"langit yang menaungi segalanya, adakalanya meminta tolong oleh apa yang dinaunginya" ucap sosok itu pelan. Detik selanjutnya air matanya berhenti dan senyum sedhnya berubah menjadi seringaian "langit tersebut…" dia menggantung kata-katanya dan mengarahkan telapak tangannya ke udara menangkap tetesan hujan sebelum menggenggamnya dengan keras seakan dia sedang menghancurkan sebuah batu "sudah hancur"
Katekyou Hitman Reborn
Disclaimer : KHR bukan punya saya
warning : typoo maybe, bahasa kaku, alur gaje
MIND TO READ AND REVIEW?
Reborn memulai hari dengan sarapan dimeja makan bersama semuanya, namun jangan lupakan aura membunuh yang ia keluarkan. Suasana pagi itu benar-benar suram. Bahkan lambo yang biasanya membuat keributan menjadi diam seketika! Alasannya? Satu kursi dimeja makan itu kosong. Yap! Kursi milik vongola decimo yang menghilang kemarin saat ini menjadi kosong melompong. Bahkan kamarnya juga tidak terdapat tanda-tanda kehidupan. Yap! Sawada Tsunayoshi tidak pulang dari tadi malam
"Reborn, bisa kau tenang dimeja makan?" pinta fuuta merasa tidak nyaman dengan aura yang keluar dari tubuh Reborn. Reborn tidak menanggapi ucapan fuuta dan hanya melanjutkan sarapan dengan aura membunuhnya yang semakin membesar
"Reborn, kau dengar aku?" fuuta bertanya dan hanya direspon dengan anggukan namun kenyataannya aura yang menyebar semakin membesar. Fuuta menghela napas karna merasa usahanya sia-sia saja. Daripada aura yang menyebar semakin membesar lagi lebih baik dia tutup mulut
"sumimasen!" terdengar suara dari depan pintu, Nana segera membuka pintu dan menemukan dua pemuda dengan seragam namichuu sedang berdiri di depan pintu
"ara…Gokudera-kun, Yamamoto-kun! Selamat datang" ucap Nana menyambut dua sahabat baik anaknya
"ohaiyo! Juudaime no oka-san!" salam Gokudera sambil membungkuk hormat "apa juudaime ada didalam?" Tanya Gokudera mengangkat tubuhnya
"tsu-kun? Reborn-kun bilang kalau tsu-kun menginap dirumah Yamamoto-kun" ucap Nana sambil memiringkan kepalanya bingung kemudian menatap Yamamoto. Yamamoto yang mengerti arti semua ini segera menyahut
"ah iya, Tsuna tadi pulang pagi sekali, kupikir dia pulang dulu kerumah ternyata dia langsung pergi kesekolah, baiklah kalau begitu kami permisi" ucap Yamamoto membungkuk lalu menyeret Gokudera dari depan rumah dan saat mereka melihat Nana menutup pintu Yamamoto berhenti dan menunduk
"hei, yakyuu bakka! Apa maksud semua ini? Kenapa kau menarikku dan lagipula aku tidak tahu kalau juudaime menginap dirumahmu!" ucap Gokudera dengan nada tinggi tepat didepan Yamamoto
"tentu saja Tsuna tidak datang kerumahku!" jawab Yamamoto mengalihkan pandangnnya kearah kamar Tsuna dan mendapati Reborn menunduk menyembunyikan ekspresinya namun dapat terlihat dengan jelas kalau ia sedang mengalami keresahan
"lalu apa maksudmu berkata seperti itu?" Tanya Gokudera
"apa kau tidak dengar tadi? Nana-san bilang kalau adik itu yang memberitahunya kalau Tsuna menginap dirumahku. Itu berarti Tsuna tidak kembali dari kemarin. Kau tahukan kalau kita tidak boleh membuat Nana-san khawatir!" ucap Yamamoto
"kalau begitu kenapa Reborn-san bilang kalau juudaime menginap dirumahmu? Bukan dirumahku yang menjadi tangan kanannya?" Gokudera merasa khawatir namun juga kecewa
"kenapa kau tidak Tanya padanya saja?" Yamamoto menunjuk kearah Reborn yang mengintip dari arah kamar Tsuna
"Reborn-san?" Gokudera menyadari kalau saat ini hitman terhebat itu sedang kebingungan, amat kebingungan malah. Namun dia tidak turun untuk memberi arahan pada guardian vongola seperti biasanya
"lebih baik sekarang kita pergi kesekolah! Nanti juga dia akan mengabari kita!"ucap Yamamoto
"tunggu, ini masalah serius! Kalau benar juudaime belum pulang bisa berarti dia dalam bahaya bukan?" Tanya Gokudera mulai panic
"justru kita yang akan dalam bahaya kalau kita sampai membolos! Kita akan pikirkan masalah ini nanti bersama denga yang lain" ucap Yamamoto sambil menarik paksa Gokudera yang masih ngotot untuk mencari Tsuna
"diam kau yakyuu-bakka! Aku akan mencari juudaime! Kalau kau begitu inginnya pergi ke sekolah maka pergilah sendiri!" teriak Gokudera. Saat ini otaknya sedang dipenuhi pikiran tentang apa yang terjadi pada Tsuna. Dia tak mampu memproses hal lain selain dimana dan bagaimana kondisi bossnya saaat ini
"aku tahu itu, aku juga khawatir dengan Tsuna, tapi kalau kita bertindak ceroboh, Tsuna pasti tidak akan senang! Kumohon pikirkan juga tentang hal itu"
Gokudera berpikir lagi. Mungkin benar apa yang dikatakan Yamamoto. Jika dia bertindak gegabah tanpa petunjuk apapun, maka hal itu bisa menjadi ancaman bagi bossnya sendiri. Dan maka dari itu Gokudera memutuskan untuk mengikuti Yamamoto pergi kesekolah.
Suasana di kelas pagi itu terlihat cukup ricuh diarenakan sang idola namimori yang dikabarkan sakit padahal kemarin ia masih baik-baik saja. Gokudera dan Yamamoto bertemu dengan Ryohei yang menyampaikan sebuah surat di depan kelas mereka
"Sasagawa-senpai, ada apa?" Yamamoto bertanya
"oh, Yamamoto dan tako-head, ohaiyo!" teriak Ryohei seperti biasa
"diamlah dan katakan apa yang terjadi sibafu-atama!" balas Gokudera, moodnya pagi ini benar-benar buruk
"oh, Kyoko demam tinggi jadi aku mengantarkan suratnya" jawab Ryohei menurunkan nadanya
"demam tinggi? Tapi kemarin saat kami pergi ke rumah Tsuna, dia baik-baik saja" ucap Yamamoto. Air muka Ryohei berubah secara tiba-tiba
"aku juga tidak mengerti, tiba-tiba saja aku menemukan dia sedang tertidur di dekat sungai dan ketika aku mengeceknya badannya terasa panas" jelas Ryohei
"apa lagi sekarang? Kemarin Tsuna bertingkah aneh dan sekarang Sasagawa terkena demam misterius?" ucap Yamamoto juga merasa frustasi.
"Sawada? Kalau kuingat kembali kemarin aku sempat bertemu dia dan kelakuannya sangat aneh" ucap Ryohei memasang pose berfikir yang membuat Gokudera serta Yamamoto melemparinya dengan pertanyaan
"kau bertemu dengan Tsuna? Kapan dan dimana?" tanya Yamamoto
"apa dia diserang oleh kelompok mafia dan sedang terluka?" tanya Gokudera
"hoi, tenanglah kalian berdua! Dia baik-baik saja! Aku bertemu dengan dia saat menunggu Kyoko membeli minuman. Dia bilang ingin pergi ke rumah sakit karna ada urusan penting! Memangnya apa yang terjadi?" tanya Ryohei. Gokudera dan Yamamoto saling berpandangan
"hei, Gokudera, kau tahu kan apa artinya itu?" tanya Yamamoto
"ah, itu artinya sesuatu terjadi pada juudaime saat berada di jalan" ucap Gokudera menyilangkan kedua tanngan didepan dadanya dan memasang pose berpikir.
"apa maksudmu tako-head?" Ryohei seperti biasanya tetap saja terlihat bodoh "ngomong-ngomong apa kalian tahu apa yang terjadi di rumah sakit yang sedang dituju Sawada?" tanya Ryohei
"kalau itu sih…" belum sempat Yamamoto menjelaskan bel sudah berbunyi dengan nyaring yang menyebabkan Ryohei langsung berlari menuruni tangga
"oh ya, si lawn-head itu sekarang sudah SMA bukan? Bagaimana dia bisa dengan santainya dataang kemari?" cibir Gokudera. Saat ini mereka memang ada di kelas tiga. Ryohei dan Hibari saat ini sudah lulus dari namichuu dan…
Hari itu Chrome tidak datang ke sekolah dan pergi ke kokuyo land untuk menemui Mukuro. Firasatnya sebagai mist guardian vongola menjadi tidak enak sejak dia tidak bertemu dengan bossnya kemarin. Karna itu dia harus membicarakan ini dengan Mukuro
Baru tiga langkah Chrome memasuki gerbang kokuyo land, pikirannya tersadar akan sesuatu. Dia baru ingat kalau Mukuro sedang pergi ke itali untuk suatu urusan. Tidak bukan itu yang membuat Chrome berhenti, kemarin saat dia pergi untuk mengambil anting yang ia jatuhkan di sekolah, apa yang ia lihat adalah…
"apa yang dilakukan kumo no hito di sana?" pikiran polos Chrome baru bereaksi dengan fakta kalau Hibari Kyoya sudah lulus dari namichuu, seharusnya dia ada di SMA namimori. Tapi apa yang dilakukan Hibari di namichuu kemarin sore?
Saat pikiran Chrome sedang berkecamuk, sebuah asap berwarna nila muncul dari belakangnya. Chrome langsung menoleh dan mendapati pemilik mata merah dengan kanji angka enam berdiri disana
"kufufu! Lama tak jumpa Chrome! Apa ada kabar menarik selama aku pergi?" tanya orang itu Rokudo Mukuro.
"Mukuro-sama!" Chrome secara refleks memanggil Mukuro dengan nada senang
"kurasa ada sesuatu yang terjadi karna kau datang mengunjungiku" ucapnya. Chrome kemudian menjelaskan segala sesuatu yang terjadi termasuk dengan pikiran yang mengganjalnya tentang Hibari
Sekolah berakhir pukul 10 pagi karna guru-guru memiliki urusan yang membuat siswa harus segera pulang dari sekolah. Yamamoto dan Gokudera berjalan bersama untuk pergi ke rumah Tsuna. Saat mereka melewati depan SMA namimori, mereka melihat Mochida Kensuke sedang berjalan ke arah mereka
"hei, apa kemarin ada yang salah dengan dame-tsu.. maksudku Sawada?" Mochida segera menelan kembali kata terakhirnya saat merasakan aura menerkam dari dua orang yang dia hadapi.
"memang kenapa senpai?" Yamamoto yang bertanya sebab aura disekitar Gokudera masih belum lenyap
"kemarin dia keluar dari namichuu dengan sangat aneh" ucap Mochida
"apa maksudmu dengan aneh?" tanya Gokudera
"dia keluar dari namichuu dengan keadaan tak terluka padahal harusnya jika dia keluar sekolah pada jam segitu Hibari pasti akan mengkamikorosunya" jelas Mochida
"tentu saja itu tidak mungkin karna Hibari sudah tidak bersekolah di nami..chuu.." Yamamoto melambatkan kata-katanya ketika mengucapkan hal itu, dia baru mengingat fakta penting yang dilupakan semua orang
"aku lupa akan hal itu, jadi aku menanyakan apa yang dia lakukan dan dia menjawab kalau Hibari memintanya mengerjakan tugas karna dia merusuh" jelas Mochida "aku jadi tak paham dengan maksudnya, memangnya apa yang sudah dia lakukan sehingga membuat alasan tak masuk akal seperti…" dan sebelum Mochida berhasil menyelesaikan kata-katanya Gokudera dan Yamamoto sudah menghilang dari hadapannya. Mochida hanya mendengus dan berjalan menyusul teman-teman klub kendonya yang sudah ada di depan.
Agar bisa segera sampai, Gokudera dan Yamamoto menggunakan flame mereka untuk terbang. Mereka meuju kediaman Sawada dimana di halaman belakang Reborn, Ryohei, Mukuro, Chrome, Lambo dan I-pin sudah berkumpul disana. Gokudera dan Yamamoto segera turun ke arah mereka.
"Mukuro, kau sudah kembali?" tanya Gokudera
"kufufu, tentu saja aku sudah kembali, jadi apa urusan yang membuat kalian begitu tergesa-gesa sampai-sampai menggunakan flame kalian untuk pergi kemari?" tanya Mukuro. Gokudera dan Yamamoto langsung mengingat tujuan mereka
"tadi saat kami dalam perjalanan pulang kami bertemu Mochida Kensuke dan dia mengatakan kalau kemarin sore dia melihat Tsuna keluar dari namichuu" ucap Yamamoto
"bukan hanya itu saja, katanya juudaime mengatakan kalau dia sedang membantu Hibari mengerjakan laporan karna dia merusuh" jelas Gokudera
"kalau begitu berarti kemarin Sawada bertemu dengan Hibari bukan?" tanya Ryohei, entah masalah ini yang terlalu rumit atau dianya yang bodoh hingga tak bisa menarik kesimpulan sederhana.
"tapi bukankah skylark-kun sudah lulus dan sekarang ada di SMA?" tanya Mukuro
"itulah yang tak kumengerti" ucap Gokudera
"Chrome mengatakan kalau kemarin saat dia hendak mencari anting vongola yang terjatuh di sekolah dia bertemu dengan Hibari Kyoya sedang melakukan patroli" ucap Mukuro. Semua orang langsung melihat ke arah Chrome
"karna kumo no hito salah satu penjaga aku lupa kalau dia ada satu tahun di atas kita" ucap Chrome. "aku baru sadar tadi pagi" lanjut Chrome murung
"itu artinya secara tidak langsung Hibari bertemu Tsuna kemarin sore dan setelah Tsuna pergi Hibari diserang atau…" Reborn menghentikan ucapannya ragu
"Sawada Tsunayoshi adalah pelaku dari penyerangan Hibari Kyoya" lanjut Mukuro membuat Gokudera dan Yamamoto melayangkan tatapan maut padanya
"mana mungkin juudaime melakukan hal seperti itu?" Gokudera yang pertama kali menyulut
"tenanglah Gokudera! Itu hanya suatu kemungkinan, masih banyak kemungkinan lain yang bisa terjadi" ucap Reborn berusaha menenangkan
"lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Chrome
"aku sudah Meminta bantuan pada nono kemarin untuk menyelidiki setiap kemungkinan yang terjadi pada Tsuna dan hari ini dia akan mengirim seseorang untuk memberikan laporannya" jelas Reborn
"sasuga vongola! Hanya dalam waktu satu malam kalian bisa melacak apa yang terjadi pada boss kalian" entah sindiran atau pujian yang barusan dikeluarkan oleh Mukuro
"sebaiknya sekarang kita pergi ke tempat Dino dan Hibari, aku takut musuh akan menyerang mereka" ucap Reborn disertai anggukan dari yang lainnya
Tanpa diduga oleh siapapun langit mendadak mendung serta mati listrik yang menyebabkan seluruh kota menjadi gelap
"sekarang apa lagi yang terjadi?" tanya Reborn frustasi. Pikirannya benar-benar penuh sekarang. Dia hampir tak bisa bersikap tenang. Tapi jika dia juga panik maka anggota yang lain sudah pasti akan diluar kendali
Beberapa saat kemudian petir terlihat menyambar dari kejauhan. Namun bukan itu yang membuat 6 orang di halaman belakang panik, tapi karna enam orang itu bisa merasakan adanya kekuatan flame yang muncul dari petir tersebut
"kemungkinan besar itu adalah musuh, aku dengan sangat jelas dapat merasakan adanya mist flame yang menyembunyikan sejumlah besar kekuatan" ucap Mukuro. Reborn langsung mengambil langkah
"lambo dan i-pin kalian tetap di rumah dan jaga mama, Chrome apa kau bisa mengawasi mereka? Fuuta sedang keluar jadi aku tak bisa Meminta bantuannya" Chrome hanya mengangguk yang berarti menandakan persetujuannya "yang lainnya segera pergi ke tempat petir itu menyambar. Aku akan pergi memeriksa keadaan Dino dan Hibari" perintah Reborn lalu berangsur pergi
"kalau begitu kita harus pergi sekarang" ucap Gokudera melepas tas sekolahnya dan melemparnya ke sembarang arah begitupun dengan Chrome dan Yamamoto. Ryohei? Dia tak pernah berniat ke sekolah jadi dia tak membawa tas (dia terlambat 20 menit dan tidak membawa tas jadi dia diusir dari sekolah. Karna itu dia langsung pergi ke rumah Tsuna) sedangkan Mukuro? Apa sejak awal dia berniat untuk ikut belajar?
"berhati-hatilah Chrome" ucap Mukuro seraya pergi dengan ilusinya. Entah kenapa hari ini dia menjadi sangat penurut pada Reborn. Biasanya dia akan mengomel entah apa, tapi kali ini dia mengiyakan saja keputusan arcobaleno itu
"apa benar disini tempatnya?" seorang anak berambut merah bertanya pada anak lain yang ada di depannya
"tidak salah lagi, aku merasakan adanya sky flame dan cloud flame di seluruh penjuru rumah sakit, tapi aku tak tahu tempat pastinya. dia sangat kuat sehingga mampu menyembunyikan keberadaan sky flame" ucap anak yang di depan sambil tetap berlari menyusuri lorong rumah sakit yang tampak sepi
"tapi apa kau tidak merasa aneh? Kenapa tak ada orang sama sekali?" tanya anak berambut merah
"kau tak tahu? Gedung ini adalah gedung rumah sakit yang sudah tak terpakai, jadi wajar kalau tak ada seorangpun disini" jelas anak itu melambatkan langkahnya
"tapi bagaimana bisa Hibari-san dirawat di tempat seperti ini?" tanya si rambut merah mengikuti temannya yang mulai berjalan
"mereka pasti ditipu dengan mist flame! Kau sudah merasakan sendiri sekuat apa flame miliknya" jawab anak itu lalu menoleh ke kanan dan ke kiri
"apa sudah kau temukan?" tanya si rambut merah begitu menyadari temannya telah berhenti dan menatap ke arah depan
"disini ada yang tidak beres. Ada satu plakat kamar yang hilang" ucap anak yang ada di depan memperhatikan pintu dengan nama 'Sakura-1' dan disampingnya pintu dengan plakat 'Sakura-3'.
"ruangan Sakura-2 menghilang?" ucap si rambut merah menatap horror "jangan-jangan.." ucapannya berhenti tatkala sang patner memegang tembok diantara kedua pintu dengan telapak tangannya
"hmm. Ilusi yang menyelimuti bangunan ini adalah untuk memperkecil ukuran bangunan. Kemungkinan besar saat ini Dino-san dan Hibari-san sedang ada di dimensi lain di balik tembok ini" lanjutnya "aku bisa merasakannya ada tiga energi kehidupan memancar dari sini, dan mereka semua hampir sekarat" ucapnya lagi lalu menarik tangannya
Seketika si rambut merah mengetahui maksud temannya yang mundur lima langkah darinya. Si rambut merah kemudian menutup matanya sambil merentangkan tangannya ke arah depan. Seketika sebuah api berwarna oranye keluar dari telapak tangannya dan menyelimuti dinding di depannya. Kemudian ruangan menjadi mengabur pertanda ilusi akan segera lenyap. Lalu kemudian di depannya muncul sebuah pintu dengan plakat 'Sakura-2'. Anak yang baru saja mengeluarkan kekuatannya itu tiba-tiba terjatuh dan ditolong oleh temannya
"kekuatan macam apa itu? ilusi ini hampir membuatku menyerahkan energi kehidupankuu untuk mematahkannya" ucap anak berambut merah sambil mengambil napas
"tidak heran Dino-san dan Reborn tidak sadar" ucap anak yang satu lagi sambil membantu rekannya berdiri. "kita harus cepat atau nyawa semuanya dalam bahaya!"
"aku tahu! Ini sebuah pertaruhan dan pengorbanan besar. Kalah kita akan kehilangan segalanya dan menang kita akan kehilangan sesuatu yang berharga" anak berambut merah kemudian berjalan bersama temannya memasuki ruangan itu dimana terlihat satu sosok terbaring di atas tempat tidur dan dua sosok lainnya tergeletak di lantai
"pertarungan dimana menang ataupun kalah kita akan tetap menderita" ucap si rekan sambil mendekati sosok berambut pirang dan berjaket hijau lalu mengeluarkan sebuah botol berisi serbuk putih lalu menaburkannya pada orang di hadapannya
"memilih seribu nyawa orang yang tidak dikenal atau nyawa satu orang yang berarti. Apapun pilihannya itu akan menimbulkan rasa sakit" ucap anak berambut merah melihat rekannya menaburkan bubuk yang sama pada dua orang lainnya. Kemudian ia menatap langit di luar jendela yang sudah menghitam
Gokudera, Yamamoto dan Ryohei pergi melalui udara dengan kekuatan flame masing-masing. Karna dengan begini mereka bisa sampai ke tempat tersambarnya petir 3 kali lebih cepat. Mereka kemudian turun ketika sampai di tempat tujuan sambil membelahakkan mata.
"namichu?" Ryohei membaca plakat yang tertempel di depan bangunan sekolah di depannya.
"kau yakin disini petir itu menyambar?" tanya Yamamoto
"tentu saja, Reborn-san juga memberiku koordinatnya, tapi dia tidak memberitahu kalau tempatnya di namichuu" ucap Gokudera mengeluarkan catatan kecil tanpa rasa curiga kapan dan bagaimana Reborn bisa menemukan dan menulis koordinat hanya dalam waktu sekian detik
"ngomong-ngomong dimana Mukuro?" Ryohei bertanya sambil menengok kanan kiri
"si Nanas itu bilang dia akan menyusul setelah pergi ke suatu tempat" ucap Gokudera
"jadi apa yang harus kita lakukan? rasanya tidak ada seorangpun disini, suasananya terlalu sepi" ucap Yamamoto membuka gerbang yang ternyata tidak dikunci
"kau yakin tidak salah tempat tako-head?" tanya Ryohei
"kau meragukanku sebagai tangan kanan juudaime?" bentak Gokudera
"bukan begitu tapi, dimana musuh kita?" tanya Ryohei
"mungkin cuaca hari ini hanyalah kebetulan. Maksudku langit mendung, mati lampu dan sambaran petir hanyalah suatu gejala alam yang berlangsung secara kebetulan?" opini Yamamoto
"kalau begitu bisa katakan padaku benda yang tersambar oleh petir tadi? Tidak munkin petir itu datang tanpa menyambar apapun" dan pembicaraan itu menjadi adu mulut. Ryohei hanya diam, dia sudah lelah melerai keduanya sampai sebuah suara menghampiri mereka
"minna, apa yang kalian lakukan disana?" teriak seseorang dari atap namichuu. Sontak ketiga pemuda itu menoleh ke atas dan menemukan sang langit memakai kaos kuning dan kemeja hijau sedang berdiri di puncak bangunan namichuu
"juudaime/Tsuna/Sawada" panggil ke tiga orang yang ada di gerbang sambil menengok ke atas. Seketika ketiga orang itu segera terbang ke atap namichuu
"juudaime anda baik-baik saja?" tanya Gokudera panik. Dia mengguncang tubuh bosnya
"aku baik-baik saja seperti yang kau lihat" jawab Tsuna
"kemana saja kau selama ini? Kemarin kau tidak pulang ke rumah" ucap Yamamoto dengan penuh kekhawatiran
"hanya bersiap untuk sesuatu yang akan terjadi dalam tiga...dua...satu..." ucap Tsuna menghitung mundur "zero" dan tepat saat ia mengatakan zero dibelakangnya terdapat ledakan besar yang berasal dari hutan namimori
"apa itu?" tanya Ryohei. Gokudera dan Yamamoto membelahakkan matanya tatkala melihat ledakan lain menyusul dari segala penjuru, baik dekat maupun jauh (kelihatannya ledakan terjadi sampai luar kota)
Dan Gokudera melepas genggaman tangannya ketika Tsuna menatapnya intens. Tanpa sadar Gokudera mundur sampai ke tempat Yamamoto dan Ryohei yang secara reflek menatap Tsuna dan ikut bergetar hebat bersama Gokudera
"tsu...na..." Yamamoto memanggil sahabatnya itu dengan suara parau tatkala mata coklat Tsuna berubah menjadi merah
"are? Kenapa kalian ketakutan begitu?" Tsuna tersenyum sambil memejamkan matanya lalu membuka matanya namun warna merah itu masih bersarang disana
"Sawada, apa matamu kemasukan debu?" kali ini Ryohei bukannya berkata bodoh, tapi dia ingin menyangkal kalau sesuatu yang tidak beres telah mengenai kouhainya
"tidak, mataku baik-baik saja" jawab Tsuna tanpa dosa sambil menjentikan tangannya dan ledakan yang lain terdengar.
Dan kemudian terlihat kabut berwarna nila muncul di atas atap namichuu dan Mukuro muncul dengan tergesa-gesa
"ada kabar buruk! Sekumpulan..." Mukuro menghentikan kata-katanya ketika matanya bertemu dengan mata merah sang decimo yang sedang menyeringai. "siapa kau?" tanya Mukuro
"apa maksudmu? Aku vongola decimo, Sawada Tsunayoshi" ucap Tsuna masih tetap tenang. Tak lama kemudian pintu menuju ke dalam terbuka dengan keras dan memperlihatkan sang penjaga awan yang sudah memasang kuda-kuda bertarung
"kamikorosu" ucapnya. Dibelakangnya terlihat Chrome dengan Reborn dipundaknya. Chrome membelahakkan mata ketika melihat bos terkasihnya
"bossu? Bukan" reaksi Chrome sama dengan reaksi Mukuro. Awalnya ia menyangka kalau orang yang berdiri didepannya sat ini adalah bosnya. Namun saat ia merasakan mist flame yang lebih kuat dari pada sky flame berputar disekitarnya, dia segera mengetahui kalau orang ini bukanlah Tsuna
"Hibari-san? Kau sudah sembuh?" tanya Yamamoto
"itu tak penting, aku hanya ingin menyelesaikan urusanku dengan orang itu" ucap Hibari
"orang itu? masaka..." sebelum Gokudera sempat berpikir suara orang yang ia hormati terdengar begitu saja di telinganya bagaikan seruling maut
"heh, kau sudah bisa bergerak ya? tapi kurasa ini akan menjadi lebih menarik" ucap Tsuna sambil tersenyum "lihatlah semua ini, bukankah ini sebuah lukisan yang indah?" tanya Tsuna pada semua orang yang ada disana. "teriakan kesakitan, ketakutan akan kematian dan penderitaan orang lain" Tsuna berbalik memunggungi teman-temannya sambil merentangkan kedua tangannya menyambut hembusan angin yang datang sambil menatap ke bawah dimana banyak orang berlarian
"siapa kau sebenarnya? Auramu berbeda dengan Sawada Tsunayoshi" ucap Mukuro. Tsuna hanya menengok tanpa membalik tubuhnya
"kalian memang hebat. Padahal aku ingin bersenang-senang sedikit lebih lama lagi" ucapnya dengan nada kecewa yang dibuat-buat
"jadi kau memang bukan juudaime ya?" tanya Gokudera
"menurutmu? Bukankah kau sudah bertemu dengannya? Di alam mimpi!" Tsuna mengejek
"alam mimpi, mungkinkah, saat perilaku Tsuna berubah.." Yamamoto memberikan opininya
"bingo!" ucap Tsuna berbalik dan menatap teman-temannya satu persatu. Dia masuk dalam hyper mode. Tapi ada yang aneh, api yang keluar bukanlah api berwarna oranye melainkan api berwarna bening yang transparan
"sa, bagaimana kalau kita mulai game kita?" Tsuna menyatukan ibu jari dan jari telunjuknya bersiap untuk menjentikannya "aku adalah Sawada Tsunayoshi dan Sawada Tsunayoshi adalah aku! Kami satu jiwa, jadi jika dia mati maka aku akan mati dan jika aku mati maka dia akan mati" ucap Tsuna menjentikkan jarinya dan seketika petir menyambar di segala penjuru.
Gempa bumi dengan kekuatan besar terdeteksi dan membuat hampir semua orang yang ada disana kehilangan keseimbangan kecuali Reborn. Beberapa detik kemudian gempa berhenti
"dunia akan mendapatkan kembali keseimbangannya" Tsuna berucap sambil tetap merentangkan kedua tangannya. "wahai manusia yang terkutuk, inilah pembalasan dari kami" lanjutnya
Sesaat kemudian dua orang muncul dari belakang Tsuna. Satu berambut putih dan satunya lagi berambut hijau. Kedua mata mereka juga berwarna merah. Semua orang yang ada di atap membelahakkan mata tidak percaya termasuk juga Reborn. Dua sosok yang sangat mereka kenal
"Yuni! Byakuran!" Reborn berseru tatkala ketiga langit dihadapan mereka menyeringai
Disuatu tempat terdapat mansion yang berdiri tegak walaupun beberapa bagian sudah retak. Halaman mansion itu dipenuhi oleh rerumputan yang terkadang ketika angin berhembus juga ikut membawanya. Dan tidak jauh dari sana terlihat sebuah bukit kecil dengan pohon besar berdiri ditengahnya. Wilayah lain selain mansion dan bukit terlihat mengabur. Sepertinya tempat ini ada di dunia lain
Diatas bukit, tepatnya dibawah pohon terlihat seorang anak laki-laki dengan rambut coklat melawan gravitasi tertidur dengan posisi duduk bersandar pada batang pohon. Dari pohon itu keluar sulur yang mengikat pemuda yang duduk dibawahnya dari kepala sampai kaki. Pemuda itu tidak membuka matanya.
Dari mata yang tertutup itu keluar air mata. dia sudah tidak bisa keluar dari tempat ini. Angin terus datang dan menerbangkan rumput, dahan pohon atau membuat retakan pada mansion bertambah. Pemuda itu tidak bergerak sedikitpun. Bukannya tidak mau, tapi ia tidak bisa
Tempat ini bagaikan energi kehidupan baginya. Saat tempat ini menghilang maka hidupnya juga akan menghilang. Akhirnya dia membuka sedikit matanya. Terlihat manik coklat itu penuh keputusaan, namun juga penuh keyakinan bahwa rekan-rekannya diluar sana akan menyelesaikan segala perkara yang ada.
Dia begitu naif berpikir bahwa dirinya bisa menangani perkara ini seorang diri. Andai saja dia mengatakan hal ini pada rekan-rekannya diluar sana maka hal ini tidak akan terjadi. Angin bertiup semakin kencang dengan semakin kejadian diluar sana menuju klimaks. Hidupnya tidak akan lama lagi, dia tahu itu. saat ini, dia hanya harus mempertahankan hidupnya, mempertahankan tempat ini sampai rekan-rekannya berhasil mengalahkan musuh dan membawa jiwanya keluar dari tempat ini.
Sebuah api berwarna oranye menyelubunginya sehingga angin yang bertiup menjadi sedikit mengecil dan menambah sedikit waktu sampai tempat ini hilang sepenuhnya. Segalanya akan berakhir dalam hitungan hari atau mungkin jam, menit atau bahkan detik. Dia akan segera berhenti merasakan rasa sakit tidak peduli siapa yang menang. Yang perlu dia lakukan sekarang hanya terus berjuang.
'Karna dia adalah langit yang berarti bagi semua orang'
Makasih buat semua yang sudah mau meluangkan waktunya buat membaca fic ini. Saya mohon maaf karna update cerita ini lama, karna saat saya baca kembali kerangka cerita saya, hasilnya berbeda dengan yang saya bayangkan dan akhirnya ide cerita saya malah buyar (hueee...) jadi sebagai solusi saya buang jauh-jauh kerangka cerita itu agar tidak ada yang membatasi saya untuk menulis
Makasih banyak juga buat yang udah mau mereview. Dan ini adalah balasan untuk reviewnya
Hikage Natsuhimiko :kelihatannya pertanyaan anda akan terjawab di chapter depan
Guest :pertanyaanmu tentang rumah sakit itu sudah terjawab bukan? Dan juga Mukuro sudah keluar dari vindice karna time line cerita ini adalah setelah tamatnya serie yaitu saat Tsuna dan kawan-kawan mengiunjak kelas 3 SMP
elnina. kasult: saya tidak berjanji untuk hal itu. itu tergantung sama ide saya yang akan muncul nanti.
akhir kata sampai jumpa pada chapter selanjutnya! jika ide tetap mengalir maka cerita ini tidak akan hiatus. jadi kalau cerita ini berhenti di tengah jalan, jangan salahin saya tapi salahin ide saya yang tidak mau mengalir
yuki : ujung-ujungnya itu tetap ide milik kamu
azure : aku capek habis buat fic ini, jadi kalau mau bertengkar besok saja. oyasumi (mendengkur dibalik selimut)
yuki : entah kenapa meski aku adalah kamu tapi aku tak pernah tahu apa yang ada di otak gajemu itu (ikut-ikutan tidur) baiklah minna, sampai jumpa di chapter depan yang kedua kalinya (maksudnya diatas sudah salam dan disini salam lagi)
oke deh daripada ini gak selesai-selesai mending kita tutup aja (tirai ditutup dan lampu dimatikan tanpa aba-aba)
