Chapter 04
Ayah, Bunda, dan Adik Bayi
.
.
"Oom Ijo ... ini siapa?"
"Itu Kak Taufan, waktu masih bayi."
"Lucu ..."
"Kok Kak Upan-nya nangis?"
Langkah Taufan terhenti mendadak saat ia melewati kamar Api dan Air. Keningnya pun berkerut mendengar suara percakapan dari dalam kamar. Ada tiga suara, milik adik-adik dan pamannya.
"Oh, itu ... Kalian lihat bebek karet mainan di dekat Kak Taufan? Dia takut sama itu."
Kedua mata Taufan terbelalak kaget mendengar kata-kata pamannya barusan. Pelan-pelan ia mulai bisa menebak apa yang terjadi di dalam sana. Membuat keterkejutannya berubah jadi kesal. Lalu nyaris menjadi amarah ketika terdengar tawa Kaizo bersama tawa menggemaskan Api dan Air.
"OOM KAI!"
.
Animasi "BoBoiBoy" beserta seluruh karakter di dalamnya adalah milik Animonsta Studios/Monsta©
Penulis tidak mengambil keuntungan material apa pun dari fanfic ini.
AU. Elemental Siblings. Daily Life. Kids!ApiAir. Bahasa sehari-hari/tidak baku di mana-mana. OOC mengintai.
.
.
"OOM KAI!"
Tanpa basa-basi, Taufan langsung masuk ke dalam kamar yang pintunya terbuka lebar. Dilihatnya Api dan Air sedang duduk di atas tempat tidur, sementara Kaizo duduk santai di sebuah kursi kayu kecil berwarna merah. Tepat seperti dugaan Taufan, di hadapan Api dan Air terbuka sebuah album foto yang sangat dikenalnya. Ia pun cepat-cepat mendekat.
"Eit! Kamu mau ngapain?"
Kaizo merentangkan lengan kanannya menghalangi jalan Taufan. Bahkan kemudian mencekal lengan kiri pemuda itu supaya tidak bisa pergi ke mana pun. Taufan meronta spontan, tapi sia-sia.
"Apaan sih, Oom!?" protesnya sebelum beralih menatap kedua adiknya. "Air, Api, siniin album fotonya!"
"Jangan dikasih!" Kaizo pun ikut berseru.
Sementara, Api dan Air saling pandang. Mungkin bingung melihat kelakuan kakak dan paman mereka yang seperti anak kecil.
"Oom ngapain sih, pakai nunjukin album itu ke Api dan Air segala!?"
Taufan masih memprotes. Tangannya terulur sia-sia ke depan, berusaha meraih album foto yang jauh dari jangkauan. Matanya pun menatap horor ke sebuah foto yang tadi sedang dibicarakan. Foto Taufan saat berusia 10 bulan, dan sedang mandi di dalam bathtub biru khusus untuk bayi. Dia sedang menangis sambil memandangi bebek karet kuning yang mengapung di air mandinya.
Yang membuat Taufan makin ngeri adalah karena dia tahu, di album itu masih banyak foto-foto 'memalukan' lain dari zaman prasejarah.
"Tadinya aku cuma mau menunjukkan fotomu waktu pertama kali menang lomba skateboard." Senyum miring menyebalkan itu mulai menghias wajah Kaizo. "Kenapa? Kamu nggak mau adik-adikmu tahu, kalau ternyata kakak mereka cengeng banget waktu kecil?"
"Aku nggak cengeng!"
"Hampir tiga perempat album itu isinya fotomu yang lagi nangis."
"Oom Kai! Aargh—!"
Taufan mengerahkan seluruh tenaganya untuk melepaskan diri, tapi percuma. Cekalan Kaizo jauh lebih kuat.
Curang. Curang banget!
Kadang Taufan merasa, pamannya itu memang semena-mena. Suka menyalahgunakan kekuatan, pula. Mentang-mentang jago karate! Jangankan Taufan yang lebih muda dan badannya lebih kecil. Orang dewasa berbadan lebih besar pun belum tentu menang melawan Kaizo.
"Lho? Udah nyerah?"
Alis Kaizo terangkat sejenak ketika Taufan tiba-tiba berhenti meronta. Anak itu bahkan menghela napas, dan tidak melakukan apa-apa lagi.
"Terserah Oom aja, deh," kata Taufan pasrah. "Mendingan aku cari lagi pialaku ..."
Sesuatu berkilat di mata Kaizo saat mendengar kalimat terakhir Taufan. Namun, ia tidak bicara apa-apa. Bahkan sampai Taufan akhirnya beranjak pergi. Baru tiga langkah, tiba-tiba dia berhenti dan berbalik kembali ke arah pamannya.
"Oh ya, Oom lihat pialaku, nggak?" tiba-tiba Taufan bertanya.
"Piala yang mana?" Kaizo balik bertanya.
"Ya piala yang kemarin rusak," jawab Taufan.
Kaizo hanya mengangkat bahu. Taufan pun ganti memandang adik-adiknya.
"Api, Air, kalian tahu piala Kakak?" tanyanya. "Yang kemarin jatuh itu."
"Nggak tahu," Api dan Air menyahut bersamaan.
"Padahal kemarin masih ada di buffet." Taufan mendesah pelan. "Masa' tiba-tiba bisa nggak ada, sih?"
"Ah, aku baru ingat ... Kalau piala kayu yang patah itu sih, sudah kubuang."
Pernyataan mendadak Kaizo itu membuat Taufan tersentak. Lantas membeku di tempat, mati-matian berharap dirinya salah dengar.
"... A-Apa, Oom?" akhirnya Taufan bereaksi.
"Yah ... kemarin aku bersih-bersih rumah. Karena bunda dan adik kalian akan pulang hari ini. Aku lupa ... tapi sepertinya piala itu juga kumasukkan ke dalam kantong sampah—"
"Oom Kai! Kenapa pialaku harus dibuang!?"
"Itu sudah rusak, 'kan?" Kaizo menanggapi kekesalan Taufan dengan entengnya. "Buat apa masih disimpan?"
Taufan menggeleng dengan tatapan tak percaya. Tak mampu berkata-kata. Ekspresinya antara shock, marah, dan ingin menangis.
Pada saat itulah, tiba-tiba saja kedua tangan Taufan digenggam dari sisi kiri dan kanan. Taufan tersentak kecil, sebelum akhirnya menyadari Api dan Air sudah berdiri begitu dekat dengannya.
"Kakak ..." Air berkata dengan muka sedih memandangi kakak sulungnya.
"Kak Upan nunduk, dong! Tangan Api nggak sampai."
Kali ini, ucapan Api membuat kening Taufan berkerut. Tapi diturutinya juga permintaan itu. Dan ketika Taufan sudah berlutut di lantai, Api langsung menepuk-nepuk puncak kepala Taufan. Air akhirnya juga ikut-ikutan.
"Kak Upan, jangan nangis ... Cup, cup ..."
"Kakak ... jangan sedih ..."
Taufan melongo. Sementara, Kaizo yang melihat semua itu, tampak mati-matian menahan tawa. Ah, barusan selintas tawa tertahan lolos dari mulutnya. Tapi pada akhirnya, dia bisa tetap bersikap tenang.
"Iya, Taufan. Oom tahu kamu cengeng, tapi jangan di depan Api dan Air, dong."
Ini apa lagi si Oom Kai, pakai sok-sokan pasang tampang prihatin segala!
"Sudah, ya ... jangan nangis. Piala kamu 'kan masih banyak."
Sumpah, orang ini beneran ngeselin!
Rasanya Taufan ingin sekali mengambil kursi kecil berwarna biru muda yang bergeming menganggur di dekat meja belajar. Dia bisa membayangkan dirinya yang mengangkat kursi itu untuk menghajar laki-laki berambut biru gelap di hadapannya.
Sayangnya, Taufan sadar, dia tidak mungkin mempraktekkan adegan kekerasan tingkat tinggi semacam itu. Apalagi di depan adik-adik kecilnya.
Omong-omong soal 'adik kecil', Taufan merasakan Api dan Air tiba-tiba menggenggam kedua tangannya teramat erat. Mereka juga mengarahkan pandang ke arah pintu secara mendadak, berbarengan.
"Suara mobil Ayah," Air berkata pelan, mengejutkan Taufan.
"Oh, iya!" Taufan baru mendengar hal yang sama setelah menajamkan telinga sampai beberapa detik ke depan. Terkadang kepekaan pendengaran Api dan Air membuatnya terheran-heran, sekaligus kagum.
"Adik baru kalian sudah datang," Kaizo ikut bicara sambil bangkit dari kursinya. "Ayo, kita ke depan."
.
Oo)=======o=======(oO
.
Mobil sedan kelabu metalik meluncur tenang memasuki pelataran rumah yang luas. Kaizo mendekat dengan sigap, menyambut abang dan kakak iparnya—beserta si bayi—yang baru turun dari mobil. Di antara keempat anggota keluarga yang menunggu di rumah, akhirnya dia menjadi orang pertama yang melihat bayi kecil itu.
Sementara, Taufan bergerak lambat, dengan Api dan Air menggayuti kedua tangannya. Pemuda itu bukannya tidak menyadari langkah adik-adiknya yang dipenuhi keraguan. Ia bahkan sangat mengerti kegelisahan mereka, dan apa penyebabnya.
Karena itulah, di ambang teras Taufan menghentikan langkah. Ia pun berlutut, lantas meletakkan kedua tangannya dengan lembut masing-masing di bahu Api dan Air.
"Kalian kenapa?" bertanya Taufan.
Api dan Air saling pandang sedetik, baru kemudian menatap kakak mereka.
"Kak Upan ... Api deg-degan ..."
"Air juga ..."
Taufan tersenyum. Diusapnya puncak kepala adik-adiknya dengan sayang.
"Sama, dong. Kakak juga deg-degan."
Api dan Air kembali saling melempar pandang.
"Kakak nggak sabar mau lihat adik bayi. Kalian juga, 'kan?"
Ucapan Taufan membuat tatapan Api dan Air kembali terfokus kepadanya. Namun, keduanya tidak merespon.
"Kalian pasti juga kangen sama Bunda," kata Taufan lagi. Kali ini kedua adiknya mengangguk pelan. "Ya udah. Sana, ke tempat Bunda."
Taufan menghela napas pelan ketika si Kembar berlari kecil menghampiri ibu mereka. Dia sendiri mengikuti dari belakang.
"Bunda!"
Wanita anggun itu tersenyum lembut ketika mendengar Api dan Air memanggilnya. Matanya yang cokelat keemasan, terus mengikuti langkah demi langkah si Kembar yang semakin mendekat kepadanya. Ia masih tampak cantik alami nyaris tanpa riasan. Rambut hitamnya yang agak ikal pun dibiarkan tergerai bebas menyentuh bahu.
"Api, Air, kalian baik-baik 'kan sama Kak Taufan dan Oom Kaizo?"
"Iya, Bunda," si Kembar menyahut kompak.
"Pintar anak-anak Bunda." Wanita berusia 35 tahun itu masih tersenyum. "Bunda kangen banget sama kalian, Sayang."
"Air juga kangen ..."
"Api juga kangen Bunda. Boleh peluk?"
"Boleh dong, Sayang."
Tanpa banyak bicara lagi, si Kembar memeluk pinggang Bunda dari kanan dan kiri. Meluapkan kerinduan yang sudah bertumpuk selama berhari-hari.
"Maaf ya, Sayang. Bunda juga mau peluk kalian, tapi ini lagi gendong adik bayi."
Ucapan Bunda membuat si Kembar melepaskan pelukannya.
"Waah ... Lucu bangeet ..." Tiba-tiba saja Taufan sudah mendekat. Ia pun spontan mengulurkan tangan, mencolek pelan pipi adiknya yang tengah terlelap di pelukan sang ibu.
"Taufan, nanti dia bangun," tegur Bunda, yang hanya dibalas dengan kekehan kecil.
"Habis, dia imut sih, Bunda," kata Taufan kemudian, lantas beralih menatap Api dan Air. "Hei, kalian juga mau lihat?"
Belum sempat si Kembar menjawab, tiba-tiba bayi kecil di gendongan Bunda itu bergerak. Wajahnya tampak berkerut, tapi matanya masih terpejam. Mulutnya pun mulai mengeluarkan suara-suara kecil, seperti mau menangis. Melihat itu, Bunda langsung menenangkannya dengan suara lembut bernada membujuk.
"Ssssh ... Sayaang ... Terlalu berisik, ya ...?"
"Kakak, sebaiknya kita masuk dulu," Kaizo berkata dengan merendahkan suara.
"Ayo, kita langsung ke kamar saja, biar kalian bisa istirahat," Ayah yang sejak tadi terus berada di samping Bunda, ikut bicara setengah berbisik. "Di sana lebih tenang."
"Baiklah."
.
Oo)=======o=======(oO
.
Kamar Ayah dan Bunda adalah kamar paling besar di rumah ini. Letaknya di dekat tangga yang menuju lantai dua, persis di depan kamar Api dan Air. Walaupun terpisah jarak agak jauh. Kamar itu masih sama seperti biasanya. Kecuali keberadaan sebuah box bayi berwarna putih, tak jauh dari tempat tidur.
Namun, saat ini box bayi itu masih kosong. Bunda masih membuai bayi kecil yang tampak nyaman di dalam gendongannya, terselimuti kain berwarna kuning terang. Bunda sendiri ada di atas tempat tidurnya, duduk bersandar dengan santai. Taufan ikut duduk bersila di sampingnya. Matanya tak bosan-bosan memandangi sang adik. Ayah tadinya juga ada di sini, tetapi sekarang sedang ke belakang. Sedang membereskan satu tas berisi pakaian kotor dan yang lainnya selama Bunda di Rumah Sakit. Dan Kaizo membantunya.
"Oya, Bunda," tiba-tiba Taufan memecah keheningan yang sudah bermenit-menit hadir di ruangan itu. "Siapa namanya?"
Senyum hangat menghias wajah Bunda yang teduh. "Namanya Cahaya."
Mata Taufan membulat antusias. "Cahaya. Berarti ... sekarang Taufan punya adik perempuan, dong?"
Bunda tertawa kecil. "Nggak, Sayang. Kamu dapat adik laki-laki lagi, kok."
"Lho?" Taufan mengerutkan kening. "Kata Bunda kalau lahir perempuan mau dikasih nama Cahaya ...?"
"Iya ... tapi nggak apa-apa, 'kan? Bunda suka nama Cahaya. Supaya dia menjadi cahaya penerang di rumah ini. Cahaya bagi orangtuanya, dan kakak-kakaknya."
"Aamiin."
Taufan tersenyum, masih memandangi wajah adik kecilnya yang begitu damai di dalam tidur. Sangat tenang di dalam dekapan hangat Bunda. Seolah takkan terganggu oleh apa pun juga."
"Oh, iya," kali ini Bunda yang memecah sunyi. "Omong-omong ... di mana kakak-kakak Cahaya yang lain?"
"Eh? Kayaknya tadi mereka masih di sini, deh ..." Taufan mengedarkan pandang dengan cepat ke seantero ruangan, tetapi tidak menemukan kedua sosok yang dicari. "Oh! Mungkin mereka lapar, Bunda. Ini 'kan sudah jam makan siang."
"Benar juga, sudah jam segini." Bunda melirik sekilas jam weker di atas meja kecil berlaci di samping ranjang. "Taufan, kamu urus dulu adik-adikmu, ya? Sekalian kamu juga makan siang."
"Oke, Bunda."
.
Oo)=======o=======(oO
.
Taufan berinisiatif membawakan makanan dan minuman untuk Bunda, sebelum mengurus adik-adik dan dirinya sendiri. Sebenarnya, semua sudah tersedia sejak tadi pagi, cukup dihangatkan saja. Lalu tinggal menatanya di meja makan. Beres.
Setelah itu, barulah Taufan mencari Api dan Air. Tadinya dia pikir mereka ada di ruang keluarga, sedang menonton televisi atau bermain. Tapi ternyata tempat itu kosong. Ia pun mengecek ke kamar si Kembar, ternyata mereka memang ada di sana. Mau tak mau, Taufan merasa heran juga. Tumben sekali jam segini adik-adiknya tidak merengek minta makan.
"Air ... Air nggak bobo', 'kan?"
Sayup-sayup Taufan mendengar suara dari dalam kamar. Dia sendiri masih berdiri di depan pintu yang terbuka sedikit. Dari situ dia bisa melihat Air yang berbaring miring di kasur dengan mata terpejam. Api tampaknya baru saja naik ke ranjang yang sama, tetapi dia hanya duduk. Anak itu tampak lebih kalem daripada biasanya. Bahkan dia menunggu dengan sabar sampai Air membuka mata.
Sedangkan Taufan, masih diam di tempat. Gelagat di dalam kamar itu membuat keningnya berkerut. Nalurinya sebagai seorang kakak seolah memberitahu, ada yang tidak beres. Karena itulah, dia memilih untuk menunggu sejenak.
Jelasnya, menguping, sih.
"Api ... Bunda nggak mau peluk kita, ya ...?"
"Kan tadi Bunda lagi gendong adik bayi. Jadi nggak bisa peluk."
"Tapi Bunda kok gendong dia terus?"
"Mm ... Soalnya adik bayi masih kecil."
Percakapan di dalam kamar itu sungguh membuat Taufan tergelitik. Air merajuk, dan Api seperti berusaha menenangkannya? Ini peristiwa langka!
"Apa Bunda nggak sayang kita lagi? Sayangnya cuma sama adik bayi?"
"Nggak tahu. Tapi 'kan kata Kak Upan, Bunda sama Ayah sayang kita semua."
"Kakak juga nggak sayang kita lagi. Dia sama adik bayi terus ..."
Taufan tersentak pelan ketika mendengar Air mulai terisak. Masih mengintip saja ke dalam kamar, dilihatnya Api mengulurkan tangan. Lantas mengelus-elus rambut Air dengan sayang.
"Air jangan nangis. Kalau Air nangis, Api jadi sedih ..."
Butuh waktu semenit lebih sampai Api berhasil menenangkan adik kembarnya. Isak tangis Air masih sesekali terdengar setelahnya, tetapi sudah jauh mereda. Taufan menghela napas pelan. Lantas mendorong daun pintu perlahan, hingga sepenuhnya terbuka.
Menyadari pintu tiba-tiba dibuka dari luar, Api dan Air sama-sama tersentak. Air cepat-cepat menghapus sisa-sisa air mata di wajahnya, lalu ikut duduk di samping Api. Sementara, Taufan mendekat ke tempat tidur.
"Lho? Air kenapa?"
Taufan memilih untuk langsung membereskan satu masalah di depan mata. Ia pun duduk di tepi ranjang, dekat dengan adik-adiknya.
"Air nangis?" Taufan bertanya lagi.
"Air nggak nangis ...," bocah beriris aquamarine itu menyahut, meski jelas-jelas matanya masih basah.
Taufan beralih menatap adiknya yang satu lagi. "Api, ada apa ini?"
Api tidak menyahut, hanya menggeleng beberapa kali.
"Kakak ngapain ke sini?" tiba-tiba Air bicara. "Sana, sama adik bayi aja ..."
"Lho ... kok Air ngomongnya gitu, sih?" Taufan berusaha tersenyum lembut kepada adiknya yang sedang merajuk. "Sini."
Air menggeleng pelan.
"Air ... sini, dong ..."
Kali ini, Air malah membuang muka. Lantas berbaring lagi di kasur, memeluk guling kesayangannya, dan memejamkan mata.
"Air ... kita makan dulu, yuk. Kakak udah siapin di meja makan buat kita bertiga."
Air bergeming. Tapi Taufan tidak putus asa.
"Ada makanan kesukaan Air, lho. Ayam goreng tepung."
Masih tidak mempan.
"Ya udah. Kalau Air nggak mau, nanti ayam gorengnya dihabisin sama Kakak. Sama Api juga."
Akhirnya Air mau membuka mata. Tapi dia makin erat memeluk guling.
"Kakak jahat," katanya. "Kakak nggak sayang lagi sama Air ..."
"Siapa yang bilang?"
"Kakak sama adik bayi terus ... Bunda juga, Ayah juga, Oom Ijo juga ..."
Air mata turun lagi membasahi wajah Air. Tapi dia cepat-cepat menyekanya.
"Soalnya 'kan adik bayi baru datang." Taufan bicara selembut mungkin. "Jadi semuanya penasaran mau lihat adik bayi. Memangnya Air nggak mau lihat?"
"Nggak mau ..."
"Adik bayi lucu, lho."
"Biarin."
Taufan menghela napas. Jujur, ia bingung harus bagaimana. Pada saat itulah, tiba-tiba terdengar bunyi kecil bergemuruh. Asalnya dari perut Api.
"Wah, Api lapar, ya?" bertanya Taufan.
Api mengangguk. "Tapi Api nggak mau makan kalau nggak sama Air."
Kembali Taufan menatap Air. "Tuh, kasihan Api. Kalau lapar tapi nggak makan, nanti bisa sakit. Air nggak mau Api sakit, 'kan?"
Taufan benar-benar bersyukur ketika akhirnya Air mau bangun. Meskipun anak itu tidak menanggapi ucapannya barusan.
"Ya udah, yuk. Kita makan dulu."
Hanya Api yang menjawab ajakan Taufan dengan anggukan. Anak itu lalu meraih tangan Air, menggandengnya, kemudian menariknya turun dari tempat tidur.
"Ayo, Air! Kita balapan!"
Setelah berseru begitu, Api langsung berlari pergi. Air tersentak kaget, tapi langsung lari menyusul kakak kembarnya. Sementara, di belakang mereka, Taufan lagi-lagi menghela napas.
Ya sudahlah, yang penting mereka nggak mogok makan.
Berpikir begitu, Taufan pun beranjak menyusul adik-adiknya ke ruang makan. Dan masalah 'adik bayi'? Sepertinya harus ditunda dulu sampai keadaan lebih tenang.
.
.
Bersambung ...
.
.
* Author's Note *
.
Hai, haiii~! \(^o^)
Apa kabar semuanya? Di sini lagi heboh sendiri berkat tayangnya episode 14 BoBoiBoy Galaxy~hehehe ... :") *menahan diri supaya nggak fangirlingan gaje*
Menyambut kehadiran kembali Kaizo, di chapter ini Oom Ijo pun merajalela, mwahahaha ... XD *nggak*
Upan yang sabar, yaa~ *pukpuk Upan*
Daaan ... adik bayi yang dinanti-nantikan akhirnya telah tiba~yay~! Jadiii ... 'Cahaya' ini adalah 'kecilnya' Solar. Tapi, untuk beberapa chapter ke depan, sepertinya dia belum terlalu aktif. Masih bayi baru lahir soalnya.
Oya, selain karena episode 14 tadi, aku juga lagi happy karena fanfic-ku yang berjudul "Layaknya Cahaya Kecil" masuk nominasi IFA alias Indonesian Fanfiction Awards 2017 untuk kategori "Most Favorite Fic for Multichapter". Jujur, aku kaget banget pas tau ada karyaku masuk nominasi. Secara, aku terhitung masih newbie di fandom ini, apalagi pas mulai posting fic itu. Aku terharuuu ... Pokoknya, terima kasih banyak atas apresiasi teman-teman semua. Terima kasih buat semua yang sudah menominasikan karya saya. Silakan ikuti polling-nya dan pilih karyaku kalau menurut kalian memang layak.
Oke, sekian dulu obrolan kita. Sampai jumpa di chapter selanjutnya~! :")
.
Regards,
kurohimeNoir
02.12.2017
