Chapter 06
Cahaya
.
.
"Jadi begitu, Bunda. Memang ini ide Yaya sih, tapi ... gimana menurut Bunda?"
"Membuat Api dan Air sering berinteraksi dengan Cahaya ... Itu ide yang bagus, Sayang."
"Jadi Bunda setuju?"
"Tentu."
"Oke. Kalau gitu, Taufan ajak Api dan Air ke sini, ya!"
.
Animasi "BoBoiBoy" beserta seluruh karakter di dalamnya adalah milik Animonsta Studios/Monsta©
Penulis tidak mengambil keuntungan material apa pun atas fanfiction ini.
Daily-life!AU. Teen!Character(s). Elemental Siblings. Kids!ApiAir. Baby!Cahaya. Ada bahasa tidak baku plus OOC.
.
Langkah-langkah kaki kecil itu tersendat, dan semakin terasa berat ketika jarak dengan kamar Bunda semakin pendek. Taufan sangat menyadari itu, dengan kedua tangan yang digayuti oleh adik-adiknya.
Dan ketika pintu kamar Bunda yang terbuka lebar itu tinggal tiga langkah lagi, tangan kanannya tertahan. Taufan pun menghentikan langkah, lalu spontan menoleh. Benar saja. Air yang menggenggam erat tangan kanan itu, hanya berdiri diam. Api yang menggandeng tangan kiri Taufan pun ikut berhenti.
"Lho ... kok berhenti?" Taufan menegur dengan lembut. "Ayo, kita masuk."
"Air," Api ikut berkata dengan nada membujuk. "Ayo bareng-bareng."
Air masih diam. Butuh beberapa detik sampai dia mau bergerak lagi, walaupun lambat.
"Hei ... anak-anak Bunda. Sini, Sayang."
Suara lembut dan senyuman hangat wanita anggun itu menyambut Taufan, Api, serta Air, begitu mereka menginjakkan kaki ke dalam kamar. Api langsung melepaskan tangan Taufan. Lantas setengah berlari mendekati ranjang tempat sang ibu duduk bersandar.
"Bunda ...," Api memanggil ragu. Ia masih berdiri saja di samping ranjang, memandangi ibunya yang sedang bersantai sambil menggendong Cahaya.
"Api, ayo sini."
Kata-kata itu membuat wajah Api langsung cerah. Dia pun naik ke ranjang, lalu ikut duduk di samping sang ibu.
"Eh ... Air kok masih di situ?" kata Bunda lagi. Dilihatnya Air masih berdiri kaku, berpegangan erat pada Taufan. "Sini, Sayang."
Meskipun jelas terlihat ragu—mungkin juga enggan—akhirnya Air mau juga melepaskan tangan Taufan, kemudian mendekat. Ia pun ikut naik ke atas ranjang, lalu duduk di sebelah Api. Sementara, Taufan memutari ranjang ke sisi yang lain, lalu duduk di tepinya. Dari posisi itu, dia lebih dekat dengan wajah imut adik bungsunya.
"Bunda, Bunda ... Adik bayi lagi bobo', ya?" tiba-tiba Api bertanya setelah memandangi Cahaya cukup lama.
"Nggak kok, Sayang," Bunda menjawab dengan lembut. "Tuh ... lihat, tangan sama kakinya gerak-gerak."
Api kembali mengamati bayi kecil itu, yang terbalut pakaian berwarna dominan putih dengan garis-garis emas. Dia juga mengenakan topi rajut mungil berwarna kuning keemasan. Betul kata Bunda, meski tidak terlalu aktif, kedua tangan dan kaki Cahaya sesekali bergerak.
"Tapi kok adik bayi merem terus?" Api bertanya lagi. Keningnya berkerut-kerut lucu.
"Iya, Sayang," Bunda menyahut dengan sabar. "Soalnya Cahaya masih kecil sekali. Kalau sudah agak besar, baru dia akan lebih sering membuka mata."
"Ooh ..."
Api kembali memandangi adik terkecilnya dengan sorot mata penuh rasa ingin tahu.
"Imuuut ...," ucapnya tiba-tiba, seperti tanpa sadar. Anak itu lantas beralih menatap Bunda, penuh harap. "Bunda ... Api boleh pegang adik bayi, nggak?"
Bunda menaikkan alis sebentar, lalu tersenyum tipis. "Boleh."
"Nanti nangis ...?"
"Nggak apa-apa, Sayang. Pelan-pelan aja."
Taufan yang sejak tadi membisu, diam-diam tersenyum. Ternyata membuat Api 'tertarik' pada Cahaya lebih mudah daripada dugaannya. Langkah pertama, beres.
"Api," remaja beriris biru itu memanggil. "Coba deh, taruh jari telunjuk Api di tangan Cahaya."
Api menatap sang kakak dengan sorot mata bertanya-tanya. Ia lalu mengangkat tangan kanan dengan kelima jari terbuka, memandangnya sebentar.
"Telunjuk," katanya sambil mengatupkan jemari selain satu jari yang dimaksud, lalu kembali menatap Taufan. "Yang ini?"
"Iya."
Api memandang Bunda sebentar, seperti meminta persetujuan. Setelah melihat Bunda mengangguk, pelan-pelan ia meletakkan jari telunjuknya ke tangan kiri Cahaya. Detik itu juga, tangan kiri Cahaya langsung bereaksi menggenggam. Mata Api membulat, kaget sekaligus antusias.
"Bunda! Jari Api dipegang!" anak itu berkata riang dengan mata berbinar-binar.
Bunda tertawa kecil, begitu pula Taufan. Api terlihat gembira sekali. Wajahnya yang penuh senyum tak lepas-lepas memandangi Cahaya.
"Ooh ... Cahaya mau kenalan ya, sama Kak Api?" kata Bunda tiba-tiba.
Api tersentak kecil, lalu menatap ibunya. "Kak Api?"
"Iya dong, Sayang. Cahaya kan punya tiga orang kakak. Nanti, dia akan memanggil kalian Kak Taufan, Kak Api, dan Kak Air."
Api tersenyum lebar. Sepertinya dia menyukai panggilan baru untuk dirinya itu.
"Halo, Cahaya," Bunda bicara dengan lembut kepada bayi mungil di dalam gendongannya. "Ini Kak Api."
"Halo, Cahaya. Ini Kak Api," tiba-tiba Api menirukan ucapan Bunda tanpa disuruh.
Bunda tersenyum. Lantas berkata dengan suara layaknya anak kecil, seolah mewakili Cahaya, "Halo, Kak Api."
Api tertawa kecil. Ia menggoyang-goyangkan perlahan jari telunjuknya yang masih digenggam oleh Cahaya. Untuk beberapa saat, tangan kecil Cahaya masih terus menggenggam jari sang kakak, sebelum akhirnya terlepas. Namun, pada saat yang sama, Cahaya juga membuat suara kecil yang lucu.
Api terpukau. Mungkin karena gemas, ia mengulurkan tangan kanan. Lantas dengan ujung jari telunjuk, disentuhnya lembut pipi sang adik yang kemerah-merahan. Sekali lagi, Cahaya membuat suara lucu yang sama. Seolah ingin memberitahu bahwa dia menyukai 'perhatian baru' yang didapatkan dari kakak keduanya.
"Cahaya lucuuu ... Hehehe ..."
Itu adalah untuk pertama kalinya Api menyebut nama 'Cahaya', alih-alih sebutan 'adik bayi'. Taufan tersenyum puas. Usaha mendekatkan Api dan Cahaya sukses. Berikutnya, tinggal Air.
.
Oo)=======o=======(oO
.
Sebenarnya, Taufan juga memerhatikan Air sejak tadi. Ingin tahu bagaimana reaksi Air bila berada sedekat itu dengan Cahaya. Anak itu cenderung diam. Tetapi dia memerhatikan gerak-gerik adik bayinya dengan cermat. Ia juga mengawasi bagaimana Api dan Cahaya berinteraksi. Meskipun begitu, dia tidak berusaha melibatkan diri. Hanya melihat.
Nah. Sekarang bagaimana caranya melibatkan Air dengan halus? Tanpa membuatnya merasa dipaksa ...
"Air kenalan sama Cahaya juga, dong!"
Bukan cuma Air, Taufan juga tersentak kaget mendengar celetukan Api yang tiba-tiba. Air terdiam beberapa detik. Sementara Taufan terkekeh pelan. Kadang-kadang spontanitas Api memang suka membuat orang-orang di sekelilingnya kelabakan sendiri.
"Air, ayoo ...," Api berkata lagi dengan nada setengah merengek.
Air masih diam, tapi kali ini dia menatap ibunya. Sambil mengangguk, Bunda tersenyum. Kelihatan sekali, Air sangat ragu-ragu. Meskipun begitu, pelan-pelan dia mengulurkan jari telunjuk tangan kanannya. Mengikuti persis seperti apa yang dilakukan Api sebelumnya.
Ujung jari Air mulai menyentuh telapak tangan Cahaya. Saat itu, sebenarnya Air merasa berdebar-debar karena alasan yang dia sendiri tidak paham. Hanya sentuhan kecil pertama yang perlahan menenangkannya lagi. Tapi, pada saat itu juga, mendadak terjadi hal yang tidak disangka-sangka.
Cahaya tiba-tiba menangis!
Api, Taufan, bahkan Bunda pun kaget. Apalagi Air. Anak itu cepat-cepat menarik tangannya lagi dengan ekspresi antara sedih dan kecewa.
Kenapa adik bayi malah nangis? Apa dia nggak mau dipegang Air? Dia marah sama Air?
Pertanyaan-pertanyaan itu menyerbu pikiran polos Air tanpa bisa dicegah. Perlahan menimbulkan luka hati yang tak disadari oleh siapa pun.
"Bunda ... Cahaya kenapa nangis?" Pertanyaan Api ini membuat Air tersentak. Sementara, Bunda masih mencoba menenangkan putra bungsunya, sambil memeriksa apa yang salah. "Cahaya sedih, ya? Apa marah?"
"Nggak ... Bukan itu, Sayang. Sebentar, ya? Bunda periksa dulu."
Beberapa detik kemudian, Bunda sudah bisa memastikan bahwa Cahaya tidak buang air. Sepertinya juga tidak ada hal apa pun yang mungkin membuatnya merasa tidak nyaman.
"Ooh ... Sepertinya Cahaya lapar," kata Bunda kemudian. Ia pun memberikan apa yang diinginkan Cahaya—ASI alias Air Susu Ibu—sehingga tangisnya langsung berhenti.
"Nggak apa-apa kok, Sayang," Bunda berkata lagi ketika menyadari Api masih terlihat cemas.
Melihat adik kecilnya menangis dari jarak sedekat ini, rupanya telah membuat Api ikut merasa sedih. Bahkan matanya sempat berkaca-kaca. Karena itulah, sambil tetap menyusui Cahaya, kali ini Bunda merasa harus menjelaskan sesuatu kepada Api dan Air.
"Kalau bayi menangis, itu artinya bisa macam-macam. Karena dia belum bisa bicara. Dia cuma bisa menangis untuk kasih tahu kita kalau dia ingin sesuatu."
Api dan Air tampak mendengarkan penjelasan Bunda dengan sungguh-sungguh.
"Cahaya nangis ... soalnya lapar?" Api bertanya sambil memiringkan kepalanya.
"Iya, Sayang."
"Kalau mau pipis juga nangis?"
"Iya."
"Kalau ngantuk?"
Kali ini Bunda tertawa kecil. "Yaa ... mungkin nangis juga. Tapi mungkin dia akan menguap, Sayang."
Api tertawa kecil, lalu kembali memandangi Cahaya yang masih asyik memuaskan lapar dan dahaga. Mimik khawatir itu sudah menghilang dari wajahnya.
"Bunda ... kata Kak Upan, bayi cuma bisa minum ASI, ya?" tanya Api tiba-tiba, yang dijawab Bunda dengan anggukan. "Kalau lapar juga minum ASI?"
"Iya, Sayangku."
"Memangnya bisa kenyang?"
"Bisa, dong! Perut bayi kan kecil," bukan Bunda, kali ini Taufan yang menjawab. "Nggak kayak Api, makan banyak tapi nggak kenyang-kenyang."
Taufan mengulurkan tangan, lalu menggelitiki perut Api dengan gemas. Anak itu tertawa kegelian, sambil berusaha menyingkirkan tangan Taufan darinya.
"Bundaaa ... Kak Upan nakaaal!"
Masih tertawa karena geli, Api berusaha menghindar. Lebih mendekat ke sisi ibunya. Sementara, Bunda geleng-geleng kepala.
"Taufan ... jangan ganggu adikmu."
Meskipun tetap cengengesan, Taufan akhirnya berhenti. Sementara, Api menjulurkan lidah ke arah sang kakak.
.
Oo)=======o=======(oO
.
"Waah ... Ramai sekali ya, di sini?"
Lelaki gagah itu memasuki kamar dengan langkah tenang. Senyum ramah menghiasi wajah tampannya yang penuh wibawa. Rambut hitam pendeknya tersisir rapi seperti biasa. Sementara, sepasang matanya yang beriris sewarna karamel, menyapu lembut wajah-wajah orang terkasih.
"Ayah!"
Api dan Air berseru kompak. Mereka pun cepat-cepat turun dari tempat tidur, sementara sang ayah berjalan mendekat.
"Hai, jagoan-jagoan kecil Ayah!"
Pria 39 tahun berwajah teduh itu tersenyum ketika Api dan Air menubruk lalu memeluknya. Ia pun berjongkok sebentar, lantas balas memeluk keduanya. Baru setelah itu mengajak si Kembar mendekat lagi ke ranjang, setelah memberikan usapan sayang di puncak kepala mereka.
"Ooh ... Sepertinya jagoan kecil yang ini lapar sekali," kata Ayah kemudian.
Ia baru saja duduk di tepi tempat tidur, tepat di sisi Bunda. Sempat diberikannya satu pelukan ringan kepada sang istri tercinta. Lantas dipandanginya Cahaya dengan tatapan hangat.
"Pekerjaannya sudah selesai?" bertanya Bunda sambil tersenyum.
Memang, walaupun sedang cuti, terkadang Ayah masih harus mengerjakan beberapa hal, seperti memeriksa berkas-berkas melalui email. Ayah selalu mengerjakan semua itu di ruang kerjanya. Tepat di samping kamar ini.
"Beres!" Ayah memamerkan ibu jari tangan kanannya sejenak. "Omong-omong, Ayah juga lapar, nih!"
Iris karamel itu memandang Taufan, Api, dan Air bergantian.
"Kita makan malam di luar, yuk!" Ajakan tiba-tiba itu membuat mata Api langsung berbinar-binar. Air juga terlihat senang, meskipun tetap kalem. "Kita berempat. Ayah, Taufan, Api, dan Air. Tapi nanti habis Maghrib. Mau?"
"Mau, mau! Asyiiik!" Api berseru gembira. Sementara Air dan Taufan hanya tersenyum.
"Api, Air, mau makan apa?" tanya Ayah kemudian.
"Ayam goreng!" hanya Api yang menjawab dengan hebohnya.
"Hei, tadi siang kan habis makan ayam goreng," protes Taufan. "Masa' ayam goreng lagi?"
Api cemberut, tapi setuju dengan kata-kata sang kakak. "Terus apa, dong?"
Ayah tertawa kecil, lalu memandang putranya yang hari ini sangat pendiam. "Air mau apa?"
Air diam sebentar. Terlihat bingung. "Air nggak tahu."
Sambil tersenyum, Ayah menepuk pelan kepala putranya. "Kalau mie goreng, Air mau?"
"Mau."
"Api juga mau!"
"Taufan makan apa aja boleh deh, Yah."
Dengan itu, suasana rumah kembali hangat. Dan Taufan berharap, semua masalah pelan-pelan akan teratasi. Termasuk yang berkenaan dengan Cahaya.
.
.
Bersambung ...
.
* Author's Note *
.
Hai, apa kabar, semuanya? \(^o^)
My Family! hadir lagi menemani akhir pekan kalian, bersama Cahaya. Gimana dedek Cahaya-nya? Imut, 'kan? 'Kan? :"D
/nak
Teruuus ... untuk pertama kalinya, chapter ini memperlihatkan sosok Ayah dengan lebih jelas. ;-) *wink, wink*
/ada papa ganteeeng~ :"D *ditabok*
Lalu, apakah 'masalah' Air dan Cahaya sudah selesai? Soal itu ... ikuti aja terus ceritanya, hehe ...
See you next chapter~! :")
Oh ya, ada Extra dikit di bawah.
.
Regards,
kurohimeNoir
30.12.2017
.
.
Extra
.
.
"Wah, ada yang mau makan-makan. Aku nggak diajak, nih?"
Pemilik rambut jabrik biru gelap itu melongokkan kepalanya ke dalam kamar sang kakak. Lima pasang mata dengan warna berlainan langsung menyambutnya, yang kemudian beranjak masuk.
"Oom Kai jaga rumah aja," kata Taufan.
Kaizo yang mendengar itu mendelik spontan, tapi cuma ditanggapi Taufan dengan cengiran khasnya.
"Kaupikir aku satpam?"
Kata-kata Kaizo membuat Taufan tertawa bersama Api. Bahkan Air ikut tersenyum.
"Kau mau ikut, Kai?" tanya Ayah kemudian.
"Ah ... nggak usah juga nggak apa-apa, Bang," sahut Kaizo. "Aku bisa delivery order nanti. Lagipula, harus ada yang menemani Kakak dan si kecil di rumah, 'kan?"
"Ya sudah, terserah kau saja. Titip dua permata hati Abang. Okay?"
Ucapan Ayah membuat pipi Bunda merona samar dalam senyuman. Sementara Kaizo tertawa kecil.
"Siap, Abang! Serahkan saja padaku."
