"You are Mine"

•Markhyuck - Mainpair

typo(s), bxb, dldr

.

.

baca coretan dibawah yak! makasih chingu~

.

.

.

Lelaki dengan surai dark orange miliknya masih terjaga, matanya berkedip sesekali untuk menetralkan kondisi netranya. Dadanya berdesir, otaknya terus memikirkan sesuatu yang mengganjal.

Waktu terus berputar bahkan jam sudah menunjukkan pukul 2 dini hari, tapi mata beruang itu tak kunjung mengantuk. Karena lelah dia memutuskan untuk bangkit dari acara berbaringnya, berjalan menuju dapur untuk membuat segelas susu hangat.

Selesai membuat susu, dibawanya cangkir itu ke meja makan dan duduk disisinya. Merenung. Dia butuh jawaban atas pertanyaan yang terngiang dibenaknya beberapa waktu lalu.

Dengan perlahan menyesap susu hangat itu sembari otaknya berputar memikirkan hal yang seharusnya dia lakukan, seperti-

"Aku harus menghubunginya segera"

Maka, dengan segera meneguk habis susu miliknya dan berjalan kembali ke kamar lalu meraih handphone yang tergeletak diatas nakas, membuka aplikasi e-mail dan mengetikan beberapa pesan kepada seseorang. Setelah pesan terkirim dia kembali -mencoba- melanjutkan tidurnya.

.

Haechan sudah berada di cafe sejak 5 menit yang lalu, dia sedang menunggu teman masa kecilnya. Di dalam hati dia merasa sangat senang karena sebentar lagi mereka akan bertemu dan segera melepas rindu, tapi disisi lain dia juga merasa khawatir kalau saja jawaban yang diberikan oleh temannya nanti akan membuatnya semakin patah hati.

Lama dia terdiam dan hanya memandangi jalanan padat Seoul melalui jendela sampai tidak sadar seseorang sudah tiba dihadapannya.

"Haechan?"

Merasa dirinya dipanggil dengan segera mendongakkan kepala melihat si pemanggil tadi dengan raut wajah yang sedikit bingung.

"Jaemin? Benar itu kau?"

"Oh gosh, ini aku Jaemin. Teman masa kecilmu dulu"

"Senangnya aku bisa melihatmu kembali. Duduklah biar ku pesankan sesuatu"

"Baiklah"

"Bagaimana dengan strawberry milkshake?"

"Kau tahu seleraku" Dan kemudian Jaemin tertawa riang.

"Bagaimana kabarmu Haechan? Omong-omong berapa lama kita tidak bertemu?"

"Kukira hampir 7 tahun kita tidak bertemu"

"Kau benar, saat kau pergi dari Seoul dan meninggalkan aku sendiri. Teganya kau waktu itu"

"Maafkan aku Jaemin, waktu itu sungguh mendadak dan pergi tanpa berpamitan terlebih dahulu" Raut wajah Haechan berubah sendu, dia sedih kalau harus diingatkan kejadian lalu, dia merasa menjadi orang yang jahat.

"Hey sudahlah, jangan bersedih. Yang terpenting kau sudah disini" Jaemin menggenggam tangan Haechan dan mengusapnya kecil, memberikan rasa tenang untuk sahabatnya.

"Iya Jaemin kau benar" Setelahnya wajah Haechan berubah lebih cerah.

"Apa kau sudah bertemu Mark?" Jaemin bertanya ditengah-tengah mereka bersantap siang.

"Ya, aku sudah menemuinya"

"Lalu? Apa yang terjadi diantara kalian?"

"Entahlah. Aku tidak mengerti. Rasa ini masih sama, tapi aku takut kecewa" Haechan menatap lurus mata Jaemin.

"Hey, jangan begitu. Itu hanya firasatmu saja mungkin."

"Jaemin?"

"Ya?"

"Apa Mark memiliki kekasih saat aku pergi?"

Jaemin yang diajukan pertanyaan seperti itu hanya mampu menghentikan acara makannya.

"A-ah itu?" Jaemin bingung, dia itu sulit berbohong, kalaupun bisa pasti mudah diketahui.

"Aku ada sesuatu"

"Apa?"

Haechan mengeluarkan ponselnya, berkutat dengan persegi hitam itu sebentar lalu menyodorkannya kearah Jaemin. Jaemin menerimanya dengan baik dan melihat apa yang Haechan ingin tunjukan, tapi setelahnya matanya membulat sempurna.

"I-ini? Bagaimana kau bisa mendapatkannya?"

"Aku mengambilnya dari ponsel Mark beberapa waktu lalu"

"Astaga-"

"Jadi benar ya dia sudah memiliki kekasih?" Haechan mengalihkan pandangannya yang semula memandang Jaemin menjadi ke jendela.

"Bu-bukan begitu. Bagaimana aku menjelaskannya ya?"

"Tak apa Jaemin, sudah jelas sekarang"

Jaemin menggenggam kembali tangan Haechan, diusapnya tangan yang mulai bergetar itu, memberinya dorongan.

"Tidak seperti itu Haechan. Kau jangan salah paham-"

Jaemin menatap mata Haechan yang mulai berkaca. Dia dapat merasakannya bahwa sahabatnya ini sangat amat mencintai seseorang bernama Mark tersebut. Dia jadi kasihan, maka dia berniat untuk membantunya walau sedikit.

"-Jadi begini, kalau kau tanya begitu jawabannya 'iya'. Mark sudah memiliki kekasih, jauh sebelum kau datang kesini. Ku dengar mereka akan bertunangan. Tapi, aku tidak pernah mendengar mereka melakukan suatu persiapan. Itu aneh menurutku. Dimana sepasang kekasih yang akan melangsungkan pertunangan tapi tidak melakukan persiapan sama sekali, itu-"

"Tunggu dulu" Ucapan Jaemin sudah terlebih dahulu dipotong oleh si lawan bicara.

"Bagaimana kau bisa tahu kalau mereka tidak melakukan persiapan apapun? Kau menguntit mereka?"

"Yang benar saja Haechan" Jaemin memutar bola matanya malas, bisa-bisanya Haechan berpikir sedemikian rupa. Jaemin lebih memilih tidur di rumah daripada menguntit 2 orang tersebut.

"Aku tidak menguntitnya, aku tahu dari Jeno, kekasihku. Dia tangan kanan Mark, sekretaris setianya. Jadi, Jeno sering bertanya soal pertunangan mereka dan akan dijawab oleh Mark dengan jawaban 'entah aku belum tahu' atau 'mungkin segera', dan Jeno akan bercerita kepadaku"

Terdengar helaan nafas diseberang, membuat Jaemin menatapnya sedih.

"Chan, kau bisa menanyakan hal ini kepada Mark. Jangan sampai terlambat. Aku tidak mau sahabatku sakit hati oleh pria seperti Mark"

"Terima kasih Jaemin. Tapi-"

Jaemin yang mengerti kalau Haechan masih ingin berbicara hanya memberinya kode lewat anggukan kepala.

"Tapi- apa aku terlihat seperti perebut?"

"Jangan berkata begitu. Ini semua sudah diatur. Kau tidak bisa menyalahkan dirimu. Yang bisa kau lakukan hanya mengikuti alur, dan meluruskan sesuatu yang salah"

"Tapi aku merasa bersalah. Aku datang dan mengambil Mark dari lelaki itu saat mereka berdua hampir bertunangan. Bukankah aku jahat?" Haechan menatap Jaemin nanar.

"Kau tidak jahat, lihat Mark, aku yakin dia punya alasan terbaik kenapa melakukan ini. Dan untukmu, aku tahu kau bisa memilih yang terbaik juga"

"Jadi aku harus bagaimana?" Haechan bertanya dengan pandangan yang sedikit putus asa.

"Temui Mark. Selesaikan masalah kalian, aku tidak mau melihat sahabatku terluka"

Dan setelahnya mereka berpelukan hangat, sangat erat. Pelukan yang menggambarkan rasa terima kasih dan juga dorongan.

.

.

.

Haechan berdiam diri di sofa ruang tamu apartementnya, dirinya sedang menunggu Mark yang masih dalam perjalanan.

Matanya memandang televisi layar datar didepannya tapi otaknya jauh berkelana keluar sana. Dirinya terus memikirkan pendapat Jaemin, apa ia harus menyelesaikannya dengan Mark atau tidak. Dia sungguh bingung.

Lama berdiam diri sampai suara pintu terbuka menyadarkan lamunan indahnya, membuatnya melongokan kepala kearah pintu utama.

"Haechan-ie, I'm coming~" Mark datang membawa 2 kantong plastik berukuran sedang disisi kanan dan kiri tubuhnya, dengan segera menuju ruang tamu dimana Haechan berada.

Senyum terpatri dibibir Haechan, dia bangkit lalu menghampiri Mark yang sudah sampai didepannya, memberikan kecupan dibibir tanda selamat datang.

"Aku sudah bilang jangan membawa makanan Mark" Haechan mengambil alih kantong plastik tersebut dan meletakannya di meja, dengan perlahan mengeluarkan satu-persatu barang belian kekasihnya.

"Tidak apa, aku tak ingin beruang favoritku ini kelaparan" Mark mencubit pelan pipi Haechan yang sudah sibuk dengan strawberry cheesecake miliknya.

"Kau tidak mau?"

"Tidak, melihatmu makan saja aku ikut kenyang"

"Ya sudah aku makan sendiri"

Mark yang diam memerhatikan Haechan yang sibuk itu hanya bisa tersenyum simpul. Entah kenapa dia bahagia sekali melihat Haechan yang makan dengan lahap, membuat hatinya hangat.

Selesai Haechan mencicipi cake bawaan Mark sekarang mereka berdua sudah duduk di sofa depan televisi dengan Haechan yang memeluk Mark dari samping, menempelkan tubuhnya didada milik Mark.

Tangannya yang bebas dia gunakan untuk memainkan dagu dan rahang milik Mark, sedangkan Mark hanya sesekali mengamati acara televisi dan tentunya menikmati sentuhan Haechan.

"Mark?"

Mark berdehem, merespon panggilan Haechan.

"Kau tahu tidak, kalau diluar sana ada seseorang yang menunggu kekasihnya untuk datang menemuinya" Haechan berkata dengan degupan keras dijantung.

Mark yang tidak mengerti hanya bisa terdiam dengan dahi berkerut, menunggu Haechan melanjutkan ucapannya.

"Seseorang itu dijanjikan sebuah pertunangan oleh kekasihnya, tapi kekasihnya malah pergi meninggalkannya dan memilih masa lalunya." Mark semakin tidak mengerti dengan ucapan Haechan, dia hanya merasa bahwa cerita Haechan hampir mirip dengan dirinya. Hampir.

"Pasti berat ya menjadi seseorang itu, aku tak bisa membayangkan kalau itu menimpaku, pasti sulit. Tapi-"

"-kekasih seseorang itu adalah kekasihku sendiri, Mark Lee"

Dan seketika tubuh Mark menegang, bingung harus bagaimana, yang bisa dia lakukan hanya tertawa kecil dan bergerak gelisah.

"Haechan? Kau mengantuk? Sebaiknya kita tidur, ayo ke kamar aku akan menemanimu"

"Mark-" Haechan menghentikan gerakan Mark yang akan bangkit dari duduknya.

"Aku tahu semuanya"

"Maksudmu?"

"Aku tahu kalau kau memiliki kekasih, dan bahkan kau akan bertunangan" Haechan menatap Mark dengan air mata yang sudah dipelupuk.

"Aku tahu semua. Kenapa kau tidak berkata jujur kepadaku?"

"Haechan... aku minta maaf. Aku punya alasan lain kenapa aku tidak berterus terang kepadamu"

Setetes air mata meluncur dari mata Haechan menuju dagu lancipnya. Dia diam menunggu Mark berbicara, dia butuh penjelasan langsung dari Mark.

"Aku tidak ingin menikah kecuali denganmu"

Detik berikutnya air mata Haechan kembali turun dengan derasnya.

"Ke-kenapa?"

"Aku tidak pernah mencintai orang lain selain dirimu Haechan. Bahkan saat aku bersamanya yang ada hanya dirimu. Bayanganmu terlalu nyata diotakku."

"Lanjutkan..."

"Semua ini salahku, seharusnya aku tidak mengikatnya dalam bentuk apapun, termasuk kekasih sekalipun-"

Haechan diam mendengarkan penjelasan Mark, dirinya tak sanggup memendam ini terlalu lama, dia butuh kepastian.

"Namanya Renjun, dia bukan asli Korea. Aku mengenalnya jauh sebelum kita bertemu. Dia putra dari rekan kerja ayahku. Kami bersahabat sejak kecil, dari mulai tingkat dasar sampai sekolah menengah kami masih bersama, tapi saat menengah atas kami berpisah. Aku dan Renjun tidak satu sekolah lagi pada waktu itu, dan disanalah aku bertemu denganmu. Cinta pertamaku" Haechan sudah meneteskan kembali air matanya, otaknya kembali diputar paksa saat ingatan masa dimana dia dan Mark bertemu.

"Kau tahu? Aku selalu membicarakanmu, entah secara langsung maupun tidak, aku selalu membicarakanmu"

"Dan semuanya berubah saat kau memutuskan pergi dari sini, meninggalkanku dan seluruh perasaanku padamu-"

"-tapi Renjun datang memberikan pelukan miliknya, dan dari situ aku menyadari bahwa sahabatku memiliki rasa padaku."

"Apa kau mencintainya?" Haechan bertanya pelan.

"Tidak, tapi aku menyayanginya" Haechan merasakan paru-parunya seperti diremas kuat, seakan oksigen tak bisa masuk kesana.

"Ka-kalau kau... me-menyayanginya... kenapa harus mengkhianatinya?"

"Ini soal perasaan Haechan. Perasaanku hanya untuk dirimu. Bukan untuk Renjun sekalipun. Aku menyayanginya sebagai saudara, bukan sebagai seseorang yang ingin kumiliki."

"Lalu... kenapa kalian terikat?"

Mark menghela nafas lelah, "Ini juga salahku. Seharusnya 2 tahun lalu aku tidak memintanya menjadi kekasihku, itu terjadi secara tiba-tiba"

"Apa alasanmu... menjadikannya kekasih?" Tangis Haechan mulai reda, air matanya juga mulai mengering, hanya saja mata dan hidungnya masih memerah.

"Alasannya karena dia mirip sekali denganmu. Renjun punya aura positif sama sepertimu, dia juga berperilaku baik. Senyum dan tawanya mengingatkanku padamu, jadi aku berinisiatif mengikatnya dalam suatu hubungan serius tanpa memikirkan dirimu-"

"-Aku mengira kau tidak akan kembali" Mata Mark mulai berkaca, menceritakan kisah asamaranya sungguh menguras emosi.

"Jadi dengan bodohnya aku memintanya untuk menjadi kekasihku, dan 5 bulan yang lalu aku berencana melamarnya. Tapi-"

"Tapi aku datang dan menghancurkan segalanya" Haechan memotong cepat ucapan Mark.

"Maafkan aku Mark. Seharusnya aku tidak datang. Maafkan aku... hiks" Haechan kembali tersedu, dia menjadi semakin bersalah karena ini.

Mark menarik pundak Haechan, dibawanya tubuh yang bergetar hebat itu kedalam pelukannya. Menyalurkan seluruh rasa cintanya kepada lelaki manis yang menguasai hati dan pikirannya tersebut.

"Ini bukan salahmu. Aku yang salah, tidak seharusnya aku melamar Renjun dan melampiaskan rasa cintaku untukmu kepada lelaki China itu. Aku terdengar sangat jahat"

"Iya, kau memang jahat. Dan anehnya aku mencintai orang jahat ini"

"Aku lebih mencintaimu Haechan. Jangan kau ragukan perasaanku ini. Kau tahu? Bahagiaku hanya satu, kau."

Haechan terkekeh pelan disela isakannya, masih menikmati sesi berpelukan mereka yang sangat melankolis itu ditemani suara televisi pelan.

Haechan mendongakkan kepalanya menatap Mark tepat di mata.

"Apa yang akan kau lakukan setelah ini?"

"Tentu saja aku akan menemui Renjun. Aku tidak bisa terus-terusan menyakitinya seperti ini. Aku akan menyelesaikannya. Lagipula, tadi siang Bibi Ahn berkata bahwa Renjun membatalkan pemesanan tuxedo di butik miliknya, aku jadi heran apa yang sedang Renjun rencanakan"

Haechan mengangguk paham, "Lalu, kapan kau akan menemuinya?"

"Besok aku akan menemuinya di apartementnya."

"Baiklah. Kalau begitu cepat selesaikan, aku tidak ingin merebut kekasih orang lain walau kenyataannya kekasihnya 'lah yang berhasil merebut hatiku" Setelahnya Haechan mengecup bibir Mark kilat.

"As your wish babe..."

Mark dengan gerakan tiba-tiba sudah membungkam bibir Haechan dengan bibir miliknya. Menggigit pelan bibir yang menjadi candu baginya, mengabsen deretan gigi Haechan dan bermain lidah di dalam.

Haechan melenguh keras, hatinya merasa tenang, akhirnya kepastian yang dia cari sudah dia dapatkan dan itu membuatnya kembali terjatuh ke dalam pelukan pria Kanada tersebut.

Lama mereka berciuman, sampai tidak sadar kalau Mark sudah membawanya ke dalam kamar. Mengunci pintu dan menjatuhkan Haechan diatas ranjang.

"I want you..."

"I'm yours Markeu..."

Dan setelahnya hanya desahan yang keluar dari kedua lelaki tersebut, meninggalkan televisi dan seluruh lampu apartement yang masih menyala.

Mari tinggalkan mereka berdua, biarkan mereka saling menikmati malam panjang ini. Syuhhh~

..

TBC

WOHOOOOOREADERS~ INI CHAP DIMANA SIDE STORY DARI CHAP 4 PAS MARK KE APART RENJUN.KALO BINGUNG TANYA SAJAAA~BUAT YANG REVIEW MAKASIH YAAA AKU CINTA KALIAN SANGAT SANGAT CINTA. MAKASIH DUKUNGANNYA. LOVE YOU FULL!!!

.

MARKMARKHYUCK