WATCH OUT! Kalau ada tulisan miring, bisa berarti 3 :
Kata asing (biasanya bahasa inggris)
Perkataan dalam hati tokoh
Flashback ke masa lalu
Pembicaraan di telepon
Matahari telah bersinar terang, menyinari dunia dengan sinarnya yang hangat. Membuat manusia bersemangat untuk melakukan segala aktivitas. Semua orang di rumah putih kebiru- biruan itu tengah sibuk dengan segala aktivitasnya, kecuali seorang pemuda tampan yang masih tidur dengan nyamannya di sebuah kamar dengan keadaan gelap gulita karena sinar matahari tidak bisa masuk terhalang oleh korden-korden yang belum dibuka. Ya, pemuda itu adalah suga. Namun, ketenangan suga tidak bertahan lama.
"eerrggh,,, ish." suga mengerang merasakan ada sesuatu yang mengganggu tidurnya
"ish, pergi!" suga menyingkirkan tangan yang sedari tadi menusuk-nusuk pipinya.
"hyung, yoongi hyung bangun, bangun, bangun!" seseorang itu memukul-mukul kepala suga lumayan keras.
"aish, iya, iya aku bangun!" suga berteriak kepada orang yang telah mengganggu tidurnya itu. dia membuka matanya dan melihat seorang bocah laki-laki yang sangat tampan dan menggemaskan tengah menatapnya dengan ceria tanpa mengetahui bahwa dia telah mengganggu tidur berharga seseorang. Mata suga melirik malas ke arah wanita yang tengah tertawa bahagia sambil menggendong bocah itu.
"lihat jihoon, kau berhasil membangunkan yoongi hyung" wanita itu memeluk gemas bocah yang bernama jihoon itu sambil tertawa tawa bahagia. Yoongi hanya memandang datar kepada dua orang yang tengah tertawa terbahak-bahak, dia kemudian duduk bersandar di kepala ranjang sambil melihat wanita itu menggoda jihoon. Kemudian dia teringat sesuatu yang seketika itu juga membuatnya panik.
"jimin! Astaga!" tanpa sadar suga berseru lumayan keras, dia dengan bodohnya melihat ke kanan dan ke kiri.
"dia di bawah, sedang membantu memasak sarapan. Makanya, jangan biasakan tidur seperti orang mati." Wanita itu mengusak rambut suga sambil tersenyum sayang.
"mama tunggu di ruang makan, cepat bersiap untuk sarapan" suga hanya mengangguk menanggapi.
Setelah wanita itu, mama soo, pergi dari kamar. Suga masih duduk termenung memikirkan kejadian semalam dimana ia mencium jimin dan memeluknya erat hingga ia tertidur.
"aaargh! Molla!" suga mengacak rambutnya frustasi, memikirkan itu membuatnya kesal kepada dirinya sendiri. Dia jadi meragukan kesungguhannnya untuk mempermainkan jimin.
.
.
.
Suga memandang jimin yang sedang makan dengan tenang. Jimin duduk berhadapan dengan suga di meja makan. Suga menatap tajam jimin, dia bingung kenapa sejak ia keluar dari kamar sampai sekarang jimin seperti menghindarinya.
"apa dia tahu aku menciumnya? Atau aku terlalu erat memeluknya kemarin sehingga ia terbangun? Atau tentang aku dan dia tidur seranjang? Apapun itu aku rasa dia menghindariku karena merasa tidak nyaman"
Semua itu berputar-putar di kepala suga, dia harus segera menyelesaikan masalah ini dengan jimin. Dia tidak ingin rencananya semakin berantakan.
"jimin, kita harus bicara" suga memegang lengan jimin, menahannya yang hendak membawa piring kotor ke tempat cucian.
"tapi, aku harus membantu mama soo." Jimin menggoyang-goyangkan lengannya agar terlepas dari suga, tapi suga tetap memegangnya erat sambil menatap jimin tajam.
"sudah, letakkan saja di meja jimin. Biar dikerjakan yang lain. Kau ikutlah dengan suga, sepertinya dia ingin berbicara penting denganmu." Jimin tanpa sadar mengerang, dia tidak ingin berduaan dengan suga.
"tapi mama,aku ingin.."
"sekarang jimin." Suga memotong perkataan jimin dengan tegas
"aku mohon" suga menambahkan dengan lembut. Jimin memandang suga sebentar, menghela nafas kemudian dia meletakkan piring di meja.
suga dan jimin sekarang berada di taman belakang, mereka duduk berhadapan di bawah pepohonan yang rindang. Di taman belakang terdapat 5 tempat duduk dengan meja di tengahnya, semuanya terletak di bawah pepohonan yang rindang.
"kenapa kau menghindariku?" jimin tersentak mendengar pertanyaan suga. dia menunduk, wajahnya memerah
"a-aku tidak" jimin memilin-milin tangannya karena gugup
"iya, kau menghindariku jimin. Katakan, ada apa?" jimin hanya menunduk tak menjawab suga. suga menghela nafas frustasi kerena jimin
"jangan seperti ini. tidakkah kau ingin tau banyak hal? Ingat tujuan awal kita. Jika kau merasa tidak nyaman karena aku, katakan jimin." Suga membujuk jimin
"eh,tidak. Bukan seperti itu oppa. Mmm, iya maafkan aku. Aku hanya bingung, itu saja. Maaf" jimin menunduk merasa tidak enak kepada suga
"bingung? Bingung kenapa jimin?"
"itu,mmm soal eomma, oppa, dan aku. Mama soo tadi pagi menceritakan tentang tempat ini dan hubungan kita bertiga." Suga terkejut dengan jawaban jimin. Dugaannya salah, dan ini lebih buruk. Suga memaki-maki dalam hati, rusak sudah rencananya. Suga takut dengan apa saja yang sudah diceritakan mama soo pada jimin
"oh iya? Apa saja yang mama ceritakan jimin?" suga tersenyum ramah, dia berusaha tenang di hadapan jimin. Dia tidak boleh terlihat takut
.
.
FLASHBACK (SEBELUM SUGA BANGUN)
jimin mengerang dalam tidurnya, dia merasa tertanggu dengan angin yang meniup-niup wajahnya. Jimin membuka matanya yang masih terasa berat dan lengket untuk dibuka, dia mengerjap-ngerjapkan matanya yang masih kabur untuk melihat. Setelah cukup jelas, dia terkejut melihat pemandangan yang ada di depannya. Wajah tampan suga tepat berada di hadapannya, dan jaraknya sangat dekat. Ternyata yang meniup-niup wajahnya adalah hembusan nafas suga.
pandangan jimin melembut dan ia tersenyum manis, dia tidak berani bergerak sama sekali, takut membuat suga terbangun. Selama ini jimin tidak terlalu suka berdekatan dan bersentuhan dengan orang lain, kecuali taemin. Tapi sekarang, satu selimut dengan suga, tidur berhadap-hadapan dengan jarak yang sangat dekat dan dengan tangan suga yang memeluk jimin, sama sekali tidak membuat jimin risih, dia justru merasa sangat nyaman dan menyukai kedekatan ini.
"tunggu! Tidak seharusnya seperti ini. demi tuhan, dia baru mengenal suga. dan dia bukan dari kalangan biasa. Dia IDOL, IDOL! Ya tuhan." Jimin merutuk dalam hatinya. Dia berusaha bergerak sepelan mungkin agar tidak membangunkan suga. pelan, pelan, tenang, jangan sampai suga terbangun, atau suasana akan menjadi canggung. Pelan….
"kriiiiiiiig, kriiiiiing, wiiiiuwww,,, wiuuww,,," tiba-tiba bunyi jam beker yang ada di dekat kasur berbunyi, begitu juga dengan semua jam beker yang ada di rumah itu. sungguh, suasana pada pagi itu sangat gaduh. Semua jam beker dengan segala macam bunyi menyala bersamaan.
Jimin melihat ke arah suga, takut jika ia terbangun sedangkan posisi mereka sangat tidak mengenakkan seperti ini. namun, apa yang dilihat jimin membuatnya takjub. Mendengar suara yang begitu gaduh seperti ini suga tetap tidur, tak bergerak sedikit pun, mungkin jika jimin tidak merasakan hembusan nafas suga pasti jimin sudah berpikir suga sudah mati. Jimin hanya menggeleng-gelengkan kepala kemudian beranjak dari kasur dan berjalan keluar.
"selamat pagi" "selamat pagi eonni" "selamat pagi hyung" "selamat pagi noona" jimin memandang takjub pada pemandangan yang ia lihat disekitar, banyak sekali anak-anak yang lalu lalang, mereka semua masih setengah sadar tapi mereka tetap menyapa siapa saja yang mereka temui, tanpa sadar Jimin tersenyum senang dengan interaksi itu.
"Nak?" seseroang menepuk pundak Jimin,menyadarkan dari kegiatan mengamati kegiatan anak-anak.
"ya?" jimin menatap wanita yang mungkin berusia sekitar 60 lebih namun masih terlihat cantik. Wanita itu tersenyum ramah pada Jimin.
"Ikut aku, kau pasti bingung dengan situasi saat ini" jimin mengangguk lalu mengikuti wanita itu menuju ke ruang santai yang ada di rumah itu. jimin duduk di sofa berwarna biru, dan wanita itu duduk di depan jimin.
"maaf mengganggu tidurmu, kalau tidak dengan cara seperti ini anak-anak itu tidak akan bangun." Jimin hanya tersenyum sambil mengangguk menanggapi.
"apa kau sudah sehat?" lagi-lagi jimin hanyak mengangguk sambil tersenyum.
"kenapa nak? Apa kau merasa canggung denganku? Apa suga belum memperkenalkanku padamu?" jimin tersenyum malu sambil menggeleng
"astaga anak itu! kenapa tidak mengenalkanku pada kekasihnya?!" Jimin tersentak mendengar pernyataan tentang "Kekasih" dari wanita itu.
"MMm,maaf tapi aku bukan kekasihnya. Aku hanya kenalannya"
"Oh benarkah?! Maafkan aku, ku kira… karena kau di ajak ketempat ini. aku pikir kau orang yang special untuknya. Maafkan ya nak, aigoo" jimin tersenyum menanggapi
"baiklah, aku akan memperkenalkan diriku. Aku Choi Sooyoung, pemilik Panti Asuhan ini. disini aku biasa di panggil Mama Soo, kau juga boleh memanggilku itu. lalu siapa namamu nak?"
'Oh jadi ini panti asuhan, kenapa dia membawaku ke panti asuhan?' batin jimin
"nak, nak, hei jangan melamun!" mama soo melambai-lambaikan tangan di depan wajah jimin
"oh-o-oh maaf, mungkin saya masih mengantuk"
"jadi siapa namamu nak?"
"Jimin. Park Jimin" mama soo mengernyit dan menatap jimin seakan tak percaya
"kalau boleh mama tahu, siapa nama ibumu nak?" mama soo memandang jimin penuh harap
"Park Baekhyun" jimin menjawab dengan bingung kenapa mama soo menanyakan hal itu dan dengan ekspresi seperti itu
"Byun Baekhyun" tanpa sadar mama soo membisikkan nama asli ibu jimin, meskipun lirih tapi jimin dapat mendengarnya
"Mama kenal dengan ibuku?!" Jimin terkejut mama soo tau nama asli ibunya
"aigoo Jiminie! Kemarilah nak." Mama soo menepuk tempat duduk di sampingnya, mengisyaratkan jimin agar mendekat padanya. Jimin beranjak dan duduk di samping mama soo, tiba-tiba mama soo memeluk Jimin erat dan mengelus-elus kepalanya
"aigoo Jiminie, hyuniee, aigoo anak-anakku" mama soo menangis sambil tetap memeluk jimin. Jimin hanya bisa terdiam, dia bingung harus bagaimana. tak lama, mama soo masih sambil menangis sesenggukan melepaskan pelukannya. Dia menatap Jimin penuh kerinduan, sambil mengelus-elus kepalanya, pipinya, matanya. Jimin masih terdiam, entah kenapa dia merasa senang diusap-usap oleh mama soo, dia semacam merasakan kerinduan akan sosok ini.
"bagaimana kabar eommamu Jiminie? Kenapa dia tidak ikut kemari?" mendengar pertanyaan ini, pandangan jimin langsung meredup, dia teringat kembali pada sosok ibunya. Tanpa bisa Jimin tahan, dia menangis sesenggukan.
"kenapa jiminie?" mama soo panik melihat jimin menangis
"Eom-Eo-Eomma, meninggal 1 tahun yang lalu" Mama soo melihat jimin dengan pandangan kosong
"Eomma mengalami kecelakaan pesawat saat akan pergi ke hongkong bersama appa." Jimin menutup wajahnya, ia ingin menyembunyikan kelemahannya ini dari orang lain. Dia tidak mau terlihat lemah.
"jadi park chanyeol juga meninggal" mama soo mengatakan itu dengan penuh kesedihan dan kesakitan, seperti orang tua kehilangan anaknya. Mama soo melihat jimin yang menahan isakannya sambil ditutupi tangan membuat hatinya sesak. Dia melihat jimin sangat rapuh, dan suara tangisannya sangat memilukan.
"kau masih mempunyai Mama Jiminie, kau tidak sendirian. Tak apa menangislah, jangan kau tahan, luapkan agar hatimu merasa lega." Mendapat perlakuan seperti itu dari mama soo, tangisan jimin menjadi semakin keras, dan jimin tidak menutupinya lagi. Dia memeluk mama soo dan menangis di dekapannya.
Tangisan jimin yang keras itu membuat beberapa anak-anak panti berdatangan dan bergerombol di sekitar jimin dan mama soo. Mama soo tersenyum pada mereka semua dan memberi isyarat menyuruh mereka pergi. Namun ada satu anak yang sudah remaja di panggil oleh Mama soo, dia dimintai tolong membuatkan minum untuk jimin.
Setelah tangisan Jimin mereda, mama soo mulai menceritakan tentang kisah baekhyun, suga, dan jimin. Selama mendengarkan cerita mama soo, jimin berulang kali menahan nafas, dia begitu terkejut dengan semua fakta yang diceritakan oleh mama soo. Fakta bahwa sebenarnya Baekhyun, Jimin, dan Suga berhubungan begitu dekat di masa lalu, masa yang tidak diingat jimin sama sekali.
Hening….
Hening….
Hanya helaan nafas berkali-kali dari jimin yang terdengar diruangan itu. Mama soo memandang jimin sabar, menunggu jimin mencerna segala cerita yang ia sampaikan. Mama soo tau, pasti jimin sangat terkejut sekarang. Tapi dia juga bertanya-tanya, kenapa dia melupakan semua masa lalunya.
"Jadi, eomma berasal dari panti asuhan ini. begitu juga dengan suga, eh… Yoongi Oppa. Jadi mereka berdua tidak ada hubungan apa-apa. Benar kan mama?"
"ya, benar Jimin. Tapi Yoongi sangat mencintai eommamu, dia benar-benar menganggap eommmu seperti eomma kandungnya. Dia anak yang sangat posesif, kau tahu." Mama soo tergelak sedikit mengenang betapa posesifnya yoongi pada apa yang menjadi miliknya.
"Dan, aku juga mengenalnya. Dia teman bermainku? Aku selalu mengatakan yoongi oppa kekasihku dulu? Aku sangat mencintainya? Aku selalu mengikutinya kemana-mana? Benarkah aku seperti itu mama?"
"hahaha, ya. Kau sangat manja pada yoongi, sehari saja eommamu tidak membawamu kesini kau akan terjatuh sakit. Setiap kali kau disini kau akan menempeli yoongi seperti lintah, berceloteh apa saja meskipun yoongi jatuh tertidur di sampingmu. Mungkin dia seperti cinta pertamamu. Hahaha kalian sangat lucu dulu"
"Lalu kenapa aku tidak mengingat semua itu mama? Kenapa? Jika memang tempat ini dan yoongi oppa adalah orang yang penting untukku?"
Mama soo hanya memandang jimin sedih, dia tidak tahu. Begitu pula dengan jimin.
FLASHBACK END
"sial, sial, sial!" batin suga panik, dia kehilangan moment, kesempatan untuk memanfaatkan masa lalu itu. meskipun di dalam dia panik setengah mati, di luar dia tetap terlihat tenang.
"hmmm, jadi kau sudah tahu semuanya."
"berpikir suga!, berpikir! Pikirkan rencana lain! Demi tuhan. Apa aku harus melakukan itu? baiklah, coba saja. Improvisasi suga, kau pasti bisa" suga berpikir cepat mengendalikan situasi yang telah berubah jauh dari perkiraan dan rencananya.
"sepertinya mama soo belum menceritakan soal hubungan kita berdua."
"eh?!, haha" jimin tertawa canggung, dia malu untuk menyinggung itu, dan sebenarnya dia masih tidak percaya tentang itu.
"oh, sepertinya sudah. Kenapa kau melewatkannya jim?" suga tersenyum, matanya menggoda jimin. Jimin merona melihat wajah menggoda suga, wajahnya sudah memerah, dia menunduk menhindari tatapan suga.
"kau tahu jim, aku mengajakmu kesini karena aku ingin mengulang masa-masa kita dulu. Aku ingin mewujudkan impian masa kecil kita, yang entah kenapa sepertinya kau melupakan itu semua." Jimin masih menunduk tetapi dia mendengarkan setiap kata yang diucapkan oleh suga.
"aku sedih melihat kau tidak mengenaliku, bahkan setelah aku membawamu kesini. Tempat masa kecil kita yang penuh kenangan. Penuh dengan janji-janji kita. Aku pikir jika aku mengajakmu kesini kau akan mengingatku. Tapi, nyatanya tidak. Kau masih merasa asing." Entah kenapa air mata jimin mendadak mengalir ,dia merasakan sesak didadanya tanpa tahu kenapa.
"tatap aku jimin." Suga meraih tangan jimin, memegangnya erat. Jimin perlahan mengangkat wajahnya dan menatap suga yang menatapnya dengan tajam.
"Aku ingin mempercayai hatiku jim, aku ingin memepercayai pasti di suatu sudut hatimu dan pikiranmu masih tersisa kenangan tentang Yoongi." Yoongi tersenyum lembut kepada jimin, dan semakin erat menggeganggam tangan jimin sambil mengelus-elus menenangkan.
"jimin, aku tahu ini terlalu aneh dan memaksa. Tapi,…" suga menatap tajam jimin
"Maukah kau mencoba mencintai orang asing ini" jimin membelalak memandang suga
"Jadilah kekasihku jimin"
TBC
/entry/304210400/
.de/pin/755760381189377676/
tommybernadus/5a6aca8acaf7db5c4d643c33/dancok-cafe-cafe-outdoor-di-malang/
