Minggu, 9 maret 2008
hari ini lah, hal mengenaskan itu terjadi. titik balik dari kehidupanku, hari terakhir kebebasanku.
Pesta sekolah dalam rangka anniversary sekolahku selalu berlangsung megah dan semarak setiap tahunnya, inilah ketiga kalinya dan terakhir kalinya aku akan mengikuti pesta ulang tahun sekolah, karena aku sekarang berada di kelas 3. Aku selalu menghadiri pesta ini, karena di pesta ini semua orang sejenak melupakan segala masalah di sekolah, segala kebencian, segala romantisme, musuh, mereka semua berbaur untuk menikmati pesta yang memang akan berlangsung menyenangkan hingga membuat semua orang larut dalam irama yang sama. Satu hari terindah dalam setahun di masa Junior High School. Aku sudah menyiapkan baju untuk pesta ini dari jauh-jauh hari. Eomma membantuku memilih, aku selalu percaya pada pilihan eomma jika berhubungan dengan fashion, karena dia adalah mantan model ternama di masanya.
Pilihan bajuku jatuh pada 'madison leigh stripe party dress' gaun ini membuatku nyaman namun tidak meninggalkan kesan feminim dan anggunku. Rambutku kugerai dengan sedikit diberi aksen 'wavy curly', aku selalu suka rambutku yang panjang dan hitam ini tergerai bebas.
Setelah aku merasa segala persiapanku sudah selesai aku segera berangkat. Sampai disana suasana sudah ramai dan begitu hidup. Aku segera membaur di lautan manusia yang tengah menari dan menjerit ikut menyanyikan lagu yang tengah diputar, malam ini aku benar-benar menjadi diriku sendiri ditengah-tengah orang-orang ini. Aku tidak peduli jika orang yang tengah menari di sampingku, di depanku, atau di belakangku adalah orang-orang yang telah mengisi lokerku dengan sampah atau pun doa-doa penuh makian itu. Aku tidak peduli jika mereka semua yang ada di sekitarku adalah para lelaki yang selalu ingin menjadi pacarku, meniduriku, memperkosaku, oh sungguh aku tidak peduli. Aku suka malam 9 maret.
Disaat aku tengah menari, tiba-tiba ada yang menarik tanganku dengan kasar dan menyeretku ke tempat sepi jauh dari lautan manusia itu. Aku meronta, menarik,dan berteriak kepadanya agar melepaskanku. Orang yang menyeretku ini memakai baju lengan panjang hitam dan celana hitam panjang, dia memakai topeng untuk menutupi seluruh wajahnya, tangannya begitu kekar, hingga menyulitkanku melepaskan genggaman tangannya meskipun aku sudah berusaha sebisa mungkin. Suara teriakanku pun kalah oleh hingar bingar musik. Orang itu terus menyeretku hingga kebagian belakang sekolah yang aku tidak pernah tau ternyata di belakang sekolahku ada sebuah bangunan gudang yang lumayan besar. Bangunan itu benar-benar tersembunyi, aku yakin tidak semua pihak sekolah tau tempat ini, pasti hanya murid-murid berandalan yang tau tempat itu. Bangunan itu terlindungi oleh pohon besar,tembok sekolahanku,semak-semak belukar, dan untuk mencapai tempat ini harus melewati retakan yang ada di tembok belakang sekolah yang hanya cukup dilewati satu orang dan melewatinya pun harus memiringkan badan terlebih dahulu.
Aku dimasukkan ke bangunan itu, mataku langsung ditutup ketika aku melewati pintu. Aku berteriak-teriak untuk meminta pertolongan, untuk melepaskanku, aku memohon, menangis, badanku sudah bergetar begitu hebat karena terlalu takut dengan situasi ini. Aku diseret dan aku mersakan tanganku di ikat di atas kepalaku, jadi aku tergantung berdiri dengan kakiku yang hanya ujungnya saja dapat menyentuh tanah. Aku berteriak untuk meminta pertolongan, dan tiba-tiba sebuah tamparan yang sangat keras mendarat di pipiku. Aku merasa kepala dan pipiku sangat sakit, ini adalah pertama kalinya aku mendapat perlakukan kasar. belum selesai rasa sakit itu, tiba-tiba aku aku merasakan tamparan yang kedua, ketigas, dan entah keberapa aku sudah tidak bisa menghitungnya lagi. Aku sudah berada antar sadar dan tidak sadar. Diambang kesadaranku itu aku mendengar sebuah suara wanita.
"cukup! Aku ingin dia masih sadar untuk hadiah selanjutnya" dingin, kejam, dan tegas itu lah yang kurasakan dari suaranya
"Jimin-ah, kau tidak apa-apa kan? Ada yang sakit?" dia bertanya begitu lembut, tapi entah kenapa itu membuatku semakin takut. Dingin dan kejam itulah yang kurasakan.
"Jimin-ah, apakah kau mengenaliku?" tidak,aku tidak mengenalinya.
"Jimin-ah, maafkan aku. Sebenarnya hadiah ini ingin kuberikan padamu dari dulu, tapi entahlah, aku belum ingin. Tapi, sekarang. Aku ingin kau memiliki dan merasakan hadiah yang kuberikan padamu. Kau tau apa hadiahku untukmu?"
Tidak, aku tidak ingin tahu.
"kehancuranmu" bisiknya di telingaku.
"Ayolah krys, kapan giliranku?" yang bertanya ini adalah suara seorang laki-laki. Dan aku juga tidak mengenalinya.
"Tunggu, aku belum selesai dengannya!" katanya tegas
"Ah sial!" lalu aku mendengar derap langkah kaki menjauh, mungkin lelaki itu pergi.
"Jimin-ah, kau masih bisa mendengarku?" tanyanya lembut, tapi aku tidak bisa menjawab ataupun bergerak. Aku lelah, aku ingin tidur.
"Jawab!" teriak wanita lain sambil menamparku, aku mengerang karena itu sungguh sakit.
"Terima kasih Irene." Aku mendengar suara wanita itu lagi
"Jimin-ah, kau perlu tau kenapa kami melakukan semua ini kepadamu. Kau merebut lelaki kami. Mereka semua gila karenamu. Apakah kau tau dengan Kai, sehun, dan Vernon?" aku ingin berteriak bahwa aku tidak kenal mereka semua baik kami, mereka ataupun kalian. Aku tidak kenal semua orang di sekolahku.
"Oh tentu saja tidak, kenapa seorang putri harus mengenal rakyat jelata seperti kami, dia adalah bangsawan yang hidup di istana sana. Apalah kami ini yang hanya hidup sebagai pelengkap kesempurnaanmu."
"Kai, Sehun, dan Vernon adalah lelaki kami. Kai adalah ketua tim basket, Sehun Ketua Osis sekolah ini dan Vernon Ketua Klub musik. mereka semua memutuskan kami karena ingin menjadi pacarmu. Mereka memujamu, mereka buta dengan cinta kami dan hanya menatap pada kesempurnaanmu. Taukah kau, bahwa mereka bertiga telah meninggalkan dunia ini? Mereka kemarin bertanding sampai mati untuk menentukan siapa yang berhak memilikimu. Oh! Bodohnya mereka! padahal keberadaan mereka saja sang putri tidak tahu. Mereka saling membunuh, meninggalkan kami yang jelas-jelas mencintai mereka. Kau membunuh mereka! Pembunuh!"
Tidak! Aku tidak melakukannya! Aku tidak tahu apa-apa! Ya tuhan….
"Sekarang aku ingin membuatmu hancur, rusak, cacat, hingga tidak ada lagi yang akan memujamu. Tidak-tidak, aku tidak akan membunuhmu. Aku ingin kau merasakan kejamnya dunia ini."
Jangan! Aku berbisik memanggil eomma dan appaku berulang-ulang kali. Berharap mereka akan datang menolongku.
"Diam! Kami tidak takut pada kekuasaan appa dan eommamu, kami sudah siap mati, yang terpenting bagi kami adalah kehancuranmu!"
Tidak! Kumohon! Maafkan aku! Maafkan aku!. Tapi tidak ada kata-kata yang bisa keluar dari mulutku.
"Somi, panggil mereka semua untuk masuk, sudah waktunya giliran mereka menyapa putri ini" katanya dingin seakan menjanjikan neraka yang tak berujung kepadaku. Lalu aku mendengar banyak langkah mendekat.
"silahkan! Puaskan hasrat kalian. panggil teman-teman kalian. kami akan pergi!" dingin, dingin. Lalu aku mendengar suara langkah kaki menjauh.
"Aku dulu!" kata sebuah suara tegas dan mendominasi. Ikatan tanganku dilepas, dan kemudian aku digeletakkan di lantai, tapi penutup mataku tetap terpasang. Dia mulai melepas baju yang melekat pada tubuhku. Hingga tidak tersisa selembar benangpun ditubuhku. Aku meronta, berteriak, dan menangis. Tapi cengkaraman mereka terlalu kuat.
Lalu semua itu terjadi, mereka memperkosaku. Mungkin malam itu ada lebih dari 7 orang yang memperkosaku. pingsan, sadar, pingsan, sadar, dan aku merasakan terus mereka memperkosaku. ada yang menyumpal mulutku, bokongku, vaginaku, dan meremas payudaraku. Terus menerus, entahlah sudah berapa lama.
Lalu semua senyap. Aku ditinggalkan begitu saja dalam keadaan telanjang, tubuh remuk, badan penuh sperma dan darah, dingin, sakit, dan aku mengantuk. Aku ingin tidur terus tanpa terbangun. Tapi selalu ada yang menguatkanku, eomma, appa, aku tidak boleh meninggalkan mereka. Aku tidak ingin menghapus senyum mereka. Maafkan aku eomma, appa…..
8 maret 2018
"Chim, melamun lagi eoh?" eomma menepuk pundakku dan menyadarkanku dari peristiwa menyakitkan 10 tahun yang lalu.
"eomaaa, kau mengagetkanku." balasku merajuk sambil cemberut
"haha, aniya, kau yang melamun. Eomma sudah memanggilmu berulang-ulang kali." Tawa eomma begitu manis, eommaku yang manis dan baik hati.
"jeongmal? Hehe, miyan." Aku memeluk eomma sambil mengusakkan kepalaku di lehernya
"Kau melamun peristiwa itu lagi sayang?" lirih eomma
Aku mengangkat kepalaku dari leher eomma dan melihat wajah eomma. Oh tidak! Aku membuatnya menangis lagi.
"hehehe, aniya. Aku berfikir tentang bagaimana rasanya bekerja eomma." Jawabku berbohong karena tidak ingin membuatnya bersedih.
"kau sudah bekerja sayang." Jawab eomma sambil menghapus airmatanya dan tersenyum.
Aku mendengus, dan memutar mata karena jawabannya.
"bekerja di rumah dan untuk appa tidak dihitung eomma!. Eomma pasti tahu maksudku."
"eomma takut, apakah kau tidak?"
"tidak, sama sekali tidak! Aku sudah berani sekarang eomma, aku sudah 25 tahun. dan pelaku kejadian itu juga sudah dipenjara. Aku sudah melupakannya eomma. aku ingin kembali menghadapi dunia. 10 tahun aku sudah tertinggal dari dunia." Bohong, itu semua bohong. Aku masih takut, amat sangat takut. tapi aku tidak bisa seperti ini terus. Aku harus berani, berhenti membuat eomma dan appa khawatir.
"ck, kau tidak tertinggal dari dunia sayang. Kau adalah anak pintar dan cerdas, eomma dan appa tidak akan membuatmu tertinggal dari segala kemajuan jaman. Dan, orang jahat tidak hanya teman-temanmu saat sekolah dulu, masih banyak sayang. Dan kau itu seperti magnet yang menarik bahaya. Kau begitu menawan sayang, pernahkah kau sadari itu. Kadang eomma berfikir, kecantikanmu adalah sumber bahaya untukmu." Kata eomma sambil mengelus kepalaku
"hiss, oke aku ganti. Aku tidak ingin dilupakan oleh dunia eomma. Aku seperti bukan bagian dari dunia ini eomma. Aku selalu di rumah. Bahkan aku yakin,tetangga samping rumah kita tidak tahu ada gadis cantik yang tinggal di samping rumah mereka" candaku, namun eomma tahu aku sedih, aku sedang sarkas kepadanya. Eomma memelukku dan menatap mataku tajam
"belum saatnya sayang, kau belum siap." Tandas eomma, dan aku tau aku tidak mungkin mendebatnya lagi. Percuma.
"nde, araso" kataku lirih
"oya, besok eomma dan appa akan ke hongkong untuk urusan bisnis. Mau dibelikan apa?"
Aku berfikir lama, dan aku tidak tahu apa yang aku mau. Aku menghela nafas dan menggeleng pada eomma. Eomma tersenyum sedih
"Pikirkan, dan kabari eomma jika sudah tahu kau ingin apa. Eomma akan di hongkong selama 1 minggu, jika kau kesepian telepon eomma. Sesibuk apapun, eomma akan menjawabnya dan menemanimu." Aku mengangguk
9 maret 2018
Hari ini appa dan eomma akan berangkat ke hongkong. Sekarang menunjukkan pukul 7 pagi, kami bertiga tengah sarapan sekarang.
"Chim, selama appa dan eomma pergi jaga pola makan dan tidurmu, dan selesaikan laporan keuangan yang appa berikan padamu. Jika sudah, langsung emailkan pada taemin."
"nde appa". Ya, selama ini aku memang membantu appa menjadi accounting di perusahaan, inilah yang disebut pekerjaan oleh eommaku. Dan taemin, yang appa sebutkan tadi adalah satu-satunya orang di luar keluargaku yang tetap berhubungan denganku 10 tahun ini. Taemin adalah guruku setelah aku memutuskan home schooling setelah peristiwa itu, dan sekarang taemin menjabat sebagai Direktur Utama di perusahaan appa. Aku memanggilnya taemin oppa,karena jarak umurnya denganku hanya terpaut 5 tahun. dia sudah seperti oppaku sendiri.
"Appa, selama eomma dan appa di hongkong bolehkah taemin oppa menginap disini? Agar aku tidak kesepian?" pintaku sambil menunjukkan puppy eye ke appa.
"Aigoo, tentu boleh Chim, nanti appa kabari Taemin. Tapi, kalau Taemin menolak kau jangan memaksanya. Jangan merepotkan dia Chim, banyak sekali tanggung jawab yang harus dia kerjakan."
"yeeey, araso." Pekikku kegirangan
Aku memeluk appa dan eomma sangat erat dan lama, aku menangis melepas kepergian mereka.
"Aigoo, kenapa sayang? Kau tidak ingin kami tinggal eoh?" goda eomma padaku
"Kau kan sudah sering kami tinggal Chim, kau anak pemberani. Kami hanya pergi selama seminggu, dan nanti ketika pulang akan appa bawakan hadiah yang sangat banyak untukmu" appa menenangkanku sambil mengelus kepalaku.
Aku mencium harum tubuh mereka, dan melepaskan pelukanku lalu mencium kedua pipi mereka. Aku ingin sekali mengantar mereka ke bandara, tapi itu tidak mungkin. Aku sudah tidak pernah menginjakkan kakiku keluar rumah sekitar 10 tahun, bahkan untuk sekedar ke halaman depan rumah. Aku melambaikan tangan dan tersenyum manis untuk mereka dari dalam rumah.
Setelah appa dan eomma pergi, keheningan langsung menyergapku. Sepi, dingin, dan hampa. Aku tidak sendirian, ada banyak pelayan di rumah ini, tapi ketika tidak kubutuhkan mereka akan menjauh dan meninggalkanku sendiri untuk melakukan pekerjaan mereka. Aku masih berdiri di pintu, masih memandang kekosongan setelah ditinggalkan eomma dan appa, tiba-tiba aku merasakan sentuhan lembut di lenganku, aku menoleh dan melihat kepala pelayan di rumahku yang sudah bekerja di keluarga appa selama 40 tahun. bibi Nam, dia sudah kuanggap seperti ibu atau halmeoni karena sekarang bibi Nam sudah berumur 60 tahun.
"jiminie, ayo masuk nak, mau bibi buatkan pudding?" dia merangkulku dan membawaku masuk kerumah
"mm, strawberry ya bi."
Bibi nam hanya mengangguk dan tersenyum, lalu berjalan ke dapur untuk membuatkanku pudding. Aku sendiri berjalan ke kamarku. Sampai di kamar aku langsung menghubungi seseorang yang kunantikan kedatanganya
"op, op, opaaa!" aegyo langsung kuberikan pada orang kuhubungi
Dia hanya menjawab dengan gumaman
"Oppa! Taemin oppa! I miss you so much!" aku berteriak-teriak padanya dan tetap memakai nada aegyoku
"Jimin, berhenti. Kau membuatku pusing dengan suaramu itu."
"hehehe, mian. Jadi, oppa sudah dihubungi appa?"
"Belum, ada apa memang?"
"Aku sakit, oppa harus ke rumah sekarang. Aku akan mati kalau tidak bertemu denganmu." Sekarang suaraku kubut serak dan menyedihkan
"Jimin,serius. Ada apa?"
"hiss, oppa membosankan. Molla!" aku mematikan sambungan dan langsung cekikikan, aku senang karena aku sudah menggangunya. Aku melirik jam, dan ternyata masih pukul 08.30 pagi, pasti dia sedang bermalas-malasan di depan tv.
15 menit kemudian, aku mendengar teleponku berbunyi.
"yeobseo?"
"jimin, appamu sudah menghubungiku. Nanti jam 10 oppa akan ke rumahmu untuk menaruh barang-barang oppa." Jelas dan tidak bertele-tele
"wow, sampai nanti kalau begitu oppa. Saranghae!" aku senang sekali dan melupakan bahwa aku sedang acting marah padanya. Taemin oppa mau menemaniku selama seminggu nanti.
Jam sepuluh tepat taemin oppa sampai, aku segera menyambut dan memeluknya erat. Sudah sekitar satu bulan dia tidak ke rumah, aku menghirup aromanya dalam-dalam, dia juga membalas pelukanku dengan erat dan mengecup kepalaku.
"Baiklah, biarkan oppa masuk dan mulai menata barang. Setelah itu oppa harus ke kantor" aku mengangguk dan mengekor di belakangnya. Aku mengoceh ini dan itu menceritakan kegiatanku selama satu bulan saat dia tidak bertemu denganku dan menganggunya mememasukkan pakaian ke dalam lemari dengan cara meminta gedong di punggungnya. Jadi taemin oppa menata baju sambil menggendongku. Aku sangat manja kepadanya,dan dia pun sangat sabar kepadaku.
"jimin,turun! Tahukah kau sudah 25 tahun dan kau sangat berat?!" gerutunya, tapi tetap menggendongku dengan nyaman.
"shiro! Aku akan seperti ini terus selama oppa disini, anggap saja sebagai hukuman selama satu bulan oppa mencuekkanku!." Aku semakin mengeratkan pelukanku di lehernya. Taemin oppa hanya menghela nafas, dan membenarkan posisiku di punggungnya agar dia bisa bergerak lebih bebas.
"Nona jimin." Aku mendengar suara kang ajhussi,kepala keamanan di rumahku, di depan pintu kamar taemin oppa. Aku segera turun dari gendongan taemin oppa dan membukakan pintu untuk kang ajhussi.
"ya ajhussi?" aku mngernyit melihat ekspresi dan keseriusan kang ajhussi.
"bisakah nona dan tuan taemin turun sebentar?"
Aku menengok kearah Taemin oppa dan melihat taemin oppa mengangguk dengan serius. "ya, kami akan turun ajhussi"
Saat kami turun, aku melihat suasana yang tidak menyenangkan. Aku melihat bibi Nam menangis di pelukan Kang ajhussi.
"Ada apa bibi?" aku manghampiri Bibi Nam dan aku terkejut ketika Bibi Nam langsung memelukku dengan erat sambil menangis tersedu-sedu. Aku memandang Kang Ajhussi, meminta penjelasan.
"Bibi Nam, tenanglah sebentar dan biarkan nona Jimin duduk terlebih dahulu."Kang ajhussi melepaskan pelukan Bibi Nam dariku. Taemin oppa menggiringku untuk duduk di sampingnya. Kemudian Kang ajhussi dan Bibi Nam duduk di depan kami. Kang ajhussi menghela nafas berkali-kali, dan itu membuatku cemas secara tiba-tiba.
"Nona, kami baru saja mendapat kabar. Pesawat yang di tumpangi nyonya dan tuan besar mengalami kebakaran mesin dan terjatuh di samudra. Kami belum menerima informasi mengenai keadaan penumpang pesawat. Kami, masih menunggu kabar dari maskapai mengenai informasi selanjutnya." Kang ajhussi menjelaskan dengan tegas dan jelas, meskipun kesedihan tidak bisa ditutupi dari suaranya.
Aku mematung, taemin oppa memelukku dengan erat, sambil membisikkan kata-kata yang entah apa aku tidak bisa menangkapnya. Aku membisu, aku tuli, aku tidak menangis, aku hanya merasa kosong.
"oppa, aku mau ke kamar." Aku melepaskan diri dari pelukan taemin oppa, dan berdiri. Detik itu aku menyadari aku membenci tanggal 9 maret. Sangat!
TBC
Eh maap ya, tanggalnya yang bener 9 maret. Typo parah ya ini, pelasee dimaapin yee. Kalau ada yang mau ada keterangan gambar sebagai pendukung bisa mengunjungi wattpadku. Aku juga upload cerita ini di wattpad. Nama akunku 'Baby Bear alien'. Reviewnya yaa….
Chap selanjutnya Min Yoongi akan nongol.
