『Our Secret Relationship』
ミンギュ x ウォヌ
[2/3]
Wonu: Aku menunggu di depan ruang laboratorium
Minggoo: Pulang duluan saja. Pelatih memintaku untuk menemuinya.
Nanti aku menyusul, hati-hati di jalan ((heart))
Wonu: Baiklah
Aku menunggu di rumah
Datanglah setelah selesai
"Wonwoo!"
Wonwoo mengalihkan pandangannya dari layar ponsel, mendapati Hoshi berlari ke arahnya dengan tangan yang penuh ayam teriyaki. Karena itu, dia segera menyimpan benda canggih tersebut dan mengambil sepotong ayam.
"Aku main ke rumahmu ya!"
Wonwoo mendadak berhenti mengunyah dan menatap Hoshi. Dia tertegun. Ah, seharusnya aku sudah bisa menebak dia akan berkunjung, pikirnya.
"Kau tidak punya kesibukan?" tanya Wonwoo hati-hati, tidak ingin Hoshi salah paham.
"Kebetulan tidak," katanya. "Lagipula aku sudah lama tidak main ke rumahmu. Aku rindu Mama Jeon."
Wonwoo mendelik. "Rindu Mamaku atau biskuit cokelatnya?"
Hoshi terkekeh, matanya menyipit dan barisan gigi-gigi putihnya segera menyambut. "Dua-duanya sih. Karena Mama Jeon, aku jadi bisa merasakan biskuit buatannya."
"Asal tidak mengacau di kamarku saja," Wonwoo menambahkan. "Sebelum itu kita singgah dulu ke minimarket."
Hoshi mengangguk, sembari memakan ayamnya, dia berjalan menyamai langkah Wonwoo menuju minimarket yang tak jauh dari sekolah.
•
"Kalau begini, setiap hari aku akan berkunjung ke rumahmu, Jeon!" Hoshi berseru, masih memainkan game console dan terdapat setoples biskuit cokelat di pangkuannya, stok milik Mama Jeon yang seharusnya menjadi cemilan Wonwoo dan Bohyuk. Dengan santai, dia memasukkannya ke dalam mulut tanpa melepas pandangan pada layar monitor, mobilnya terus melaju di sana menyalip mobil-mobil lain untuk menuju garis finish.
Wonwoo yang sedang rebahan di kasur pun hanya bisa mendengus karena remah-remah biskuit itu jatuh di karpet kamarnya. Lagi-lagi dia mengabaikan hal itu sampai Hoshi puas, Wonwoo tidak masalah asalkan dia tidak mengacau sampai sepreinya robek dan ketumpahan cola seperti tahun kemarin.
Tiba-tiba Hoshi berteriak sebab muncul tulisan Game Over di depan layar. Dia melampiaskan kekesalannya dengan mengunyah biskuit dengan gigi yang bergemeretak. Wonwoo kembali merotasikan bola matanya untuk kesekian kali. Kemudian, suara sang Ibu terdengar dari luar.
"Wonwoo, ada telepon untukmu!"
Tanpa basa-basi Wonwoo langsung menghampiri ibunya, tidak khawatir akan Hoshi yang ditinggal sendiri di dalam kamar, karena dia sudah kenal lama dengan pemuda sipit itu. Mereka bahkan tahu warna celana dalam masing-masing, yah, setidaknya seperti itulah gambaran persahabatan mereka.
Perasaan bosan mulai memengaruhi Hoshi. Dia mengakhiri permainan, lalu merebah di atas karpet dengan memeluk toples biskuit tadi. Pandangannya menerawang langit-langit kamar Wonwoo, yang tiba-tiba membuatnya mengantuk. Ditambah dengan udara kering yang terus menyapa mata, kelopaknya sudah tidak lagi bisa ditahan. Namun baru saja dia terpejam, dering telepon menginterupsi.
Dia bangkit dan mencari sumber suara tersebut. Menemukan dering tadi berasal dari ponsel Wonwoo yang ada di atas kasur lalu segera meraih benda itu. Nama Minggoo tampak menghiasi layar. Mungkin ini temannya, pikir Hoshi.
"Sayang, sepertinya aku tidak bisa datang hari ini."
"Huh? Sayang?" Hoshi mengernyit.
"Eh? Ini siapa?" suara dari seberang menyahut.
"Aku temannya Wonwoo," kata Hoshi. "Kau Minggoo?"
Tawa terdengar. "Oh, ya? Kalau begitu maafkan aku. Ya, aku Minggoo. Apa ini Hoshi hyung
Hoshi mengangguk, seolah anggukannya bisa dilihat oleh seseorang yang menelepon. "Ya, aku Hoshi, teman Wonwoo. Kalau boleh tahu, apa hubunganmu dengan Wonwoo? Kenapa kau memanggilnya 'sayang'?"
Tut... Tut... Tut...
Panggilan tiba-tiba terputus.
"Halo? Minggoo?" Hoshi masih memastikan sambungannya aktif. Namun nihil. "Sial."
Hoshi meletakkan ponsel itu di atas meja belajar dan duduk di kursinya. Dia berpikir keras mengenai siapa Minggoo dan kenapa dia memanggil Wonwoo dengan sebutan sayang. Apa Minggoo itu pacarnya Wonwoo? Kalau memang iya, jahat sekali dia tidak memberitahuku, pikirnya.
Manik sipitnya menelusuri tumpukan buku-buku Wonwoo yang tersusun rapi di rak. Banyak sekali, terlihat penuh dan sepertinya buku apa saja ada di sana. Dia mengambil salah satunya dan sesuatu terjatuh tepat ketika dia menarik buku tersebut.
Sebuah foto. Ah, tidak, ada beberapa foto yang terjatuh. Hoshi memungut semuanya. Itu hanya koleksi foto-foto Wonwoo dari masa sekolah menengah pertama hingga saat ini.
Manakala dia melihat foto itu satu persatu, maniknya membola karena menemukan sebuah foto yang berbeda. Jelas sekali bahwa seseorang yang ada di foto bukanlah Wonwoo, melainkan seorang pemain Kyungsan yang bermain di lapangan tadi. Itu Mingyu!
Dia dibuat terkejut lagi saat foto selanjutnya menampakkan objek Wonwoo dan Mingyu yang tengah berpegangan tangan. Mereka berpegangan tangan, camkan itu!
Foto lainnya, Wonwoo sedang digendong oleh Mingyu, dengan senyuman lebar tercetak di bibir keduanya. Lalu, ada foto yang menunjukkan mereka tengah berciuman, Hoshi hampir terjerembab saking terkejutnya. Matanya tidak mungkin salah lihat. Di foto itu Wonwoo memakai seragam Hanyang dan Mingyu dengan seragam Kyungsan. Mereka saling memagut bibir satu sama lain, Wonwoo memeluk leher Mingyu sementara tangan Mingyu merengkuh pinggang Wonwoo begitu posesif.
HELL! Dia pikir Wonwoo itu masih polos. Dan dia baru menyadari jika kekasih yang dimaksud Mingyu di lapangan adalah Wonwoo. Mereka pasti melakukan hubungan tersembunyi semacam backstreet yang Hoshi tidak tahu sejak kapan.
Hoshi sempat memotret foto tersebut dengan ponselnya sebelum mengembalikannya ke tempat semula. Sirna sudah rencana awal untuk membaca buku. Dan beruntungnya, Wonwoo kembali setelah Hoshi telah duduk di karpet. Huft... tepat waktu, Hoshi menghela nafas lega.
"Kau sudah selesai? Cepat sekali." ujar Wonwoo.
Hoshi mengedikkan bahu. "Aku bosan. Ah, ya, tadi ponselmu bunyi, dari Minggoo." katanya.
Wonwoo menoleh cepat, raut wajahnya mendadak tegang. Hoshi tertawa dalam hati, kena kau, Jeon Wonwoo. Berbohong bukanlah keahlian Wonwoo, dan Hoshi akan lebih mudah menyudutkannya.
"O-oh, benarkah?" ponsel di atas selimutnya segera diambil. "Apa katanya?"
Hoshi menatapnya. "Tidak ada. Kupikir dia ingin berbicara denganmu, jadi sambungan telah diputus sebelum aku bicara."
Wonwoo tidak memberi respon. Jemarinya sibuk mengetik sesuatu dari layar, sepertinya sedang berkirim pesan dengan Minggoo.
Seringaian terkembang di bibir Hoshi. Dia semakin menyudutkan Wonwoo. "Hei, apa kau tahu kabar tentang Seungkwan?" tanyanya.
Wonwoo berpaling. "Tidak. Aku tidak suka gosip."
"Ini bukan gosip. Seungkwan berpacaran dengan pemain baseball Kyungsan, namanya Vernon. Kudengar mereka sudah hampir menginjak dua tahun masa hubungan." Hoshi berusaha menjebak Wonwoo.
"Benarkah?" Wonwoo menatapnya tak percaya. "Kupikir Seungkwan menyukai Seokmin."
Sebenarnya, tanpa perlu dijelaskan, Wonwoo sudah tahu mengenai hubungan Seungkwan dan Vernon. Seungkwan yang memberitahukannya sebab mereka cukup dekat. Wonwoo hanya berpura-pura terkejut, dia merasa sepertinya Hoshi telah mengetahui sesuatu tentang Minggoo. Meski situasinya sangat rentan, Wonwoo tetap berusaha menenangkan diri.
"Tidak, Seokmin berpacaran dengan kakak kelasnya yang sangat pintar," Hoshi berujar. "Sepertinya kau tidak pernah bercerita padaku tentang si Minggoo itu."
"Minggoo itu teman Bohyuk. Mereka sangat dekat."
"Jadi, kenapa dia memanggilmu—"
"Hyung! Cepat kembalikan Nintendo-ku!"
Seakan tahu kakak lelakinya sedang terancam, Bohyuk berhasil menyelamatkan Wonwoo. Hoshi pun hanya bisa berdecak kesal di tempat. Seringai mencurigakan tercetak di bibirnya.
Kita lihat besok pagi, kau berada dalam jangkauanku, Jeon Wonwoo.
—To Be Continued—
Terima kasih atas reviewnya! Satu chapter lagi ini tamat yah.
