Sepatu ber hak sekitar 3 cm berjalan tergesa - gesa menciptakan bunyi keletukan yang menggema di koridor bangunan tinggi perusahaan suaminya. Sooyeon tampak merengut dengan emosi yang bisa meledak kapan saja. Sapaan hormat dari pegawai - pegawai itu tak sedikitpun ia pedulikan.
Sooyeon membuka pintu ruangan direktur dengan gebrakan keras membuat seseorang yang berada didalamnya berjengit terkejut.
"Sooyeon, apa kau tidak bisa mengetuk--"
"Apa maksudmu mengganti nama pewarismu dengan nama Baekhyun?!!" sooyeon menyela ucapan suaminya. Inilah tujuannya datang menemui suaminya langsung dikantornya.
"..." Donghae diam memalingkan wajahnya tanpa mau menjawab pertanyaan istrinya.
"Kita sudah sepakat kalau seluruh hartamu akan menjadi milik Baixian. Tapi kenapa sekarang kau merubahnya?! Kau tidak bisa seperti ini, Donghae!!"
Brak!!
Donghae menggebrak mejanya penuh emosi mendengar teriakan istrinya. Ia menatap tajam Sooyeon yang tampak tidak takut sedikitpun.
"Ahh, kenapa aku baru paham sekarang. Kau menikmati tubuh bocah sialan itu dan tentu saja kau membayarnya dengan warisanmu"
"Tutup mulutmu, sialan!!"
Sooyeon berjalan mendekat menghampiri suaminya dengan menyunggingkan seringaian mengejek. Jemari lentiknya ia gerakan untuk membetulkan dasi Donghae yang terlihat acak - acakan itu.
"Sepertinya aku perlu memberitaukan sesuatu pada publik..." ia berjinjit menggapai bibir Donghae untuk ia berikan kecupan.
"Tentangmu... Dan tentang kegilaanmu pada si kecil Baekhyun" setelah mengucapkan itu Sooyeon pergi meninggalkan ruangan begitu saja tanpa peduli Donghae sedang bergetak marah.
The Dark Side of My Life
Byun Baekhyun
Park Chanyeol
Oh Sehun
Chapter 5
"Aku mencintaimu, Chanyeol" Chanyeol melepaskan rengkuhannya pada pinggang Baixian. Ia tidak memprediksi hal ini sebelumnya. Ia mengira Baixian marah dan ia hanya perlu meminta maaf. Namun yang ia dapat adalah pernyataan cinta dari si mungil.
"Baixian, aku... " ia bingung ingin menjawab apa dengan ucapan Baixian. Ini terlalu mengejutkan untuknya.
Baixian menatapnya dengan pandangan sendu persis seperti Baekhyun ketika bertatapan mata dengannya, dan itu melemahkan Chanyeol. Ia tanpa sadar menggerakan tangannya merengkuh kedua pipi Baixian dan menatapnya serius.
"Aku juga mencintaimu..."
Dam Baixian meneteskan air matanya yang sedari tadi ia tahan. Ia terlalu senang dengan kalimat cinta yang Chanyeol lontarkan. Baixian bergerak memeluk Chanyeol erat dan menyerukkan wajahnya didada si lelaki tinggi. Terlalu senang tanpa mengetahui raut wajah Chanyeol yang tak terbaca.
Baekhyun. Batinnya tiba - tiba saja menyerukan nama itu.
Chanyeol membalas pelukan Baixian, mengusap lembut punggung sempit itu.
"Hei, kau menangis?" Chanyeol sedikit merenggangkan pelukannya untuk menatap Baixian yang wajahnya berurai air mata. Tangannya tergerak untuk menyeka air mata itu.
"Berhentilah menangis. Aku tidak ingin kekasihku berurai air mata seperti ini" ucapnya lembut yang sangat menghangatkan hati Baixian.
"Terima kasih, Chanyeol" ucap Baixian dengan isak tangisnya. Chanyeol hanya mengangguk dan membawa kembali si mungil dalam rengkuhannya.
Maafkan aku, Baixian.
e)(o
Waktu sudah hampir siang hari, namun itu tak menjadikan alasan bagi Sehun dan Baekhyun untuk bangkit dari ranjang berukuran besar. Keduanya tampak menikmati waktu dengan bergelung diri.
Sehun memeluk tubuh mungil Baekhyun dari belakang dengan kedua tangan mereka yang saling bertautan memainkan jari jemari. Terkadang Baekhyun membawa jemari Sehun yang ia genggam untuk mengecupinya dan mengusap - usapkannya dipipi. Terlihat sangat manja dan Sehun hanya terkekeh pelan dengan itu.
"Ini sudah siang, kau tidak ingin bangun?" Sehun bertanya setelah diam cukup lama.
Baekhyun menggeleng cepat sama sekali tidak berniat untuk bangun dan melepaskan dekapan hangat Sehun. "Kau sedang sakit, jadi aku mau seperti ini terus sampai kau sembuh"
"Aku tidak apa - apa, sayang. Justru aku harus sering - sering bergerak agar kakiku cepat pulih" Baekhyun murung mendengar ucapan Sehun. Ia jadi semakin bersalah padanya
"Maaf, Sehun. Karna aku kau jadi terluka"
"Lihat. Kau meminta maaf lagi" dan Baekhyun merenggangkan tautan tangannya sambil menunduk dalam.
"Sudahlah jangan membahasnya" Sehun menarik Baekhyun untuk berhadapan dengannya. Sedikit merunduk mengecup kening lelaki kecil itu.
"Baek--" ucapan Sehun harus terpotong dengan suara nyaring yang berasal dari ponsel Baekhyun.
Baekhyun segera mendudukan dirinya disisian ranjang untuk mengecek ponselnya.
Park Chanyeol.
Nama itu terpampang jelas dilayar ponselnya. Ia menimang, apakah ia harus mengangkatnya didepan Sehun dan membuat lelaki itu marah?
"Kau tidak ingin mengangkatnya?" pertanyaan Sehun itu membuat Baekhyun terkejut. Ia menoleh kearah Sehun dengan gugup.
"Ti-tidak" Baekhyun meletakan ponselnya begitu saja dan bersiap kembali berbaring disamping Sehun. Namun ponselnya kembali berdering. Kali ini Chanyeol mengiriminya pesan.
'Kau ada waktu? aku ingin bertemu denganmu'
Baekhyun reflek menyentuh pipinya yang tiba - tiba merona dan senyuman tipisnya tersungging. Membuat Sehun mengernyit dengan reaksi itu.
"Siapa?" ia bertanya hati - hati. Tak ingin menebak siapa yang menghubungi Baekhyun hingga Baekhyun bereaksi seperti seorang gadis.
"Eh?" Baekhyun segera tersadar. "Ibuku" jawabannya asal tanpa berpikir panjang. Ia menatap Sehun ragu - ragu. Dan anggukan Sehun membuatnya bernafas lega.
Sehun tentu tau Baekhyun sedang membohonginya. Mengingat bagaimana hubungan lelaki kecil itu dengan ibunya seperti apa. Dan jangan lupakan Baekhyun yang memblokir kontak ibunya.
"Sehun. Sepertinya aku harus pulang. Ibuku menyuruhku pulang sekarang" dan Baekhyun tidak akan menuruti perintah ibunya begitu saja. Sehun hanya mengangguk memberi jawaban tanpa ingin menaruh rasa curiga pada Baekhyun.
e)(o
Dan disinilah Baekhyun berada. Duduk disebuah cafe dengan kedua tangannya yang tertaut gugup. Didepannya ada Chanyeol yang menatapnya dengan senyuman. Semakin membuat wajah Baekhyun merona dan jantungnya yang sedari tadi berdebar dengan menyenangkan.
Baekhyun mengangkat sedikit wajahnya untuk menatap Chanyeol. "Eee... Apa kau akan menatapku seperti itu terus?" tanyanya berusaha bersikap seperti biasanya.
Chanyeol tertawa kecil sebelum menjawab "Aku suka memandangimu. Sangat cantik" yang membuat Baekhyun mengulum bibirnya menahan agar tidak tersenyum didepan Chanyeol.
"Bagaimana keadaanmu? Apa kau terluka?" Baekhyun sedikit bingung dengan pertanyaan Chanyeol. Namun kemudian ia paham apa yang sedang dibicarakan lelaki didepannya.
"Bukan aku yang terluka. Tapi Sehun" jawabnya. Chanyeol tercengang sendiri merutuki pertanyaan bodohnya. Ia jelas tau siapa yang babak belur karena kejadian kemarin.
"Ahh, benar. Maksudku bagaimana keadaannya?" tanyanya kembali dengan enggan.
"Sehun mengalami pergeseran tulang dipergelangan kakinya. Jadi ia susah berjalan untuk sekarang" Chanyeol hanya mengangguk tanpa minat. Entahlah, ia hanya tidak suka saja jika harus membahas Sehun saat dirinya sedang mencoba menikmati waktu berdua dengan Baekhyun.
Pandangan Chanyeol tertuju pada sesuatu yang dikenakan Baekhyun. Itu adalah kalung pemberiannya. Dan Baekhyun masih memakainya, tentu itu membuatnya tersenyum senang.
"Kau masih mengenakannya?" Baekhyun menunduk mengikuti arah pandang Chanyeol dan tangannya reflek menggenggam liontin kalungnya.
"Tentu. Ini pemberianmu" ia tersenyum sangat manis kearah Chanyeol yang dibalas senyuman juga oleh lelaki tinggi itu. Tampak mereka berdua seperti dua orang remaja yang sedang melakukan pendekatan tanpa tau bahwa status Chanyeol yang sekarang sudah menjadi milik orang lain. Terlebih itu adalah saudara kembar Baekhyun sendiri.
Mengingat itu Chanyeol tersenyum miris. Tidak seharusnya ia bersikap seperti ini dibelakang Baixian. Diam - diam menemui Baekhyun dan melakukan pendekatan padanya.
"Apa kau akan pulang kerumah setelah ini?" Baekhyun terdiam. Ia ingat perkataan ayahnya yang menyuruhnya kembali kerumah jika tidak ingin Sehun terluka lagi. Tapi ia juga belum siap untuk kembali kepada ayahnya dan mendapat siksaan lagi.
"Baekhyun..." sedikit terkejut ketika kedua tangan kecilnya digenggam oleh Chanyeol. Ia mendongak menatap lelaki tinggi itu dengan sendu.
"Kau bisa tinggal di apartementku jika kau mau"
Ia menggeleng dengan senyuman tipis. "Tidak perlu, Chanyeol. Aku akan pulang kerumah"
"Kau yakin kau akan baik - baik saja"
"Tentu" Baekhyun bohong. Ia hanya tidak ingin ada yang terluka lagi dengan larinya dirinya.
"Baiklah. Aku akan mengantarmu pulang"
e)(o
Malam ini Baekhyun kembali ke rumahnya. Tapi ia memiliki tujuan lain. Bukan untuk kembali menjadi boneka ayahnya.
Baekhyun melirik jam tangannya. Pukul 9 malam. Ayahnya pasti sudah pulang dan berada di ruang kerjanya. Ia menarik bajunya kebawah, menutupi sesuatu yang ia sembunyikan didalam saku celananya.
Donghae ada didalam. Duduk di sofa besar dengan lembaran kertas yang sedang dibaca. Tak menyadari kehadiran Baekhyun.
"Ayah.." Baekhyun memanggil ayahnya, tak lupa ia menyunggingkan senyuman manis. Donghae menoleh kearahnya dan menyuruh Baekhyun mendekat.
"Ayah belum tidur?" tanyanya berbasa - basi. Dan dengan sengaja ia mendudukan dirinya diatas pangkuan ayahnya. Mengusap - usap dada bidang Donghae yang terbalut piama.
Donghae tidak menampakan raut terkejut sedikitpun dengan perlakuan Baekhyun yang tidak biasanya. Jika biasanya Baekhyun akan berteriak kencang jika ia mendekat, kini berbalik Baekhyun sendiri yang mendekat seolah menyerahkan diri padanya.
"Ayah merindukanmu" tangan Donghae menelusup kedalam baju yang Baekhyun kenakan. Mengusap punggung mulus anaknya dengan mata yang menatap anaknya memuja.
Baekhyun mendekat, merunduk untuk menempelkan bibirnya pada bibir ayahnya. Ia tersenyum disela ciumannya yang dibalas kekehan pelan oleh Donghae. Membiarkan ayahnya mendominasi dan terhibur dengan ciumannya. Sementara tangannya bergerak mengambil sesuatu disaku belakang celananya.
Itu pisau, sebuah pisau kecil yang tajam. Baekhyun bergerak perlahan dan mengarahkan ujung pisau itu pada dada ayahnya. Menikam Donghae dengan tangannya sendiri.
Namun ia gagal, tangan Donghae bergerak cepat menahannya. Menyeringai sinis melihat Baekhyun yang sedang terkejut.
"Kau pikir aku bodoh?" Donghae menyentak tangan Baekhyun hingga pisau yang dipegangnya terlempar jauh. Baekhyun ketakutan sekarang. Seharusnya ia memperhitungkan ini, ayahnya bukanlah orang yang bodoh.
"Akhh!!" pekiknya ketika tubuhnya terdorong kebelakang yang membuatnya tersungkur.
"Kau berniat membunuhku? Lihatlah siapa yang akan mati hari ini" ucapan dingin ayahnya itu membuatnya panik. Tidak. Ayahnya tidak boleh membunuh Sehun atau siapapun. Ia harus menghentikan ayahnya.
Baekhyun bergerak merangkak menghampiri pisaunya yang tadi terlempar. Namun baru saja ia ingin menggapainya, ayahnya sudah menahannya dengan menginjak punggung tangannya.
"Arrghh!!" terasa sakit karena ayahnya menekan tangannya kuat.
Donghae berjongkok menghadap anaknya yang sedang merangkak kesakitan. Tangannya terjulur menepuk - nepuk pipi Baekhyun.
"Lepaskan aku" pinta Baekhyun yang membuat Donghae tertawa gelak. Namun detik kemudian Donghae mengeraskan rahangnya dan tangannya yang sedang memegang sebuah pistol terarah ke kening Baekhyun. Menekan pistol itu hingga Baekhyun terdongak menatapnya.
"Sepertinya hidupmu akan sampai hari ini saja, anak manis" Ucapan yang terdengar tenang dan tak memiliki beban namun mampu membuat Baekhyun geram. Baekhyun menatap ayahnya tajam. Menatapnya seolah ingin membunuhnya, dan benar... Apapun yang terjadi Baekhyun akan membunuhnya hari ini juga. Ia tidak bisa terus - terusan lemah dibawah kuasa ayahnya.
Ingatkan Baekhyun adalah lelaki bertubuh mungil namun memiliki tenaga yang kuat. Baekhyun bangkit merebut pistol ditangan Donghae dengan gerakan cepat hingga Donghae tak menyadarinya. Dan secepat mungkin ia bergerak menjauh dengan menodongkan pistol kearah ayahnya.
"Siapa yang akan mati sekarang, brengsek?!!" Baekhyun berteriak menutupi rasa gugupnya bahkan tangannya kini bergetar hanya untuk menarik pelatuk pistolnya.
"Ini akan menjadi menarik, Baekhyun. Sudah kubilang ini adalah hari terakhirmu untuk hidup" Donghae menyeringai seram. Dan ia meraih sebuah pistol cadangan yang ia simpan disakunya.
Keduanya menodongkan pistol masing - masing. Baekhyun dengan rasa gemetar takut sedangkan Donghae hanya memasang raut tenang yang menyebalkan.
"Atau kau ingin kita mati bersama - sama, hm? Kita akan hidup bahagia disurga dan kita bisa menikah disana. Bagaimana menurutmu?" Baekhyun semakin memegang erat pegangan pistolnya. Keringatnya sudah membasahi dahinya saking takutnya. Ia tidak pernah berpikir akan berada diposisi ini sebelumnya.
DOR!
Baekhyun dengan berani menarik pelatuknya hingga melesatkan satu peluru yang menembus kaki ayahnya.
Donghae mengerang kesakitan hingga ia jatuh terduduk. Dan itu Baekhyun jadikan kesempatan untuk kabur keluar dari ruangan ini. Namun...
DOR!!
Belum tiga langkah ia melangkah Donghae melayangkan tembakan pada pundaknya. Baekhyun berteriak mendapat tembakan yang tiba - tiba.
Hingga Baekhyun jatuh tergeletak dilantai. Memegangi pundaknya yang mengalirkan darah cukup banyak.
"APA - APAAN INI?!" suara melengking menginterupsi mereka. Itu Sooyeon, yang baru saja pulang bekerja dan segera menghampiri ruang kerja suaminya. Namun yang ia dapat adalah suami dan anaknya yang mencoba saling membunuh satu sama lain.
Baekhyun berdiri mencoba lari kembali, Donghae yang melihat itupun segera menarik pelatuknya untuk menembak Baekhyun namun Baekhyun bergerak cepat hingga peluru itu melesat.
DOR!!
Peluru itu meleset tepat mengenai jantung Sooyeon. Hingga Sooyeon tergeletak begitu saja dilantai bersimbah darah.
Baekhyun membelalakan mata melihat ibunya yang sudah tidak bernyawa. Ia menoleh menatap tajam Donghae dan segara saja ia menodongkan pistolnya melayangkan tiga tembakan didada dan didahi ayahnya.
"Argghhhh!!" Donghae tumbang dengan darahnya yang mengalir deras. Dan detik berikutnya ayahnya jatuh tak sadarkan diri.
Baekhyun panik, ia meneteskan air matanya menangisi perbuatannya yang tanpa berpikir panjang. Bagaimanapun Donghae adalah ayah kandungnya dan baru saja dirinya membunuh ayah kandungnya sendiri. Ia melempar pistolnya dengan gemetar yang kentara.
"A-aku.. T-tidak m-mem-bunuhnya..." Baekhyun menggelengkan kepalanya mencoba meyakinkan dirinya kalau ini bukan kesalahannya. Ia berbalik cepat untuk menghilangkan dirinya dari rumah ini. Namun ia terkejut ketika Baixian berdiri diambang pintu menyaksikan perbuatannya dengan berurai air mata.
"Baekhyun..." Baixian memanggilnya dengan lirih. Tangannya terjulur untuk meraih lengan Baekhyun, namun Baekhyun segera menepisnya dan melarikan diri dari rumah ini.
e)(o
Sehun menatap ponselnya dengan pandangan cemas. Berkali - kali ia menghubungi Baekhyun namun lelaki mungil itu tak menjawab panggilannya. Entahlah, ia merasa khawatir dan seperti ada sesuatu yang mengganjal. Ia ingin kerumah Baekhyun untuk memastikan apakah dia baik - baik saja atau tidak. Namun kaki sialannya ini sulit untuk digunakan berjalan.
Bunyi gedoran pintu yang kencang itu mengejutkannya. Ia berjalan untuk membuka pintu dengan tertatih dan sesekali meringis kesakitan.
Dan matanya membelalak ketika dihadapannya adalah Baekhyun yang ia khawatirkan sejak tadi. Berdiri diambang pintu dengan bercucuran air mata dan Sehun semakin membulat tidak percaya ketika tubuh Baekhyun dipenuhi oleh darah. Darimana Baekhyun mendapatkan darah itu?
"S-sehun..." Baekhyun bergetar dalam panggilannya. Ia menerobos untuk memeluk tubuh tinggi Sehun dan menumpahkan air matanya kembali.
"Apa yang terjadi, Baek?" sehun membalas pelukan Baekhyun dengan erat.
"Aku membunuhnya.. Aku membunuhnya Sehun.. Hiks.." ini mengejutkan Sehun. Apa maksud ucapan si mungil ini.
"Apa maksudmu?" tanyanya ragu - ragu.
"Ayahku... Aku membunuhnya.. Hiks.." tubuh Sehun menegang. Jadi Baekhyun benar - benar melakukannya? Membunuh ayah kandungnya sendiri?
"Shh.. Tenanglah. Kau akan baik - baik saja" Sehun menepuk - nepuk punggungnya berusaha menenangkan Baekhyun.
e)(o
Dokter baru saja selesai memberikan pertolongan pada Baekhyun. Dan sekarang Baekhyun tengah tertidur dengan bertelanjang dada karena pundaknya yang dibalut perban. Sehun sedikit tidak percaya tadi ketika dokter berusaha mengeluarkan peluru yang masih bersarang dipundak Baekhyun hingga lelaki kecil itu menjerit kesakitan. Baekhyun mendapat luka tembak dan merasa ingin menangis sekarang.
Sehun berbaring disamping Baekhyun dengan perlahan dan sedikit memberi jarak agar dirinya tidak menyentuh luka Baekhyun.
"Semoga kau selalu diberi kebahagiaan setelah ini, Baek" merunduk untuk mengecup bibir tipis Baekhyun sekilas dan ikut menyelami mimpi bersama Baekhyun.
e)(o
Pagi ini dirumah kediaman keluarga Byun tampak ramai setelah berita meninggalnya pasangan suami istri kemarin malam. Banyak wartawan yang meliput mencari informasi dan juga para polisi yang sedang melakukan penyelidikan.
Baixian mengurung dirinya dikamar dengan pandangannya yang kosong. Ia tak ingin keluar kamar untuk melakukan introgasi dengan para polisi itu.
Mentalnya sedikit terguncang karena ia melihat sendiri bagaimana adik kembarnya menembak kepala ayahnya hingga meninggal. Air matanya kembali menetes mengingat itu.
Brakk!
"Baixian.." itu Chanyeol. Setelah mendengar berita ini ia segera melajukan mobilnya menuju kediaman kekasih barunya.
Dan sekarang hatinya terasa seperti diremas ketika melihat kekasihnya duduk termenung dengan pandangan kosong. Ia mendekat dan membawa tubuh kecil itu dalam rengkuhannya. Membisikan kata - kata menenangkan ditelinga Baixian.
"Hiks... Chanyeol.." Baixian menumpahkan air matanya dalam pelukan Chanyeol. Meremas punggung tegap lelaki itu dengan kuat.
"Aku disini sayang.. Kau tidak akan sendirian" mengecup pucuk kepala kekasihnya dengan sayang.
Chanyeol merenggangkan pelukannya untuk menatap Baixian. "Dimana Baekhyun?" tanyanya yang membuat Baixian terdiam kaku. Baixian menggeleng menunjukkan kalau ia tidak tau keberadaan adiknya.
"Apa Baekhyun sudah tau ini?" Baixian bungkam dan hanya menundukkan kepala. Chanyeol mengangguk mengira Baixian tidak sedang ingin membahasnya.
Bunyi ketukan pintu itu menyadarkan mereka. Chanyeol segera bangkit dan mendapati salah satu polisi yang sedang ingin membicarakan sesuatu. Ia menawarkan diri menggantikan Baixian.
"Tuan Chanyeol, kami menemukan sesuatu yang mungkin menjadi inti masalah meninggalnya tuan Byun dan nyonya Byun" polisi itu menyodorkan map berwarna kuning kepada Chanyeol.
Chanyeol membuka map itu, dalam map itu terdapat beberapa lembar kertas yang membahas warisan dan ada nama Baekhyun sebagai penerimanya.
"Warisan?" Chanyeol bertanya bingung dan polisi itupun menjelaskan sesuatu.
"Sebelumnya kami menemukan korban meninggal dalam keadaan tertembak dan keduanya memegang pistol masing - masing. Hasil sidik jari juga menunjukkan bahwa kedua korbanlah yang memiliki pistol itu"
"Tunggu dulu. Apa maksud anda tuan Byun dan nyonya Byun sempat terjadi pertengkaran hingga keduanya saling membunuh?"
"Benar tuan"
"Lalu apa hubungannya dengan surat warisan ini"
"Kami juga menyelidiki CCTV pada perusahaan tuan Byun untuk mencari sesuatu yang mencurigakan dan kami menemukan keduanya sedang bertengkar membahas sebuah warisan. Jadi kami menyimpulkan bahwa korban saling membunuh untuk warisan tersebut dan tidak ada pelaku lain dalam kasus ini" Chanyeol merenung mencermati ucapan polisi itu. Dan kemudian ia mengangguk paham.
"Terima kasih, pak. Sudah menyelidiki kasus ini" Chanyeol menjabat tangan polisi itu dan polisi tersebut segera berpamitan.
e)(o
Baekhyun melihat berita tentang kematian kedua orang tuanya di TV. Ia sedikit terkejut ketika salah satu polisi yang sedang melakukan wawancara mengatakan bahwa kedua orang tuanya meninggal karena memperebutkan warisan. Baekhyun menutup mulutnya tak percaya.
"Baixian menyembunyikannya" gumamnya. Ya, ini pasti ulah Baixian yang membersihkan sidik jarinya dan membuat seolah - olah ayah dan ibunya sedang terlibat pertengkaran. Ia tidak tau ini menyelamatkannya atau malah membuatnya merasa semakin menyesal. Harusnya sekarang ia sudah mendekam dipenjara.
"Lupakan kejadian itu" Sehun mematikan TV dan segera merengkuh tubuh mungil Baekhyun.
"Ini bukan salahmu. Mereka pantas mendapatkannya"
"Tidak. Aku harus menyerahkan diri, Sehun" Baekhyun mendorong tubuh Sehun dan berniat ingin ke kantor polisi untuk menyerahkan diri. Namun Sehun segera menahannya, menarik tangannya hingga Baekhyun jatuh berbaring diatas sofa. Sehun merangkak mengungkung tubuh Baekhyun yang bergerak meronta.
"Lepaskan aku. Aku harus menyerahkan diri dan mendekam dipenjara" Baekhyun menangis dalam rontaannya. Mencoba meloloskan diri dari kungkungan Sehun.
Sehun kuwalahan karna kakinya yang sedang sakit tak memungkinkan dirinya untuk bergerak terlalu banyak. Hingga akhirnya Sehun merunduk meraup bibir Baekhyun dan memberikan lumatan lembut agar Baekhyun tenang dan berpikir jernih. Sehun menuntun tangan Baekhyun untuk melingkari lehernya. Sementara dirinya meremat pinggang Baekhyun dan sesekali mengusapnya.
"Berpikirlah jernih, Baek" ucapnya dan kembali melumat bibir bawah Baekhyun. Isak tangis Baekhyun teredam dalam ciuman itu. Ia membiarkan Sehun memainkan bibirnya sementara ia sedang menyesali perbuatannya.
Sehun menarik lepas celana yang Baekhyun kenakan begitu juga dengan celana miliknya. Ia melepaskan ciumannya dan menatap Baekhyun yang masih terisak.
Diam - diam Sehun mengarahkan penisnya pada lubang Baekhyun, mendorongnya pelan hingga penisnya tertelan sepenuhnya oleh lubang itu. Sehun mengecup kedua mata Baekhyun sebelum bergerak menghujam lubang sempit Baekhyun.
"Hiks.. Sehunhh.. Euhh.. " Baekhyun mendesah disela - sela tangisannya. Sehun memeluknya erat dengan tatapan mata yang hanya tertuju pada mata Baekhyun sementara dibawah sana pinggulnya bergerak menghujam lubang Baekhyun.
Baekhyun meremat rambut bagian belakang milik Sehun sedangkan tangan satunya ia gunakan untuk menutup mulutnya menahan isakan tangisnya agar berhenti.
Tusukan penis Sehun semakin cepat yang malah membuat Baekhyun mengeraskan tangisannya. Baekhyun memang mendesah menikmati permainan Sehun. Namun keterguncangan hatinya yang membuatnya malah menangis selayaknya sedang diperkosa oleh Sehun.
Hingga beberapa tusukan terakhir Sehun menembakan spermanya didalam. Begitu juga Baekhyun yang menyemprotkan cairannya mengotori tubuh keduanya.
Sehun mengecup bibir Baekhyun sekilas. "Aku merasa sedang memperkosamu" kekehnya dan Baekhyun menyerukkan wajahnya dileher Sehun.
Sehun benar, ini bukan salahnya. Ia hanya melakukan hal yang benar meskipun dengan cara membunuh sekalipun.
teeebeeeceee
emmm... gimana ya, habis aku suka sih liat Baekhyun menderita/?.
hunbaek shipper bermunculan ya? tapi maaf, aku suka bikin sehun kena php wakakakak.
makasih ya yang sudah review.
