Hajime nampak termenung dimejanya. Tidak, Bukannya ia sedang malas, bukan. Tapi kini Ia tengah memikirkan sesuatu. Memikirkan cara agar sang senpai bisa menjadi miliknya seorang. Hanya miliknya.

"..me."

"...Jime."

"Ooi Hajime!!" teriak Iku. Hajime tersentak kaget dan langsung melayangkan tatapan maut pada orang yang baru meneriakinya, padahal meja mereka berdekatan. Syukur guru yang ngajar sedang tidak masuk karena sakit. Coba kalo enggak. Pasti mereka sudah dihukum. Hell masa calon kekasih Shimotsuki Shun dihukum. Oh Big No!! pikir Hajime keras.

"Santai Bro.. Woles.. jangan layangkan tatapan seperti silet nan tajam." ucap Iku gugup.

"Apa?"

"Begini, kulihat kau selalu melamun. Melamunkan apa sih?" tanya Iku penasaran. Hajime menghela nafas. Memangnya kalau Ia menceritakan jika Ia tengah melamunkan Senpai tampannya apa untungnya bagi Hajime.

"Oii.. kalau masalahnya pelik aku bisa bantu." ucap Iku lagi. Mendengar Iku mengatakan kata 'bantu' membuat Hajime mendapatkan sebuah ide.

"Bantu? Benarkah?" tanya Hajime senang.

"Hmm.. tapi kalau kau tidak memberitahukan kenpa tentu saja aku tak akan tau kan?"

Rui, Haru, Arata, Kakeru dan Koi pun mendekati meja Hajime yang mana Iku ada dibelakangnya.

"Hei kalian sedang membicarakan apa?" tanya Rui menekuk alisnya.

"Santai saja Rui, aku tak mengambil kekasihmu kok. Begini, aku sebenarnya... sedang melamunkan..."

Mereka mendengarkan dengan seksama tiap kata.

"Nungguin ya?! Hahaha." Hajime tertawa sedangkan sahabat-sahabatnya menahan diri agar tidak menjitak sayang kepala Hajime. Hajime ngelawak pikir mereka kesal.

"Oke gini.. em.. tapi kalian jangan tertawa ya? Em.. aku sebenarnya ... melamunkan Shu-"

"Shun-senpai?" potong Rui. Hajime mendelik sebal karena dipotong oleh Rui.

"Ah maaf jadi kenapa?" ucap Rui.

"Aku ingin kalian membantuku mendapatkan Shun-senpai!!"

"Oh.. kau ingin kami membantumu untuk mendapatkan Shun-senpai. Hm.. ternyata seleramu tak buruk." ucap Haru manggut-manggut belum sadar betul apa maksud Hajime.

1%

15%

25%

5-

"Eh? EEEEEEEHHHHHHH?!" pekik mereka bersamaan.

"Kau pasti bercanda kan?!" pekik Kakeru.

"Tidak." sahut Hajime singkat.

"Serius Hajime. Jangan bercanda seperti ini deh."

"Bagaimana bisa?!"

"Oh ayolah Hajime, berhenti bercanda!" Koi bersuara menambah protesan-protesan yang ada.

"Sudah kubilang, aku tidak sedang bercanda. Tadi Iku bilang Ia bisa membantuku. Berarti kalian juga bisa!" sahut Hajime sedikit kesal karena sahabatnya yang sedari tadi tak percaya.

"Tapikan itu.." ucap Iku gugup karena mendapat tatapan tajam dari sahabatnya yang lain.

"OKE!!" teriak teman-temannya keras kecuali Rui.

"Kami akan membantumu. Karena sebagai sahabat harus saling membantu." ucap Arata.

"Baiklah jadi rencana pertama begini.."

'Hajime... Shun-senpai kan.. kejam jika ada yang mengungkapkan perasaan padanya, Tidakkah kau tau itu.. Hajime!!!!" teriak Rui membatin.

oOo

Shun tengah berjalan berdua bersama Kai. Sungguh,Ia merasa lelah sekarang.

"Shun kau kenapa? Sakit?" tanya Kai mulai khawatir, karena Shun dirasanya agak pendiam sedari tadi.

"Aku lelah Kai, Kita melakukan ini sedari tadi. Kapan selesainya sih?! Dan kenapa hanya kita yang memberitahukan informasi yang akan dilakukan, kenapa bukan kepala sekolah saja." gerutu Shun.

"Hei hei, kau kan tahu sendiri kepala sekolah seperti apa. Ia hanya akan menyuruh orang yang paling dia percayai."

"Ya ya ya.. bela saja kepala sekolah Kai." Ucap Shun melajukan langkahnya tanpa melihat-lihat sekitarnya.

"Shun.. awas!"

'Bruuk' Shun bertabrakan dengan seseorang, dan buku-buku berserakan didekat mereka.

"Ittai.." ucap orang yang kena tabrak Shun.

Menyadari kesalahannya, Shun langsung berdiri dari jatuhnya dan mengulurkan tangannya pada orang yang baru saja ia tabrak.

"Maafkan aku ya karena telah menabrakmu."ucap Shun. Orang yang tadi kena tabrak Shun pun langsung mendongakkan kepalanya.

Lime bertemu Violet.

Tanpa sadar Shun merasa sangat tertarik dalam pesona mata berwarna violet tersebut.

Sedikit senyum tipis tertarik dari sosok pemuda pemilik mata violet tersebut.

"Hm.. tak apa senpai, ini juga salahku yang tak hati-hati membawanya." ucapnya sembari menerima uluran tangan Shun.

"Maaf ya.. em.. etto.."

"Hajime, Mutsuki Hajime. Itu namaku senpai." ucap pemuda yang ditabrak Shun yang ternyata adalah Hajime.

"Ah maafkan aku ne~ Hajime-kun.Namaku Shimotsuki Shun. Dan.. biar kubantu kau membawa buku-buku ini." ucap Shun mengambil buku-buku yang ada dilantai koridor. Hajime sekali lagi tersenyum tipis, sangat tipis.

"Tak usah senpai, aku bisa sendiri." ucap Hajime yang hendak memunguti buku-buku yang ada didekatnya. Namun masih kalah cepat dengan Shun.

"Aku memaksa, ah anggap saja ini sebagai permintaan maafku." ucap Shun yang kini sudah mengumpulkan semua buku yang tadinya berserakan.

"Tapi senpai, aku yang disuruh oleh Sensei tadi. Bukan senpai." ucap Hajime menatap senpainya.

"Begini saja Kau ambil setengahnya, lalu aku membawa setengahnya lagi. Bagaimana? Dan kemana kau akan membawa buku-buku ini?" tanya Shun.

"Ah.. Baiklah. Di lab Ipa senpai, etto.. maaf merepotkanmu."

"Hei sudah kubilang ini sebagai permintaan maafku, tentu saja tidak merepotkan diriku, Hajime-kun."

"Baiklah senpai."

Mati-matian Hajime menahan diri agar tidak teriak-teriak karena melihat wajah tampan orang yang disukainya. Jantungnya pun berdebar sangat cepat.

'Uh.. benar-benar tampan. Langkah pertama Sukses!' batin Hajime.

"Ah Kai, Kai duluan saja. Aku akan membantunya dulu." ucap Shun sebelum pergi bersama Hajime menuju lab Ipa. Dan langsung disahuti 'Oke' oleh Kai.

*TBC