Chapter 02
Kak Upan
.
.
Waktu Api dan Air masih belajar berbicara, mereka memanggil Taufan dengan sebutan 'Kak Upan'. Tentu saja, karena saat itu keduanya masih cadel. Seiring waktu, sebutan itu menjadi panggilan kesayangan bagi Taufan. Bahkan Ayah dan Bunda kadang-kadang menggunakan nama itu untuk memanggilnya di hadapan duo si kecil.
Hingga suatu hari, entah kenapa, tiba-tiba Air mengubah panggilannya menjadi 'Kakak'. Sedangkan Api, entah kenapa juga, tetap memanggilnya 'Kak Upan'. Walaupun sebenarnya dia—seperti juga Air—sudah bisa mengucapkan nama 'Taufan' dengan sempurna.
Lalu, sekarang, Taufan akan mendapatkan adik lagi di usianya yang sudah hampir menginjak 15 tahun. Entah adik laki-laki lain, atau mungkin kali ini adik perempuan. Tak lama lagi, akan ada tambahan satu bocah kecil yang memanggilnya dengan sebutan itu.
Kak Upan.
.
Animasi "BoBoiBoy" beserta seluruh karakter di dalamnya adalah milik Animonsta Studios/Monsta©
Penulis tidak mengambil keuntungan material apa pun dari fanfic ini.
Drama keluarga. Daily life. Kids!ApiAir. AU. No powers.
Ada bahasa sehari-hari/tidak baku, dan bahasa gaul. Diusahakan tetap in character, dengan kemungkinan OOC di sana-sini~ :")
.
.
"Fan!"
Suara lembut itu menyapa Taufan ketika ia baru saja hendak meninggalkan kelas dengan tas selempang biru tersandang. Ia pun menoleh.
Dilihatnya gadis manis berkerudung merah jambu berjalan mendekat.
"Kenapa, Yaya?" tanya Taufan.
Yaya—gadis berkerudung itu—mengulas senyum tipis di bibirnya. Membuat hati Taufan sontak dijalari kehangatan. "Besok bunda kamu jadi pulang, 'kan?"
Taufan mengangkat bahunya sedikit. "Rencananya sih, begitu."
"Ciee ... Yang nanyain calon ibu mertua~"
Tiba-tiba saja, seorang gadis manis berambut hitam, berkucir dua, dan berkacamata, sudah berdiri di samping Yaya. Entah dari mana dan sejak kapan, tahu-tahu saja dia sudah ada di situ. Seluruh siswa kelas 9A Sekolah Menengah Pertama Pulau Rintis, sudah maklum dengan sang gadis manis beretnis Cina yang kecepatan bicara maupun bergeraknya di atas rata-rata itu. Apa istilahnya, ya ... 'datang tak diundang, pulang tak diantar'?
Eh, itu beda lagi, ya?
"Perhatian banget, sih?" gadis bermanik biru itu masih menggoda Yaya. Mengerlingnya penuh arti, hingga Yaya merona.
"Ying! Apaan, sih!" Yaya berseru dengan nada memprotes, tapi malu-malu.
Ying—nama gadis itu—tertawa ceria. "Hihihi ... Dasar Yaya! Malu tapi mau—"
"YING!" Yaya yang gemas, refleks hendak mencubit lengan Ying. Namun, yang bersangkutan sudah lari ke samping Taufan yang cuma cengar-cengir gaje.
"Aku kan mau lihat dedek bayi," sambung Yaya. "Pasti lucu banget. Ya 'kan, Fan?"
"Eh? Aku juga belum lihat, kok," sahut Taufan.
"Kok bisa?" Kening Ying berkerut heran. "Bukannya adikmu sudah lahir?"
"Iya, sih," kata Taufan. "Tapi aku kan harus jagain si Kembar di rumah. Mereka nggak mau diajak ke rumah sakit."
"Lho? Kenapa memangnya?" tanya Yaya.
"Entah." Taufan mengangkat bahu. "Mungkin mereka ngambek karena cemburu?"
Yaya dan Ying saling pandang sejenak.
"Lucunyaaa ... Hahaha ..."
Taufan cemberut, sementara kedua gadis itu tertawa kecil. "Lucu apanya? Aku yang repot, tahu!"
"Haiya! Nanti kalau sudah ketemu adiknya, mereka pasti sayang!" ujar Ying yakin.
"Betul, tuh!" dukung Yaya. "Siapa yang bisa menolak bayi kecil yang lucu?"
"Aku harap juga gitu." Taufan melirik jam dinding di atas papan tulis. "Ya udah. Aku harus cepat-cepat pulang, nih! Ada janji kecil sama si Kembar. Ntar ngambek lagi kalau nunggu kelamaan."
Taufan menatap Yaya, lalu bertanya, "Yaya ... mau pulang bareng?"
Yaya menggeleng pelan. "Aku masih ada rapat OSIS habis ini."
"Hari Sabtu masih sibuk aja OSIS?" Taufan mengangkat sebelah alisnya. "Ya udah, yang penting kamu jaga kesehatan. Jangan telat makan, dan jangan capek-capek. Oke?"
"Siap!"
Yaya mengangkat tangannya sejenak, melakukan gerakan menghormat. Sementara senyum manisnya terlukis untuk Taufan seorang.
"Ehem!" Ying memecah keheningan yang tercipta akibat kedua sahabatnya hanya saling pandang dan saling melempar senyum. "Heeei ... Masih ada aku di sini. Dasar! Dunia bukan cuma milik kalian berdua, tahu!"
Yaya menunduk dengan wajah merona. Taufan cuma tertawa.
"Ya udah, aku duluan, ya!" pamit Taufan kemudian. "Sampai besok, Yaya."
"Oke, Fan."
"Hei! Besok aku juga mau ke rumahmu!"
"Yaa ... Sampai besok juga, Ying!"
.
Oo)=======o=======(oO
.
Dua anak tampak sedang bermain di ruang keluarga sebuah rumah yang cukup besar. Tidak bergaya terlalu mewah, tapi tertata rapi dan elegan. Ialah Api, sedang asyik membuat pesawat kertas. Satu pesawat berbahan kertas warna biru muda sudah selesai, dan sudah diletakkannya di atas meja kayu berukir artistik. Pesawat kedua tengah dibuatnya dari kertas warna merah menyala.
Ah, ya, ralat. Bukan dua, melainkan hanya satu anak—Api—yang bermain dengan kertas warna, sambil duduk di sofa krem. Anak satu lagi, Air, sudah tertidur pulas di sofa yang sama, di samping saudaranya.
Tak lama, pesawat kertas merah itu jadi. Api menjajarkannya di samping pesawat kertas biru muda. Anak itu tersenyum puas dengan hasil kerjanya. Namun, tiga detik kemudian, mendadak ia teringat sesuatu. Lantas melihat jam dinding.
Kayak bisa baca jam aja itu anak, padahal enggak.
"Kak Upan lamaaa!"
Api menghempaskan badannya ke sandaran sofa. Ia bersedekap sambil bersungut-sungut, yang malah terlihat lucu. Bosan marah-marah sendiri, anak itu mulai mengganggu adik kembarnya yang masih meringkuk nyaman di sofa. Benar-benar seperti anak kucing.
"Air bobo' terus, sih?" Api mengguncang-guncangkan tubuh sang adik. "Bangun, dong!"
"Nggg ..."
Air—masih setengah tidur—cuma membuka matanya sedikit.
"Ayo, maiiin ..." Api masih mengguncang-guncang tubuh Air yang malah semakin menggulung seperti bola.
"Nggak mau ... Males ... Ngantuk ..."
Air memejamkan matanya lagi. Kata-kata sakti tadi biasanya sudah membuat orang lain menyerah membangunkannya. Tapi Api masih saja menggoyang-goyangkan tubuh sang adik. Makin keras malahan, sampai Air terpaksa bangun.
"Ayo, main!"
Api nyengir lebar. Ditatapnya Air yang sudah duduk di sofa sambil menguap kecil. Masih terkantuk-kantuk.
"Main apa?" Air bertanya malas.
"Hehe ..." Api cuma tertawa kecil. Diambilnya kedua pesawat kertas dari atas meja. Lantas disodorkannya salah satu kepada Air.
"Pesawat kertas?" tanya Air sambil menerima pesawat kertas biru muda.
"Kita lomba!" Api berkata antusias. "Yang pesawatnya jatuh duluan ke lantai, berarti kalah."
Air diam sejenak. "Yang menang dapat apa?"
"Mmm ..." Api berpikir sebentar. "Dapat pesawatnya yang kalah!"
Air diam lagi. Dipandangnya pesawat kertas milik Api, lalu miliknya sendiri. Tanpa bicara apa-apa, tiba-tiba anak itu menjatuhkan pesawat kertasnya ke lantai. Kemudian diambilnya lagi.
"Air kalah."
Setelah berkata begitu, Air menyerahkan pesawatnya begitu saja kepada Api. Ia lantas kembali berbaring di sofa, dan sudah tertidur dalam hitungan detik.
Sementara itu, Api bengong menatap dua pesawat kertas di tangannya dua-tiga detik. Setelah sadar apa yang barusan terjadi, anak itu langsung cemberut. Ia meletakkan kedua pesawat kertas di atas meja, lalu kembali menggoyang-goyangkan tubuh adiknya.
"Aiiir ... Temenin Api main, dooong ..."
Wajah Air berkerut. Tidak bangun, tapi jelas terganggu oleh ulah Api yang terus mengguncang-guncang tubuhnya.
"Ayo, maiiin ..."
"Nggg ... Ngantuuk ..."
"Sekalii aja ... Air, ayooo ..."
Api terus merengek minta ditemani bermain. Akhirnya Air mengeluh malas, lalu membuka mata. Masih malas-malasan, anak itu lantas duduk. Dia berpikir, menuruti kemauan Api adalah cara paling cepat supaya dirinya bisa tidur nyenyak.
Dalam waktu singkat, Api dan Air sudah bersiap dengan pesawat kertas masing-masing.
"Api hitung sampai tiga, terus lempar, ya!" kata Api penuh semangat.
Air cuma menjawab malas, "Yaa ..."
"Satu ... dua ... tiga!"
Api melempar pesawatnya hingga terbang tinggi. Air melempar dengan lembut. Pesawat biru muda itu terbang mulus, naik lalu turun lagi dalam lintasan parabola. Dan mendarat di buffet.
"Yaah ... nyangkut," kata Api.
Sementara, pesawat merah sudah terbang semakin rendah. Sampai akhirnya mendarat di lantai.
"Berarti ... Air yang menang?" tanya Air. "Pesawat Api jatuh duluan ke lantai."
Api menggembungkan pipinya dengan mimik kesal.
"Nggak mau! Itu curang!" protesnya.
"Tapi kan, Air nggak sengaja," Air membela diri. "Ya udah. Kalau gitu, Api yang menang, deh. Pesawatnya buat Api aja."
"Nggak! Pokoknya Api mau diulang!"
Air menatap lemari buffet yang untuk ukuran anak 6 tahun tentulah sangat tinggi. Bagian bawah buffet itu adalah laci-laci bertingkat di tengah, serta dua lemari kecil di kanan dan kirinya. Di atasnya, adalah tempat meletakkan TV, beserta DVD player dan tumpukan DVD film. Di tingkat teratas, ada banyak piala maupun benda sejenis yang merupakan penghargaan milik Ayah dan Taufan.
Dan di rak teratas itulah, pesawat milik Air tersangkut dengan indahnya. Di antara piala-piala.
"Tapi pesawatnya nyangkut tinggi," kata Air. "Gimana ngambilnya?"
Api berpikir sebentar. Ia lalu berlari ke bagian belakang rumah, dan kembali tak lama kemudian dengan membawa kemoceng. Dicobanya meraih pesawat kertas biru dengan bantuan kemoceng, tapi tidak sampai. Masih belum menyerah, diletakkannya kemoceng, lantas berlari lagi ke belakang. Tak lama, ia kembali sambil membawa bangku plastik. Sekali lagi, dengan kemoceng di tangan, ia coba meraih pesawat kertas. Kali ini dengan naik ke atas bangku plastik.
"Api, nanti jatuh ..."
Air yang khawatir, akhirnya ikut beranjak mendekat. Api tidak menyahut, masih sibuk dengan kemocengnya. Sementara, Air memegangi bangku yang dijadikan pijakan itu, tak ingin saudaranya celaka.
"Api ... ayo, turun ..."
"Bentar, Air. Dikit lagi, nih!"
Ujung kemoceng yang dipegang Api sudah hampir berhasil menjatuhkan pesawat kertas. Tapi sayangnya, bukan cuma pesawat kertas, satu piala kecil di dekatnya ikut goyah. Piala berbahan kayu itu cukup ringan untuk ikut terseret ke pinggir. Lantas oleng, tertarik gravitasi, dan jatuh!
"Api, awas!" Air berseru kaget, mengejutkan Api juga.
Tuk.
"Aduh!"
Api mengeluh kecil ketika piala itu sempat mengenai kepalanya, yang untungnya sedang memakai topi—
PRAK!
—lantas benar-benar jatuh ke lantai.
"API!"
.
Oo)=======o=======(oO
.
Taufan tidak terkejut sewaktu mendapati pintu rumah dalam keadaan terkunci. Memang, seharusnya Ayah masih ada di rumah. Mungkin ada pekerjaan yang harus dikerjakan di ruang kerjanya, sehingga Ayah memilih mengunci pintu. Tidak masalah, toh Taufan juga membawa salah satu kunci duplikat.
"Kok sepi?"
Pemuda itu bergumam sendiri ketika sampai di ruang keluarga. Diletakkannya ke atas meja, tas plastik berlogo minimarket dekat rumah.
"Api, Air! Kalian di mana?" Taufan berseru. "Es krimnya keburu mencair, lho!"
Tak perlu menunggu lama, Api dan Air muncul. Mereka tampak ragu-ragu mendekati Taufan, membuat remaja beriris biru itu mengangkat alis.
"Kalian kenapa, sih?" tanyanya sambil tersenyum. "Tuh, Kakak udah beli es krim banyak. Rasanya macam-macam. Kalian pilih aja, sukanya yang mana."
Api dan Air masih berdiri diam di depan sang kakak, tampak gelisah.
"Heei ... Ada apa?" Taufan bertanya lagi, kali ini sambil berlutut di depan si Kembar.
Api yang terus menunduk, pelan-pelan mengangkat wajah. Anak itu sejak tadi menyembunyikan kedua tangan di balik punggungnya. Ragu-ragu, dia mengeluarkan apa yang disembunyikannya. Seketika itu juga, Taufan terbelalak kaget. Senyumnya pun terhapus. Diambilnya benda yang ada di tangan Api.
Piala kecil berbahan kayu miliknya.
"Ini—Ini kenapa?"
Taufan nyaris tak bisa berkata-kata. Piala sederhana itu memiliki hiasan artistik di bagian atas. Berupa patung anak kecil yang sedang melompat di atas skateboard. Tadinya. Patung kecil itu sekarang patah, sehingga terpisah dari bagian bawahnya yang berbentuk balok. Di bagian bawah itulah, terukir apa yang menjadi kebanggaan Taufan
.
JUARA I
Lomba Skateboard Kategori Junior
Antar-Sekolah Pulau Rintis
.
"Kak Upan ... maaf," Api berkata lirih. "Api nggak sengaja. Tadi Api mau ambil pesawat kertas pakai kemoceng. Terus pialanya kesenggol ..."
"Kakak ... Air yang salah, kok," Air ikut bicara. "Air yang lempar pesawatnya, terus nyangkut di dekat piala ..."
Taufan terdiam sebentar. Berusaha mendinginkan kepalanya yang terbakar amarah.
"Api, Air!" Tanpa sadar, Taufan membiarkan nada suaranya meninggi. "Ini kan piala pertama Kakak waktu SD dari kejuaraan skateboard!"
Api dan Air menunduk kompak. Sementara Taufan menarik napas panjang. Sampai kemudian, ia menyadari sesuatu yang lain.
"Tunggu ... Kenapa kalian kotor?"
Taufan meletakkan piala yang rusak itu di atas meja. Ia lalu memeriksa noda-noda putih tipis di baju dan badan si Kembar.
"Tepung?" katanya kemudian. "Kalian main di dapur?!"
Nada suara Taufan yang kembali meninggi, membuat kedua adiknya tersentak.
"Kak ... Itu ..."
Mengabaikan ucapan Air, Taufan bergegas menuju dapur. Tumpahan tepung ada di lantai dan meja dapur. Sebagiannya bercampur air. Belum lagi cangkir-cangkir plastik dan beberapa sendok yang berantakan di mana-mana.
"Kakak ..."
Taufan baru saja menarik napas dalam-dalam, ketika suara kecil itu memanggilnya. Air dan Api menyusul, tapi tidak berani mendekat.
"Sudah berapa kali Kakak bilang? Jangan main-main di dapur!" marah Taufan sambil menghampiri si Kembar. Keduanya menunduk sambil berdiri berdempetan di ambang pintu dapur.
Taufan menghela napas sekali lagi. Tak ada gunanya marah-marah sekarang. Masih ada sisa-sisa 'kekacauan' yang harus dibereskan.
"Masuk ke kamar kalian," katanya kemudian, berusaha lebih melunakkan suara.
"Tapi, Kak Upan—"
"Sekarang!"
Api yang tadinya sudah berani mengangkat wajah, kembali tertunduk. Kedua matanya berkaca-kaca.
"Nggak usah nangis," kata Taufan lagi. "Sana, ke kamar!"
Api masih diam menunduk. Air lah yang akhirnya berinisiatif.
"Kakak ... maaf ...," anak itu berkata. Ia lalu menggandeng tangan Api dan mengajaknya pergi.
.
Oo)=======o=======(oO
.
Acara beres-beres dapur selesai dengan cepat. Tapi acara makan es krim bareng sepertinya harus gagal total. Taufan sudah memasukkan semua es krim itu ke dalam kulkas supaya tidak meleleh.
Ah, sudahlah! Tanggal kedaluwarsanya masih lama ini. Daripada itu, Taufan lebih memikirkan kedua adiknya.
"Jangan-jangan mereka nangis di kamar?" gumamnya sambil menghela napas. "Apa aku tadi keterlaluan, ya ...?"
Daripada kepikiran, Taufan memutuskan untuk menengok ke kamar si Kembar. Kamar itu ada di dekat tangga yang menuju lantai dua.
Begitu membuka pintu, Taufan melihat Air sudah bergelung nyaman di kasur sambil memeluk gulingnya. Api sepertinya juga sudah hampir tertidur di samping kembarannya. Tapi dia langsung bangun waktu pintu dibuka.
"Kak Upan!"
Seruan Api membuat Air ikut terbangun. Akhirnya, kedua anak itu duduk manis di kasur. Sementara Taufan mendekat, lalu ikut duduk di tepi ranjang yang sama.
"Kakak masih marah?" tanya Air. Ekspresi sedihnya meluluhkan hati Taufan seketika. Ditambah Api yang ikut memberikan tatapan imut berkaca-kaca.
"Sini."
Si Kembar memenuhi panggilan Taufan, sampai akhirnya duduk tepat di hadapan sang kakak.
"Dengar, ya ... Piala itu memang penting buat Kakak. Tapi ... itu cuma piala. Kakak lebih sayang sama kalian."
Taufan memeluk Api dan Air yang langsung membalas pelukannya erat-erat.
"Tapi lain kali jangan nakal-nakal lagi!" tambah Taufan sambil melepaskan pelukannya.
"Iya!" Api menyahut dengan semangat.
Sementara, Air cuma mengangguk pelan.
"Omong-omong, kalian sama Ayah, 'kan?" tanya Taufan kemudian. "Ayah mana?"
"Ayah ke tempat Bunda," jawab Air.
"Lho? Ayah sudah ke rumah sakit?" tanya Taufan lagi. "Terus, kalian sama siapa di rumah?"
Kali ini Api yang menjawab, "Sama Oom Ijo."
"Oom Ijo?" Kening Taufan berkerut. "Terus ... Oom Ijo di mana sekarang?"
"Di kamar," jawab Api.
"Bobo' siang?" tambah Air.
Memangnya kamu? pikir Taufan spontan.
"Ya udah. Sekarang kalian bobo' siang, ya? Kalian pasti ngantuk, 'kan?"
Entah apa karena pengaruh 'kemarahan' Taufan sebelumnya, Api dan Air jadi sangat penurut. Padahal, Taufan pikir mereka akan merengek-rengek meminta es krim yang sudah dijanjikannya.
Atau mungkin mereka sudah lupa.
Yang jelas, sekarang ini, ada satu orang yang harus dimintai pertanggungjawaban. Orang yang seharusnya sudah diserahi oleh Ayah untuk menjaga kedua adiknya.
Setelah menutup pintu kamar si Kembar, Taufan bergegas naik ke lantai dua.
.
.
Bersambung ...
.
* Author's Note *
.
Hai, semuanya~! \(^o^)
Akhirnya "My Family!" berlanjut lagi. Chapter kedua ini berpusat ke Taufan, sesuai judulnya. Termasuk ngeliatin dikit kehidupan sekolah Taufan, dan juga teman-temannya. Bonus, 'tanda-tanda' TauYa dikit~hehe ... ;-)
Hmm ... Kalau ngeliat perkembangannya sih, kayaknya karakter-karakter di fic ini akan terus bertambah, dibandingkan rencana awal yang cuma Taufan dan adik-adiknya (plus ortu mereka, tentunya).
Next~ada tokoh baru lagi nih kayaknya. Siapa itu 'Oom Ijo'? Kalau di BoBoiBoy aslinya, yang ijo-ijo ya si Adu Du. Atau kalau yang mirip-mirip namanya, mungkin ... Ejo Jo? *diselepet readers*
Atau ...?
Yang penasaran, nantikan chapter selanjutnya, yah~ :")
.
Regards,
kurohimeNoir
21.10.2017
