Seorang gadis cantik tersenyum memandang seorang bayi yang ada di gendongannya. Dia menimang-nimangnya penuh kasih sayang, sesekali mengusap pipi bayi itu dan mengecupnya. bayi itu tertidur lelap dalam gendongan dan buaian si gadis.

''kau sangat tampan"

"benar hyunie, aku heran ada orang yang tega membuang bayi tampan seperti ini." kata seorang perempuan tua yang duduk di samping si gadis.

"aku ingin merawatnya, tapi pasti agensi tidak akan mengijinkannya." Gadis itu, baekhyun, memandang sedih si bayi. Dia sungguh terpikat dengan bayi ini.

"bolehkah aku memberinya nama Min yoongi eomma?" gadis itu memandang si perempuan tua penuh harap

"tentu saja. Kenapa kau memilih nama itu hyunie?"

"nama itu mengandung harapan semoga dia dapat tumbuh dengan baik dan menjalani kehidupan ini dengan baik pula." Gadis itu menatap si bayi, min yoongi, dengan penuh kasih sayang.

FLASHBACK END

.

.

Jimin melirik lelaki yang sedang menyetir di sampingnya dengan gelisah, dia menggigit bibirnya karena canggung. Dia ingin memulai pembicaraan, tetapi terlalu malu dan gugup, dia takut akan mengatakan hal yang memalukan. Sehingga dia memilih diam, meskipun dia berharap lelaki di sampingnya ini segera memecahkan keheningan yang menyesakkannya ini.

"kau sudah makan jimin?" lelaki itu memandang sambil tersenyum manis pada jimin

"belum, eh! sudah. Sudah oppa, aku sudah makan tadi". Jimin jadi salah tingkah, dia mengigit bibirnya agar berhenti bicara dan membuatnya malu dihadapan lelaki ini.

"hahaha, santai jimin. Apakah aku menakutimu?" jimin hanya menggeleng menanggapi.

"aku belum makan, tidak apa kan kalau kita berhenti sebentar untuk makan?" jimin mengangguk menanggapi. Lelaki itu tersenyum melihat jimin yang malu-malu seperti ini

"kau masih sama seperti dulu jimin" kata lelaki itu dalam hati sambil memandang lurus ke depan. Lelaki itu adalah suga. ya, sekarang jimin dan suga sedang berada di daegu. Sesuai janji mereka berdua.

Mereka berdua sampai di restoran yang sangat mewah, jimin melihat restoran yang dipilih suga dengan pandangan heran dan bingung. Jimin pikir "kenapa untuk makan biasa harus memilih restoran yang semewah ini. buang-buang uang".

"aku mencari tempat yang menyediakan ruangan private, menghindari fans yang kemungkinan mengenaliku" suga berkata, Seakan mengetahui isi pikiran jimin.

suga memesan makanan lumayan banyak.

"bantu aku menghabiskan jimin."

"tapi oppa, aku sudah makan" jimin menolak, bukan karena dia kenyang, sebenarnya dia lapar. Tapi ia tadi terlanjur menjawab bahwa ia sudah makan. Dia malu mengakuinya.

"aku mohon" jimin hendak menolak lagi, tapi melihat pandangan suga membuat jimin mengurungkan niat, dan hanya mendesah pasrah. Kemudian ikut makan bersama suga.

"oppa, yang dulu menunggumu di cafe. Siapa namanya jimin?" jimin terkejut dengan pertanyaan tiba-tiba dari suga dan pertanyaan itu sungguh tak terduga menurutnya.

"Lee Taemin. Kenapa memangnya oppa?"

"Hanya penasaran," kata suga sambil mengedikkan bahunya, jimin mengernyit mendengar jawaban suga. dia merasa ada yang aneh.

"apa dia tahu jika kau pergi ke daegu sekarang?"

"iya."

"apakah dia sempat melarangmu?" jimin semakin bingung dengan arah pembicaraan ini. dia melihat suga seperti berpura-pura acuh ketika bertanya, tapi dia seperti menyembunyikan sesuatu.

"tidak, taemin oppa tidak melarangku." Suga menyadari bahwa jimin mulai curiga dengannya. Jadi dia berhenti menanyakan tentang taemin, dan mengalihkan perhatian jimin

"kau tidak penasaran aku akan membawamu kemana jimin?" suga memandang jimin sambil tersenyum

"sangat, tapi aku terlalu takut untuk menanyakannya." Jimin memang sudah bertanya-tanya sejak awal saat suga mengajaknya ke daegu saat makan malam dulu.

"takut? kenapa?"

"karena aku rasa ini adalah masa lalu yang penting untuk oppa. Dan aku merasa oppa memerlukan waktu untuk mengungkapkan ini semua padaku. Aku mencoba sabar dan menghargai segala keputusan oppa Aku sangat bersyukur oppa mau membaginya denganku." Jimin tersenyum pada suga, meyakinkan suga dia siap dengan apapun yang akan suga tunjukkan padanya.

"Selalu seperti ini, senyum itu, segala bentuk pengertianmu, masih sama seperti dulu. Selalu membuatku merasa menjadi pihak yang buruk." Batin suga

"terima kasih" kata suga kemudian menunduk dan meneruskan makannya. Begitu pula dengan jimin. Susana jadi terasa canggung, karena mereka berdua menolak untuk saling melihat dan memilih diam sambil makan

.

.

Jimin dan suga berdiri didepan sebuah bangunan yang lumayan besar berwarna putih kebiru biruan, rumah itu memiliki halaman yang luas dengan pohon yang rindang dan ada beberapa mainan seperti ayunan, perosotan, palang-palang yang biasa diapakai bergelantungan, dan masih banyak lagi. Dan di halaman itu banyak anak-anak dan remaja yang tengah bermain atau pun sekedar duduk-duduk bercengkrama.

"ayo kita masuk." Jimin mengikuti suga yang melangkah penuh keyakinan memasuki bangunan itu

Jimin melihat bagian dalam bangunan sangat luas, tertata rapi dan sangat nyaman. Bangunan itu berbentuk melingkar. Rumah itu terdiri dari 3 lantai. Jimin melihat di lantai 2 dan lantai tiga memiliki kamar yang total ada 20 kamar.. Dan di lantai paling bawah ada ruang tamu, ruang makan dengan meja yang sangat panjang, mungkin bisa memuat sekitar 50 orang atau lebih, dapur, dan ruang tv dengan tempat duduk santai. Dan yang menarik perhatian jimin adalah foto-foto yang ada di dinding, semua dinding di rumah ini penuh foto.

"tunggu disini sebentar, aku perlu menemukan seseorang dulu." Jimin mengangguk menanggapi, kemudian dia melihat suga melintasi ruangan dan pergi menuju belakang bangunan. Sambil menunggu suga, jimin melihat ruangan di sekitar.

Jimin merasa sangat nyaman, dan akrab dengan rumah ini, dia merasa seperti mengenal rumah ini. tapi dia tidak bisa mengingat apa sebabnya. Dia melihat foto-foto di dinding. Tersenyum dan kadang tertawa ketika melihat tingkah lucu orang-orang dalam foto. Tiba-tiba kilasan - kilasan memori menghentak jimin, tak jelas apa itu. tapi membuat kepala jimin sakit, dan membuatnya limbung hingga ia hampir jatuh, namun beruntung suga menangkapnya tepat waktu.

"kenapa? Kau sakit?" suga memandang jimin tajam

"tidak oppa, aku tidak apa-apa" jimin memegang tangan suga, dan tersenyum menenangkan.

"bawa dia duduk di sofa yoongi-ah, dia terlihat pucat." Seorang wanita berumur sekitar 50 tahun tiba-tiba berdiri di depan jimin dan memandangnya cemas. Kemudian suga membimbing jimin untuk duduk disofa ruang tamu. Suga memegang merangkul bahu jimin erat dan mendudukkan jimin pelan ke sofa. Suga duduk di samping jimin, dan menatap jimin cemas.

"kau sungguh tidak apa-apa?" suga memegang dahi jimin dan mengusap keringat yang membasahi wajah jimin. Suga benci mengakui ini, tapi dia sungguh cemas melihat kondisi jimin yang tiba-tiba drop seperti ini.

"aku tidak apa-apa oppa, sungguh. Ini hanya..mph! huek!" jimin membekap mulutnya, dia tiba-tiba merasa mual dan sesak di dada. Suga semakin cemas melihatnya.

"toilet, aku perlu ke toi mhp! Mmmm aagh!." jimin berusaha menahan muntahnya. Dia malu dilihat suga dalam keadaan seperti ini.

tiba-tiba suga mengangkat tubuh jimin secara "bridal style" dan menurunkannya di toilet. Jimin hendak menutup pintu agar suga tidak melihat, tapi suga menahannya. Jimin mendelik panik, mencoba mendorong tangan suga yang tengah menahan pintu, tapi segera terhenti karena mualnya semakin menghebat. Dia tidak peduli lagi akan keberadaan suga dan memuntahkan seluruh isi perutnya di kloset. Setelah muntahnya berhenti dia merasakan tubuhnya sangat lemas, dia merasakan ada sebuah tangan yang mengelus punggungnya, dan kadang memijat tengkuknya. Jimin tahu itu suga. oh jimin sangat malu, dan merasa tak enak hati karena merepotkan suga.

jimin mencoba berdiri, sambil dibantu oleh suga. jimin hendak melangkah menuju wastafel untuk berkumur, tapi tiba-tiba tubuhnya luruh. Jimin pingsan.

.

.

SUGA POV

Bukan, bukan seperti ini yang aku inginkan. Kau bahkan belum mendengar kenyataannya jimin. Bagaimana bisa kau selalu berhasil membuatku lemah?. Aku memandang wajah jimin yang tengah tertidur.

Kenapa kau selemah ini jimin? Apa kau mengingatnya? Sehingga membutmu shock? Apa aku membuat keputusan yang salah dengan mengajakmu kemari?

Aku benci perasaan yang aku rasakan ketika melihatmu sakit seperti ini. aku tidak boleh memiliki perasaan seperti ini. tidak bagus untuk rencanaku. Aku membencimu. Ingat suga, kau membencinya!

"kau harus menginap yoongi-ah, dokter menyarankan agar kekasihmu beristirahat. Pulanglah besok, ketika kekasihmu sudah sehat." Mama soo, duduk di sampingku sambil memandangi wajah jimin. Dia adalah wanita yang ingin kukenalkan pada jimin.

Apa mama? Kekasih? YA, AKAN KUJADIKAN DIA KEKASIHKU. Itulah rencanaku.

"baik mama, aku akan menginap. Maaf sudah merepotkan mama." Mama hanya tersenyum sambil mengelus rambutku

"10 tahun yoongi, kau sudah tidak mengunjungi mama. Bagaimana mungkin mama merasa direpotkan? Mama malah bersyukur kau mau menginap. Mama merindukanmu yoongi-ah" aku melihat mama tersenyum,namun dia tidak bisa menyembunyikan kesedihannya dariku. Aku memeluknya erat, aku merasa bersalah padanya karena telah meninggalkannya. Tapi mau bagaimana lagi, tempat ini terlalu banyak menyimpan kenangan yang ingin kulupakan. Mama menangis di dadaku, aku mengusap-usap punggungnya, berusaha menenangkannya.

"maafka mama yoongi-ah, karena tidak mampu menggantikan eommamu."

"sudahlah mama. Aku sudah melupakannya." Aku memang sudah melupakannya, tapi kehadiran jimin membuatku mengingatnya kembali.

"baiklah, istirahatlah. Maaf mama terlalu terbawa emosi." Mama mengecup pucuk kepalaku dan melangkah keluar dari kamar.

Aku memejamkan mataku, aku merasa lelah dengan semua ini. aku harus memikirkan ulang semuanya.

"eomma, jangan! Jangan! Appa! Jangan! Jangan! Pergi kalian semua! Tidak! Tidak! Tidak!. Eomma, eomma" kenapa? Jimin kenapa? Kenapa dia memberontak, menendang-nendang dan berteriak-teriak seperti ini

Aku menepuk-nepuk pipi jimin, mencoba membangunkannya. Tapi dia justru menangis dengan suara yang cukup keras. Aku takut dia akan membangunkan semua orang. Sehingga aku tanpa pikir panjang naik ke tempat tidur dan memeluknya erat, kuarahkan kepalanya ke dadaku untuk meredam teriakan-teriakannya. Aku merasakan tangannya memegang bajuku erat, aku mencoba menenangkannya. tak lama kemudian kurasakan igauannya semakin melemah, aku masih mengelus-ngelus kepalanya, punggungnya, pipinya, aku berusaha menenangkannya.

Kurasakan dia sudah kembali tidur dengan nyaman, deru nafasnya juga sudah mulai teratur. Tapi pegangannya pada bajuku masih kuat, Aku tak bisa melepasnya. Aku menyerah berusaha melepaskan genggamannya pada bajuku, terlalu beresiko, aku takut dia kembali mengigau.

Aku pun berbaring di sampingnya, memandangi wajahnya yang damai ketika tertidur. Dia sangat cantik, aku akui itu. sangat mirip dengan eomma,dan itu yang membuatku membencinya.

Aku membencinya bukan, tapi kenapa tanganku malah mengelus-elus pipinya? Kenapa aku tidak bisa melepaskan pandangan pada wajahnya?

Aku ingin menciumnya. Apa? Tunggu! Stop suga! jernihkan pikiranmu.

Tapi dia terlalu mempesona, kulit putihnya, bibir merah merekah yang setengah terbuka ini, bulumata lentiknya, dia juga harum.

Sialan jimin! Kau membuatku lemah! Ah persetan! Aku mendekatkan wajahku pada wajahnya, perlahan sambil memastikan dia benar-benar tertidur. Ku dekatkan bibirku pada bibirnya, aku menyentuhya. Sedikit,dan itu sangat manis. Aku mengecupnya lagi dan aku membiarkannya agak lama, sedikit melumatnya. Ya tuhan, ini tidak benar. stop!

Ah sialan! Kau gila suga! kau membuatku gila jimin.

TBC

duh maaf, suganya labil. Hehehe… jimin menggoda iman sih.