Mark terus menangis terisak dipelukan Renjun, dirinya benar-benar kacau tak tahu lagi harus bagaimana. Dia butuh sandaran sangat sangat butuh, maka dari itu dia menelepon Renjun sebagai sandaran pengganti dirinya setelah perginya Haechan seminggu yang lalu. Kalau dia meminta Jaemin yang ada bukan dia menjadi tenang tapi semakin kalut. Kalian tahu 'kan Jaemin mudah panik?
00
Renjun masih terisak kala kenangan itu muncul memenuhi memorinya. Itu bahkan sudah terjadi hampir 6 tahun lamanya, tapi dari situlah awal kisahnya bermula.
Seandainya saja dia tidak memberikan pelukan hangatnya kepada Mark dan menyampingkan rasa ego miliknya, pasti tidak seperti ini jadinya.
Seandainya dia menolak ajakan kencan Mark 2 tahun yang lalu, dia pasti tak merasa sesakit ini.
Seandainya jika rasa sayang dan cinta tulus miliknya tidak dia berikan sepenuhnya kepada Mark, dia tak akan sekecewa ini.
Karena Renjun paham bahwa Mark yang dicintainya sepenuh hati itu tidak akan memberikan seluruh hatinya kepada Renjun karena hati Mark hanya untuk -mantan- kekasihnya dulu, Haechan. 'One and only, my heart just for Haechan-ie' ucap Mark saat 6 tahun yang lalu.
Renjun kembali menangis tersedu, menangisi bagaimana bodohnya dia memilih Mark sebagai pelabuhan hatinya dan menolak ajakan kencan pria lain karena Mark yang dia pusatkan. Kembali meraung sampai jatuh tertidur dengan bekas air mata di pipi putihnya.
.
=
.
TBC
Haloooo ku bawa chap 3 nihh wkwkw
Maaf ya klo ceritanya jadi ngebosenin. So sad when I haven't time to post this story ㅠㅠㅠ But, thank youuu readers-nim
MAKASIH YANG UDAHH MAU LUANGIN BACA DAN REVIEW CERITA ABAL2 AQ (kiss)(kiss)(kiss)
MAAF KALO NGECEWAINNN KALIAN ㅠㅠㅠㅠㅠ (cry)(cry)(cry)
chap 4 ditunggu aja y~~~
Btw, kemungkinan chap depan bakal banyakan part njun nyaa muehehehe WKWKWK tapi ga tau jga ding (kiss)
•••••
'MARKMARKHYUCK'
