Chapter 03
Oom Ijo
.
.
Menyebalkan ...
Menyebalkan.
Menyebalkan!
MENYEBALKAN!
POKOKNYA MENYEBALKAN!
Udah, gitu aja.
Mungkin seperti itulah ungkapan Taufan, kalau dia diminta untuk mendeskripsikan 'orang itu'.
.
Animasi "BoBoiBoy" beserta seluruh karakter di dalamnya adalah milik Animonsta Studios/Monsta©
Penulis tidak mengambil keuntungan material apa pun dari fanfic ini.
Drama keluarga. Daily life. Kids!ApiAir. AU. No powers.
Ada bahasa sehari-hari/tidak baku, dan bahasa gaul. Karakter yang baru muncul di chapter ini harus OOC demi kemaslahatan bersama~ :")
.
DILARANG MASUK.
Taufan memandang sinis tulisan merah di atas dasar papan bercat putih itu. Ukurannya kecil saja. Dan digantungkan dengan tali ke kenop pintu sebuah kamar yang letaknya persis di depan kamar Taufan. Di dekat tangga, di lantai dua rumahnya.
Dengan suasana hati yang belum sepenuhnya membaik, Taufan membuka pintu itu, mengabaikan tulisan tadi. Ternyata tidak dikunci. Ia pun langsung masuk tanpa permisi, tetapi berhenti dua langkah di depan pintu.
"Oom!"
Taufan memanggil seseorang yang sedang sibuk berkutat dengan laptop di atas meja, duduk membelakanginya. Yang tampak hanyalah rambut jabrik pendek berwarna biru gelap, dengan headphone putih beraksen garis-garis biru muda bertengger di kepala. Mungkin dia sedang mendengarkan musik, sampai-sampai tidak sadar ada yang masuk ke dalam kamarnya.
Tidak biasanya Taufan sampai mendengus kesal, tetapi kali ini dilakukannya. Ia lantas mendekat hingga berdiri tiga langkah di belakang orang tadi.
"OOM KAI!"
Seruan—atau lebih tepatnya teriakan—Taufan kali ini sukses mengalihkan perhatian orang itu. Dia menoleh, dan tatapan garang dari sepasang iris merah terang menghunjam penglihatan Taufan seketika.
"APA KAU TIDAK BISA BACA TULISAN DI PINTU!?" orang itu balik meneriaki Taufan sambil melepaskan headphone-nya. Dibiarkannya benda itu tetap terkalung di leher.
"Buat apa pasang tulisan itu kalau pintunya nggak dikunci?"
Taufan sama sekali tidak gentar walaupun baru saja dibentak. Sebaliknya, tatapan laki-laki di hadapannya yang justru melembut.
"Lho? Taufan sudah pulang?" Wajah tampan itu mengulas satu senyum spontan.
"Belum, masih di jalan!" Taufan menyahut ketus.
"... Kamu marah?" Netra merah terang itu berkilat, sementara sang pemiliknya kembali tersenyum. Kali ini senyum miring yang tipis, membuat Taufan jengkel melihatnya. "Hoo ... Taufan bisa marah juga?"
Taufan mendelik, tetapi malas meladeni ledekan itu. Satu-dua detik ia hanya memandang 'Oom Kai'—atau 'Oom Ijo', panggilan kesayangan dari Api dan Air—dalam diam. Namanya Kaizo, pemuda berusia 22 tahun yang merupakan adik dari Ayah. Saat ini masih berstatus mahasiswa TI—Teknik Informatika—tetapi katanya sudah tinggal menunggu wisuda.
Secara keseluruhan, dia adalah orang yang menyebalkan—menurut Taufan. Dia angkuh, atau mungkin hanya sangat percaya diri, entahlah. Yang jelas, Kaizo banyak dikagumi, khususnya oleh kaum hawa.
Mengherankan bagi Taufan. Lihat saja! Bukan cuma satu-dua kali Kaizo marah-marah tidak jelas, hanya karena merasa terganggu saat sedang sibuk dengan laptopnya. Keponakan sendiri pun tega dibentak-bentak. Orang kayak gitu masa' bisa punya banyak penggemar?
Dunia ini memang aneh!
"Kenapa Oom nggak jagain si Kembar?" protes Taufan kemudian. "Mereka masih kecil, Oom! Masih TK!"
"Ck! Mereka sudah besar," Kaizo berkata enteng. "Sebentar lagi sudah mau SD, 'kan?"
"Kalau mereka kenapa-kenapa gimana, coba?"
"Tapi mereka nggak kenapa-kenapa, 'kan?"
"Apaan? Dapur berantakan, pialaku rusak! Itu yang Oom bilang nggak kenapa-kenapa?"
Kaizo masih menanggapi santai tatapan Taufan yang berapi-api. Malah, ia tersenyum sekali lagi.
"Hoo ... Jadi, kamu marah karena piala?" Satu pertanyaan tepat sasaran, sontak membungkam Taufan. "Apa Api atau Air terluka?"
"Nggak, sih ..."
"Ya sudah. Kecuali kalau bagimu, piala lebih penting daripada adik-adikmu."
Taufan terdiam lagi, sadar ucapan pamannya memang benar. Tapi, tetap saja ...
"Oom jangan ngalihin pembicaraan, deh!" Sepasang iris biru itu menentang mata Kaizo dengan tatapan menuntut. "Intinya, Oom Kai sudah diserahi Ayah untuk jagain Api dan Air, tapi Oom sama sekali nggak tanggung jawab!"
Kaizo menghela napas.
"Terus ... kamu mau apa?"
Taufan berdecak malas. "Telat, Oom. Kalau Oom mau bantuin juga, udah aku beresin semuanya."
Kaizo menaikkan sebelah alis. Diangkatnya bahu sedikit.
"Eh! Omong-omong ... kok Oom Kai ada di sini?" tiba-tiba Taufan mengganti topik. Diam-diam kemarahannya telah mereda.
"Yah ... semua urusan di kampus sudah beres. Tinggal tunggu wisuda dua bulan lagi," kata Kaizo. "Jadi, kuputuskan untuk pulang. Kan Kakak Ipar baru melahirkan. Aku juga mau lihat keponakanku yang baru lahir."
"Ooh ..."
"Omong-omong, adikmu laki-laki atau perempuan?"
"Lho? Ayah belum kasih tahu Oom?"
Kaizo mengangkat bahu. "Katanya kejutan."
Taufan tertawa garing. "Sama aku Ayah juga bilang begitu."
"Oh ya?" Kaizo tersenyum samar. "Dasar Abang."
"Ya udah, aku balik ke kamar dulu. Tadi aku ke sini cuma mau protes doang, kok. Sekalian gangguin Oom—"
"Taufan!"
Kaizo hanya geleng-geleng kepala saat Taufan berbalik pergi. Masih sambil tertawa.
.
Oo)=======o=======(oO
.
Kaizo meregangkan tubuh sejenak ketika akhirnya selesai dengan pekerjaan di laptopnya. Satu tahun terakhir ini, ia memang sudah mulai mengambil beberapa proyek kecil yang memerlukan keahliannya sebagai programmer freelance. Hitung-hitung cari pengalaman kerja. Honornya pun lumayan.
Sip! Pekerjaan kali ini pun lancar. Tinggal mengirim hasilnya kepada klien lewat email. Kemudian, Kaizo ingat, abangnya telah memasang Wi-Fi di rumah ini. Sekalian saja dikirim sekarang.
Setelah selesai, Kaizo mematikan semua perangkatnya. Lantas memutuskan untuk mandi saat menyadari hari sudah sangat sore. Pemuda itu bersenandung kecil, membayangkan bisa menikmati mandi yang nyaman lagi. Tiap kamar di rumah ini punya kamar mandi sendiri, sehingga 'privasi' takkan pernah terganggu. Peralatannya pun cukup lengkap, bahkan dia bisa berendam di bath tub kalau mau.
Untuk mahasiswa biasa yang tinggal di kost murah, rumah ini bagaikan istana—ah, tidak, surga dunia! Sebenarnya Kaizo bisa saja memilih tempat kost yang lebih baik. Atau jauh lebih baik. Abangnya takkan keberatan membiayai semahal apa pun keperluan kuliahnya di Ibukota. Tapi Kaizo ingin mandiri, sehingga membiayai kehidupan sehari-harinya dengan hasil kerja sambilan. Yang tentunya membuat dia harus banyak berhemat. Cukuplah biaya kuliahnya ditanggung penuh oleh sang kakak.
Singkat kata, singkat cerita, acara mandi selesai dengan cepat. Mungkin di antara pengagum Kaizo—khususnya lawan jenis—ada yang berdelusi, membayangkan cara mandi pemuda itu tidak seperti rakyat jelata. Misalnya, mandi berendam lengkap dengan taburan kelopak-kelopak mawar merah.
Tapi, tidak. Kaizo bahkan bukan tipe yang suka berendam di bathtub. Tak sampai 15 menit, dia sudah keluar kamar dalam keadaan segar dan berpakaian rapi. Tak lupa headphone putih kesayangan yang digantungkannya di leher.
"Oom Ijo ..."
Kaizo nyaris terlonjak kaget ketika melihat dua makhluk kecil itu sudah berdiri di depan pintu kamarnya. Api dan Air, yang juga tampak segar sehabis mandi, menatapnya dengan mata mereka yang bening. Pemuda itu berlutut di depan kedua keponakannya. Lantas tersenyum kecil, menyadari kedua anak itu sedang gelisah.
"Ada apa?" tanya Kaizo.
"Oom, Oom ... jelly-nya udah jadi, 'kan?" Api balik bertanya.
Kaizo mengangkat alis sejenak. Baru ingat, sebelum 'bertapa' di kamar, ia memang sempat membantu anak-anak itu membuat jelly di dapur. Meskipun cuma sebentar. Dia rasa, itu sebelum Api dan Air membuat dapur berantakan seperti yang dikatakan Taufan.
"Harusnya sih, udah," Kaizo menjawab pertanyaan Api tadi.
Sebenarnya, itu adalah jelly instan yang ditunggu beberapa menit pun sudah jadi. Tapi dia memang memberitahu si Kembar untuk menyimpan dulu jelly buatan mereka di kulkas. Dingin lebih enak, 'kan?
"Kalian belum kasih jelly-nya ke Kak Taufan, ya?" tanya Kaizo.
Api menggeleng. "Tadi Kak Upan marah banget. Api takut ..."
Kaizo tersenyum dengan pesona yang mampu menenangkan anak kecil sekali pun.
"Hei, dengerin Oom. Kalian tahu nggak? Piala itu sangat penting buat Kak Taufan."
Api dan Air mengangguk ragu.
"Kak Taufan itu suka banget main skateboard sejak dia masih kecil," Kaizo melanjutkan. "Dan piala itu hadiah waktu Kak Taufan pertama kali menang lomba skateboard. Hmm ... Kalau nggak salah, waktu dia masih kelas 3 SD."
Kaizo tampak berpikir sebentar.
"Coba deh, kapan-kapan Oom cariin foto waktu itu. Biar kalian bisa lihat."
Api dan Air saling pandang.
"Nah," kata Kaizo lagi. "Makanya Kak Taufan sedih waktu pialanya rusak."
Raut wajah Api berubah murung. Ia pun menunduk sedih. Air yang meliriknya, ikut-ikutan memasang tampang sedih.
"Api nggak mau bikin Kak Upan sedih."
"Air juga."
Kaizo tersenyum kecil. Dielusnya sebentar puncak kepala dua keponakannya.
"Kak Taufan tahu, kok," katanya. "Dia 'kan sayang sama kalian. Cuma, sekarang lagi ngambek aja."
Kaizo ingin tertawa ketika melihat Api dan Air saling pandang. Keduanya tampak bingung.
"Oom ... Kalau Api kasih jelly-nya, Kak Upan nggak sedih lagi, 'kan?" tanya Api.
Kaizo mengangkat bahu, sementara Api dan Air menatapnya penuh harap. "Oom juga nggak tahu. Gimana kalau kita kasih aja jelly-nya sekarang?"
.
Oo)=======o=======(oO
.
Taufan bermain skateboard sendirian di halaman depan rumahnya yang luas. Tertutup paving block, tempat itu sangat ideal dijadikan arena unjuk kebolehan oleh Taufan. Dari meluncur biasa, sampai mencoba beberapa trik baru. Dia melakukannya sekaligus untuk menghibur diri. Meskipun sudah mencoba ikhlas, kejadian rusaknya piala kenangan itu masih membuatnya sedih.
"Huwaaa ... Kak Upan kereeen!"
Taufan tersentak kecil ketika mendengar suara penuh semangat yang sangat dikenalnya itu. Ia pun tersenyum spontan saat melihat Api yang berlari kecil menghampirinya. Di belakang Api, dari arah rumah, Air dan Kaizo mengikuti. Keduanya berjalan santai saja.
"Kak Upan, Kak Upan! Lagi, dong!" pinta Api begitu sampai di dekat kakaknya.
"Lagi?" Taufan tersenyum lebar. "Okee ... Lihat, nih!"
Taufan bergerak menjauh dengan skateboard-nya. Menciptakan ruang yang cukup untuk satu-dua trik kecil lagi. Kali ini, hanya trik dasar sederhana. Misalnya, meluncur tenang, lalu menyentak skateboard sehingga posisinya berputar 180° secara horizontal.
"Itu namanya flipkick," kata Taufan. Ia pun meluncur pelan, memutari Api yang masih berdiri di tempat, terkagum dengan pertunjukan kecilnya. "Keren, 'kan?"
Api hanya mengangguk-angguk penuh semangat. Binar di matanya jelas mengisyaratkan bahwa ia ingin melihat lebih banyak lagi.
Mengabulkan harapan itu, Taufan memilih satu trik yang disebut-sebut tersulit sekaligus terindah, yang sudah dikuasainya. Ia pun meluncur menjauh. Kemudian sambil melompat, ia menyentak skateboard dengan tenaga yang cukup untuk membuat papan itu berputar vertikal hingga 360°. Lantas kakinya mendarat kembali di atas papan dengan sempurna.
"Nah, kalau yang itu namanya 360 flip," kata Taufan.
"Kak Upan, kereeen ...!"
Taufan tertawa kecil melihat antusiasme Api. Bahkan Air—yang sudah berdiri tenang di samping kembarannya—ikut menonton aksi Taufan nyaris tanpa berkedip.
"Iya, dong! Siapa dulu? Taufan~"
"Sudah, sudah," tiba-tiba Kaizo berkata sebelum Taufan tergoda untuk pamer lagi. Ia sendiri sudah berdiri tepat di belakang Api dan Air. "Kalian mau kasih sesuatu 'kan, untuk Kak Taufan?"
Api tersentak, baru ingat tujuan awalnya mencari sang kakak. Ia pun menyodorkan sesuatu yang sedari tadi dipegangnya erat-erat. Mata Taufan membulat sejenak melihat wadah bening seukuran gelas kecil berisi jelly. Warnanya biru lembut, dan di tengah-tengahnya ada potongan-potongan strawberry.
"Ini buat Kakak?" Taufan menerima jelly itu dengan ekspresi rumit.
"Rasa blueberry, kesukaannya Kak Upan," jelas Api.
Taufan memandangi jelly di tangannya. Baru menyadari bahwa strawberry di dalamnya adalah satu strawberry utuh yang dipotong menjadi empat bagian.
"Eh? Siapa yang potong strawberry-nya?" Wajah Taufan mendadak dibayangi kengerian. "Jangan bilang kalian main pisau di dapur ...?"
"Nggak, Kak," Air berkata, segera menghapus kekhawatiran kakak sulungnya. "Oom Ijo yang potongin."
Taufan menatap pamannya. Pemuda itu mengangkat bahu dengan satu senyum samar di bibir.
"Aku hanya membantu sedikit," jelas Kaizo. "Api dan Air bikin dapur berantakan, demi membuatkan jelly itu untukmu."
Tatapan lembut Taufan terarah kepada kedua adiknya. "Benar begitu?"
Api dan Air mengangguk.
"Api sama Air mau minta maaf," Api bicara dengan mimik penuh penyesalan, "udah rusakin piala Kak Upan."
"Jadi," Air menyambung, "Air sama Api bikin jelly buat Kakak ..."
"Biar nggak sedih lagi," kali ini Api dan Air bicara berbarengan.
Taufan tertegun dua-tiga detik. Lantas matanya berkaca-kaca. Ia pun berlutut, dan langsung memeluk erat kedua adiknya.
"Terima kasih," ucap Taufan penuh haru. "Kakak sayang banget sama kalian."
"Api juga sayang Kak Upan."
"Air juga sayang Kakak."
Sekali lagi, si Kembar bicara bersamaan. Sementara, di belakang mereka, Kaizo yang menyaksikan semua itu hanya menghela napas pelan. Ditambah satu senyum teramat tipis, nyaris tak kentara.
"Kalau begitu, kita makan jelly-nya bareng-bareng di teras," tiba-tiba Kaizo berkata. Ia lalu menyerahkan wadah lain kepada si Kembar. Untuk Api berisi jelly berwarna merah, dan untuk Air berwarna putih. "Rasa strawberry buat Api, dan rasa leci buat Air. Oh ya, ini sendoknya."
Kaizo membagikan kepada ketiga keponakannya masing-masing sebuah sendok plastik mini.
"Itu buat siapa?" Taufan mengerutkan kening ketika melihat masih ada satu wadah lagi di tangan Kaizo. Isinya jelly berwarna ungu.
"Rasa anggur buat Oom Ijo!" Api dan Air berkata ceria.
Kaizo hanya tersenyum. "Kalau ngobrol terus, kapan makannya? Ayo!"
"Iyaaa!"
Api dan Air berlari-lari kecil ke arah teras. Mendahului Kaizo dan Taufan yang mengikuti dengan santai dari belakang.
"Tumben Oom mau makan jelly?" Taufan berkata heran. "Oom 'kan nggak suka manis."
"Sesekali tak apalah," sahut Kaizo. "Mereka sudah sengaja membuatkannya untukku."
Taufan tak bisa mencegah senyum yang terbit di wajahnya. Sementara, di kejauhan, dilihatnya Api dan Air sudah duduk manis di lantai ujung teras yang berbatasan dengan halaman. Keduanya masih belum menyentuh jelly masing-masing.
"Kak Upan, Oom Ijo! Cepetan, dong!" teriak Api tidak sabar.
"Iya, iyaa," sambil menyahut, Taufan mempercepat langkah, diikuti Kaizo.
Dan ketika suapan jelly pertama menyentuh lidah, Taufan merasakan segala amarah dan kesedihan seketika sirna dari dalam hatinya.
.
.
Bersambung ...
.
* Author's Note *
.
Hai, haiii~! \(^o^)
Keluarga Taufan hadir lagi menghibur Teman-Teman semua. Siapa yang kangen sama si kecil Api dan Air? :"D
Di chapter ini—sesuai janji—ada tokoh baru muncul. Niatnya chapter lalu mau sok misterius, ternyata udah ketebak (banget) 'Oom Ijo' itu siapa. Dan ... yak! Kalian semua benar~! XD *tepuk tangan*
Karena ini genre family yang ringan dan fun, nggak mungkin banget Kaizo tampil sebagai orang yang 'kejam'. Jadi sosok si Oom ganteng yang sesungguhnya masih sangat muda ini (halah!) harus 'dimodifikasi' untuk keperluan cerita. Buat fangirls dan fanladies Kaizo, silakan dinikmati~ *plak*
Mohon maaf, dedek bayinya ketunda lagi gara-gara si Oom yang mengalihkan duniaku (yha). Habis ini dia pasti datang ke rumah, kok~ :")
Oya, aku juga masukin sedikit gambaran tentang kebolehan Taufan bermain skateboard. Susah juga menuliskannya. Bagi yang penasaran, bisa coba cari video-nya di Y*utube, ada banyak kok. Ketik aja di mesin pencarinya, flipkick, dan 360 flip (dibaca: three-sixty flip).
Okee ... sampai ketemu lagi di chapter selanjutnya~! ^_^
.
Regards,
kurohimeNoir
11.11.2017
