Chapter 05

Ngambek

.

.

Ying terpana oleh mata beriris merah terang yang menyorot tajam itu. Wajah tampan sang pemiliknya pun mengalihkan dunia si gadis berkacamata. Ia seperti terhipnotis, mengikuti langkah lelaki muda berambut biru gelap itu. Masuk ke dalam rumah.

Kalimat demi kalimat penuh romantisme menyerbu otak Yaya yang memang hobi menulis cerita. Dia tahu, pria itu memang tampan. Dia juga mengakui, laki-laki itu memang keren. Banget. Tapi, bagaimanapun juga, Yaya tetap merasa seperti sedang menulis novel salah genre. Karena dia dan Ying seharusnya datang ke rumah Taufan untuk menjenguk adik bayinya yang baru lahir. Bukan yang lain.

"Ganteng bangeeet ..."

Akhirnya dua kata itu lolos juga dari mulut Ying. Sangat pelan, tapi Yaya mendengarnya. Sementara mereka sedang berjalan paling belakang, mengikuti ibu masing-masing. Rombongan kecil ini tengah diantar oleh Kaizo langsung ke kamar nyonya rumah dan bayinya.

"Ying! Kita ke sini mau lihat adik bayinya Taufan. Bukan malah fangirlingan sama oom-nya!" tegur Yaya dengan berbisik.

Ying cuma terkikik kecil. Setengahnya malas berdebat. Mau fangirlingan atau nggak, apa urusannya sama Yaya, coba? Suka-suka dia, dong! Lagipula, kamar yang dimaksud sudah semakin dekat.

Sama seperti Yaya, dia juga tak sabar ingin melihat bayi kecil itu.

.


Animasi "BoBoiBoy" beserta seluruh karakter di dalamnya adalah milik Animonsta Studios/Monsta©

Penulis tidak mengambil keuntungan material apa pun atas fanfiction ini.

Daily-life!AU. Elemental Siblings. Kids!ApiAir. Ada bahasa tidak baku dan kemungkinan OOC.


.

.

Taufan turun ke lantai satu rumahnya dengan langkah gontai. Ia langsung menuju ruang keluarga, lantas menghempaskan tubuhnya ke sofa panjang.

"Hei! Hari Minggu cerah gini kok lemes?"

Taufan tersentak saat tiba-tiba mendengar suara familier menegurnya. Ia pun menoleh ke kiri, dan melihat si pemilik suara—Ying—datang dari arah kamar Bunda. Ada Yaya bersamanya.

"Oh, Ying, Yaya. Kalian jadi datang? Sudah lama?"

Taufan menegakkan tubuh, sementara Ying dan Yaya berjalan mendekat. Ying langsung duduk di sofa terdekat yang hanya muat untuk satu orang, letaknya di kiri depan Taufan. Sedangkan Yaya memutuskan untuk duduk di samping Taufan, tetapi masih memberi jarak.

"Nggak juga, sih. Adik bayinya lagi tidur. Jadi kami cuma lihat sebentar. Ini mama aku sama ibunya Yaya masih ngobrol sebentar sama bunda kamu."

Ying menjelaskan panjang lebar tanpa diminta. Taufan cuma ber-oh-ria.

"Jangan mengalihkan pembicaraan!" Ying berkata lagi. "Kamu belum jawab pertanyaanku."

"Iya, Taufan," Yaya menyambung. "Kamu kenapa? Kamu sakit?"

Ekspresi Yaya yang tiba-tiba cemas, menyentak Taufan sekali lagi.

"Eh ... Nggak," remaja beriris biru itu menyahut. "Aku baik-baik saja, kok. Cuma ..."

Kalimat itu terputus sejenak, membuat alis Yaya sempat terangkat. Taufan sendiri mendadak tertawa canggung, terlihat salah tingkah.

"Itu ... Aku ... habis dimarahi Ayah. Hehehe ..."

Yaya dan Ying saling melempar pandang sedetik. Lalu keduanya sama-sama melihat ke arah Taufan dengan tatapan heran.

"Lho? Memangnya kenapa kok sampai dimarahi?"

Ying tampaknya jadi kepo. Yaya juga jelas terlihat penasaran. Dan pada akhirnya, Taufan mendesah pasrah. Mau tidak mau harus dijelaskan kalau begini.

"Kalian ingat, kemarin aku cerita soal Api Air yang ngambek?"

Yaya dan Ying mengangguk.

"Mereka nangis malam-malam. Dibujuk pakai makanan juga nggak mempan. Ya udah, aku terpaksa ngajak mereka nonton film kartun sampai larut malam."

"Oh ... Pantas ayahmu marah. Tidak baik mengajak anak kecil begadang."

Ucapan penuh ketegasan dari Yaya membuat Taufan lagi-lagi tertawa kering.

"Dan filmnya itu ... film aksi superhero." Taufan sudah pasrah ketika tatapan Yaya menajam dengan ekspresi galak. "Iya ... aku tahu aku salah. Habisnya, waktu itu bingung banget gimana caranya membujuk mereka supaya berhenti nangis."

Yaya menggeram kecil. Marah, tapi langsung luluh begitu melihat tampang memelas Taufan yang penuh penyesalan.

"Please, Ya. Kamu jangan ikutan marah, dong. Aku sudah dihukum Ayah, nih. Uang sakuku dipotong setengah selama sebulan. Udah gitu, semua koleksi DVD-ku disita sebulan juga."

Yaya akhirnya mendesah pelan. Tidak kuat dengan tatapan memohon ala puppy eyes yang dilancarkan Taufan.

"Ya udah, lain kali jangan begitu lagi."

Taufan tersenyum lebar.

"Siap, Bos!"

Yaya cuma geleng-geleng kepala saat melihat Taufan memberinya gerakan menghormat ala paskibra. Namun, pada akhirnya gadis berhijab merah muda itu tersenyum tipis.

"Cieee ... Aku dikacangin~"

Barusan itu Ying. Entah sejak kapan, gadis yang suka memakai topi rajut biru muda bergaris kuning itu, hobi banget meledek kedua sahabatnya sampai tersipu-sipu. Koreksi, biasanya cuma Yaya yang tersipu. Taufan sih, paling-paling cuma ketawa gaje.

"Oh, iya ... Api sama Air mana?" Ying mengabaikan Yaya yang mendelik padanya. "Kok nggak kelihatan?"

Taufan mengangkat sebelah alisnya. "Entahlah, sejak tadi aku belum lihat. Mungkin lagi main berdua."

"Mereka masih ngambek?" Yaya bertanya tiba-tiba.

"Mungkin." Taufan mengangkat bahu. "Sepertinya mereka masih sulit menerima kehadiran Cahaya."

"Eeh ... Padahal Cahaya imut bangeeet ... Aku jadi pengin punya adik."

"Punya adik kadang merepotkan lho, Ying. Apalagi Taufan, sekarang punya tiga orang adik."

Taufan hanya tersenyum mendengar komentar kedua gadis itu.

"Terus, terus? Gimana tuh, soal Api dan Air?" tanya Ying kemudian.

"Aku juga bingung," Taufan menyahut. "Kalian ada ide?"

.

Oo)=======o=======(oO

.

Ruang tamu. Dapur. Kamar. Bahkan sampai ke kamar mandi, semuanya sudah diperiksa oleh Taufan. Tapi, tetap saja, si Kembar tidak kelihatan batang hidungnya. Dengan kening berkerut-kerut seperti cucian belum disetrika, Taufan pun naik ke lantai dua. Meskipun dia tidak yakin kedua adiknya ada di sana.

Kamar pertama yang dibukanya adalah kamarnya sendiri. Kosong, seperti dugaannya. Lalu ia beralih memeriksa dua kamar tamu. Tentu saja, kosong. Kamar terakhir adalah kamar sang paman yang tepat berada di depan kamarnya.

Ragu, Taufan mengetuk. Ditunggu beberapa detik tak ada jawaban, sehingga Taufan memutuskan untuk membukanya. Siapa tahu Kaizo sedang asyik mendengarkan musik lewat headphone, sampai-sampai tidak mendengar suara ketukan. Taufan bahkan sudah bersiap-siap untuk diteriaki dan berteriak balik. Tapi ternyata pintu itu terkunci.

Taufan menepuk jidatnya sendiri. Baru ingat, tadi dia sempat melihat Kaizo sedang duduk-duduk di ruang tamu. Sepertinya sang paman memang terus di sana setelah mengantar kepulangan Yaya, Ying, dan kedua ibu mereka.

.

Oo)=======o=======(oO

.

"Oom!"

Taufan langsung berseru memanggil saat melihat sosok Kaizo benar-benar ada di ruang tamu. Berpenampilan kasual dengan celana jins biru tua dan kaus lengan panjang berwarna biru muda, sang pemilik iris merah terang itu tampak duduk bersandar santai di sofa. Sedang bermain game di tablet miliknya.

Asyik betul. Sampai-sampai suara Taufan dianggapnya angin lalu. Remaja 15 tahun itu mendesah. Dia selalu berharap dirinya tidak akan selamanya terjebak di dalam hubungan penuh teriakan dengan sang paman. Tapi sepertinya agak mustahil. Ralat, memang mustahil.

"OOM KAI!"

Kaizo tersentak. Entah salah sentuh tombol apa tadi di permainan yang sepertinya game pertarungan itu. Yang jelas, detik berikutnya, di layar berukuran 10 inchi itu langsung terpampang tulisan merah besar-besar yang berbunyi: GAME OVER.

"TAUFAAAN!"

Yang diteriaki cuma cengar-cengir tidak jelas, walaupun diberi bonus tatapan garang mematikan. Salah sendiri dipanggil nggak dengar. Lagian, hari Minggu kok cuma diam seharian di rumah, main game.

Dasar jomblo.

"Mikir apa kamu barusan?" mendadak Kaizo bertanya sambil menatap keponakannya penuh selidik. Diam-diam heran dengan si penyuka warna biru yang tak kunjung bicara.

"Eh? Nggak mikir apa-apa, kok."

Taufan mengalihkan pandang sedetik. Buset, Oom Kai punya indra keenam, ya? Begitu pikirnya.

"Oom lihat Api Air, nggak?" Taufan cepat-cepat mengganti topik. Untungnya, perhatian Kaizo benar-benar teralih.

"Nggak, tuh. Paling lagi main berdua."

"Udah kucari ke seluruh rumah, tapi nggak ada."

Kaizo berpikir sebentar. "Coba lihat ke halaman."

"... Oke."

Walaupun ragu, Taufan beranjak juga ke halaman depan rumahnya. Seperti yang sudah diduganya, tempat itu kosong. Kalau benar Api dan Air bermain bersama, kecil kemungkinannya mereka ada di luar rumah. Berbeda dengan Api, Air tidak begitu suka beraktivitas di luar ruangan.

"Gimana, ada?"

Pertanyaan Kaizo langsung menyambut begitu Taufan kembali ke ruang tamu. Dijawab dengan gelengan.

"Coba cari di halaman samping atau halaman belakang. Di sana 'kan lebih teduh."

"Iya, Oom. Aku cek ke halaman samping dulu."

.

Oo)=======o=======(oO

.

Di bawah pohon rindang, di atas rerumputan. Beralaskan tikar kecil, diterangi sinar matahari pukul empat sore yang masih hangat. Tampak dua sosok kecil sedang asyik menyusun puzzle berukuran sedang. Taufan langsung menarik napas lega begitu pemandangan itu tertangkap oleh matanya. Ketika tidak menemukan Api dan Air di halaman samping, jujur saja, Taufan mulai panik. Apalagi ada kejadian tak mengenakkan sebelumnya. Tapi ditepisnya pikiran itu. Tidak mungkin juga 'kan, anak sekecil mereka bisa punya pikiran untuk pergi dari rumah?

"Api, Air!" Taufan berseru, lantas setengah berlari menghampiri adik-adiknya. Ia pun ikut duduk di tikar, lebih dekat kepada Api. "Ternyata kalian di sini."

Air melirik sedikit waktu Taufan datang, tapi dia tetap fokus ke puzzle yang sudah hampir jadi. Berbeda dengan Api yang sepenuhnya mengalihkan perhatian kepada sang kakak.

"Kalian lagi apa?" tanya Taufan berbasa-basi.

"Main puzzle!" Api menyahut ceria. "Susaaah ... Tapi sudah mau jadi, hehehe ..."

"Waah ... Kalian pinter, ya."

Taufan menatap antusias susunan puzzle yang sudah cukup jelas menampakkan gambar pemandangan bawah laut beserta ikan-ikan aneka warna. Ayah yang memberikannya beberapa hari lalu, sewaktu cuti pulang demi menunggu kelahiran Cahaya. Untuk ukuran anak TK, tingkat kesulitan puzzle itu memang cukup tinggi. Tapi Api dan Air sangat menyukainya.

Omong-omong soal 'Ayah', Taufan malah jadi teringat hal lain.

"Oh, ya ... Kalian masih ingat film kartun yang kita tonton malam-malam waktu itu?"

Mendengar pertanyaan Taufan, Api langsung bangkit.

"BoBoiBoy!" serunya sambil mengangkat lengan kanan lurus-lurus ke atas, menirukan gaya tokoh superhero jagoannya. "Kuasa Tiga!"

Taufan tertawa kecil menyaksikan tingkah adiknya yang menggemaskan. Gaya Api saat menirukan karakter utama film itu mirip sekali.

"Kak Upan, Air." Api memandangi kedua saudaranya bergantian. "Berdiri, dong. Kita tiruin kayak yang di film! Bertiga!"

"Maksud Api, pose?"

"Pose!" Api menirukan kata yang baru didengarnya dari sang kakak. Enerjik seperti biasa.

"Hee ... Tapi 'kan Kakak lebih tinggi dari kalian."

"Nggak pa-pa, ayo pose!" Ucapan Taufan tidak menyurutkan semangat Api. Ia lalu menoleh ke arah adiknya yang masih sibuk dengan puzzle. "Air, ayo!"

Satu detik.

Dua detik.

Tiga detik.

Tidak ada reaksi. Merasa diabaikan, raut gembira di wajah Api perlahan terhapus. Digantikan kecewa.

"Air nggak mau, ya?" katanya. "Ya udah, deh ..."

Taufan mengerutkan kening. Dalam situasi seperti tadi, biasanya Api akan terus merengek sampai Air merasa terganggu dan 'terpaksa' menuruti kemauannya. Tapi kali ini Api terlalu cepat mengalah. Beralih menatap Air, Taufan menyadari anak itu lebih diam daripada biasanya. Bahkan dia belum bicara sepatah kata pun sejak Taufan menginjakkan kaki di tempat ini. Tidak salah lagi, sejak kejadian tadi siang, Air memang bersikap dingin.

Beneran ngambek ini anak.

"Waktu itu, Air bilang, jangan bilang-bilang Bunda, 'kan?" Taufan coba memancing Air untuk bicara. Gagal, tapi dia tidak putus asa. "Kalian beneran nggak bilang siapa-siapa, 'kan?"

"Api sama Air nggak bilang Bunda, kok," Api yang menyahut.

"Tapi kalian bilang sama Ayah?" tanya Taufan lagi.

"Nggak," masih Api yang bicara. "Api cuma cerita sama Oom Ijo."

Taufan tak bisa mencegah dirinya untuk memutar bola mata. Itu dia masalahnya! Pasti si Oom Kai yang mengadu ke Ayah! Pamannya yang satu itu memang bahagia sekali kalau melihatnya menderita.

Ya sudahlah. Nasi sudah jadi bubur, dan Taufan sudah telanjur dihukum. Jalani saja. Yang penting sekarang, masih ada masalah di depan mata.

"Wah, kayaknya puzzle kalian sudah mau jadi, nih. Gimana kalau habis ini kita makan es krim sama-sama?" Taufan yang tiba-tiba teringat es krim yang dibelinya kemarin, coba mencairkan suasana. "Api mau?"

"Mau, mau! Asyiiik, es kriiim!"

Api semakin bersemangat ingin cepat-cepat menyelesaikan puzzle-nya. Tapi Air masih cuek saja.

"Kakak sudah beliin rasa cokelat kesukaan Api. Sama rasa vanilla, kesukaannya Air," Taufan coba memancing lagi, tapi Air sama sekali tidak bereaksi.

Malah Api yang heboh sendiri. Dipandangnya Taufan dengan mata berbinar-binar. "Kak Upan, beneran?"

"Iya, dong. Ya udah, selesaikan dulu puzzle-nya."

"Iyaaa!"

.

Oo)=======o=======(oO

.

Hanya dalam tempo kurang lebih dua menit kemudian, puzzle itu sudah selesai disusun. Api heboh lagi sambil membanggakan diri. Ditambah pujian dari Taufan yang membuatnya tersenyum gembira. Tentu saja, Taufan juga memberikan pujian yang sama untuk Air. Tapi anak itu kelihatan tidak peduli.

"Sekarang, kita beresin dulu puzzle-nya," kata Taufan. "Habis itu baru makan es krim—"

"Nggak mau!" tiba-tiba Air memotong, untuk pertama kalinya mau bicara. "Kakak makan aja sendiri!"

"Tapi Api mau es krim," protes kakak kembarannya.

"Ya udah, Api makan es krim sana, sama Kakak! Pokoknya Air nggak mau!"

Air bangkit, lalu memakai sandalnya yang tergolek di rumput, tak jauh dari tikar.

"Lho, Air mau ke mana?" bertanya Taufan.

"Air mau bobo'. Kakak nyebelin!"

Air mengentakkan kakinya, lalu beranjak pergi. Tapi kali ini Taufan berniat untuk benar-benar menyelesaikan semuanya. Masalah seperti ini tidak baik jika dibiarkan berlarut-larut. Karena itulah, dia menghalangi kepergian Air dengan cara meraih lengan anak itu. Memeganginya.

"Aaa! Lepasin!"

"Air, sini dulu. Kakak mau ngomong."

"Nggak!"

"Air ... dengerin Kakak, dong ..."

"Nggak mau!"

Taufan tidak melepaskan pegangannya. Sementara Air berusaha menarik paksa tangannya, walaupun sia-sia. Terjadilah adegan tarik menarik yang membuat Api bengong di tempat. Bingung harus berbuat apa.

Masih tak mau mengalah, Taufan memutuskan untuk beranjak mendekat. Lantas, sambil berlutut, dipeluknya tubuh Air dengan lembut. Anak itu tersentak kaget. Sampai beberapa saat dia terus meronta-ronta, tapi Taufan tetap memeluknya. Terus begitu, sampai akhirnya Air yang menyerah. Dia bahkan tidak menolak lagi, ketika Taufan menariknya duduk di pangkuan.

"Air kenapa?" Taufan memilih untuk tidak berbasa-basi lagi. "Air marah sama Kakak?"

Air membisu. Anak itu bahkan membuang muka.

"Air ... ngomong dong, sama Kakak," Taufan terus membujuk dengan nada lembut. "Air marah kenapa?"

"Air benci sama Kakak!" akhirnya Air mau juga menjawab, walau masih memandang ke arah lain.

Taufan melihat adiknya itu seperti sudah mau menangis. Bahkan Api juga menyadari hal itu, sehingga ekspresinya ikut mendung.

"Lho ... Air jangan bilang gitu, dong," sahut Taufan. "Kakak sedih, nih."

"Biarin!" Kali ini Air mau menatap Taufan. Matanya berkaca-kaca. "Kakak sama adik bayi aja, sana! Ngapain ke sini nyariin Air?"

Di akhir kalimat itu, air mata si kecil benar-benar jatuh. Lantas menderas dengan cepat.

"Air, jangan nangis." Taufan menyeka air mata sang adik dengan ujung jari. Sementara anak itu terisak-isak di pangkuannya. "Hei ... Dengerin Kakak ... Adiknya Kak Taufan 'kan bukan cuma satu. Ada Api, ada Air, ada Cahaya juga. Kakak sayang kalian semua."

"Huk huk ... Kakak bo'ong ..." Air terus menangis, membuat Taufan menghela napas pelan. Dadanya jadi ikut terasa sesak melihat kesedihan sang adik. "Sekarang ... semuanya ... cuma sayang ... sama adik bayi ..."

"Nggak ... Nggak gitu." Taufan mulai bingung harus menjelaskan seperti apa lagi. "Ayah sayang sama Api, sama Air ... makanya, begitu pulang Ayah bawain puzzle itu, 'kan? Soalnya Ayah tahu, kalian suka main puzzle."

Air masih terisak, tapi tangisnya sedikit demi sedikit mereda.

"Bunda juga tetap masakin makanan kesukaan kalian, walaupun lagi hamil besar. Terus, Ayah cerita sama Kakak ... Waktu di rumah sakit, Bunda juga nanyain kalian terus, lho. Api sama Air lagi ngapain? Sudah makan belum? Sudah mandi belum? Itu karena Bunda sayang banget sama kalian."

Tangisan Air sudah hampir berhenti sekarang.

"Oom Ijo juga mau nemenin kalian, 'kan? Kayak pas lihat-lihat album foto tadi pagi."

Hanya isakan kecil yang kini masih tertinggal. Itu pun sudah semakin menghilang.

"Kakak ... nggak bo'ong, 'kan ...?"

Taufan menggeleng, lalu tersenyum. "Kapan Kakak pernah bohong sama Air?"

Sepasang iris aquamarine itu menatap Taufan lama. Sampai akhirnya, Air sendiri yang mengeringkan sisa-sisa air mata dari wajahnya. Kemudian anak itu memeluk erat kakak sulungnya. Begitu tiba-tiba hingga mengejutkan Taufan, tetapi dia membalas pelukan itu sambil tersenyum lega.

"Kakak janji, ya? Kakak akan sayang terus sama Air," pinta anak itu sambil mempererat pelukannya, seolah tak mau melepaskan Taufan lagi.

Sementara, Taufan mengulurkan tangan. Diusapnya puncak kepala sang adik, penuh sayang.

"Iya, Kakak janji."

.

.

Bersambung ...


.

* Author's Note *

.

Hai, haiii~! \(^o^)

Sudah pada nonton BBB Galaxy episode 17 kaaah? Setelah kehadiran Halilintar tempo hari, kali ini lagi-lagi nge-hype 2.0! :"D #heh

Dedek Aiiiiiiir~kamu imut sekaliii~ #ditabokberjamaah

Ehm! Cukup fangirlingan-nya.

Balik ke "My Family!", cerita seputar awal-awal kehadiran Cahaya memang agak lambat berjalannya. Jangan bosen, yaa~ *bow*

Dan ini entah kenapa malah jadi sedih-sedih gitu ... T_T #pelukdedekAir

Ya sudah. Nantikan terus kelanjutannya~ :")

.

Regards,

kurohimeNoir

23.12.2017