Chapter 07
Kenakalan
.
.
"Ayah pergi dulu, ya?"
Air terus memandangi ayahnya sejak sebelum beliau melangkahkan kaki melewati pintu depan. Namun, dia tidak bicara. Sampai sang ayah benar-benar mengucapkan kata pamitan, barulah Air bereaksi. Anak itu berlari menghampiri Ayah, menubruk dan langsung memeluknya.
"Hei ... Kenapa ini jagoan Ayah?"
Sang ayah bicara dengan nada lembut. Ditepuknya kepala Air sama lembutnya. Tak disangka, anak itu malah berkaca-kaca. Lantas terisak kecil, sampai akhirnya menangis nyaris tanpa suara.
"Lho ... Air kok nangis?"
Ayah mengangkat tubuh mungil Air dan menggendongnya. Air langsung memeluk sang ayah erat-erat, seolah tak mau melepasnya lagi.
"Air masih kangen Ayah ...," anak itu berkata lirih.
Ayah tertegun sejenak, kemudian tatapannya melembut. Bibirnya pun perlahan melengkungkan sebentuk senyum. Tipis, dan sedikit sendu.
"Ayah juga masih kangen Air ..."
.
Animasi "BoBoiBoy" beserta seluruh karakter di dalamnya adalah milik Animonsta Studios/Monsta©
Fanfiction "My Family!" ditulis oleh kurohimeNoir. Penulis tidak mengambil keuntungan material apa pun atas fanfiction ini.
Daily-life!AU. Teen!Character(s). Elemental Siblings. Kids!ApiAir. Baby!Cahaya.
.
.
Ayah memandang Bunda yang sedang menggendong Cahaya di dalam buaiannya. Sikap Air yang tiba-tiba manja ini, tak urung mengejutkan keduanya. Sementara, anak itu masih memeluk erat ayahnya.
"Ayah juga masih ingin di sini bersama kalian semua," pria berwajah teduh itu kembali bicara. "Tapi ... Ayah harus pergi bekerja sekarang. Air ngerti, 'kan?"
Gelengan cepat menjadi balasan atas pertanyaan itu.
"Kemarin-kemarin Ayah cuma sebentar main sama Air." Anak itu masih terisak samar. "Tapi Ayah kalau sama adik bayi lama ..."
Ayah tersentak kecil. Nada kecemburuan itu sangat terasa. Lalu, diedarkannya pandang ke sekitar, kepada seluruh anggota keluarga yang mengantar kepergiannya sampai ke teras. Saat tatapan netra karamel itu jatuh pada Bunda, sebuah senyum tipis terbit menghiasi wajah keduanya.
"Air ... Ayah akan pulang seminggu sekali," Ayah berkata kemudian. "Nanti kita main. Ya?"
Air kembali menggeleng kuat-kuat.
"Air, Sayang ... Sudah, ya," Bunda ikut membujuk. " Ayah 'kan harus kerja."
Butuh beberapa bujukan lagi sampai Air mau turun dari gendongan Ayah. Termasuk bujukan dari Taufan dan Kaizo. Api pun ikut mendekati adik kembarnya, lalu menggandeng tangan anak itu.
"Pak Boy, mobilnya sudah siap."
Seorang pria paruh baya yang telah bertahun-tahun menjadi sopir pribadi Ayah, datang menginterupsi suasana yang hampir berubah jadi haru.
"Ah ... iya—"
Ucapan Ayah terputus saat beliau merasa kakinya mendadak dipeluk erat. Sesuai dugaan, Air yang melakukan itu. Namun, kali ini Api juga terlihat gelisah.
"Ayah ...," anak itu memanggil pelan, "Api juga mau dipeluk ..."
Sambil tersenyum, Ayah berlutut sejenak untuk memeluk si Kembar.
"Kalian baik-baik di rumah, ya?" kata Ayah. "Jaga Bunda dan adik kalian. Okay?"
Api mengangguk, masih sambil memeluk ayahnya. Di sebelahnya, Air tetap diam. Terlihat tidak rela saat Ayah melepaskan pelukan.
"Taufan juga mau dipeluk?" tiba-tiba Ayah bertanya sembari kembali berdiri.
Yang ditanya cuma terkekeh pelan. Namun, nyatanya Ayah memang tidak butuh jawaban. Langsung diberikannya satu pelukan hangat untuk sang putra sulung.
"Jaga Bunda dan ketiga adikmu," kata Ayah. Sebelum melepaskan pelukan, ditambahkannya satu kalimat lagi dalam bisikan yang hanya bisa didengar oleh Taufan.
Taufan masih tertegun ketika Ayah beralih kepada adik lelakinya, lantas memeluknya singkat.
"Abang titipkan harta Abang yang paling berharga di dunia ini," katanya sambil menepuk punggung Kaizo.
"Aku tahu," jawab Kaizo, tepat sebelum abangnya melepaskan pelukan. "Aku pasti akan menjaga mereka."
Ayah tersenyum lalu beralih memeluk istrinya. Didaratkannya satu ciuman ringan di kening wanita jantung hatinya itu.
"Hati-hati di jalan," kata Bunda lembut.
"Pasti."
Terakhir, Ayah mencium kening putra bungsunya yang sedang terlelap di pelukan sang ibu. Sangat hati-hati, berusaha supaya bayi mungil itu tidak terbangun.
"Baik-baik di rumah ya, Sayang," Ayah bicara dengan nada teramat lembut, baru kemudian menatap setiap anggota keluarga sekali lagi. Satu per satu. "Kalian juga, ya."
"Mari, Bu Hanna," sang sopir pun ikut berpamitan kepada Bunda, lalu mengikuti Ayah yang melangkah menjauh dari teras, untuk kemudian masuk ke dalam mobil. Lima pasang mata terus memandangi kepergian Ayah, sampai mobil sedan abu-abu metalik itu meluncur meninggalkan kediaman keluarga mereka.
.
Oo)=======o=======(oO
.
"... fan? ... Taufan? TAUFAN!"
Remaja beriris safir itu tersentak, baru sadar bahwa namanyalah yang dipanggil.
"Haiya ... Capek panggil-panggil kamu dari tadi, wo!"
Taufan terkekeh pelan saat mendapati Ying sedang memandangnya gemas dari seberang meja. Mereka, berempat dengan Yaya dan Gopal, sedang makan di kantin sekolah saat jam istirahat siang.
"Perasaan, yang kudengar memanggilku tadi Yaya, deh," balas Taufan. "Kenapa jadi kamu yang capek?"
Ying langsung pasang muka datar. "Iya deh, iyaa ... Yang kamu dengar tuh emang cuma suara Yaya. Apalah aku sama Gopal? Cuma angin lalu."
"Dey! Jangan bawa-bawa namaku," Gopal menggerutu, masih asyik menyantap mie ayam dari mangkuknya.
"Ish! Kamu ni!" Ying ganti menatap gemas sahabat gempalnya. "Dari tadi makan terus."
"Aku lapar, lah!" Gopal menyahut tanpa dosa.
"Kenapa kalian malah ribut, sih?" kata Yaya sambil meletakkan sendok di mangkuk baksonya yang tinggal terisi setengah. "Taufan, kamu ada masalah, ya?"
Taufan mengangkat alis, sementara tatapan cemas dari Yaya menyapa penglihatannya. Lantas pemuda itu tersenyum lembut.
"Nggak, kok," katanya menenangkan. "Aku cuma lagi kepikiran soal Air."
"Kenapa memangnya?" Ying bertanya penasaran. "Air masih ngambek juga?"
"Aku nggak tahu." Taufan mengangkat bahu. Raut wajahnya tampak bingung. "Dia sekarang jadi pendiam banget. Kerjaannya tiduuur melulu."
"Bukannya dari dulu memang begitu?" timpal Gopal.
"Iya, sih." Taufan menghela napas. Sekelumit kekhawatiran terlintas di iris sebiru safir miliknya. "Tapi ini beda. Biasanya dia masih mau diajak main. Tapi, sekarang? Api bahkan pernah curhat, dia kesepian karena Air mengabaikannya."
"Masa', sih?" Iris hazel milik Yaya ikut menyorotkan cemas. "Air sampai segitunya?"
Taufan mengangguk pelan. "Aku bingung. Kalau ditanya, dia pasti bilang nggak ada apa-apa. Ini kayak ... dia menghindari kami semua."
"Mungkin Air cuma butuh waktu," kata Yaya. "Dia 'kan masih kecil. Kamu juga nggak usah mikir terlalu jauh. Sabar aja ... ya?"
Taufan hanya tersenyum kecil, lantas melanjutkan makan yang belum selesai. Yaya yang duduk di sampingnya pun menghela napas pelan. Dia tahu, Taufan masih memikirkan sesuatu. Meskipun begitu, Yaya memutuskan untuk tidak bicara apa-apa lagi.
.
Oo)=======o=======(oO
.
"Tolong perhatikan Air."
Satu kalimat singkat itulah yang sebenarnya membuat Taufan sangat kepikiran. Ayah yang membisikkannya secara diam-diam ketika berpamitan beberapa hari lalu. Dan Taufan sangat mengerti kenapa Ayah sampai memberinya pesan seperti itu.
Di antara seluruh anggota keluarga, Air lah yang paling sulit menerima kehadiran Cahaya.
Taufan berpikir, mungkin itu wajar, karena selama kurang lebih enam tahun kehidupannya, Air adalah si bungsu. Dia terbiasa menerima perhatian yang kadang berlebih, dari orang-orang di sekitar yang tanpa sadar memanjakannya. Tapi sekarang, Cahaya 'merebut' semua itu.
Desah pelan terdengar dari Taufan. Langkahnya terhenti di muka pagar besi tinggi berwarna hitam dengan ornamen-ornamen keemasan yang indah. Tanpa sadar ternyata dirinya sudah sampai di depan rumah.
.
Oo)=======o=======(oO
.
"Kak Upaaan! Ada hantuuu ... Api takuuut ...!"
"Eh?"
Langsung disambut salah satu atau kedua adiknya begitu membuka pintu rumah, bukanlah hal yang aneh bagi Taufan. Ketajaman pendengaran bocah kembar itu membuat mereka tahu setiap kali ada yang mendekati pintu rumah dari luar. Atau malah sebelum—siapa pun itu—sampai ke pintu pagar.
Namun, melihat wajah Api yang basah karena air mata, jelas bukan hal yang biasa terjadi. Api dan Air sebenarnya bukan tipe anak yang gampang menangis. Apalagi Api. Kalau menemui hal yang tak sesuai keinginannya, alih-alih menangis, dia akan marah. Atau dengan keras kepalanya akan terus berusaha supaya keinginannya terpenuhi. Meskipun belakangan ini dia memang lebih tenang.
Taufan tersentak kecil ketika Api langsung menubruk dan memeluknya.
"Gambar Api juga dirusaaak ..."
Anak itu masih meneruskan ucapannya sambil menangis. Taufan pun berlutut, lantas memeluk sang adik, berusaha menenangkannya.
"Api," ucapnya lembut. "Api tenang dulu, ya. Kalau Api cerita sambil nangis gini, Kakak nggak ngerti."
Pelukan Taufan, ditambah tepukan lembut di punggung, membuat Api perlahan tenang. Sampai akhirnya, tinggal isakan yang tertinggal. Taufan pun mengajak adiknya ke ruang keluarga.
Beberapa menit kemudian, Taufan sudah duduk santai di sofa panjang. Tas sekolahnya dia biarkan tergeletak di lantai. Sementara, tangan kanannya memegang sebuah kertas putih berukuran sedang.
Di permukaannya tergambar sebuah keluarga, dengan ayah, ibu, seorang anak yang sudah agak besar, serta dua orang anak lagi yang masih kecil. Dengan mudah, Taufan bisa mengenalinya sebagai gambaran keluarga mereka. Coretan khas anak TK yang sebenarnya cukup bagus. Kecuali bahwa gambar itu kini dipenuhi coretan-coretan kasar di sana-sini.
Tepatnya, setiap wajah anggota keluarga itu dicorat-coret dengan krayon biru muda. Ada pula sesuatu di tangan sang ibu yang ikut dicorat-coret. Lebih parah daripada coretan di tempat-tempat lain. Taufan menduga, itu adalah gambar Cahaya yang sedang digendong oleh Bunda.
Taufan menghela napas, sangat samar. Tampak pensil, penghapus, dan krayon masih bertebaran di lantai. Sepertinya tadi Api menggambar di sini. Taufan lantas menoleh ke samping kanannya. Api sedang duduk manis di situ, sambil meminum susu kotak rasa stroberi kesukaannya. Taufan sengaja mengambilkannya dari kulkas untuk membujuk Api supaya berhenti menangis. Cukup ampuh, walaupun masih tertinggal satu-dua isakan kecil.
"Enak susunya?" tanya Taufan sambil tersenyum. Dielusnya puncak kepala Api dengan lembut, ketika anak itu hanya mengangguk untuk menjawab pertanyaan tadi.
"Ya udah," kata Taufan lagi. "Dihabisin, ya?"
Itulah yang terjadi tak sampai semenit kemudian. Taufan hanya tersenyum saat Api langsung bangkit, lalu membuang sendiri kotak susu bekas itu ke tempat sampah di tepi ruangan. Tanpa banyak bicara, anak itu kembali lagi untuk duduk di sisinya.
"Kak Upan ... kok hantunya rusakin gambar Api, sih?" tanya Api. Tatapannya masih berkaca-kaca ketika kembali melihat gambar yang dicorat-coret itu. "Api 'kan susah bikinnya."
"Memangnya ada hantu?" Taufan balik bertanya. "Api tahu dari mana? Emangnya Api lihat sendiri hantunya?"
"Hantu 'kan nggak kelihatan." Kening Api berkerut sejenak. "Kak Upan gimana, sih?"
Taufan tertawa garing. "Ya ... habisnya ... Api tahu dari mana kalau ini perbuatan hantu?"
"Habis 'kan nggak ada siapa-siapa di sini," kata Api. "Tadi Api kebelet pipis. Terus pas balik ke sini, gambarnya udah rusak ..."
Mata Api mulai berkaca-kaca lagi.
"Wah, sayang banget, ya ... Padahal gambar Api bagus banget," Taufan yang melihat adiknya kembali bersedih, berusaha mengalihkan perhatian. "Ini gambar keluarga kita, ya?"
"Kok Kak Upan tahu, sih? 'Kan gambarnya rusak."
"Tahu, doong."
Taufan tertawa kecil, memancing adiknya untuk tersenyum. Bocah itu lantas mengulurkan tangan kanan. Dengan ujung jari, ditunjuknya sosok-sosok di dalam gambar satu per satu.
"Ini Api sama Air," jelasnya. "Ini Kak Upan. Ini Ayah. Ini Bunda lagi gendong Cahaya."
"Oooh ... gitu." Taufan tersenyum simpul. "Kok Oom Ijo nggak digambar?"
Api tersentak kecil, kemudian menatap sang kakak dengan sorot mata bening.
"Api lupa."
"Ya udah. Kalau gitu, Api bikin lagi aja gambar yang baru. Nanti Api tambahin gambar Oom Ijo juga, ya? Kasihan, nanti Oom Ijo nangis kalau nggak ikut digambar."
Tawa kecil menggemaskan terdengar dari mulut Api. Taufan sendiri ikut tertawa, membayangkan pamannya merajuk dan menangis karena tidak diikutsertakan dalam gambar foto keluarga buatan Api.
"Nanti Api mau gambar Atok juga!" kata Api tiba-tiba.
Melihat adiknya sudah bersemangat lagi, Taufan tersenyum lega.
.
Oo)=======o=======(oO
.
Taufan mengerling sekali lagi kertas gambar di tangannya. Tatapan matanya menajam ketika melihat gambar Cahaya yang hampir seluruhnya tercorat-coret krayon.
Biru muda adalah warna kesukaan Air.
Sejak tadi sebenarnya di benak Taufan sudah terpikir satu kesimpulan. Dugaannya cukup kuat, siapa pelaku yang telah merusak gambar yang dibuat Api ini. Meskipun begitu, Taufan tak ingin gegabah.
Dengan langkah ringan, pemuda itu melangkah ke dalam kamar Api dan Air yang setengah terbuka. Tas sekolahnya masih tersandang. Ia memang bermaksud melihat Air sebentar sebelum naik ke kamarnya di lantai dua. Karena menurut Api, Air sedang tidur siang.
Taufan terhenti sejenak di sisi tempat tidur. Dilihatnya sosok Air yang berbaring miring sambil memeluk guling, dengan posisi membelakanginya.
"Air?" Taufan mencoba memanggil, pelan saja. "Air bobo', ya?"
Taufan melongokkan kepalanya, mengintip sebentar. Sepertinya Air memang benar-benar sedang tidur. Ia pun memutuskan untuk keluar dan segera naik ke kamar.
.
Oo)=======o=======(oO
.
"Aduuh ... di mana, ya ...?"
Taufan mengerutkan kening ketika baru turun dari lantai dua setelah berganti baju. Tadinya ia bermaksud ke ruang keluarga, bersantai sambil menonton TV sekalian menemani Api menggambar. Namun, suara sayup barusan menarik perhatiannya. Sepertinya suara Bunda dari dalam kamarnya yang berada di dekat tangga. Pemuda itu pun memutuskan untuk melihat apa yang terjadi.
"Kenapa, Bunda?" Taufan mengerutkan kening ketika melihat Bunda sedang berdiri kebingungan di depan lemari baju yang terbuka.
"Oh, Taufan." Bunda menoleh sebentar, sementara Taufan berjalan mendekat. "Ini ... Bunda lagi nyari selimut Cahaya, yang warna kuning cerah itu, lho."
"Yang hadiah dari Oom Kai?"
"Iya. Kok nggak ada, ya?"
"Taufan bantu cari ya, Bunda?"
Beberapa menit kemudian, selimut itu masih juga belum ditemukan, meskipun sudah dibantu mencari oleh Taufan.
"Nggak ada juga," keluh Bunda. "Masa' hilang, sih?"
"Mungkin cuma keselip, Bunda," sahut Taufan.
"Ya sudahlah. Mungkin nanti kalau pas nggak dicari malah bisa ketemu."
"Hahahaha ... Biasanya memang sering kayak gitu, Bunda."
Bunda tersenyum tipis. Setelah menutup pintu lemari, ia beranjak untuk duduk di tepi tempat tidur. Sempat pula dipandangnya Cahaya yang sedang tidur pulas di dalam box bayi, dengan tatapan teramat lembut. Taufan ikut menatap wajah adik bungsunya yang baru berusia tiga minggu. Bayi mungil itu tampak begitu damai di dalam tidur, memancingnya untuk tersenyum.
"Akhir-akhir ini, rasanya Bunda jadi pelupa," kata Bunda tiba-tiba. "Sering lupa taruh barang. Seingat Bunda ada di satu tempat, eh ternyata ada di tempat lain. Padahal Bunda yakin, memang Bunda taruh di situ. Sudah beberapa kali terjadi. Tapi biasanya masih di dalam kamar ini, sih."
"Mungkin Bunda kecapekan?" komentar Taufan. "Bunda banyakin istirahat aja. Jangan sampai Bunda sakit."
Bunda hanya tersenyum. Diulurkannya tangan kanan untuk membelai wajah putra sulungnya sekilas.
"Makasih ya, Sayang. Kamu sudah perhatian sama Bunda."
"Taufan 'kan sayang sama Bunda." Taufan terkekeh kecil. "Soal selimut itu, nanti Taufan bantu cari lagi. Mungkin ada di luar kamar. Siapa tahu jatuh sehabis diangkat dari jemuran."
"Baiklah. Tolong ya, Nak."
.
Oo)=======o=======(oO
.
"Lho? Ini bukannya selimut Cahaya?"
Taufan mendekat ke sofa sambil mengerutkan kening. Tertangkap oleh matanya, selimut bayi yang sejak tadi dicari-carinya bersama Bunda. Benda itu tampak tergeletak di atas salah satu bantal sofa.
"Api ... kok ini ada di sini?"
Sembari mengambil selimut itu, Taufan beralih menatap adiknya yang tengah asyik mewarnai gambar. Anak itu tersentak kecil, seperti baru menyadari kakaknya ada di situ.
"Tadi Api nemuin," kata Api waktu melihat selimut di tangan Taufan.
"Di mana?"
"Di bawah bantal sofa. Tadi pas mau gambar, Api lihat ada kuning-kuning di bawah bantal. Terus Api ambil, ada itu," jelas Api. "Itu apa sih, Kak?"
"Ini selimut bayi, punya Cahaya," Taufan menyahut.
Api memiringkan kepalanya sejenak. "Kok selimut punya Cahaya ada di sini?"
"Kakak juga nggak tahu."
Taufan mengangkat bahu. Dalam hati ia heran, karena tidak mungkin Bunda salah meletakkan selimut di bawah bantal sofa. Melihat posisinya saat ditemukan oleh Api, tidak mungkin juga kalau terjatuh. Ini lebih seperti ada yang sengaja menyembunyikan.
Tapi ... siapa?
Sepertinya bukan Api, karena dia yang mengaku menemukannya.
"Ya udah," kata Taufan lagi. "Kakak balikin ini dulu ya, ke Bunda."
"Api ikut! Api juga mau kasih gambar Api buat Cahaya. Buat hadiah!"
Taufan tersenyum spontan ketika Api langsung bangkit mendekatinya sambil membawa kertas gambarnya di tangan. Tangan kanannya pun terulur untuk mengelus rambut sang adik.
"Ooh ... jadi, itu hadiah buat Cahaya?" tanya Taufan, dijawab Api dengan anggukan penuh semangat. "Gambarnya udah jadi?"
"Udah!"
"Mana? Sini, Kakak mau lihat."
Sambil tersenyum ceria, Api membiarkan Taufan memegang gambar buatannya sejenak. Ternyata anak itu benar-benar menambahkan gambar Kaizo ke dalam gambarnya. Ditambah satu orang lagi yang tampak berkacamata dan memakai peci.
"Ya udah, yuk, kita ke kamar Bunda," ajak Taufan sambil mengembalikan gambar itu ke tangan adiknya.
"Ayo!"
.
.
Bersambung ...
.
* Author's Note *
.
Hai, haiii~! \(^o^)
Wah, udah lama juga cerita ini belum update, hehehe ... Selain sibuk, kemaren-kemaren juga keasyikan ikut event. :"p
Siapa yang kangen sama keluarga Taufan?
/tunjuk tangan
Dedek Air cuma keluar sedikit ya di chapter ini ... Kamu bobo' terus siy, deeek~
/unyel Air
Ya udah deh. See you next chapter~! :")
.
Regards,
kurohimeNoir
10.03.2018
