Hari yang tidak bersahabat, -5ºC ditambah angin yang berhembus kencang membuat pagi ini terasa menyebalkan. Dinginnya keterlaluan, memakai baju berlapis pun tidak membantu sama sekali. Di cuaca seperti itu, taemin dan jimin harus menunggu 20 menit hingga KTX yang akan membawa mereka ke busan tiba. Taemin menunggu KTX sambil mengeluh tentang cuaca yang menyebalkan, sambil mencari cara membuat dirinya lebih hangat. Sedangkan jimin asik dengan kegiatannya mengagumi keadaan di sekitarnya. Dia senang bisa melihat KTX yang selama ini hanya dia lihat ditelevisi sedang berhenti di depannya, melihat orang yang keluar masuk begitu banyak dan dengan ekspresi yang bermacam-macam merupakan hal yang menyenangkan untuknya. Dia merindukan semua ini, hal-hal sederhana seperti ini sangat berarti untuk jimin yang terpisah dengan dunia luar selama 10 tahun.

"jimin, tidak bisakah kita menunggu di dalam? Oppa kedinginan." Taemin semakin mengeratkan jaketnya untuk menghalau dingin.

"tinggal 5 menit oppa, sebentar lagi akan datang."jawab jimin setelah melihat jam yang terpasang di stasiun.

"uuggh, astaga! Kenapa aku tadi mau menuruti kemauan bodohmu untuk menunggu di luar. Aargh! Terkutuklah kau dan tatapan anak anjingmu!" jimin hanya tersenyum mendengar segala gerutuan taemin, dia masih asik melihat segala kesibukan di sekitarnya. Jimin pikir, mulai sekarang stasiun adalah tempat favoritnya.

"oppa! Oppa! Itu, itu kereta kita datang! ayo oppa cepat, kita nanti akan tertinggal oppa" jimin menarik narik taemin agar bergegas dan berdesakan bersama penumpang lain yang akan memasuki kereta.

"pelan-pelan jimin, kau bisa terjatuh, dan astaga bisa kau membantu oppa membawa barang-barang ini" jimin hanya meringis mendengar keluhan taemin, dia melupakan barang bawaan mereka karena terlalu senang akan naik KTX untuk pertama kalinya. Dia segera mengambil 1 koper dan 1 ransel dari tangan taemin dan segera menarik tangan taemin, diam-diam taemin tersenyum dan bersyukur karena melihat jimin bersemangat seperti ini, taemin pikir jimin akan ketakutan karena melihat banyak orang di sekitarnya, ternyata dia salah.

Taemin dan jimin duduk berhadapan, ditengah mereka ada meja yang berisi makanan ringan yang mereka beli untuk menemani perjalanan mereka. Taemin memandang jimin yang terlihat sedang menikmati pemandangan di luar.

"Kau suka naik kereta?"

"sangat" jimin menjawab sambil tersenyum bahagia tanpa mengalihkan pandangan dari pemandangan di luar.

"syukurlah" taemin mengalihkan pandangan dari jimin dan ikut melihat pemandangan di luar.

"kau bermimpi apa semalam jimin?" taemin bertanya dengan tenang tanpa mengalihkan pandangan dari luar. Jimin yang mendengar pertanyaan taemin menjadi gelisah, dia melirik taemin dengan gugup.

"aku tidak bermimpi apa-apa." Taemin mendengus mendengar jawaban jimin.

"Kau semalam berteriak-teriak, menangis, seluruh tubuhmu bergetar, keringat keluar membanjiri tubuhmu dan tubuhmu juga sangat dingin."

"benarkah? Aku tidak mengingatnya oppa. maafkan aku jika merepotkanmu semalam."

"astaga jimin, bukan masalah itu. Kau membuatku khawatir, kau semalam seperti orang sekarat!. Jika semalam kau tidak segera membuka matamu, Oppa pasti sudah membawamu ke rumah sakit." Taemin menatap tajam jimin yang sedang sibuk bermain-main botol minuman dan menghindari tatapan taemin.

"aku tidak ingat oppa, jadi aku mohon berhenti bertanya mengenai hal itu. Aku mohon." Jimin menjawab lirih masih tetap menolak memandang taemin

"baiklah, jimin" taemin menghela nafas, dia khawatir tapi dia juga tidak bisa memaksa jimin. Taemin paham jika jimin tidak ingin mengingat-ingat tentang mimpi itu.

Ya, jimin memang berbohong. Jimin ingat setiap detail dari mimpinya, sekuat apapun dia mencoba mengenyahkan bayangan-bayangan itu. Membahas mimpi itu, hanya akan membuatnya sesak. Dalam diam jimin dan taemin berharap hal sama, semoga kepindahan mereka di busan, dapat menghapus kesedihan mereka.

.

.

.

1 tahun kemudian

Mereka semua tertawa bahagia, bersenda gurau di pinggir pantai ditemani nyala api unggun dan selimut sampai mereka kelelahan. Bersantai di pinggir pantai seperti ini memang sudah menjadi kebiasaan mereka setiap akhir pekan untuk menghilangkan penat dan bersantai.

"ayolah jimin, ikut ya… jebaaal!" kata seorang laki-laki yang mengguncang-guncang lengan kiri jimin dengan manja dan beragyo ria

"iya jimin, ikut ya. Oppa janji akan selalu memegang tanganmu, biar kau tidak hilang." Kata seorang lagi yang mengguncang-guncang lengan kanan jimin.

"shireo, shireo, shireo! Wooyoung oppa, eunhyuk oppa lepas! Kalian membuat lenganku sakit! Hiiss." Jimin membentak 2 laki-laki yang sedari tadi menganggunya dengan aegyo dan kekonyolan mereka.

"nanti jika kau mau ikut, oppa jamin kau tidak akan menyesal, kalau kau menyesal oppa akan menuruti segala maumu sebagai gantinya. Bagaimana?" wooyoung masih tidak mau menyerah untuk membujuk jimin.

" .MAU. oppa! Kalian kan tahu, seberapa aku membenci keramaian. Berada di keramaian membuatku sesak dan pusing oppa. Membayangkan aku menonton konser di tengah ribuan fans yang menjerit-jerit dan musik yang hingar-bingar membuatku ngeri oppa." Mendengar jawaban jimin, sesaat membuat wooyoung dan eunhyuk berhenti. Tapi tak lama kemudian mereka mulai lagi menganggu jimin.

"aaararggghh! Taemin opaa, lihat! Mereka berdua terus mengangguku!" jimin menoleh kebelakang sambil cemberut mengadu kepada taemin

"maaf jimin, kali ini aku berada di pihak mereka." Taemin mengangkat tangannya menyerah. Jimin cemberut, lalu menoleh kepada wanita yang ada di samping taemin yang sedari tadi hanya tertawa-tawa melihat kejadian yang sedang berlangsung.

"Min Hyorin unniiii, selamatkan aku." Jimin memandang wanita yang bernama min hyorin itu dengan wajah memelas.

"hahaha, maaf jimin. Aku juga ada dipihak mereka berdua. Haha". Tanpa beban min hyorin malah tertawa tawa menyaksikan wajah jimin yang semakin menyedihkan.

"kalian semua kenapa sih? Kenapa memaksa sekali? Apa untungnya jika aku ikut? Toh biasanya aku juga tidak pernah ikut, dan kalian juga tidak pernah mempermasalahkannya. Kenapa sekarang kalian ribut sekali?" jimin memandang mereka semua dengan garang, tapi bagi mereka jimin malah terlihat imut, dia terlihat seperti anak umur 5 tahun yang sedang marah-marah pada orang tuanya.

"Karena tarianmu tidak memiliki emosi sama sekali." Seorang laki-laki lain yang sedang merangkul Min Hyorin menjawab pertanyaan jimin

"Hah? tarianku? Apa hubungan nonton konser dengan tarianku?" jimin bingung mendengar jawaban lelaki itu.

"kami sudah melihatmu menari selama 10 bulan, dan kau sudah membantu kami mengajar tari selama 5 bulan. Selama itu kami menyaksikan seorang gadis yang sangat pandai menari tapi tariannya tak memiliki emosi sama sekali. Kau menari seperti robot jimin. Kau seperti hanya bergerak, bukan menari. Tarianmu terasa hambar." Lelaki itu menjelaskan dengan tenang pada jimin, yang kini hanya terdiam mendengarkan sambil memandangi api ungun yang berada di tengah-tengah mereka.

"Oppa ingin melihatmu menari seperti dulu jim, kau ingat saat kau masih berusia 15 tahun. ketika oppa pertama kali mengajarimu menari? Ketika itu kau menari dengan bahagia. Kau terlihat hidup ketika menari, kau menyalurkan semua emosimu ketika menari. Sampai dulu setiap kau menari semua orang akan terhanyut pada emosi yang sedang kau keluarkan. Kemarahan, kesedihan, kebahagiaan, keputuasaan, semua itu dulu terasa dari tarianmu. Sekarang? Kosong jim, hampa. Kau hambar. Benar kata taeyang hyung Kau masih bisa menari, tapi hambar." Taemin juga menambahi apa yang dikatakan lelaki yang bernama taeyang.

"aku juga menyadarinya" jimin memandang semua orang sambil tersenyum sedih. "tapi bagaimana bisa menonton konser mengembalikan emosi tarianku?" jimin kembali cemberut dengan lucu.

"yang akan kita saksikan ini adalah konser BTS. Grup yang selama ini lagunya dan dancenya selalu kau pilih untuk latihan dan saat kau mengajar. Dan ini juga grup kegemaran kami semua, mereka lah yang memberikan kami inspirasi dan motivasi dalam menari. Lagu mereka selalu penuh emosi dan makna, lagu mereka selalu berhasil membuat kami terlarut dalam emosi. Hanya kepadamulah lagu-lagu mereka tidak bisa bekerja dengan baik. Dan kami pikir itu karena kau sama sekali tak pernah mau mengenal mereka atau melihat video mereka. Jadi mungkin jika kau melihat langsung penampilan mereka, akan memberikan suatu pengaruh untukmu." Kali ini yang menjawab adalah eunhyuk,

"tenang jimin, kami sudah membelikan tiketnya untukmu. GRATIS! Hehehe… jadi kau hanya tinggal menyiapkan badan, dan kita berangkat!" wooyoung menambahkan dengan menggebu-gebu kepada jimin.

"ayolah jimin, Unni ingin sekali melihatmu menari seperti yang diceritakan oleh taemin."

Jimin merasa terpojok sekarang, dia memikirkan positif dan negatifnya. Setelah menimang-nimang sesaat memikirkan segala resikonya, dia akhirnya memutuskan untuk mengabulkan keinginan kakak-kakaknya. Dia pikir layak dicoba, karena sebenarnya dia selama ini juga risau dengan sesuatu yang hilang dari tariannya.

"Baiklah, aku akan ikut." Mereka berlima bersorak bahagia mendengar jawaban taemin. Saking bahagianya wooyoung memeluk jimin erat.

"ya! Ya! Jang wooyoung! Lepaskan jimin, kau manusia mesum! Menyingkir!" taemin berteriak sambil berpindah ke sisi jimin dan berusaha melepas pelukan wooyoung dari jimin.

Keputusan untuk pindah ke busan merupakan hal yang baik untuk jimin. Lingkungan yang baru dan orang baru ternyata memberikan dampak yang baik untuk jimin. Apalagi kehadiran 4 orang yang selalu menyayangi jimin dan mau menerima jimin apa adanya, membuat jimin dapat sedikit mengobati kesedihan dan ketakutannya dalam menghadapi dunia. Mereka berempat adalah teman masa kecil taemin ketika di busan. mereka bisa bersahabat sampai sekarang karena mereka memiliki passion yang sama yaitu di tari, kecuali Min Hyorin. Min hyorin sampai sekarang bergabung dengan mereka karena dia telah tertambat pada taeyang, Kekasih sehidup sematinya. Mereka bersama mengelola bisnis yang bergerak di bidang tari, mereka mendirikan sebuah studio tari sejak 6 tahun yang lalu. Hanya taemin tidak terlalu aktif karena dia harus mengurus perusahaan appa jimin ketika itu. Sekarang setelah kembali kebusan taemin aktif lagi di studio, begitu pula jimin. Dia memiliki kegiatan yang bisa membuatnya sibuk, sehingga ia mampu mengobati kesedihannya.

.

.

.

JIMIN POV

Aku memegang erat lengan Hyorin Unni, peluhku mengalir deras dan jantungku berdetak kencang. Aku merasa nafasku semakin sesak, semakin sulit untuk menghirup udara. Benar seperti dugaanku ini terlalu berlebihan, aku belum bisa menghadapinya.

"tenang jimin, tenang, atur berada di sekitarmu bukanlah orang asing. Lihat, disampingmu ada taemin, ada aku dan di depanmu ada taeyang, wooyoung, dan eunhyuk." Hyorin unni mencoba menenangkanku, tapi itu tidak membantu sama sekali.

"su-sudah, jangan ped-pedulikan aku." Jawabku terbata karena aku sulit mengatur nafas. Aku merasa bersalah pada mereka. Mereka jadi tidak bisa menikmati konser BTS karena terlalu panik melihat keadaanku. Mereka kehilangan momen penampilan BTS hampir mencapai 6 lagu.

Aku berusaha keras menyembunyikan kegelisahanku dan tersenyum manis pada mereka sambil memberikan kode tangan "ok" untuk menunjukkan pada mereka bahwa aku baik-baik saja. Mereka sepertinya tidak terlalu mempercayaiku, tapi mereka mengalihkan perhatian kembali ke konser BTS meskipun aku bisa melihat mereka selalu menoleh untuk melihat keadaanku.

Tak lama kemudian, aku merasakan dadaku semakin sesak dan pandanganku pun mulai mengabur, keringat dingin juga semakin banyak keluar, dadaku sampai nyeri karena jantungku berdetak begitu kencang dan tak beraturan. Aku harus keluar dari sini, sekarang. Saat lampu panggung padam, aku segera berbisik kepada unni mengatakan bahwa aku harus keluar sekarang. Unni mengangguk dan mengatakan akan menemaniku. Kulihat Unni berbisik kepada Taeyang oppa, yang dibalas anggukan oleh oppa.

Kami berdua berdiri dan mulai melangkah melewati bangku-bangku untuk keluar dari gedung ini. Aku sangat kesulitan menembus keramaian ini karena tubuhku semakin melemas setiap aku melangkah, unni memegangiku erat agar aku tidak terjatuh. Aku menyadari bahwa lampu panggung mulai menyala, saat aku sudah hampir mencapai pintu keluar aku mendengarnya. Aku terpaku, Unni hampir terjatuh karena aku yang berhenti tiba-tiba membuat tangannya yang sedari tadi memegangku tertarik kebelakang.

"ada apa jimin?" aku mendengar suara samar-samar unni yang khawatir denganku yang tiba-tiba diam mematung. Aku berbalik dan berjalan kembali ke area konser tanpa memeperdulikan panggilan Unni. Aku berhenti berlari dan melihat kearah panggung.

Aku melihatnya, aku mendengarnya,

Nae gieogui guseok

Han kyeone jarijabeun galsaek piano

Eoril jeok jip anui guseok

Han kyeone jarijabeun galsaek piano

Geuttae gieokhae

Nae kiboda hwolssin deo keossdeon

Galsaek piano geuge nal ikkeul ttae

Neol ureoreobomyeo donggyeonghaesseossne

Jageun songarageuro neol eorumanjil ttae

I feel so nice, mom, i feel so nice

Geujeo son gadeon daero geonildeon geonban

Geuttaen neoui uimireul mollasseossne

Barabogiman haedo johassdeon geuttae

Geuttae gieokhae chodeunghakgyo muryeop

Nae kiga neoui kiboda

Deo keojyeossdeon geuttae

Geutorok donggyeonghaessdeon neol deunghansihamyeo

Baegok gatdeon geonban geu wi meonjiga ssahyeogamyeo

Bangchidwaessdeon ni moseup

Geuttaedo mollasseossji

Neoui uimi naega eodi issdeun

Neon hangsang geu jaril

Jikyeosseuni geureonde geuge

Majimagi doel jul mollassne

Idaeron gaji ma you say

Naega tteonado geokjeongeun hajima

Neon seuseuro jal haenal taenikka

Neol cheoeum mannassdeon geuttaega saenggakna

Eoneusae huljjeok keobeoryeossne niga

Uri gwangyeneun machimpyoreul jjikjiman

Jeoldae naege mianhae hajima

Eotteon hyeongtaerodeun

Nal dasi mannage doel geoya

Geuttae bangapge dasi majajwo

Geuttae gieokhae kkamahge ijgo isseossdeon

Neol dasi majuhaessdeon ttae 14sal muryeop

Eosaekdo jamsi dasi neol eorumanhyeossji

Gin sigan tteonaisseodo

Jeoldae geobugam eopsi

Nal badajwossdeon neo

Without you i am nothing

Saebyeogeul jinaseo duriseo

Hamkke majneun achim

Yeongwonhi neoneun naui soneul nohji ma

Nado dasi neol nohji anheul taenikka

Geuttae gieokhae naui sipdaeui majimageul

Hamkke bultaewossdeon neo geurae han chi apdo

Boeji anhdeon geuttae ulgo udgo

Neowa hamkkeyeoseo geu sunganjocha

Ijeneun chueogeuro

Baksalnan eokkael buyeojapgo malhaessji

Na deo isangeun jinjja moshagessdago

Pogihago sipdeon geuttaemada

Gyeoteseo neon malhaessji

Saekkya neoneun jinjja halsu issdago

Geurae geurae geuttae gieokhae

Jichigo banghwanghaesseossdeon

Jeolmangui gipeun sureonge ppajyeossdeon geuttae

Naega neol mireonaego

Neol mannan geol wonmanghaedo

Neon kkuskkusi nae gyeoteul jikyeossji

Mal an haedo

Geureoni jeoldae neoneun nae soneul nohjima

Du boeon dasi naega neol

Nohji anheul taenikka

Naui tansaeng geurigo nae salmui kkeut

Geu modeun geol jikyeobol neoil taenikka

Nae gieogui guseok

Han kyeone jarijabeun galsaek piano

Eoril jeok jip anui guseok

Han kyeone jarijabeun galsaek piano

(first love-Suga)

Bagaimana bisa? Sama persis?

Nada ini adalah milikku.

Nada ini dibuat eomma untukku.

Lagu pengantar tidurku. Bagaimana bisa?

"jimin, jimin hei! Kau tidak apa-apa?" unni mengguncang-guncang tubuhku, aku menatap unni.

"Unni, dia siapa?" aku menunjuk sosok yang sedang duduk didepan sebuah piano sambil menyanyi di atas panggung. Unni sedikit bingung dengan pertanyaanku.

"Suga. Ada apa jimin? Kau membuatku khawatir."

Suga? Siapa kau?

TBC

Semoga masih ada yang menantikan FF ini.

Eh biar gak bingung. Ini aku kasih tau umur castnya. Sesuai waktu 1 tahun kemudian yaa

Park Jimin: 26 tahun

Min Yoongi : 31 tahun

Lee taemin : 31 tahun

Kim Taehyung : 29 tahun

Jeon Jungkook : 27 tahun

Kim Namjoon : 30 tahun

Kim Seokjin : 32 tahun

Taeyang : 36 tahun

Wooyoung : 35 tahun

Eunhyuk : 35 tahun

Min Hyorin : 38 tahun

.

.