Perlakuan buruk yang Baekhyun terima dari kedua orang tuanya berawal ketika ia menginjak usia 10 tahun.

Flashback on

Tepat pukul 12 siang Baekhyun dan Baixian sudah berada dirumah mereka. Mereka baru saja pulang sekolah dengan dijemput oleh paman Kang. Baekhyun turun dari mobil untuk segera berlari masuk rumah dengan selembar kertas ditangannya.

Disekolah tadi ia mendapat tugas menggambar dari gurunya. Dan dengan hati yang berbunga - bunga, ia menggamar potret dirinya bersama Baixian dan orang tuanya. Dan kini ia akan menunjukkan hasil gambarnya kepada ayah dan ibunya.

Baekhyun menggapai ganggang pintu ruang kerja ayahnya, namun segera ia urungkan. Didalam ruangan itu ia bisa mendengar suara ayah dan ibunya yang sedang bertengkar. Ia terdiam dan mendengarkannya.

'Kau benar - benar sakit Donghae!! Aku akan menghubungi psikiater untuk menyembuhkanmu!!' itu suara ibunya yang berteriak marah apa ayahnya.

'Sudah kubilang itu bukan penyakit! Berapa kalipun aku mendatangi psikiater mereka tidak bisa menyembuhkanku, Sooyeon! Jadi berhenti mengataiku sakit!!'

'Tapi dia anakmu sendiri!! Dia putramu!!'

'AKU TAHU!! Aku tahu kalau dia putraku. Tapi inilah aku, aku bahkan merasakannya ketika dia berada digendonganku untuk pertama kali'

Baekhyun menegang, ia tidak mengerti maksud ucapan kedua orang tuanya. Tapi mereka menyebut kata anak. Apa mereka bertengkar karna dia dan Baixian yang nakal disekolah? pemikiran polos Baekhyun kecil.

'Aku tidak bisa terima ini. Aku akan tetap memanggil psikiater untuk menyembuhkanmu' setelah mengucapkan kalimat itu, Sooyeon pergi meninggalkan ruang kerja itu. Tatapannya yang sedari tadi berkilat marah semakin menajam ketika mendapati Baekhyun berada didepan pintu.

Sret..

Tangan ramping yang dulu selalu mengusap lembut pucuk kepala kedua anaknya kini beralih menjambak surai Baekhyun. Menariknya kebawah hingga Baekhyun mendongak.

'Ibu sakit... Hiks...' Baekhyun mengeluarkan isakannya namun tak membuat Sooyeon kasihan sedikitpun.

'Ini semua gara - gara kau!! Kau yang membuat ayahmu gila, bocah sialan!!' Makian itu semakin membuat Baekhyun mengeraskan tangisannya. Ia mengeluarkan seluruh tenaganya agar terlepas dari ibunya, dan ketika tangan Sooyeon terlepas ia segera berlari menghambur kepelukan ayahnya.

'Ayah.. Hiks.. Kepala Baekkie sakit.. Hiks..' Baekhyun mengaduh pada ayahnya. Namun diluar dugaan, ayahnya yang dulu akan menenangkannya kini malah menghempaskan tubuh kecil Baekhyun hingga tersungkur kelantai.

'PERGI DARI HADAPANKU!!'

Baekhyun menunduk takut dengan bentakan ayahnya, namun ketika ia menunduk ia bisa melihat ada sekitar ratusan foto dirinya tercecer dilantai. Hanya dirinya, tidak ada Baixian satupun. Donghae yang menyadari kemana arah pandang anaknya itupun segera menarik tangan Baekhyun dan menyeretnya keluar dari ruangannya.

Flashback Off

Hingga kini Baekhyun tidak mengetahui alasan kedua orang tuanya memperlakukannya dengan buruk.

.

.

.

.

.

The Dark Side of My Life

.

.

.

.

Byun Baekhyun

Park Chanyeol

Oh Sehun

.

.

.

.

.

.

.

Chanyeol memarkirkan mobilnya di area parkir sekolah. Keluar dari mobil dengan tubuh tingginya dan seketika itu ia mendapat tatapan yang berbeda - beda dari orang - orang.

Dirinya baru dua hari menjadi murid baru disekolah ini, tapi sepertinya seluruh penghuni sekolah sudah mengetahuinya. Apalagi setelah insiden ciuman panasnya dengan Baekhyun disebuah club malam. Namanya semakin memanas dikalangan para penggosip.

Chanyeol menyunggingkan senyuman ketika memasuki kelas dan mendapati Baixian duduk didepan tempat duduk miliknya.

"Selamat pagi, Baixian" sapanya dengan mendekatkan wajahnya pada Baixian. Baixian yang sedari tadi menunduk memainkan ponselnya terkejut melihat wajah Chanyeol tepat didepan matanya.

"Se.. Selamat pagi juga, Chanyeol" balasnya gugup. Chanyeol mengangguk sambil tersenyum dan ia melanjutkan langkahnya untuk menduduki bangkunya

Baixian menggigit bibir bawah, ia ingin menanyakan perihal kejadian semalam namun ia takut jika Chanyeol akan tersinggung.

"Chanyeol" panggilnya pelan. Ia memutar badannya agar berhadapan dengan Chanyeol.

"Hm?"

"Semalam.. Aku mengirimimu pesan" ia memulainya dengan basa basi sebelum menanyakan ke inti pembicaraan.

"Ahh... Aku baru membacanya tadi pagi. Maaf, semalam aku sedikit mabuk jadi malas memegang ponsel" Chanyeol memang mabuk semalam. Dan ia tidak berbohong tentang dirinya yang malas membalas pesan orang - orang termasuk pesan dari Baixian.

"Begitu? Lalu Baekhyun..." Baixian menggantungkan kalimatnya. Ia terlalu gugup untuk menanyakan ini.

Chanyeol tersenyum tipis. Ia tau kemana arah pembicaran lelaki mungil didepannya. "Itu hanya permainan" Baixian menatapnya terkejut dengan ucapan tiba - tiba Chanyeol.

"Kau pasti sudah melihat video itu bukan?" Baixian memberikan anggukan.

"Itu hanya permainan, Baixian. Kami melakukannya karena sebuah tantangan. Lagi pula dua orang yang berciuman tidak harus memiliki hubungan, bukan?" Chanyeol berucap dengan mudah tanpa tau apa yang dirasakan Baixian.

"Jadi kau bisa mencium siapapun sesukamu?"

"Kau menganggapku begitu?" Baixian membulatkan mulutnya merutuki ucapannya yang membuat Chanyeol tersinggung. Seharusnya ia diam dan tak menuruti rasa keingin-tahuannya.

"Maaf" ia menunduk meminta maaf yang malah mengundang kekehan dari Chanyeol.

"Kau ini serius sekali, hmm" Chanyeol mengusak pucuk kepala Baixian dengan gemas menimbulkan rona merah pada pipi Baixian.

.

.

.

.

.

The Dark Side of My Life

.

.

.

.

.

Dilain tempat disebuah apartement mewah, Baekhyun bergelung diri didalam selimut. Ini sudah pukul 8 lewat 10 menit dan itu artinya ia sudah terlambat kesekolah sekitar 10 menit yang lalu. Tapi dirinya tidak peduli, ia sedang benar - benar malas untuk pergi kesekolah. Terlebih lagi matanya sangat berat untuk terbuka.

Sehun juga sama seperti Baekhyun. Malas pergi kesekolah. Atau lebih tepatnya ia malas menyentuh air untuk mandi pagi. Cuaca hari ini sangat dingin membuat kebiasaannya yang benci mandi itu kambuh.

Sehun baru saja kembali dari dapur untuk memakan roti sekedar mengganjal perutnya. Dilihatnya Baekhyun masih bergelung didalam selimut dengan posisi tengkurap. Ia menghampiri Baekhyun dan menyibak selimut yang membungkus tubuh si mungil.

Baekhyun mengerang merasakan udara dingin menyentuh kulitnya ketika selimutnya dibuka. "Sehun~ kemarikan selimutnya~" ia melihat Sehun berdiri disamping ranjang sambil memegang selimut yang tadi ia pakai.

Namun Sehun tak menurutinya, ia malah membuang selimut itu ke lantai dan membawa dirinya menindihi tubuh Baekhyun yang tengkurap.

Seperti pada umumnya para lelaki yang merasakan ereksi dipagi hari, Sehun juga tengah merasakannya. Ditambah cuaca yang dingin membuat penisnya semakin mengacung tegak. Ia menekan penisnya pada pantat Baekhyun. Menunjukkan pada Baekhyun bahwa ia ingin penisnya ditenangkan oleh si mungil.

"Mmmhhh... Aku mengantuk Sehun~ nanti saja~" Baekhyun merengek meminta Sehun untuk tidak mengganggu tidurnya.

"Ayolah~" Sehun meminta dengan rengekan pula. Ia semakin menekan penisnya dibelahan pantat Baekhyun dan sesekali menggeseknya. Tangannya merambat memeluk Baekhyun untuk membuka kancing piama lelaki mungil itu. Walaupun sedikit kesusahan karna posisi Baekhyun yang tengkurap dan ia berada diatasnya.

"Tidak mauuu~ aku mengantuk pokoknya~" Baekhyun berucap menolak namun membiarkan Sehun membuka kancing piamanya. Hingga piamamya tersibak menampilkan punggung putih bersihnya.

"Sebentar saja~ Ayolah~" Sehun tetap memaksa dan memberikan rangsangan pada kedua niple Baekhyun. Mencubit dan mengusap benda berwarna merah muda itu.

"Baiklah! Lakukan sesukamu" Sehun tersenyum puas mendengar persetujuan dari Baekhyun.

"Aku akan langsung ke inti, Baek" Baekhyun tak menyahutinya, ia malah memejamkan mata untuk kembali tidur. Sedangkan dibawah sana Sehun melepas celananya juga celana milik Baekhyun.

Sehun menuntun Baekhyun untuk menungging dan Baekhyun menuggingkan sedikit pantatnya menampilkan lubangnya yang masih rapat.

"Ahhh.. Sehun..." baru sentuhan lidah dari Sehun dipintu lubangnya ia sudah meloloskan desahannya. Ia merasa geli sekaligus mendapat sensasi yang menyenangkan pada lubang yang sudah dianggap rumah sendiri oleh penis Sehun.

Sehun menjilati lubang berkerut itu sambil sesekali mencoba memasukkan lidahnya. Menggoda lubang Baekhyun membuat si pemilik bergerak gelisah. Jari telunjuk Sehun mengambil alih untuk mengerjai lubangnya. Memasukkan jarinya dengan gerakan memutar untuk membuka jalan.

"Akhh.. Sakithh.. Tidak bisakah kau pelan sedikit?" Baekhyun mulai mengomel dengan tindakan Sehun. Walaupun hanya jari telunjuk saja yang masuk tapi itu benar - benar sakit. Ia bahkan mengangkat kepalanya yang sejak tadi menempel erat dengan bantal kesayangannya hanya untuk mengomeli Sehun.

"Aku sudah pelan, Baek. Ini bahkan baru jariku, belum juga penisku. Kau kan bisa tahan sedikit" Sehun balas mengomeli tak mau kalah. Mereka masih bisa - bisanya beradu mulut disela - sela kegiatan intim ini. Membuat Baekhyun mendengus dengan ucapan Sehun, dan ia kembali membaringkan kepalanya diatas bantal kesayangannya.

Sehun menarik kembali jarinya. Ia menghampiri Baekhyun dengan menghadapkan penisnya pada wajah Baekhyun yang masih sibuk memejamkan mata untuk tidur.

"Baek" panggilnya sambil menusuk - nusukan penisnya pada pipi Baekhyun. Ia menarik tangan Baekhyun menuju penisnya untuk digenggam. Menuntunnya untuk mengurut sesuatu yang besar dan panjang itu.

Baekhyun membuka matanya dan langsung berhadapan dengan penis Sehun dan tangannya yang dituntun untuk mengurutnya. Ia mengangkat kepalanya, mendongak untuk bertatapan dengan mata Sehun. Tangannya yang semula dituntun itu berinisiatif untuk menggerakannya sendiri. Mengocok penis itu dengan tempo yang lambat.

Sehun melepaskan baju atasannya yang masih meleket ditubuhnya menampakkan pemandangan perut ber abs untuk Baekhyun. Baekhyun pun membawa bibirnya untuk mengecupi perut itu. Memainkan lidahnya pada pusaran Sehun, sedangkan tangannya tetap bergerak mengocok penis Sehun.

Dapat Sehun lihat kecupan Baekhyun menurun hingga bibirnya tepat didepan penisnya. Baekhyun memberikan jilatan pada kepala penisnya sebelum membawanya masuk kedalam mulut kecil itu. Mulut Baekhyun bergerak mengoral milik Sehun, menghisapnya bagaikan menghisap lolipop. Tak lupa giginya juga ikut bagian untuk menggigitinya.

"Errgghh Baekhh... Aku benar - benar tidak tahan" Sehun mengeluarkan erangannya. Menjauhkan dirinya dari Baekhyun untuk duduk diatas ranjang dengan kepalanya yang bersandar.

"Kemarilah" pintanya sambil memegang pinggang Baekhyun, mengangkatnya untuk ia dudukan dipangkuannya. Baekhyun yang sudah berada dipangkuan Sehun pun menggerakan pantatnya menggesek penis Sehun. Sehun menarik tubuh Baekhyun menunduk. Memberikan lumatan pada bibir tipis itu sebelum menggerakan tangannya untuk memasukkan penisnya pada lubang Baekhyun. Baekhyun terkejut dan tak sengaja menggigit kuat bibir bawah Sehun yang sedang melumatnya.

"Arghh.. Kenapa menggigitku?" Sehun melepas ciumannya karena bibirnya terasa mengeluarkan darah.

"Kau seharusnya bilang dulu kalau mau memasukannya. Ini sakit Sehun~" Baekhyun masih meringis merasakan sakit pada lubangnya. Ia tanpa sadar bergerak untuk menjauhi Sehun, dan pergerakkannya itu malah membuat penis Sehun semakin tertanam dalam dilubangnya.

"Akhhh!! Sshhh..." Baekhyun berteriak kencang ketika perih menjalari area bagian bawah. Membuat Sehun khawatir. Tidak biasanya Baekhyun berteriak saat penyatuan dirinya.

"Kau tak apa - apa sayang?" Sehun bertanya lembut sambil menangkup pipi Baekhyun.

Baekhyun menggelengkan kepala. Ia berpikir rasa sakitnya akan hilang jika penis Sehun bergerak. Ia kembali menunduk kearah Sehun dan memeluk leher lelaki itu erat.

"Bergeraklah" pintanya sambil mengangkat sedikit pantatnya memberi akses untuk Sehun bergerak. Sehun balas memeluk pinggang Baekhyun. dibawah sana pinggulnya mulai bergerak menarik penisnya hingga menyisakan kepala dan menusuknya kembali membenamkan benda kebanggaannya membuat Baekhyun terhentak dengan pergerakan itu.

Sehun memompa lubang Baekhyun dengan pelan, memberikan kenyamanan pada Baekhyun. Tangannya turun memegang pinggul Baekhyun. Menuntunnya untuk bergerak berlawanan arah dengan tusukan penisnya.

"Eunghh... Ahhh.. Ahh..." Baekhyun mengeratkan pelukannya dileher Sehun, mendesah lembut ditelinga lelaki itu. Dan ia sedikit memekik saat kepala penis Sehun menyentuh bagian sensitif didalam lubangnya. Membuat Sehun semakin mempercepat tusukannya yang mengarah ke spot terdalam Baekhyun.

Baekhyun menghentikan pergerakan pinggulnya saat mendengar dering ponsel diatas meja. Itu ponselnya. Tangannya meraih benda itu sedikit susah karena Sehun bergerak semakin cepat dibawah sana.

"Ahhh... Sehun.. Se... Akhh.. Bentar..." Baekhyun menepuk pundak Sehun menyuruhnya berhenti. Namun Sehun tak berhenti, ia hanya memelankan tusukannya.

Mata Baekhyun membulat saat melihat siapa yang meneleponnya dalam aplikasi linenya.

"Siapa?" tanya Sehun, Baekhyun dengan ragu menunjukkan layar ponselnya pada Sehun.

"Park Chanyeol? Kau berhubungan dengannya?" Sehun berucap sinis pada Baekhyun dan Baekhyun menghadiahi cubitan keras diperut Sehun membuat lelaki itu mengaduh.

"Halo?" Baekhyun memilih untuk menerima panggilan tersebut.

'Hei Baek.. Kau tidak masuk sekolah hari ini?'

Baekhyun menggigiti kukunya ketika gugup kembali datang saat mendengar suara Chanyeol.

"Ya, aku sedang tidak enak badan" jawabnya beralasan. Ia menyunggingkan senyum tipis tanpa sadar. Dan Sehun cemburu dengan itu, Baekhyun terlihat seperti anak gadis yang mendapat telepon dari kekasihnya.

Sehun diam - diam merubah posisinya. Membaringkan tubuh Baekhyun diatas ranjang tanpa melepas penyatuan mereka. Ia membuka lebar paha Baekhyun dan kembali menusukkan penisnya dilubang Baekhyun. Bergerak cepat dengan menghentak - hentakan penisnya membuat Baekhyun tersenggal - senggal dalam panggilan teleponnya dengan Chanyeol.

'Kau sakit? Kau mau aku mengunjungimu sepulang sekolah nanti?'

"Tidak per... Akhh.. Ngghhh.. Sehun.. Ahh.. Ahh.." Baekhyun meloloskan desahannya keras mendapat gerakan tiba - tiba dari Sehun. Ia tak sadar desahannya itu terdengar jelas oleh Chanyeol diseberang sana.

'Baek, kau tak apa - apa?' Chanyeol bertanya khawatir dengan Baekhyun. Namun Baekhyun tak menjawabnya, ia sibuk medesah dan benar - benar menikmati apa yang sedang Sehun lakukan pada tubuhnya.

Sehun merebut ponsel Baekhyun. Menempelkan benda itu ditelinganya. "Kau mengganggu rutinitas pagi kami, Park" ucap Sehun. Ia memutuskan panggilan begitu saja.

"Ahhh.. Aku.. Anghhh... Keluar.." Baekhyun merasa sudah berada diujung begitu juga dengan Sehun. Sehun menahan paha Baekhyun agar tetap mengangkang lebar. Sementara ia melecehkan lubang Baekhyun semakin cepat. Memberikan tusukan yang sangat disukai oleh Baekhyun. Hingga Baekhyun mendapat pencapaiannya. Cairan putih miliknya mengotori perutnya.

"Errgghh.. Baekhh.. Ahhh .." Sehun sudah merasakan spermanya akan segera keluar. Ia menghentak - hentakkan penisnya dengan cepat. Hingga ia tiba - tiba menarik keluar penisnya dari lubang Baekhyun dan bergerak mendekati si mungil. Sehun memompa penisnya menggunakan tangannya. Mengocoknya cepat dengan mata yang menatap Baekhyun yang tengah tersenggal - senggal pasca klimaksnya. Pergerakan tangannya semakin cepat membuat penisnya semakin membengkak dan berkedut.

"Baekhyunhh... Ahhhh..." dan Sehun mendapat pencapaiannya. Spermanya bermuncratan kewajah Baekhyun. Membuat Baekhyun melenguh nikmat merasakan sperma Sehun mengotori wajahnya. Ia membuka mulutnya meminta Sehun menumpahkan cairannya dimulutnya. Sehun menuruti, menggesek penisnya dibelahan bibir Baekhyun membuat spermanya tumpah memenuhi mulut Baekhyun.

"Kau menyukai spermaku?" Sehun bertanya sambil bangkit duduk dengan membawa Baekhyun dipangkuannya. Dan detik kemudian ia terkejut dengan apa yang dilakukan Baekhyun.

Baekhyun mendongakkan kepalanya dengan mulut yang tebuka. Sehingga Sehun dapat melihat spermanya yang banyak itu masih berada dalam mulut si mungil. Hingga Baekhyun mengeluarkan sperma dalam mulutnya dengan perlahan. Mengalir melalui kedua sudut bibirnya dan jatuh pada leher putih Baekhyun. Sehun sungguh beruntung melihat pemandangan menggoda dari Baekhyun.

"Sangat seksi" pujinya dan membawa bibirnya mengecupi leher Baekhyun mengikuti jejak aliran spermanya.

.

.

.

.

.

The Dark Side of My Life

.

.

.

.

.

Chanyeol menatap ponselnya dengan dada yang bergemuruh. Ia berlari menghampiri kelas Kang Daniel yang berada dilantai tiga hanya untuk menanyakan id line Baekhyun tadi. Dan apa yang ia dapat ketika ia sudah menghubungi si mungil? Suara desahan Baekhyun yang begitu menikmati kegiatannya dengan Oh Sehun. Ia mengeraskan rahangnya dengan wajah marah. Entahlah, dirinya merasa marah saja.

"Chanyeol" Chanyeol mendongak ketika namanya dipanggil. Mendapati Baixian yang tadi membeli makanan sudah berada didepannya. Mereka tengah berada dikantin sekolah untuk makan. Walaupun ini belum saatnya istirahat. Chanyeol mengajak Baixian ke kantin saat guru yang mengajar dikelasnya berhalangan hadir.

"Makanlah" Baixian menyodorkan nampan kearah Chanyeol dan diterima lelaki itu dengan senyuman. Tak lupa ia berucap terima kasih pada Baixian.

"Kau terlihat senang sekali hari ini" Chanyeol berucap disela kegiatan makannya. Pasalnya ia melihat Baixian tak melunturkan senyumannya sejak tadi.

Baixian mengangguk lucu dengan senyuman lebarnya. "Chanyeol, kau tau?" ia bertanya memberi tebakan pada Chanyeol.

"Apa?"

"Hari ini aku ulang tahun, yeaayyy" Chanyeol menampilkan senyumnya dengan ucapan riang Baixian. Ia mengulurkan tangannya mengusak surai hitam lelaki mungil itu.

"Selamat ulang tahun, Baixian. Semoga kau selalu diberi kebahagian" ucap Chanyeol tulus. "Kau ingin hadiah apa dariku?" lanjutnya.

"Eumm..." Baixian membuat ekspresi berpikir yang sangat menggemaskan bagi Chanyeol.

"Aku ingin kau menemaniku ke festival coklat nanti malam" pintanya dengan harapan besar pada Chanyeol.

"Baiklah aku akan menjemputmu nanti malam" dan Chanyeol menyanggupi permintaan Baixian. Lagipula apa salahnya ia pergi keluar dengan lelaki mungil itu. Ia juga tidak punya teman untuk diajak keluar.

"Aku menunggu" senyuman Baixian semakin melebar dan menampilkan eyes smilenya.

.

.

.

.

The Dark Side of My Life

.

.

.

.

.

"Sehun!! Sini sebentar" Baekhyun baru saja mendapat kiriman paket dari seorang kurir. Dan ia baru ingat jika dirinya sedang membeli sesuatu secara online. Ia membuka paket tersebut yang ternyata adalah sebuah skin care berbahan lidah buaya.

Sehun yang saat itu sedang memberi makan vivi - anjing kecilnya - menghampiri Baekhyun. Ia menduduki tempat disamping Baekhyun.

"Apa itu?" tanyanya sambil menopang dagu melihat kegiatan Baekhyun.

"Aku baru membeli ini untukmu, kau perlu perawatan kulit, Sehun" Baekhyun berucap menjelaskan dengan pandangan yang masih membaca aturan pakai dari skin care tersebut.

"Kulitku sudah putih, Baek. Kau mau membuat kulitku menjadi transparan?" Baekhyun berdecak lidah. Ia menarik tangan Sehun dan mulai mengoleskan lotion berbentuk gel itu pada kulit tangan Sehun.

"Kulit putih bukan berarti kulitmu sehat. Aku tak pernah melihatmu merawat kulitmu, sehun. Kau bahkan jarang mandi. Memang kau mau kulitmu berubah hitam seperti kai, huh?" Sehun menutup telinga dengan satu tangannya yang tidak dipegang Baekhyun. Baekhyun akan mengomel panjang jika ia tidak menuruti ucapan si mungil.

"Kemarikan wajahmu" Baekhyun memegang kedua pipi Sehun untuk mendekat kearahnya. Mengoleskan kembali lotion ke kulit wajah Sehun.

Sehun tersenyum ketika melihat wajah Baekhyun dari dekat seperti ini. "Apa senyum - senyum?" pertanyaan ketus itu malah membuat Sehun terkekeh. Ia membawa bibirnya memberi kecupan - kecupan kecil dibibir Baekhyun.

"Istriku galak sekali" Sehun berucap menggoda sedangkan Baekhyun mendengus kesal pada Sehun namun detik kemudian ia tersenyum tipis.

"Aku tidak mau punya suami yang tidak mau merawat kulitnya apalagi yang jarang mandi. Dan lagi ini, kau perlu memotong rambut dan juga mengganti warnanya, Sehun. Aku bosan dengan rambut hitammu ini"

"Baiklah, baiklah. Lakukan semaumu, Baek. Lagi pula kau akan terus mengomeliku kalau aku menolak"

"Tentu saja kau harus diomeli dulu kalau tidak kau akan jadi orang pemalas. Lihat itu Kai, wajahnya saja yang tampan, tapi-- woahhh apa itu, Sehun?" omelan Baekhyun seketika berubah menjadi pekikan dengan binar - binar yang terpancar dimatanya beningnya. Sehun yang sudah pusing dengan omelan panjang Baekhyun pun meraih sebuah benda didalam sakunya dan menghadapkannya tepat didepan mata Baekhyun.

Sebuah gelang rantai kecil berbahan emas putih dan juga tulisan latin 'Sb' yang menjadi hiasannya, Sehun lingkarkan dipergelangan tangan ramping Baekhyun.

"Ini untukku?" Baekhyun bertanya dengan pandangan yang tak lepas dari gelang ditangannya. Anggukan Sehun semakin memancarkan senyuman lucu dibibir tipisnya.

"Selamat ulang tahun, sayang" kecupan mendarat dipunggung tangan Baekhyun dan Baekhyun segera membawa dirinya masuk kepelukan hangat Sehun.

"Terima kasih, Sehun. Aku akan menjaganya"

"Tentu kau harus menjaganya. Aku tidak ingin lihat gelang ini terlepas dari tanganmu"

Baekhyun mendongak menatap Sehun, memajukan wajahnya untuk memberikan satu kecupan dibibir lelaki tinggi itu.

"Aku mencintaimu, Baek" ungkapan cinta yang kesekian kali dan selalu mendapat respon senyuman miris oleh Baekhyun.

.

.

.

.

.

The Dark Side of My Life

.

.

.

.

.

Semalam Baekhyun tidak bisa tidur dengan tenang. Bayangan - bayangan pertengkaran orang tuanya dimasa lalu menyeruak begitu saja dipikirannya. Dan hingga sekarang ia tidak tau apa yang menjadi inti pertengkaran mereka yang membawany menjadi korban didalamnya.

"Sakit... Psikiater..." Baekhyun akan mencari tau apa yang sedang dialami oleh orang tuanya. Ia tidak bisa membiarkan mereka memperlakukannya seperti ini seumur hidupnya.

Tepat pukul satu siang, Baekhyun sudah berada dirumahnya. Ini masih siang jadi ia bisa menyelinap keruang kerja ayahnya dengan leluasa ditambah ibunya sedang sibuk mengurus butiknya dan Baixian yang masih berada disekolah.

Baekhyun membuka knop pintu ruang kerja ayahnya dan pandangannya mengedar keseluruh ruangan. Ini pertama kalinya ia memasuki ruangan ini setelah pertengkaran itu. Ia mendekat ke meja besar berwarna coklat tua dengan berbagai peralatan kantor diatasnya.

Tatapannya berubah datar ketika mendapati sekitar 3 bingkai foto berisi potret dirinya. Ia yakin itu adalah dirinya, pemilik mata tajam dan juga rambut dark brown. Dan sepertinya foto itu diambil akhir - akhir ini, mengingat seragam SHS yang ia pakai. Apa selama ini ayahnya menguntitnya?.

Baekhyun mengabaikan itu. Tangannya beralih membuka laci satu perasatu hingga ia menemukan map merah dengan berbagai berkas tentang kesehatan didalamnya.

"Psikolog?" gumamnya. Baekhyun menemukannya. Sesuatu yang menurutnya akan membuatnya mendapat petunjuk tentang orang tuanya. Berkas - berkas dari psikiater yang berbeda.

Matanya meneliti pada lembaran pertama, membaca tulisan - tulisan itu dengan jantungnya yang berdetak kencang. Baekhyun beralih ke lembaran selanjutnya. Dan jantung Baekhyun serasa berhenti berdetak dengan matanya yang menatap tak percaya. Semua lembaran yang datang dari psikiater yang berbeda menuliskan hal yang sama.

'Baekkie cantik sekali, hmm. Baekkie mau kan menjadi kekasih ayah?'

'Ayah, jika Baekkie sudah besar nanti. Baekkie mau menikah dengan orang yang seperti ayah'

'Tidak sayang, kau tidak boleh menikah dengan orang lain. Kau hanya boleh menikah dengan ayah'

'Ayah, Baekkie ingin punya rumah yang dipenuhi mobil - mobilan didalamnya'

'Ayah akan membuatkanmu rumah itu, sayang. Dan kita bisa menempatinya berdua''Lalu bagaimana dengan ibu dan hyung?''Kau tidak membutuhkan mereka. Yang kau butuhkan hanya ayah. Kita akan hidup berdua suatu saat nanti'

Cuplikan - cuplikan kejadian dimasa lalu kembali menyeruak. Ia selalu menganggap ucapan ayahnya saat itu hanya sebuah bentuk kasih sayang seorang ayah terhadap anaknya. Tapi ia baru menyadari hal itu sekarang.

"Pedophille?" Baekhyun serasa kakinya melemas. Ia menggelengkan kepalanya mencoba menyangkal hal itu. Namun ratusan foto dirinya yang berada dilaci meja teratas seolah membenarkan diagnosa psikiater - psikiater itu. Ini tidak benar, jika memang ayahnya seorang pedophille seharusnya ayahnya juga menyukai Baixian atau anak dibawah umur lainnya. Bukan hanya dirinya.

"APA YANG KAU LAKUKAN DIRUANGANKU?!!" bentakan itu mengejutkan Baekhyun. Ia mendongak dengan mata membola menatap kearah seseorang yang berdiri dipintu. Itu ayahnya yang sedang menatapnya tajam, namun detik kemudian menampilkan seringaian yang membuatnya bergidik takut.

"Kau sudah mengetahuinya?" ucap Donghae dengan langkah yang mendekati Baekhyun.

"Ayah..."

"Jawab aku!! Kau sudah mengetahuinya?!!" Baekhyun merasakan sakit didagunya saat Donghae mencengkeram dagunya dengan kasar.

"Ayah... Itu tidak benar, kan?" tanya Baekhyun dengan gugup bercampur rasa takut.

"Kau ingin tau jawabannya, hm?" Donghae membawa pandangannya meneliti tubuh Baekhyun dari atas hingga kebawah membuat Baekhyun merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi terhadapanya.

Donghae membalikkan tubuh Baekhyun dengan tangannya yang menahan kedua tangan Baekhyun dibelakang, sedangakan tangan yang lainnya mencengkeram tengkuk Baekhyun dan menekannya hingga pipi Baekhyun menempel diatas meja dengan benturan yang keras. Baekhyun memekik kesakitan, pasalnya keningnya tak sengaja tergores ujung bingkai yang runcing. Membuat keningnnya beraliran darah.

"Ayah lepaskan aku... Hiks... Aku berjanji akan pergi sejauh mungkin dari hidup ayah.. Hiks.. Ayah bisa hidup bahagia dengan ibu dan Baixian.. Hiks..." Baekhyun mengeluarkan isak tangisnya. Ia sudah puluhan kali mendapat kekerasan fisik dari ayahnya dan tak sekalipun Baekhyun menunjukkan air matanya pada ayahnya. Namun kini berbeda, setelah mengetahui penyebab ayahnya memperlakukannya selama ini.

"Kau pikir aku membutuhkan mereka, huh?" Donghae menunduk dari belakang tubuh Baekhyun, mendekatkan bibirnya ditelinga Baekhyun.

"Kau tentu tau, yang kubutuhkan hanya kau sayang. Mereka hanya tikus - tikus pengganggu yang akan memisahkan kita" Donghae berbisik ditelinga Baekhyun dengan sedikit jilatan lidah dicupingnya.

"KAU GILA!! KAU ORANG TUA GILA!!" Baekhyun berteriak disela - sela tangisan dan ketakutannya.

"KAU YANG MEMBUATKU GILA!!" Donghae tentu emosi dengan ucapan Baekhyun. Baginya mencintai seseorang bukanlah hal yang patut disalahkan, walaupun pihak yang menjadi obyek perasaannya yang salah.

Baekhyun semakin kelimbukan dengan tindakan ayahnya yang tiba - tiba menekan penisnya pada pantatnya. Ia tau apa yang akan terjadi setelah ini. Ia tidak akan menyangka jika dirinya harus berakhir disetubuhi oleh ayahnya sendiri.

"LEPASKAN AKU, BRENGSEKK!!" ia meronta dalam kungkungan Donghae dibelakangnya. Hingga membuat Donghae harus mengikatkan dasi yang ia pakai pada tangan Baekhyun.

"Tenanglah.. Kau akan menyukainya, sayang" Donghae mengambil sebuah lakban hitam untuk membungkam mulut Baekhyun yang menurutnya berisik.

Tangisan Baekhyun teredam oleh lakban itu. Ia memejamkan mata tak ingin melihat apa yang dilakukan ayahnya dibalik tubuhnya. Celana Baekhyun dilepaskan begitu saja oleh Donghae. Membuatnya menungging dengan menampilkan lubangnya dihadapan ayahnya.

Ia bisa merasakan penis ayahnya yang entah sejak kapan sudah menegang mencoba menerobos lubangnya. Baekhyun memekik tertahan, ia merasakan rasa sakit yang luar biasa dibawah sana. Pasalnya lubangnya yang masih kering dan tertutup rapat dipaksa untuk menyelimuti benda besar milik ayahnya. Dan tusukan - tusukan yang tiba - tiba tanpa menunggunya meredam rasa sakit.

Donghae menggeram menikmati lubang milik anaknya yang seolah memijat penisnya itu. Ia meraih lakban yg membungkam mulut Baekhyun untuk dilepas. Menjambak rambut Baekhyun hingga terdongak.

"Akhh.. Ayahh... Sakithh.. Hiks.." Baekhyun mendesah kesakitan diiringi isakan tangisnya. Lubangnya benar - benar seperti terbelah dua menerima tusukan - tusukan yang cepat dan kasar dari ayahnya.

Ini benar - benar gila. Ia terbiasa melakukan seks yang lembut dengan Sehun. Dan kini ia mendapat siksaan seksual dari ayahnya. Tubuhnya terhentak - hentak dengan cepat seiring pergerakan ayahnya.

"Ayahhh... Hiks... Akhh... Akh..." Donghae semakin bersemangat melecehkan lubang Baekhyun setelah mendengar desahan anaknya. Walaupun itu desahan kesakitan. Ia tidak peduli, yang terpenting dirinya sudah mendapatkan tubuh yang sudah ia dambakan selama ini.

Dorongan penisnya semakin cepat hingga tiga tusukan terakhir donghae membenamkan penisnya dalam dilubang Baekhyun. Dan sperma yang cukup banyak memenuhi lubang itu. Donghae mendesah lega pasca pelepasannya. Ini bahkan lebih nikmat dari seksnya bersama istrinya.

Donghae menunduk kearah Baekhyun. Mendekatkan bibirnya pada telinga anaknya.

"Seperti yang kubayangkan... Ini menakjubkan. Lubangmu benar - benar hebat" Baekhyun tak menghentikan tangisannya sedari tadi mengabaikan sperma ayahnya yang mengalir disela pahanya.

Donghae mengangkat tubuh Baekhyun, menggendongnya bridal dan membawanya kekamar milik Baekhyun. Untuk membaringkan anaknya itu diranjang.

"Aku takkan membiarkanmu lepas dariku, Baekhyun. Jika kau berani melarikan diri dariku... Aku akan membunuhnya, lelaki itu. Siapa namanya... Oh Sehun?" Baekhyun menatap tajam ayahnya yang tengah memasang seringaian menyeramkan. Ayahnya sudah benar - benar gila.

"Jangan membawa - bawa Sehun dalam kegilaanmu, brengsek" ucapnya dengan menggertakan gigi. Cengkeraman kuat pada dagu ia rasakan lagi dari tangan ayahnya.

"Aku tidak pernah bermain - main dengan ucapanku, Baekhyun" Donghae menghempaskan dagu Baekhyun membuat Baekhyun menoleh kesamping. Setelahnya ia keluar dari kamar Baekhyun dengan gebarakan pintu.

Baekhyun menumpahkan air matanya seketika. Fisik dan mentalnya terasa sakit dengan perlakuan ayahnya. Ia ingin menjauh dari keluarga gila ini. Tapi ia masih memikirkan resiko yang akan ia terima dari ayahnya. Apakah masih bisa Baekhyun menyebutnya seorang ayah.

.

.

.

.

.

The Dark Side of My Life

.

.

.

.

Chanyeol sudah rapi dengan setelan santainya. Malam ini seperti rencananya, ia akan pergi menemani Baixian ke festival coklat. Senyumnya mengembang menatap kalung dengan liontin salib yang terlilit rantai.

Ia sudah berada didepan pintu rumah Baixian. Menekan bel untuk memanggil si pemilik rumah. Dan tak lama kemudian si pemilik rumah membuka pintu dengan senyuman cerianya.

"Chanyeol, kau sudah datang? Masuklah. Aku akan mengganti baju sebentar" Chanyeol mengangguk dan mengikuti Baixian memasuki rumahnya. Ia menunggu diruang tamu sembari menunggu Baixian bersiap - siap.

Matanya mengedar melihat - lihat sudut rumah Baixian yang mewah. Hingga tatapannya berhenti pada seseorang yang sedang menuruni tangga dengan langkah tertatih.

"Baekhyun" panggilnya dan segera menghampiri Baekhyun untuk membantunya berjalan.

"Kau tak apa - apa?" tanyanya khawatir setelah membawanya duduk disofa ruang tamu. Sementara Baekhyun sedikit terkejut dengan kehadiran Chanyeol.

"Kenapa kau bisa ada disini?" Baekhyun balik bertanya.

"Aku akan pergi keluar dengan Baixian" Baekhyun mengangguk pelan dengan gemuruh didadanya.

"Ah sebentar" Chanyeol berjongkok dihadapan Baekhyun. Tangannya merogoh saku jaketnya untuk mengambil sesuatu. Dan setelahnya ia mendekat kearah Baekhyun. Memasangkan sebuah kalung yang sejak tadi ia tatap dengan senyuman itu pada leher putih Baekhyun.

Baekhyun menahan degupan jantungnya ketika tubuh Chanyeol mendekat dan wajah lelaki itu yang berada dibalik ceruk lehernya untuk mengaitkan sesuatu. Senyuman Chanyeol semakin melebar melihat kalung itu terlihat begitu cocok dengan Baekhyun. Ia kembali menjauhkan tubuhnya menatap si mungil.

"Selamat ulang tahun, Baekhyun" Baekhyun menunduk melihat apa yang dipasangkan Chanyeol tadi. Bibirnya menyunggingkan senyum tipis, itu adalah kalung yang mahal. Terlalu mewah untuk sekedar hadiah ulang tahun. Namun Baekhyun tetap berucap terima kasih pada Chanyeol. Ia akan menyimpan kalung ini sebagai hadiah pertama yang diberikan lelaki tinggi itu.

"Baekhyun, Chanyeol" panggilan itu membuat keduanya menoleh.

"Kau sudah siap? Mau berangkat sekarang?" Chanyeol berdiri dari posisi jongkoknya. Baixian mengangguk dengan pertanyaan Chanyeol.

"Baekhyun, Aku akan keluar sebentar dengan Chanyeol. Kau ingin menitip sesuatu?" Baixian bertanya lembut, namun Baekhyun hanya memalingkan muka mengabaikannya. Baixian sudah terbiasa dengan itu.

"Baiklah. Kami pergi sekarang" Baixian berjalan keluar rumah mendahului Chanyeol. Sedangkan Chanyeol menyempatkan diri untuk menunduk dan mengusap pipi Baekhyun.

"Aku akan membawakanmu coklat nanti" mengusak surai lembut Baekhyun sebelum berjalan menyusul Baixian.

Baekhyun terperangah dengan perlakuan Chanyeol. Seingatnya ia tak cukup dekat dengan lelaki tinggi itu. Mereka hanya pernah berciuman sekali, itupun karena permainan.

Tak.Tak.Tak.

Suara heels terdengar menggema dalam ruang tamu luas itu. Itu suara sepatu Sooyeon, ibunya. Yang mungkin baru pulang bekerja. Baekhyun memilih untuk kembali kekamarnya dari pada harus bertemu nenek sihir itu. Namun langkah tertatih Baekhyun tentu tertangkap oleh mata tajam Sooyeon.

"Byun Baekhyun" panggil Sooyeon dengan nada arogannya. Baekhyun hanya menoleh malas.

"Dimana Baixian?" oh ibunya ini memanggilnya hanya untuk menanyakan keberadaan anak kesayangannya saja? Membuang - buang waktu saja.

"Kau pikir aku pengasuhnya yang harus tau keberadaannya? Menggelikan" Baekhyun berucap datar. Kakinya ia langkahkan lagi menaiki tangga. Hingga kembali berhenti mendengar ucapan ibunya.

"Sepertinya ayahmu bermain terlalu kasar. Tapi tentu jalang sepertimu menyukai permainan lelaki gila itu" ucapan Sooyeon sangat menusuk kehati Baekhyun, namun tak dipedulikannya. Ia menaiki tangga dengan telinga yang tertutup rapat mengabaikan kalimat hinaan dari ibunya.

.

.

.

.

.

tbc

.

.

.

.

hai, sebenernya kondisiku lagi gk maksimal buat update. malem taun baru kemaren aku sempet kecelakaan yg bikin tangan kiriku gk bisa digerakin :(. jd aku ngapa"in pake tangan kanan.

tapi drpd aku gabut cuma tiduran doang jadi aku update aja ehehe.

ini kenapa pada gk suka sama Baixian? padahalkan Baixian itu lembut, baik, kalem. walopun Chanyeol suka yg hentai hentai macem Baekhyun /eh nyerempet realnya/?.

di chapter ini udh kebongkar ya alasan emak bapaknya Baekhyun gituin dia.

dan... SELAMAT TAHUN BARU YAAAA.

tetap berikan review untuk cerita ini ya. .