AUTHOR POV
Malam setelah Jimin mendengar berita tentang kecelakaan yang menimpa orang tuanya, dia memilih menyembunyikan dirinya di kamar. Dia bergelung di dalam selimut, memejamkan mata dan berusaha untuk tidur. Dia yakin dia sedang bermimpi saat ini, dia akan tidur dan segera terbangun dan dia akan melihat kembali eomma dan appanya yang sedang sarapan di ruang makan. Dia memejamkan matanya degan rapat berharap agar segera jatuh tertidur. Lalu tiba-tiba sebuah usapan lembut jimin rasakan.
"Jiminie," taemin memanggil jimin dengan lembut sambil menyingkapkan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya. Jimin tetap memejamkan matanya, dia masih berusaha untuk tidur.
"jiminie, oppa tau kau belum tidur. Katakan sesuatu pada oppa jimin, jangan seperti ini. Kau membuatku takut." jimin membuka matanya, dan tersenyum pada taemin.
"oppa biarkan aku tidur, aku sedang bermimpi buruk sekarang, oppa juga bagian dari mimpiku. Biarkan aku tidur eoh" setelah itu jimin kembali menutup matanya dan berbaring membelakangi taemin. Taemin semakin takut mendengar jawaban jimin, dia lebih baik menghadapi jimin yang menangis meraung-raung daripada jimin yang tenang. Dia seperti menghadapi bom waktu yang bisa meledak kapanpun.
"Baiklah,oppa akan membiarkanmu tidur. Tapi oppa akan tidur di sini menemanimu. Oppa tidur di sofa. Jika kau membutuhkan oppa, langsung panggil. oke jim?" jimin mengangguk, taemin menghela nafas melihat keadaan jimin saat ini. Sungguh, kenapa semua ini harus terjadi pada adik manisnya ini pikir taemin.
Taemin POV
4 hari telah berlalu, sekarang sudah tanggal 13 maret 2018, dan kami semua masih belum mendapatkan kabar baik ataupun kabar buruk dari pihak maskapai. Dan aku semakin khawatir dengan jimin. Dia sekarang ada dihadapanku sedang memakan sarapannya dengan tenang. Aku sungguh benci ketenangan palsunya ini.
Aku teringat pagi hari di tanggal 10 maret, aku terbangun dengan sangat terkejut karena mendengar pergerakan yang terlalu cepat, terburu-buru, dan juga berisik di sekitarku. Aku masih setengah sadar meskipun kedua mataku sudah terbuka lebar karena terkejut. Aku melihat jimin yang membuka pintu dengan kasar lalu segera berlari keluar kamar sambil memanggil eomma dan appanya. Seketika itu juga aku tersadar sepenuhnya dan berlari mengejar jimin. Aku melihatnya berlari-lari ke setiap ruangan sambil terus memanggil kedua orangtuanya, hatiku sakit melihatnya. Aku melihat peluh membahasi dahinya dan nafasnya terengah-engah, tak heran karena rumah jimin sangatlah besar dan banyak ruangan di dalamnya. Aku terpekur di puncak tangga hanya melihat dan mendengar semua itu dalam diam. Lalu setelah itu aku melihat jimin terjatuh di ruang tengah, terengah-engah dan sambil mengelap keringatnya. Aku segera berlari menuruni tangga dan bersimpuh di hadapannya. Dia memanggil namaku berkali-kali, aku melihatnya menahan tangis, aku sudah melihat air dipelupuk matanya tapi selalu ia hapus sebelum air itu sempat turun ke pipinya. Aku segera memeluknya dan mengusap punggungnya. Aku melihat kang ajhussi dan bibi nam berdiri tak jauh dari kami, mereka juga terlihat bingung harus melakukan apa. Bibi nam menangis melihat keadaan jimin saat ini. Aku pun ingin menangis melihat adikku seperti ini, tapi tidak boleh. Aku harus tegar untuk jimin.
"bukan mimpi oppa, bukan mimpi. Bodohnya aku, naïf sekali aku" aku mengelus punggungnya sambil menenangkannya.
"tidak apa-apa oppa, jangan sedih. Mereka akan baik-baik saja, mereka pasti selamat. jangan sedih oppa, jangan sedih." Jimin mengelus punggungku sambil menenangkanku. Astaga gadis ini, harusnya aku yang menenangkanmu, bukan sebaliknya. Aku merasakan jimin melepaskan pelukanku lalu berjalan ke ruang makan. Dan dia mengatakan hal yang tak kuduga sama sekali.
"Bibi nam, aku ingin pudding strawberryku." Aku menatapnya bingung dan sedih. Oh jimin, apa yang ada dikepala cantikmu itu.
Aku kembali memandangi jimin didepanku yang sedang memakan sarapannya dengan tenang, aku menghela nafas berkali-kali. Aku bingung menghadapi jimin yang seperti ini, dia dingin, kosong dan rapuh. Aku melihat jimin sudah menghabiskan sarapannya, lalu beranjak dari kursi dan pergi ke kamar untuk melihat berita seputar kecelakaan itu. Ya itu adalah kegiatan jimin selama 4 hari ini, makan, melihat berita, mandi, tidur, makan, melihat berita, seperti itu terus menerus. Kecelakaan pesawat itu merupakan headline berita di semua media cetak maupun elektronik. Dan selama 4 hari ini sudah sekitar 30 orang dari 216 awak dan penumpang yang ditemukan, semua ditemukan dalam keadaan mati.
Aku juga beranjak dan menghampiri Bibi Nam, aku berpesan padanya agar menjaga jimin selama aku di kantor. Karena sudah 5 hari ini aku tidak berangkat ke kantor, pasti keadaan perusahaan sedang kacau sekarang dengan adanya kejadian ini. Aku segera bersiap dan pamit pada jimin yang dibalas pelukan dan kata hati-hati.
.
.
Aku telah sampai diperusahaan, dan aku merasakan suasana yang tidak biasa. Kenapa semua orang menghindari tatapanku? Sepertinya aku pribadi yang ramah, meskipun irit bicara. Aku telah sampai di lantai dimana ruanganku berada, dan semakin aneh saja karena semua kursi dimana karyawanku bekerja kosong, ada apa ini? Aku berjalan menuju ruanganku dan tersenyum lega ketika melihat sekretarisku duduk di tempat biasanya. Tapi senyumku segera lenyap, ketika aku melihat kegelisahannya. Dia segera menghampiriku.
"Taemin-ah, cepat pergi ke aula utama. Kau harus melakukan sesuatu. Mereka semua sedang melaksanakan RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham)"
sekretarisku, Kang Haneul adalah temanku sekolah dulu, maka aku menyuruhnya memanggilku banmal ketika hanya kita berdua.
"APA?!" aku berteriak di depan wajah haneul.
"Cepat pergi! Tidak ada waktu untuk menjelaskannya sekarang!." Haneul mendorongku yang masih terbelalak tidak percaya ke dalam lift, kami berdua segera menuju lantai paling atas dimana letak aula utama dan ruangan direktur utama, ruangan Park Chanyeol berada.
"BRENGSEK!" makiku penuh amarah pada orang-orang yang sedang rapat sekarang. Haneul hanya menghela nafas melihatku seperti ini,
"Maafkan aku taemin-ah, aku juga baru tahu hari ini. Itu pun karena aku mencuri dengar pembicaraan mereka di toilet. Tidak ada yang memberitahuku taemin, mungkin karena mereka berpikir aku ada di kubumu. Jadi mereka takut, jika aku menghubungimu. Maafkan aku" katanya lirih
"Bukan salahmu haneul!." Aku tanpa sadar membentaknya, aku terlalu kalut sekarang. Aku sangat paham dengan situasi ini. Orang-orang busuk itu!, geramku dalam hati.
Kami telah sampai di depan aula utama, aku menenangkan amarahku dan memasuki aula utama, haneul menungguku di luar.
"selamat pagi tuan-tuan" sapaku ramah pada mereka semua, tapi amarahku menguar kemana-mana. Mereka semua terkejut melihatku tiba-tiba memasuki ruangan, aku segera duduk di kursi yang masih kosong yang terletak paling ujung jauh dari mimbar presentasi, dan kebetulan itu adalah kursi Park Chanyeol. Mereka semua mulai terlihat gelisah, kecuali 2 orang yang menatapku tajam dan meremehkan. Bae Yong Joon dan Jung kyung Ho, mereka pemegang saham nomor 2 dan 3 di perusahaan ini.
"Aku mendengar sedang diadakan RUPS, kenapa saya tidak menerima undangan ya?" tanyaku kepada semua orang di ruangan itu
"hah! Memang kau siapa? Kau hanya karyawan biasa, kau tidak memiliki saham di perusahaan ini. Kau ingat?." Jawab Bae Yong Joon meremehkan. Aku tersentak, aku melupakan hal itu, memang benar apa yang dikatakannya, aku tidak memiliki saham seperserpun di perusahaan ini. Tuan park chanyeol sebenarnya pernah memberikanku saham, tapi aku menolaknya saat itu. Aku tidak ingin semakin berhutang budi padanya.
Aku harus tenang, jangan sampai mereka melihat kegelisahanmu. Tenang taemin,tenang,,,,
"Kau benar tuan Bae, aku disini ingin mengingatkanmu. Bukankah kau melupakan pemegang saham terbanyak di perusahaan ini?"
"Siapa yang kau maksud? Tuan Park? Dia sudah mati nak." Lagi-lagi dengan suara meremehkan itu. Brengsek!
"Tapi dia masih memiliki anak. Park Jimin, dia memiliki ha katas saham sebanyak 40% itu tuan Bae." Tegasku menahan amarah. Aku sudah kehilangan ketenanganku.
"hahaha, anak ini. Bodohnya kau nak! Hanya 40%, saham kami semua disini jika diakumulasikan sebanyak 60%. Dan semua orang disini sepakat denganku. Jadi keputusan forum inilah yang valid. Dan juga, aku dan Tuan Jung juga menemukan kecurangan dan kejahatan yang dilakukan oleh tuan Park selama menjabat sebagai direktur utama di perusahaan ini. Jadi, sebelum kau datang tadi, kami sudah sepakat untuk mencopot jabatan direktur dari tuan park, dan mengambil semua asset yang dimiliki tuan park. Bukan begitu tuan-tuan?" dia tersenyum menang, dan semua peserta forum juga menangguk-angguk kan kepalanya kecuali satu orang yang sedari tadi tertunduk tak berani menatapku.
"Mana buktinya?." Pintaku tegas, Tuan Jung berdiri dan menyerahkan bukti itu kepadaku. Aku menelitinya, semakin lama aku membaca semakin lemas badanku. Itu semua terlihat asli, dan bukti yang kuat. Tapi aku yakin, tidak mungkin tuan park melakukan semua kejahatan ini.
"Dan untuk kau tuan taemin-ssi, silahkan anda meninggalkan perusahaan ini. Anda kami pecat!." Aku tersentak dan memandang tajam pada tuan Bae. Tanpa sadar aku menggebrak meja dan berdiri.
"BAIKLAH, AKU AKAN PERGI DARI PERUSAHAAN INI. AKU MENGUTUK JABATAN YANG AKAN KAU KUASAI TUAN BAE. JABATAN YANG KAU DAPAT DENGAN CARA YANG TIDAK BENAR. AKU BERHARAP SEMUA ORANG DIRUANGAN INI SEGERA SADAR BAHWA MEREKA AKAN DIPIMPIN OLEH IBLIS YANG TIDAK BERPERIKEMANUSIAAN!." Aku meneriakkan kata-kata itu untuk melampiaskan amarahku lalupergi dari ruangan itu. Aku mendengar suara tertawa tuan Bae dan Tuan Jung dibelakangku, tawa mereka seperti tawa orang dewasa yang menertawakan tingkah lucu anak berusia 5 tahun.
"bagaimana teamin-ah?" haneul langsung menghampiriku dan berjalan di sampingku. Aku tidak langsung menjawab pertanyaannya, karena aku masih menahan amarah di dadaku. Aku segera memasuki lift bersamanya.
"Aku di pecat." Jawabku setelah kami berdua berada di dalam lift
"APA?! Ke-kenapa? A-pa? aku harus bagaimana sekarang? Aku tidak bisa tetap disini sedangkan kau dipecat. Tidak, aku juga harus pergi dari perusahaan ini." Haneul dengan segala kebingungannya ini membuatku bertambah pusing.
"Diam haneul!." Aku membentaknya dan membuatnya terdiam. "Dengar haneul, jangan pikirkan aku. Kau harus tetap disini, kau punya tanggung jawab sendiri. Kau butuh uang dari bekerja disini haneul, aku tau bagaimana kondisi keuangan dan keluargamu. Jangan gara-gara aku, kau menghancurkan hidupmu sendiri. Kalau kau memang sahabatku, temanku, berjanjilah untuk tetap hidup dengan baik. Jangan menambah kekhawatiranku." Haneul hanya diam tak menanggapi apapun.
"Aku harus berkemas, kau mau membantuku kan?." Tanyaku untuk memecahkan keheningan diantara kami.
"ya tentu." jawab haneul sambil menghela nafas.
AUTHOR POV
Taemin dan haneul mulai berkemas, memilah-milah barang yang akan dibawa taemin pulang dan dibuang olehnya. Saat mereka berdua sibuk berkemas, tiba-tiba pintu ruangan terbuka dengan suara yang keras dan seorang lelaki memasuki ruangan itu lalu memeluk taemin yang masih terkejut karena suara keras dari pintu tadi.
"Sayang, maafkan aku, maafkan aku. Maafkan aku karena tidak bisa melindungimu. Maaf." lelaki itu memeluk taemin erat dan mengelus-elus punggung taemin menenangkannya. Lelaki ini adalah kekasih Taemin, Choi minho, dia juga lelaki yang tadi ada di dalam Aula utama yang terus menunduk tak berani memandang Taemin.
"lepaskan aku Minho-ssi." Taemin melepaskan diri dari minho dan menatapnya tajam. Minho menyadari bahwa kekasihnya sedang sangat marah saat ini. Karena taemin menggunakan panggilan formal padanya.
"Haneul-ssi, bisa kau tinggalkan ruangan ini sebentar?" minho berbicara pada haneul, tapi matanya tetap tajam menatap taemin. Haneul melirik taemin untuk meminta persetujuan, dan dibalas dengan angguka kepala. Haneul pun pergi dari ruangan taemin. Lalu Minho bergerak kesetiap dinding kaca dan menutupnya agar tidak ada yang bisa melihat mereka berdua dari luar.
"Aku tau kau marah padaku, aku sudah bersikap brengsek. Tapi aku mohon dengarkan penjelasanku dulu" minho memegang kedua bahu taemin dan menatap matanya tajam
"Aku mendengarkan." Taemin menjauh dari minho dan duduk di sofa yang ada di ruangannya. Minho pun duduk disamping taemin dan menggenggam tangan taemin erat.
"Aku terpaksa melakukan semua ini, aku diawasi sayang. Tuan bae dan tuan jung menyingkirkan semua orang yang berhubungan denganmu dari perusahaan ini. Mereka berdua brengsek, aku menemukan sedikit bukti tentang tindak kecurangan mereka berdua di perusahaan ini. Aku harus masuk kedalam lingkaran orang kepercayaannya agar aku dapat menemukan lebih banyak bukti untuk mengungkap kebusukan mereka dan mengembalikan semua hak-hakmu dan jimin kembali." Ya, minho tau tentang Jimin. Tapi dia belum pernah bertemu dengannya. Dia hanya tau bahwa kekasihnya ini sangat menyayangi jimin, dan untuk minho siapapun yang disayangi kekasihnya harus ia lindungi juga.
Taemin menghela nafas mendengar penjelasan kekasihnya, dia pun beranjak dan duduk dipangkuan minho. Dia memeluk kekasihnya, ingin mendapatkan kehangatan dan rasa aman dari kekasihnya ini. Minho pun mengeratkan pelukannya dan menciumi leher kekasihnya.
"Lalu, apa rencanamu sayang?" minho tersenyum lega mendengar taemin sudah memanggilnya sayang lagi.
"Untuk saat ini, aku masih berusaha masuk ke lingkarannya. Aku harus mau melaksanakan perintah-perintah kotornya."
"Aku ingin membantumu." Taemin menatap mata minho tajam.
"Tidak, yang terbaik bagimu saat ini adalah menyingkir dari semua ini. Jika kau terus nekat berjuang, mereka tidak akan segan-segan untuk membunuhmu. Aku tidak ingin kau terluka. Ingat, kau harus melindungi Jimin." Taemin menghela nafas dan mengangguk sambil memeluk kembali kekasihnya.
"Kau harus melindugi haneul hyung, jangan sampai ia di pecat. Aku akan menjauh darinya." Taemin menatap tajam minho yang dibalas anggukan mantap. Taemin tersenyum lega melihatnya.
"lalu, kau sendiri. Apa rencanamu sayang? Mengingat rumah yang ditempati jimin saat ini akan diambil oleh Bank." Taemin tersentak mendengar pertanyaan minho
"Apa? Rumah itu akan disita?! Mereka bertindak sejauh itu untuk menyingkirkanku dan jimin?! Astaga!." Taemin berdiri dan mondar-mandir di depan minho.
"ya, mereka berdua memang brengsek. Makanya aku harus menjauhkanmu dari mereka." Minho hanya menghela nafas sambil melihat kekasihnya yang seperti tengah berpikir saat ini.
"tapi hyung, jimin sudah 10 tahun tidak meninggalkan rumah itu. Dia pasti akan ketakutan jika dia berada di lingkungan yang baru. Apalagi setelah semua kejadian ini. Aaah! Kepalaku rasanya seperti mau pecah menghadapi masalah yang bertubi-tubi seperti ini. Kabar mengenai tuan dan nyonya park juga belum kami terima. Jimin yang keadaannya semakin hari semakin mengkhawatirkan. Aaah! Apa yang harus aku lakukan?! Taemin jatuh terduduk di lantai dan menangis tersedu-sedu. Minho memeluknya erat, dia pun bingung harus memberikan saran apa. Dia belum tau sosok park jimin.
"mmm, bagaimana kalau kau membawa park jimin ke busan? Di rumahmu busan pasti dia akan mendapatkan ketenangan, busan kan tidak seramai seoul sayang. Disana juga ada ibumu, ibumu pasti akan mengobati rasa rindu pada keluarganya. Kau bisa menjadi sosok kakak baginya, tapi kau tidak bisa mengambil peran orang tuanya bukan?" minho usul dengan ragu-ragu dan melihat kekasihnya sambil tersenyum. Taemin menimbang-nimbang usul kekasihnya memikirkan dari segala sisi positif dan negatifnya. Dia pun sepakat dengan kekasihnya. Ya, itu merupakan keputusan yang terbaik.
"Aku rasa itu keputusan terbaik hyung, aku akan membawa jimin ke busan. Aku rasa ini sudah saatnya jimin untuk kembali menyapa dunia." Taemin tersenyum dan dibalas oleh minho yang sedari tadi membelai dan menghapus airmata dari pipinya.
"baiklah, sekarang berdiri, jangan berhenti menangis, dan kurasa aku harus membuatmu sedikit berantakan." Minho menyeringai menggoda taemin, taemin yang melihat senyum minho sekarang, entah kenapa membuatnya berdebar-debar dan bingung.
"kenapa aku tidak boleh berhenti menangis?" taemin bertanya pada minho yang sekarang sedang menciumi leher taemin.
"karena kita membutuhkannya untuk aktingmu nanti."
"Hah? Apa maksud…mmm. Aahh" minho mencium dan melumat bibir taemin tak mengijinkannya untuk berbicara lagi. Tangan minho pun sudah bekerja untuk menarik kemeja taemin dari celananya dan menyusupkan tangannya ke dalam baju taemin, tangannya mengelus elus perut sixpack taemin dan merayap naik hingga menemukan nipple taemin. Dan dia mulai memain-mainkannya. Pijat, pelintir,tarik, lepas, pijat, pelintir, tarik lepas. Begitu berulang-ulang.
Taemin mendesah-desah tak karuan karena perlakuan minho. Untunglah ruangan ini kedap suara. Kaki-kaki taemin melemas, dan dia sepenuhnya bertompang pada minho. Minho pun menggeser langkah tanpa melepaskan bibir dan nipple taemin, menggiringnya menuju sofa. Dan mulai menindihnya.
Minho dengan cepat melepaskan ikat pinggang dan menarik turun celana taemin. Dia mengkocok junior taemin yang sudah tegang dan mengeluarkan cairan precum sambil mencium seluruh wajah taemin.
"hyung, aah…aaah… masukkan, tolong aku ingin punyamu memasukiku. Aku mohon… aku sudah tidak aaah tahan. Hyuung aku mohoon."
"belum sayang, kau belum berantakan."minho menjawab ditelinga taemin dan mulai mengkulup, menjilat, dan mengigit telinga itu. Taemin terus mendesah-desah, minho menggeram mendengar desahan kekasihnya. Dia sebenarnya juga sudah ingin memasukinya, tapi dia harus membuat kekasihnya kelihatan berantakan dahulu.
Minho kini merayap turun hingga wajahnya berhadapan dengan junior taemin, dia menjilat-jilat junior itu, hingga semakin banyak cairan precum yang keluar. Kini minho memasukkan seluruhnya ke dalam mulutnya dan mulai menyedot dan mengulum keluar masuk terus menerus.
"aah…aaaa...hyyuuuuung, aku mau sampai. Aaah… hyuuuuuung!" taemin sudah mencapai puncaknya sambil menjabak rambut minho. Minho tidak berhenti, dia mengambil cairan taemin kemudian mengoleskan pada jari-jarinya lalu menusukkan langsung tiga jarinya kelubang taemin. Taemin pun berteriak sangat kencang karena sakit, hingga dia menangis.
"hyuung, aaah, sakiiit!." Minho pun mencium bibirnya lembut dan membisikkan kata-kata maaf. Lalu dia menarik ketiga jarinya dan tanpa aba-aba langsung memasukkan miliknya di lubang taemin. Taemin kembali menjerit dan tanpa sadar memukul rahang minho. Minho menyeringai melihat kucing liarnya ini. Dia pun mulai menggenjot taemin dengan kasar dan cepat, menghasilkan bunyi kulit, rintihan,desahan, geraman memenuhi ruangan itu.
"hyuung, aaaah aaaku..a aku akaan aaah sampai!". "tahan sayang, aku juga. Kita lakukan bersama."
"arrgh..arrgh,, taemin-ah aku sampaai!." Mereka mengeluarkannya bersamaan. Cairan minho ada di dalam lubang taemin, dan cairan taemin membahasi sofa. Minho segera mencabut miliknya dan pergi mengambil tisu untuk mengelap miliknya, bokong taemin, dan junior taemin.
"pakai kembali bajumu sayang, tapi jangan rapikan. Biarkan terlihat berantakan." Minho memerintahkan kekasihnya sambil membetulkan celananya.
"hah? Kenapa?" taemin keheranan dengan perkataan kekasihnya.
"biar kita terlihat seperti habis berkelahi. Kau llihat? Kau bahkan membuat lebam di rahangku." Minho menunjukkan rahangnya kemudian tertawa terbahak-bahak.
"salahmu sendiri! Tadi itu sakit sekali hyung! Kau tidak pernah main kasar denganku!." Meskipun taemin membentak-bentak tapi dia mengatakannya sambil mengelus rahang minho.
"Tidak apa, ini malah akan menyempurnakan akting kita. Jangan seka airmatamu dan keringatmu." Minho berusaha menangkan taemin.
"oke sayang, setelah ini kau harus keluar ruangan sambil marah-marah dan mencaci makiku, perlihatkan kepada semua orang kita habis terlibat peserteruan yang panas." Minho mengatakan persetetuan yang panas sambil menyeringai dan menaik turunkan alisnya
"dasar mesum! Baiklah aku mengerti. Jaga diri baik-baik hyung. Yang kau hadapi adalah orang-orang dengan otak busuk. Jika kau sampai terluka, aku tidak akan memafkaanmu. Mengerti?" minho mengangguk dan kemudian mencium taemin dengan lembut. Taemin pun tanpa sadar menangis, karena akan berpisah lama dari kekasihnya.
"baiklah, mari kita mulai sayang. Aku akan merindukanmu jaga diri baik-baik." Minho memeluk taemin erat kemudian melepaskannya. Dia melihat taemin berjalan kearah pintu. Minho pun mengangguk, menandakan bahwa dia sudah siap.
"BRENGSEK! Kau memang brengsek minho-ssi, kau sama brengseknya dengan mereka semua. Aku tak percaya pernah mempercayaimu. Sialan kau!" taemin berteriak-teriak sambil berjalan cepat menuju lift. Minho mengejar dibelakang taemin dan menarik tangannya. Taemin menghentakkan pegangan minho dan mendorongnya dengan keras hingga minho menabrak meja yang ada di sampingnya cukup keras. Taemin sempat tersentak sedikit namun segera berakting kembali. Pertengkaran mereka mendapatkan perhatian dari banyak orang. Banyak kepala yang melongok dan melihat mereka berdua.
"jangan pernah menyentuhku minho-ssi, kau membuatku muak! Kau menjijikan!" taemin kembali berjalan cepat menuju lift. Setelah ia sampai di dalam lift dia segera menekan tombol menuju lantai dasar. minho sampai didepan lift sebelum lift terturup, taemin sempat membisikkan "aku mencintaimu" kepada minho sebelum pintu lift benar-benar tertutup
TBC
Buat adegan terakhir banyangin kayak perpisahan Anastasia dan Christian grey di film 'fifthy shade of grey' eaa. Adegan perpisahan mereka di elevator.
Okeee,,, jangan marah! Maafkan saya karena ingkar janji. Yoongi belum keluar di chap ini. Oke, saya minta maaf karena membuta kecewa. Habis, mau sampai yoongi kecewa bisa nyampe 5rb word. Aku udah capek.
Jadi sebagai permintaan maafku. Aku besok bakal update chap 4. pagi jam 10 aku bakal update. Gak janji yoongi dah keluar apa belum.
Kayaknya, ini FF bakal punya alur lambaaat banget. Maapin yee,
Review ya, reviewnya mencaci makiku juga boleh kok. Hiks….
