Morning Habitually?
Kwon Soonyoung x Lee Jihoon
Ending-Fairy Couple[9]
[Inspired by : ASTRO–Morning Call]
!Alert: Bahasa non–baku
Bangun pagi adalah hal yang paling menyusahkan untuk Soonyoung. Terlebih ketika semalam dia habis begadang, entah untuk mengerjakan PR, menonton bola atau bermain PS. Tapi semalam dia begadang untuk mengerjakan PR, kok.
Soonyoung tidak terlalu suka disuruh bangun pagi-pagi setiap hari seperti ini. Maka dari itu, hari Minggu adalah hari favoritnya. Karna dia bisa tidur sampai siang hari.
Tapi itu dulu, sih.
Sejak dia dekat dengan salah satu adik tingkatnya yang super manis itu. Soonyoung jadi suka saat pagi menjelang. Bahkan sang ibunda tercinta dari seorang Soonyoung sempat tidak percaya jika Soonyoung pemalas itu berubah sedemikian rupa.
"Benar kamu Muhammad Soonyoung Assilas, anaknya bunda?" Pertanyaan bundanya waktu itu hanya dijawab cengiran lebar oleh Soonyoung sambil mengangguk pelan.
Duh... Bun, emang siapa lagi kalo bukan anaknya bunda? Masa anak tetangga sih?–Gerutuan tidak berguna milik Soonyoung.
.
.
.
Pukul 05:30 pagi hari, jam weker Soonyoung berbunyi tapi anak itu tidak bergerak barang seinchi pun. Seperti ada batu besar yang menindih tubuhnya, berat sekali rasanya bergerak dari posisi nyamannya. Sampai jam weker itu berhenti berdering pun Soonyoung tetap setia bermain di alam mimpinya.
Pukul 05:45 pagi hari, ganti ponsel Soonyoung yang berbunyi. Lagu dari boyband tujuhbelas[8] favoritnya menggema di seluruh ruangan. Sang empunya menggeliat beberapa kali lalu segera mengambil ponselnya, melihat nama si penelpon membuat senyum tercetak di bibirnya.
((Jihunku))
Soonyoung segera menggeser ikon berwarna hijau, menekan ikon speaker lalu meletakkan ponselnya di samping kepalanya yang masih terkulai di ranjang."Selamat pagi, Jihoon."
"Selamat pagi, Kak Soonyoung. Baru bangun ya?"
Soonyoung merasakan jantungnya berdebar setelah mendengar suara si manis di seberang telpon. Hatinya menghangat, sehangat sinar mentari yang menerpa wajahnya pagi ini.
"Aku masih baringan di ranjang, dek." Kedua mata Soonyoung masih tertutup, suaranya juga serak khas bangun tidur. Tapi senyum di wajahnya tidak luntur sama sekali.
"Bangun dong, kak. Udah jam berapa ini, nanti telat lho. Jadi jemput Jihoon, nggak?"
Perlahan Soonyoung bangkit, menyandarkan punggungnya pada dashboard. Dia masih tidak tau kenapa suara Jihoon bisa membuat jantungnya bekerja extra keras pagi-pagi begini. Selalu seperti ini setiap paginya, setiap harinya.
"Jadi dong jemput Jihoon. Sarapan di rumah atau di sekolah?" Soonyoung memainkan selimutnya.
"Lagi pengen sarapan sama kakak. Jadi, sarapan di sekolah aja."
Soonyoung mengepalkan tangannya lalu mengangkatnya tinggi-tinggi sambil menggumamkan kata 'yes' 3 kali. Pemilik mata sipit itu beringsut turun dari ranjang dan segera mengambil handuknya.
"Kalau begitu tunggu kakak sebentar, mau siap-siap dulu buat jemput tuan putri."
"Okidoki, jangan lama-lama ya kak. Jihoon udah laper, hehe."
Ya gusti, hehe-nya Jihoon tadi lucu sekali. Kakinya Soonyoung sampai keder mendengarnya.
"Gemesbanget sih sayangnya Kak Soonyoung ini. Pengen uyel-uyel jadinya."
"Nanti uyel-uyelnya pas ketemu kak. Makanya buruan mandi sana, aku tunggu di teras rumah."
"Siap, sayangku."
Soonyoung tidak tahu jika hanya dengan mendengar suara lembut Jihoon saja bisa membuatnya seantusias ini saat pagi menjelang. Membuatnya tidak sabar untuk segera pergi ke sekolah untuk melihat wajah manis kekasihnya. Padahal dulu saja sangat malas untuk bangun pagi, pergi ke sekolah seperti orang yang tidak memiliki semangat hidup sama sekali.
Tapi sekarang?
"Ya ampun, bunda harus bilang makasih sama Jihoon. Kalau dulu kamu ngga naksir Jihoon mungkin sampai sekarang bunda masih neriakin kamu pagi-pagi kayak teriak ke maling."
Ah, bunda bisa aja.
Ngasih lampu ijo ya, bun?
Hehehe...
.
.
.
[My morning that's starts because of you
It's a miracle
When the sun rises
And I open my eyes, the voice I hear
It's so beautiful]
.
.
.
Muehehhe yang ini sweet barcitarasa local.g
.
.
.
