'You are Mine'
•Markhyuck - Mainpair
typo(s), bxb, DLDR!
-
-
-
-
-
Haechan terbangun kala sinar mentari mulai memasuki kamarnya melalui celah tirai yang menggantung di pintu penghubung balkon. Haechan mendongakkan kepalanya menatap Mark tepat di wajah.
Tangannya terulur untuk mengelus pipi lelaki setengah Kanada tersebut dan memberikan kecupan-kecupan ringan di seluruh wajahnya. Mark menggeliat saat dirasa wajahnya terus dikecup tanpa henti, membuatnya membuka mata perlahan.
Hal pertama yang dia lihat adalah senyum lebar milik kekasihnya, Haechan. Lalu dengan segera dia mengecup balik bibir Haechan yang menjadi candu baginya.
"Morning"
"Morning too Markeu~"
Mark kembali memejamkan mata setelah memberikan kecupan singkat dibibir Haechan sembari tangannya bergerak menyisir surai Haechan. Haechan pun hanya mampu beringsut memeluk Mark kembali.
"Kapan kau akan bertemu Renjun?"
"Makan siang nanti" Mark menjawab tanpa mengubah kegiatan awalnya.
"Dimana?" Haechan memeluk perut Mark lebih erat.
"Di apartementnya, aku akan mengajaknya makan siang dan membicarakan masalah kemarin"
Hanya gumaman 'oh' yang Mark dengar dari bibir Haechan, membuatnya semakin merapatkan pelukan hangatnya untuk Haechan.
"Kau tidak keberatan? Kalau keberatan aku bisa mengganti rencananya"
"Tidak apa, terserah kau saja. Lebih cepat lebih baik bukan? Jangan menundanya, kasian Renjun"
"Iya kau benar. Baiklah, nanti siang aku akan langsung menemuinya"
Setelahnya Haechan hanya kembali memeluk erat dan menenggelamkan wajahnya didada bidang milik Mark. Keduanya dalam keadaan telanjang karena aktivitas semalam, hanya selimut putih sebagai pembungkus tubuh keduanya.
..
..
Waktu terus berputar, matahari kian condong ke sisi barat menandakan sebentar lagi akan memasuki waktu malam hari. Haechan yang sibuk dengan snack sorenya hanya diam sembari menyaksikan acara televisi yang menurutnya -lumayan- menarik itu.
Haechan yang terlalu fokus sampai tidak sadar seseorang sudah sampai di apartementnya, menekan beberapa digit password dan membuka pintu perlahan. Haechan baru tersadar saat pintu itu tertutup dan menampakkan Mark dengan wajah kusut yang berjalan gontai tanpa semangat.
Mark mendudukan dirinya tepat di sisi kanan Haechan, tanpa pikir panjang tangannya menarik Haechan kepelukan lelaki itu, meletakkan wajahnya tepat diceruk leher pemuda asal Jeju tersebut. Menyesap aroma vanilla yang keluar dari parfume yang dipakai Haechan.
Haechan merasakannya, nafas yang memberat dengan getaran kecil di bahu milik seseorang yang memeluknya kini. Dengan perlahan dia mengangkat kedua tangannya, meletakkan di punggung dan tengkuk belakang Mark, mengusap perlahan memberikan ketenangan.
Semakin lama Haechan mengusap pelan punggung itu, semakin keras pula punggung itu bergetar. Haechan tahu, Mark-nya sedang menangis. Terdengar dari isakan kecil yang tepat dibawah telinganya, juga punggung yang terus bergetar itu.
Haechan memeluk Mark, sesekali tangannya mengusap punggung dan belakang kepala Mark kembali, berharap dengan ini Mark dapat sedikit tenang. Haechan tidak mungkin meminta Mark untuk bercerita dalam keadaan seperti ini 'kan.
"Aku... jahat--"
"Ssttt... tenanglah, tenangkan dirimu dahulu baru bercerita"
Mark mengangkat kepalanya, ditatapnya wajah Haechan yang ternyata sudah sedari tadi duduk menghadapnya. Mata obsidian itu masih mengeluarkan perisai bening, mengalir dipipi tirus milik Mark.
Haechan mengangkat tangan dan mengusap air mata yang membanjiri wajah Mark. Mencium bekas air mata yang menggaris di pipi, dan berakhir di kedua kelopak mata Mark. Mengelus perlahan kelopak indah yang menutup itu dan turun ke pipi juga rahang tegasnya.
"Ada apa? Kau bisa bercerita" Haechan membuka suara saat dirasa Mark sudah lebih tenang.
"Aku... datang ke apartementnya, berencana mengajaknya makan siang tapi," Mark kembali berkaca menatap Haechan. "Aku melihat dia memasukan pakaian ke koper besarnya, dan ternyata dia akan pergi" Mark sedikit menunduk lalu mengangkat kepalanya kembali.
"Dia berkata banyak sekali, tapi yang dapat aku tangkap hanya satu... dia tersakiti olehku Haechan" Air mata Mark kembali turun dengan perlahan, membuat Haechan yang melihatnya menjadi ikut bersedih.
Diusapnya lengan Mark perlahan sembari menunggu Mark melanjutkan kalimatnya.
"Aku tidak tahu kenapa, tapi rasanya aku hancur. Saat tahu sahabat baikku harus tersakiti oleh tanganku sendiri"
"Aku bodoh Haechan, aku bodoh kenapa harus mempermainkan lelaki baik seperti Renjun. Aku menyesal..."
Haechan yang tahu Mark tidak dalam kondisi baik itupun hanya mampu menarik lelaki itu ke dalam dekapan hangatnya, hatinya serasa dicubit saat tahu Mark menangisi orang lain.
"Aku menyesal telah menyakiti orang sebaik dirinya."
Haechan ikut meneteskan air mata saat mendengar Mark mengatai dirinya bodoh sembari mengucap kata menyesal berulang. Ini bukan kesalahan Mark, dia ikut andil didalamnya.
"Aku tidak tahu harus bagaimana, sekarang sahabat baikku sudah pergi dariku. Bukankah aku jahat karena berhasil membuat sahabatku sendiri pergi?"
Haechan melepaskan pelukannya dan menatap Mark tepat di kedua bulatan tersebut. Mengambil nafas dan membuangnya perlahan, mengatur detak jantungnya yang kembali bertalu.
"Kau... tidak jahat. Ini sudah yang terbaik Mark-"
"Kau melakukan yang terbaik, dengan seperti ini Renjun bisa bernafas lega, tanpa harus merasa sakit hati karena ulahmu"
"Kau tahu? Ini semua sudah diatur oleh Tuhan. Kita hanya bisa bertindak."
"Untukmu, Renjun tetaplah sahabatmu, mungkin dia membutuhkan waktu sendiri saat ini. Tapi aku yakin, dia masih menerimamu sebagai sahabatnya" Haechan tersenyum manis walau pipinya sudah basah oleh air matanya sendiri.
"Haechan..."
"Kau tahu apa yang aku suka darimu?"
"Seluruh kata-katamu, membuatku tersihir dan kembali jatuh ke dalamnya. Membuatku sulit bangkit walau hanya merangkak sekalipun..."
"Aku terlalu mencintaimu..."
Haechan kembali berkaca, kalimat Mark benar-benar menghipnotisnya, seakan ini adalah kalimat yang mampu melelehkan dirinya.
"Maaf, karena membuatmu harus mencintai orang jahat ini Haechan..."
Haechan tersenyum kecil, air matanya kian menyurut walau masih tersirat rasa sedih di bola indahnya.
"Tak peduli sejahat atau sebaik apapun dirimu, aku tetap mencintaimu..."
"Tak peduli sekaya atau semiskinnya dirimu, aku tetap menyayangimu..."
"Tak peduli sesakit atau sesehatnya dirimu, aku akan tetap bersamamu..."
Haechan menghapus bekas air mata milik Mark, mengecup kembali kelopak mata indah itu, turun ke hidung bangirnya, lalu kedua pipi, dan juga dagu.
"Karena aku Lee Haechan, yang mencintai Mark Lee, apapun itu"
Setelahnya Haechan mengecup bibir Mark lama, penuh cinta. Seakan mendamba, karena kecupan itu benar-benar mewakili perasaannya kepada Mark.
Dia juga terlalu mencintai Mark, bahkan dia rela berkorban apa saja jika itu menyangkut Mark.
Mark tersenyum disela kecupan Haechan, tangannya merambat naik memeluk pinggang Haechan, menariknya semakin dekat.
Bibirnya perlahan bergerak pelan diatas bibir Haechan, mengecup basah bibir yang mengandung zat adiktif tersebut. Mengecup dan memainkan bibir itu sesekali.
Tangannya menekan pelan tengkuk milik Haechan, membawa ciuman itu semakin dalam. Menggigit pelan bibir Haechan dan menerobos masuk ke dalamnya. Bermain dengan lidah lembut milik Haechan, juga bermain dengan langit-langitnya. Mengabsen seluruh yang ada didalamnya tanpa tersisa.
Mengecap rasa bibir Haechan yang manis saat lidahnya bertemu dengan lidah hangat Haechan, juga mengecap sedikit micin berperisa rumput laut yang masih tersisa dimulut Haechan hingga tandas. Hilang tak bersisa.
Dirasa Haechan yang mulai kekurangan pasokan oksigen, Mark melepaskan tautan mereka. Mengusap benang saliva yang tercipta diujung bibir Haechan. Menarik pelan kepala Haechan dan menyatukan kening mereka.
"Thank you... thank you for giving your love to someone like me, Haechan"
Haechan mengangguk dengan senyum yang mengembang hebat. Dan diakhiri dengan kecupan hangat oleh Mark di dahi milik Haechan.
.
.
.
.
END
Thank you readers~ i love youuu~
Sepertinya aku akan membuat work baruu ngehehe xD
See yaaa in my ANOTHER WORLD eh WORK ~
.
Y
o
u
a
r
e
M
i
n
e
.
Bonus:
Hari semakin terik, matahari mulai naik ke atas kepala. Renjun yang berjalan di sekitar pusat kota Jilin harus menutupi kepalanya dari ganasnya matahari siang ini.
Sudah hampir dua minggu dia berada di Jilin tanpa mengabari 2 temannya, Jaemin dan Jeno. Tujuannya kembali ke Jilin hanya satu, menenangkan diri dan tentunya melupakan seseorang bernama Mark Lee.
Walau dalam hati dia mencoba menerima semuanya, tetap saja rasanya sakit. Tapi Renjun mengerti, Tuhan memiliki alasan tersendiri mengapa membuat Renjun menderita begini. 'Semuanya akan indah pada waktunya', setidaknya itu yang Renjun baca dari novel yang dia beli.
Kembali ke masa sekarang, dimana Renjun yang mengedarkan pandangan melihat sekeliling mencari cafe terdekat, terik ini membuatnya ingin menelan sesuatu yang dingin.
Matanya menangkap sebuah cafe di ujung jalan. Tanpa pikir panjang Renjun menuju cafe tersebut yang ramai pengunjung.
Tring!
Bunyi lonceng menandakan bahwa seseorang baru saja memasuki cafe. Renjun yang baru datang dengan segara menuju kasir, memesan.
"Selamat siang ada yang bisa dibantu?"
"Tolong, 1 Americano ice dan original french fries-nya ya"
"Take away?"
"Tidak, disini saja"
"Baiklah, anda bisa menunggu sebentar"
Setelah Renjun membayar pesanannya, matanya kembali mengedar mencari tempat duduk. Saat dirasa tak ada kursi kosong dia hampir menyerah tapi kembali tersenyum saat melihat kursi yang kosong disisi kanan pintu.
Dengan segera ia melangkahkan kakinya tanpa peduli lelaki mungil yang sudah duduk diseberangnya.
"Permisi, apa kursi ini kosong?"
Lelaki yang sedari tadi menunduk mengamati laptop miliknya mengangkat kepala dan tersenyum manis.
"Ya, kursi itu kosong. Kau bisa memilikinya"
"Terima kasih"
~~
Beberapa menit dalam keheningan, Renjun yang hanya terus mengamati lelaki mungil didepannya ini kembali menyeruput americano ice miliknya, dan mengamati lelaki tersebut -lagi-.
Merasa diawasi wajahnya mendongak, menatap lelaki yang kira-kira 4 tahun lebih tua darinya.
Lelaki manis tadi berdehem sebentar, menetralkan suaranya dan kembali menatap lelaki bersurai hitam didepannya.
"Halo~"
"Oh hai"
"Kau orang China?"
"Iya, orang tuaku asli China"
"Tapi wajahmu tidak seperti orang China kebanyakan. Matamu tidak sipit" Lelaki manis tadi menyipitkan matanya, membuat Renjun tertawa geli.
"Aku lahir di China, tapi lama di Korea."
"Ah... begitu. Lalu kenapa disini?"
"Mengunjungi keluargaku. Kau sendiri asli Jilin?"
"Tidak, aku dari Ghuangzou tapi tugas kuliahku mengharuskan aku pergi ke Jilin"
"Begitu ya... by the way, jurusan apa?"
"Bisnis, semester akhir"
"Pantas saja, wajahmu terlihat berantakan " Renjun tertawa kecil setelah mengatakan itu.
"Hey kau meledekku?" Lelaki yang ada didepan Renjun bersungut sebal.
"Tidak, aku hanya bercanda"
"Terserahlah, aku harus pergi. Sampai jumpa lagi, tuan Aneh"
"Hey, kita belum berkenalan. Namaku Renjun, Huang Renjun" Renjun menyodorkan tangannya.
"Zhong Chenle." Lelaki manis dengan mata sipit itu menjabat singkat tangan Renjun.
"Sampai jumpa Renjun ge, kuharap kita bertemu lagi" Setelahnya dapat didengar suara tawa yang sedikit melengking keluar dari belah bibir Chenle.
Membuat Renjun ikut tersenyum.
"Ya, semoga demikian Chenle"
.
.
.
.
.
FINE!
