Yamamoto berlari ke rumah Tsuna secepat yang dia bisa. Tadi dia baru saja pergi ke toko untuk memesan bahan-bahan sushi, biasanya ayahnya yang akan memesan bahan untuk besok, tapi hari ini ayahnya sedang keluar dan akan pulang larut malam, karna itu Takeshi di tugaskan untuk memesan persediaan

Senyumnya merekah saat ia melihat rumah dengan pelakat 'Sawada'. Dia segera masuk ke halaman dan mengetuk pintu, beberapa saat kemudian pintu terbuka dan tampak anak dengan rambut pirang sedang membawa kartu

"okaeri, Tsuna-nii..." ucapannya terhenti saat ia melihat orang yang ada di depannya bukanlah Tsuna "are, Takeshi-nii?" dia memanggil nama orang didepannya

"yo, Fuuta, apa Tsuna ada?" tanya Yamamoto

"Tsuna-nii belum pulang! Dan Reborn sudah pergi ke rumah sakit, jadi hanya ada aku, mama, Lambo dan I-pin di sini" jelas Tsuna

"Tsuna belum pulang? Tapi tadi aku sudah melewati jalur yang sama dengan Tsuna, dan aku tidak bertemu dengan dia dijalan jadi kukira dia sudah kembali" Yamamoto menunjuk ke arah dimana dia datang

"mungkin Tsuna-niii lewat jalan lain yang lebih jauh?" Fuuta berucap sambil memiringkan kepalanya sedikit "kau mau mampir dulu, Takeshi-nii?" tawar Fuuta

"maaf Fuuta, aku harus segera pergi! Apa kau mau menyampaikan pesanku?" ucap Yamamoto

"tentu, Takeshi-nii"

"tolong bilang ke Tsuna untuk segera pergi ke rumah sakit! Aku, Gokudera, Reborn dan Dino-san ada disana!" ucap Yamamoto

"rumah sakit? Memangnya siapa yang sakit dan kenapa semua orang ada disana?" tanya Fuuta

"maaf tapi aku tak bisa memberitahumu!" ucap Yamamoto

"kenapa?apa ada hubungannya dengan vongola?" tanya Fuuta semakin penasaran. Yamamoto tak mungkin mengatakan alasan yang sebenarnya jadi dia hanya mengangguk karna berpikir mungkin dengan menggunakan alasan itu Fuuta tak akan bertanya lebih jauh lagi

"jadi, apa aku bisa minta tolong padamu?" Yamamoto kembali bertanya

"baiklah, tapi kau harus janji akan menceritakannya saat semua sudah selesai" Fuuta tersenyum lebar dan Yamamoto hanya mengangguk

"baiklah kalau begituaku harus pergi" ucap Yamamoto kemudian berlari ke luar pagar, menutupnya dan kemudian berlari ke arah rumah sakit

Fuuta menutuppintu dan kembali ke ruang tamu untuk melanjutkan bermain kartu dengan I-pin sebelum ia melihat seorang anak laki-laki berpakaian sapi berjalan ke arahnya sambil sesekali menguap menandakan bahwa ia masih mengantuk

"Fuuta, ada apa berisik sekali?" tanya anak itu

"Lambo, kau terbangun?" ucap Fuuta mendekati anak itu

"tentu saja! Karna Fuuta sangat berisik" ucap nya "Lambo-san jadi terbangun dan tak bisa tidur, Fuuta harus bertanggung jawab" teriak Lambo

"Lambo, tenanglah! Mama masih tidur kau tidak mau membangunkan dia bukan?" ucap Fuuta "baiklah, kalau begitu mau bermain kartu bersamaku dan I-pin sampai Tsuna-nii pulang?" tawar Fuuta

"Lambo-san akan bermain dan Lambo-san akan menang" ucap Lambo semangat seakan-akan dia tidak pernah tidur.

;:;:Sky Problem:;:;

(Rumah Sakit)

Yamamoto tiba di depan rumah sakit, napasnya masih teratur walau sudah berlari sangat jauh dengan kecepatan di atas rata-rata. Dia segera pergi ke resepsionis dan bertanya tentang kamar Hibari Kyoya, namun tidak ada satupun kamar yang dihuni oleh Hibari Kyoya jadi dia pasti masih menjalani operasi, sehingga Yamamoto langsunng pergi ke depan ruang operasi dan menemukan Reborn, Gokudera, Dino serta beberapa anak buahnya

"bagaimana kondisi Hibari?" tanya Yamamoto

"dia masih menjalani operasi" jawab Gokudera "lagipula, dimana juudaime?" tanya nya lagi setelah memastikan bahwa ia tidak melihat sosok boss kesayangannya

"dia belum pulang" jawab Yamamoto dengan sedikit ketakutan, mengatakan hal seperti itu di depan Gokudera dan Reborn bisa menimbulkan kemungkinan ia akan terbunuh

"apa maksudmu Tsuna belum pulang?" Reborn bicara dengan sedikit penekanan

"bukannya kau yang mengatakan bahwa kau saja yang mencari juudaime? Lalu kenapa kau datang kesini seorang diri?" Gokudera juga menambahkan penekanan dalam kata-katanya

"e..to.. aku pergi ke rumah Tsuna, dan bertemu Fuuta, namun dia bilang kalau Tsuna belum pulang ke rumah jadi aku menitipkan pesan padanya agar Tsuna datang kesini setelah dia sampai rumah" Yamamoto mencoba memilah kata-kata agar dirinya aman karna saat itu juga sorotan mata Reborn dan Gokudera sangat tidak bersahabat

"kau bilang dia tidak pulang ke rumah?" tanya Reborn, sedikit aura pembunuhnya keluar, ya hanya sedikit, namun sedikit aura pembunuh dari pembunuh profesional berada di tingkatan yang berbeda

"dan kau malah datang kemari bukannya menunggunya? Yakyuu bakka!" teriak Gokudera sambil mencengkram kerah baju Yamamoto. Yamamoto hanya terdiam tidak berani membayangkan apa yang akan terjadi padanya

"sudahlah Gokudera, kau tak perlu semarah itu dan Reborn tolong kau hentikan aura membunuhmu itu!kau bisa menakuti semua orang disini dengan aura itu" Dino berusaha menenangkan Reborn dan Gokudera. Yamamoto bersyukur, setidaknya dengan adanya Dino disana dia tidak akan jadi terbunuh oleh kemarahan Reborn dan Gokudera

"lalu bagaimana sekarang? Kita tak bisa mengambil keputusan tanpa juudaime" ucap Gokudera melepaskan Yamamoto

"keputusan apa?" Yamamoto mungkin terlalu bodoh untuk bertanya pada orang yang hampir membunuhnya

"tentu saja apakah kita akan pergi dan menghajar orang-orang itu!" ucap Gokudera "kalau mereka menyerang Hibari, pasti mereka punya urusan dengan vongola" lanjut Gokudera

"kau mungkin benar, tidak mungkin mereka menantang Kyoya tanpa sebab. Apalagi sampai melukainya separah ini, tidak ada yang bisa melakukannya selain mafia" ucap Dino

"kau mungkin benar, jadi maksudmu mereka adalah kelompok mafia yang berbahaya? Bukannya permainan bunuh-membunuh itu dilarang?" awalnya ia mengatakan hal yang bijak seperti guardian vongola kebanyakan, namun Yamamoto tetaplah Yamamoto bagaimanapun dia dirubah. Dia akan selalu menganggap mafia dan vongola sebagai permainan

"setelah hal yang menimpa Hibari kau masih beranggapan kalau ini hanyalah permainan?" Gokudera kembali berteriak pada penjaga hujan yang kelewat bodoh menurutnya

"hei, " Reborn menyela pembicaraan mereka "apa kalian yakin tidak melupakan satu hal penting?" semua mata di lorong itu menatap Reborn dengan tanda tanya

"memangnya apa yang terlewatkan Reborn-san?" tanya Gokudera

"Dino, kau bilang ada jejak darah di samping tubuh Hibari" Reborn menatap ke arah Dino

"benarkah itu, Dino-san?" Yamamoto yang memang tidak tahu apa-apa bertanya sambil menatap Dino

"memang benar, aku menemukan jejak itu, mengikuti asalnya dan menemukan Kyoya" jawab Dino

"berapa jejak kaki yang kau temukan?" tanya Reborn'

"e..to.. " Dino mencoba mengingat-ingat kejadian itu "kalau tidak salah..." dia membeku ditempat setelah berhasil mengingat kejadian itu "hanya ada satu jejak kaki yang meninggalkan tubuh Kyoya" dia tercekat sendiri ketika mengatakan itu

"heh, hanya ada satu?" Gokudera tidak percaya dengan apa yang barusan dia dengar

"aku yakin sekali kalau hanya ada jejak darah lain yang meninggalkan tempat itu" ucap Dino kembali sadar dari syoknya

"tapi bagaimana kalau setelah mereka melukai Hibari, yang lainnya melepas sepatu mereka dan berjalan dengan kaki kosong sehingga tidak meninggalkan jejak?" tanya Gokudera

"Dino, apakah itu mungkin?" Reborn kkembali menatap ke arah Dino

"kurasa itu tidak mungkin, anak buahku tidak menemukan jejak apapun pada radius tujuh meter dari Kyoya, dan juga tak ditemukan luka tembakkan pada Kyoya ataupun bekas peluru di seluruh namimori jadi musuh tidak menggunakan pistol sebagai senjata" jelas Dino

"lalu apa yang musuh gunakan?" Yamamoto bertanya, entah kenapa saat ini mereka lebih suka menyebut istilah 'musuh' daripada 'mereka'.

Sebelum Dino menjawab, ruang operasi terbuka dan sosok seorang lelaki dengan setelan jas putih keluar dari ruangan tersebut

"dokter, bagaimana keadaan Kyoya?" tanya Dino langsung menghampiri dokter tersebut.

"apa kalian keluarganya?" tanya dokter itu sambil melepas masker yang tadi dipakainya

"keluarganya sedang pergi jadi aku yang bertanggung jawab atas dirinya" ucap Dino. Dokter itu menghela napas sebelum mulai berbicara

"keadaannya sudah stabil tapi dia belum sadarkan diri! Luka yang dideritanya cukup parah namun tidak sampai pada kondisi yang membahayakan. Dia mungkin akan sadar besok pagi, jadi kami akan segera memindahkannya ke ruang rawat inap!" Dino langsung bernapas lega, begitupun dengan Reborn, Gokudera serta Yamamoto yang ada dibelakangnya

"jadi, luka apa yang ada ditubuh Hibari, dokter?" Reborn yang sebelumnya tidak mendapat jawaban dari Dino angsung menanyakan hal itu pada dokter karna bagaimanapun dokter lebih tahu daripada Dino. Dokter langsung melirik ke arah Dino setelah mendengar pertanyaan Reborn

"tolong jawab saja! Kumohon" Dino yang mengerti terdapat raut bingung dari sang dokter pun langsung menghlangkan keraguannya akibat yang menanyakan hal sepenting itu adalah seorang anak kecil

"baiklah kalau begitu" dokter itu mengambil napas sejenak sebelum mulai berbicara "kami menemukan luka sobekan akibat benda tumpul di perutnya, juga ada luka memar bekas pukulan di beberapa titik di tubuhnya" jawab dokter itu "kalau begitu saya permisi, lebh baik kalian serahkan masalah seperti ini pada poisi" setelah itu dia langsung pergi menghilang di antara lorong.

"hei, apa yang kau simpulkan dari semua pernyataan ini?" tanya Yamamoto pada Gokudera yang kelihatanmembeku

"dari jejak kakinya bisa dipastikan bahwa pelakunya hanya ada satu orang!" ucapnya gemetar

"dan, senjata yang dia gunakan adalah..." Yamamoto terdiam sejenak untuk mengungkapkan pemikirannya

"kemungkinan benda tumpul yang merobek perutnya itu adalah tonfanya sendiri!" ucap Rebornn menurunkan topi fedoranya sehingga raut wajahnya tidak kelihatan

"kau benar! Karna di tonfa Kyoya terdapat darah yang sudah mengering. Jadi tidak salah lagi" ucap Dino kembali mengingat salah satu tonfa Hibari yang terpental sejauh 3 meter dari tempatnya duduk

"dan karna ada banyak luka pukulan..." Yamamoto tidak berani melanjutkan

"itu artinya pelaku memakai tangan kosong" jawab Reborn cepat. Seketika wajah semua orang disana mendadak pucat pasih karna menemukan kenyataan yang lebih menakutkan dari film horror manapun

"tunggu-tunggu itu tidak mungkin" Yamamoto menyangkal kenyataan yang dia dapat "ini jauh lebih menakutkan daripada film horror yang pernah kutonton" ucapnya sambil sesekali menggelengkan kepalanya

"kau benar, pasti ada semacam rencana licik yang digunakan pelaku untuk menjebaknya, seperti membuat Hibari menghirup gas beracun dan menyerangnya saat dia tidak sadarkan diri" Gokudera juga tidak mau menerimtaan

"di tempat dimana Kyoya ditemukan terdapat tanda-tanda pertarungan, karna suasananya sangat kacau, jadi menurutku tidak mungkin dia tidak melawan" ucap Dino

"tunggu-tunggu, maksudmu Hibari dikalahkan oleh satu orang?" tanya Gokudera mesih tidak percaya

"dan juga dia menggunakan tangan kosong?" Yamamoto melanjutkan

"kukira itulah satu-satunya penjelasan yang tepat" Reborn mengakhiri diskusi penddek itu

"berarti lawan kita kali ini bukanlah orang sembarangan, kita harus segera memberitahu Tsuna untuk mendiskusikannya lebih lanjut" ucap Dino

"Dino, kau bisa telepon ke rumah? Mungkin saja saat ini Tsuna sampai rumah!" suruh Reborn, mengerti maksud perkataan Reborn dengan segera Dino mengambil handphone dari saku celaanya dan langsung mencari suatu nama, setelah menemukan nama Sawada di layar handphonennya, Dino segera memencet tombol panggil

"moshi-moshi!" terdengar suara anak-anak dari seberang telepon, dan Dino langsung tahu kalau anak itu adalah Fuuta

"Fuuta, apa Tsuna sudah ada disana?" tanya Dino langsung bicara ke intinya

"Tsuna-nii? Dia barusan datang dan langsung pergi lagi" nada suara Fuuta seperti kebingungan

"apa kau bilang?" Dino sedikit berteriak dan membuat Reborn, Gokudera serta Yamamoto sedikit berjengit mendengarnya, Dino segera menjauhkan handphone dari telingaanya dan memasang mode speaker agar Reborn dan yang lainnya bisa mendengar penjelasan Fuuta

"Tsuna-nii bilang dia akan langsung pergi ke rumah sakit setelah menyerahkan belanjaan yang baru dia beli kepadaku, apa ini Dino-san?" lanjut Fuuta

"ah, iya maaf membuatmu bingung, Ini aku Dino Chavallone! Ngomong-ngomong apa Tsuna sudah pergi jauh?" tanya Dino lagi

"Tsuna-nii datang sekitar sepuluh menit yang lalu dan pergi sekitar lima menit yang lalu" Fuuta seperti mengingat-ingat sesuatu sebelum mengatakannya

"sepuluh menit? Itu artinya sesaat setelah aku pergi dari sana?" Yamamoto kelihatan kaget mendengarnya

"Takeshi-nii? Kau sudah sampai sana?" Fuuta terlihat kebingungan karna Yamamoto baru saja pergi dari rumah dan sekarng dia sudah sampai di rumah sakit

"ya, aku berlari secepat yang kubisa, daripada itu apa Tsuna mengatakan sesuatu yang aneh?" Yamamoto mendekat ke arah Dino agar suaranya bisa didengar dengan jelas oleh Fuuta

"sesuatu yang aneh?" Fuuta mengulangi pertanyaan Yamamoto dan terdiam sejenak "memang, tadi selama beberapa saat Tsuna-nii seperti menjadi orang yang berbeda" jawab Fuuta kemudian, dan dengan itu Reborn, Gokudera dan Yamamoto tersentak, Dino yang tidak mengetahui apapun hanya terdiam

"apa yang juudaime katakan?" kali ini Gokudera yang bertanya

"aku tidak begitu paham, tapi itu seperti korbankan satu nyawa untuk menyelamatkan seribu nyawa!" Fuuta menjawab dan membuat Reborn, Gokudera serta Yamamoto mendadak merasakan tubuh mereka menggigil

"mengorbankan satu nyawa untuk menyelamatkan seribu nyawa?" Dino yang tidak mengerti mengulang kata-kata Fuuta "kenapa Tsuna berkata begitu?" Dino bertanya

"entahlah, aku juga tak begitu paham, tapi tadi raut wajah Tsuna-nii saat mengatakannya terlihat sangat sedih" Fuuta bicara dengan nada prihatin. "ah, sudah ya! I-pin memanggilku, aku harus kembali" ucap Fuuta dan langsung memutus sambungan diantara kedua telepon

Sedangkan empat orang yang ada di depan ruang operasi itu masih membeku, Tsuna meghilang seharian lalu dia kembali namun dengan wujud yang berbeda. Apakah benar orang yang telah mereka hadapi seharian ini adalah Tsuna?

"Yamamoto, apakah tadi saat kau bertemu Tsuna dia mengatakan sesuatu?" Reborn yang pertama kali sadar dari keterkejutannya menatap Yamamoto

"aku dan Gokudera bertemu dengannya di supermarket, tapi dia kelihatan berbeda!" ucap Yamamoto

"kelihatan berbeda bagaimana maksudmu?" Dino semakin penasaran dengan situasi saat ini

"juudaime mengatakan sesuatu namun detik berikutnya dia menyangkal pernah mengatakannya" Gokudera menjelaskan

"apa dia mengatakan hal yang juga ia sampaikan pada Fuuta?" Reborn bertanya

"benar, apa yang Tsuna katakan tadi sama dengan yang ia katakan pada Fuuta" jawab Yamamoto

"Reborn-san, jangan-jangan..." ucapan Gokudera berhenti ketika melihat Reborn mengangguk

"dia juga mengatakan hal yang sama padaku sebelum dia pergi ke supermarket" Yamamoto dan Gokudera tersentak mendengarnya

"hei, apa yang kalianbicarakan aku sama sekali tidak mengerti" Dino angkat bicara dan membuat semua mata menuju ke arahnya "ucapan kalian seperti mengatakan kalau orang itu bukanlah Tsuna" dan perkataan Dino tepat sasaran

"bukannya aku meragukan dia, tapi dia nampak berbeda" ucap Reborn

"saat bertemu pertama kali, dia terlihat ceria dan tanpa beban namun detik berikutnya matanya menyiratkan kesedihan dan sepeti bahwa dia sedang memikul sebuah beban yang sangat berat" ucap Yamamoto sambil melihat langit melalui kaca jendela

"aku ingin tahu makna dibalik perkataan juudaime" Gokudera juga melakukan hal yang sama dengan Yamamoto yaitu memandang langit "seolah jika juudaime terus memikul beban itu langit yang tanpa batas itu akan terputus dari dunia dan runtuh" Gokudera melanjutkan

"langit selalu menerima segala hal karna dia tidak punya batasan, terkadang dia begitu dekat namun juga begitu jauh tak terjangkau" Dino juga melihat langit yang sama "meskipun aku tidak tahu hal apa yang kalian katakan sehingga kalian meragukan Tsuna, tapi aku ingin tetap percaya pada langit tersebut" lanjut Dino

;:;:Sky Problem:;:;

(Kediaman Sawada

Fuuta, Lambo dan I-pin baru saja kembali ke ruang tamu untuk lanjut bermain saat mereka mendengar suara pintu terbuka

"tadaima" ucap sebuah suara dari pintu, refleks Fuuta langsung kembali ke koridor dan menemukan seorang remaja berambut coklat anti grafitasi sedang melepas sepatunya

"Tsuna-nii, kau sudah pulang?" tanya Fuuta menghampiri Tsuna

"ah, Fuuta kau belum tidur?" yang terkejut adalah Tsuna bukannya Fuuta

"Tsuna-nii, Reborn dan Takeshi-nii memintamu untuk datang ke rumah sakit" ucap Fuuta dan sontak Tsuna menghentikan aktifitasnya untuk melepas sepatunya

"rumah sakit? Memangnya siapa yang sakit?" Tsuna menatap Fuuta dalam kebingungan

"entahlah, mereka tidak mau memberitahuku!" Fuuta kelihatan kecewa "tapi kelihatannya ada yang gawat" sebelum Tsuna kembali berkomentar,Lambo dan I-pin pergi menghampiri mereka

"ne, Fuuta! Kenapa lama sekali? Lambo-san ingin segera main dan menang" ucapnya ngambek

"Lambo dan I-pin juga? Kalian belum tidur?" Tsuna kembali terkejut

"kami diminta Reborn untuk memberitahu Tsuna-san, jadi kami memutuskan untuk bermain sambil menunggu Tsuna-san" I-pin menjawab pertanyaan Tsuna

"oh jadi begitu!" Tsuna tertawa hambar

"Tsuna-nii, biar aku yang menata belanjaannya, Tsuna-nii langsung ke rumah sakit saja!" ucap Fuuta sambil mengangkat tas yang berisi makanan

"ne..ne, apa itu permen? Apa itu camilan? Lambo-san ingin makan itu" Lambo langsung merebut tas yang dipegang Fuuta tapi dengan sigap Fuuta langsung mengangkat tas itu tinggi-tinggi sehingga Lambo tidak bisa menggapainya

"ini bukan cemilan Lambo! Ini bahan-bahan buat sarapan besok" Fuuta menjelaskan

"Fuuta pelit, " ucap Lambo ketika ia tidak bisa meraih tas yanng dipegang Fuuta

"Lambo, jangan nakal! Atau kau tidak boleh ikut bermain" ancam I-pin

"I-pin juga pelit! Semuanya pelit" ucap Lambo, sementara itu Tsuna hanya tertawa saat melihat tingkah mereka yangselalu sama setiap harinya. Dan itu sukses membuat Fuuta dan I-pin menoleh ke arah Tsuna

"eh, ada apa? Fuuta..? I-pin..?" Tsuna yang merasa Fuuta dan I-pin menatapnya mengajukan pertanyaan

"eh, tidak ada Cuma biasanya Tsuna-nii akan marah ke Lambo atau menenangkannya" jawab Fuuta

"dan biasanya Tsuna-san akan memberi Lambo permen dan mengatakan sesuatu" jawab I-pin

"ya, tidak ada salahnya menjadi sedikit berbeda bukan? lagipula kalian sudah tumbuh! Kalau aku terus memarahi kalian tanpa kalian melihat sendiri kesalahan kalian maka kalian tidak akan bisa maju bukan?" tanya Tsuna

"tapi, tidak biasanya Tsuna menghiraukkan Lambo-san" Lambo ikut berkomentar

"perbedaan itu penting dalam suatu pertumbuhan jadi tidak ada salahnya kan aku melakukan perbedaan?" Tsuna tersenyum, namundengan kehampaan "lagipula kalau kalian harus memilih antara meninggalkan teman dan menyelamatkan teman mana yang akan kalian pilih?" Tsuna kembali bertanya

"kalau itu tentu saja..." kalimat Fuuta terpotong oleh teriakan Tsuna

"jangan katakan itu Fuuta!" Tsuna berucap sambil menaruh kedua tangannya di depan untuk mencegah Fuuta melanjutkan kalimatnya.

"Tsuna..?" Lambo yang menyadari ada yang aneh dengan Tsuna bertanya kebingungan

"jangan katakan hal seperti itu Fuuta!" Tsuna tersenyum, namun dibalik senyuman itu terdapat kesedihan yang sangat besar. Sangat berbeda dengan raut wajahnya tadi

"Tsuna-nii, apa maksudmu?" reaksi Fuuta melambat setelah melihat senyum Tsuna

"jika kalian harus mengorbankan nyawa satu orang untuk menyelamatkan ribuan nyawa maka berjanjilah kalian akan melakukannya!" Tsuna tersenyum meyakinkan

"Tsuna-san?" I-pin membeku, begitu juga dengan Fuuta. Hanya Lambo yang bersikap biasa

"ha..ha..ha..! Tsuna, apa kau bermaksud bunuh diri?" Lambo menunjuk Tsuna dengan telunjuknya, dan seketika Fuuta dan I-pin menatap Lambo dengan tatapan bodoh. Hanya orang bodoh yang mengatakan hal seperti itu secara frontal, begitulah pemikiran mereka

"mungkin kau ada benarnya, tapi bukan itu yang ingin kulakukan!" ucap Tsuna, dia kembali memakai sepatunya. "ada hal yang hanya bisa dicapai dengan pengorbanan besar" dia melanjutkan "karna itu terkadang kita harus membunuh perasaan sendiri untuk bisa melindungi dunia ini" ucapan Tsuna terlalu rumit sehingga semua yang ada disana hanya terdiam, bahkan Lambo.

"Tsuna-nii, apa kau melakukan sesuatu yang berbahaya?" Fuuta bertanya

Tsuna tidak menjawab tapi malah tersenyum, "berjanjilah kalian akan melindungi diri kalian sendiri saat waktunya tiba! Hiduplah dan pilihlah jalan yang kalian yakini sendiri" ucapnya setelah terdiam beberapa saat

"tapi aku tidak mengerti apa yang dimaksud Tsuna-nii!" Fuuta mendekat ke arah Tsuna

"kalian tidak perlu mengerti sekarang! Suatu saat nanti kalian akan mengerti" ucap Tsuna, beberapa saat kemudian dia mengalihkan pandangan pada Lambo "Lambo! Kalau keadaan memburuk, sebagai guardian vongola, kau akan melindungi Fuuta dan I-pin bukan?" Tsuna bertanya

"gupyaa..! Tsuna, tentu saja! Lambo-san akan melindungi semuanya! Lambo-san akan bertarung bersama aho-dera dan Reborn jika itu untuk menyelamatkan Fuuta, I-pin, haru dan kyoko" Lambo berkata dengan semangat

"yokatta! Ne.., kalau begitu aku harus pergi" ucapnya dengan raut wajah yang memperlihatkan kekecewaan

"Tsuna-san akan pergi ke tempat Reborn-san?" tanya I-pin hati-hati

"mungkin iya, tapi aku akan pergi ke tempat yang lebih jauh lagi" jawab Tsuna

"Tsuna, kau mau kemana? Kalau kau mau pergi main, Lambo-san ingin ikut" teriak Lambo sambil berlari mendekati Tsuna namun langsung dihadang olleh Fuuta

"Tsuna-nii, kau janji akan kembali bukan?" ucap Fuuta dengan sedih

"sejujurnya aku masih ingin bersama kalian! Jadi aku akan berusaha kembali!" jawab Tsuna, "waktuku sudah hampir habis, Fuuta, Lambo, I-pin" Tsuna menatap mereka bertiga bergantian "jagalah apa yang menurut kalian penting" ucap Tsuna dengan senyum cerianya yang membuat tiga anak di koridor itu tertegun sesaat.

Beberapa saat kemudian pandangan mereka bertiga mulai tidak fokus, dan saat pandangan mereka fokus kembali, yang ada di depan mereka adalah Tsuna yang baru saja datang dari supermarket.

"Fuuta? Lambo? I-pin?" Tsuna kebingungan karna tiga anak yang ada di koridor itu tiba-tiba saja terdiam

"Tsuna...-nii?" Fuuta mencoba memanggil nama orang yang ada di depannya

"Fuuta, apa kau sakit? Kenapa kau tiba-tiba melamun?" tanya Tsuna terdapat rasa khawatir dari perkataannya

"jadi, mana yang akan kau piilih dari pertanyaanku tadi?" tanya Tsuna, Fuuta mengerutkan alisnya

"gupyaa, pertanyaan mana maksud..." pertanyaan Lambo terhenti saat tangan Fuuta terjulur ke arah depan

"aku tidak bisa menjawabnya sekarang, Tsuna-nii! Karna kalau aku, aku akan melihat situasinya terlebih dahulu! Jika tidak ada pilihan lain selain mengorbankan teman untuk melindungi dunia dan jika itu adalah keinginan serta mimpi dari temanku tersebut, maka aku tak bisa menolaknya" jawab Fuuta dengan tegas. Sesaat terlihat wajah Tsuna yang dipenuhi raut terkejut dan kebingungan, lalu dia mengangguk dalam

"souka! Jadi itu jawabanmu ya?" Tsuna mengalihkan pandangan ke arah lain

"apa itu berbeda dengan dugaan Tsuna-nii?" tanya Fuuta

"tidak! Ah kalau begitu aku harus segera pergi atau Reborn akan membunuhku!" ucap Tsuna segera berdiri dan menuju ke arah pintu tapi kemudian dia tersadar akan sesuatu

"eh, are? Bukannya tadi aku sudah melepas sepatu?" Tsuna melihat ke arah kakinya yang sudah memakai sepatu yang harusnya sudah dia lepas

"Tsuna-nii memakainya lagi! Mungkin Tsuna-nii terlalu serius akan sesuatu sehingga memakainya secara tidak sadar!" ucap Fuuta sambil tersenyum

"mungkin kau benar! Kalau begitu aku pergi dulu. Kalian tolong jaga rumah!" dan Tsuna segera menghilang dibalik pintu

Di dalam, setelah Tsuna pergi dan langkah kakinya tidak terdengar lagi, Fuuta jatuh terduduk di lanntai sembari mengambil napas dengan berat

"Fuuta?" Lambo yang menyadari ada keanehan pada diri Fuuta mengajukan pertanyaan "ada apa Fuuta?"

"tidak ada, aku hanya lelah! Entah kenapa firasatku tidak enak"ucap Fuuta memegangi dadanya yang terasa sakit, namun dia tidak tahu penyebab dari rasa sakit tersebut.

"daijoubu! Tsuna-san akan baik-baik saja" ucaap I-pin memegangi lengan baju Fuuta. Fuuta hanya tersenyum

"kau benar, Tsuna-nii pasti baik-baik saja!" ucap Fuuta, namun dia masih memegangi dadanya 'Tsuna-nii, ganbatte!' ucap Fuuta dalam hati meyakinkan tekadnya sendiri.

Fuuta, Lambo dan I-pin masih terdiam di koridor kediaman Sawada. Tidak ada satupun dari mereka yang berniat untuk kembali melanjutkan permainan. Suasana itu berlangsung beberapa lama sampai suara dering telepon menyadarkan mereka

;:;:Sky Problem:;:;

(Pinggiran Sungai di Namimori)

Sasagawa ryohei, penjaga matahari vongola decimo sedang berjalan di pinggir sungai bersama adik tercintanya, sasagawa kyoko.

"kyoko, kudengar Sawada menghilang! Apa itu benar?" tanya ryohei. Kyoko tidak menjawab, dia hanya terdiam dan menunduk, berusaha menutupi raut wajahnya yang sangat khawatir akan keadaan Tsuna

"Tsuna-kun, tidak datang ke kelas dan juga tidak pulang ke rumah! Aku ingin tahu dimana dia sekarang? Apa Tsuna-kun baik-baik saja atau mungkin..." ucapan kyoko terhenti saat merasakan tangan milik kakaknya memegangi pundaknya

"jangan khawatir kyoko!" ucap ryohei menenangkan "kalau itu Sawada,aku yakin dia akan baik-baik saja! Dia sudah berhasil menghadapi berbagai kesulitan selama ini dengan ekstrem!" lanjut ryohei. Walaupun dia berkata dengan penuh keyakinan, namun fakta bahwa dia tidak berteriak seperti biasanya merupakan pertanda bahwa dia juga sama kkhawatirnya dengan kyoko

Kyoko menatap mata milik kakaknya dan mengangguk "eum, aku yakin kalau itu Tsuna-kun, dia pasti baik-baik saja" kyoko membulatan tekad dan keyakinannya "oni-chan, apa kamu tidak haus?" tanya kyoko setelah senyum cerahnya kembali ke wajahnya. Ryohei yang melihat kalau kata-katanya berhasil ikut tersenyum

"hmm, AKU SANGAT HAUS KARNA BERPIKIR KERAS SOAL SAWADA" ucapnya, dan karna teriakannya kembali, bisa dipastikan kalau dia juga telah menaruh keyakinan pada langitnya

"kalau begitu, aku akan membeli minuman terlebih dahulu! Oni-chan tunggu disini!" ucap kyoko dan pergi meninggalkan ryohei sendirian di tempat

Selang beberapa waktu setelah kyoko pergi, ryohei melihat seorang yang sangatdikenalnya, malah sedang dicari oleh semua orangsaat ini. Seorang remaja dengan rambut coklat melawan gravitasi, Sawada Tsunayoshi. Ryohei yang melihatnya segera berlari mengejar pemuda itu

"SAWADA!" teriak ryohei, namun yang dipanggil tidak menoleh, "SAWADA!" teriaknya lagi dan teriakan kedua itu sukses membuat yang bersangkutan berhenti dan menoleh ke belakang

"oni-san?" panggil Tsuna bingung

"KAU MAU KEMANA MALAM-MALAM BEGINI?" tanya ryohei

"ah, aku mau ke rumah sakit! Kudengar ada sesuatu yang gawat disana!" ucap Tsuna "oni-san sendiri, sedang apa kau disini?" tanya Tsuna

"AKU SEDANG MENUNGGU KYOKO MEMBELI MINUMAN TO THE EXTREME" jawab ryohei sambil berteriak, dan dengan terpaksa Tsuna menutup telinganya dengan kedua tangannya kalau tidak, telinganya bisa menjadi tuli

"oni-san, bisa kau pelankan suaramu?" Tsuna meminta sambil tetap menutup kedua telinganya

"memangnya siapa yang sedang sakit?" ryohei berhasil mengecilkan suaranya. Tsuna melepaskan tangannya darii telinganya dan menatap ryohei

"aku sendiri juga tidak tahu, Reborn mmenyuruhku untuk datang kesana" jawab Tsuna

"kalau begitu aku ikut dengan mu!" ucap ryohei bersemangat namun tanpa teriakan

"bagaimana dengan kyoko-chan?" tanya Tsuna "apa kau ingin meninggalkannya?" lanjut Tsuna, ryohei terlihat terdiam sejjenak

"KAU BENAR TO THE EXTREME! KYOKO AKAN KHAWATIR KALAU AKU TIBA-TIBA PERGI" entah karna apa, suara ryohei yang sebelumnya sempat turun kembali naik

"oni-san, pelankan suaramu!" Tsuna kembali meminta sambil menutup kedua telinganya

"Sawada, kau kemana saja seharian ini? Semua orang khawatir mencarimu!" ucap ryohei

"aku sedang ada urusan, jadi aku meninggalkan namimori untuksementara!" jawab Tsuna

"dan urusan apa yang..." ucapan ryohei terhenti begitu Tsuna menatapnya dengan sedih

"oni-san.." panggil Tsuna "kau, mana yang lebih penting bagimu? Teman atau dunia?" Tsuna bertanya dengan nada yang berbeda dengan yang dia gunakan tadi

"apa maksudmu Sawada?" ryohei yang memang sebelumnya sedikit bodoh menjadilebih bodoh saat memproses kata-kata Tsuna

"jika kau harus mengorbankan satu nyawa untuk melindungi ribuan nyawa, berjanjilah kau harus melakukannya!" ucap Tsuna, ryohei hanya terdiam mencerna kata-kata yang keluar dari mulut kouhainya.

"Sawada, kau..." otak ryohei secara spontan berhenti bekerja dan dia menatap mata Tsuna yang menyiratkan kesedihan

"munngkin ini sulit untuk dimengerti oleh oni-san! Tapi intinya jika kau harus memilih antara satu nyawa yang berharga bagimu atau nyawa seribu orang yang tidak kau kenal, mana yang akan oni-san pilih?" tanya Tsuna

"aku tak tahu, karna aku belum pernah berada pada situasi tersebut!" jawab ryohei

"kalau begitu aku minta padamu untuk memilih seribu orang!" ucap Tsuna

"Sawada, apa satu orang yang kau maksud itu..." ryohei menelan ludahnya sebelum melanjutkan "kau?" mendadak ryohei menjadi pintar. Tsuna tidak menjawab, namun hanya tersenyum, senyum yang lebih menyakitkan dari yang sebelumnya

"mungkin" jawabnya pelan, "waktuku tidak banyak lagi, aku harus pergi" ucap Tsuna . seketika panndangan ryohei menjadi tidak fokus, dan setelah pandangannya menjadi fokus, dia menemukan Tsuna tersenyum padanya, namun senyum yang berbeda dari yang barusan ryohei lihat

"Sawada" ryohei memanggil pelan nama orang didepannya

"oni-san? Kanapa kau tiba-tiba menjadi pucat?" tanya Tsuna melihat orang didepannya menjadi sedikit pucat

"ti..tidak apa-apa, Sawada, mungkin aku hanya kielelahan, oh iya, aku harus kembali ke tempatku semula dan menunggu kyoko, sampai jumpa" dan dengan segera ryohei berlari meninggalkan Tsuna yang masih bertanya-tanya ditempat

"dasar aneh!" gumam Tsuna sebelum dia mulai berjalan lagi

;:;:Sky Problem:;:;

(Masih dipinggir Sungai)

Kyoko berjalan dengan membawa kantong plastik yang berisi dua minuman kaleng. Mesin penjual minuman yang ada didekat sungai sudah kehabisan stok jadi terpaksa dia membelinya di sebuah toko yang lumayan jauh dari tempatnya dan ryohei berpisah

Kyoko masih sangat menghawatirkan Tsuna. karna itu dia tidak memperhatikan jalan dan menabrak seseorang. Dengan segera kyoko memungut minuman yang tadi terjatuh karna dia menabrak seseorang dan langsung berdiri

"su..sumimasen..." ucapan kyoko terhenti ketika melihat orang yang baru saja dia tabrak "Tsu..Tsuna-kun?" kyoko membelahaakkan matanya mengetahui orang yang baru saja dia tabrak adalah orang yang juga menjadi alasan kyoko melamun

"kyoko-chan?" Tsuna segera berdiri dari tempatnya terjatuh

"Tsuna-kun, kau baik-baik saja? Kemana saja kau sehaarian ini? Kenapa kau ada disini?..."pertanyaan kyoko yang terlalu banyak dihentikan oleh Tsuna

"stop, kyoko-chan! Kau bisa tanya satu-satu?" dan kyoko terdiam sambil menatap mata Tsuna, saat ini mereka ada dipinggir sungai yang agak jauh dari tempat ryohei dan juga hanya sedikit orang yang berlalu lalang di tempat itu

"Tsuna-kun?" kyoko mencoba memanggil nama orang di depannya "Tsuna-kun, apa matamu sakit?" kyoko menatap mata coklat Tsuna yang terlihat sedikit kemerahan

"tidak aku baik-baik..." ucapan Tsuna terputus oleh kyoko

"apa kau benar Tsuna-kun?" kyoko bertanya. Sejujurnya saja, gadis itu selalu memperhatikan Tsuna dari jauh, dia sudah menaruh hati pada calon vongola decimo itu sejak Tsuna menyelamatkannya di masa depan. Dan kini, apa yang ia lihat didepan matanya bukanlah Tsuna yaang biasa bersamanya

"apa maksudmu kyoko-chan? Aku Sawada Tsunayoshi, vongoladecimo!" dan kata-kata itu malah memmbuat kyoko lebih membelahakkan matanya

"Tsuna-kun tidak pernah mau mengakui kalau iia adalah boss dari mafia vongola!" ucap kyoko. "kau bukan Tsuna-kun, siapa kau?" tanya kyoko lagi

"kyoko-chan!" Tsuna memanggil nama kyoko dengan tegas "bisa kau hentikan itu?" Tsuna meminta

"Tsuna-kun!" kyoko menyadari kalau sekarang mata Tsuna murni menjadi coklat tanpa ada warna merah

"ini aku, kyoko-chan! Dan aku bukan siapa-siapa!" Tsuna meyakinkan kyoko "tolong jangan katakan hal seperti kalau aku bukan diriku, karna mendengar kau mengatakannya sangat menyakitkan" ucap Tsuna tersenyum sedih

"Tsuna-kun! Apa yang terjadi?" kyoko sangat khawatir pada pemuda yang kini berada di depannya

"maaf kyoko-chan, aku tak bisa memberitahumu, tapi yang jelas saat ini aku baik-baik saja!" ucap Tsuna "waktuku tidak banyak kyoko-chan, aku harus pergi" Tsuna kembali tersenyum, namun senyum itu sama dengan senyum yang pernah ia lemparkan pada Reborn, Gokudera, Yamamoto, Fuuta dan ryohei. Senyum yang membuat orang menjadi pucat namun juga tenang

"Tsuna-kun, kemana kau akan pergi?" kyoko bertanya

"..." kyoko melihat Tsuna menggerakkan bibirnya untuk mengatakan sesuatu, namun sesuatu yang aneh menyerangnya dan menyebabkan keseimbangannya jatuh

"eh?" kyoko bereaksi akan apa yang barusan Tsuna katakan, samar-samar kyoko melihat ada sesuatu yang turun dari kedua mata Tsuna yang biasa disebut orang sebagai air mata 'eh? Tsuna-kun?' kyoko terkejut karna orang yang kuat seperti Tsuna bisa menunjukkan air matanya 'kenapa kau menangis, Tsuna-kun?' namun mulutnya terasa sangat berat ketika ingin menanyakannya 'apa yang kau katakan?' kyoko dapat mendengar suara Tsuna yang sangat sedih ketika mengatakannya 'Tsuna-kun' dan matanya menjadi gelap. Kyoko sudah tidak bisa mendengar ataupun melihat apapun lagi 'Tsuna-kun, kau egois' itulah kata terakhir yang keluar dari mulut kyoko setelah mendengar semua pernyataan Tsuna

;:;:Sky Problem:;:;

Ryohei yang sudah menunggu kyoko hampir setengah jam mulai merasa khawatir dengan adiknya itu, dia memutuskan untuk mencari kyoko saat matanya melihat ke sebuah arah

Disana terlihat seorang gadis berambut oranye sedang tertidur di tanah dan tidak jauh darinya terdapat sebuah kantong plastik berisi dua minuman kaleng

"KYOKO!" teriak ryohei menghampiri gadis itu yang ternyata sedaang pingsan "kyoko, kau tidak apa-apa.." ryohei menyentuh dahi kyoko yang terasa sangat panas. Detik selanjutnya dia segera menggendong kyoko ke rumah dan meninggalkan minuman yang tadi dijatuhkan kyoko.

Namun tanpa ryohei sadari, seseorang menatap mereka dengan pandangan marah. Orang itu mengepalkan tangannya erat dan menggigit bibir bawahnya hingga mengeluarkan sedikit darah

"sialan kau!" umpatnya seraya meninggalkan tempat itu dengan perasaan murka

;:;:Sky Problem:;:;

Reborn, Gokudera, Yamamoto serta Dino yang baru saja selesai mengurus administrasi Hibari duduk di luar ruangan sambil sesekali melirik keujung koridor berharap seorangpemuda berambut coklat yang melawan gravitasi muncul dari sana. Namun hingga dua jam lamanya orang yang diharapkan datang tak kunjung tampak

"Tsuna lama sekali!" gerutu Yamamoto

"ini salahmu karna tidak menunggu juudaime pulang!" ucap Gokudera

"selambat apapun Tsuna, tidak mungkin perjalanan kemari memakan waktu sampai dua lebih" ucap Reborn

"lalu apa menurutmu dia tidak datang kemari?" tanya Dino membuat semua mata menatap padanya

"maaf, tapi aku harus segera pulang, oyaji pasti khawatir!" ucap Yamamoto sambil berdiri

"aku juga punya pekerjaan yang harus kulakukan, tolong sampaikan permintaan maafku pada juudaime karna tidak bisa menyambutnya" ucap Gokudera mengikuti Yamamoto berdiri

"aku juga harus segera pulang dan tidur, aku akan kembali lagi besok pagi bersama Tsuna" ucap Reborn, ucapannya menandakan kalau ia akan segera menyiksa muridnya itu setelah ia menemukannya

"hei, kalian ingin meninggalkanku disini bersama Kyoya?" Dino merengek karna dia akan ditinggal sendirian

"kau tidak punya tempat untuk tidur bukan? jadi sekalian kau tidur saja di kamar Hibari dan menunggu dia sampai sadar! Bisa gawat kalau Hibari sadar dan langsung melarikan diri" ucap Reborn seenaknya

"kalau begitu aku serahkan padamu Dino-san!" ucap Yamamoto melambaikan tangan dan mulai berjalan

"jangan katakan hal yang macam-macam tentangku pada juudaime haneuma!" Gokudera meminta dan mengikuti Yamamoto

"kalau begitu aku juga pergi! Jaa ne!" Reborn melompat ke pundak Gokudera yang langsung melangkah ke ujung koridor

"hei, kalian kejam sekali!" Dino merengek sekali lagi namun ke tiga orang itu sudah menghilang di ujung koridor

"boss, bagaimana ini?" Romario bertanya pada Dino

"terpaksa kita tidur disini, Romario kau disini bersamaku sedangkan yang lainnya pergilah ke hotel" perintah Dinoo pada anak buahnya

Dan disinilah Dino, bersama Romario duduk bersandar tembok di samping tempat tidur yang dipakai Hibari

"boss, apa mmenurutmu para penjaga vongola itu sedikit aneh?" tanya Romario

"kau juga berpikir begitu? Menurutku ada sesuatu yang mengerikan terjadi pada Tsuna" ucap Dino. Tiba-tiba terdengar suara ponsel Dino berbunyi, Dino segera membukanya dan sedikit mengernyit ketika mengetahui nama yang terpampang disana. Setelah beberapa saat setelah Dino mengangkat telepon itu wajahnya menjadi ketakutan lalu dia menutup teleponnya

"boss?" Romario yang menyadari perubahan sikap dari bossnya bertanya

Dino menundukkan kepalanya, wajahnya terlihat sangat ketakutan dan pucat, bahkan tangannya sedikit bergetar "aku tak percaya ini!" ucapnya masih ketakutan "Romario, kita harus segera pergi ke rumah Tsuna! ada kabar buruk" ucap Dino segera berdiri dan hendak membuka pintu. Namun pintu itu tidak kunjung terbuka

"boss!" Romario menghampiri bossnya

"panggil orang-orang di luar untuk membuka paksa pintu, ini keadaan darurat!" Dino berteriak dan dengan segera Romario mengambil handphonenya dan menekan sejumlah nomor sebelum sebuah suara muncul dari balik pintu

"percuma saja haneuma-san!" ucap suara itu "aku memasang penghalang di sekitar ruangan itu, kau tidak akan bisa keluar dari ruangan itu atau menghubungi orang luar" ucap suara itu

"siapa kau?" Dino geram mengetahui kalau ia telah dipermainkan oleh orang itu

"kau hampir mengganggu kesenanganku, haneuma-san! karna kau sudah tahu peraturan dari permainan ini, maka aku harus mengeliminasimu!" ucap suara itu sambil sesekali tertawa pelan "kau harus menunggu disini sampai mereka sadar kalau mereka tidak lebih dari mainanku" ucap suara itu. Dino membelahakkan matanya, dia menyadari orang yang saat ini sedang berbicara padanya

"kau..?" Dino terdiam bahkan lebih ketakutan daripada tadi "kenapa kau disini?" tanya Dino membulatkan tekadnya

"kau sudah mengenaliku haneuma-san? kalau begitu baguslah, kalau kau tidak ingin aku terluka maka jadilah anak baik dan diam disini" ucap suara itu menyeringai

"apa kau sudah gila? Mana mung.." Dino terdiam ketika dia mengingat isi percakapan di telepon tadi "tunggu, massaka.." Dino menduga-duga sampai suara itu menyeringai lagi

"kau punya insting yang bagus, haneuma-san!" ucapnya "dan karna itu aku tak bisa membiarkan kau merusak kesenangan Tsunayoshi-kun!" ucapnya lagi

"Tsuna?" dia kemudian mengingat lagi apa yang diucapkan oleh semua orang tentang keadaan Tsuna "jangan-jangan kalau Tsuna..." ucapannya berhenti lagi

"pemikiranmu sungguh luar biasa, dia akan membunuhku kalau aku melepaskanmu sekarang" ucap suara itu "baiklah haneuma-san, aku harus pergi. Kau akan kulepaskan setelah permainan mencapai klimaks!" ucapnya seraya langkah kakinya terdengar menjauh

"brengsekk kau! Lepaskkan aku! Buka pintunya!" teriak Dino sambil mendobrak pintu, namun pintu itu tidak bergeming

"percuma haneuma-san, aku sudah memasang peredam suara dan penghalang api! jadi tidak akan ada orang yang menyelamatkanmu! Oh dan satu lagi, semua sinyal di rumah sakit ini sudah kubajak seluruhnya jadi kau tak bias menghubungi siapapun di luar dan aku akan membunuh semua orang yang menyadari atau bahkaan mencoba membebaskanmu. Oyasumi haneuma-san!" ucap orang itu sebelum hawa keberadaannya lenyap sepenuhnya

"kuso!" Dino mengumpat sambil menatap pintu itu

"boss, kau tahu siapa dia?" tanya Romario

"ya, aku sangat mengenalnya, dia adalah..." dan nama itu sukses membuat Romario membelahakkan matanya.

Malam itu, Dino bersusah payah membakar pintu itu dengan api langit miliknya namun seperti yang dikatakan orang itu, pintu bahkan ruangan itu tidak tergerak sedikitpun. Dino pun terduduk lemas karna menggunakan seluruh apinya untuk kabur dari tempat itu, dia pun akhirnya tertidur karna kelelahan, bersama dengan Romario dan Hibari yang masih tidak sadarkan diri

;:;:Sky Problem:;:;

Reborn sampai di rumah namun dia tidak menemukan sosok muridnya itu diseluruh penjuru rumah namun tidak menemukannya. Fuuta, Lambo dan I-pin sudah pergi tidur dan meninggalkan kartu-kartu berserakan di ruang tamu. Reborn menghela napas sejenak sebelum menatap langit di seberang jendela yang mulai menampakkan mendung dan warna hitam yang cukup pekat.

"Tsuna, apa yang sudah kau lakukan?" Reborn bergumam pelan. Reborn kembali menatap langit tersebut lekat-lekat "langit yang cerah telah pergi dan berganti menjadi langit yang kelam!" ucapnya sedih "semoga kau tidak menjadi demikian, Tsuna!" dia kembali bergumam dan memperhatikan beberapa tetes hujan yang mulai jatuh ke tanah, seakan langit itu telah menangis kesakitan

;:;:Sky Problem:;:;

Hujan mulai turun membasahi bumi, seorang anak terdiam di suatu gang sempit yang diapit pagar. Wajahnya menunduk menyembunyikan ekspresi datar dan marahnya. Dia tetap tak bergeming meskipun hujan sudah membuat pakaiannya basah. Sesekali giginya menggeretak dan tangannya mengepal menahan rasa sakit. Matanya sekali-kali berkilat merah dan terkadang menjadi putih dan hijau. Tangan kirinya mengepal sementara tangan kanannya memegangi dadanya yang seolah-olah jika dia melepaskannya maka jantungnya akan keluar.

Langit masih menurunkan hujan namun sosok itu belum bergeming dari tempatnya berdiri, lama-kelamaan kepalan tangannya melonggar dan giginya sudah tak menggeretak, namun berganti air mata yang keluar dari matanya yang masih tertutup poninya. Sosok itu mendongakkan kepalanya menatap langit yang kelam sambil membiarkan tetesan hujan menusuk wajahnya yang tersenyum penuh keprihatinan sambil masih menangis

"langit yang menaungi segalanya, adakalanya meminta tolong oleh apa yang dinaunginya" ucap sosok itu pelan. Detik selanjutnya air matanya berhenti dan senyum sedhnya berubah menjadi seringaian "langit tersebut…" dia menggantung kata-katanya dan mengarahkan telapak tangannya ke udara menangkap tetesan hujan sebelum menggenggamnya dengan keras seakan dia sedang menghancurkan sebuah batu "sudah hancur"

Halo minna-san! kembali laagi bersama saya author GJ yang punya ide gila! siapa lagi kalau bukan saya? sekali lagi mohon maklumi jika anda sekalian merasa tidak nyaman dalam membaca fic saya yang EYD-nya super kacau! soalnya saya gak ada mood buat cek ulang, jadi saya yakin kalau ada banyak typo di atas sana (nunjuk kearah fanfic)

baiklah saatnya membalas review:

Zee Cielova: untuk nomor satu itu sama dengan pertanyaan spoiler jadi gk saya jawab tapi mungkin pertanyaan itu sedikit terjawab di chapter ini. untuk nomor dua itu sebenernya typo, karna saya terlalu terbawa suasana setting diatasnya pas gokudera sama yamamoto pisah buat nyariin tsuna jadinya secara refleks tangan saya ngetiknya yamamoto (he..he..he.. kan saya gak ada mood buat cek ulang)

Miyaka Himizuka:semoga pertanyaan anda sedikit terjawab di chapter ini dan saya benar-benar minta maaf karna saya sudah menjanjikan fic ini selesai minggu tapi malah selesai hari ini (Yuki masih pelajar, jadi ada tugas menumpuk yang harus diselesaikan atau Yuki gak akan dibolehin lagi nulis cerita). dan soal EYD kelihatannya Yuki memang payah deh! (Author benci materi EYD)

Hikage Natsuhimiko: semoga pertanyaan anda sedikit terjawab di chapter ini

oke, begitu saja catatan dari yuki, terus lanjutkan membaca fic saya. dengan semakin banyak review yang masuk maka yuki akan semakin semangat melanjutkan fic ini. jadi mohon luangkan waktunya untuk mereview!

ARIGATTOU!