Boyfriend Material
Kang Daniel x Ong Seongwoo
Dumb and Dumber Couple[10]
[Inspired by : Ariana Grande – Boyfriend Material]
!Alert : Bahasa sleng non–baku.
Seongwoo meletakkan buku-buku yang berserakan di atas meja kembali ke rak seperti sediakala. Bibirnya terkatup rapat, meskipun sumpah serapah terus ia lontaran di hati. Ayolah, suasana hatinya memang sedang buruk seminggu ini, dan entah mengapa masih saja ada yang memperburuk moodnya.
"Kenapa sih, nggak ada yang ngertiin aku walaupun cuma sedikit?"—Ong Seongwoo yang sedang kumat dramanya.
Ia menghela nafas kasar. Setelah semua buku tersusun rapi—kembali— seperti sediakala, ia menyeret kaki jenjangnya ke arah deretan kursi di sudut ruangan. Pandangannya ia fokuskan ke jendela, dan pemandangan taman kota yang asri setidaknya mengikis sedikit demi sedikit beban mental yang menggerogoti hatinya Akhir—akhir ini.
Seongwoo memang terbiasa membantu petugas perpustakaan kota. Ia memang kenal dekat dengan beberapa staff perpustakaan, jadi bersimpati bahkan bersikukuh membantu mereka yang memang kebanyakan sudah memasuki usia kepala empat. Ya, maksudnya para pengunjung tidak ada niatan untuk meringankan beban para staff yang tenaganya sudah udzur termakan usia, begitu?
Tak jauh darinya ada sosok pria dengan balutan setelan hitam keluaran Armany tengah menaruh atensi dengan penuh pada lembaran-lembaran kekuningan berisi data tentang kota London di masa lalu. Jemarinya bersinergi dengan perintah otaknya, sehingga tak perlu membuang-buang waktu hanya untuk membalik halaman per halaman buku yang berisi catatan sejarah daratan Britania. Sebenarnya pria itu baru saja menghadiri acara jamuan makan di perusahaan kolega sang Ayah, dan dikarenakan tak ingin kuliahnya berantakan keesokan harinya, tak peduli akan rasa gerah yang ditimbulkan oleh cekikan dasi dan juga balutan suitnya, ia langsung berkunjung ke perpustakaan, guna mencari bahan yang akan ia gunakan untuk presentasi materi politik internasional besok.
"Ah, maaf sebelumnya." Suara seseorang membuat atensi si Pria kekar teralih. "Sebentar lagi masuk jam penutupan perpustakaan. Apa kamu masih lama?"
Pria itu menutup buku yang tengah dibacanya. Tanpa basa-basi, ia beranjak, menenteng tiga buku sekaligus; mengembalikan dua diantaranya di rak seperti semula, dan membawa salah satunya ke meja bagian staff. Mungkin ia bermaksud meminjam buku tersebut. Dan Seongwoo hanya mengedikkan bahu ringan, berlanjut merapikan kembali beberapa buku yang melenceng jauh dari tempat asalnya.
Sepuluh menit berlalu, Seongwoo berhasil menyelesaikan semua pekerjaannya. Staff yang berdiam di meja khusus pun ternyata telah selesai berbenah. Beliau tersenyum dan memberi aba-aba supaya Seongwoo juga bersiap. Tak perlu waktu yang lama, kedua orang itu melangkah meninggalkan gedung milik pemerintah bergaya klasik itu, setelah sebelumnya mengunci ganda pintu utama. Setelah ini mereka akan menyerahkan kunci asli kepada petugas keamanan, dan kunci cadangan akan mereka pegang sendiri.
Di persimpangan, Seongwoo dan Nyonya Jung—petugas jaga malam ini—berpisah. Mereka memang berlawanan arah pulang. Langkah lebarnya terhenti, tepat ketika netranya menangkap siluet seseorang yang kini tengah bersandar di tiang lampu jalan. Ia memiringkan kepalanya, dengan mata yang ia fokuskan sepenuhnya pada bayangan manusia dengan bahu yang tampak lebar. Seongwoo merasa tak asing dengan sosok tersebut, akhirnya memilih untuk melewatinya dengan santai.
"Ong Seongwoo." Suara husky itu membuat empunya nama menghentikan langkahnya. Kepalanya tergerak, menoleh ke arah kirinya, guna memastikan siapa pemilik suara yang membuat jantungnya berdegup dengan menggila. "Ya?"
Ah, rupanya si pemilik suara adalah pria yang tadi diusir secara halus oleh Seongwoo; pria dengan suit yang terlihat mencolok di perpustakaan. Ia mendekati sosok tersebut, dengan perasaan waspada (karena sejujurnya ia tak mengenal dengan pasti pria yang lumay—ah memang tampan tersebut) yang memenuhi dirinya. "Kamu siapa? Kok tahu namaku?"
Pria tersenyum kecil, memamerkan gigi kelincinya yang khas; membuat Seongwoo sempat menahan nafas. "Kamu lupa sama aku, ya?" Ia terkekeh. "Aku Kang Daniel, temen SMP kamu, Seongwoo."
Seongwoo mengerjap. Otaknya mulai memproses informasi yang baru saja diterimanya. Ia berusaha menggali ingatan tentang sosok dihadapannya. "Eh, bentar. Kamu..." Jeda sejenak, dengan Seongwoo yang nampak berfikir keras." Eung... Daniel ya. Eumm...Oh... Daniel? Kang Daniel anak Dewan Siswa yang dulu suka pake kacamata full frame? Yang sering wakilin sekolah buat lomba debat atau lomba dance?" Diikuti dengan netranya yang membulat—tentunya, ekspresi kaget yang wajar sebenarnya—.
"Iya, Daniel yang itu." Pria kekar bernama Kang Daniel mengangguk, membenarkan. "Ngomong-ngomong, gimana kabarmu? Ku dengar kamu baru aja putus hubungan sama tunanganmu?"
Seongwoo menghela nafas perlahan. Matanya menerawang, dengan lidah yang tak henti-hentinya terjulur, menjilat ringan kedua bilah tipisnya. "Iya, aku udah sendiri sekarang. Lagian siapa yang mau pertahanincowok brengsek kaya Ronald. Awalnya aku seneng-seneng aja mau di resmiin jadi bagian keluarga Knox. Bahkan buat hijrah ke Irlandia juga aku siap. Eh, taunya bajingan itu main belakang sama Clarise, temen kuliah dia."
Daniel mengatupkan mulutnya. Berusaha menahan gejolak amarah yang mulai memenuhi rongga dadanya. "Emang kamu kenal Ronald Knox[11] dari mana?"
Seongwoo terdiam. Ia nampak berfikir, mungkin mencoba mengingat-ingat kejadian awal mula ia bisa sampai kenal bahkan terikat dengan seorang Ronald Knox. "Ah, saat aku menghadiri pesta pernikahan keluarga Spears, salah satu kolega ayahku di Eropa dua tahun lalu." Dia berdeham kecil. "Oh, iya.. Dari sekian banyak hal yang bisa ditanyain, kok kamu langsung asal samber masalah itu?"
Daniel mengedikkan bahu. Tangannya yang ia sembunyikan di balik saku jas yang ia kenakan mengepal. "Aku terlanjur penasaran, mau mastiin kebenaran ucapan William T. Spears[12] tadi di pesta." Ia menatap Seongwoo dalam-dalam. "Lagian, aku nggak suka basa-basi, apalagi kalau nyangkut kamu. Penginnya langsung on point. Cukup sekali aku kecolongan pas tau kamu tunangan sama Ronald."
Seongwoo ternganga —lagi— berkat ucapan Daniel. Dia tak habis fikir dengan ujaran isi hati dan isi kepala lelaki Kang itu. "Tapi kan tetep aja nggak sopan, Dan. Untung aku lho yang kamu tanyain gini. Coba yang lain? Udah kena damprat kamu."
Daniel mengangguk-angguk. Terkesan acuh tak acuh atas kalimat sarkasme dari Seongwoo. Yang ada, saat ini jari-jarinya justru ia manfaatkan untuk mengisi sela-sela jari pria yang lain. Ia menyeret lembut tubuh lelaki yang lebih pendek satu senti darinya. "Ya aku ngerti, kok. Lagian sama kamu doang aku gini." Ia memperhatikan kondisi lalu lintas dihadapannya. Memastikan tak ada kendaraan yang berlalu lalang, ia kembali melangkahkan kaki jenjangnya, diikuti langkah terseok milik Seongwoo. "Aku harap kamu nggak keberatan jika mulai detik ini aku yang bakal nganterin kamu kemana-mana."
"Terserah kamu lah, Dan."
Seongwoo pasrah. Tak mau mengelak. Ia memilih mengakhiri perdebatan kecil itu. Yang jelas, ia tak habis fikir dengan tingkah laku Kang Daniel yang memang melampaui perkiraannya. Ya, bagaimana tidak heran.. Setelah sekian lama berpisah dan belum ada tempo satu jam dipertemukan kembali tingkah Daniel nyaris membuatnya terserang vertigo mendadak. Belum lagi sifat keras kepala dan posesif Daniel, membuat Seongwoo hanya mampu mengelus dada —sabar—.
Jangan protes dengan gejolak batin Seongwoo. Berlebihan? Drama?
Sudah melekat erat dengan Seongwoo. Tenang saja, tak usah heran.
Yang jelas, saat ini Kang Daniel dengan segala pesona dan kejutannya mulai meruntuhkan pertahanan Seongwoo yang tadinya ingin menolak perhatian dari para lelaki, terlanjur sakit hati atas penghianatan sang —mantan— tunangan.
.
.
.
Detik terus berjalan. Menit berlalu, jam berdetak, hari berganti-ganti, minggu bersusulan.
Daniel menepati apa yang ia ucapkan pada seorang Ong Seongwoo dua bulan yang lalu. Daniel juga tak sungkan untuk menyambangi keluarga Ong dikala ia yang justru tengah disibukkan dengan persiapan pengajuan proposal tesis, juga persiapan untuk mulai mengikuti pelatihan secara privat dari sang Ayah.
Hanya saja, seminggu belakangan, ia hanya mampu berkirim pesan dengan Seongwoo, karena padatnya jadwal. Isi pesannya juga terbilang sederhana, walaupun pada nyatanya cukup membuat Seongwoo terbawa perasaan. Baper.
Ayolah siapa yang tidak akan seperti itu, disaat tiap pagi, Seongwoo mendapati pesan berisi ucapan selamat pagi, dan pengingat untuk mengisi perut sebelum beraktifitas. Berlanjut di jam makan siang, ia lagi-lagi mendapati pesan pengingat, namun disertai dengan paket berisi makan siang yang diantarkan oleh seorang kurir; makanan sehat nan lezat dengan logo tempat makan favorit Seongwoo.
Menjelang malam, ia akan mendapatkan voice note—pesan suara— berisi ucapan selamat malam, pengingat makan dan semangat untuk belajar, dan parahnya, menjelang jam tidur, Daniel kembali mengirim pesan suara berisi penggalan lagu-lagu manis yang biasa dinyanyikan oleh musisi sekelas Bruno Mars, Justin Timberlake, atau bahkan tembang lawas milik Westlife.
Begitu seterusnya, 24/7. Dan membuat Seongwoo nyaris menggila.
Sore itu, di hari kesembilan Daniel menghilang, Seongwoo yang baru saja selesai berbelanja dan tengah sibuk adu mulut dengan seseorang di sambungan telephone terdiam. Mulutnya terbuka—ternganga lebih tepatnya— disaat netranya beradu pandang dengan pemuda kekar bermarga Kang di hadapannya.
Senyum terukir, menyebabkan debaran jantungnya meningkat pesat. Belum lagi tingkah laku yang dilakukan Daniel akhir-akhir ini selalu lembut; membantu ketika Seongwoo kesulitan dengan tumpukan buku, menyediakan makanan ketika jam makan siang sudah dekat (dan terus berlanjut ketika si Kang tidak menampakkan batang hidungnya), juga bahkan sampai berlutut—berjongkok lebih tepatnya— guna mengikatkan tali sepatu yang terlepas ketika Seongwoo dibuat repot oleh belanja bulanannya dan Hyungseob—secara mereka berdua tinggal dalam apartemen yang sama karena Tuan Ong dan Nyonya Ahn kakak beradik— dan yang paling membuat Seongwoo mati kutu adalah, Daniel menyerahkan payung di hari berhujan sementara lelaki Kang memilih untuk mandi air yang mengucur dari langit tersebut.
"Kamu ngapain, Dan?" Akhirnya pemilik marga Ong bersuara. Jemarinya bergerak untuk menekan tombol virtual berwarna merah di layar ponsel —memutuskan sambungan telepon dengan Hyungseob—. "Terus beneran sibuk banget, ya. Sampe nggak setor muka lagi?"
Daniel tertawa. Ia tak menyangka jika sosok yang sudah memenangkan hatinya sejak sepuluh tahun silam itu akan mengeluarkan pernyataan seperti yang baru saja menyambangi indera pendengarannya. Tangannya terulur, menyambut tas kertas di tangan Seongwoo, sementara lengan lainnya yang bebas, kini melingkar sempurna di bahu Seongwoo. "Ya, kalau aku nggak ngikutin kesibukan, ntar aku nggak ada persiapan apa-apa dong buat ngeresmiin kamu."
"H—Huh?" Seongwoo menoleh dengan cepat. "Kamu ngomongnya ngelantur deh, Dan. Kamu lagi sadar, kan? Nggak lagi ngantuk atau mabuk apalagi ngigau?"
Daniel melepaskan belitan lengannya di bahu Seongwoo. Tak lupa ditatanya tas kertas di bagasi. Setelahnya, ia buka pintu penumpang di sebelah pengemudi, mendorong lembut tubuh Seongwoo; sementara telapak tangannya terulur di kepala Ong muda, melindungi kepala yang tersayang dari benturan atap mobil. Ia menutup pelan pintu mobil, kemudian berputar arah guna memasuki bagian untuk pengemudi.
Pemilik marga Kang itu lagi-lagi terkekeh, dan juga tersenyum-senyum, membuat Seongwoo mengernyit heran ditempatnya. "Kamu kayanya positif gila, Dan."
"Aku masih sehat rohani dan jasmani, kok. Hormonku juga."
"Kamu.."
"Aku ngomong kenyataan yang aku alami, Seongwoo-ya."
"Dan.. Sumpah aku jadi ngeri sama kamu. Apalagi bahas hormon begitu."
Meledaklah tawa Kang Daniel. Ia bahkan sesekali menepuk pahanya sendiri yang terlindung ripedjeans hitam. "Hei, wajar kan seorang pria di usia pertengahan dua puluh, ngomongin hormon. Nggakusah parno gitu lah. Tenang aja. Aku nggak bakal ngapa-ngapain kamu kalau belum sah."
"Ya udahnggak usah bahas lagi." Seongwoo masih was-was, ngomong-ngomong. "Terus kita mau kemana sekarang?"
Daniel terus fokus pada roda kemudi. Senyum menawan yang memamerkan gigi kelincinya yang khas terus terukir. "Kamu tinggal duduk manis, okay? Nggak usah takut. Aku nggakbakal berbuat yang macam-macam kok ke kamu."
Tikungan ketiga, dan Seongwoo mulai rileks. Ia sudah mulai menyikapi tingkah aneh Daniel dengan santai dan bijak. Selang berapa menit kemudian, Daniel menginjak pedal gas, membuat Seongwoo nyaris memekik. Detik selanjutnya, Daniel membawa Seongwoo memasuki kawasan perumahan elit di distrik Gangnam; yang sejatinya bukanlah tempatnya bermukim. Ia tak habis fikir dengan apa yang Daniel lakukan kali ini. Yang jelas, ia hanya perlu menyiapkan mental karena ia memiliki pemikiran yang mungkin mengejutkan. Hahahahahahah—... Daniel...kan memang sulit ditebak tindakannya.
~Ckiitt.
Gesekkan ban dengan aspal jalanan memecah keheningan di Cluster mewah yang mereka jajaki. Seongwoo mencengkeram erat sabuk keselamatan yang melingkupinya. Daniel memainkan tongkat persneling, dan juga pedal rem, tak lupa ia kendalikan roda kemudi hingga kini Aston Marthin kebanggaannya terparkir sempurna di pekarangan luas salah satu rumah berkonsep modern, luas dan asri. Ia membantu melepas seat belt, dan membukakan pintu untuk Seongwoo.
"Selamat datang di rumah keluarga Kang. Ayo masuk dan kita akan bernostalgia dengan semua orang yang merindukanmu."
Seongwoo menautkan alisnya. Keningnya berkerut, tanda bahwa empunya tengah berfikir keras. Benaknya bergejolak, mencoba menerka apa maksud dan tujuan Daniel mengajaknya mengunjungi keluarga Kang.
Rupanya di ruang utama sudah berkumpul beberapa orang yang membuat Seongwoo syok. Ada keluarga Kang selaku pemilik rumah; Kang Hodong—Ayah Daniel, Kang Junhee—Ibu Daniel, Kang Seungyoon—Kakak Daniel. Belum lagi rupanya Tuan dan Nyonya Ong; Ong Youngwoon—Ayah Seongwoo, Ong Seungah—Ibu Seongwoo, tengah asyik bersenda gurau. Hidangan kue yang berkurang kuantitasnya di piring saji dan teh earl grey yang sudah tidak terlalu mengepul, menunjukkan bahwa manusia-manusia yang disini, sudah menghabiskan waktu bersama dengan tempo yang cukup lama.
"Akhirnya kalian datang juga." Tuan Kang angkat suara. "Kami sempat mengira kalian berdua tersesat." Candanya.
Daniel menanggapinya dengan senyum. Ia mengelus lembut punggung tangan Seongwoo yang ada di jangkauannya. "Kami sedikit berdebat, Yah. Jadi harap maklum bisa terlambat."
"Tadinya mau dimaklumi, Niel. Tapi kalau terlambat hampir dua jam.. Kayanya harus ditinjau ulang."
Daniel tertawa mendengar ujaran sang Kakak. Ia menggeleng ringan, sembari mendorong pelan tubuh Seongwoo. "Kak Seungyoon bisa aja. Seongwoo juga tadinya kekeuhnggak mau di ajak kesini."
"Terus harus gitu kamu laporin itu ke Ayahmu?" Seongwoo menimpali. "Kamu nggak asyik, Dan."
Riuh sorakan dan tawa menggema di ruangan, menanggapi apa yang mereka ungkapkan. Berlanjut dengan pembahasan keberlanjutan hubungan dan rencana penyatuan dua keluarga, yang justru ditinggalkan oleh pihak yang nantinya sama saja sebagai media penghubung.
Ya, Daniel dan Seongwoo memang akan dinikahkan. Dan saat ini, kedua anak adam yang mencoba menuliskan cerita cinta di buku perjalanan yang sama, memilih untuk memisahkan diri dari pembicaraan serius Ayah Bunda. Mereka tengah berpelukan di balkon kamar Daniel di lantai atas, dengan lengan kekar si Bungsu Kang yang melingkupi tubuh Seongwoo; sementara dagunya ia tumpu di bahu putra tunggal Tuan Ong. Tatapan keduanya terpusat pada kerlipan bintang di langit kelam yang cerah tak berawan.
"Kamu tau nggak, Dan.. Kalau kamu itu sosok yang aku cari selama ini." Seongwoo bersuara. "Sosok yang bisa nerima aku yang kaya gini, mampu membimbingku keluar dari perangkap sakit hati yang nggak bisa enyah gitu aja."
"Iya. Maaf karena aku nggak secepatnya datang buat ngelepasin kamu dari jerat Ronald." Daniel tersenyum. "Seenggaknya dengan begini, kamu bisa lebih ngerasain apa itu bahagia karena kamu sempat ngerasain luka."
"Dan..."
"Aku cinta kamu, Seongwoo. Dari dulu, sekarang dan seterusnya.."
[That you and your perfect smile are both timeless
Never going out of style
For so many reasons you got it together]
.
.
.
.
Bucin OngNiel mana suaranya?
Wkwkwkwk
.
.
.
