Teh yang dibuat Lisa sangat lezat dengan sedikit citra rasa citrisquid. Vanadise meneruskan ceritanya setelah meminum sedikit tehnya, "kami mencari nun dan Matilda ke sana kemari. Kami juga kehilangan jejak Escad dan itu membuat Keith uring-uringan."
Elazul dan si kembar elf pun kembali menyaksikan dengan seksama.
- Fate & Destiny -
"Tunggu, Keith!" Vanadise mencegah saudaranya yang ingin melompat dari pinggir tebing, "kau mau ke mana?"
"Mencari Escad tentunya! Orang itu kalau sendiri pasti tidak akan ketemu!" Gerutu Keith.
"Sebentar, memangnya kau tahu Matilda dibawa kemana?" Tanya Daena.
Keith menghela napas, "tidak, tapi setidaknya aku akan mencari dengan kepala yang lebih dingin." Barulah ia sadar kalau di depannya adalah Daena yang pernah diceritakan Vanadise. "Jadi kau Daena?"
"Ya, aku-"
"Kau, Escad, Matilda, dan Irwin adalah teman sejak kecil. Aku tahu," potong Keith cepat, "aku sebenarnya ingin perkenalan yang layak tapi sekarang bukan waktunya."
"Ini Keith, Daena," ujar Vanadise, "dia kakak kembarku."
"Yep dan lebih baik kita langsung mencari mereka," kata Keith.
"Sepertinya tidak perlu," Vanadise menunjuk ke arah dungeon Gato, "bukankah itu Escad?"
Tanpa menunggu, Keith langsung lari menghampiri Escad, disusul oleh Vanadise dan Daena.
"Hei, Escad! Kau menemukan mereka?" Tanya Keith.
"Keith..." Escad pun menggeleng, "aku kehilangan mereka. Tempat ini terlalu luas. Mungkin mereka juga sedang bersembunyi, menunggu sampai kita pergi."
Daena pun melangkah maju, "kita belum mencari mereka ke Ruang Meditasi. Mungkinkah mereka bersembunyi di sana?"
Kening Escad mengerut, "bukannya itu tersegel? Memangnya kita bisa masuk?"
Daena menggeleng, "aku memintanya agar selalu dibuka kalau ada apa-apa."
Kini Escad memasang tampang sebal, seperti tidak suka Daena berbuat seenaknya. Pemuda itu membuang muka dan melangkah ke salah satu mulut gua.
"Hei, Escad!" Keith memanggil.
"Mereka bisa saja sudah pergi dari sana," kata Escad tanpa berhenti, "aku akan mencari mereka sedikit lagi."
Keith menghela napas panjang sebelum beralih ke arah Vanadise dan Daena, "dia memang tidak pernah mendengarkan orang lain," keluhnya, "apa memang seperti itu sejak kecil?"
Sebuah senyuman pahit tersungging di bibir Daena. Masa lalu membuatnya merasa sentimental, "dia memang keras kepala."
"Aku akan mengikutinya," kata Keith, "Vanadise, jangan berpisah dari Daena!" Ia pun berlari menyusul Escad. "Hei, Escad! Tunggu sebentar! Ugh, kau ini!"
"Lebih baik kita ke mana?" Tanya Vanadise pada Daena.
"Aku bisa membawamu ke ruangan yang kusebut tadi."
"Kau yakin mereka ada di sana?"
"Entahlah," Daena terlihat tidak yakin, "aku yang meminta agar ruangan itu selalu dibuka, dengan begitu bukankah itu sudah bukan tempat persembunyian?"
Vanadise mengangkat bahu, "tidak ada salahnya dicoba."
- Fate & Destiny -
"Bersama Daena aku ke Ruang Meditasi. Ruangan itu ternyata cukup jauh. Kami juga bertemu beberapa nun yang bisa dipercaya. Mereka mengikuti kami," Vanadise mengetuk-ngetuk pelan jarinya di meja.
"Selama perjalanan itu kalian tidak bertemu Keith?" Tanya Elazul.
"Tidak," jawab Vanadise, "mungkin karena Escad mengira mereka sudah keluar dari ruangan itu, jadi kami tidak berpapasan."
"Apakah Master menemukan Matilda?" Bud penasaran.
Vanadise mengangguk, "kami menemukan Matilda. Tapi…"
- Fate & Destiny -
Matilda ada di sana, tergeletak di lantai, tidak berdaya. Vanadise segera menarik tombak dan melemparnya ke arah nun yang menculik Matilda. Nun itu dengan gesit menghindar jauh. Daena segera berlari dan menggendong Matilda ke kedua nun yang mengikuti.
"Kalian bahkan tidak sadar kalau ini adalah jebakan!" Ujar nun penculik.
"Apa yang kau maksud dengan jebakan?" Daena mengeram.
"Abbess Matilda!" Salah satu nun membantu Daena dan membantu menyadarkan Matilda. Namun Matilda hanya memberi respon erangan kecil.
"Kita harus membawanya ke tempat yang aman!" Ujar nun satu lagi.
"Benar, jauhkan dia dari pertempuran…." Kata nun penculik, "tapi aku akan membawanya lagi."
"Aku akan membuatmu menyesal dengan apa yang telah kau perbuat!" Teriak Daena.
"Cepat pergi dari sini," ujar Vanadise pada kedua nun, "jangan sampai lengah. Mungkin masih ada musuh di luar sana."
Kedua nun mengangguk dan langsung membawa Matilda pergi. "Ayo kita pergi, Abbess."
"Yah, bawalah dia pergi sekarang," nun penculik tampak santai, "pertunjukan baru saja akan dimulai!" Dia pun terkekeh-kekeh dengan nada keji, "aku akan membawa Matilda pada Lord Irwin setelah pertarungan ini."
Vanadise langsung menarik sebuah pisau dan Daena pun memasang kuda-kuda.
"Baiklah…" Nun itu terkekeh lagi, kali ini suaranya sangat aneh berat dan penuh distorsi. Asap hitam pekat nan tebal keluar dan menyelimuti penuh sang nun yang masih tertawa dengan aneh. Ketika asap mulai menipis, nampaklah makhluk aneh seperti jin bertubuh putih. Makhluk itu melayang dan tidak memiliki kaki, badannya seperti terpelitir, ornamen seperti bulu menjulang menghiasi pundak kanannya, wajahnya memakai topeng, lidahnya menjulur seperti haus darah.
Daena dan Vanadise bergidik ngeri. Makhluk itu sama sekali tidak enak dilihat.
"Namaku adalah Spriggan!" Suara makhluk itu menggema, "dan aku akan menghancurkan kalian!"
- Fate & Destiny -
"Uwaaaaaaaaah!" Bud dan Lisa terlihat semangat.
"Aku yakin pasti Master bisa mengalahkan monster itu dengan mudah!" Kata Lisa dengan mata berbinar.
Bud mengangguk, "apalagi ada Daena! Aku yakin kalian tidak terkalahkan!"
Vanadise tertawa miris sebelum mengibas tangannya, "kami kalah telak."
"Eeeeh!?" Anak-anak elf itu terlonjak. Bahkan Elazul pun berkedip tidak percaya.
"Itu sudah berapa tahun lalu dan aku tidak seperti sekarang ini," keluh Vanadise, "sudah kukatakan kan? Yang pahlawan itu adalah Keith, aku kebanyakan berada di rumah." Gadis itu sedikit menghela napas dan menyandarkan punggungnya. "Dan Spriggan bukanlah makhluk yang bisa diremehkan. Dia adalah anak buah Irwin, seorang iblis yang memiliki kekuatan besar. Spriggan sangat kuat, dia bisa membuat bayangan yang sangat identik dengan dirinya dan membuat kami menebak-nebak yang mana tubuh aslinya. Ditambah lagi sihir kegelapannya yang bisa membuat kami tercekik."
- Fate & Destiny -
"Daena!" Teriak Vanadise ketika Daena jatuh pingsan karena serangan sihir tinggi Spriggan. Vanadise yang sudah mendapatkan tombaknya kembali, memokuskan energinya ke dalam tombak, "Nebulous Saucer!" Ia melempar tombaknya ke Spriggan dan melompat untuk menyelamatkan Daena. Secepat mungkin ia kembali melompat jauh. Tombak yang ia telah lempar, kembali selayaknya bumerang. Spriggan mengerang keras dan mengutuk sumpah serapah.
Vanadise beralih pada Daena dan berusaha membangunkannya. Dia lega ketika tahu Daena hanya terkena sihir tidur, bukan pingsan. Baru saja Vanadise ingin menghela napas lega, Spriggan mengeluarkan sihir dasyat yang mebuatnya terlempar menghantam dinding batu yang tajam. Vanadise jatuh ke lantai, badannya terasa remuk dan tidak berdaya.
"Dae...na..." Penglihatan Vanadise makin buram. Samar-samar ia melihat Spriggan menghampiri Daena dengan wajah bengisnya.
"MENJAUHLAH KAAAAAAAAAAAAAAAAAAAU!"
Teriakan itu membuat Vanadise menelungkupkan kepalanya ke lantai. Bukan karena ia kaget, tapi karena lega. Saudara kembarnya datang menyerbu dengan sabetan yang cukup heboh.
"Cross Strike!" Keith memukul jauh Spriggan lalu menyabetnya secara bertubi. "Dasar makhluk biadab... Berani-beraninya kau membuat Vanadise jadi seperti itu!" Sebuah hantaman pedang membuat Spriggan terpukul mundur.
"Ughh!" Spriggan mengerang kencang, "kau akan hancur dengan sihirku!"
"Hmph," Keith memutar pedang dan memasukkannya kembali ke dalam sarung dengan penuh percaya diri, "sihir? Kau berani beradu sihir denganku, hah?" Bersamaan dengan senyumnya yang penuh provokasi, 10 drum terpanggil dengan sihir, mengelilingi Keith seaakan mereka adalah pelindung. "Kita lihat sihir siapa yang lebih kuat."
- Fate & Destiny -
"Ketika itu..." Vanadise terhenti ketika melihat anak-anak asuhnya melongo. "Lisa.. Bud...? Kalian tidak apa-apa?"
"Se...se.. SEPULUH DRUM!?" Lisa heboh, "memangnya bisa memakai sihir dengan 10 alat musik sekaligus!?"
"Walau jenisnya sama, tapi biasanya mustahil menggunakan sihir dengan lebih dari 4 alat musik kan!?" Timpal Bud tidak kalah heboh.
Elazul yang tidak pernah memakai sihir hanya bisa diam sambil minum teh dengan tenang. Pemuda lapis lazuli itu tidak pernah belajar tentang sihir karena ia tidak pernah merasa perlu. "Tapi mungkin aku harus tanya Esmeralda lain kali..."
Kembali Vanadise tertawa miris, "Keith memang pandai memainkan alat musik, tapi hanya untuk Starry Night... Kalau untuk pertarungan..." Vanadise menatap kosong langit-langit dengan wajah hampa.
"M-master?"
"Keith... Dia akan memainkan alat musik dengan asal dan dengan suara sumbang..." Vanadise memegang keningnya sendiri seakan ia tidak mau mengingat apa yang sedang diingat.
"Eh!? Tapi bukannya sihir musik ada cara khusus? Seperti lagu, ritme, tempo..." Tanya Lisa bingung.
"Entahlah.. Tapi Keith punya cara unik untuk membuat lagu sihirnya sendiri..." Vanadise memijat keningnya, "lagu Starry Night dibuat dengan sangat hati-hati, penuh dengan lirik suci yang lembut... Tapi lagu Keith..." Vanadise menggumam-gumam tidak jelas.
"Vanadise...?" Elazul memanggil khawatir. Sesumbang dan seasal apakah musik Keith?
"Jadi waktu itu... Keith kalau menggunakan sihir, apalagi dengan drum... Keith akan menabuh drum-drumnya dengan kasar dan penuh semangat, bahkan terlalu semangat, juga menyanyikan lagu yang tidak jelas liriknya..."
"Memang lagunya seperti apa?" Suara Bud terdengar takut.
"Jadi.. tabuhannya itu... seperti ini..." Vanadise berdiri dan mengambil sebuah ember lalu membalikkannya di lantai. "Bersiaplah kalian..."
Elazul, Bud, dan Lisa sama sekali tidak menyangka neraka apa yang sedang menanti mereka.
- Fate & Destiny -
"OLE OLE OLE OLE OLE! OLEEEEEEEEEEOOOO! KUKIS PENUH DENGAN COKLAT DAN KRIM SUSU YANG SANGAT MENGGUGAH SELERA! KELINCI PUTIH MELOMPAT DARI TEBING PENUH DEPRESI. WAHAI KELINCI LIHATLAH OLEO YANG PENUH KRIM PUTIH SEPERTI RAMBUT TIPISMU YANG MENYEDIHKAN! INILAH OLEEEEEEOOOOLEEEEOOOOO OHLEEEEEOHHHHHHHHHHHHHHH! YOOOOOOOOOOOOOOHHH! YEEEEEEEEEEEEAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAHHHHHH!"
Daripada menabuh, yang dilakukan Keith lebih tepat dengan memukul secara brutal drum-drum magis di depannya. Daripada menyanyi, yang dilakukan Keith lebih tepat disebut dengan meneriakkan sorak sorai tidak jelas.
"SAKIT HATI KELINCI ITU PENUH DENGAN KESEDIHAN. IA INGIN MELOMPAT NAMUN TERINGAT OLEO YANG PUTIH SEPERTI DIRINYA. OH OLEO KAPANKAH KAU DATANG!? APAKAH KAU AKAN MEMBIARKANKU KELINCI HINA INI MATI!? OLEEEEEEOOOOOOOO! YEAAAAAAAAAAAAAAAAHHH!"
Walau mengerikan, sumbang, dan tidak jelas, sihir yang dikeluarkan dari tabuhan dan nyanyian Keith sangatlah ganas. Perpaduan antara kekuatan magis Wisp dan Aura membuat Spriggan sama sekali tidak berkutik dengan sihir kegelapannya. Namun, ketimbang terlihat suci dan megah, kekuatan magis Wisp dan Aura terlihat seperti amarah dan amukan dari masing-masing spirit.
"RASAKAN INI! HOLY DRUM MADNESS!" Keith melompat untuk melakukan tabuhan terakhir yang amat sangat kuat sampai drum itu sendiri hancur berkeping-keping.
Bersamaan dengan hancurnya drum, jeritan Spriggan menggema di seluruh ruangan. Sihir dari Wisp dan Aura membungkus Spriggan dan melenyapkan makhluk itu sampai tidak bersisa.
"Heh..." Keith tersenyum senang. Drum-drum magis lainnya menghilang bersamaan dengan hilangnya sisa-sisa sihir Wisp dan Aura.
"Vanadise! Lih-" Keith terkejut melihat saudarinya yang malah terkapar tidak berdaya, "VANADISE!" Ia segera berlari dan mengangkat tubuh Vanadise, "bangunlah! Hei! Van-"
"L-lagumu... Tolong..." Vanadise terbata, "lagu...mu... membunuhku..." Ia pun pingsan.
"HEI! Apa maksudmu itu!? Hei, tunggu! Jangan pingsan dulu! Vanadise!"
- Fate & Destiny -
Dari dalam rumah itu sudah tidak terdengar apapun lagi. Seorang sproutlings perlahan-lahan mendekati pintu dengan takut-takut. Beberapa saat lalu ia mendengar sesuatu yang mengerikan, seperti siren buta nada yang sedang menyanyi keras saat terkena flu, juga ada dentuman ganjil yang tidak karuan. Diputarnya kenop pintu dengan hati-hati. Alih-alih terkunci, pintu itu dapat dibuka dengan mudah. Di sana lah sproutlings menyaksikan sebuah tragadi.
Si kembar elf terkapar di lantai, mereka terlihat seperti tidak bernyawa. Seorang pemuda serba hijau biru duduk bersandar di tiang, energinya seperti terkuras habis. Sementara itu, sang pemilik rumah berada di pojokan meringkuk dengan penuh kegelapan.
"H..." Sproutlings itu bergidik, "HYAAAAAAAAAAAAAAAAA!" ia berteriak kencang.
-00—00—00—00—00—
"Kukira ada apa! Jangan mengagetkanku begitu!" Omel Duelle, sang Onion Warrior yang kebetulan lewat dan melihat sproutlings berlari dengan kencang. Ia langsung mengecek ke rumah Vanadise dan menyadarkan semuanya.
"Lagu yang mengerikan..." Keluh Elazul sambil memijat kening, "dalam beberapa arti, aku kagum dengan Vanadise yang bisa menirukannya... Mungkin secara... Tepat...?"
"Kumohon jangan menyamakan aku dengan Keith... Tapi..." Vanadise menutup mukanya dengan handuk hangat, "mungkin saking mengerikannya lagu itu sehingga membuatku terngiang."
"Jangan pernah lakukan itu lagi, Master," kata Lisa sambil mengaduk-aduk teh yang baru.
"Yeah, kami bisa mati..." Timpal Bud.
Duelle menghela napas panjang, "lagu drumnya Keith ya? Sungguh nostalgia."
Vanadise berkedip, "kau tahu Keith?"
"... Siapa yang tidak tahu Keith?" Duelle mengangkat bahu, "aku tidak tahu sejak kapan tapi... Sejak Keith tidak terlihat lagi, tidak ada pula yang berani bertanya padamu. Entah tenggorokan kami seperti tercekat sesuatu. Apalagi ketika kau tidak mengenali beberapa dari orang-orang Domina yang seharusnya akrab dengan kau dan Keith."
"Mungkinkah itu efek dari Olbohn?" Elazul beralih pada Vanadise.
Vanadise melepas handuknya, "mungkin pula karena energi Mana? Entahlah," gadis itu menegakkan badannya, "banyak misteri yang belum kupecahkan. Kurasa memoriku juga belum sepenuhnya pulih."
"Hei, boleh aku ikut mendengar?" Tanya Duelle, "mungkin aku bisa mencegah hal-hal yang tidak diinginkan seperti tadi."
"Amat sangat boleh!" Seru Elazul, Lisa, dan Bud bersamaan.
Vanadise menghela napas pelan, "kalian..."
"Ah, kue pie-nya sudah habis," Lisa mengambil piring utama dari atas meja.
"Tehnya juga," kata Bud sambil berusaha mengeluarkan tetes terakhir dari teko.
"Kurasa masih ada sekaleng kukis dan keripik sweet moai," Vanadise beranjak ke dapur dan mengecek.
"Aku akan membuat teh tambahan," ujar Lisa menyusul sambil membawa piring-piring kosong, sementara itu Bud langsung mengambil alat makan yang baru.
Duelle menarik kursi dan duduk, "kau terlihat lebih bersahabat daripada sebelumnya ya, Elazul. Aku bisa ingat kau hanya menjawab sepatah dua patah kata dengan dingin. Amarahmu juga tidak terkontrol."
"Hmph," Elazul mendengus, "bukan urusanmu."
Mendengarnya, Duelle hanya terkekeh pelan, "bagus deh."
-00—00—00—00—00—
"Baiklah mari kita lanjutkan," ujar Vanadise setelah semua tertata rapi kembali.
Setumpuk kukis coklat dan vanila sudah dituang di atas piring besar, semangkuk besar keripik sweet moai pun terlihat sangat menggugah selera. Cangkir-cangkir sudah penuh dengan teh heart mint hangat yang sangat harum.
"Butuh waktu cukup lama untuk Keith menyadarkanku dan Daena. Setelah itu kami kembali ke kuil, menemui Escad dan Matilda."
- Fate & Destiny -
"Escad..." Matilda terbaring lemah di tempat tidurnya, "tolong dengarkan aku."
"Tidak, Matilda," cegah Daena, "aku yang akan mengatakannya, kau harus istirahat."
Matilda menggeleng, "tidak, akulah yang akan mengatakannya." Wanita itu menatap Escad dengan matanya yang sayu, sangat sulit untuk melihatnya sebagai gadis pada umur sebenarnya. "Escad... Aku tidak ingin menyerah pada kebebasanku dan menjadi priestess. Irwin hanya ingin membebaskanku dari kehidupan yang terikat oleh peraturan ini."
"Sadarlah Matilda!" Bentak Escad, "hentikan semua ini! Jangan kau biarkan iblis itu melakukan ini padamu! Apa kau tidak berpikir bagaimana nanti Irwin akan menggunakan energi yang dia ambil darimu!?"
"Cukup, Escad!" Seru Daena.
Vanadise dan Keith hanya saling berpandangan sebelum menyimak kembali. Mereka tidak ada hak untuk menyela pembicaraan mereka ataupun berpendapat. Si kembar hanya memilih diam. Dari raut mata Keith, ia benar-benar ingin mengatakan sesuatu.
"Dan kau, Matilda," Daena menghela napas, "kau butuh istirahat."
Escad menggeleng dengan kecewa, "dari kita kecil kau tidak pernah menganggapku serius. Tapi aku tidak akan membiarkan iblis itu memperoleh kekuatan lebih banyak lagi!" Pemuda itu berjalan keluar dengan langkah yang marah.
Tidak seperti sebelumnya, Keith tidak menyusul Escad. Ia melangkah mendekati Matilda yang kini menitikkan air mata. "Tegarlah..." Ujarnya.
"Hanya ketenangan surgawi yang bisa menghiburku," Matilda menutup wajahnya, meredam isak tangis yang ditahan.
"Jangan bicara seperti itu!" Seru Daena.
Keith tidak berkata apa-apa lagi, ia melangkah menjauh dan menghampiri Vanadise, "sudah waktunya kita pulang..."
Vanadise mengangguk.
- Fate & Destiny –
"Kami pun pulang tanpa bicara banyak. Sejak saat itu Keith terlihat lebih banyak berpikir. Walau begitu kami tetap menjalankan kehidupan kami seperti biasa. Keith tetap melakukan petualangannya, aku tetap mendukungnya dengan membuatkan, melakukan pemeliharaan pada senjata dan peralatan, bekal dan lain-lain. Tapi sesekali aku keluar juga..." Vanadise meminum tehnya sebelum melanjutkan, "waktu itu sudah lewat dua minggu sejak tragedi penculikan Matilda..."
- Fate & Destiny –
Mata emeraldnya mencari ke sana kemari, namun kuil Gato Grottoes terlihat lebih sepi dari biasanya, Vanadise pun tidak bisa menemukan Daena. Mungkinkah Daena berada di kamar Matilda? Vanadise tidak yakin karena ada nun yang sedang berjaga di depan. Kalau ada orang di sana, tidak mungkin nun itu berdiri di depan pintu.
Baru saja Vanadise akan berbalik ketika ia mendengar seseorang memanggilnya. Nun yang berjaga memberi isyarat agar Vanadise mendekatinya.
"Abbess kami memanggilmu," ujar nun itu, "silakan masuk."
Vanadise berkedip, "apa Matilda tahu aku akan datang?"
Sang nun menggeleng pelan, "Abbess hanya berpesan kalau kau atau saudaramu datang, aku harus mempertemukan kalian dengan Abbess."
Walau agak ragu, Vanadise pun masuk ke kamar Matilda. "Hei, Matilda," sapanya sambil melangkah ke sisi tempat tidur, "bagaimana perasaanmu hari ini?"
"Entah apa yang kurasakan," Matilda tersenyum pahit, "maaf aku harus memanggilmu ke sini."
Vanadise menggeleng pelan, "tidak masalah."
"Aku ingin minta tolong padamu," kata Matilda, "ini tentang Daena.."
"Daena? Apa yang terjadi? Aku tidak melihatnya di sini."
"Dia pergi, dia bilang dia ingin bicara dengan Irwin. Dia belum kembali sejak saat itu.."
Vanadise terkejut, "belum kembali sejak saat itu? Saat itu kapan?"
"Tiga hari yang lalu," jawab Matilda lemah, "bisakah kau mencarinya?"
"Hei, tenanglah. Tidak perlu kau minta aku memang sedang mencarinya," Vanadise menggenggam tangan Matilda, terasa lemah, rapuh dan tidak berdaya. Namun Vanadise menggenggamnya dengan erat penuh kepastian. "Aku akan menemukan Daena."
"Terima kasih," Matilda tersenyum dan menggenggam balik tangan Vanadise, "aku akan berdoa untuk keberuntunganmu. Daena sudah seperti adik perempuanku sendiri."
- Fate & Destiny –
"Ah aku ingat," ujar Duelle, "waktu itu kau mencari ke Domina kan?"
"Ya, kita bertemu..." Kemudian gadis itu tertegun, "benar... Kau benar.. Aku ingat... Kau cukup akrab denganmu..." Vanadise menggelengkan kepala sedikit, berusaha agar memorinya kembali.
"Kau tidak apa-apa, Vanadise?" Tanya Elazul, khawatir.
Vanadise mengangguk, "Jangan khawatir.. Aku hanya mengumpulkan pecahan-pecahan memoriku dan memasang mereka kembali..." Gadis itu kemudan beralih pada Duelle, "Ya, saat itu, Keith sedang jalan bersamamu, Duelle," kata Vanadise, "waktu aku sebut nama Daena, Keith langsung mengerutkan dahi."
"Mengerutkan dahi?" Elazul membuka suara.
"Daripada heran, bisa dibilang Keith terlihat kesal..." Vanadise pun melanjutkan ceritanya.
- Fate & Destiny –
"Aku sendiri belum bertemu dengan Escad!" Keith mulai mengomel, "orang itu kalau pergi benar-benar ke antah berantah. Apanya yang mau membuatku jadi pahlawan coba!? Ini namanya pemberi harapan palsu!"
"Tapi kan kau sudah pahlawan..." Ujar Duelle dengan santai.
"Arrghh, Duelle! Kau jangan membuatku tambah kesal!" Gerutu Keith.
"Jadi intinya kalian tidak melihat Daena kan?" Tanya Vanadise.
"Rencananya aku akan bertanya pada Meimei," Keith mulai melangkah, "ramalan Meimei bisa dipercaya."
Vanadise beralih pada Duelle, "kurasa tujuan Keith ke sini memang untuk ketemu Meimei kan?"
"Heh," Duelle terkekeh, "dia memang menyukai Meimei dan selalu beralasan agar bisa minta diramal. Walaupun sebenarnya Meimei sih senang-senang saja dapat pelanggan."
Vanadise menghela napas dan segera menyusul saudaranya bersama Duelle.
Di sana, Keith sudah terlihat sumingrah dengan senyum yang ceria, "hei Meimei! Lain kali bagaimana kalau kita jalan-jalan pesiar di atas kapal?"
Vanadise dan Duelle pun menatap datar. Sebelum Keith lupa dengan tujuannya, Vanadise menepuk pundak sang kakak dengan sedikit cengkraman, "Daena dan Escad?"
Tertawa miris, Keith pun akhirnya meminta ramalan Meimei untuk hari itu.
"Vitamin C! Serat alami! Antioksidan! Semua terkandung dalam buah-buahan segar!" Meimei mulai meramal dengan berputar-putar di atas keranjang juga bersama buah-buahannya. Pemandangan yang cukup absurd untuk dilihat sehari-hari, namun memang itu pemandangan sehari-hari.
"Hmm..." Meimei menatap buah persik yang baru saja diambilnya, "sebaiknya kalian bertanya pada salah satu Wisdom di danau."
"Danau... Wisdom...?" Duelle terlihat bingung.
"Baiklah! Terima kasih Meimei!" Ujar Keith ceria sebelum berbalik dan memasang tampang super serius di hadapan Vanadise dan Duelle, "Lake Kilma, kita ke sana."
"Maaf tapi aku tidak akan ikut," kata Duelle, "aku masih ada urusan lain."
"Tidak masalah, Duelle!" Keith menganggukkan kepalanya, "terima kasih untuk hari ini!"
-00-00-00-00-00-00-00-00-
Lake Kilma cukup luas untuk dijelajahi. Hari itu angin pun cukup kencang sehingga daun-daun kering di hutan yang mengelilingi Lake Kilma berjatuhan dan membuat langkah jadi lebih berisik. Vanadise dan Keith menjelajahi Lake Kilma dengan sangat hati-hati. Di hari seperti itu, biasanya banyak monster yang keluar. Keith membantai sebagian monster yang menghalangi jalan dan Vanadise mengikutinya dari belakang. Sampai akhirnya mereka sampai di pertigaan.
Beberapa fearie terlihat terbang dan beberapa duduk di atas bebatuan juga daun-daun besar. Mereka sadar akan kedatangan Keith dan Vanadise. Salah satu fearie berambut merah menghampiri Keith.
"Kau tidak mendapatkan apa-apa setelah membunuh tuan kami kan?" Tanyanya dengan wajah sedih penuh dendam.
Keith malah menjawabnya dengan pertanyaan lain, "di mana Daena?"
"Kau lihat betapa bebalnya manusia-manusia seperti kalian ini?" Fearie rambut hijau geram, kemudian ia meratap, "kemana sekarang aku harus pergi...?"
Keith menggelengkan kepalanya, "berbicara dengan kalian seperti bicara sama tembok," ia menarik pedangnya.
"Tunggu, Keith!" Panggil Vanadise, "kau mau melakukan apa!?"
Tanpa menoleh Keith menjawab, "aku akan menyudahi penderitaan mereka."
Segera Vanadise menarik Keith, menjauh dari kumpulan fearies.
"Vanadise!? Apa yang kau lakukan!?" Keith sedikit meronta.
"Dengar," Vanadise berhenti dan menatap tajam Keith, "fokus kita adalah Daena. Aku tidak bisa membiarkanmu membuang waktu dengan menebas-nebas hal yang tidak perlu."
Keith menatap balik saudarinya, "kau benar.." Ia menyarungkan kembali pedangnya, "danau ini terlalu luas untuk kita jelajahi berdua. Kurasa kita harus berpencar."
Vanadise mengangguk, "jangan khawatir, aku akan berhati-hati."
Dengan senyum bangga, Keith menepuk kepala Vanadise dengan lembut, "kau sudah tahu maksudku."
Mereka berdua pun berpencar. Vanadise memutuskan untuk pergi ke tebing pinggir danau. Di sana ia menemukan Tote, salah satu Seven Wisdoms. Baru saja Vanadise berhenti di belakangnya, Tote sudah lebih dulu membuka suara.
"Apa kau tahu apa yang membedakan kita dengan faeries?" Seakan Tote sudah tahu Vanadise lah yang datang.
Vanadise hanya bisa menatap tempurung hijau Tote. "Dunia?" Jawab Vanadise ragu.
"Jadi kalau kita ke dunia fearies, kita akan menjadi fearie?" Tote bertanya balik dengan tawa kecil.
"Kalau begitu apakah rupa kita yang membedakan?" Tanya Vanadise.
Tote menatap lurus danau yang ada di depannya, "kita melihat fearies dengan membayangkan apa yang tergambar dalam pikiran kita. Kita tidak melihat mereka dengan mata kita, kita merasakan mereka. Cukup sulit untuk menjelaskan hal ini." Tote melihat ke arah langit, "mungkin dengan melompat ke dalam kumpulan fearies akan membawa kita ke tanah para fearies." Ia kembali melihat ke arah danau, "seorang wanita datang untuk menanyakan hal itu beberapa saat lalu."
Vanadise tertegun. Kalau sudah masalah fearies, sudah pasti akan melibatkan Irwin, Daena, dan Escad. Kalau dibilang seorang wanita, sudah pasti Daena. "Mungkin Daena belum jauh, aku harus menemukannya!" Vanadise segera berlari, pergi dari sana. "Terima kasih, Tote!" Serunya sambil berlari.
Namun, sudah berputar-putar Vanadise mencari, ia sama sekali tidak menemukan sosok Daena ataupun Keith. Vanadise merasa sedikit lelah, ia pun melambatkan langkahnya sampai ia bertemu dengan kumpulan para fearies.
"Apakah tuan kita benar-benar sudah dibunuh?" salah satu fearie bergumam dengan sedih.
Yang lainnya menggeleng pelan, "kalau begitu sekarang Stone Eye juga hanya batu belaka untuk kita para fearies? Bagaimana kita bisa melindungi diri kita dari manusia?"
"Tapi..." Fearie rambut biru menimpali dengan senyum pahit, "kita tetap hidup, walau tuan kita telah mati. Ini sangat mengagumkan."
Fearie berambut hijau menghela napas mendengarnya, "tetap saja manusia membuatku takut."
Suara dentuman keras membuat para fearies menjerit kaget. Vanadise pun tidak kalah kaget dan langsung bersiaga dengan tombaknya. Daun-daun kering makin berjatuhan dan membuat suasana tambah tidak enak. Entah dentuman tadi berasal dari Keith atau Daena, Vanadise berusaha menebak arah dentuman selanjutnya. Begitu terdengar kembali, Vanadise langsung mengambil langkah cepat menuju asal suara.
Tidak ada lagi yang terdengar, Vanadise kehilangan arah. Masih dengan tombaknya ia penuh siaga. Langkah kaki yang gemerisik beradu dengan daun kering membuat Vanadise segera menoleh sambil menghunus tombak.
"Whoa, hei! Ini aku!" Keith agak mundur untuk menghindari tombak.
Vanadise segera menarik tombaknya, "tadi apa?"
"Aku bertarung dengan salah satu antek Irwin," Keith menarik napas panjang, "aku terlalu telat. Daena telah masuk ke dalam lingkaran fearies dan pergi."
"Kau tahu tentang lingkaran fearies?"
Keith mengangguk, "kau pikir bagaimana aku bisa membunuh fearies bersama Escad?"
"Baiklah..." Kata Vanadise, "kita harus memberitahu Matilda tentang ini."
Kali ini Keith menggeleng, "kau temui Matilda. Aku harus mencari Escad. Ini sudah benar-benar masalah besar."
Vanadise menatap Keith sejenak, "aku mengerti."
-00-00-00-00-00-00-00-00-
"Apakah kau menemukan Daena?" Itulah pertanyaan yang langsung ditanyakan Matilda begitu Vanadise masuk.
"Daena..." Vanadise berhenti di tepi tempat tidur, "Daena telah masuk ke dalam lingkaran fearies.. Kurasa... Dia telah.. pergi ke tanah para fearies, dunia para fearies."
"Dia pergi ke tanah para fearies?" Matilda terlihat tidak percaya namun juga terlihat senang dalam berbagai arti, "apakah itu artinya Irwin ada di sana juga?" Melihat Vanadise yang hanya berkedip bingung, Matilda menatap langit-langit sambil tersenyum, "tidak, aku tidak seharusnya bertanya padamu lebih banyak. Terima kasih."
Vanadise mengangguk pelan.
"...Aku..." Matilda menatap lurus langit-langit. "Aku sering melihat fearies. Tapi Escad tidak bisa, jadi dia suka membuat tampang aneh ketika aku berbicara dengan fearies. Kami membicarakan hal itu ketika ia ke sini tadi."
"Tadi?" Vanadise pun menyesali keputusan Keith yang ingin mencari Escad. Kalau saja ia juga menemui Matilda mungkin Escad masih belum jauh dari Gato.
"Ya..." Matilda melanjutkan, "Escad bilang dia bisa melihat fearies sekarang entah bagaimana caranya. Mungkin juga fearies masih tinggal di sekitar sini."
- Fate & Destiny –
"Akhirnya aku pulang dan menemukan Keith yang uring-uringan lagi. Saat itu kukira mungkin dia malah sudah tertular Escad," Vanadise tertawa kecil.
"Lalu bagaimana selanjutnya?" Tanya Bud.
Baru saja Vanadise akan melanjutkan, suara petir menggelegar terdengar.
"Whoa... Sungguh mengagetkan..." Duelle turun dari kursinya dan menengok ke jendela, "hei, hei! Hujan turun!"
"Hujan...?" Lisa tertegun, "jemuran!" Gadis kecil itu langsung lari keluar.
Satu rumah pun panik karena hujan deras yang turun dadakan. Bahkan Elazul dan Duelle pun membantu mengangkat jemuran. Mereka berlari dan terengah-engah begitu masuk rumah.
"Ada apa tiba-tiba turun hujan begini...?" Keluh Lisa.
"Hari ini kan memang hari Undine..." Kata Bud sambil terengah.
"Hah!? Kukira Salamander!"
Bud memasang tambang sebal, "kalau lihat kalender yang benaaaaaaaaaaar!"
Cerita Vanadise pun harus istirahat sejenak.
