Special Chapter from You Are Mine
MarkHyuck
-
-
-
flashback : italic
-
-
"Bagaimana dengan ini?"
Lelaki bersurai hitam itu menggeleng.
"Kalau ini?"
"Pilihan kedua, jangan yang lain"
"Apa bagusnya dari ini?" Haechan mengangkat setelan tuxedo berwarna merah maroon itu kedepan wajahnya.
Membolak-balik tuxedo berbahan elit itu dengan raut tidak tertarik. Sebenarnya dia tidak terlalu suka dengan warna maroon maka dari itu bibirnya sedikit mengerucut.
"Kau itu cantik kalau pakai warna selain navy. Aku tidak suka kau memakai warna navy"
"Kenapa sih Mark? Apa warna navy itu buruk untukku?"
Haechan menjatuhkan dirinya disebelah Mark. Kepalanya dia letakkan dibahu kanan Mark dengan tangan yang juga memeluk lengan kanan Mark.
"Kau tidak buruk, hanya saja kau terlalu sexy kalau memakai warna navy. Aku tidak ingin orang-orang melihatmu yang sexy itu saat pernikahan kita nanti"
Blush
Pipi Haechan memerah, dia tidak pernah sehangat ini sebelumnya. Apalagi Mark yang menyelipkan kata 'pernikahan' dipembicaraan mereka. Haechan merasa seperti mimpi saja kalau sebentar lagi mereka akan menikah.
Maafkan aku karena tak memberi tahu kalian. Jadi, Mark dan Haechan akan segera menikah. 2 minggu lagi lebih tepatnya. Pernikahan mewah, dihadiri sekitar 60 persen dari kolega bisnis kedua orang tua mempelai, dan sisanya teman dari putra mereka, Mark dan Haechan.
0000
"Menikahlah denganku Haechan"
Uhuk uhuk
Haechan tersedak sarapannya, apa-apaan ini? Batin Haechan bingung. Mark berbicara tepat didepan Haechan yang tengah memakan sarapan paginya, membuatnya terkejut dan menyangkutkan makanan ditenggorokan.
"A-apa? Kau bercanda?"
Mark bergeming, dirinya lalu merogoh saku celana panjangnya, mengambil kotak kecil berwarna hitam. Terlihat sangat mahal.
"Aku serius Haechan" Membuka kota cincin itu didepan mata Haechan.
Haechan terkejut, matanya membulat sempurna, rasanya seperti diterbangkan diatas awan bersama ribuan kupu-kupu warna-warni.
Perutnya terasa digelitik oleh kupu-kupu itu dari dalam. Sangat membahagiakan. Haechan kembali menatap Mark dengan mata berkaca, siap menangis.
Detik berikutnya Haechan bangkit, berjalan kearah Mark memeluk lelaki itu dengan erat, sangat erat. Sampai membuat Mark sulit bernafas.
"Ya! Aku mau, sangat sangat mau Markkk"
Setelahnya Haechan menarik dagu Mark, membawa bibirnya untuk bertemu dengan bibir Mark. Yang di'serang' hanya tersenyum lebar dan mengambil alih permainan.
Mark memutuskan untuk melamar Haechan tepat 2 bulan setelah masalahnya dengan Renjun selesai. Dia tidak boleh menunda-nunda kesempatan ini bukan? Lagipula dia tahu Haechan tidak akan menolaknya.
Jadi, dengan mantap dia melamar secara pribadi pagi itu di apartement Haechan. Dia juga sudah berbicara kepada kedua orang tuanya untuk masalah itu, dan minggu depan, mereka -Mark sekeluarga- ditambah Haechan akan terbang ke Chicago, menemui keluarga Haechan, melamar putra mereka untuk putra semata wayangnya.
Suasana di kediaman Lee sangat mewah, terlihat dari beberapa guci yang ditata apik disetiap sudutnya. Lampu kristal yang tergantung di tengah-tengahnya. Tampak mewah.
"Jadi apa tujuanmu?" Tuan Lee berbicara seperti akan menghakimi Mark.
Mark yang sudah gemetar menjadi semakin gemetar saat melihat mata dari -calon- mertuanya itu.
"Sa- saya ingin melamar anak anda Tuan"
"Apa yang kau punya?"
"Saya tidak memiliki apapun. Hanya seorang karyawan biasa di perusahaan ayah saya."
Siapa sih yang tidak kenal CEO Muda dari Lee Corp itu? Pemimpin dari 1 perusahaan utama, dan 3 anak perusahaan. Total 4 perusahaan sedang dipegang Mark (6 sisanya masih dipegang ayahnya) dan itu yang dibilang tidak memiliki apapun?
Lelaki yang berumur setengah abad itu menganggukkan kepalanya. Bohong kalau dia tidak mengenal Mark. Hanya orang bodohlah yang tidak mengenalnya.
"Hey John, kau terlalu kaku dengan anakku. Santai saja" Jaehyun, ayah Mark membuka suara setelah dari tadi menikmati pemandangan anaknya yang diinterogasi dadakan oleh teman masa SMA-nya. Johnny Lee.
Johnny tertawa, membenarkan kacamatanya yang merosot dan menatap Mark kembali.
"Hanya orang tolol yang menolakmu menjadi menantu mereka Mark."
Mark mengangkat kepalanya, dahinya berkerut bingung. Apa itu artinya lamarannya diterima?
"Ya. Aku restui kau dengan anakku Haechan. Jangan kau sakiti si manis itu ya. Aku sangat menyayanginya" Johnny berkata sembari menatap putranya yang tersenyum lebar kearahnya.
Memeluk putra bungsunya itu dengan sayang, dan mengecup beberapa kali puncak kepala itu.
"Aku mencintaimu sayang, berbahagialah dengan Mark ya" Johnny berbicara dengan sedikit berat hati, malaikat kecilnya akan segera pergi.
0000
Pernikahan itu digelar, garden party-lah yang keduanya pilih untuk resepsi pernikahan. Banyak sekali orang-orang disana yang memberikan ucapan 'selamat' untuk kedua mempelai, membuat Haechan dan Mark tak henti-hentinya tersenyum.
"Hey Boss!" Jeno datang dengan Jaemin di sampingnya.
"Hey Jen"
"Selamat atas pernikahanmu, aku senang mendengar kabar kau akan menikah dengan Haechan bulan lalu. Kau... membuatku iri saja" Jeno berbicara dengan sedikit drama diujung, membuat Jaemin memutar bola matanya malas.
"Haechan... selamat ya. Semoga kau dan Mark terus bahagia. Aku turut senang atas pernikahan kalian" Jaemin berucap dengan raut wajah berbinar.
Haechan memeluk sahabat kecilnya itu dengan sayang, temannya itu ikut andil dalam menyelesaikan masalahnya dengan Mark.
"Iya Jaemin, aku akan bahagia."
"Kalian kapan menyusul? Enak loh menikah itu" Mark mengejek Jeno dengan menaik-turunkan kedua alisnya.
"Tenang saja, 2 bulan lagi kami juga akan menikah" Jeno berkata mantap.
"APA?!?!?!" Ketiga orang disana hanya dapat menjatuhkan rahang.
..
.
Di kediaman Mark, rumah yang sudah dibelinya bertahun-tahun lalu itu sekarang kembali ramai. Ada orang tuanya dan juga orang tua Haechan.
Malam itu setelah acara pernikahan, mereka semua memilih bermalam di rumah Mark sekaligus rumah yang akan ditinggali oleh Mark dan Haechan selanjutnya.
Dua keluarga itu berbaur menjadi satu di ruang keluarga yang luas. Sembari menikmati camilan malam, orang dewasa disana mulai membicarakan hal yang membuat putra mereka malas setengah mati. Masa SMA orang tua mereka.
"Kau ingat saat Taeil melempar buku ensiklopedia tebal itu kearah guru Song? Benar-benar terlihat bodoh" Johnny tertawa keras layaknya remaja berusia 20. Sedangkan Jaehyun hanya sesekali menimpali cerita Johnny.
Mark melirik sisi kanan, dilihatnya sang ibu tengah asik bergosip ria dengan mertuanya, membuat Mark hanya menghela nafas sembari meletakkan kepala di bahu 'istri'nya yang sedang sibuk membaca majalah fashion.
"Kau tau Tae, Maldives adalah surganya dunia. Kau harus mencobanya"
"Tidak Ten, menurutku surga dunia itu ada di Italy. Bangunannya sungguh menawan. Aku jadi tak sabar untuk kesana lagi"
"Bagaimana kalau kita pergi bersama. Sepertinya sangat menarik"
Dan Mark yang sedari tadi menjadi pendengar yang baik hanya bisa mengelus dadanya, bersabar. Sekarang Mark tahu darimana sifat cerewet Haechan menurun, kedua orang tuanyalah yang menurunkan sifat mereka kepada Haechan.
"Jisung tidur duluan saja nak, sudah malam." Ten memerintah putra bungsunya untuk segera tidur.
"Yeaa Mom. Night all" Dan lelaki paling muda itu beranjak menuju kamar tamu miliknya.
"Mark, aku serahkan Haechan padamu. Aku percaya kau bisa menjaganya dengan baik. Jangan rusak kepercayaanku untukmu"
"Aku tidak akan membuat Haechan menyesal telah menikah denganku Dad"
"Oh anakku Haechan~ kemari nak, Daddy ingin memelukmu" Haechan mendekat dan menubrukkan tubuhnya ke tubuh besar ayahnya.
"Tak menyangka secepat ini kau meninggalkan Daddymu yang tampan ini. Berbahagialah dengan Mark ya Haechan. Daddy sangat mencintaimu"
"Daddy berbicara seakan-akan Haechan akan pergi jauh saja. Love you too Dad~"
"Ya Daddymu itu berlebihan sekali. Seperti Haechan akan mati saja"
"Mom!!!" "Baby!!!" Dan 2 lelaki yang dicintai Ten itu meneriakinya bersamaan. Membuatnya tertawa puas melihat anak dan suaminya yang cemberut sebal.
.
.
.
.
"Hay sayang~ selamat pagi" Mark berucap dengan mata membentuk sabit.
"Pagi Mark"
"Bagaimana tidurmu? Apa kau nyenyak?"
"Ya sangat sangat nyenyak" Haechan merapatkan pelukannya. Memosisikan kepalanya menempel tepat didada Mark.
Mark mengelus surai brunette itu. Sesekali pucuk kepalanya Mark kecup ringan. Sangat penuh dengan kasih sayang.
"Ini hari pertama kita menjadi suami-'istri'. Kau tidak ingin melakukan sesuatu?"
Haechan mengernyit, kepalanya mendongak keatas menatap tepat dimata gelap milik Mark. Yang ditatap hanya memberikan senyum menawan tanpa tahu arti dibalik senyum itu.
~~~
Haechan berjalan tertatih menuruni anak tangga rumahnya. Dirinya harus keluar kamar untuk menemui orang tua mereka dan juga untuk sarapan tentunya.
"Pagii Haechan~ Oh! Lihat anak kita, jalannya seperti penguin ya. Lucu sekali" Ten menjahili anak sulungnya.
"Astaga mari Mama bantu, kau terlihat kesakitan. Berapa banyak Mark menghajarmu sayang" Taeyong berjalan menghampiri Haechan yang masih kesulitan berjalan.
Jangan lupakan pipinya yang memerah padam mengingat betapa kerasnya Mark mengerjai dirinya tadi pagi. Menurut Haechan seks tadi pagi adalah yang terbaik selama dia seks dengan Mark. Mungkin karena efek mereka yang sudah menjadi pasangan suami-'istri'.
"Mama dan Mommy akan berangkat kapan?"
"Kalo Mommy mungkin setelah makan siang. Entah kalau Tae"
"Aku mungkin setelah sarapan. Karena Papamu Jaehyun ingin berkunjung ke rumah kerabatnya sebelum take off"
Haechan yang mengerti hanya mengangguk paham. Sesekali dia membantu ibu dan mertuanya membereskan meja makan. Mereka akan sarapan bersama.
"Daddy!!! Panggilkan Jisung dan mari kita sarapan." Ten berucap lantang memanggil suaminya yang sedang bersantai di teras bersama Jaehyun.
"Yaaa" Dan dijawab dengan teriakan oleh Johnny.
"Morning semuanya~"
"Morning Mark. Baru kelihatan, kemana saja?"
"Selesai beres-beres Pa"
"Beres-beres yang bagaimana?" Sekarang Johnny ikut menimpali Jaehyun setelah sampai di meja makan.
"Papa dan Daddy pasti tau" Dan ketiga dominant itu tertawa bersamaan.
Haechan dan Mark, kini kedua lelaki itu resmi menikah. Setelah banyak hal yang mereka lewati, masalah demi masalah mereka selesaikan.
Karena banyaknya masalah sebelum mereka menikah, membuat mereka semakin menyatu satu sama lain. Mereka sungguh menerapkan konsep saling-memberi-dan-menerima dengan benar.
Haechan terlalu mencintai Mark, sehingga apa yang Mark berikan padanya tak pernah ditolaknya. Dan Mark teramat mencintai Haechan, sehingga memberikan segala yang dia punya untuk Haechan 'istri'nya.
Seperti saat ini...
"Fuckk~ aahhh fashh-terr sshh"
Haechan mendesah hebat saat Mark kembali menghajarnya habis-habisan.
Ini kali ketiga mereka seks dalam sehari. Di tempat tidur. Bath up. Dan kembali di tempat tidur.
Hormon keduanya benar-benar meletup. Sangat membuat keduanya lelah tapi mencapai surga diwaktu bersamaan. Ini nikmat, kalau kata Haechan dan juga Mark.
"Kau- benar-benar sem-pitt sayanghh"
Mark mengerang saat miliknya terasa dijepit Haechan dengan kuat. Membuatnya semakin tidak sabar untuk menemui puncaknya.
"Aahh sshh ce-cepat se- ahh selesaikan ahh ah akuhh sampaiih"
Haechan secara refleks mengetatkan kembali lubang miliknya. Membuat Mark kembali mempercepat tempo miliknya.
Astaga Haechan benar-benar membuatnya gila. Mark tidak tahan...
Setelah titik ternikmat milik Haechan ditumbuk 3 kali oleh kejantanan Mark, mereka berdua sampai secara bersamaan.
Mark mengeluarkannya didalam sana dan tepat memenuhi Haechan. Sedangkan Haechan berhasil mengotori seprai dan juga perutnya.
"Kau benar-benar yang terbaik Haechan" Mark mengusap pipi Haechan, membawa lelaki manis itu ke pelukan hangatnya.
"Kau juga yang terbaik"
Haechan menenggelamkan wajahnya didada hangat sang suami. Menghirup aroma tubuh sang dominan yang persis seperti zat adiktif. Sangat candu.
"Aku sangat mencintaimu. Terima kasih untuk segalanya"
"Aku juga sangat mencintaimu Mark. Bahkan aku harus banyak berterima kasih kepadamu karena mau menungguku selama ini"
"Kau tahu? Betapa pengecutnya diriku dulu saat memilih melepaskanmu dan hidup dengan sok kuat disana tanpa dirimu"
"Sekarang aku paham, betapa berharganya dirimu untukku, dan betapa beruntungnya diriku dicintai oleh pria sepertimu Mark"
Cup
Dikecupnya bibir yang masih membengkak itu dengan lama, Mark juga memberikan lumatan kecil untuk bibir itu tapi tidak benar-benar menuntut. Hanya lumatan kecil yang memabukan.
"Bibirmu itu sangat pandai berbicara ya. Kau tahu Haechan? Aku ini sudah jatuh terlalu dalam karena pesonamu. Sulit untukku menghilangkan segalanya yang ada padamu. Bahkan Renjun saja tidak mampu menggantikannya"
"Aku yakin suatu saat kau akan kembali lagi padaku, dan kita akan bersama untuk selamanya-"
"Dan lihat, ini semua terwujud. Aku benar-benar bersyukur atas apa yang ku miliki sekarang. Pekerjaan, teman-teman, dan tentunya 'istri' manis sepertimu"
"Terima kasih atas segalanya Haechan. Aku, juga berterima kasih atas dirimu yang masih mau menerimaku dengan seluruh hatimu walau aku terlihat breng-"
Cup
Haechan mengecup bibir Mark kilat untuk menghentikan suaminya berbicara panjang lebar. Membuat Mark bungkam dengan gerakan tiba-tiba dari Haechan.
"Bibirmu itu cerewet sekali ya" Haechan terkikik geli melihat wajah terkejut suaminya. Benar-benar bodoh.
"Terserah yang penting aku mencintaimu"
"Iya iya, aku juga mencintaimu Mark"
Dan mereka kembali menyatukan bibir keduanya. Berbagi kebahagiaan yang membumbung tinggi atas segala pengorbanan yang mereka lakukan selama ini.
Mengorbankan perasaan benar-benar hal yang sulit. Hanya dua hal yang terjadi saat menyangkut perasaan. Antara egois untuk memertahankan, atau ikhlas untuk melepaskan.
Dan mereka, benar-benar melewati keduanya. Memertahankan perasaan mereka selama ini. Juga, melepaskan perasaan yang sebenarnya dapat diraih.
_
_
_
END
Akhirnyaa saya bisa bikin special chapnya huhuhu
Maaf mengecewakan kalian (cry)
Sampai Jumpaaaa smuwaaa
cek juga di work wattpad aku @tiramisumacaron
