Waktu telah berjalan satu minggu. Selama itu pula Baekhyun terkurung didalam rumahnya. Donghae tidak membiarkan Baekhyun pergi keluar rumah bahkan ia meminta izin pada sekolah untuk memberinya cuti dengan alasan sakit.
Baekhyun tak hanya mendapat pukulan dari ayahnya, tapi juga kekerasan seksual setiap malamnya. Baekhyun hanya harus diam tanpa menolak persetubuhan yang menyakitkan itu. Ia merasa seperti korban penculikan dan pemerkosaan yang pelakunya adalah ayah kandungnya sendiri.
Baekhyun seolah hafal gebrakan pintu kamarnya setiap pukul 8 malam. Tubuh yang mengungkung dirinya serta lumatan - lumatan menuntut pada bibirnya.
Dan seperti biasa penis ayahnya yang menerobos memasuki lubangnya yang kering. Mencari kenikmatan sendiri tanpa memperdulikan teriakan kesakitan dari Baekhyun. Dan setelahnya Baekhyun akan menangis seorang diri.
Baekhyun beberapa kali mencoba kabur. namun belum sampai 10 kilometer dari rumahnya, orang - orang suruhan ayahnya sudah menangkapnya dengan seretan paksa dan setelahnya siksaan kembali ayahnya layangkan untuknya. Dan sekarang beberapa orang berbadan kekar telah berjaga disetiap penjuru rumahnya. Mencegahnya agar tidak kabur lagi.
Hari ini Baekhyun kembali lagi ke sekolah. Bagaimana pun ia tetap harus menyelesaikan pendidikannya. Ia baru saja sampai dengan diantar oleh ayahnya. Donghae menyempatkan memberi kecupan dibibir Baekhyun sebelum Baekhyun turun dari mobil. Dan Baekhyun segera mengusap bibirnya kasar merasa jijik dengan kecupan ayah gilanya itu.
Baru saja Baekhyun memasuki kelas, ia sudah dikejutkan dengan benda lunak yang menempel dibibirnya. Melumat bagian atas bibirnya dengan tergesa - gesa hingga dirinya terdorong untuk bersandar diloker kelas dengan posisi berdiri. Baekhyun tak perlu membuka matanya untuk mengetahui siapa yang sedang menciumnya penuh kerinduan ini. Itu Oh Sehun. Dirinya tentu hapal tekstur bibir Sehun dan cara bermain lelaki itu pada bibirnya.
Baekhyun memeluk leher Sehun dan merapatkan tubuh mereka, membalas ciuman Sehun dengan kerinduan juga. Tak memperdulikan teman - teman sekelasnya yang mulai berdatangan memasuki kelas. Hingga Sehun menghentikan lumatannya untuk memberikan kecupan panjang dibibir Baekhyun.
Sehun membuka matanya begitu juga dengan Baekhyun. Keduanya terdiam cukup lama dengan posisi itu. Tatapan mata yang terkunci dan bibir yang saling menempel tanpa adanya lumatan.
Baekhyun merasa matanya memanas ingin mengalirkan aliran deras air matanya. Namun sebisa mungkin ia tahan, ia tidak ingin Sehun khawatir dan berakhir menanyakan pertanyaan yang tidak bisa ia jawab.
"Aku merindukanmu" kalimat dengan nada lirih itu seolah menghancurkan pertahanan Baekhyun. Ia kembali menutup matanya segera saat dirasa air matanya bisa saja terjatuh. Bibir Sehun turun menuju rahangnya hingga beralih untuk menyesap leher Baekhyun tanpa peduli desisan - desisan kesal teman - temanya. Juga tatapan tajam dari si murid baru yang berdiri didepan pintu.. Atau sebut saja namanya Park Chanyeol.
Baekhyun menarik rambut Sehun untuk menghentikan kegiatan lelaki itu. Ia menatapnya dengan senyuman tipis.
"Hei, kau mengganti warna rambutmu?" Baekhyun bertanya dengan tangannya yang memainkan rambut Sehun yang sekarang berwarna oranye. Terlihat cocok untuk Sehun karna warna kulitnya yang terlalu putih.
"Ya, kau bilang kau bosan dengan rambut hitamku. Bagaimana? Apa aku terlihat tampan?" Sehun mengusap rambutnya keatas dengan gaya jenakanya menimbulkan kekehan dari bibir Baekhyun.
"Kau selalu terlihat tampan, Sehun" Baekhyun sedikit mendorong tubuh Sehun menjauh untuk menduduki bangkunya. Namun langkah kakinya terhenti dengan tatapan tajam seseorang dihadapannya. Baekhyun sedikit takut dengan tatapan itu hingga ia menunduk menghindarinya.
"Menikmati ciuman pagimu?" tanya lelaki itu datar hingga membuat Baekhyun terdongak dan menatapnya tak percaya.
"Apa maksudmu, Chanyeol?" tanyanya yang hanya dibalas decihan oleh Chanyeol dan langkah kaki yang menjauhinya.
Baekhyun sedikit tertegun dengan Chanyeol, namun tarikan Sehun ditangannya membuyarkannya. Mencoba menganggap angin lewat sikap Chanyeol.
.
.
.
The Dark Side of My Life
.
.
.
Sehun mengajak Baekhyun membolos diatap sekolah. Satu minggu tidak bertemu Baekhyun membuatnya frustasi, namun ia tidak ingin menanyakan hal itu pada Baekhyun. Walaupun informasi yang ia terima dari Baixian hanyalah lelaki mungilnya sedang terkurung dirumah tanpa penyebab yang pasti.
Sehun menikmati waktunya bersama Baekhyun pagi ini. Memeluk erat pinggang Baekhyun yang berada di pangkuannya dan menumpu dagunya dipundak si mungil. Sedangkan Baekhyun membalas memeluk leher tegas Sehun dengan jemarinya yang mengusap - usap kepala bagian belakang milik Sehun.
Keduanya terdiam tanpa berniat membuka obrolan, kecuali Baekhyun yang sedari tadi melantunkan alunan lagu ditelinga putih Sehun.
Cause i wanna touch you baby.
And i wanna feel you too.
I wanna see the sunrise.
On your sins just me and you.
Light it up, on the run.
Let's make love tonight.
Make it up, fallin love, try.
(Zayn ft. Sia - Dusk Till Dawn).
Sehun meresapi suara lembut milik Baekhyun yang sangat menenangkan hatinya. Menoleh untuk memberikan kecupan dipipi Baekhyun yang terlihat lebih kurus dari biasanya.
"Baek.." panggilnya. Baekhyun menghentikan nyanyiannya untuk menjawab panggilan Sehun.
"Hm?"
"Kau mau aku membawamu pergi jauh?" pertanyaan yang menyentak diri Baekhyun terlontar begitu lirih dari bibir Sehun.
Baekhyun juga menginginkan hal itu sebenarnya. Meminta Sehun untuk membawanya pergi sejauh mungkin dari hadapan ayahnya. Tapi ia tentu tau kemanapun perginya dirinya, orang yang diburu pertama oleh ayahnya adalah Sehun. Dan ia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada lelaki yang sudah menjadi tumpuan hidupnya itu.
"Kemana? Kau mau membawaku liburan di pulau yang dipenuhi strawberry?" Baekhyun bertanya dengan riang. Bibirnya membentuk senyuman lebar yang sangat manis. Namun Sehun tidak bodoh untuk melihat mata tajam itu memerah dan berkaca - kaca bersiap untuk mengeluarkan aliran air mata.
"Baek..." lirihnya dan seketika itu Baekhyun menumpahkan air matanya dihadapan Sehun. Baekhyun selalu berhasil menahan tangisannya agar tidak terlihat oleh Sehun selama ini, namun sekarang lelaki itu sudah melihat air matanya untuk pertama kali. Ia mengalihkan wajahnya kearah lain dan mulai terisak. Dadanya begitu sesak untuk sekedar menahan tangisannya.
Sehun merasa hatinya remuk melihat kerapuhan lelaki mungilnya. Sehun tidak tau apa yang sedang Baekhyun alami hingga ia menumpahkan bebannya dengan tangisan yang begitu menyayat hatinya. Ia menarik wajah Baekhyun agar menatapnya, namun Baekhyun menolak dan tetap mengalihkan pandangannya kearah lain dengan isak tangisnya yang semakin jelas terdengar. Baekhyun bahkan membuka sedikit bibirnya untuk meloloskan isakannya.
"Menangislah sayang" Sehun menatap Baekhyun lembut walaupun obyek yang ditatap sedang memalingkan wajahnya. Tangannya terulur untuk mengusap air mata si mungil. Dan memberikan kecupan - kecupan kecil dipipi Baekhyun.
Baekhyun ingin mengadu pada Sehun tentang apa yang terjadi pada dirinya satu minggu ini. Hal ini sudah terlalu berat untuk ia jalani di usianya yang masih 17 tahun. Dimana ia menerima semua kegilaan ayahnya. Tidak akan ada yang bisa menolongnya, bahkan ibunya atau Baixian sekalipun.
Baekhyun menunduk dengan tangisan yang membuatnya tersenggal - senggal. Sementara Sehun tidak berniat mengalihkan pandangannya dari wajah Baekhyun. Hingga akhirnya Baekhyun mulai berhenti menangis namun isakannya masih terdengar. Ia mengusak - usak matanya dengan gerakan yang lucu menurut Sehun. Persis seperti anak kecil berusia 5 tahun yang sedang berusaha meredakan tangisannya. Nyatanya itu menimbulkan kekehan dari bibir Sehun.
"Ahh, ini memalukan" Baekhyun menggerutu setelah sadar ia baru saja menangis didepan Sehun.
"Aku tidak tau, kau tetap terlihat cantik dalam keadaan menangis sekalipun" ucap Sehun mencoba mencairkan suasana dengan godaannya. Dan Baekhyun membalasnya dengan cubitan keras dilengan si lelaki putih.
"Itu tadi bukan aku. Itu arwah yang sedang merasukiku. Kau percaya kan?" Baekhyun menyembunyikan wajahnya diceruk leher Sehun dan tangannya yang bergelayut manja dibahu lebar Sehun.
Sehun meledakan tawanya mendengar elakkan Baekhyun. Ia tau Baekhyun sangat malu sekarang. "Iya, iya. Aku percaya" tapi Sehun mengiyakan saja ucapan si mungil daripada nanti Baekhyun merajuk.
Baekhyun tersenyum mendengar suara tawa Sehun. Dan didalam hatinya ia meminta maaf pada lelaki putih itu karna sudah menyembunyikan sesuatu yang penting. Sehun sendiri tidak merasa bahwa Baekhyun tidak mempercayai dirinya lagi. Justru dia paham Baekhyun hanya butuh waktu untuk membicarakannya.
.
.
.
The Dark Side of My Life
.
.
.
"Chanyeol, kita nanti jadi makan malam diluar kan?" itu suara Baixian yang saat ini sedang menarik - narik seragam bagian pinggang milik Chanyeol. Mereka berdua sedang berada dibelakang sekolah untuk menikmati waktu istirahat. Keduanya duduk bersandar pada pohon besar dengan lengan Chanyeol yang melingkari bahu Baixian.
"Tentu. Kau ingin makan malam dimana?" mereka terlihat sangat dekat sekarang. Semenjak ulang tahun Baixian, mereka sering pergi jalan - jalan berdua. Sekedar menghabiskan waktu luang.
Baixian memekik senang, ia menoleh kearah Chanyeol dengan senyuman lebar. "Aku sedang ingin makan lobster yang beeessaarrrr" Baixian berucap dengan antusias yang membuatnya terlihat seperti anak kecil. Chanyeol menggerakan tangannya untuk menarik hidung kecil Baixian.
"Baiklah, kita akan mencari tempat makan yang punya lobster yang beessaaarrrr" Chanyeol berucap mengikuti cara bicara Baixian yang lucu.
Baixian tertawa kecil. Ia bahagia dengan kedatangan Chanyeol disisinya. Lelaki tinggi itu selalu menuruti permintaannya tanpa mengeluh sedikitpun.
Seperti hari itu, saat itu waktu sudah menunjukkan pukul setengah 12 dini hari. Baixian merasa lapar dan kebetulan isi kulkasnya sedang kosong, tidak ada bahan yang bisa ia masak. Hingga akhirnya ia menelpon Chanyeol untuk mengadu tentang perutnya yang lapar. Dan Chanyeol menawarkan diri untuk membelikannya makanan.
Chanyeol datang dengan sekotak ayam goreng dan sebotol besar minuman bersoda. Chanyeol juga menunggunya untuk menghabiskan makanannya dan membantunya tidur hingga terlelap.
Perlakuan yang manis untuk orang yang baru saling mengenal. Tentunya membuat perasaan Baixian tumbuh semakin berkembang. Bagaikan sikap Chanyeol adalah sebuah pupuk untuk perasaannya.
.
.
.
The Dark Side of My life
.
.
.
Rumah mewah ini tampak sepi, hanya ada beberapa para penjaga rumah. Sooyeon dan Donghae belum pulang dari tempat kerjanya. Sedangkan Baixian pasti ada didalam kamarnya untuk bersiap diri pergi makan malam bersama Chanyeol.
Dan Baekhyun, ia tengah berjalan mondar - mandir didalam kamar. Tubuhnya sudah rapi dengan celana berbahan denim dan kaos soft pinknya. Ia sedang memikirkan cara untuk kabur dari rumah ini. Ini masih jam 5 sore dan ia masih ada waktu sebelum ayahnya pulang.
Pandangan matanya mengedar kesekeliling ruangan kamarnya. Mencoba mencari sesuatu yang entah apa itu, hingga pandangannya berhenti pada sekumpulan topi miliknya yang ada disamping lemari pakaian. Ia mengambil salah satu topi berwarna putih untuk ia kenakan.
Baekhyun melihat pantulan dirinya dicermin, dan seketika matanya membulat.
"Baixian" gumamnya. Ya, ia terlihat seperti Baixian jika ia menutupi rambut dark brown nya. Ia mendapat ide sekarang.
.
.
The Dark Side of My Life
.
.
Baekhyun sudah berhasil membuka pintu rumahnya, dan sekarang ia hanya perlu melewati para penjaga yang berdiri didepan gerbang dengan bersikap selayaknya Baixian.
Baekhyun menyunggingkan senyuman lebar hingga matanya melengkung membentuk eyes smile. Ia melakukan itu untuk menutupi mata tajamnya yang khas.
Baekhyun melangkahkan kakinya dengan ponselnya yang menempel ditelinga, berpura - pura sedang melakukan panggilan.
"Oh? Jaehyunie~" Baekhyun berucap lantang dengan nadanya yang ceria. Persis seperti Baixian. Ia mencoba bersikap santai, tidak ingin para anjing penjaga ayahnya menaruh kecurigaan.
"Kkk~ kau bisa saja. Uhm... Tunggu aku yaaa~ aku sedang dijalan kok" dirinya bahkan menggerakan badannya kekanan dan kekiri seperti biasanya Baixian ketika sedang malu - malu.
Dua langkah lagi Baekhyun akan melewati gerbang. Para penjaga itu menatap Baekhyun penuh selidik membuat Baekhyun menggigit bibir bawahnya gugup.
"Paman, ada yang salah denganku?" Baekhyun bertanya dengan polos. Ia bahkan memiringkan kepalanya mencoba terlihat imut. Bukan gaya Baekhyun sekali.
Penjaga - penjaga itu sampai dibuat gemas dengan tingkahnya. "Tidak, tuan muda Baixian. Tuan muda mau pergi? Mau saya antar?" mereka malah menawarkan diri mengantarnya. Dasar bodoh.
"Tidak perlu paman~ kkk~ aku sudah dijemput didepan. Kalau begitu aku pergi dulu yaaa~" ucapnya riang. Ia melanjutkan langkahnya keluar, dan berhasil. Ia sudah berhasil kabur dari rumahnya. Dan sekarang dirinya tengah berlari secepat mungkin. Takut jika para penjaga itu mulai mencurigai penyamarannya.
Baekhyun berhenti ditempat pemberhentian bus untuk mengatur nafasnya setelah berlari cukup jauh. Ia tiba - tiba saja merasa panik. Beberapa kali menoleh kebelakang jika saja mereka mengejarnya. Ia bingung sekarang harus pergi kemana. Ia tidak mungkin pergi ketempat Sehun, ayahnya bisa dengan cepat menemukannya.
Nafasnya mulai tak teratur akibat rasa paniknya. Bahkan ia tak sadar sudah meneteskan air mata. Dadanya terasa sesak sekali untuk sekedar menarik nafas. Baekhyun berharap seseorang datang untuk menolongnya.
Hingga panggilan seseorang membuatnya semakin panik. Kakinya menekuk untuk ia peluk dan tubuhnya mulai gemetar ketakutan.
"J-jangan... Biarkan a-aku p-pergi...". Ia tergagap saking takutnya ketika seseorang yang memanggilnya itu menepuk pundaknya.
"A-aku m-mohon... J-jangan sakiti a-aku..." lirihnya membuat seseorang itu merasa khawatir dengan keadaannya.
"Baekhyun, tenanglah. Ini aku Chanyeol" Chanyeol membawa Baekhyun kedalam pelukannya untuk memberikan ketenangan. Namun Baekhyun malah semakin gemetar dan meronta mencoba mendorong Chanyeol menjauh.
"T-tidak.. L-lepaskan aku.."
"Ini aku Chanyeol, Baek. Dan aku tidak akan menyakitimu. Kau akan aman bersamaku" ucapnya meyakinkan Baekhyun. Tangannya mengusap punggung Baekhyun agar tenang dan bibirnya ia bawa untuk mengecup pucuk kepala si mungil.
"C-Chanyeol.. Hiks..." Baekhyun terisak dalam dekapan Chanyeol, ia mencengkeram lengan lelaki itu menunjukkan bahwa ia sedang ketakutan sekarang.
"C-Chanyeol... B-bawa aku.. Hiks... P-pergi..." Chanyeol tersentak mendengar permintaan Baekhyun. Apa yang sedang lelaki mungil itu alami hingga memintanya untuk membawa dirinya pergi. Dan satu hal lagi, kenapa Baekhyun tidak mendatangi Sehun saja. Atau mereka berdua sedang bertengkar?
Ia bisa menanyakan hal itu nanti saja, sekarang ia harus membawa si mungil pergi seperti permintaannya.
.
.
.
The Dark Side of My Life
.
.
.
Chanyeol membaringkan tubuh kurus Baekhyun diranjangnya. Lelaki mungil itu tiba - tiba tertidur dimobilnya setelah menangis sesegukan. Mungkin ia kelelahan. Dan Chanyeol membawanya ke apartement yang sebenarnya jarang ia tempati. Ia hanya tidak tau saja mau membawa Baekhyun kemana.
Chanyeol menatap paras Baekhyun yang rupawan. Wajah kecil itu tampak pucat namun tak melunturkan kecantikannya. Dan Chanyeol sungguh beruntung untuk menapakkan punggung tangannya mengelus pipi halus itu.
"Aku tidak tau apa yang terjadi padamu. Tapi aku akan melindungimu, Baekhyun" ia berucap tulus dengan merendahkan tubuhnya mengecup kening Baekhyun. Dan setelahnya mengusap rambut Baekhyun keatas untuk menyingkirkan helaian yang menutupi mata tajamnya.
Baekhyun melenguh dalam tidurnya. Merasa seseorang mengganggunya. Ia membuka mata dan mengedarkan pandangannya melihat sekeliling ruangan. Ini bukan kamarnya, dan seketika ia membulatkan matanya merasa panik kembali. Namun Chanyeol yang sedari tadi duduk disamping ranjang sambil menatapnya itu segera menenangkan Baekhyun dengan dekapan hangatnya. Nafas Baekhyun tersenggal - senggal meredakan rasa paniknya. Mencoba mengingat - ingat apa yang terjadi.
"Chanyeol?" tanya Baekhyun yang mulai tersadar.
Chanyeol mengusap kepala dan punggung Baekhyun lembut. "Ya, ini aku Chanyeol" jawabnya meyakinkan pertanyaan Baekhyun.
Baekhyun mendongakkan kepala menatap Chanyeol yang dibalas tatapan mata juga oleh lelaki tinggi itu. "Kau membawaku kemana?"
"Ini di apartementku, Baek. Kau akan aman disini" mengusap pipi halus Baekhyun, yang membuat si mungil menahan degupan jantungnya.
"Kau lapar? Aku akan memasakkan makanan untukmu" tanya Chanyeol lembut dan Baekhyun menganggukkan kepalanya dengan senyuman tipis.
"Tunggu disini sebentar" dan setelahnya Chanyeol keluar dari kamar yang ditempati Baekhyun.
Baekhyun sangat bersyukur bertemu dengan Chanyeol dan membuat lelaki tinggi itu menolongnya. Tapi ia tidak bisa memungkiri kalau ia gelisah sekarang. Bagaimana jika ayahnya mencarinya? Oh itu pasti. Ayahnya pasti mencarinya. Tapi bagaimana jika ayahnya mendatangi Sehun dan mencelakainya? Baekhyun sangat berharap Tuhan melindungi Sehun dari ayahnya saat ini.
Baekhyun turun dari ranjang dan berjalan kearah dapur untuk membantu Chanyeol memasak. Ia setidaknya tidak ingin merepotkan Chanyeol secara berlebihan. Sudah syukur Chanyeol mau memberikan tumpangan padanya.
"Hei.." Baekhyun berdiri disamping Chanyeol yang sedang memotong - motong sayuran. Tinggi tubuh mereka terlihat kontras. Membuat Baekhyun serasa menciut.
"Hei.. Sudah merasa lebih baik?" Chanyeol menyempatkan untuk menggenggam tangan Baekhyun dan memberi sedikit elusan.
"Memangnya aku kenapa? Aku baik - baik saja"
"Katakan itu pada seseorang yang berteriak ketakutan ketika kupanggil" Baekhyun berdecih mendengar ejekan Chanyeol namun kemudian ia tersenyum manis pada lelaki itu. Ia menunduk melihat tangannya yang masih digenggam oleh Chanyeol. Terasa hangat meskipun hanya sebuah genggaman tangan.
"Chanyeol, terima kasih" ucap Baekhyun dengan tulus. Ia mungkin saat ini berada dijalanan dengan beberapa lelaki bertubuh kekar suruhan ayahnya yang mengejarnya jika saja Chanyeol tidak datang dan membawanya kemari.
"Apapun untukmu, Baek. Aku akan melindungimu dari orang - orang yang menyakitimu" Baekhyun merona dengan penuturan itu. Dulu Sehun juga mengucapkan kalimat itu. Tapi itu tidak berefek apapun pada jantungnya. Namun kini berbeda jika Chanyeol yang mengucapkannya. Seolah ia bertanya darimana datangnya kupu - kupu yang berterbangan diperutnya?
"Aku tidak tau kalau kau sebaik ini" Baekhyun mendongak untuk menatap Chanyeol. Namun seketika ia merasa jantungnya kembali berdegup kencang ketika tatapan Chanyeol juga mengarah padanya. Mengunci tatapan mereka dan membawanya untuk menyelami diri masing - masing.
Chanyeol tidak tau bagaimana bisa Baekhyun memiliki mata yang begitu indah dan seolah menjeratnya untuk menyelaminya. Ia meletakan pisau yang berada di tangannya begitu saja. Kedua tangannya beralih merengkuh pipi Baekhyun untuk menempelkan bibir mereka. Memberikan lumatan - lumatan menuntut pada bibir atas Baekhyun. Ini sangat gila, hanya dengan menatap matanya ia bisa sekacau ini hingga berani berbuat kurang aja pada si mungil. Sementara Baekhyun sedikit banyak terkejut dengan ciuman tiba - tiba itu. Bibirnya seolah dimanjakan walaupun pergerakan Chanyeol terbilang kasar dan menuntut. Namun ia mencoba mengimbanginya, membalas lumatannya dengan tergesa - gesa. Entah apa yang mereka pikirkan melalui tatapan mata hingga membuat mereka melakukan ciuman yang intens.
Chanyeol menuntun Baekhyun menuju meja makan tanpa melepaskan ciuman mereka. Ia sedikit menunduk untuk mengangkat Baekhyun membaringkannya diata meja. Sementara Baekhyun melingkarkan tangannya merengkuh leher Chanyeol menariknya lebih dekat dan memperdalam ciuman mereka.
Tangan Chanyeol turun pada bongkahan pantat berisi Baekhyun. Meremasnya dengan gerakan teratur membuat tubuh Baekhyun sedikit terdorong - dorong karena remasan itu. Baekhyun melepaskan ciuman mereka untuk meloloskan desahannya.
"Eunghh... Chanhh... " Chanyeol benar - benar bernafsu sekarang. Ia menatap Baekhyun untuk meminta persetujuan. Namun ia harus menelan kekecewaan ketika Baekhyun menggelengkan kepala.
Baekhyun menggeleng, menolak keinginan Chanyeol. Ia tau Chanyeol sudah menegang sekarang dan itu sangat sakit. Dan ia juga tau kalau Chanyeol sudah berbaik hati menolongnya. Tapi ia masih belum mempercayai lelaki itu dan memberikan tubuhnya begitu saja. Ia bukan lelaki yang mudah, ia bukan lelaki yang akan memberikan tubuhnya pada siapa saja untuk dinikmati.
"Baekhyun.." Chanyeol berucap lirih seolah memaksa Baekhyun menuruti keinginannya.
"Aku tidak bisa... Maafkan aku" Baekhyun sedikit mendorong tubuh besar Chanyeol untuk menjauhinya. Ia menunduk menghindari tatapan memohon Chanyeol dan memilih untuk kembali ke kamar yang tadi ia tempati.
Chanyeol menggeram kesal dengan penolakan Baekhyun. Baekhyun mendesah dengan sentuhannya, jadi seharusnya lelaki mungil itu memberikan sedikit kepuasaan untuknya. Kesejatiannya sudah menegang sekarang, ia bisa saja memperkosa Baekhyun saat ini juga. Tapi dia tidak ingin Baekhyun membencinya hanya karna hasrat bodohnya.
.
.
.
The Dark Side of My Life
.
.
.
BUGH!!.
Sebuah kepalan tangan seorang lelaki paruh baya mendarat di rahang tegas bawahannya. Merasa emosi dengan cara kerja yang tidak becus itu.
Byun Donghae mendapat laporan dari bawahannya yang menjaga area rumahnya bahwa Baekhyun baru saja berhasil kabur dari rumah. Ia segera meninggalkan pekerjaan dikantor dan tancap gas untuk pulang.
"BAGAIMANA BISA KALIAN MEMBIARKANNYA KELUAR RUMAH!!" teriakannya menggema. Orang - orang berbadan kekar itu menundukkan kepala takut sekaligus menghormati tuannya.
"Maafkan kami, tuan. Tapi tadi tuan muda Baekhyun--"
"AKU TIDAK PEDULI DENGAN ALASAN KALIAN!! CEPAT PERGI DAN CARI BOCAH SIALAN ITU SAMPAI KETEMU!!" mereka mengangguk cepat dan segera melakukan perintah dari tuannya jika masih sayang nyawa.
Nafas Donghae naik turun meredakan emosi. Bagaimana bisa Baekhyun bisa kabur dengan mudah jika bukan karna kecerobohan anak buahnya yang bodoh itu. Tapi ia tidak perlu cemas dengan kaburnya Baekhyun. Karna ia tau Baekhyun akan kembali padanya jika ia diberi umpan.
"Oh Sehun" seriangan menakutkan tersungging dibibirnya. Ini akan menjadi menarik dengan menjadikan Oh Sehun sebagai umpan.
.
.
.
The Dark Side of My Life
.
.
.
Sehun berbaring disofa sambil menonton tv tak minat. Ia benar - benar bosan jika tidak ada Baekhyun disini. Biasanya Baekhyun akan menemaninya menonton tv dengan tangan lentiknya yang mengelus pipinya.
"Ahh, aku merindukan Baekhyun~" Sehun menggerutu sambil melonjak - lonjakan kakinya gemas.
Baru saja ia berniat menghubungi si obyek kerinduannya. Suara bel pintu apartementnya berbunyi. Ia tidak pernah mendapat tamu sebelumnya kecuali Baekhyun dan teman - temannya. Tapi jika Baekhyun, lelaki mungil itu pasti langsung masuk tanpa perlu menekan bel.
Sehun berdiri untuk membukakan pintu. Namun tiba - tiba pukulan telak mendarat dirahangnya hingga ia tersungkur ke lantai. Kedua tangannya digeret dengan paksa oleh dua orang pria berbadan kekar.
"Apa yang kau lakukan disini!" sehun menggeram melihat kehadiran ayah Baekhyun di apartementmya.
Donghae berjongkok dihadapan Sehun. Dan kepalan tangannya ia layangkan bertubi - tubi pada wajah Sehun. Menghancurkan wajah tampan itu. Sehun tidak bisa mengelak ataupun balas memukul karna kedua tangannya yang dicekal oleh anak buah Donghae.
"Dimana kau menyembunyikan Baekhyun?" Donghae bertanya tentang tujuannya tanpa berbasa - basi. Pandangannya ia bawa untuk meneliti Sehun dari ujung kaki hingga kepala.
"Kau pikir aku akan memberitaumu?"
Bugh!!.
Satu pukulan lagi Sehun dapatkan atas jawabannya yang menurut Donghae menyebalkan. Wajah tampan Sehun kini sudah dipenuhi memar dan darah membuat Sehun sedikit meringis sakit.
Donghae menggeledah tubuh Sehun untuk mencari sesuatu, hingga ia menemukan ponsel lelaki putih itu. Jari Donghae bergerak cepat mencari nama Baekhyun lalu melakukan panggilan dengannya.
Tak butuh waktu lama untuk Baekhyun menjawab panggilannya dari ponsel Sehun. Suara lembut anak tercintanya itu mengalun.
'Sehun.. Aku merindukanmu...'
Sehun membelalakan matanya ketika Baekhyun mengangkat panggilan itu. Ia memberontak untuk merebut ponselnya. Namun anak buah sialan itu bergerak cepat memukul tengkuknya hingga kepalanya terantuk kedepan.
.~lllll~.
Baekhyun meraih ponselnya ketika mendapat panggilan dari Sehun. Ia tiba - tiba saja merindukan lelaki putih itu.
"Sehun... Aku merindukanmu..." Baekhyun menjawab panggilan itu dengan hati berbunga - bunga.
'Siapa yang kau rindukan, anak manis?'
Deg!.
Baekhyun menegakkan tubuhnya. Ini bukan suara Sehun, ini suara ayahnya. Ia menjauhkan ponselnya dari telinga untuk membaca nama si pemanggil. Nama dan nomor Sehun tertera jelas, tapi bagaimana bisa ayahnya yang menjawabnya.
"A-ayah..." ucapnya ragu - ragu.
Panggilan telepon itu terputus tiba - tiba dan tak lama setelah itu panggilan video dari nomor Sehun kembali datang. Ia menggeser icon berwarna hijau itu dengan cepat. Dan wajah ayahnyalah yang menghiasi layar pertama kali.
"Ayah.." panggilnya dengan panik. Apa yang dilakukan ayahnya terhadap Sehun.
'kau penasaran dengan apa yang terjadi pada kekasihmu, hm?'
Ayahnya menyunggingkan seringaian dan suara dominan yang menyudutkan Baekhyun itu terdengar. Baekhyun menutup mulutnya bersamaan dengan air matanya yang tiba - tiba menetes ketika layar ponselnya berganti menampilkan keadaan sehun yang kedua tangannya dicekal anak buah ayahnya dan wajah tampan sehun yang dipenuhi luka.
Kepalan tangan anak buah ayahnya itu mendarat dirahang Sehun berkali - kali hingga Sehun tersungkur dan terbatuk - batuk memuntahkan darah dari mulutnya. Terlihat jelas dimata Baekhyun.
"Sehun!!! Hiks..." ia berteriak memanggil Sehun dengan diselingi isak tangisnya.
'Kekasihmu ini bisa saja kehilangan nyawanya jika kau tidak datang kemari sekarang juga, manis'
'Tidak Baek!! Jangan datang!! Pergilah sejauh mungkin!! Aku tidak apa - apa!!'Sehun mendapat pukulan lagi ketika menghalangi rencana ayahnya. Sehun bahkan masih bisa - bisanya mengkhawatirkan dirinya disaat ia sedang terluka.
Dan panggilan video itu diputus ayahnya. Baekhyun segera berlari keluar dari kamar dan berniat membuka pintu apartement namun tangannya ditahan oleh Chanyeol. Chanyeol sedikit terkejut ketika melihat wajah Baekhyun yang berurair air mata.
"Lepaskan aku.. Hiks.." Baekhyun meronta dalam genggaman Chanyeol. Satu tangannya bahkan ia gerakan untuk memukul - mukul lengan Chanyeol.
"Baekhyun, ada apa denganmu?!" Chanyeol sedikit berteriak agar Baekhyun sadar.
"Cepat.. Hiks.. Lepaskan aku.. Aku harus pergi... Hiks..Sehun... Hiks..." Baekhyun benar - benar merasa panik sekaligus khawatir sekarang. Ia berpikir jika ia terlamat satu detik saja nyawa Sehun bisa melayang.
"Kenapa dengan Sehun?" ada nada tidak suka dalam pertanyaan Chanyeol.
"SEHUN AKAN MATI DITANGAN AYAHKU!!" dan Baekhyun mengeluarkan kecemasannya dengan membentak Chanyeol membuat Chanyeol tertegun.
"Aku akan mengantarmu"
Chanyeol mengambil kunci mobilnya dan menarik tangan Baekhyun segera menuju tempat mobilnya terparkir.
Baekhyun masih menangis kencang hingga dadanya sedikit sesak mengkhawatirkan keadaan Sehun.
.
.
.
The Dark Side of My Life
.
.
.
Baekhyun membuka pintu apartement Sehun dan masuk dengan tergesa - gesa diikuti Chanyeol dibelakangnya.
Diruang tengah ia bisa lihat ayahnya berdiri dihadapan Sehun yang sudah dipenuhi luka. Kaki ayahnya itu sesekali menendang perut Sehun. Membuatnya memekik menghentikan kegiatan itu.
"SEHUN!!" teriaknya, Baekhyun berlari menghampiri Sehun dan segera membawa Sehun kepelukannya. Ia menangis tersedu - sedu melihat Sehun yang melemah.
"Sehun... Hiks... Maafkan aku.. Hiks.. Maafkan aku.." ini salahnya. Jika saja ia tidak kabur dan menuruti ucapan ayahnya, Sehun tidak akan terluka. Ia baru merasa menyesal sekarang.
Sehun tidak mengeluarkan suara apapun kecuali erangan kesakitan. Tangannya yang sudah terlepas dari cekalan itu terangkat membalas pelukan Baekhyun. Ia membenamkan wajahnya diceruk leher Baekhyun. Meredakan rasa sakitnya agar tidak membuat Baekhyun khawatir walaupun ia masih terbatuk - batuk dengan darah yang merembes keluar mengenai Baekhyun.
Pemandangan mengharukan itu tertangkap oleh mata bulat Chanyeol. Ia merasa kasihan sekaligus sedikit cemburu ketika Baekhyun begitu mengkhawatirkan Sehun. Bahkan lelaki mungil itu sampai menangis kencang.
"Sepertinya aku tidak perlu menyeretmu pulang. Kau akan menghadap padaku dengan sendirinya" ucapan Donghae membuyarkan suasana. Baekhyun meregangkan pelukannya dengan Sehun untuk menoleh menatap tajam ayahnya. Ayahnya ini sudah benar - benar keterlaluan dengan melibatkan Sehun dalam kegilaannya.
"Aku akan membunuhmu, brengsek!!" Baekhyun menggertakan giginya dan tawa Donghae meledak mendengar kalimat ancaman dari anaknya itu.
"Sebelum kau membunuhku, aku akan membunuh bocah sialan ini terlebih dahulu" Donghae membalas ancaman Baekhyun dengan menginjak kuat pergelangan kaki Sehun dan menekannya hingga suara retakan tulang terdengar. Baekhyun memekik kembali melihat itu.
"Arrghh!!" Sehun berteriak kesakitan dan melampiaskannya pada pinggang Baekhyun. Mencengkeram pinggang Baekhyun menunjukkan kalau ia sedang kesakitan. Ia merasa tulangnya patah.
"AYAH!! HENTIKAN!! AKU AKAN KEMBALI PADAMU!!" Baekhyun berteriak frustasi. Teriakan kesakitan Sehun seolah menyadarkannya untuk tidak bermain - main dengan ayahnya.
Donghae melepaskan injakan kakinya pada pergelangan kaki Sehun. Ia menyeringai senang dengan ucapan anaknya.
"Aku akan menunggumu dirumah, anak manis" setelah mengucapkan itu, Donghae pergi meninggalkan apartement Sehun bersama anak buahnya.
Chanyeol yang sedari tadi terdiam tidak mengetahui apapun itu segera menghampiri Baekhyun dan juga Sehun.
"Sehun.. Hiks..." Baekhyun memanggil lirih ketika dirasa Sehun sedang diambang batas kesadaran. Chanyeol meraih tubuh Sehun menuntunnya berbaring diatas ranjang. Dan ia segera menghubungi dokter untuk memberikan Sehun perawatan.
"Sehun akan baik - baik saja, Baek" Chanyeol menarik tubuh Baekhyun untuk dibawa kedekapannya. Menenangkan si mungil agar berhenti menangis.
Baekhyun mencengkeram kaos yang dikenakan Chanyeol. "Seharusnya aku tidak pergi, seharusnya aku menuruti ucapannya, seharusnya aku tidak bertindak bodoh" meracau dalam tangisannya membuat Chanyeol dapat merasakan kesakitan yang sama.
Baekhyun begitu mengkhawatirkan Sehun. Dalam lubuk hati Chanyeol ia ingin sekali menjadi Sehun yang bisa dikhawatirkan si mungil dengan begitu tulusnya.
.
.
.
The Dark Side of My Life
.
.
.
10 menit yang lalu Sehun selesai mendapat perawatan dari dokter yang Chanyeol hubungi. Dokter itu mengatakan bahwa Sehun mengalami pergeseran tulang pada pergelangan kakinya. Yang akan membuatnya susah untuk berjalan. Sedangkan luka - luka diwajah hanya perlu diberi salep untuk meredakan memarnya.
Baekhyun menggenggam tangan Sehun dan satu tangannya yang lain mengusap - usap rambut lelaki putih yang sedang menyunggingkan senyum lemah padanya. Chanyeol baru saja pergi setelah menerima panggilan telepon, jadi ia hanya berdua saja dengan sehun sekarang.
"Maafkan aku" Baekhyun berucap minta maaf sekali lagi dan dibalas gelengan oleh Sehun.
"Seharusnya aku membawamu pergi dan kita tidak akan mengalami ini" tangan Sehun terulur mengusap pipi Baekhyun yang kembali dibanjiri air mata.
"Tidak, Sehun. Aku tidak akan bisa kabur darinya. Dia bisa dengan mudah menemukanku"
"Aku akan membawamu ke pulau strawberry seperti keinginanmu" guraunya menimbulkan kekehan dari bibir Baekhyun. Baekhyun meraih tangan Sehun yang berada dipipinya. Menggenggamnya dan memberikan kecupan dipunggung tangan putih itu.
Sehun tidak peduli kalau tubuhnya dipenuhi luka sebanyak apapun asalkan lelaki mungil tercintanya ini bisa selamat dan mengeluarkan tawa lebarnya lagi.
"Aku menantikannya" balas Baekhyun dengan gurauan juga.
.
.
.
The Dark Side of My Life
.
.
.
Chanyeol duduk termenung dikursi taman. Ia tidak sendiri, disampingnya ada Baixian yang juga melakukan hal sama dengannya. Baixian menghubunginya dan memintanya untuk menemuinya ditaman ini. Keduanya terdiam tanpa mengeluarkan suara.
Hingga beberapa menit kemudian Baixian memulai percakapannya. "Kau melupakan janjimu untuk makan malam denganku" ucapnya yang membuat Chanyeol membelalakan matanya.
Chanyeol baru ingat seharusnya hari ini ia dan Baixian pergi makan malam seperti yang mereka rencanakan. Sebenarnya tadi ia sudah berangkat untuk menjemput Baixian, namun ia bertemu dengan Baekhyun dan seketika ia lupa dengan Baixian begitu saja.
"Aku benar - benar minta maaf, Baixian" Chanyeol menghadap kearah Baixian dan membawa kedua tangan kecil itu untuk digenggam. Ia sedikit menyesal karena melupakannya.
"Tapi aku tadi bertemu dengan teman lamaku dijalan saat ingin menjemputmu" ucapnya beralasan. Ia tidak mungkin berkata jujur kalau ia bertemu dengan Baekhyun dan memberitau apa yang terjadi pada ayah dan adiknya.
"Kau melupakanku hanya karena bertemu teman lama? Lalu kenapa tidak menghubungiku agar aku tidak perlu menunggumu, Chanyeol" Chanyeol merutuki dirinya, ia terlalu bodoh untuk mencari alasan.
"Maafkan aku" hanya itu yang bisa ia ucapkan. Karna ia benar - benar merasa bersalah.
Chup!.
Chanyeol membulatkan matanya ketika merasakan benda lunak menyentuh bibirnya. Apa ia bisa mempercayai ini? Baixian menciumnya?
Baixian menapakan tangannya pada pundak Chanyeol dengan bibirnya yang masih menempel pada lelaki tinggi itu. Matanya terpejam dan mulai menggerakan bibirnya untuk melumat bibir Chanyeol dengan gerakan yang kaku. Ini adalah ciuman pertamanya dan ia tidak tau apa yang harus dilakukan ketika berciuman.
Baixian takut jika Chanyeol akan mendorongnya dengan kasar atau bahkan mengatainya jalang karena sudah dengan berani menciumnya. Namun yang ia dapat adalah rengkuhan erat pada pinggangnya dan bibirnya yang dilumat dengan lembutnya oleh Chanyeol.
Chanyeol melumatnya lembut dan menuntun Baixian untuk melakukan hal yang sama dengannya. Menggigit kecil bibir tipis itu dan menyerukkan lidahnya masuk kedalam mulut Baixian. Menyentuh lidah si mungil untuk ia ajak berperang. Namun tentu Baixian membalasnya dengan kaku. Ia hanya mengikuti insting dan mencoba mengimbangi permainan Chanyeol.
Hingga ia mendorong pelan pundak Chanyeol saat dirasa nafasnya menipis. Ia menatap Chanyeol yang juga menatapnya dengan senyuman manis. Ia menarik nafas dalam sebelum mengucapkan kalimat yang membuat Chanyeol tersentak.
"Aku mencintaimu, Chanyeol" tatapan tak percaya sekaligus terkejut itu terpancar dari mata Chanyeol.
"Jadilah kekasihku" Chanyeol bahkan melepaskan tangannya dari pinggang Baixian. Ia tidak memprediksi hal ini sebelumnya. Ia hanya mengira Baixian marah dan ia hanya perlu meminta maaf. Namun yang ia dapat adalah pernyataan cinta dari si mungil.
"Baixian, aku... "
.
.
.
teeebeeeceee
.
.
.
Chanyeol mau jawab apa nih???. terima gk yaaa..
eh kalian gk pengen gitu nyumbangin ide atau req cerita Chanbaek ke aku? :((. aku pengen nulis cerita lain lagi, tapi aku belum dapet ide :((. aku payah soal mencari ide sebenernya, aku cuma bisa ngembangin aja.
kalau ada ntar aku usahain nulis ceritanya. biar gk gampang bosen buat lanjutin fic yang ini gitu...
okay, next chap bakalan drama banget kayaknya/?
