Jimin tengah duduk di sebuah restoran yang sangat "classy", restoran dengan warna dominasi hitam, meja bundar dikelilingi oleh sofa yang sangat terlihat dingin tapi ketika mendudukinya terasa sangat nyaman. Suasana restoran juga sangat "cozy", dengan musik jazz yang mengalun lembut membuat siapapun yang berada disana betah hingga berlama-lama. Namun jimin duduk dengan gelisah, banyak makanan yang terhidang di depannya tapi dia tak menyentuhnya sama sekali. Bukan karena iya asing dengan makanan mahal, tapi dia terlalu gelisah untuk makan sekarang. Jimin tengah menunggu suga, seseorang yang membuatnya gelisah sejak ia meninggalkan acara fansign.

.

.

FLASHBACK

"eomma bogoshipo"

Jimin memandang tajam suga yang sedang memejamkan matanya seperti asik di dunianya sendiri. Tanpa jimin sadari dia telah mendekatkan wajahnya terlalu dekat pada suga hingga seorang staf menyuruhnya agak memundurkan badan menjauh.

Jimin menunggu dengan gelisah dan terus menatap suga yang sedang menggigit bibirnya dan menampakkan ekspresi seperti kesakitan. Jimin terus menunggu, hingga suga membuka dan matanya. Suga menatap jimin tajam dengan ekspresi yang sangat datar dan dingin. Tanpa mengucapkan sepatah katapun suga menandatangani album jimin, menyerahkan Mp3 playernya dan menyuruhnya untuk bergeser. Jimin bingung, dia tidak menyangka akan seperti ini tanggapan suga.

Acara berjalan dengan lancar, suga terlihat biasa saja seakan dia tidak pernah mendengarkan musik jimin dan mengucapkan kata yang membuat jimin kaget setengah mati. Jimin memandang suga dengan kecewa, dia mengharapkan jawaban, ternyata dia tidak mendapatkan apapun. Bahkan sekadar komentar dari suga mengenai aransemennya.

Acara telah selesai, jimin keluar dari tempat fansign dengan lesu, dan penuh kekecewaan. Dia mengeluarkan HP dari tasnya untuk menghubungi taemin agar menjemputnya. Saat jimin tengah menunggu panggilannya tersambung pada taemin, tiba-tiba bahunya ditepuk dari samping oleh seseorang. Jimin menoleh ke orang tersebut, orang tersebut tersenyum ramah padanya, dan jimin tidak mengenalnya.

"Perkenalkan saya Sejin, manajer dari BTS." Orang tersebut memperkenalkan dirinya pada jimin, sambil mengulurkan tangannya. Di saat yang sama taemin menjawab panggilan jimin

"halo jimin?"

"ah maaf oppa, aku akan menghubungimu lagi. Aku ada urusan sebentar." Tanpa menunggu jawaban, jimin mematikan teleponnya.

"oh, maaf, iya. Ada perlu apa sejin-ssi?" jimin menjabat tangan sejin sambil membukuk sopan

"apakah anda bernama park jimin?"

"iya benar," jimin bingung dengan situasi ini

"sudah saya katakana tadi, saya adalah manajer BTS" orang itu memberikan kartu nama pada jimin

"saya menyampaikan pesan dari suga untuk anda park jimin-ssi."

"suga?! Suga BTS?" jimin meyakinkan pendengarannya

"iya benar, dan agar anda percaya pada saya. Suga mengatakan untuk menyebutkan kata 'byun baekhyun'. Suga ingin bicara secara pribadi kepada anda,apakah anda berkenan ikut saya menuju restaurant yang sudah dipesan suga?"

"iya, saya mau" jimin masih bingung, tapi di dalam hatinya dia merasa lega ternyata suga tidak mengacuhkannya.

"baiklah silahkan ikut saya"

FLASHBACK END

.

.

Kembali pada jimin yang sedang menunggu suga. setelah menunggu kira-kira 30 menit, akhirnya suga muncul dan sekarang dia ada dihadapan jimin.

"halo jimin," suga menyapa jimin dengan ramah sambil tersenyum sangat manis pada jimin. Membuat jimin menjadi salah tingkah

"ha-halo suga-ssi" jimin tergagap menjawab pertanyaan suga karena dia mendadak gugup dengan suga yang berjarak sedekat ini, dia sangat tampan dan juga wangi.

"sepertinya kau lebih muda dariku, panggil aku oppa" jimin hanya mengangguk menanggapi

"apa kau tidak suka dengan makanannya?" jimin cepat-cepat menggeleng

"aku tidak lapar" jimin menolak, tapi matanya menatap makanan yang ada di meja dengan tatapan lapar. Suga melihat semua itu, dia terkekeh melihat tingkah jimin.

"makanlah, meskipun hanya sedikit. Temani aku makan." Jimin ingin menolak, namun berhenti saat suga berkata "tidak baik membuang-buang makanan" suga melihat jimin masih takut-takut untuk makan.

"aku hanya akan membahas soal 'byun baekhyun' jika kau makan." Tanpa menunggu diperintah 2 kali, jimin mulai makan dengan cepat. Suga menyeringai melihat jimin berhasil terbujuk.

Mereka berdua telah menghabiskan hidangan utama, dan sekarang mereka tengah memakan hidangan penutup berupa es krim coklat dan vanila.

Jimin tidak berani memulai percakapan, sehingga dia berpura-pura sibuk memakan es krim sambil menunduk tak berani memandang suga.

"jadi, kau benar park jimin? Anak dari byun baekhyun dan park chanyeol?" suga membuka percakapan sambil menatap jimin.

"benar, dan siapa suga-ssi hingga mengenal kedua orang tuaku? Apakah kita bersaudara?" jimin kini juga menatap suga meskipun kadang kala masih menunduk sambil memain-mainkan es krim

"oppa, panggil aku oppa. Dan aku bukan saudaramu."

"lalu, bagaimana oppa mengetahui nama asli ibuku? Karena di seoul dia dikenal dengan nama park baekhyun"

"karena dia eommaku." Jimin tersentak mendengarnya, sedangkan Suga mengatakan hal itu dengan santai sambil memakan es krim.

"eomma, maksud oppa?"

"aku tidak ingin menceritakannya kepadamu" jimin ingin protes pada suga, tapi suga menghentikannya

"aku tidak ingin menceritakannya, aku ingin menunjukkannya langsung padamu." Suga mengeluarkan sebuah kalung dari balik kaos yang dia gunakan, kalung itu memiliki bandul berwarna putih dengan bentuk bulat dan tanda bintang melapisi bagian luarnya. Kemudian, suga melepaskan kalung itu, membuka bandulnya dan menyerahkannya pada jimin. Jimin menatap suga bingung.

"lihatlah." suga menyerahkan kalung itu ke tangan jimin. Di dalam bandul itu, terdapat foto ibu jimin dan seorang anak laki-laki kecil yang sedang merangkulnya. Mereka berdua terlihat sangat bahagia.

"ini eomma, dan anak laki-laki ini siapa?" jimin menatap suga yang ternyata tengah menatap kalung di tangan jimin

"itu aku, ketika berumur 3 tahun" jimin menatap suga terkejut.

"oppa, aku mohon jelaskan secara lengkap. Siapa oppa sebenarnya, dan apa hubungan oppa dengan eomma?"

"aku akan menjelaskannya jimin. Tapi aku ingin menjelaskannya secara langsung dihadapan eomma. Jadi aku, kau, dan eomma harus ada untuk menjelaskan semuanya." Jimin terdiam mendengar permintaan suga, wajahnya berubah sendu.

"eomma sudah meninggal oppa." Jimin menjawab lirih. Suga menatap jimin tidak percaya.

"APA?! Katakan yang benar jimin!" jimin terkejut karena suga membentak jimin dengan keras.

"eo-eomma sudah meninggal oppa, satu tahun yang lalu. Eomma dan appa mengalami kecelakaan pesawat." Jimin menjawab cepat, dan menatap duga takut karena suga berubah dingin dan dia seperti menahan amarah.

"lalu, hari ini kau datang padaku dengan membawa lagu itu atas perintah siapa?" suga bertanya dengan datar dan dingin pada jimin

"atas keinginanku sendiri, aku melihat oppa di konser dan mendengar oppa menyanyikan lagu 'first love' menggunakan lagu yang diciptakan eomma untukku." Jimin menjelaskan sambil meremat-remat tangannya, tanda dia sangat gugup

"untukmu?" suga menggertakkan giginya dan tangannya mencengkram meja dengan erat.

"ya, lagu itu eomma ciptakan sebagai lagu pengantar tidurku." Suga mendengus mendengar penjelasan jimin. Jimin menatap suga bingung dan juga kasihan.

"maafkan aku oppa," entah untuk apa, jimin meminta maaf. Dia hanya merasa sudah menyakiti suga.

"lupakan, aku tidak apa-apa." Suga mengelap mukanya dengan kasar, dan kembali tersenyum pada jimin. Jimin menatap suga bingung, dalam hati jimin bertanya bagaimana emosinya bisa berubah-ubah sebegitu cepatnya.

"aku ingin mengajakmu ke daegu." Jimin terkejut dengan ajakan dadakan suga

"aku ingin menunjukkanmu sesuatu" suga menjawab sambil tersenyum misterius

"apakah ini juga berhubungan dengan eomma?" suga mengangguk menanggapi.

Jimin tidak langsung menjawab, dia terlihat berpikir dengan keras, hingga HPnya berbunyi menandakan ada panggilan masuk. Jimin meminta ijin kepada suga untuk mengangkat telvon, yang dibalas anggukan olehnya. Jimin segera menjauh dari suga

"Halo oppa"

"kau dimana jimin? Oppa sekarang berada di tempat fansign, dan ternyata acaranya sudah selesai dari 2 jam yang lalu. Kau dimana? oppa akan menjemputmu."

"aku tidak tahu oppa, sebentar akan kutanyakan pada temanku."

"oppa, sekarang kita ada dimana? Oppaku akan menjemput kemari." Jimin bertanya pada suga

"katakan pada oppamu untuk tetap menunggu disana, Aku yang akan mengantarmu. Tempat ini agak susah dicari." Jimin mengangguk dan kembali berbicara pada taemin

"oppa, temanku bilang tempat ini susah dicari. Sehingga dia menyarankan agar kau menunggu di situ. Kami yang akan mendatangimu."

"baiklah, oppa akan menunggu di cafe yang ada di seberang tempat fansign. Hati-hati di jalan"

"mm, araseo"

"oppaku, menunggu di tempat fansign tadi suga oppa." Jimin menghampiri suga yang ternyata telah bersiap untuk pergi

"baiklah, ayo kita pergi" suga menggandeng tangan jimin, sambil berjalan keluar restaurant menuju parkiran. Jimin merasa wajahnya memanas dan jantungnya berdetak dengan kencang, tanpa sadar dia tersenyum senang, meskipun jimin belum berani membalas genggaman tangan suga.

Sampai ditempat parkiran, suga membukakan pintu mobil untuk jimin sambil tersenyum sangat manis.

"terima kasih oppa" jantung jimin berdetak semakin kencang dan wajahnya semakin memerah, membuatnya terlihat manis sekali.

Sepanjang perjalanan, keheningan menyelimuti mereka berdua. Suga sibuk menyetir dan jimin sibuk memandang jalan. Tapi sebenarnya mereka menyadari kegiatan satu sama lain, karena keadaan di dalam mobil sangat tegang dan canggung. Menyadari itu, suga menyalakan musik di mobilnya, agar suasana menjadi lebih santai.

"jadi jimin, bagaimana mengenai tawaranku soal daegu?" suga bertanya sambil tetap memandang kedepan

"soal itu, aku ingin mendiskusikannya dulu dengan oppaku. Jadi aku butuh waktu berpikir" suga mengangguk mendengar jawaban jimin.

"apakah kau sangat dekat dengan oppamu?"

"ya sangat, dia sudah seperti orangtuaku, temanku, musuhku, kadang juga seperti pacarku" tanpa sadar jimin tertawa membayangkan taemin. Suga tertegun mendengar tawa jimin, hatinya menghangat. Dia menyukai suara tawa jimin, karena mirip dengan byun baekhyun.

"kau sangat dekat ternyata." Suga menggumam pelan "baiklah, catat nomorku jimin. Kabari aku jika kau sudah memiliki keputusan."

"oh, oh, i-iya baik." Jimin gelagapan, dia tidak menyangka akan mendapatkan nomor suga, seorang idol korea. Suga menyebutkan nomornya dan jimin segera mencatatnya di hape dan menyimpannya.

Setelah itu keheningan kembali menyelimuti perjalanan mereka berdua

"sudah sampai. Aku tidak turun jimin, takut nanti ada fans yang akan mengenaliku."

"iya oppa, terima kasih. Aku akan mengabari secepatnya"

"aku menunggu." Kemudian suga mengulurkan tangannya, jimin menerima jabat tangan suga. dan tanpa jimin duga,suga menariknya hingga ia jatuh ke pelukan suga. jimin hanya bisa diam membeku

"aku benar-benar menunggu" suga membisikkan kata itu tepat di telinga jimin dan melepas pelukannya. Jimin hanya menunduk, wajahnya sudah memerah, dia segera membuka pintu mobil dan berlari meninggalkan mobil itu dengan debaran jantung yang menggila.

.

.

SUGA POV

heh, mudah sekali. Jadi oppa yang kau maksud adalah taemin. Aku harus segera pergi dari sini, sebelum ada orang yang mengenali mobilku.

Eomma, bagaimana bisa kau benar-benar meninggalkanku?! Tidak kah kau benar-benar keterlaluan?! dan aku mengetahui itu semua dari anak itu. dia dengan beraninya menemuiku eomma. Dia tidak mengenaliku eomma, aku bersyukur akan hal itu. jadi aku bisa menghancurkannya

.

Flashback 21 tahun yang lalu (suga pov)

"Aku membencinya! Lepaskan dia. Kau memilihku dan jimin atau anak itu?!" jangan eomma, jangan melepaskanku. Aku akan jadi anak baik, aku tidak akan nakal lagi, aku akan menyayanginya. Maafkan aku eomma.

Aku hanya mampu menangis dibalik tembok. Mendengar percakapan eomma dan lelaki itu. semua ini gara-gara chim chim, aku tidak mendorongnya. Dia terjatuh sendiri dari tangga. Itu salahnya sendiri, Bukan salahku

"tapi yeobo, jimin sangat menyayanginya. Dia pasti tidak sengaja melakukannya. Jika aku meinggalkannya, jimin akan kehilangan teman kesayangannya." Aku mendengar eomma menangis. Lelaki itu jahat, telah membuat eomma berharganya menangis.

"alasan, kau lah yang sebenarnya tidak ingin berpisah dengannya. Jika masalah teman, ada taemin. Dia bisa melindungi jimin. Tidak seperti yoongi yang selalu melukai jimin." Tidak eomma, aku lebih baik dari taemin. Dia hanya menyayangi jimin, aku menyayangi eomma. Taemin tidak menyayangi eomma.

"yeobo, jimin sangat menyaayangi yoongi." Eomma semakin tersedu-sedu

"tidakkah kau tahu hyunie, jimin memang menyayanginya, tapi suga membencinya. Kau jangan menutup mata akan kenyataan ini!"

"keputusanku sudah bulat, tinggalkan dia, lupakan. Jangan pernah kembali!" aku melihat lelaki itu keluar kamar, dia melihatku dengan tatapan mata tajam. Kemudian pergi meninggalkanku dan eomma yang menangis tersedu-sedu.

Flashback end

Park jimin, lee taemin. Kalian harus merasakan apa yang aku rasakan

Suga memegang stir mobilnya dengan sangat erat, air mata mengalir membasahi pipinya.

TBC

Aku bakal update setiap sabtu malam. Kalau di ff belum update, berarti lagi eroor ya fanficnya. Kayak kemarin, aku upload duluan di wattpad karena aku mau update di ff gagal terus.

Wattpadku : baby bear alien