The Dark Side

Cast : Byun Baekhyun / Byun Baixian

Park Chanyeol

Oh Sehun

Luhan

.

.

.

Chapter 9

.

.

Baekhyun merasa kesepian kali ini. Berdiam diri diruang tengah membiarkan televisi menyala menyiarkan sebuah drama tanpa berniat menontonnya. Bibirnya sedari tadi mengerucut sebal. Sedikit informasi saja ia sedang kesal dengan Oh Sehun, kekasih tampannya.

Sepulang sekolah tadi ia merengek meminta Sehun untuk jalan - jalan ke acara festival kembang api. Tapi lelaki itu menolaknya dengan berkata : "maaf sayang, hari ini aku harus latihan menari. Karena acara perlombaannya sudah dekat. Aku janji besok kita akan datang ke festival kembang api".

Ayolah... Festival kembang api hanya diadakan satu tahun sekali dan itu hanya hari ini. Tidak ada besok ataupun lusa.

" Sehun sudah tidak menyayangiku lagi" gerutunya sembari mencebikan bibir.

Getaran yang berasal dari ponselnya mengalihkan acara menggerutunya. Itu Sehun yang membuat panggilan video untuknya.

Baekhyun dengan malas menggeser ikon hijau menerima panggilan tersebut. Wajah tampan kekasihnya seketika memenuhi layar ponsel. Tersenyum teduh dengan peluh yang membasahi kening dan rambutnya. Sehun benar - benar tampan dan Baekhyun tidak tahan ingin menciumi wajah itu. Namun sayangnya kini suasana hatinya sedang buruk. Jadi ia menatap kekasihnya itu dengan ketus.

"Mau apa kau menghubungiku?"

Mendengar nada bicara yang ketus serta raut wajah datar itu membuat Sehun tertawa diseberang sana. Tawanya semakin membuat Baekhyun memicingkan matanya tajam. Seolah berkata - kau sudah mencampakanku dan sekarang malah menertawakanku-.

"Sayang, kau masih merajuk, hm?"

Sehun bertanya lembut menyadari kalau kekasihnya semakin menajamkan matanya. Tak ingin membuat si mungil itu marah terlalu larut padanya.

"..." Baekhyun diam dan mengalihkan wajahnya untuk menonton drama di tv. Tangannya yang tak memegang ponsel ia gunakan untuk menggaruk kepalanya.

"Hei?" Sehun memanggil tapi Baekhyun tetap menulikan pendengarannya mengabaikan Sehun.

"Baiklah, aku minta maaf. Besok kita datang ke festival itu"

Sehun mengulang kembali ucapannya yang tadi siang. Dan itu menarik Baekhyun untuk menatap layar ponselnya memandang Sehun sinis.

"Kau pikir festival itu diadakan setiap hari apa? Sudahlah kau urus saja teman - temanmu itu. Jangan memperdulikanku"

Sikap Baekhyun saat ini persis seperti seorang gadis pms yang sedang merajuk pada kekasihnya dan itu membuat Sehun menyunggingkan senyuman. Tidak ada alasan bagi dirinya untuk marah atau tersinggung pada ucapan Baekhyun. Semarah apapun Baekhyun itu selalu terlihat menggemaskan dimatanya.

"Aku tidak sedang bersenang - senang dengan yang lain. Aku benar - benar latihan untuk lomba minggu depan. Kau lihat kan keringatku ini?" Sehun menyibak rambutnya keatas menunjukan peluh didahinya.

"Aku tidak pernah berbohong padamu"

Baekhyun sedikit melunak. Jika dipikir - pikir seharusnya ia tidak mementingkan dirinya sendiri. Sehun pasti juga memiliki kesibukan lain selain menemaninya. Memikirkan itu membuat bahunya merosot dan bibirnya mengerucut.

"Maaf, aku terlalu kekanakan" ucapnya menundukan kepala. Sehun terkekeh diseberang sana yang sebenarnya juga merasa bersalah pada Baekhyun.

"Aku yang minta maaf, sayang. Aku tidak ada disisimu saat kekasihku membutuhkanku"

Baekhyun menampakan senyuman manisnya yang sungguh melelehkan hati Sehun. Pipi chubby yang merona dan mata sipit berbentuk eyes smile ketika tersenyum. Benar - benar favorit Sehun sekali.

"Yasudah, berlatihlah lagi dan jangan pulang terlalu malam. Semoga berhasil, Sehun"

"Aku akan berlatih sebentar lalu pulang. Kau juga sayang, jangan tidur terlalu malam. Aku mencintaimu"

"Aku juga mencintaimu"

Baekhyun membuat gestur mengecup dibibirnya dan diikuti oleh Sehun diseberang sana.

Chup

Namun terasa nyata ketika sesuatu menyentuh bibirnya. Memberikan satu kecupan kemudian tersenyum idiot dihadapannya.

"Chanyeol!" rotasi bola mata Baekhyun sudah melebar dengan aksi pria tinggi ini. Takut - takut ia melirik ponselnya dan bernafas lega melihat sambungannya dengan Sehun sudah terputus.

"Apa yang kau lakukan?! Bagaimana kalau Sehun melihatnya?!"

Baekhyun berbicara sembari menggertakan bibirnya memarahi Chanyeol. Sedangkan pihak yang dimarahi tetap mempertahankan senyuman idiotnya.

"Kau sendirian saja?" Chanyeol mendudukan dirinya disamping Baekhyun. Mengikuti pose Baekhyun yang menyangga kepalanya disandaran sofa.

"Umm.." si mungil mengangguk dibarengi dengan kerucutan bibir "Sehun ada latihan dengan Kai. Bagaimana denganmu? Kenapa kau bisa kesini tanpa Baixian?"

Wajah bayi milik Baekhyun yang sedang merajuk adalah hal yang paling menggemaskan bagi Chanyeol. Seolah ia benar - benar melihat ada bayi didepannya. Melihat keimutan itu tak ayal membuat jemarinya tergerak menarik gemas bibir mengerucut itu.

Baekhyun sempat mengaduh sakit yang hanya dibalas kekehan oleh Chanyeol.

"Aku sengaja kemari untuk menemuimu. Lagi pula Baixian sedang menemani Luhan keluar. Kenapa? Apa kau tidak merindukanku?"

"Rinduuuuu~" kembali Baekhyun berlaku manis pada Chanyeol. Tubuhnya bergeser mendekati lelaki itu dan menenggelamkan dirinya dalam pelukan lelaki yang berstatuskan selingkuhannya itu.

Chanyeol terkekeh dan mengelus surai gelap Baekhyun. "Aku berencana mengajakmu keluar malam ini"

Kalimat itu membuat Baekhyun menarik diri dari pelukannya memperlihatkan binar kebahagian dimata tajamnya.

"Benarkah?" Chanyeol mengangguk membenarkan.

"Aku ingin pergi ke festival kembang api sekarang juga. Kau mau kan? Mau kan? Mau kan??" pertanyaan menggebu - gebu dengan kedua tangan yang menggenggam lengan Chanyeol. Bagaimana bisa Chanyeol menjaga hatinya agar tidak meleleh jika dihadapkan dengan sikap Baekhyun yang seperti ini.

"Kau akan mendapatkannya. Ayo berangkat sekarang"

"Yeaayyy"

Si mungil itu bangkit dari duduknya. Tubuh kecilnya berlarian menaiki tangga menuju kamarnya untuk mengganti baju dan bersiap jalan - jalan bersama Chanyeol.

.

.

.

Taman Yeondeungpo, adalah lokasi dimulainya acara festival kembang api tahun ini. Acara ini hanya diadakan setiap satu tahun sekali. Dimulai dari pukul 4 sore hingga pukul 11 malam nanti. Itu sebabnya sepulang sekolah tadi Baekhyun merajuk pada Sehun karena tidak bisa membawanya ke acara ini. Beruntungnya ada Chanyeol yang berbaik hati mengajaknya kemari.

Hal pertama yang dilakukan Baekhyun setelah turun dari mobil adalah berlarian menuju tepi taman yang mengarah langsung ke danau besar yang sudah terdapat banyak sekali perahu layar.

Chanyeol mengikutinya dari belakang, menjaga si mungil agar tidak terjadi sesuatu yang membahayakan. Ia segera menarik pinggang Baekhyun dari belakang memberitahunya agar jangan berdiri terlalu menepi pada danau.

"Disini gelap, bagaimana kalau kau terpeleset dan jatuh ke danau, hm?"

Chanyeol perhatian sekali, Baekhyun dibuat merona olehnya. Ia hanya mengangguk dan mengikuti Chanyeol yang menuntunnya untuk duduk dikursi panjang.

"Jam berapa kembang apinya meluncur? Aku sudah tidak sabar melihatnya"

"Ini masih jam 7, menurut jadwalnya sih sekitar jam 7 lebih lebih 15 menit."

"Kalau begitu aku mau beli minum dulu" Baekhyun berdiri sembari matanya mengedar mencari stan penjual minuman.

"Biar aku yang belikan" Chanyeol menawarkan diri dan langsung ditepis oleh Baekhyun.

"Tidak usah, kau tunggu saja disini. Aku cuma sebentar kok"

Chanyeol mau tak mau mengangguk membiarkan Baekhyun membeli minuman sesuai keinginannya.

.

.

.

Baekhyun mengusap kedua tangannya menghalau udara dingin yang menyerangnya. Ia berdiri didepan stan minuman menunggu si penjual membuatkan pesanannya.

Kepalanya sedari tadi menunduk memperhatikan seekor anak kucing bergerak mengitari kakinya. Kucing itu beberapa kali mengusapkan ekornya seolah meminta makanan padanya. Ia tertawa pelan melihat kucing itu.

Dan kemudian sebuah sepatu kulit berdiri tak jauh dari kakinya. Ia mendongak untuk melihat siapa itu.

Seorang lelaki yang tingginya hampir menyamai Chanyeol. Pakaiannya sangat formal, kemeja putih dan berbalutkan jas biru dongker. Baekhyun merasa tidak asing dengan lelaki tersebut. Ia seperti pernah melihatnya tapi entah dimana.

Lelaki itu tiba - tiba menolehkan kepala menghadap kearahnya. Dan seketika itu pula Baekhyun merasa waktu seolah berhenti. Jantungnya berdebar kencang dan ia merasa emosinya yang dulu teredam kini kembali menguak lebar.

Lelaki itu...

Nam Joohyuk.

Orang yang pertama kali membuatnya merasakan apa itu yang dinamakan jatuh cinta.

Orang yang pertama kali membuatnya merasakan apa itu yang dinamakan patah hati.

Sekaligus orang yang menginjak - injak harga dirinya.

Flashback on

Hari itu setelah Baekhyun mengutarakan perasaannya pada Joohyuk, seniornya. Dan sekaligus mendapat penolakan, ia mengurung dirinya dikamar. Bohong jika mengatakan ia tidak akan menangis. Nyatanya ia tengah menangis begitu pilu sembari meremas dadanya.

Ia benar - benar menyukai seniornya itu, dan hanya Joohyuk lah yang membuatnya tersenyum setiap saat. Melupakan fakta bahwa ia orang yang selalu berwajah datar.

Setiap perlakuan dan perhatian yang lelaki itu berikan padanya memberikan getaran tersendiri disudut hatinya. Ia menghangat dan merona setiap saat berdekatan dengan Joohyuk.

Ia menyesali perbuatannya yang memukul Joohyuk setelah penolakan yang ia dapat. Seharusnya ia tidak bersikap kasar , seharusnya ia bersikap lembut seperti Baixian agar lelaki itu mempertimbangkan perasaannya.

Paginya Baekhyun segera mencari keberadaan Joohyuk, ia menemukannya sedang berkumpul bersama teman - temannya dikantin. Ia pun menghampiri lelaki itu. Dan seketika suasana hening. Semua orang menatapnya dengan pandangan yang sama, malas sekaligus sengit.

"Joohyuk sunbaenim" panggilnya.

Orang yang ia panggil berdehem malas tanpa memandang Baekhyun. Kentara sekali jika lelaki itu risih terhadap Baekhyun. Berbeda dari sikap Joohyuk yang lembut seperti biasanya.

"Aku... Aku ingin bicara denganmu"

"Bicara saja" Baekhyun melirik kesekitar. Apa harus ia membicarakan masalahnya dihadapan semua orang? Yang ada mereka akan mencibirnya. Namun ia tidak ingin semakin membuat Joohyuk kesal padanya. Ia menarik nafas sebelum mengatakan apa tujuannya datang menemui lelaki itu.

"Aku ingin meminta maaf karena sudah memukulmu kemarin" Baekhyun memulainya dengan hal yang pertama. Tak ada sahutan dari Joohyuk. Maka dari itu ia melanjutkan kalimatnya.

"Seharusnya aku tidak bersikap bodoh dengan bersikap kasar padamu"

Lagi, ia menarik nafas dalam "sunbae... Aku... Aku benar - benar menyukai sunbae. Aku... Aku ingin sunbae mempertimbangkanku. Aku, jauh lebih baik dari Baixian"

Setelah kalimat itu meluncur, hal pertama yang ia dengar adalah suara tawa teman - teman dari Joohyuk. Sedangkan Joohyuk menampilkan seringaiannya.

"Kau... Lebih baik dari Baixian? Apa hal yang lebih baik itu? Apa kau baik dalam urusan ranjang? Kalau begitu mari kita coba, apa kau bisa memuaskanku atau tidak"

Terkejut tentu saja. Baekhyun bahkan tak mengira Joohyuk bisa mengucapkan kalimat itu disamping sikap berwibawanya. Baekhyun menunduk menahan bulir air matanya tak memperdulikan suara tawa orang - orang.

"Hei, kau mendengarku?" Joohyuk menepuk - nepuk pipi Baekhyun cukup kasar.

"Tunjukan padaku kehebatanmu diatas ranjang dan aku akan mempertimbangkanmu"

Cukup sudah, ia tidak ingin harga dirinya semakin terinjak - injak oleh perkataan Joohyuk. Ia mengusap kasar air matanya kemudian berlari meninggalkan area kantin dengan penghuninya yang tak pernah puas menertawakannya.

Setelah kejadian ini, ia bersumpah tidak akan melihat wajah Joohyuk dan menghindari lelaki itu.

Flashback off

"Joohyuk sunbaenim" Baekhyun memanggilnya dengan nada bergetar yang ketara menahan amarah.

Joohyuk tersenyum padanya. Tangannya terulur untuk mengusap pipi Baekhyun namun dengan cepat ditepis oleh si mungil. Joohyuk tak terkejut dengan itu. Ia masih mempertahankan senyuman yang semakin membuatnya terlihat tampan.

"Baekhyun, apa kabar?" tanyanya berbasa - basi.

Baekhyun tak menjawab pertanyaan itu. Ia masih menatap Joohyuk tajam. Menyalurkan betapa bencinya ia pada lelaki itu.

"Aku berharap ini pertemuan kita yang terakhir. Jangan muncul lagi dihadapanku. Pergilah sejauh mungkin"

Dan setelahnya ia memilih meninggalkan tempat itu. Melupakan minumannya.

Ia hanya tidak ingin berdiri dilingkungan yang sama dengan lelaki itu.

"Chanyeol ayo pulang" Baekhyun menghampiri Chanyeol dan cepat - cepat menarik lengan Chanyeol. Merengek meminta pulang.

"Kembang apinya sebentar lagi akan dimulai, baek. Kau yakin mau pulang?" Baekhyun mengangguk dengan tatapan memelas. Sedang Chanyeol merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan Baekhyun. Ia pun menangkup pipi halus itu. Mendekatkan wajah keduanya.

"Apa yang terjadi padamu? Katakan padaku, Baekhyun" kembali Baekhyun menggelengkan kepala. Memilih untuk bungkam.

"Chanyeol.."

"Ya?"

"Antarkan aku ketempat Sehun. Aku ingin menemuinya"

Rahang Chanyeol sempat mengeras merasa tidak terima jika Baekhyun lebih memilih lari ke Sehun disaat ada masalah, sedangkan jelas - jelas dirinya yang ada dihadapannya sekarang.

Namun akhirnya Chanyeol tetap mengantar ke apartement Sehun. Dengan Baekhyun sebagai penunjuk arah. Ia hanya mengantarnya sampai depan, baginya tidak sudi menginjak kediaman Oh itu.

.

.

.

Kedatangan Baekhyun yang tiba - tiba sempat mengejutkan Sehun. Ia baru saja pulang dari latihan dan bersiap untuk mandi. Tapi karena kedatangan kekasihnya ia lebih memilih untuk menyambut pelukan si mungil. Tidak memperdulikan tubuhnya yang berkeringat, bagi Baekhyun Sehun itu tetap wangi meski berkeringat banyak.

"Sayang, lepaskan dulu. Aku mau mandi" ucapnya lembut dengan telapak tangannya yang mengusap punggung Baekhyun.

Baekhyun menggeleng beberapa kali. Kepalanya semakin tenggelam dalam dada bidang kekasihnya.

"Nanti kita lanjutkan pelukannya lagi. Sekarang biarkan aku mandi sebentar saja ya, sayang?"

Baekhyun kembali menggelengkan kepala, tetap tidak ingin melepaskan pelukannya.

Sehun menghela nafas dan mau tak mau ia membawa kekasihnya untuk mandi bersama. Berendam air hangat sembari memeluk Baekhyun yang menyandarkan punggungnya didadanya.

"Ada yang mengganggu pikiranmu? Kau tampak pendiam"

Sehun memulai pertanyaan yang sejak tadi mengganjal dimulutnya. Bibirnya mendarat di punggung Baekhyun, mengecupnya beberapa kali sembari tangannya dibawah sana tak bisa diam untuk mengusap paha kekasihnya.

"Sehun.."

Sehun bergumam menjawab panggilan Baekhyun.

"Kau ingat dengan ... Nam Joohyuk?" seketika pergerakan Sehun berhenti setelah mendengar nama itu.

Dipikirannya kenapa Baekhyun tiba - tiba membicarakan lelaki itu? Apa si brengsek itu sudah berani menampakan dirinya dihadapan Baekhyun?

"Sehun... Kau melamun?" mendengar tak ada reaksi, Baekhyun menoleh kebelakang sambil menyentuh pipi Sehun.

"Ya, aku ingat. Kenapa dengan orang itu?"

"Hari ini aku bertemu dengannya"

Rahang Sehun sudah mengeras. Jadi benar si brengsek itu benar - benar berani menampakan dirinya. Ia tidak akan tinggal diam jika sampai lelaki itu menyentuh kekasihnya.

"Tapi... Dia terlihat berbeda. Dia tersenyum begitu tulus padaku, dia juga menanyakan kabarku. Kupikir dia sudah melupakan masa lalu itu"

"Ingatlah dia pernah menginjak - injak harga dirimu, sayang"

"Ya, tentu aku akan tetap mengingatnya. Tapi kurasa dia sudah berubah"

"Jangan pernah mempercayai apa yang ada dalam sekejap. Belum tentu dia bermaksud baik padamu, itu bisa saja hanya topengnya"

"Sehun, kenapa kau jadi berpikiran buruk. Kau juga belum tau kan dia berubah atau tidak"

Sehun mencengkeram kedua sisi pinggang Baekhyun cukup kuat yang menciptakan ringisan dibibir Baekhyun. Satu sisinya yang lain. Ia berani menyakiti kekasihnya jika kekasihnya itu menyulut emosinya.

"Dia tidak berubah sedikit pun, dia tetap seseorang yang brengsek"

"Akhh... Sehun lepaskan. Kau tidak pernah tau dia seperti apa. Kau bahkan tidak pernah bertemu dengannya"

Cengkeraman tangan Sehun tidak main - main kuatnya. Baekhyun rasa pinggangnya bisa remuk jika Sehun semakin menekannya.

"Kau yang tidak tau dia seperti apa, Baek. Dia berbahaya, dia bisa saja mengambilmu dariku"

Baekhyun tidak memperdulikan lagi ucapan Sehun. Ia memegang tangan Sehun untuk memintanya melepas cengkeramannya. Hingga saat tangan itu terlepas, Baekhyun melarikan diri dari Sehun. Mengetahui apa yang akan terjadi jika dirinya tetap berada disekitar kekasihnya.

Bukan kali pertama Sehun main tangan dengan Baekhyun. Dan itu menyadarkan Baekhyun satu hal tentang Sehun.

Lelaki itu tidak pernah mencintainya. Tetapi lelaki itu sangat terobsesi padanya. Apapun akan Sehun lakukan demi mempertahankan dirinya. Ingat bagaimana dulu mereka bisa menjadi sepasang kekasih juga karena Sehun yang memukulnya.

Bodohnya lagi, Baekhyun tidak bisa jauh dari Sehun. Rasa ketergantungan itu nyatanya masih melekat hingga sekarang. Melupakan sikap main tangan kekasihnya.

Baekhyun merapatkan bathrobe yang tadi sempat ia pakai. Dirinya berdiri disudut lemari sambil memandang Sehun takut. Sedangkan Sehun berjalan santai menghampirinya.

"Sehun, aku tidak bermaksud seperti itu. Sungguh"

Sehun tak memperdulikan pembelaan diri itu. Ia dengan santai menghampiri lemari pakaian, mengambil beberapa satu set piyama dan memakainya. Sementara Baekhyun mencengkeram erat kerah bathrobenya sembari menunduk dalam.

"Sehun, dia benar - benar tidak seperti yang kau pikirkan. Aku berani bersumpah"

Dan pergerakan Sehun berhenti. Emosinya semakin tersulut, ia melangkah berdiri tepat dihadapan Baekhyun. Mencengkeram rahang simungil dan membuatnya agar mendongak menatapnya.

"Katakan sekali lagi"

Perintahnya dengan nada suara yang kentara sekali sedang mengancam Baekhyun.

"..." Baekhyun diam dan malah mengeluarkan isak tangisnya.

"KATAKAN SEKALI LAGI!!"

Si mungil itu mengkerut takut ketika Sehun membentaknya. Ia ingin meraih Sehun kepelukannya agar Sehun bisa bicara baik - baik tanpa perlu emosi. Namun sekali lagi rahangnya terasa sakit akibat cengkeraman itu.

"Kau pernah mencintainya, dan sekarang setelah lelaki itu kembali kau malah mati - matian membelanya. Apa kau berniat kembali padanya, huh?!"

Sehun melepaskan cengkeramannya dengan hempasan yang kasar. Baekhyun tak menjawab ucapan Sehun. Satu katapun yang keluar dari mulutnya akan terasa salah dipendengaran Sehun. Maka dari itu ia lebih memilih diam.

"Kemari" tangan Baekhyun ditarik paksa oleh Sehun dan menghempaskan dirinya begitu saja diatas ranjang.

Baekhyun hanya bisa menangis menunduk menunggu hal apa yang akan Sehun lakukan padanya.

Sehun mengambil sesuatu dari dalam lemari pakaiannya. Sebuah sabuk berwarna hitam berbahan kulit.

"Buka" perintahnya singkat menyuruh Baekhyun membuka bathrobenya. Baekhyun menatapnya melas dengan kepalanya yang menggeleng menolak perintah Sehun.

"Baekhyun, cepat buka atau aku akan semakin menyakitimu"

Bohong, nyatanya ia membuka bathrobenya atau tidak Sehun tetap akan menyakitinya. Apa gunanya sabuk yang ia ambil kalau bukan untuk menyakiti kekasihnya.

"AKU BILANG BUKA!!" bentakan terdengar lagi. Mendengar itu Baekhyun cepat - cepat melepasnya dan bertelanjang dihadapan Sehun. Ia hanya tinggal menunggu sabuk itu mendarat ditubuhnya.

CTAR

Satu cambukan mendarat dipunggungnya. Baekhyun membekap sendiri mulutnya agar tidak mengeluarkan teriakan kesakitan.

CTAR

Tubuhnya sampai melengkung dan merasa panas dipunggung. Ini sangat menyakitkan, Baekhyun tidak pernah menyangka akan mendapatkan luka dipunggungnya dari kekasihnya.

CTAR

Dan yang terakhir Baekhyun jatuh pingsan, ia terlalu tidak kuat menahan sakitnya cambukan dari sabuk itu. Ia yakin itu akan meninggalkan luka dipunggungnya.

Sehun tak terlihat menyesal atau apapun setelah pingsannya Baekhyun. Ia membuang sabuknya dilantai begitu saja dan tidur disamping Baekhyun sambil memeluknya sayang.

.

.

.

tbc

.

dari awal sehun itu cinta banget kan sama baek. krn perasaannya yg terlalu mendalam itu yg bikin sehun jadi terobsesi sm baek. kalo dia emg cinta sm baek seharusnya dia ngasih baekhyun pilihan mau tetep sm dia apa sm chanyeol. inget chap 7 sehun maksa baek nerima dia gara" cemburu sm chanyeol kan.

dan sekarang fix perasaan sehun ke baek itu bukan cinta. tapi obsesi.

dan juga dari awal ini ff chanbaek ya bukan hunbaek. jadi jangan terlalu berharap endingnya ini hunbaek atau malah hyukbaek (joohyuk - baekhyun).

bubay...