Chapter 3
Di sebuah rumah tua yang tak terawat terlihat beberapa orang duduk santai. Salah satu dari mereka berambut orange memandang tajam 2 orang yang duduk di depannya.
"Kau kehilangan 'dia' lagi kan?" Ucap laki - laki berambut orange aka Yahiko/pain
"Maaf kan kami leader, agak susah menangkap nya karena 'dia' di lindungi oleh seseorang."
Yahiko berdiri dari kursi nya dan berjalan ke arah jendela. Dia memandang ke luar dan tersenyum sinis.
"Siapapun yang melindungi 'dia' kau harus melenyapkannya, kalian mengerti Itachi? kisame? " Tanya Yahiko tanpa mengalihkan pandangannya .
"Mengerti, leader ."
"Memangnya buat apa leader menangkap 'dia'?" tanya hidan
Yahiko tersenyum sinis .
" 'dia' menyimpan kekuatan yang menakjubkan, kekuatan itu dapat kugunakan untuk dunia ini. Mereka semua harus merasakan yang namanya SAKIT " ucap Yahiko.
Shinobi Konoha by ^Jewon^
•
Naruto © Masashi kishimoto
•
[NaruxHina] ; Kurama/Kyuubi ; Sasuke
•
Genre : Adventure/Romance
Rated : T
WARNING : OOC , TYPO , EYD , DLL
•
SUMMARY :(New Summary) Kehidupan Naruto berubah saat mendengar berita akan adanya monster di dalam tubuh nya dengan berakhir di buru oleh Akatsuki. Hal itu menuntut Naruto untuk tidak berdiam diri demi keselamatan hidupnya dan kota di cintainya. Beruntung, dia menemukan 3 sahabat yang mau menemaninya dengan tulus. "Kalian bertiga akan mengguncang dunia"/"jaa ne".
Di sebuah rumah khas tatanan jepang. Seorang gadis duduk di depan cermin sambil menyisir rambut indigonnya. Wajahnya yang imut khas anak 7 tahunan terlihat memikirkan sesuatu.
'Kushina Minato .' 2 nama tersebut terlihat tidak asing baginya. Tidak bisa, dia harus menanyakan ini pada Tou-san. Mungkin dengan itu akan menjawab permasalahan nya, ya! Dia harus menanyakannya, tapi bagaimana?
"Hinata-sama" seorang anak laki-laki berdiri di depan pintu kamar Hinata. Wajahnya terlihat identik dengan Hinata hanya membedakan dia adalah laki-laki .
Hinata terlonjak kaget, dia menoleh cepat dan tersenyum kaku, "Ada apa Neji Nii-san?"
"Hiashi-sama memanggil anda untuk segera sarapan." Ucap Neji
"Baiklah ." Hinata beranjak pergi dari kamarnya di ikuti Neji .
Di ruang makan
Hinata menyuap nasinya dengan tidak berselera. Dia terlihat beberapa kali menghela napas lelah, dia torehkan pandangan ke arah sang ayah yang masih juga menikmati makanan.
Dan semua kelakuannya itu di ketahui dengan cepat oleh Sang Kepala keluarga, Hiashi meletakkan sendok makannya. "Hinata."
Anak gadis itu hampir terlonjak saat ayahnya memanggilnya. Dia berusaha menetralkan kegugupan yang menyergapnya tiba-tiba.
"A-ada apa Tou-san?" jawab Hinata ramah.
"Apa yang kau pikirkan? kau terlihat tidak berselera?"
Skakmat! Hiashi dapat membaca raut wajah Hinata walau gadis itu dengan baik bisa menyembunyikan ekspresinya. Hinata ingin sekali menanyakan pertanyaan yang terus berputar di kepalanya.
Gadis itu mengumpulkan semua keberaniannya, dia harus membicarakan semua kegelisahan nya ini pada Hiashi. "Tou-san" Panggil Hinata ragu .
"Ada apa hinata?" Jawab Hiashi datar.
"Setelah pulang sekolah, ada yang ingin saya bicarakan dengan tou-san, jadi apa tou-san punya waktu?" Hinata menunduk takut .
Tak ada jawaban dari Hiashi. Dia memandang datar anak sulung nya itu. Perlahan dia beranjak dari kursi makan dan pergi meninggalkan ruang makan .
"Sebaiknya kau fokus dulu pada latihan mu, baru kau memikirkan yang lain Hinata" ucap Hiashi sebelum benar-benar dia meninggalkan ruang makan.
"Ha'I Tou-san" Jawab Hinata murung.
Hinata berjalan menunduk di koridor sekolah, dia lebih menikmati menatap lantai daripada menatap lurus kedepan, tanpa takut menubruk seseorang. Namun semua tingkah laku nya itu di ketahui oleh seorang anak laki-laki yang tidak menahan untuk tidak tersenyum melihat Hinata. Rubah di bahu laki-laki itu bahkan menggelengkan kepalanya, maklum dengan asrama yang sedang melanda patner nya itu.
"Hinata chan ... oy Hinata chan !" Naruto berlarian di koridor.
Merasa di panggil seseorang, Hinata menoleh. Dia tersenyum canggung dan memainkan jarinya.
"Ah .. Naruto-kun. A-ada apa?"
"Heheh.. Kita bareng ke kelas yuk ."
Hinata mengangguk dan berjalan berdampingan dengan Naruto dan Kurama yang berada di bahu anak laki-laki itu.
"M-maukah Naruto-kun ikut b-bersama ku ke s-suatu tempat?" ajak Hinata gugup.
"E-eh?" Naruto memerah malu, dia menggaruk pipinya. "ok. Memangnya kemana Hinata chan?"
"Ada yang ingin aku bicarakan denganmu Naruto-kun." Hinata menurunkan kedua tangan nya berusaha bersikap tegar. Ini mungkin adalah permasalahan penting untuk laki-laki di sampingnya, dia tidak boleh terlihat bercanda.
Naruto tersenyum dengan tingkah gadis di samping nya, berubah-rubah. "Boleh boleh, memangnya tentang apa Hinata chan?"
"I-ini tentang Uzumaki Kushina dan Namikaze Minato" Ucap Hinata lancar.
Deg!
Naruto berhenti berjalan, dia menoleh ke arah Hinata begitu juga dengan Kurama. Anak pirang itu menatap penuh arti ke arah Hinata yang malah memalingkan wajahnya malu.
"Ada yang b-belum kau ketahui tentang m-mereka Naruto-kun." Hinata kembali menoleh ke arah Naruto dan menatap sepasang mata samudra itu.
FLASHBACK
"Hinata-sama, ayo kita berangkat." ajak Neji
"Tunggu sebentar Neji nii-san, saya ingin minta izin dulu." Hinata berlari ke arah ruangan Hiashi.
"Tou-san, saya..." Hinata menggeser sedikit pintu ruang kerja ayahnya, dia menyembulkan kepalanya dan menatap Hiashi yang asik menulis di atas kertas.
"Duduklah Hinata ." Hiashi memotong perkataan Hinata. Laki-laki itu berhenti menulis.
"B-baik Tou-san." Hinata duduk bersimpuh di depan Hiashi.
"Kau pasti ingin berbicara tentang Minato dan kushina kan?" tebak Hiashi
Hinata terkejut, darimana ayahnya tau dengan mereka. Ah.. sepertinya dugaan nya memang benar. Mungkin informasi dari ayahnya bisa membantu Naruto.
"Bagaimana Tou-san..."
"Setelah pulang sekolah akan Tou-san ceritakan tentang hubungan Klan Hyuuga dengan Uzumaki-Namikaze dan anak pirang bernama Naruto itu. Tapi ajaklah anak pirang itu kesini ."
FLASHBACK END
"Klan Hyuuga ya?" pikir Kurama. Dia menoleh ke arah Hinata yang tersenyum ke arahnya, membuat rona merah tipis Kurama muncul lagi.
"Jadi Tou-san mu tau tentang ayah dan ibuku ." tebak Naruto
Hinata mengangguk.
"Yosh.. Aku akan ikut ." Jawab Naruto senang. Bagaimanapun juga, dia tidak terlalu mengetahui apapun tentang kedua orang tuanya selain, ayahnya pernah menjadi seorang wali kota.
Pelajaran demi pelajaran di lewati Hinata dan Naruto dengan biasa. Jarak kursi duduk Hinata dengan Naruto sekarang tak bisa di bilang jauh, Naruto duduk persis di belakang Hinata, yang dapat membuat Naruto memandang Hinata dengan puas. Ya, dengan rayuan anehnya, Naruto membuat anak laki-laki yang duduk di belakang Hinata mau bertukar tempat duduk dengan nya.
#Teet..Teet
Waktu pulang sekolah datang, Naruto membereskan semua peralatan sekolahnya. Dia menatap gadis di depannya yang juga bersiap pulang, dia tersenyum senang mengingat waktu makan siang tadi, Hinata ingin pulang bersama nya. Laki-laki itu tidak bisa menahan rasa senangnya dan membuat jijik Kurama yang menatapnya.
"Hina..-"
"Hyuuga-san." Panggil seseorang yang membuat ucapan Naruto terpotong.
"Ha'i, Iruka-sensei." Hinata berlari pergi dan meninggalkan Naruto yang kecewa. Laki-laki itu memilih menunggu di depan pagar sekolah.
Naruto mengetuk-ngetuk sepatunya bosan, sejak beberapa menit tadi Hinata yang janji untuk pulang bersama belum muncul-muncul .
"Hei Naruto, gadis berambut indigo itu mana? kenapa dia belum muncul-muncul." Ucap Kurama
"Naruto-kun." Seorang gadis 7 tahun berambut indigo berlari sambil melambaikan tangannya yang di balas dengan lambaian juga oleh Naruto.
"Hosh...hosh.. Naruto-kun sudah lama menunggu? gomen tadi aku di panggil Iruka sensei." Ucap Hinata menunduk malu.
"Tak apa Hinata chan, ayo." Naruto mengenggam tangan Hinata.
Hinata dan Naruto berjalan santai ke halte bis sambil bergadengan tangan.
'Apa hubungan Naruto-kun dengan Klan hyuuga ya?' batin Hinata.
"Hinata-chan, Hinata-chan."Naruto mengibaskan tanganya di depan Hinata
"E-eh? gomen Naruto-kun. Ada apa ya?" jawab Hinata
"Apa rumahmu jauh dari akademi?" tanya Naruto
"Tidak, Naruto -kun." jawab Hinata.
Tanpa mereka sadari 2 orang berjubah hitam dengan awan merah mengamati mereka dengan seksama.
"itu anaknya." seorang setengah manusia setengah hiu memandang sinis Naruto aka Kisame
"Chakra yang besar."gumam Itachi.
"apa maksudmu itachi-senpai?" Ucap kisame bingung.
"di dalam tubuh dan di sekitar anak itu terdapat chakra yang sangat besar, chakra merah dan chakra emas."
"Merah dan emas?"
"Hanya satu makhluk yang mempunyai chakra merah yaitu Kyuubi no youko dan chakra emas itu pasti milik 'dia'?"
Kurama tersentak, matanya melirik ke arah suatu tempat. Naruto menyadari gelagat patner nya tersebut.
"Akatsuki ya?" gumam Kurama.
"Apa? Akatsuki? dasar kumpulan jubah penganggu." bisik Naruto geram. Dia menoleh ke arah Hinata yang menunduk dengan rona merah di pipinya.
"Simpan lah ejekan mu itu Naruto, sebaiknya kita harus segera pergi. Sebelum gadis pujaanmu itu terluka." Goda kurama
"K-kau bisa saja Kurama chan" Semburat merah muncul di sekitar pipi Naruto. Dia mengeratkan peganganya pada Hinata.
'Dasar anak muda' batin kurama sweatdrop.
Merasa pegangan Naruto semakin erat, membuat Hinata mendongak. Betapa terkejut nya dia melihat laki-laki itu mengibaskan tangannya dengan wajah memerah.
"E-eh Naruto-kun kenapa? sakit?" Hinata menempelkan tangannya di kening Naruto, sekarang wajah Naruto memerah sempurna.
TBC
