Perjalanan pulang di kereta setelah melihat konser BTS dipenuhi dengan obrolan eunyuk, wooyoung, taemin tentang konser dan penampilan idola mereka, taeyang juga kadang menimpali sambil mengusap-usap lengan min hyorin yang sedang berada di pelukannya dan tengah tertidur pulas. Jimin hanya mendengarkan dan kadang tertawa bersama mereka sambil bersandar pada kaca.

"oke, sekarang kita membahas jimin." Tiba-tiba eunhyuk mengusulkan sesuatu yang membuat jimin kaget dan bingung

"hah? Aku oppa? Aku kenapa?"

"oppa dengar, kau tadi bertanya tentang suga pada Min Hyorin noona. Apakah benar?" eunhyuk bertanya pada jimin sambil tersenyum menggoda jimin.

"Oh itu, ya aku hanya penasaran padanya." Jawab jimin tenang

"penasaran?! Kau tidak jatuh cinta padanya kan?" wooyoung menyela panik sambil menggegam tangan jimin dan mendapat pukulan di belakang kepala dari euhyuk

"kau! Diam! Dan jangan bertindak konyol!" eunhyuk menatap wooyoung yang tengah mengusap-usap belakang kepalanya

"tapi hyuk, kau tau kan. Seperti apa pengaruh BTS pada wanita-wanita sekarang, mereka bisa menggila karena BTS." Wooyoung mendelik tak kalah sengit ke eunhyuk

"tidak oppa, aku tidak jatuh cinta atau suka padanya. Aku hanya penasaran, dia tampil sangat bagus saat konser tadi." Yang dikatakan jimin benar, dia memang sangat penasaran pada suga. Tapi bukan karena penampilannya yang bagus, melainkan karena lagu yang tadi dibawakan oleh suga.

"ya, kau benar. Suga memang tampil dengan baik tadi. Diantara member BTS, dia lah yang paling kukagumi. Dia seorang rapper yang hebat dan dia juga memproduksi lagu, dia seorang musisi yang berbakat. Aku memiliki semua koleksi lagu suga di playlistku." Taeyang mendukung jimin. Taeyang memang sangat mengidolakan suga, karena selain tari, passion taeyang yang lain adalah menjadi seorang rapper.

"oppa memiliki semua lagu suga? Ah, aku ingin mendengarnya."

"ya, aku akan menunjukkan padamu setelah kita sampai di busan."

"terima kasih oppa." Jimin dan taeyang tertawa lebar, taeyang senang jimin juga menyukai suga, sedangkan jimin senang karena dia bisa memastikan apakah nada yang di dengarnya tadi benar nada miliknya.

"wow jimin, kau benar-benar terpesona pada suga ya? Daebak! Hahaha" eunhyuk tertawa senang sambil bertepuk tangan.

"apa sih?! Pendek, pucat, tanpa ekspresi, mukanya juga songong. Aku benci suga!" wooyoung mengucapkan semua itu dengan emosi.

"Ya! Jang wooyoung!" taeyang dan eunhyuk bersamaan membentak wooyoung, sedangkan jimin hanya tertawa melihat wooyoung yang cemberut.

"jangan pernah menjelekkan suga di depanku. Kau woodong!" taeyang emosi karena idolanya di jelek-jelekan seperti itu

"hentikan tingkah cemburu konyolmu itu jang, kau sudah 35 tahun. Astaga, aku geli melihatnya. Jika bertingkah konyol lagi, Aku bersumpah akan menendangmu keluar dari KTX ini dengan kakiku sendiri." Eunhyuk pun tak kalah sengit dari taeyang.

Jimin tertawa-tawa hingga perutnya sakit melihat wooyoung yang di caci maki oleh hyung dan temannya itu. Taemin yang sedari tadi diam-diam memperhatikan jimin pun merasa senang dan juga penasaran melihat mata adiknya berbinar setiap menyebut atau mendengar nama suga disebut.

"hmmm, suga…" taemin membatin dalam hati

.

.

Jimin tengah melamun sambil memandang keluar jendela kamarnya yang berada di lantai 2 rumah taemin. Pikiran jimin sekarang tengah dipenuhi dengan satu nama, "SUGA". hal ini terjadi setelah jimin mendengar lagu "First Love" milik suga dari MP3 player Taeyang.

Jimin sudah mendengar lagu itu sebanyak 10 kali lebih untuk menyakinkan dirinya bahwa nada yang ia dengar di lagu itu adalah nada pengantar tidurnya. Dan sebanyak itu dia mendengarkan, semakin yakin bahwa itu benar nada miliknya, setiap not sama persis tidak ada yang berbeda. Setelah jimin yakin bahwa nada itu adalah nadanya, dia memperhatikan lirik yang ada di lagu itu. Dia mengulang-ulang lagu itu lagi dan lagi, dan semakin banyak ia mendengarkan, pikirannya dipenuhi dugaan-dugaan yang membuatnya takut tentang jati diri suga sebenarnya. Dia segera mematikan lagu itu agar ia mampu berpikir dengan jernih tentang semua ini. Maka disinilah jimin sekarang, melamun 1 jam lebih memikirkan siapa "SUGA" sebenarnya.

First love? Cinta pertama? Apa suga kekasih eomma? Eomma selingkuh? Tapi bukankah umur suga terpaut terlalu jauh dengan eomma? Tapi itu tidak menutup kemungkinan. Banyak drama yang mengisahkan kisah cinta dengan usia yang terpaut jauh. Tapi eomma bukan orang seperti itu. tidak…tidak… tapi BAGAIMANA KALAU BENAR?! Apa aku akan memiliki seorang appa tiri?! Ya tuhan!

Tapi tunggu, lagu tadi sepertinya bukan menceritakan tentang cinta kepada seorang kekasih. Lagu tadi seperti menceritakan tentang masa kecil suga dengan "mom", eomma? Jangan-jangan sebelum bertemu appa, eomma memiliki keluarga. Dan suga adalah anak kandung eomma? dia oppa tiriku? Lalu appa adalah selingkuhan eomma? Tidak, tidak,appa bukan orang jahat seperti itu. atau suga adalah kakak kandungku yang dipisahkan dariku? Kenapa? Tapi kami tidak mirip? Aaah drama sekali!

Aku harus bertanya pada siapa?! Eomma tidak memiliki keluarga, appa juga anak satu-satunya, dan keluarga appa aku juga tidak tahu. Suga, hanya suga yang tahu. Aku harus bertanya padanya langsung, tapi bagaimana caranya? Dia idol, aku hanya orang ingusan. Bagaimana caraku menemuinya. Aaaah….. apa aku….

Suara ketukan di pintu memecahkan lamunan jimin.

"ya?" jimin menjawab masih dengan setengah sadar

"ayo turun sayang, makan malam dulu." Jimin baru sadar ternyata matahari sudah tenggelam, astaga berapa lama dia duduk melamun.

"Ya bibi Nam, aku akan turun sebentar lagi."

Di meja makan sudah ada taemin, kang ajhussi, dan bibi nam. Jimin segera bergabung dan duduk di seberang meja berhadapan dengan taemin.

"kau sedang tidur tadi?" taemin bertanya pada jimin

"ani, aku sedang sibuk berpikir. Sampai membuatku lupa waktu." Jimin menjawab sambil mengunyah makanannya.

"berpikir tentang apa, sampai membuatmu lupa waktu makan?" mendengar pertanyaan taemin, jimin menghentikan kegiatan makannya. Dia memilih mengunyah makanan terkahir yang memasuki mulutnya dan memandang taemin, di otaknya sedang terjadi perdebatan "apakah aku harus memberitahunya? Kenapa aku tidak memberitahunya? Aku selalu menceritakan apapun pada taemin oppa."

Taemin yang dipandang demikian lekat oleh jimin menjadi risih, dan dia melemparkan pandangan bertanya. Bukannya menjawab, jimin malah beranjak dari tempat duduknya dan pergi menuju kamarnya

"Ya jimin! Habiskan makananmu!" taemin berteriak pada jimin

"hanya sebentar oppa, aku akan kembali lagi!" teriak jimin sambil melesat pergi ke kamarnya. Jimin turun sambil membawa Mp3 palyer milik taeyang. Kemudian jimin memasang mp3 player itu ke speaker yang ada di ruang santai dekat dengan meja makan. Ketiga orang yang ada di meja makan hanya terdiam melihat tingkah jimin.

"aku akan menunjukkan sesuatu pada kalian semua" jimin mengatakannya dengan ceria. Taemin tanpa sadar tersenyum melihat eyesmile adiknya itu.

Setelah menekan tanda play, jimin kembali ke meja makan. Terdengar musik "first love" mengalun dari speaker, ketiga orang tadi mendengarkan dengan seksama. Sedangkan jimin melanjutkan makannya dengan tenang. Tak lama kemudian,

"bukankah ini lagu "first love" milik suga?" kata taemin

"wah, lagu Jimin dan nyonya park." Kata Bibi Nam

Taemin dan Bibi Nam mengucapkannya bersamaan, dua orang itu saling pandang dan bingung. Jimin yang melihat itu tersenyum senang. Akhirnya ada orang yang bingung sepertinya.

"suga? siapa suga?" Bibi Nam bertanya pada taemin

"Lagu Ini milik jimin dan nyonya park?" bukannya menjawab, taemin malah ikut bertanya pada Bibi Nam.

"Iya, ini adalah lagu yang sering nyonya park mainkan di piano untuk jimin, ketika jimin tidak bisa tidur. Kadang mereka juga memainkannya bersama ketika waktu santai. Tapi dulu tidak ada liriknya hanya musiknya saja. Apakah yang memberikan lirik ini dirimu jimin?" Bibi nam menoleh pada jimin yang ada di sampingnya. Jimin hanya membalasnya dengan senyuman dan menggeleng.

"bukan jimin Bibi Nam, tapi seseorang yang bernama suga yang menciptakan lagu dan musik ini." Taemin menjawab pertanyaan Bibi Nam

"menciptakan? Memang kapan lagu ini dibuat?" kang ajhussi bertanya pada taemin

"lagu ini baru di keluar di pasaran tahun lalu kata taeyang oppa." Jimin menjawab pertanyaan kang ajhussi sambil berpangku tangan melihat percakapan ketiga orrang tersebut.

"nah, sedangkan kami mendengarkan musik ini sejak jimin berumur 5 tahun." kang ajhussi menjawab sambil menggebrak meja tanpa sadar saking semangatnya

"mungkin hanya mirip?" usul taemin ragu-ragu

"tidak oppa, aku sudah mendengarkan dengan hati-hati dan berulang-ulang, kunci dasarnya sama persis." Jawab jimin lirih

"benar taemin-ah, aku sangat mengenali musik ini. Meskipun yang sering dimainkan jimin dan nyonya park lebih indah kurasa." Bibi nam menambahkan

"karena eomma dan aku sering menambahkan variasi nada ketika bermain bibi nam. Inilah masalah yang membuatku berpikir. Aku sangat penasaran dengan siapa suga, kenapa tahu nada yang eomma ciptakan untukku. aku ingin bertanya, tapi bingung harus bertanya pada siapa." Keempat orang secara bersamaan menghembuskan nafas frustasi

"aku harus bertemu dengan suga. aku harus menanyakan langsung padanya." Kata jimin sambil memandang taemin

"jimin kau sadar kan suga itu IDOL?" taemin menekankan kata idol dengan jelas. Jimin hanya mengangguk menanggapi

"lalu bagaimana caramu mau menemuinya?"

"aku belum tahu oppa, aku sedang memikirkannya sekarang." Jimin memang sama sekali tidak tahu. Tapi dia akan mencari cara. Dia harus menemui suga.

.

.

.

"aku tahu cara agar kau bisa bertemu suga" taeyang memandang jimin dan taemin sambil tersenyum menenangkan. Saat ini taeyang, min hyorin, jimin, dan taemin tengah berkumpul di sebuah cafe. Jimin dan taemin memutuskan menemui taeyang untuk meminta saran, dan juga sedikit berharap akan adanya pertolongan memecahkan masalah "SUGA" yang tengah dihadapi mereka saat ini. Tapi, jimin dan taemin tidak mengatakan maksud mereka sebenarnya. Taemin hanya menjelaskan bahwa jimin sekarang tengah tergila-gila pada suga. dan ia sangat ingin bertemu langsung dengan suga.

"benarkah hyung?" taeyang mengangguk menanggapi pertanyaan taemin "bagaimana caranya?"

"Fansign" mendengar jawaban taeyang, taemin menepuk jidatnya keras dan jimin hanya terbeongong.

"Kau benar hyung, kenapa aku bisa melupakan itu?! bodoh!" taemin frustasi dengan kebodohannya.

"fansign itu apa oppa?" jimin bertanya, dia sama sekali belum pernah melihat, mendengar ataupun tahu mengenai hal ini

"fansign itu adalah acara tanda tangan album yang diadakan oleh idol di saat masa promosi album mereka. Di acara itu fans bisa bertemu idola mereka secara langsung, berhadapan secara langsung, bisa berbicara padanya, memegang tangan, kadang jika mereka beruntung mereka juga bisa menyentuh wajah mereka. Acara itu adalah surge bagi fans-fans yang beruntung." Min hyorin menerangkan pada jimin

"beruntung? Maksud noona?" taemin tidak paham, setahunya mengikuti fansign tidak memerlukan keberuntungan

"mengikuti fansign yang diadakan BTS memerlukan tiket, dan tiket yang disediakan biasanya diundi melalui lotre saat fans membeli album mereka." Muka jimin langsung mendung mendengar penjelasan taeyang.

"Tenang jimin, kesempatanmu banyak. Biasanya BTS mengdakan 5-7 kali fansign ditempat yang berbeda-beda." Min jhyorin memegang tangan jimin yang duduk di hadapannya.

"benarkah noona?" min hyorin mengangguk mendengar seruan gembira jimin. "syukurlah"

"kau tau kapan itu diadakan hyung?" taemin bertanya pada taeyang

"berita terakhir yang kubaca, BTS akan mengeluarkan album baru bulan September nanti. Tanggal pasti rilisnya kapan belum ada. Kita tunggu saja. Aku dan hyorin akan membantumu jimin. Aku bahagia akhirnya hidupmu mulai memiliki warna. Life is never flat." Mendengar kata-kata taeyang yang terakhir, mereka berempat tertawa bersama.

.

.

.

.

7 Oktober 20xx

WOOYOUNG POV

Aku benci melihatnya seperti ini, semua gara-gara suga sialan itu. Seharusnya aku tidak memaksa jimin melihat konser BTS. Senjata makan tuan, berharap bisa membuat jimin bahagia setelah melihat konser, malah sekarang aku dihadapkan pada jimin yang tengah tergila-gila pada suga. Tapi aku tidak akan kalah pada idol itu. aku sudah mendapatkan poin plus. Aku nyata, dan idol itu hanyalah mimpi belaka, tidak nyata.

"berhenti menatap jimin, seperti kau akan memakannya." Min hyorin noona menepuk pundakku pelan, aku menoleh pada noona dan memberikan wajah imutku padanya. noona menyentil dahiku sambil tertawa. "sakit noona!" noona hanya tertawa menanggapi protesku. Kami kembali melihat jimin yang tengah bermain piano di studio musik yang ada di gedung tari kami. Aku melihat jimin kembali mengerang frutasi sambil menekan tuts-tuts piano dengan keras dan kasar.

"hah! hadiah sialan! Kenapa juga si pendek dan pucat itu harus mendapatkan hadiah yang penuh perjuangan seperti ini dari jimin?! Kenapa juga jimin harus berjuang sebegitu kerasnya untuk orang yang bahkan tidak ia kenal!" aku begitu marah melihat jimin dengan segala pikirannya ingin memberikan hadiah berupa aransemen lagu "First love" untuk suga. kenapa harus bersusah payah seperti itu, aku yakin pasti suga tidak akan pernah mendengarkannya. Aku saja yang selalu ada di sampingnya tidak pernah mendapatkan perjuangan jimin seperti ini.

"jangan bersikap menyebalkan jang. Tidak bisakah kau yang mengaku-ngaku mencintai jimin mendukungnya meraih kebahagian? Tidak kah kau senang melihat jimin melakukan sesuatu dengan penuh gairah seperti ini? dia sekarang berwarna, tidak hitam putih lagi. Lihat, begitu banyak ekspresi yang ia keluarkan sekarang. Kau juga tahu kan bagaimana perjuangan jimin untuk mendapatkan tiket fansign ini. dia sudah gagal berkali-kali, tapi dia terus berusaha. Hingga akhirnya keberuntungan menyapanya di detik-detik terakhir. Dia mendapatkan tiket fansign di hongdae, last fansign. Jadi jangan patahkan semangatnya." Aku merasakan tatapan tajam min hyorin noona padaku

"aku hanya tidak ingin ia sakit hati ataupun kecewa noona. Perasaan suka pertama kalinya kenapa harus jatuh pada seorang idol?!. Manusia yang memiliki banyak wanita dihidupnya."

"jangan pernah berani mengatakan hal brengsek itu di hadapan jimin. Don't act like a jerk!" aku memilih diam tak menanggapi noona yang sedang marah seperti ini. aku melihat jimin kembali mengerang frustasi dan menghentak-hentakkan kakinya.

"Suga Sialan!" batinku dalam hati.

.

.

.

8 Oktober 20xx at Hongdae

Jimin berulang kali menghela nafas untuk mengurangi perasaan gugupnya. Kakinya terus bergerak-gerak karena gelisah. Tangan kirinya sibuk meremat mp3 palyer yang berisi lagu untuk suga dan tangan kanannya memegang album terbaru BTS "Love yourself". Jimin menyesal telah mengijinkan taemin menemui minho dan meninggalkannya sendirian disini. Jimin semakin gugup karena sebentar lagi adalah gilirannya untuk menaiki panggung dan bertemu langsung dengan anggota BTS. Dia juga merasa sedikit minder dengan fans yang lain karena mereka membawa hadiah untuk setiap anggota, sedangkan jimin hanya membawa mp3 player untuk suga, itupun juga bukan hadiah, Tapi bukti.

Meskipun jimin selalu berkata dalam hati bahwa dia bukan fans, dia disini hanya untuk mencari kebenaran. Namun, dia tidak bisa memungkiri bahwa 6 orang di panggung itu telah membuatnya terpesona. Mereka tidak lagi tampan, mereka INDAH. Aura mereka memabukkan, dan jimin rasa semua yang ada di ruangan ini seperti tersihir dengan mereka. Apapun yang mereka lakukan terlihat indah di mata jimin, bahkan saat mereka batuk, bengong, bersin. Mereka tetap indah.

Giliran jimin telah tiba. Dia menaiki tangga menuju panggung, sebelum dia menemui anggota yang pertama. Dia dicegat oleh seseorang wanita yang menyuruhnya untuk melepas topi dan masker yang sedari tadi ia kenakan. Karena tidak mau menarik perhatian, dia segera menuruti orang tersebut, melepas topi dan maskernya. Orang itu terkesiap melihat wajah jimin yang begitu rupawan.

Jimin sekarang berhadapan dengan V, yang sedari tadi menunduk sambil menandatangani albumnya. Jimin menunggu dengan tenang. "apa kau tidak ingin memberiku hadiah?"taehyung bertanya dengan tenang, Jimin gugup mendengar pertanyaan taehyung. "a-aah, anu, aku maaf tidak membawakanmu hadiah." Taehyung segera mendongak mendengar jawaban jimin. Dia menatap jimin, dan kemudian terperangah.

"cantik, kau cantik." Jimin tersipu, pipinya merona merah yang menambah kecantikannya. Melihat itu V tertawa gemas,dia mencubit kedua pipi jimin. Jimin merasakan jantungnya berdetak cepat.

"Siapa namamu?" V bertanya sambil menggenggam tangan jimin erat. "jimin" jawab jimin pelan. Jimin terkesiap karena tiba-tiba V mendekatkan wajahnya pada jimin. "Siapa? Maaf aku tidak mendengarnya dengan jelas"

"Jimin, Park Jimin." Jimin mengucapkannya dengan lebih keras dan jelas.

"park jimin, apa kau seorang trainee?" pertanyaan V membuat jimin bingung "Trainee? Apa itu?" V tertawa mendengar jawaban polos jimin "Bukan ya? Tidak penting".

Jimin merasa tidak nyaman tangannya terus digenggam oleh V, dia berusaha melepaskan tangan V dengan sopan. Melihat itu V mengernyit tak suka.

"kenapa? Kau tidak suka tanganmu kugenggam?" nada bertanya V cukup tidak ramah, membuat jimin merasa tak enak hati.

"Bukan begitu V-ssi, hanya saja,aku, tidak, mmm.. aku.. maaf... a-aku" jimin jadi gelagapan karena dipandang dengan tajam oleh V

"Kenapa kau tidak bertingkah laku seperti fans? Kau memanggilku apa tadi? V-ssi? Berapa umurmu?"

"26" jimin menjawab dengan gugup, dan dia semakin tidak nyaman karena tatapan tajam V dan genggaman erat tangan V. seseorang menepuk bahu V keras dan memberitahu bahwa jimin harus segera bergeser. V dan jimin melihat ke samping dan melihat bahwa ternyata jimin telah tertahan lama dengan V, sampai tempat di depan RM dan Jungkook kosong.

"baiklah, sampai jumpa jimin. Dan lain kali bawakan aku hadiah, dan juga panggil aku oppa." Taehyung berkata jenaka pada jimin. Jimin mengangguk dan tersenyum lalu bergeser menuju RM.

"siapa namamu?" RM bertanya pada jimin. "Park Jimin". RM segera menandatangani album jimin dan menyerahkannya kembali sambil tersenyum manis pada jimin. Jimin suka melihat senyum RM, senyum itu ramah. RM mengajaknya ber high-five lalu menyuruhnya untuk bergeser. Jimin segera bergeser ke hadapan jungkook. Jimin sempat melirik ke tempat suga, yang ternyata sudah kosong entah sejak kapan. Dan dia semakin gugup karena pandangan matanya bertemu dengan pandangan suga yang ternyata tengah memperhatikannya.

.

.

SUGA POV

Manis, lugu, menawan, dan tidak histeris. Poin "tidak histeris" harus digaris bawahi. 11 tahun aku berkarir menjadi idol baru sekarang melihat fans yang tidak histeris dan bersikap tidak nyaman pada jungkook. "tidak nyaman"? tidakkah dia fans? Kenapa sikapnya defensif seperti itu? Dan kenapa dia terus melirikku dengan takut dan gugup?.

Aku jengah melihat jungkook menggoda gadis itu, tapi menjadi sedikit terhibur melihat sikap gadis itu yang tidak nyaman dan menolak sentuhan-sentuhan jungkook. Setelah ini aku akan membully jungkook habis-habisan. Dia ditolak oleh seorang fans. Astaga! Dan tunggu dia memanggilnya jungkook-ssi?! Hahaha gadis yang menarik.

SUGA POV END

.

.

Jimin telah sampai di hadapan suga. Jimin menunduk menghindari memandang suga. jimin tidak tahu kenapa jantungnya berdetak cepat dengan cara yang asing dan hatinya juga berdesir-desir merasakan kehadiran suga yang begitu dekat. Jimin diam menunggu suga menyapanya seperti V, RM, dan Jungkook. Tapi nihil, suga tetap terdiam bahkan jimin tidak merasakan pergerakan dari suga. Jimin memberanikan diri mengangkat kepalanya dan jantungnya berhenti berdetak, karena suga memandanginya dengan lekat. Pandangannya sangat santai, seperti pandangan yang diberikan pada anak kecil yang tengah ngambek tak ingin berbicara. Jimin jadi gelagapan, dia meremat tangannya dan kemudian memfokuskan diri.

"ingat jimin, kau jangan seperti gadis bodoh dihadapan suga. ingat tujuan awalmu!" jimin kemudian menghela nafas dan memandang suga sambil mencoba menetralkan detak jantungnya.

"suga-ssi aku membawakan hadiah untukmu." Jimin mengucapkannya dengan lancar meskipun suaranya bergetar. Dia meletakkan mp3 playernya di meja dan mengulurkan sebuah earphone kepada suga. Suga menaikkan sebelah alisnya, sambil menatap earphone itu.

"Maukah kau mendengar laguku?" jimin memandang suga dengan tatapan memohon. Perlahan namun pasti,suga mengambil earphone dari tangan jimin lalu memasangnya di telinga.

"aku akan memainkan lagunya." Suga mengangguk menanggapi. Jimin menekan tanda play, dan kemudian menunggu. Pertama kali mendengar suga mengernyit dan memberi isyarat pada jimin untuk menaikkan volumenya. Semakin lama mendengarkan, wajah suga menjadi tegang dan pucat. Pikiran dan jiwanya sudah tidak berada di tempat itu, sekarang suga tengah mengembara ke masa lalunya. Hingga tanpa sadar dia mengucapkan

"EOMMA"

Jimin tersentak dan membelalakkan matanya, menatap suga tak percaya, tanpa sadar dia mendekat ke arah suga. dan terulang kembali

"EOMMA BOGOSHIPO"

TBC

Maaf, ceritanya bertele-tele. Aku pengen detail soalnya hehehe…. Semoga nyampe feelnya, amiin