Karenamu
Park Woojin x Ahn Hyungseob
Hwanggu Baekgu Couple[2]
[Inspired by : Brave Girls – Rollin']


[Don't try to hide it
My dear, don't pretend you don't feel it
All day, I'm locked up with thoughts of you
I'm waiting like this]

Pemuda semenggemaskan kelinci itu tengah memejamkan mata, bibirnya membentuk kurva indah; senyum manis yang membuat siapapun entah mengapa ikut menyunggingkan senyum. Auranya yang selalu positif membuat orang-orang disekelilingnya merasa kerasan meskipun hanya berteman dengan keheningan.

Jemari lentiknya bergerak, mengikuti dentum irama yang terdengar melalui earphone yang kini dengan setia bertengger di telinganya. Tak ia hiraukan matcha bubble-pesanannya- yang mulai mencair; setelah 5 menit ia abaikan. Agaknya ia terlalu fokus dengan aktifitasnya.

Sekelebat ingatan tentang sosok itu, yang dengan tanpa dipinta mampir begitu saja di otaknya; tentunya mengundang dengusan geli. Secuil kerinduan pun tanpa ia kehendaki ternyata mulai menyusup.

Ah, ia hampir gila rasanya karena tak henti-hentinya memikirkan sesosok makhluk yang dengan kurangajarnya membawa hati seorang Ahn Hyungseob turut serta bersamanya. Padahal pertemuan awal mereka yang bisa dibilang singkat sebenarnya tak meninggalkan kesan apapun. Dan itu terjadi setiap hari. 24/7, selalu, tak peduli dimanapun dan kapanpun. Entah bagaimana tanpa jeda; mutlak.

Ya, meskipun harus diakui pertemuan selanjutnya lah yang justru memancing perasaan pemuda dengan julukan 'Judy si Kelinci Manis dan Cerdas' (ugh, memalukan juga panggilan yang didapatnya dari kakak tingkat yang tak henti-hentinya mengejar dirinya; Choi Seunghyuk[3] dan kemudian merata, siapapun yang pemuda Ahn kenal) itu.

Drrt..
Drrrttt..

Getar benda persegi yang tergeletak di permukaan meja menarik atensi si manis Ahn. Dengan cekatan jemari lentik miliknya meraih perangkat pintar kebanggaannya; dan tanpa ba-bi-bu mulai memasukan sandi guna meng-unlock si perangkat hingga akhirnya menampilkan pop-up menu dari salah satu aplikasi chat.

Senyum indahnya kian merekah, tatkala id yang ia kenal terproyeksi dengan sempurna di layar.


| [WoojinP]
1/3
Hi~!
[Read] [Closed] |


Ia mengarahkan telunjuknya ke option Read, sehingga kini netranya menangkap refleksi deretan huruf yang nyatanya mampu mengundang gelenyar di rongga perutnya, menyebabkan terangkatnya sudut bibir dan juga semu kemerahan di pipi apelnya.

| Woojin
Hi~!
Ahnseobie sedang apa?! 12.09
Apakah aku menganggu? 12.10
Hei, jangan abaikan pesanku, Bunny! 12.10 |

Kekehan lucu keluar begitu saja dari bilah tipis Hyungseob. Refleks ia menggigit kukunya sebagai upaya bertahan agar jangan sampai pekikkan memalukan keluar dari mulutnya yang terkadang melewati batas kontrolnya.

| AhnHyungseobie
Hi, juga Park!
Maafkan aku karena baru membaca pesanmu. 12.12
Aku baru saja menyelesaikan tugas dari Mr. Cho dengan Haknyeon dan juga Seonghyuk[4]. 12.15
Kau sendiri sedang apa? Bukankah kau harus tetap fokus pada materi yang disampaikan para trainer?
Hei, universitas mempercayakanmu! Jangan main-main Mr. Sparrow! 12.18 |

Hening. Tak ada balasan.

Bibirnya secara refleks mengerucut. Mengundang pekikan tertahan gerombolan gadis yang ada di sudut ruangan; rupanya sedari tadi memperhatikan tingkah laku pemuda Ahn.

Ia menumpukan kepalanya di meja dengan beralaskan lengannya. Matanya sesekali mengedip, menghalau rasa panas yang mungkin akan menyebabkan mengalirnya buliran bening.

Ah, jujur saja ia merasa lelah. Hampir empat tahun ini ia berjuang; bertahan dari tarik-ulur perasaan yang dilakukan Woojin. Kalau saja dia tidak berpegang teguh pada rasa cintanya untuk si gingsul itu.. Pasti Hyungseob sudah menyerah. Terkadang ia berpikir, apakah harus mengikuti saran Euiwoong untuk berpaling. Mengingat kepura-puraan Woojin yang selalu tervisualisasi dengan sempurna.

Namun, sekali lagi. Entah bagaimana pikirannya seolah terkunci sempurna supaya hanya memikirkan seorang Park Woojin!

Disaat itu pula ia merasa dunia tidak adil padanya. Kesan yang ia rasakan, bahwa -memang- hanya dirinya yang berjuang.

"Haaaa... Apa saatnya aku memang harus menyerah?" Hyungseob memulai ritual mengocehnya.

"..." Hanya desau angin dari pendingin ruangan dan suara bising dari pengunjung café yang menyambut.

Hyungseob menarik napas pelan, sebelum ia kembali melontarkan racauan. "Woojinie... Aku lelah. Walaupun aku tahu kau juga memiliki rasa yang sama denganku.. Tapi, kau selalu menutupinya. Ah, aku merindukanmu, Woojin-a.."

"...Maafkan aku.."
"Lihat! Aku sudah mulai gila karena terus memikirkanmu!"
"Aku merindukanmu juga, Ahnseobie!"
"Aaaaa, aku pasti bermimpi. Mana mungkin Park Woojin sekarang sedang memperhatikanku dengan jarak hanya 5 senti dan memanggilku Ahnseobie!"
"Kau tidak sedang bermimpi, sayang."
"Otakku mulai rusak, Woojin-a.."
"Tidak. Aku lah yang rusak."
"No! Jangan tersenyum Park Woojin!"

"Mimpiku indah sekali. Aku tak ingin ba–"

Cup

"–ngun."

Chu~

Hyungseob terkesiap. Netranya yang indah membulat. Organ penopang hidup yang bersemayam di rongga dadanya berdetak dengan teramat kencang. Apalagi dengan lumatan yang kian menjadi di bilah tipisnya. Semu kemerahan berlahan hinggap di kedua pipi apelnya.

Hisapan ringan di bibir bawah Hyungseob membuatnya melenguh kecil, sebelum akhirnya mendaratkan pukulan kecil di dada bidang pria Park yang mengukungnya. "Hai, sayangku! Tenang saja, ini memang Woojinmu, yang memang kurang peka dan selalu menarik-ulur perasaanmu!" suara serak yang terdengar sexy melintas begitu saja di telinga si Mungil.

"W-woojin.."

Pemilik nama yang terlontar dari bilah tipis seorang Ahn Hyungseob tersenyum, menampilkan sebuah snaggletooth–gingsul– yang kian mempertegas paras rupawannya. ia mendudukan tubuhnya di kursi yang ada di sebelah Hyungseob. Jemarinya dengan cekatan meraih sebuah kotak beludru berwarna hitam yang tersimpan rapi di saku jaket kulit yang membungkus tubuh tegapnya. "Ya, sayang."

Hening kembali mendominasi. Pria bermarga Park itu menyodorkan apa yang ada di genggamannya sembari tersenyum tipis, hingga kemudian melontarkan untaian kata yang membuat Hyungseob memekik tertahan dan langsung menjatuhkan beban tubuhnya di pelukan pria kesayangannya.

"Tentu saja aku mau, WOOJIN!" Hyungseob terisak, namun dengan perasaan bahagia yang membuncah di dadanya. "AKU BERSEDIA PARK WOOJIN!"

Woojin tersenyum, mengecup singkat bibir dan juga kening Hyungseob. "Terimakasih, sayangku. Aku mencintaimu.."


.

.

"Sayangku.. maafkan Chamsaemu ini yang sudah mengecewakanmu berkali-kali meskipun kita terikat status sebagai sepasang kekasih. Aku sepenuhnya sadar, dengan tingkahku yang seolah-olah tak memiliki perasaan kepadamu."

Hyungseob terdiam, masih berusaha mencerna ucapan Woojin.

"Tapi, setelah kita lewati bersama, tanpa terasa dua tahun dimana kau berjuang sendiri dengan sepenuh hati.. Dan dua tahun berikutnya kau masih mempertahankan semuanya meskipun timbal balik dariku terkesan setengah-setengah, akhirnya aku bisa menyimpulkan bahwa kau yang memang pantas, sayangku. Amat sangat pantas."

"Ahnseobie, sudikah kiranya kau menemaniku hingga ajal menjemput, juga mendampingi waktu penebusan rasa bersalahku yang telah mengabaikan dirimu disaat yang telah lalu... dengan diawali dengan mengganti margamu menjadi margaku, dan berucap janji setia sehidup semati di hadapan Tuhan dan para tamu, nanti?"

"Ini adalah benda pengikat yang aku beli dari hasil kerja part time-ku satu tahun belakangan ini. Ya, aku bermaksud meminangmu tanpa ada turut campur orang tuaku bahkan di resepsi nanti."

–Park Woojin, pemuda tan kesayangan Hyungseob, ketua klub tari Universitas, anak bungsu pemilik perusahaan biro jasa hotel dan wisata, yang gemar menarik-ulur perasaan yang tercinta, ternyata bermaksud mempersuntingnya.


.

.

.

muehehehehe itu yang di-italic di paragraf akhir ucapan Woojin sebelum di-iyakan sama Hyungseob ya?

Review, please?

.

.

.

see you to the next pair~ ㅋㅋㅋㅋ

.

.

.