Kamis, 13 Juli 20xx
Malam harinya, Akashi menghubungi teman-teman pelanginya melalui multichat yang kemarin digunakan saat mereka berlibur.
'Jadi kita kesana lg, Akachin~?'
Pertanyaan final dari Murasakibara mengakhiri percakapan—sekaligus debat—mereka kala itu. Akashi menutupnya dengan satu kata: 'iya', setelah dia dengan susah payahnya meyakinkan Kisedai bahwa mereka perlu—sangat perlu—kembali ke vila kemarin untuk membereskan semua.
Tidak ada acara booking-booking-an vila lagi, karena Akashi yakin bahwa vila itu kosong sekarang, yang ada Akashi hanya menghubungi Hanamiya Makoto dengan singkat dan jelas bahwa mereka akan datang ke vila itu lagi tanpa menginap—atau seperti itulah setidaknya yang Akashi inginkan.
Sekedar informasi, Akashi berhasil meyakinkan Midorima dengan berkata bahwa Midorima adalah satu-satunya yang Akashi harapkan dapat berpikir logis saat ini, hingga Midorima meng-iya-kan rencana Akashi saat siang tadi juga. Murasakibara tampak ragu dengan ini—padahal ia yang pertama kali mempercayai perkataan Himuro sebelumnya. Kuroko menyetujui tanpa banyak debat yang berarti, padahal ia sangat mengkhawatirkan keadaan mereka nantinya.
Cukup sulit untuk mengajak Aomine dan Kise yang notabene mentalnya paling ciut disini. Akashi sampai meminta maaf beberapa kali pada si navy blue karena sudah memulai hal ini—sampai-sampai ia membawa-bawa Momoi—dan ia yang bertanggungjawab atas semua rencana ini. Di luar bayangan Akashi, Kise terus menolak dengan—hanya—berkata "tidak mau", "jangan", " aku tidak ikut" tanpa disertai rengekannya, yang malah membuat Akashi tambah kewalahan.
Sekitar pukul setengah sebelas malam, barulah Akashi dapat beristirahat. Besok sepulang sekolah ia harus menyiapkan satu dan dua hal untuk kunjungan kedua Kisedai ke vila itu. Rencananya mereka akan menaiki mobil pribadi Akashi agar lebih simpel.
Sesaat sebelum Akashi akan mematikan lampu kamar, ponselnya berdering tanda ada telpon masuk. Akashi meliriknya dengan malas dan menemui nama Kise disana.
"Kenapa, Ryouta?"
Sunyi.
"Ryouta, lo masih mau nolak-nolak lagi? Kasih gue alesan yang bener."
Masih tak ada jawaban.
"Oke, gue anggep telpon ini cuma kepencet, ya."
Krek-krek.
Akashi menautkan alisnya. Berusaha mendengar apapun yang ada di ujung sana.
Brak. Buk, buk.
Oke, suara yang barusan itu jelaslah suara sebuah benda yang terjatuh. Tidak, bukan benda. Lebih berat dari itu. Tubuh manusia? Tapi suara itu lebih dari satu—sepertinya. Pemikiran itu terbesit di otak Akashi.
"Ryouta?" Akashi memanggil si pirang dengan suara yang lebih rendah dan perlahan. "Lo gak apa-apa?"
Gaung dalam kekosongan terdengar, saat itu juga Akashi memandang sekeliling.
Kemudian, bunyi dengan intensitas tinggi terdengar dari sambungan telpon itu—seperti suara melengking yang entah naik berapa oktaf—lalu refleks Akashi menjauhkan ponselnya dari telinga. Jarinya dengan cepat memutus sambungan itu. Dimatikannya ponsel canggih tersebut.
Akashi berusaha tertidur dengan memunggungi meja kecil di samping tempat tidur dimana ia menaruh ponselnya.
Tak lama, dering telpon masuk kembali terdengar. Masih menampilkan nama Kise Ryouta. Dan tanpa izin Akashi, lengkingan itu kembali merobek gendang telinganya.
.
.
Kuroko no Basket milik Tadatoshi Fujimaki.
Rated : T
Bahasa tidak baku untuk dialog maupun monolog tokoh. Indonesia AU.
Enjoy, minna!
.
.
Sabtu, 15 Juli 20xx
Pagi sekitar pukul 6, Kisedai sudah berkumpul di depan rumah Akashi untuk melaksanakan misi kali ini. Sekarang, mereka sedang menunggu Akashi menyiapkan mobilnya.
"Mudah-mudahan lancar, ya."
Semua yang ada disana melirik Kuroko dengan ekor mata masing-masing. Satu sisi tak acuh dengan omongan si bayangan yang membuat makin tegang, satu sisi mengamini dalam hati dengan segenap rasa.
Murasakibara menyaut. "Mudah-mudahan bisa cepet pulang~"
Midorima menaikkan kacamata yang tidak turun sama sekali. "Makin cepet emang makin bagus-nodayo. Tapi sekarang yang penting semua selesai sampe tuntas."
Beberapa kepala mengangguk khidmat. Murasakibara cemberut.
"Tapi bener," Aomine mengerutkan dahi samar. "Kita harus main lebih cepet daripada yang kemaren."
"Setuju." Kali ini Kuroko yang bicara. "Kalo gitu 'kan bisa cepet keluar siapa pemenangnya. Terus, cepet selesai permainannya juga."
"Tunggu dulu."
Seketika semua pasang mata menoleh ke arah Midorima. Si hijau sendiri memasang wajah berpikir keras, seolah-olah sedang berusaha mengingat sebuah detail yang terlupakan.
"Kemaren siapa yang menang?"
Empat pasang iris di hadapannya saling melihat satu sama lain, saling menuduh. Midorima sendiri memperhatikan mereka satu persatu. Sampai beberapa detik kemudian tidak ada jawaban yang muncul.
"Ng.. Gue gak tau."
"Aku juga."
"Gak tau deh, mungkin aku lupa~"
"Aku gak tau-ssu."
Selanjutnya Midorima memasang wajah bingung luar biasa. Mungkin juga karena ditambah fakta bahwa ia sendiri pun lupa—tidak tahu lebih tepat.
"Atau mungkin—"
"Semuanya, ayo jalan."
Akashi menyadarkan mereka dari kegiatan berpikir keras tersebut. Setelahnya, Akashi masuk ke mobil, duduk di kursi samping supir. Aomine menaikkan bahu kemudian berjalan ke arah mobil diikuti yang lain. Kursi bagian tengah diisi oleh Kise, Kuroko, dan Aomine. Sementara Midorima dan Murasakibara mengisi bagian belakang. Beruntunglah mereka tak membawa tas untuk keperluan menginap, dan Murasakibara sudah dilarang membawa seplastik besar camilan.
Ini bukan lagi musim liburan, jadi perkiraan waktu mereka untuk bisa sampai di vila yang dimaksud adalah kurang lebih 4 jam. Akashi sudah menghubungi Hanamiya dan memastikan bahwa si penjaga vila sudah berada di sana ketika mereka tiba—lengkap dengan segala yang mereka butuhkan untuk permainan.
Suasana hening mengisi perjalanan mereka, jauh lebih membosankan daripada perjalanan sebelumnya. Apalagi mereka kesana bukan untuk liburan, tentu saja, dan siapa yang bisa tenang jika di depan sana ada sesuatu yang mengerikan akan menyambut?
"Dari awal aku gak pernah setuju sama ini-ssu."
Kuroko menoleh ke kanan, Aomine menaikkan satu alis.
"Ya terus mau lo apa, Ryouta? Dari kemaren juga gue udah nanya lo." Akashi melipat tangan di dada. Matanya tak beralih sedikit pun dari jalanan di depan. "Semuanya udah terlanjur. Sekarang kita tinggal beresin."
Kise menundukkan kepalanya.
"Abis ini juga selesai kok, Kise-kun." Kuroko tersenyum, menenangkan Kise yang ia duga sangat-sangatlah khawatir tentang apa yang akan terjadi. "Biar ini semua cepet selesai, bantu kita juga, ya." Kuroko memegang pundak Kise.
Tiga detik kemudian, ia menarik tangannya dengan cepat.
Kepalanya terarah ke depan, namun matanya menatap dengan heran Kise yang masih menunduk.
Ah cuma perasaan doang. Lalu Kuroko mengarahkan matanya ke depan, lebih tepatnya ke spion tengah mobil, dan menemukan wajah hitam yang hancur berantakan lengkap dengan sejenis belatung menyembul dari lubang mata—duduk di samping kanannya, dan yang seharusnya ada di situ adalah Kise.
Refleks, Kuroko menggeser duduknya ke arah Aomine yang terkejut bukan main.
"Lo kenapa sih?" Aomine memasang posisi siaga. "Kayak abis liat set—"
"Ya!" Kuroko menatap horor Kise yang sudah kembali berwujud Kise—masih menunduk. "Itu, tadi, Kise-kun.." Telunjuknya mengarah ke Kise.
"Apaan, sih, Tetsu? Gak usah bercanda deh."
"Serius, Aomine-kun."
Midorima yang tidak tahan pun menjulurkan tangannya ke depan dan menyibak poni yang menutupi dahi Kise.
"Mungkin lo lagi diliatin aja, Kuroko. Ini cuma Kise yang lagi sedih-nodayo."
Tiba-tiba, tangan Kise memegang tangan Midorima yang menyibak poninya. Midorima yang terkejut pun refleks menarik tangannya.
Desisan kecil keluar dari mulut Midorima, lalu ia melihat luka cakaran di dekat pergelangan tangan kanannya. Dan sungguh, tangan Kise tadi rasanya sedingin es!
Demi keamanan bersama, Midorima memilih bungkam.
.
.
.
Rabu, 12 Juli 20xx
Dalam keadaan panik, Kise memberhentikan taksi pertama yang lewat menghampirinya, dan syukurlah, taksi itu kosong. Tanpa basa basi, ia masuk ke dalam dan meminta sang supir untuk menjalankan dahulu taksinya—dengan ngebut pula.
"Ke Jalan X Komplek Y, ya, pak." Kise menyebut alamat rumahnya dengan tergesa-gesa. Keringat dingin menuruni pelipisnya.
Tanpa menjawab, sang supir menambah kecepatan taksinya—ya, Kise memang meminta ngebut tapi tidak sebegini cepatnya!
Lampu merah diterobos begitu saja. Kise memprotes. "Pak, maaf, ini terlalu.. Cepat-ssu," Kise memegang bangku di hadapannya, mencondongkan tubuh ke depan, mengajak bicara supir yang dari tadi diam saja. "Dan saya kira di perempatan tadi harusnya belok kanan—"
Supir itu masih terdiam. Namun perlahan, kecepatan taksi berkurang, kemudian melaju dengan normal. Terlalu normal—terlalu lambat, dan Kise kembali dibuat tidak nyaman. Sampai pada titik dimana taksi itu berhenti di depan sebuah rumah besar yang tampak tak terurus—yang sejujurnya cukup aneh berada di sebuah komplek di jantung ibukota.
Kise mulai memperhatikan sekeliling dengan panik. Jalanan disini sangat sepi dan tidak ada orang sama sekali. Tak lama, mesin mobil dimatikan. Kise berusaha membuka pintu taksi yang sayangnya, tak bisa dibuka.
Lantas ia mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi siapapun. Ketika sebuah tangan pucat menggenggam ponselnya dari arah kanan, seolah merebutnya. Kise menoleh, dan menemukan sosok yang tadi ia temui di toilet, menatapnya dengan matanya yang aneh, kemudian membuka mulut lebar-lebar.
Tangan pucatnya mencekik Kise dalam sedetik, dan si pirang meronta. Sesuatu yang hitam menjalar di udara keluar dari mulut makhluk itu dan mencoba menggapai Kise.
Kise menyadari sesuatu itu merenggut kesadarannya perlahan, rasanya dunia ini menggelap.
Dan mulai detik itu, kehidupannya berhasil direbut. Raga dan kesadarannya terpisah.
Tubuh Kise masih ada di dalam taksi yang sekarang sudah mulai melaju kembali, terduduk diam, dengan mata hitam kosong dan mulutnya mengeluarkan sesuatu yang hitam—yang sejatinya baru saja memasuki tubuh Kise.
Sementara itu, kesadarannya terbangun di tempat yang tidak lagi asing menurut Kise; vila tempat ia dan teman-temannya memulai semua ini.
.
.
.
Sabtu, 15 Juli 20xx
Empat jam berlalu dan akhirnya mereka bisa keluar dari mobil setelah badan dibuat pegal akibat posisi yang monoton.
Midorima mendekati Kuroko yang masih menatap awas Kise.
"Kuroko," yang dipanggil menoleh ke arah Midorima. "Gue pikir, yang lo liat tadi itu bukan halusinasi lo doang-nodayo."
"Maksud Midorima-kun?"
"Nih, liat." Midorima menunjukkan luka cakar di pergelangan tangannya. "Dan beneran, tangannya dingin banget."
Jadi itu bukan perasaan doang. Batin Kuroko. "Jangan-jangan, Kise-kun 'kemasukan'?"
Midorima memutar bola mata tak nyaman. "Mungkin? Gue gak tau."
"Shintarou!"
Midorima menoleh ke arah Akashi yang saat ini mengisyaratkan agar dirinya menghampiri si rambut merah. Segera, Midorima pergi menuju Akashi dan meninggalkan Kuroko.
Kuroko yang ditinggal sendiri pun menghembuskan napas lemah. Ia berbalik dan hendak menuju Aomine serta Murasakibara—
"Astaga!"
—ketika ia menemui Kise berdiri di hadapannya sekarang. Sungguh, sejak kapan Kise meniru misdirectionnya?
"Ng, Kise-ku—"
Dalam hitungan detik, 'Kise' mencengkeram bahu Kuroko dengan keras. Wajahnya tanpa ekspresi dan mulutnya mengeluarkan sesuatu yang hitam—sama seperti saat sosok berkepala hancur itu ingin merenggut kesadaran Kise.
"Tet—"
" —tsu."
"Tetsu!"
Kuroko membuka matanya refleks. Napasnya memburu cepat, keringat dingin mengucur di pelipis.
"Tetsu, jangan bengong, woi!"
"Kurochin hati-hati, nanti kemasukan loh~"
Kuroko mengerjapkan mata. Pandangannya ia edarkan ke sekeliling. Tidak ada Kise Ryouta sama sekali. Malah, yang bersangkutan sedang berada di dekat Akashi dan Midorima, berbicara dengan Hanamiya Makoto.
"Sumpah, lo kenapa sih dari tadi? Gue panggilin malah bengong aja."
Perkataan Aomine mengembalikan Kuroko kembali ke kenyataan.
"Gak apa-apa, Aomine-kun." Kuroko tersenyum simpul. "Lagi gak fokus aja."
Selanjutnya, kepala merah, hijau, dan pirang bergabung dengan tiga yang lain. Akashi yang sudah selesai mewawancarai Hanamiya pun melaporkan hasilnya.
"Tenang, bukan kita yang salah sampe-sampe hasilnya kacau kayak begini."
Murasakibara mendesah lega. "Bagus deh. Terus, yang salah itu siapa, Akachin?"
"Kata Hanamiya, kemaren ada yang ikut kita main-nodayo."
Hening tidak ada suara. Jawaban Midorima malah memperburuk keadaan.
"Jangan-jangan, yang kemaren menang itu..." Bohlam imajiner menerangi kepala Aomine. "...'dia'?"
"Nah, maka itu. Sekarang, harus kita yang menang." Akashi melirik ke arah Kise. "Apalagi, kita punya misi tambahan. Kita harus narik lagi Ryouta ke dunia ini."
Kepala biru tua dan ungu terkejut bukan main.
"Ya, udah, ayo langsung aja. Biar cepet selesai."
Ajakan Kuroko mengakhiri perbincangan tersebut. Akashi mengiyakan dan segera memimpin Kiseki no Sedai masuk ke vila yang ada di hadapan mereka. Terlihat, Hanamiya Makoto bergegas pergi dari vila dan menyerahkan kunci vila pada Akashi.
"Gimana kalo aku gak ikut main?"
Sontak, lima kepala berbeda warna menoleh ke belakang, ke tempat satu-satunya orang—atau setidaknya begitulah wujudnya—yang belum bergerak seinci pun dari kedudukan semula.
Kuroko dan Midorima memandang Akashi seolah meminta persetujuan darinya.
"Gak bisa. Semua yang kemaren main harus ikutan lagi kali ini. Lo Ryouta atau bukan pun."
Si pirang mengeluarkan tawa yang mengerikan.
Dalam sekejap mata, ada sesuatu yang menarik Kiseki no Sedai ke dalam vila itu—setelahnya mereka terbanting ke ruang utama vila. Pintu terkunci begitu saja.
"O-oi—"
Lampu-lampu yang mengitari ruangan tersebut pecah seketika. Sebagai gantinya, lilin-lilin yang entah sejak kapan sudah ada disana menyala dengan sendirinya.
Sebuah papan lengkap dengan tujuh bidak dan dua buah dadu terlempar dari kegelapan menuju tengah-tengah Kiseki no Sedai. Napas memburu mulai terdengar.
"Oke, kita mulai."
Akashi membetulkan posisi papan itu dan menyuruh yang lain untuk duduk mengitarinya. Lalu, ia membagikan bidak dari berbagai warna itu sesuai dengan warna rambut mereka.
"Dulu cuma enam bidak-nodayo."
"Iya. Sekarang kita udah bisa liat bidak ke-tujuh. Bidak warna hitam."
Angin kuat berhembus dari bagian dalam vila. Suhu udara menurun drastis. Aomine menelan ludahnya dan menggumamkan segala macam doa yang sejujurnya, jarang ia ucapkan.
Dari sana, terlihat seorang wanita sedang berjalan—melayang—ke arah mereka. Ia menggunakan gaun putih yang tampak amat kusam dan terdapat bercak darah di sekujur tubuhnya. Wajahnya tak nampak karena memang sudah hancur. Kemudian, ia berhenti melayang tepat setelah ia tiba di hadapan papan.
Akashi dan Midorima yang berada di sisi paling dekat dengan wanita iu hanya menahan napas dan berusaha bertindak setenang mungkin. Yang lainnya pun hanya menatap dadu-dadu yang ada di atas papan untuk menghindari tatapan dari satu-satunya mata si wanita.
Krak.
Tangan pucat menggapai dadu-dadu itu seraya menggores papan yang terbuat dari kayu tersebut. Datangnya dari arah yang berlawanan dengan kedudukan si wanita yang masih saja berdiri melayang.
Aomine dan Kuroko yang berada paling dekat pun menoleh perlahan ke arah pemilik tangan yang sebenarnya sudah mereka ketahui adalah Kise Ryouta—tapi melhat tangannya yang luar biasa mirip setan itu membuat iman mereka goyah.
Dan bukan. Itu bukan Kise Ryouta.
Tubuhnya memang masih milik si model namun bagian atasnya adalah milik seorang anak lelaki berkepala hancur yang diketahui merasuki Kise. Matanya menatap tajam Kisedai satu per satu. Lalu, ia berteriak ke arah si hantu wanita.
Saat itu, tubuh Kise Ryouta terpelanting ke arah pintu vila, terpisah dari si bocah lelaki itu.
Dalam hatinya, Aomine dan Kuroko bersyukur karena setidaknya tubuh Kise sudah dibebaskan.
Dadu-dadu mulai berputar setelah tadi dilontarkan oleh tangan pucat si bocah lelaki. Mata dadu menunjukkan jumlah empat—satu dan tiga.
.
.
.
Yak dan inilah :)
.
Sori kalau semakin gaje dan banyak dialog ya—gaya saya nulis ternyata emang begitu -_-
Sori juga kalo makin gak serem mwehehe
.
Mulai chapie depan mulai masuk bagian utamanya, ya. Sabar sabar aja di chapie depan/plak.
.
Makasih buat yg udh mampir, fav n follow yaa ^^
See u di next chap!
.
Kiryuu.
