I'll be your island

Jung Jaehyun x Lee Taeyong

Aesthetic's Visual Couple

[Inspired by : Winner Island]


[Under the palm tree over there

Let's have a glass of champagne

I'll be your Island]


Taeyong tengah menyibukkan diri dengan berbagai macam bahan yang diperlukan di acara BBQ Party malam nanti. Mata serupa boneka miliknya memicing tajam, memindai dengan fokus helai dedauan dan juga irisan daging yang sedang ia bersihkan.

Tak jauh darinya sosok jangkung dengan dimple manis di kedua pipinya pun terus fokus pada saus teriyaki[6] dan saus BBQ sendiri di pantry. "Taeyongie–hyung!"

Suara berat sang pria berdimple bergema, memecah keheningan yang sempat mendominasi kedua anak adam dengan paras di atas rata-rata manusia di sekeliling mereka. Mata tajamnya pun tetap ia fokuskan pada pekerjaanya. Ya, meminimalisir resiko buruk kalau-kalau si tampan bermarga Jung itu mengalihkan atensi.

"Ada apa, Jae?" Taeyong angkat suara sementara jemari lentiknya tak berhenti untuk memilah bahan pangan yang menerima kucuran air dari keran di westafel. "Apa ada yang harus kulakukan sekarang untuk membantumu?"

Kekehan terdengar setelahnya. Jaehyun –Jung Jaehyun, kekasih Taeyong– menggeleng kecil karena mendengar pertanyaan bernada kaku yang baru saja terlontar dari bibir yang lebih tua dua tahun darinya itu. "Hanya memastikan, kok."

Taeyong yang mendengar pernyataan Jaehyun hanya mampu merotasikan bola matanya malas. Sudah hapal dengan tingkah random Jaehyun, jadi hanya respon seperti itulah yang ia tampilkan. "Terserah kau saja, Jung."

"Ya ya ya.. dikatakan oleh calon Jung juga."

"Che, mimpi saja sana!"

Jaehyun memuntahkan tawa. Entahlah, apapun yang Taeyong ujarkan padanya dengan intonasi tajam justru membuatnya bersusah payah menahan gejolak tawa. Baginya itu sama halnya lelucon konyol yang dilontarkan para pemain acara gag yang biasa ditayangkan setiap jarum panjang menunjuk angka 12 malam.

"Baik, aku akan mengingatnya, hyung."Dimple di pipinya kembali terbit."Setidaknya sudah ada rambu jika aku takkan bertanggung jawab jika ada kabar putra bungsu Nyonya Lee menangis karena Jung Jaehyun menikah dengan orang lain."

'Brugh'

Suara benda berbahan logam yang beradu dengan lantai dapur mengalihkan atensi Jaehyun. Dengan segera si Jangkung itu mematikan kompor dan menghampiri tubuh mungil Taeyong yang nampak gemetar.

Dengan berlahan, lengan kekarnya ia kalungkan di pinggang ramping Taeyong, menyandarkan punggung rapuh sang kekasih di dada bidangnya, sementara hidung bangirnya ia gunakan untuk mengendus aroma khas Lee Taeyong yang menguar di ujung kepalanya. "Maafkan aku, hyung.."

Deru nafas memburu Taeyong yang mendominasi. Jaehyun merasa amat bersalah. Rupanya, ia melupakan satu hal; bahwa kekasihnya sangat sensitif dengan topik Jaehyun akan menikahi orang lain.

"Hyung, aku hanya bercanda.." bisik Jaehyun lembut di telinga Taeyong yang memerah. "Sungguh, aku tidak akan melakukan hal itu."

"Kau bodoh, Jaehyun!" Taeyong mencacinya. "Bercandamu sungguh tidak lucu!" Tubuhnya ia bawa memutar –tanpa melepaskan belitan lengan Jaehyun di pinggangnya– hingga kini keduanya saling berhadapan. "Lain kali jangan seperti ini ya, Jae?"

Jaehyun mengangguk mengiyakan. Ia tersenyum manis, kemudian mendaratkan kecupan sayang di kening yang lebih mungil. "Iya, hyung. Jadi, ayo kembali fokus untuk acara malam nanti!"

Taeyong tertawa. Ia melepaskan rangkulan Jaehyun dan menyusun kembali bahan yang diperlukan sembari menata ulang peralatan yang nantinya dimanfaatkanuntuk acara yang diprakarsai oleh salah satu teman dekatnya.


.

.

.


Deru ombak dan angin laut memberikan aura tenang dan nyaman bagi segerombolan anak muda yang tengah melaksanakan kegiatan BBQ Partydi pinggir pantai. Malam yang kian larut seolah bukan penghalang kaula muda yang kini mulai terbuai akan kenikmatan daging bakar yang berpadu dengan berbotol–botol sampanye yang rupanya memang disediakan oleh si empunya acara.

Yang di bawah umur harus berpuas hati dengan kaleng minuman berkarbonasi dibanding mengambil resiko fatal meski terbersit rasa iri melihat para kakak yang asyik menikmati minuman mahal hasil fermentasi anggur itu.

Jaehyun menyandarkan punggung tegapnya di pohon palm. Netranya tak ia alihkan pandangannya dari sosok Taeyong yang terus bergurau dengan Doyoung dan Ten. Tangan kanannya sesekali ia gerakkan untuk mengoyang gelas berisi sampanye, sementara tangan kirinya ia masukan ke saku celana kain berwarna hitam yang malam ini membungkus kaki jenjangnya. Lengan kemeja linen berwarna darkblue yang ia lipat hingga siku, menambahkan tampilan maskulin pria yang lahir di San Fransisco, 21 tahun silam itu. Belum lagi jam tangan sport hitam yang dengan sempurna melingkari lengan berototnya.

Senyum tampan terukir, ketika ia mendapati pergerakan sang objek tatapan yang kini terarah padanya. Ditambah keberadaan segelas sampanye lainnya di tangan kanan sang terkasih. "Jae, kenapa kau malah mengasingkan diri disini? Apa kau tak ingin bergabung dengan yang lain?"

Jung muda tertawa kecil. Ia merasa lucu karena manusia yang paling dicintainya itu melupakan satu hal –seolah deja vu– bahwa Jaehyun akan selalu memisahkan dirinya sendiri dari kerumunan; guna menikmati segelas sampanye dan juga waktu berkualitas antara dirinya dengan Taeyong.

"Hmmm... Aku ingin disini. Bersama dirimu dan segelas sampanye –walau nyatanya dua gelas– di bawah pohon." Bilah apelnya ia sapu dengan ujung lidah; gesture menggoda (tanpa sengaja pada faktanya), membuat seorang Lee Taeyong panas dingin di tempat. "Lagipula, aku tidak terlalu bernafsu memakan kumpulan kalori berkarsinogen[7] itu melebihi batas makanku, hyung."

Taeyong tersentak. Sekarang Ia baru menyadarinya. Jaehyun–nya memang mulai membatasi konsumsi hasil pembakaran tungku BBQ beberapa bulan terakhir seiring padatnya jadwal sang Dominan; sehingga jadwal olahraganya pun berubah (porsinya menurun tentu saja).

"Jae, maafkan aku." Taeyong menunduk. "Aku melupakan itu." Jemarinya memainkan kancing kemeja Jaehyun dihadapannya.

Matanya mengedip. Mengundang tawa menggoda si Jangkung. "Santai saja, hyung." Dengan cekatan ia menenggak habis sampanye di tangannya. Yeah, oneshot!

"Jae!" Taeyong mendelik. "Aku tahu toleransimu terhadap alkohol sangat bagus, tapi tetaplah kontrol dirimu!"

Jaehyun mengedikkan bahu tegapnya. Ia tetap menyunggingkan senyum menggoda, kemudian melangkah meninggalkan Taeyong sekejap, hanya untuk meletakan gelas kosong di meja terdekat. Kembali ia melangkah mendekati sang kekasih; memenjarakan tubuh yang membeku di antara dirinya dan pohon yang tadinya menjadi tempatnya untuk bersandar.

Punggung jari telunjuknya ia sapukan di pipi halus sang kekasih, sementara tangan kanannya ia gunakan untuk menumpu badan tegapnya; sehingga tidak terlalu menghimpit seorang Lee Taeyong. Tatapan tajamnya ia fokuskan dengan tatapan sayu yang lebih tua.

Deru nafas keduanya bersahutan. Jaehyun mengikis jarak antara wajahnya dengan wajah Taeyong. Bibirnya mengecup kecil bilah kemerahan sang Kekasih. "Aku akan menjadi pulaumu, hyung. Selalu." Senyuman maut tercipta disela pagutan mesra. "Menjadi tempatmu bermain, singgah, bahkan tinggal."

Taeyong tersenyum, meyakini ucapan yang lebih muda. Mengklaim janji yang lebih muda, sekaligus turut menyuarakan janji yang sama, meskipun hanya mampu ia lisankan di sanubari.


.

.

.

.

Next Pair ditunggu~

.

.

.