Kenapa semua perasaan ini tidak mau keluar? Aku ingin menangis! Aku ijin menjerit! Aku ingin memaki tuhan karena terus menerus memberikanku kemalangan ini! Aku ingin mati! Aku ingin mati! Aku ingin bebas dari belenggu ini! Kenapa mereka semua tidak paham! Aku di dalam tubuh ini meronta, tapi penahan ini terlalu kuat! Dan kalian semua bodoh! Karena membiarkanku tersiksa seperti ini!
JIMIN POV
"kapan kita akan pindah?" tanyaku tenang sambil tersenyum pada taemin oppa. Oppa sudah menjelaskan semua padaku tentang kondisi perusahaan, dan tentang kondisi asset-aset kami yang akan diambil oleh Bank.
"Apakah kau setuju? Kau baik-baik saja dengan kepindahan ini?" taemin oppa memegang pundakku erat dan mengguncang-guncang tubuhku. Dia terlihat marah dengan jawabanku.
"aku baik-baik saja oppa, sungguh." Bohong! Aku bohong oppa! Aku takut keluar dari rumah ini. Aku ingin ada disini terus, agar dapat merasakan kehadiran eoma dan appa.
"KAU TIDAK BAIK-BAIK SAJA JIMIN! DEMI TUHAN! AKU MUAK DENGAN SIKAPMU SAAT INI! MENANGISLAH! MENJERITLAH! TAMPAR OPPA! LAKUKAN APAPUN UNTUK MELAMPIASKAN SEDIHMU. JANGAN HANYA TERSENYUM BODOH DAN MENGATAKAN KAU BAIK-BAIK SAJA!. KAU. TIDAK. BAIK. BAIK. SAJA!" oppa berteriak saat keras di depan wajahku dan mengguncang-guncang tubuhku hingga tubuhku terasa sakit. Oppa mencengkramku terlalu kuat.
"buat apa oppa? Itu tidak akan merubah keadaan. Aku percaya padamu oppa." aku menunduk tak berani menatapnya. Aku merasakan oppa memelukku erat. "kau bohong jimin, kalau kau percaya padaku, kau akan menunjukkan sisi terlemahmu padaku. Kau belum percaya padaku. Kau hanya menjadi gadis bodoh yang membohongi dirimu sendiri. Gadis bodoh!"
Aku hanya tersenyum dan mengangkat bahuku, oppa tau, dia pasti tau. Dan selalu tau "aku mau pindah, setelah mengetahui kondisi dari eomma dan appa." Akhirnya aku mengutarakan sedikit hanya sedikit keinginanku pada oppa.
"hmm, akan oppa usahakan. Perintah penyitaan dari Bank juga belum kita terima." Aku beranjak dari hadapan oppa. "kau mau kemana?" oppa menahan tanganku. "Aku ingin bermain piano"
TAEMIN POV
Aku tersenyum mendengar jimin ingin bermain piano,sudah lama aku tak mendengrnya bermain piano. Jimin biasa memainkan piano dengan eommanya mereka berdua sangat mahir memainkan piano. Jimin juga hebat dalam bermain freestyle
Permainan jimin,dimulai dengan halus dan lembut membuai siapa saja yang mendengarnya. Aku melihat Bibi Nam dan Kang ajhussi juga beberapa pelayan mendekat untuk melihat permainan jimin. Jimin bermain freestyle. Nada yang semula lembut, tiba-tiba menjadi mencekam dan dingin, berubah lagi menjadi nada yang menghentak-hentak seperti menggambarkan kemarahan, caci makian, dan protes. Lalu nada berubah menjadi lirih, menyayat, membuat getaran-getaran yang membuat tulang-tulangku merinding, semakin menyayat hingga membuatku sesak. Berubah lagi, menjadi nada leembut penuh kerinduan, kehangatan, dan kasih sayang. Lalu senyap. Tak ada tepuk tangan, yang ada hanya suara jimin yang terenga-engah, pelayanan yang menangis hingga beringus dan aku yang mengusap-usap air mata dan mengelus dada karena masih terasa sesak.
Aku melihat jimin, memutar duduknya untuk menghadapku, dia mengedikkan bahunya dan berkata "Itu yang kurasakan oppa. Aku mempercayaimu." Aku segera berjalan mendekatinya dan menariknya kepelukanku. Aku mendengar suara tepuk tangan yang riuh di sekitar kami berdua. Aku menatap jimin, dan mengucapkan "terima kasih adik kecil." Kami berdua melihat sekeliling dan entah mengapa melihat wajah-wajah di sekitar kami yang buruk rupa karena air mata, membuat kami berdua tertawa terbahak-bahak. Biarlah sejenak kami melupakan kesedihan ini.
.
.
17 maret 2018
Rumah besar ini sangat sepi sekarang.
Kemarin, surat penyitaan dari Bank telah kami terima, kami diberikan satu minggu untuk mengkosongkan rumah ini. Setelah aku menerima surat dari Bank, aku segera memanggil semua orang dari bagian pelayanan dan keamanan untuk berkumpul. Aku menceritakan pada mereka kondisi yang sekarang menimpa tuan-dan nyonya park di perusahaan dan tentang rumah ini yang telah disita oleh Bank. Aku meminta maaf kepada mereka semua karena terpaksa memecat mereka tanpa diberikan gaji mereka bulan ini.
"Sebentar tuan Taemin, masalah gaji pelayan bulan ini. Tuan Park sudah menitipkannya padaku. Jadi mereka tetap akan mendapatkan gaji terakhir mereka." Bibi nam menjelaskanya padaku. "Benar Tuan Taemin, gaji bagian keamanan juga dititipkan kepadaku, mereka akan tetap mendapatkan gaji mereka bulan ini." Kang ajhussi menambahkan. Oh, aku lega mendengarnya, aku tidak perlu merasa bersalah lagi.
"Tapi tuan Taemin, ada satu hal yang ingin saya minta." Bibi Nam menginterupsi lagi.
"Ya,ada apa bibi?" aku berdebar-debar menanti permohonanya. Aku berharap dapat mewujudkannya.
"saya, dan tuan kang sudah menduga keadaan ini dari beberapa hari yang lalu. Dan kami berdua menolak untuk di berhentikan mengurus dan melindungi Nona Jimin. Kami ingin terus berada di samping nona jimin." Aku ingin menginterupsi Bibi nam, namun dihentikan olehnya."jangan Khawatir masalah gaji tuan Taemin, kami tidak mengharapkan gaji. Karena kami tidak memiliki keluarga yang harus kami hidupi. Anak kami berdua adalah jimin, jadi kami harus selalu berada di sampingnya." Aku terkejut dan terharu mendengar pernyataan dari Bibi Nam, aku meilirik Kang Ajhussi yang juga menganggukkan kepala menyetujui apa yang sudah dikatakan oleh Bibi Nam. Kalau sudah begini, aku tidak mungkin menolaknya. Jimin juga pasti senang mengetahui Bibi nam dan Kang ajhussi akan ikut pindah ke busan.
JIMIN POV
Aku dan taemin oppa tengah berkemas di kamarku sekarang, taemin oppa sudah mengusahakan untuk mengulur waktu penyitaan sampai kami mendapat kabar soal eomma dan appa. Tapi permintaan oppa di tolak mentah-mentah oleh pihak Bank. Mereka tidak mau tahu dan tidak mau peduli, mereka hanya menjalankan tugas. Aku pun menenangkan oppa, dan mengatakan bahwa kita bisa menunggu kabar di rumah busan. Aku tidak ingin merepotkannya, dengan permintaan konyolku dan kekanak-kanakan.
Saat aku dan oppa tengah berkemas,kami mendengar suara panggilan dari kang ajhussi dari lantai bawah. "taemin-ah, cepat turun. Ajak jimin juga." Kami berdua segera turun untuk menemui kang ajhussi. Setelah malam pemecatan itu, taemin oppa sudah meminta kang ajhussi dan bibi nam untuk berbicara kepada kami menggunakan banmal.
Setelah aku sampai di bawah aku melihat dua orang polisi yang sedang bercakap-cakap dengan ajhussi. Aku mendekat, dan melihat salah satu polisi yang seumuran denganku tersipu dan terkejut melihatku. Aku juga melihat taemin oppa memutar bola matanya jengah, sepertinya dia juga menyadari gelagat polisi itu.
"mereka ini utusan dari pihak maskapai yang ditugaskan untuk menjemput kita kerumah sakit. Orang tuamu telah ditemukan jiminie." Kang ajhussi menjelaskan situasinya padaku dan taemin oppa. Kenapa berita orang tuaku ditemukan malah membuatku takut? aku memegang tangan oppa erat, meminta perlindungan dan kekuatan darinya. Oppa sepertinya mengetahui kegundahanku, sehingga dia merangkulku erat.
"apakah nona jimin dan tuan taemin perlu waktu untuk bersiap?" polisi yang lebih tua bertanya. Aku menggeleng, aku ingin melihatnya sekarang. Aku tidak ingin menunda-nunda, itu akan membuatku bertambah sesak.
"baiklah kalau begitu, kita berangkat sekarang." Pak polisi segera menuju mobilnya. Aku, oppa, dan ajhussi memilih membawa mobil sendiri. Ajhussi duduk di kursi pengemudi, aku dan oppa duduk dibelakang. Oppa, terus memelukku erat dan menenangkanku. Aku menutup mataku untuk menenangkan diri terhadap segala kemungkinan yang mungkin terjadi. Di dalam pikiranku aku sudah menyadari bahwa eomma dan appa pasti sudah mati, tapi hatiku tetap berharap mereka masih hidup, sekecil apapun kemungkinan itu. Aku tetap berharap mereka hidup. Sudah satu minggu berlalu, bagaimanakah keadaan orang tuaku? Mereka pasti kedinginan, baju mereka pasti kotor, wajah mereka akan pucat karena kedinginan, sepatu mengkilat appa pasti terkena lumpur. Haha aku membayangkan dia pasti sangat marah, appa sangat tidak suka sepatunya kotor. Haha. Sekitar 30 menit, akhirnya kami sampai di rumah sakit seoul. Hatiku berdebar tidak karuan setelah kami memasuki rumah sakit. Aku mendegar bisik-bisik orang yang kulewati
"ya tuhan, dia cantik sekali, apa dia artis?"
"aku rasa dia anggota idol."
"apakah dia sakit?"
"Mungkin keluarganya yang sakit."
"aigoo, cantiknya. Seperti ..omo.."
Aku risih mendengarnya. "pak, bolehkah kami pinjam topimu?" aku mendengar taemin oppa berbicara pada polisi yang berjalan di depan kami. Salah satu melepas topinya dan diberikan pada oppa, lalu oppa memakaikan topi itu padaku. Hingga lumayan menutupi wajahku, lalu oppa menggerai rambutku agar menutupi wajahku. Dia mendekapku semakin erat,seperti ingin menyembunyikanku. Tiba-tiba kami berhenti, karena sedari tadi aku menunduk aku tidak tahu kita berhenti dimana. Aku pun mendongak, dan tubuhku langsung lemas setelah tau bahwa kami berhenti di depan kamar jenazah. Aku memegang oppa dan ajhussi erat, sampai rasanya tanganku sakit.
"Siapa yang akan masuk?." Tanya polisi pada kami bertiga. "saya pak," aku menjawab lirih, karena sesak didadaku.
"tidak bisakah kami bertiga masuk bersama?." Tanya ajhussi pada pak polisi dan dokter yang ada di sekitar kami. Mereka sejenak terlihat saling pandang,kemudian salah satu dokter yang paling tua menganggukkan kepala "silahkan tuan." Lalu kami bertiga diberi masker oleh dokter muda.
Oppa terus memegangikku dan aku juga berpegangan padanya. Kami bertiga berjalan memasuki ruang jenazah itu. Suasana langsung senyap, senyap yang dingin dan mencekam. Suara-suara sama sekali tak terdengar, seperti ruangan ini diberi peredam. Suara langkah kaki kami dan nafas kami terdengar nyaring di ruangan ini. Aku mencium bau obat yang menyengat, dan bau manis yang sangat menyengat, seperti kabur barus, tapi lebih wangi dan menganggu di hidung. Mungkin itu bau formalin. Kami memasuki pintu lagi yang membawa kami semakin ke dalam. Setelah kami melewati pintu itu, bau wangi langsung menghilang digantikan bau busuk yang bercampur bau darah, bau air laut, amis dan busuk. Sepertinya mayat semua korban kecelakaan pesawat ditempatkan di ruangan ini. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jika aku tidak memakai masker. Lalu kami berhenti di depan box peti jenazah berwara putih. Empat orang dokter berdiri di depan kami.
AUTHOR POV
Dua box di depan anda kami yakini berisi jenazah dari tuan Park Chanyeol dan nyonya Park Baekhyun setelah kami mencocokkannya dengan data yang dimiliki dokter pribadi tuan dan nyonya Park dan juga dari kamera CCTV bandara yang merekam kondisi tuan dan nyonya park terakhir. Dan tuan dan nona yang hadir saat ini tolong pastikan lagi apakah jenazah yang akan kami perlihatkan benar tuan dan nyonya park.
Jimin, kang ajhussi, dan taemin mengangguk menyanggupi. Kemudian keempat dokter itu membuka penutup box dan memperlihatkan isisnya kepada mereka bertiga. Kang ajhussi terkesiap dan melangkah mundur setelah melihat kondisi mayat tuan dan nyonyanya. Jimin, menutup mulutnya agar ia tidak berteriak. Taemin mencengkram erat jimin dan menutup matanya.
Kondisi mayat park chanyeol dan byun baekhyun memang sangat mengenaskan. Tubuh mereka sudah membusuk, berlendir, pakaian yang melekat ditubuh mereka tinggal sedikit, dan yang membuat kedua mayat ini mengerikan adalah beberapa bagian tubuhnya sudah menghilang seperti di robek dari tubuhnya dan banyak lubang-lubang dan gigitan kecil di sekujur tubuhnya. Wajah kedua orang itu pun sudah tidak tampan dan cantik lagi, tinggal tengkorak yang mengerikan.
"maafkan kami, kalian harus melihat kondisi nyonya dan tuan park dalam keadaan seperti ini. Tapi kami membutuhkan kepastian dari keluarga korban sebelum melaksanakan prosedur selanjutnya. Tubuh nyonya dan tuan park ditemukan 5 hari setelah peswat tenggelam di samudra. Ada kemungkinan tubuh mereka sudah dimakan oleh hewan-hewan laut dan"
"cukup dokter, kami tahu. Cukup." Taemin menghentikan penjelan dokter yang memang membuat mereka bertiga membayangkan ikan-ikan itu memakan tubuh kedua orang itu. Jimin melangkah maju dan melihat kedua orang tuanya dengan air mata yang terus mengalir dan tangan yang mencengkram dada karena terasa sesak. Dia memastikan apakah kedua orang itu orang tuanya atau bukan.
"ya dokter, ini orang tuaku. Aku ingat eomma memakai kalung itu dan memakai baju itu. Dan appa juga memakai kemeja biru ini. Ya mereka orang tuaku. Terima kasih dokter telah berusaha mengidentifikasikan mereka." Jimin berkata lirih namun jelas. Jimin segera berbalik ke taemin dan berkata
"bawa, aku keluar dari ruangan ini oppa." Taemin mengangguk dan merangkul jimin menjauhi jenazah tuan dan nyonya park.
"ajhussi, aku akan antar jimin pulang. Tolong ajhussi tetap disini, untuk mengurus prosedur selanjutnya." Taemin berhenti sebentar disamping kang ajhussi yang tetap menjaga jarak dari mayat itu.
Mereka sudah berada di dalam mobil dalam perjalanan pulang. Taemin yang mengemudi, dan jimin duduk di sampingnya. Mereka tidak bicara sama sekali sejak keluar dari ruang jenazah hingga sekarang.
"aku tidak ingin pulang ke rumah oppa." jimin memecahkan kesunyian dengan permintaannya itu.
"baik, kau mala mini tidur di apartemen oppa. Dan besok kita akan berangkat ke busan."
"iya, terima kasih oppa."
TBC
Maaf, telat 2 jam lebih.
