Chapter 08

Tok Aba

.

.

Air sedang bermain puzzle bersama Api, seperti yang biasa mereka lakukan. Hanya berdua saja. Di halaman belakang berselimut rerumputan, di bawah pohon rindang favorit mereka.

Air masih pendiam seperti biasa, tapi dalam hati dia merasa senang. Begitu asyiknya bermain, tahu-tahu tinggal tersisa satu kepingan puzzle terakhir. Dia mengulurkan tangan ke depan. Nyaris tanpa melihat, karena yakin benar di mana letak benda kecil berbentuk kepingan itu. Namun, tangan mungilnya tak menemukan apa-apa.

Tersentak samar, Air memandang ke depan. Pikirnya, Api yang mengambil kepingan terakhir puzzle. Kadang, mereka berdua memang suka berebut kepingan terakhir yang bagi mereka istimewa itu. Bahkan tak jarang perebutan itu akan berubah menjadi pertengkaran kecil.

Tapi aneh, tiba-tiba Api tidak ada di sana. Dia juga tidak ada di mana-mana, meskipun Air sudah mengedarkan pandang berkeliling. Sepi. Bahkan angin seperti enggan berembus.

"Api ...," Air memanggil lirih. "Api di mana?"

Tak ada jawaban.

Air lantas memutuskan untuk mencari saudaranya. Dia berdiri dari duduknya di atas tikar, mengenakan sandal, lalu berbalik.

Lagi-lagi hal aneh terjadi. Seluruh pemandangan di depan Air tiba-tiba berubah. Tidak ada pohon. Tidak ada taman. Tidak ada pagar. Tidak ada rumah.

Hanya ada langit dan rerumputan.

Air tersentak. Dia berbalik ke arah semula, dan menemukan hal yang sama. Tikar tempatnya duduk tadi, juga permainan puzzle miliknya dan Api, tiba-tiba menghilang. Dia kini berada di dunia sepi tanpa batas.

Anak itu terdiam. Perlahan, ketakutan menguasainya. Dan ketakutan itu semakin menjadi, ketika ia mencoba bergerak maju, tetapi tidak merasa telah berpindah tempat. Ia pun menghentikan langkah.

"Api ... Kakak ... Oom Ijo ... Bunda ...," Air mulai terisak. "Semuanya di mana ...?"

Air mata mulai mengalir. Kemudian menderas dengan cepat.

"Air takut sendirian ... Huk huk ... Ayah ..."

Air benar-benar menangis sekarang. Tapi tak ada yang datang untuknya.

"Air kangen Ayaaah ..."

Dan pada akhirnya, anak itu hanya bisa terus menangis.

.

.


Animasi "BoBoiBoy" beserta seluruh karakter di dalamnya adalah milik Animonsta Studios/Monsta©

Fanfiction "My Family!" ditulis oleh kurohimeNoir. Penulis tidak mengambil keuntungan material apa pun atas fanfiction ini.

DailyLife!AU. Elemental Siblings. Teenage!Character(s). Kids!ApiAir. Baby!Cahaya.


.

.

Iris biru pucat itu tampak sendu, ketika kelopak mata sang pemiliknya membuka dengan cepat. Yaitu bocah berusia enam tahun, yang segera duduk dari pembaringannya. Ia langsung memandang berkeliling, dan mendapati kamarnya dalam keadaan sepi.

Bocah itu, Air, terisak kecil. Samar-samar dia ingat, tadinya Api juga ada di sini. Sama-sama tidur siang di sampingnya.

"Api ...?" Air memanggil pelan. "Api di mana ...?"

Air berusaha menghentikan tangisannya, lantas menghapus air mata. Ia pun turun dari ranjang dan cepat-cepat keluar kamar. Pikirnya, Api mungkin sudah bangun duluan, lalu bermain di ruang keluarga. Tapi, tepat di depan kamarnya, dia bisa melihat ruang keluarga yang kosong.

Anak itu mulai berpikir, mungkin Api sedang bermain di halaman. Namun, kemudian, ia bisa mendengar suara-suara yang menarik perhatian tak jauh darinya. Samar saja. Tapi dia yakin mengenali suara-suara itu.

Ada suara tawa Api. Ada suara lembut Bunda. Ada satu suara lagi yang terdengar begitu menggemaskan. Tapi entah kenapa, Air tidak menyukainya. Dan semua suara itu berasal dari kamar lain yang hanya berjarak beberapa langkah dari kamarnya dan Api.

Kamar Ayah dan Bunda, yang sekarang juga menjadi kamar adik kecilnya.

Diawali ragu, Air melangkah mendekati kamar itu. Lantas, dia mengintip ke dalam dari balik ambang pintu yang terbuka. Di sana, kakak kembarannya sedang asyik bercengkrama dengan adiknya yang berbaring di dalam box bayi. Bunda juga ada di dekat mereka, mengawasi.

Api tertawa, begitu juga Bunda. Bayi mungil itu juga tak henti membuat suara-suara lucu. Rasanya, siapa pun yang melihat pemandangan ini takkan mampu menahan senyum. Tapi tidak dengan Air.

Dia justru tertunduk dengan raut wajah seperti mau menangis.

Namun, itu tidaklah lama. Setelah beberapa detik singkat, tiba-tiba Air tersentak kecil. Ia pun seperti refleks menoleh ke arah lain. Lantas berlari-lari kecil menuju ruang keluarga. Terus, sampai ke ruang tamu.

Di situ ternyata ada Kaizo, sedang duduk santai dengan sebuah komputer tablet di tangan.

"Lho?" Kesibukan Kaizo terhenti ketika melihat keponakannya. "Air mau ke mana?"

Air pun berhenti. Sementara Kaizo meletakkan tablet di atas meja, lantas menghampirinya.

"Ada yang datang," kata Air ketika Kaizo berlutut di hadapannya untuk menyamakan tinggi badan.

Kaizo mengangkat sebelah alis. "Oh ya?"

Tepat di akhir pertanyaan itu, bel berbunyi.

"Eh? Beneran ada tamu?"

Baru saja Kaizo hendak beranjak, Air memegangi tangan kanannya.

"Oom, Ayah pulang?" tanya Air.

Kaizo terdiam sejenak ketika melihat tatapan Air yang penuh harap. Pemuda itu menghela napas pelan. Kemudian tersenyum tipis, sembari menepuk puncak kepala Air dengan lembut.

"Kan kemarin Ayah sudah bilang di telepon," sahut Kaizo, "minggu ini Ayah nggak bisa pulang, soalnya ada tamu dari luar negeri."

Wajah Air langsung mendung. Kaizo tak urung iba ketika melihat anak itu tertunduk lesu.

"Air jangan sedih, dong. Minggu depan Ayah pulang, kok," Kaizo berusaha menghibur. "Ya udah. Yuk, Air ikut Oom ke depan. Kita lihat siapa tamunya."

Air cuma mengangguk.

.

Oo)=======o=======(oO

.

Kedua mata Air membulat sempurna, begitu pintu depan dibuka oleh Kaizo dan mereka bisa melihat siapa yang tadi membunyikan bel. Memang bukan Ayah, tetapi Air tetap merasa senang. Sebab, sosok itu juga merupakan seseorang yang dirindukannya.

"Atok!"

Tanpa perlu pikir panjang, Air berseru riang dan langsung menubruk sosok yang masih berdiri di depan pintu itu. Seorang pria tua berbaju kotak-kotak biru, berkacamata, serta mengenakan peci berwarna putih. Pria berusia tujuh puluh tahunan itu tertawa kecil, lantas mengusap-usap puncak kepala anak itu.

"Air, cucu Atok," pria itu berkata.

Air ikut tertawa kecil sambil mempererat pelukannya.

"Ayah," Kaizo ikut menyapa. Diraihnya tangan tua itu sejenak, lantas diciumnya dengan takzim.

"Kaizo." Pria tua itu berkata sambil tersenyum lembut. "Kamu masih di sini, Nak?"

"Mungkin saya balik ke kampus dua minggu lagi." Kaizo menepuk bahu keponakannya. "Air, ayo ajak Tok Aba masuk."

"Iya."

.

Oo)=======o=======(oO

.

Tok Aba, satu-satunya orangtua Ayah yang masih ada. Seorang pengusaha sukses dan rendah hati. Awalnya, beliau merintis sebuah kedai cokelat kecil di Pulau Rintis sejak tahun 1967. Kemudian, membuka cabang hingga ke seluruh penjuru negeri.

Kedai Kokotiam Tok Aba, itulah namanya, yang tahun ini mulai merambah mancanegara. Beliau baru saja kembali dari perjalanan selama 40 hari ke tujuh negara, untuk menghadiri sekaligus mengawasi pembukaan cabang-cabang Kokotiam di tujuh negara tersebut.

"Atok capek?" tanya Air tiba-tiba.

Ia masih duduk manis di sofa dengan wajah cerah, tepat di samping kakeknya. Tok Aba tersenyum sambil mengelus sisi kepala sang cucu.

"Sedikit, namanya juga habis pergi jauh," kata Tok Aba. "Tapi tidak apa-apa. Yang penting sekarang, Atok bisa ketemu lagi sama cucu Atok."

Air tersenyum, lalu memeluk kakeknya sekali lagi.

"Air kangen Atok," katanya.

"Atok juga kangen Air," balas Tok Aba.

"Atoook!"

Acara kangen-kangenan Air dengan kakeknya harus terhenti oleh seruan itu. Api yang baru saja datang, langsung berlari menghambur ke pelukan Tok Aba.

"Wah, Api ... hati-hati, nanti jatuh." Tok Aba balas memeluk cucunya yang satu lagi sambil tertawa kecil.

Api ikut tertawa. "Api kangen Atok."

"Atok juga kangen Api." Tok Aba mengacak-acak rambut bocah di hadapannya dengan gemas. "Atok kangen kalian semua."

"Si Kecil juga ingin ketemu kakeknya lho, Ayah."

Suara lembut itu menarik perhatian semua orang yang ada di sana. Tok Aba tersenyum lembut, saat melihat Bunda datang sambil menggendong cucu yang belum pernah ditemuinya. Kaizo juga ada bersama mereka. Dialah yang tadi memberitahukan kedatangan Tok Aba kepada Bunda.

"Hanna," kata Tok Aba sambil menerima uluran tangan Bunda yang ingin mencium tangannya sebagai tanda hormat. "Kamu baik-baik, Nak?"

"Iya, Ayah."

"Si Kecil juga baik-baik?"

Tok Aba bangkit untuk melihat cucunya yang berada di dalam gendongan Bunda.

"Cahaya baik-baik saja, Atok," Bunda berkata, lantas tertawa kecil.

Tok Aba menatap wajah Cahaya dengan begitu lembut. Diciumnya kening bayi kecil itu dengan penuh kasih sayang. Sementara, Cahaya hanya diam, tak lepas-lepas menatap sang kakek dengan sepasang mata beriris cokelat terang keemasan miliknya. Tatapan mata bening itu seolah menyiratkan rasa ingin tahu.

"Cahaya mau digendong Atok?" tiba-tiba Bunda berkata.

"Iya juga, ya," sahut Tok Aba. "Atok belum pernah menggendong Cahaya sampai sekarang usianya ... berapa, Hanna?"

Bunda tersenyum. "Kemarin baru genap sebulan, Atok."

"Wah ... cepat sekali, tahu-tahu sudah sebulan. Atok sudah ketinggalan apa saja tentang kamu, Sayang?"

Bunda dan Tok Aba sama-sama tertawa lembut. Kemudian, Bunda bersiap untuk menyerahkan Cahaya ke gendongan kakeknya. Namun, pada saat itulah, tiba-tiba Air mendekat, lalu memeluk kakeknya erat-erat.

"Lho? Air?" Tok Aba mengerutkan kening. "Kenapa ini?"

Air tidak menjawab, malah mempererat pelukannya.

"Air," Bunda berkata lembut. "Biar Atok gendong Cahaya sebentar ya, Sayang?"

Air cuma menggeleng kuat-kuat.

"Air jangan gitu, dong." Tiba-tiba Api mendekat ke sisi adik kembarnya. "Kasihan, Cahaya kan belum pernah digendong Atok."

Air masih terus memeluk kakeknya. Namun, kemudian dia melihat semua tatap mata terarah padanya. Anak itu langsung merasa terintimidasi, walaupun tak ada yang bermaksud demikian. Dengan terpaksa, Air melepaskan pelukannya. Lantas berlari pergi menuju kamarnya.

"Air!"

Seruan Bunda setelah itu masih terdengar oleh Air. Dia tahu, seharusnya dia berhenti. Seharusnya dia tidak lari. Tapi anak itu tak mau menghentikan langkahnya.

Terus menuju tempat perlindungan satu-satunya.

.

Oo)=======o=======(oO

.

Air terisak-isak kecil, berusaha sebisanya menahan tangis. Sementara dia berbaring miring sambil memeluk guling kesayangannya.

Ia bisa mendengar dengan jelas, ketika langkah-langkah kaki mendekat ke arahnya. Anak itu bahkan bisa menebak bahwa langkah kaki itu adalah milik Tok Aba, karena tekanannya yang ringan dan tenang. Ia bisa tahu, walaupun posisi berbaringnya sekarang membelakangi pintu kamar. Namun, ia tak berniat untuk memastikannya.

"Air?"

Pada akhirnya, Tok Aba mendekat ke tempat tidur, lantas duduk di tepinya.

"Air sedih?"

Pertanyaan itu sama sekali tidak menghakimi. Air tersentak kecil. Entah kenapa, air matanya justru jatuh tak terbendung lagi.

"Air sedih kenapa?" Tok Aba kembali bertanya dengan sabar.

Mulanya, Air tak mau menjawab. Ia terus terisak kecil, tapi masih keras kepala berusaha menghentikan tangis. Tok Aba diam, menunggu dengan sabar.

"Ayah ..."

Setelah beberapa detik lewat, akhirnya Air mau bicara. Tapi hanya satu kata itu.

"Ayah kenapa?" Tok Aba kembali memancing.

Kali ini pun butuh sekian detik sampai Air mau menjawab.

"Ayah bo'ooong ...," Air berkata sambil sesenggukan. "Katanya Ayah mau pulang ... Katanya Ayah mau main sama Air ... Huk huk ... Tapi Ayah bo'ooong ..."

Tok Aba tersenyum samar. Dibiarkannya Air terisak sampai dia sendiri yang menghentikannya satu-dua menit kemudian. Sementara, Tok Aba hanya mengelus-elus rambut cucunya dengan lembut.

"Ayah jahat ..."

Kata-kata teredam itu mengiringi isak tangis yang semakin pudar. Tok Aba tahu, daripada kemarahan, kalimat itu pun lebih mewakili ekspresi kesedihan.

"Ayah harus menemani tamu dari luar negeri," kata Atok. "Ayah kan bekerja di Kedutaan. Air tahu, 'kan?"

Air tidak menjawab.

"Tapi minggu depan Ayah pasti pulang," kata Tok Aba. "Ayah kan sudah janji sama Air."

"Nanti Ayah bo'ong lagi ...?" Air berkata lirih.

Tok Aba menghela napas samar. Sebelum beliau sempat berkata apa pun, tiba-tiba pintu kamar diketuk. Tampaklah Kaizo melangkah masuk dengan komputer tablet di tangannya. Pemuda itu menatap Tok Aba sedetik, lantas dipersilakan untuk ikut duduk di tepi ranjang. Di dekat Air yang masih merajuk.

"Air," panggil Kaizo. "Air mau ngomong sama Ayah?"

Air tersentak kecil. Pelan-pelan, ia mau duduk, kemudian mengeringkan air mata dengan punggung tangannya. Anak itu menurut ketika Kaizo memberinya isyarat untuk mendekat, supaya mereka bisa sama-sama melihat layar tablet milik Kaizo.

"Nah, tadi Oom sudah menghubungi Ayah lewat video call," jelas Kaizo. Ia lalu bicara kepada orang di seberang sambungan, "Abang, ini ada Air mau bicara."

Air masih diam sambil memandangi wajah ayahnya yang tampak di layar. Sang pemilik wajah teduh itu tersenyum kepada Air. Sepasang iris cokelatnya pun menatap Air begitu lembut. Tetapi ia juga diam, tampaknya menunggu Air yang bicara lebih dulu.

"Ayah ...," akhirnya Air memulai. Satu bulir air mata jatuh lagi membasahi pipinya. "Air kangen Ayah ..."

Ayah masih tersenyum. "Ayah juga kangen Air."

Air menghapus lagi air matanya.

"Eh ... anak Ayah, jangan nangis, dong."

"Ayah bo'ong ..."

"Iya, Ayah minta maaf. Tapi, minggu depan Ayah pulang. Ya?"

Air hanya mengangguk.

"Air mau oleh-oleh apa?" tanya Ayah kemudian.

Bocah beriris biru pucat itu menggeleng pelan. "Air nggak mau oleh-oleh. Air maunya Ayah ..."

Di layar tablet Kaizo, Ayah tampak menghela napas pelan.

"Ya sudah. Air tunggu minggu depan, oke? Ayah akan pulang."

Air menyentuh layar tablet itu pelan. "Ayah janji, ya?"

Ayah pun menyentuhkan tangannya tepat di posisi yang disentuh Air.

"Iya. Ayah janji."

.

Oo)=======o=======(oO

.

Minggu pagi yang cerah.

Tampaklah Taufan sedang serius menyeterika beberapa pakaian bayi milik adiknya. Di sampingnya juga ada Kaizo, seperti sedang mengawasi.

"Hoo ... Sepertinya kamu sudah pandai melakukannya," komentar Kaizo setelah beberapa saat.

Taufan terkekeh pelan. "Ini kan karena diajarin Oom. Nggak nyangka, gitu-gitu Oom Kai ternyata jago urusan pekerjaan rumah tangga."

"Aku memang sudah terbiasa sejak kecil," kata Kaizo setengah tak acuh. Namun kemudian keningnya berkerut. "Apa maksudmu bilang 'gitu-gitu', hah?"

Tawa Taufan lepas begitu melihat wajah masam pamannya.

"Yaa ... gitu, deh," sahutnya tak jelas. "Oom merasa, ya?"

"Merasa apa?"

"Ya ... misalnya ... Oom Kai itu orangnya galak, ngeselin, songong—"

"Kau mau merasakan jurus karateku?"

"Hahahahaha ... Ampun, Oom ..."

Kaizo mendengkus pelan, lantas geleng-geleng kepala. Pada saat itulah, seseorang memasuki ruang keluarga dan langsung mendekati keduanya.

"Bunda," kata Taufan ketika melihat siapa yang datang.

"Taufan ... kamu lagi setrika kok bercanda terus?" tegur Bunda. "Awas, nanti bolong kainnya."

"Iya, Bunda. Hehehe ..." Taufan tertawa kecil. "Udah mau selesai, kok."

"Ada apa, Kak?" tanya Kaizo kemudian.

"Ah, iya ... ini ..." Bunda mengalihkan perhatian kepada Kaizo. "Bedak Cahaya hilang."

Kaizo menaikkan sebelah alisnya. "Sekarang bedak bayi yang hilang?"

"Mungkin Kakak lupa taruh lagi." Bunda mengangkat bahu. "Tapi bedaknya memang tinggal sedikit, sih. Kakak mau beli dari kemarin lupa terus. Bisa titip belikan nanti kalau kamu keluar?"

"Oke, Kak."

Tepat setelah Kaizo menyanggupi permintaan kakak iparnya, bel pintu depan berbunyi.

"Mungkin itu Tok Aba," kata Taufan.

"Biar aku."

Kaizo segera beranjak. Hanya jeda satu-dua detik, tiba-tiba terdengar suara lain dari arah kamar Bunda. Suara tangisan bayi.

"Cahaya kok nangis, Bunda?" kata Taufan.

"Ya udah, kamu lanjutin setrikanya," Bunda menyahut. "Bunda lihat Cahaya dulu, ya?"

.

Oo)=======o=======(oO

.

Air memandangi adiknya yang sedang menangis, nyaris tanpa berkedip. Raut mukanya tampak kesusahan, seperti bingung harus berbuat apa. Sementara tangannya setengah terulur ke dalam box bayi, hanya sejengkal dari tubuh Cahaya. Terhenti. Entah dia bimbang saat ingin menyentuh adiknya, atau baru mau menarik tangannya kembali.

Yang jelas, Air tidak bisa pergi begitu saja. Tadi Api sudah berpesan supaya dia menjaga Cahaya baik-baik.

Suara langkah-langkah kaki mendekati kamar, membuat Air tersentak. Tak lama, Bunda muncul dari balik pintu, lantas cepat-cepat mendekat ke sisi box bayi. Tak butuh waktu lama untuk memastikan bayi kecil itu tidak buang air.

"Cahaya kenapa, Sayang?"

Bunda menggendong putra bungsunya sambil berbicara dengan lembut. Baru setelah itu mengalihkan perhatian kepada Air.

"Kok Air sendirian?" tanya Bunda. "Api mana?"

"Pipis," Air menyahut singkat.

"Ooh."

Bunda masih berusaha menenangkan Cahaya. Tangisannya perlahan mereda.

"Tadi kan Cahaya baru saja minum ASI. Jadi nggak mungkin dia haus," kata Bunda. "Air tahu kenapa Cahaya nangis?"

"Nggak tahu."

Bunda mengerutkan kening. Barusan Air menunduk ketika menjawab pertanyaannya. Bunda tahu, Air memang pendiam, tapi bukan pemalu. Anak itu selalu menatap lawan bicaranya ketika sedang bercakap-cakap.

Atau Air terlalu cemburu sampai tidak mau melihat kedekatan ibu dan adiknya?

Bunda memutuskan untuk menepis pemikiran itu.

"Air, Atok sudah datang, tuh."

Suasana yang agak canggung terinterupsi berkat Kaizo yang tiba-tiba muncul di ambang pintu kamar.

"Air jadi ikut jalan-jalan sama Atok, 'kan?" kata Kaizo lagi.

Air hanya mengangguk, lalu berlari kecil menghampiri pamannya.

"Kak, kami pamit, ya?" Kaizo berkata kemudian sambil menggandeng tangan Air.

"Api ikut, 'kan?" tanya Bunda.

"Iya, Kak," sahut Kaizo. "Api sudah menunggu di depan bersama atoknya."

"Oh, ya sudah kalau begitu. Hati-hati di jalan," kata Bunda. "Kai, titip anak-anak, ya?"

"Siap, Kak."

.

Oo)=======o=======(oO

.

Taufan meregangkan tubuhnya sejenak setelah mencabut kabel setrika dari stop kontak. Ditatapnya tumpukan setrikaan di atas meja kecil di hadapannya. Hampir semuanya milik Cahaya, ditambah sedikit pakaian Bunda.

"Capek juga ternyata," katanya.

Pemuda itu lantas membawa semua hasil setrikaannya ke kamar Bunda. Setibanya di sana, dilihatnya Bunda sedang bicara kepada Cahaya yang ditidurkan di ranjang.

"Ooh ... Anak Bunda sudah bisa ketawa lagi, ya?"

Setelah ucapan lembut itu, Bunda menggelitik pelan perut Cahaya. Bayi mungil itu tertawa. Kedua tangannya menggapai-gapai wajah Bunda yang didekatkan hanya beberapa senti dari wajahnya. Pemandangan itu membuat Taufan ikut tersenyum.

"Bunda," panggil Taufan. "Ini langsung dimasukkan ke lemari?"

"Oh, iya, Sayang." Bunda mengalihkan perhatiannya sejenak kepada Taufan. "Letakkan di paling atas, ya?"

"Oke, Bunda."

Setelah menyimpan semua pakaian, Taufan mendekat ke ranjang. Ia pun duduk di dekat sang adik, mengelus pipinya spontan karena gemas. Lagi-lagi Cahaya tertawa.

"Tadi Cahaya kenapa nangis, Bunda?" tanya Taufan, masih tersenyum kepada adiknya.

"Bunda juga tidak tahu. Tadi Bunda gendong sebentar sudah diam," sahut Bunda. "Tidak biasanya Cahaya seperti itu."

"Apa dia gelisah karena ditinggal Bunda?" tebak Taufan.

"Bisa jadi, soalnya dia tiba-tiba menangis," Bunda menyahut. "Air juga katanya nggak tahu kenapa Cahaya menangis."

Taufan mengerutkan kening. "Air?"

"Hm-mm. Tadi Api dan Air yang jagain Cahaya di sini. Ya Sayang, ya?" Bunda kembali bicara kepada bayi kecilnya. "Tapi pas Bunda balik ke sini, cuma ada Air. Katanya Api lagi ke belakang."

Taufan terdiam lama. Sesekali ia tersenyum lembut, sementara jari telunjuk kanannya digenggam erat oleh Cahaya. Namun, sangat jelas, pikiran pemuda itu ada di tempat lain.

"Taufan?" Bunda yang memerhatikan putra sulungnya sejak tadi, akhirnya menegur. "Kamu kenapa, Sayang?"

"Ng?" Taufan tersentak samar. "Nggak apa-apa kok, Bunda. Mmm ... Sebentar. Taufan mau tunjukin sesuatu."

Taufan bergegas turun dari ranjang, lantas keluar kamar. Kening Bunda berkerut, tetapi ia menunggu sampai Taufan kembali tak lama kemudian.

"Bunda, coba lihat ini, deh."

Taufan menyerahkan sebuah kertas gambar. Bunda menerima kertas berukuran sedang itu, lalu mengamati gambar yang tertera di atasnya.

"Apa ini, Sayang?" tanya Bunda. "Lho? Kok seperti gambar yang dihadiahkan Api untuk Cahaya?"

Bunda mengerling sejenak sebuah gambar yang telah dibingkai rapi dan dipasang di dinding. Di samping lemari. Itu adalah gambar buatan Api yang menggambarkan keluarga mereka.

"Ini gambar yang dibuat Api sebelumnya, Bunda," jelas Taufan. "Gambarnya belum selesai. Tapi waktu Api meninggalkannya sebentar ke toilet, tahu-tahu gambarnya sudah dirusak."

"Dicorat-coret seperti ini?"

"Iya, Bunda. Api sampai nangis waktu itu. Tapi Taufan berhasil membujuknya untuk membuat lagi gambar yang baru."

Bunda terdiam sambil mengamati gambar di tangannya dengan seksama. Hampir semua coretan menggunakan krayon warna biru muda. Perhatian Bunda juga terfokus kepada gambar bayi dalam gendongan ibunya yang mengalami coretan paling parah.

"Kamu berpikir, yang melakukan ini adalah Air?" Bunda menebak isi kepala Taufan dengan tepat.

Pemuda itu pun mengangkat bahu. "Di antara semua penghuni rumah ini, memang cuma Air yang mungkin melakukan ini 'kan, Bunda? Ditambah lagi—"

"Warna kesukaan Air adalah biru muda," sela Bunda. "Seperti warna krayon yang dipakai untuk mencorat-coret gambar ini."

Taufan mengangguk. "Kemarin lusa, Taufan juga menemukan ini waktu beres-beres kamar si Kembar."

Sekali lagi, Taufan menyerahkan selembar kertas gambar kepada Bunda. Gambar di atasnya sedikit lebih rapi daripada gambar buatan Api, dan langsung menggunakan krayon, tanpa pensil. Baik Bunda maupun Taufan mengenali ciri khas itu sebagai gambar buatan Air.

Akan tetapi, yang langsung menarik perhatian, adalah gambar khas anak TK yang ada di kertas itu. Hanya berupa gambar seorang anak berbaju biru muda, dengan butiran-butiran air mata di kedua pipinya.

Sendirian.

"Gimana menurut Bunda?" tanya Taufan kemudian.

Bunda menghela napas pelan. Dikembalikannya kedua kertas gambar tadi kepada Taufan.

"Sepertinya, kita harus lebih memerhatikan Air," kata Bunda akhirnya.

"Iya, Bunda. Ayah juga pernah bilang begitu ke Taufan," Taufan menyahut. "Apalagi ... Taufan masih punya dugaan, soal barang-barang Cahaya yang hilang."

Bunda mengerutkan kening. "Maksudmu?"

"Mungkin Air yang menyembunyikannya."

Kata-kata Taufan membuat ruangan itu hening beberapa detik.

"Baiklah. Nanti Bunda coba ngobrol pelan-pelan dengan Air," kata Bunda kemudian. "Kamu juga bantu Bunda, ya?"

"Iya, Bunda."

.

.

.

Bersambung ...

.


* Author's Note *

.

Hai, haiii ... Apa kabar, semua? \(^o^)

Karakter baru muncul. Atok kesayangan BoBoiBoy, dan kita semua, ehehe ... :")

Di sini, Tok Aba adalah kakek dari Taufan dan adik-adiknya, serta ayah dari 'Pak Boy' (siapa yaa, nama panjangnya~?) dan Kaizo.

Apa lagi, ya? Hmm ... Buat yang kangen sama Air, nih Dedek Air udah muncul. *pukpuk plus unyel Dedek Air*

Semoga pembaca sekalian suka chapter ini. Jumpa lagi di chapter selanjutnya~ :")

.

Regards,

kurohimeNoir

07.04.2018