Jangan berhenti memikirkanku!
Lai Guanlin x Park Jihoon
Blackpink couple[5]
[Inspired by : Blackpink – As it's if your last]
Riuh sorak sorai penonton di tribun lapangan indoor Universitas Yonsei begitu mendominasi sore itu. Sosok jangkung dengan kulit –yang terlihat paling putih– bersinar; yang merupakan ace tim nampak fokus dengan bola orange yang kini dalam kuasa salah satu rekannya di sisi lapangan. Tak dipedulikan olehnya seruan namanya yang terlontar dengan begitu kerasnya dari para penggemar.
Peluit panjang terdengar, tandanya permainan berakhir. Suasana kian ramai karena seruan pendukung begitu mengetahui bahwa tuan rumahlah yang memenangkan ia tumpu ke lutut, sebelum akhirnya ia seret tubuh jangkungnya meninggalkan area pertandingan tanpa peduli dengan buliran peluh yang membasahi sekujur tubuhnya.
Lima menit berikutnya, tak terasa ia sudah berada di ruang ganti pemain. Irisnya terpaku tajam, pada salah satu sosok yang terdiam di sudut ruangan. Bahunya terkedik, dan ia memutuskan untuk segera membilas tubuhnya dengan air hangat, guna menghilangkan rasa penat.
Ya, ia tak terlalu mempedulikan sosok yang memperhatikannya begitu seksama melalui ekor mata indahnya yang bahkan wajahnya mulai memerah sempurna. Tangannya mencengkeram erat ujung kemeja, dengan bibir yang tak henti-hentinya mengeluarkan sumpah serapah yang ia tujukan untuk seseor– lebih tepatnya dua orang yang ternyata terus memantau gerak-geriknya di pintu ruang ganti.
"Kau, bisa Park Jihoon~!"
Suara laknat itu tertangkap oleh sang empunya nama. Mengundang dengusan kesal sebagai pengalih rasa gugup dan malu yang entah mengapa enggan meninggalkannya. "Keparat kalian, Lee Daehwi dan Bae Jinyoung!"
'Kriet'
Derit pintu dari sisi lain ruang ganti membuat Jihoon –sosok yang mendiami sudut ruangan– terperanjat. Dengan terbata, ia menoleh ke arah kanannya, hingga pandangannya bertubrukan dengan tatapan tajam sang Pangeran lapangan.
"...L–Lai Guanlin.."
Sosok itu mengernyit. Dengan raut datar segera menggantung handuk tebal di tempatnya, kemudian melangkahkan kakinya ke sudut, mengikis jarak antara dirinya dengan pemuda mungil berbalut t-shirt putih dan kemeja soft pink sebagai outer yang membatu di tempatnya.
"Jadi, ada alasan tertentu mengapa anggota medis tim basket ada di ruang ganti?"
Suara berat itu berdengung di telinga Jihoon yang memerah. Jemarinya kembali saling meremas, dengan ludah yang terteguk keras. Si Mungil Park merasa ia seperti tengah menelan butiran pasir sehingga napasnya tersendat. "Pelatih Kang menyuruhku." Bisiknya parau.
Guanlin –sang ace tim basket inti Universitas Yonsei– mengangguk. Mencoba memahami alasan yang terlontar dari bibir kemerahan sosok di depannya. Tangannya terlipat rapi di depan dada sementara punggungnya ia tumpu di deretan loker di belakangnya. Surainya yang masih setengah basah kian membuat Jihoon berkeringat. Ayolah, tanpa seperti itu Guanlin sudah sangat seksi! Apalagi seperti sekarang?!
Kemungkinan Jihoon untuk mengucapkan selamat tinggal pada jantungnya dalam waktu dekat bisa saja terealisasi jika begini kondisinya. Dan ia ingin merutuki dirinya sendiri, karena, ya... matanya tak berhenti untuk menatap dengan fokus setiap pergerakan tubuh menjulang pemuda kelahiran Taiwan di hadapannya.
Dan, wait... apa yang dilakukan dengan Guanlin, yang kini mengukung tubuh berisi seorang Park Jihoon diantaranya dengan loker di belakangnya. Bahkan deru napas keduanya terdengar bersahutan dengan jelas.
"Ngomong-ngomong, terimakasih atas perhatianmu selama ini." Suara beratnya bergaung di telinga Jihoon yang memerah sempurna. "Tunggu aku di cafe seberang universitas. Dan juga... jangan berhenti untuk memikirkanku, ya."
'sniff sniff'
Hidung mancung Guanlin bergesekan dengan kulit leher Jihoon yang bagi Guanlin tercium memabukkan, perpaduan aroma citrus dan juga floral. Tentunya hal ini membuat Jihoon bergidik.
Pemuda bertubuh gempal itu mendorong bahu Guanlin, sebelum akhirnya mengangguk kecil dan diakhiri dengan wajahnya yang tertunduk; menyembunyikan wajahnya yang merah padam."Ish, memangnya kau siapa membuatku harus terus memikirkanmu?" Tanyanya lirih.
Guanlin hanya tersenyum, mendaratkan kecupan ringan di sudut bibir merekah bungsu keluarga Park yang justru menimbulkan afeksi menggelikan di sekujur tubuh Jihoon.
"Belum saatnya, nanti juga kau akan tahu, Jihoon–ssi."
[Who are you to make me keep thinking of you?
My pride is bruised, I'm burning up
My face is so hot, my heart keep racing
I can't control my body, I'm getting dizzy]
Saat ini Jihoon melangkah dengan enggan, menyusuri koridor gedung fakultasnya yang mulai sepi. Matanya bergerak random, menangkap refleksi pepohonan yang menghiasi taman yang memang menjadi aset Fakultas Teknik Universitas Yonsei. Agaknya ia mulai sedikit mengerti kenapa pihak universitas memprioritaskan lahan hijau untuk anak-anak Fakultas Teknik; mengingat otak mereka yang benar-benar bekerja ekstra apalagi jika berhubungan dengan ilmu pasti (Jihoon tidak bermaksud merendahkan anak non-teknik, kok. Ia hanya berbicara realita, apalagi jika mengingat sumpah serapah sang sepupu; Kwon Hyeob jika sudah diberi tugas mengenai algoritma, kalkulus, logika dan sebangsanya yang cukup membuat kepalanya pening).
Ah, sang Surya sudah mulai kembali ke peraduannya. Beberapa manusia yang tadinya memenuhi area pertandingan mulai meninggalkan kampus. Sesekali bahunya ia gerakan, guna mengurangi rasa pegal yang menggelanyut, akibat dari beban yang ditanggungnya dari ransel raksasa yang dengan manisnya bertengger di punggungnya. Setelah ini ia akan membunuh pasangan Woojin dan Hyungseob yang dengan seenak jidatnya meninggalkan dirinya dengan makhluk absurd bernama Lee Daehwi serta Bae Jinyoung, berlanjut menghilangnya dua tuyul itu setelah mengantarkan Jihoon di ruang ganti pemain.
Ya, ransel itu berisi perlengkapan medis dan juga pakaian yang baru saja Hyungseob beli di distro yang ada di seberang gedung Fakultas Bahasa. Oh ia baru ingat jika pasangan sialan itu bermaksud mengupgrade status mereka ke jenjang yang lebih serius dari sebelumnya. Walaupun awalnya Hyungseob tidak mengetahui kepulangan Woojin dari camp trainee perwakilan universitas. Ya Tuhan, jika mengumpat tidak menimbulkan masalah kedepannya, sejak pagi kata–kata 'kotor' sudah pasti terlontar darinya.
Menit berlalu, saat ini tubuhnya ia istirahatkan di salah satu bangku indoor cafe yang lumayan terkenal di kalangan Mahasiswa Yonsei. Selain karena tempatnya nyaman, menu yang dihidangkan pun cukup ramah di lidah juga dompet mereka.
Netranya tak henti bergerak, setelah ia upayakan untuk tetap fokus pada layar ponselnya yang menampilkan permainan yang entah bagaimana terasa membosankan baginya. Diliriknya yang penunjuk waktu yang melingkar sempurna di pergelangan tangannya.
07.00 p.m.
Bersamaan dengan itu terdengar suara lonceng, pertanda jika ada yang memasuki bangunan bergaya klasik tersebut. Rupanya itu Guanlin, dengan kemeja hitam bergaris, ripped jeans hitam yang membalut kaki jenjangnya, tak lupa bomber jacketsekelam malam yang melekat sempurna di tubuh menjulangnya. Tatanan surainya yang di modelhair upsemakin mempertegas parasnya, dan itu nyaris membuat Jihoon berteriak bak anak perawan.
"Jadi, apa maksud perkataanmu siang tadi, Lai Guanlin?"
Seringai tampan tercetak sempurna di wajahnya. "Bisa kau tebak, Park Jihoon–ssi?" ia menyesap hot americano yang luput dari perhatian Jihoon sebelumnya. Sungguh, ekspresi seorang Park Jihoon di hadapan Guanlin saat ini adalah salah satu pemandangan indah yang tidak bisa dilewatkan begitu saja.
"Aku tidak mengerti."
Ujaran itu terdengar lemah, namun cukup membuat Guanlin tersentuh. Agaknya ia bisa menebak bagaimana perasaan Jihoon saat ini. Ia yang sudah menghabiskan cup minuman favoritnya segera beranjak, menggenggam lembut jemari Jihoon dan mengajaknya pergi meninggalkan Cafe. Langkahnya terhenti sejenak guna membayar pesanan Jihoon sebelumnya.
.
.
.
Keduanya terdiam, dengan tatapan yang tak pernah berpindah dari wajah masing–masing. Guanlin kembali menyematkan seringai menggoda dikala netranya menangkap semburat merah di wajah yang lebih tua. "Jadi, kau masih belum mengerti juga?"
Pipi Jihoon kian membulat –efek sang empunya menggembungkan kedua chubbynya–. "Tentu saja. Kau tiba-tiba memintaku untuk tak pernah berhenti memikirkanmu, sedangkan kau siapa untukku?"
Guanlin terkekeh. Ia yang memang sudah mengantisipasi tingkah polah Jihoon yang memang tsundere, berdehem keras sebelum mengambil alih pembicaraan. "Tentu saja karena kau kekasihku; jadi sudah kewajibanmu bukan untuk terus memikirkanku?"
"H–Huh?" Jihoon terkejut; kelopak matanya melebar, dua kali lipat dari ukuran normal; well, respon yang wajar ketika ada orang yang kau suka mengatakan hal yang memang sebenarnya kau inginkan secara tiba-tiba. "YA! JANGAN BERCANDA!"
"Apakah aku sedang bercanda? Lihat mataku dan pastikan sendiri, dear."
Deg
Deg
Deg
"G–Guanlinie..."
"Aku tahu. Kau sudah lama menyimpan rasa untukku, sayangku." Guanlin tersenyum. "Katakanlah aku terlalu narsis, percaya diri atau apapun; tapi asal kau tahu saja.. aku terus mengamatimu, mengawasimu, mengikuti kegiatanmu; dan itu semua berdasar perasaanku padamu."
Jihoon membeku. Lidahnya kelu, sementara otak cerdasnya berusaha mencerna untaian kata yang terlontar dari bibir menggoda sang center tim basket kampusnya. Jantungnya yang sedari tadi menggelar konser di rongga dadanya pun tidak membantunya sama sekali. Rasanya ia hampir tak sadarkan diri ketika bilah menggoda yang lebih muda menempel sempurna di bibirnya dan melumatnya. E–Eh? Guanlin menciumnya?!
"Aku mencintamu, Jihoonie–hyung, dan selamanya akan seperti itu."
"Aku pun begitu, Guanlinie. Dan perlakukan aku selayaknya cinta terakhirmu."
.
.
.
Wkwwkwkwk
Next pair ditunggu~
.
.
.
