All Day
Lee Jun Young 'U-Kiss' x Son Dong Myeong 'M.A.S'
JunMaeng couple[13]
[Inspired by : 2PM–All Day Think Of You (A.D.T.O.Y)]
'Ah... Aku seperti melayang..'
Lontaran kalimat yang bernada ambigu itu nyaris ia suarakan, jika saja Jun tak mengingat keberadaan dirinya saat ini.
Tak jauh darinya sosok lelaki manis dengan boneka berukuran sedang; berbentuk kodok tengah tersenyum-senyum, menampilkan dimpel manis yang membuat seorang Lee Jun Young nyaris terkapar di tempatnya berdiri.
"Apa yang kau fikirkan, hyung?" Sosok itu angkat suara. "Kau pasti sedang memikirkan sesuatu yang jorok, kan?"
Jun tersenyum sumringah. Tangannya ia bawa untuk mengusak surai brunette yang lebih muda. Dan tentunya dibalas dengan tatapan polos yang khas dari putra sulung Tuan Son.
Ah... Tatapan itu lagi. Tatapan yang membuat seorang Jun yang terkenal sebagai perayu ulung diam tak berkutik; kaku, dengan ekspresi wajah yang tak dapat dibaca, dengan degupan sang penyokong kehidupan—Jantung— yang meningkat dua kali lipat, dengan efek getaran tak berarti menjalar di seluruh tubuh; bagai mendapat sengatan listrik.
Dan, tanpa disadarinya, ada sosok lain yang mengawasi pergerakannya, sosok lelaki tampan yang hanya mampu menggelengkan kepalanya pelan. Ia memang melakukan hal ini sejak beberapa bulan terakhir, semenjak Jun melakukan berbagai cara untuk mendekati sang kakak. Benar, sosok yang mengawasi tindak tanduk Lee Jun Young adalah Son Dongju—adik kembar Dongmyeong—, adik tingkatnya.
Dongju meninggalkan keduanya, melangkah pasti menuju perpustakaan. Ah, ia perlu membunuh rasa bosan ini dengan menekuri berlembar-lembar bacaan yang ada di tempat favoritnya itu.
Kembali pada Jun, yang kini asyik menopang dagu dengan salah satu tangannya. Tatapannya ia fokuskan pada Dongmyeong yang asyik bergurau dengan Kangmin, teman sekelasnya. Senyum lebar terpatri di wajahnya.
Dongmyeong tertawa-tawa —lagi—. Ia bangkit dari posisinya sembari memukul ringan bahu pemuda yang lebih tinggi darinya. Ia menggeleng kecil ketika mendapati gigi yang mencuat dari sela bibir Kangmin —gingsul—, kemudian mendaratkan kepalan tangannya di kepala lelaki bermarga Noh tersebut. Dimpel manis terbentuk, membuat Jun mati-matian menahan gejolak hasrat untuk segera menyergap si Mungil Son.
Dongmyeong berjalan melewati Jun, bermaksud untuk mencari keberadaan sang adik. Lagi, ia tersenyum. Membuat Jun yang kini memejamkan mata; menghirup aroma tubuh sang pujaan —campuran vanilla dan orchid— kian berfikiran lancang.
Ah, mungkin ini efek ia terlampau sering menonton tontonan dewasa—akibat ajakan sang sepupu, Soohyun— dan juga berfantasi yang iya-iya tentang Dongmyeongnya. Peduli setan dengan cercaan Kevin, kakak cantiknya yang kecerewetannya melebihi ibunda tercinta.
Jun yang mulai terlena akan fikiran dan fantasi anehnya tersadar; tepat ketika seseorang menepuk bahunya. Oh, rupanya Jaehyun."Kau baik, Jun?"
"Ya, aku baik." Pemilik marga Lee mengernyit heran. "Memangnya kenapa?"
Jaehyun mengedikkan bahu. Ia tak habis fikir dengan kelakuan sahabatnya."Kau nampak aneh, Jun-a.." Ia melangkah, menjauhi Junyoung yang tengah fokus merapikan bomber jacket yang dikenakannya. Sesekali jemarinya bergerak untuk menyugar surai kehitaman miliknya.
"Oh, katakan pada Coach Han dan Rain-saem kalau aku akan terlambat sore ini." Jun berpesan dengan riang.
"Kenapa kau bisa berencana terlambat latihan?" Jaehyun bertanya dengan raut penuh curiga.
Jun menyeringai kecil."Aku ada urusan." Dia terkekeh melihat gelagat Jaehyunyang menatapnya dengan tatapan menuduh. "Eum.. Sebenarnya aku akan mengantar Dongmyeong pulang. Hehehe.."
"H—Huh. Sudah ku duga alasanmu terlambat, bajingan tengik." Jaehyun mengumpat. Ia melirik ganas pada Jun yang terus menerus tertawa. "Otakmu terlalu transparan. Sampai saat ini aku masih heran bagaimana bisa Rain-saem menjadikanmu seorang asisten dosen sedangkan tingkahmu begini."
Jun melambaikan tangan sembari melenggang pergi meninggalkan Jaehyun yang menahan kesal. Pria Jung akhirnya mengalah, menyadari betapa kurang ajarnya seorang Lee Junyoung. Yang jelas, pria setinggi 187 senti itu sudah mulai melancarkan serangan guna memenangkan hati Dongmyeong.
.
.
.
[When you look at me,
it feels like getting electrified
When you touch me,
I close my eyes and smell your scent
I feel like soaring,
my body and mind all burn up
The moment you appear, I feel like crazy]
Dongju menghampiri Dongmyeong di sudut kelas. Mata kuliah yang ia ikuti hampir sama dengan sang kakak, meskipun berbeda ruangan. Saat ini, di ruangan 302 dengan luas hampir 56 meter persegi itu hanya ada Dongmyeong yang duduk di kursi pojok; dengan Jun yang asyik bersandar di dinding, tangannya pun tak henti-hentinya memainkan surai brunette si Sulung. Dongju menghela nafas perlahan. "Hyung, aku pulang dulu." Dan hanya dibalas anggukan— mengiyakan— dari Dongmyeong. Ck.
Dongju mendecih ringan. Namun, sekali lagi, ia mengalah. Si Bungsu Son akhirnya memilih meninggalkan Jun dan Dongmyeong meskipun rasa was-was mendominasi dirinya. "Aku menitipkan Dongmyeong hyung padamu, Jun hyung. Jaga dia baik-baik." Pesannya sebelum beranjak keluar ruangan, tanpa peduli respon Jun yang mengganggukan kepalanya antusias.
"Dolmaengie mau kemana setelah ini?" Jun dengan tidak tahu dirinya melancarkan serangannya. "Hyung tahu kau sedang merasa bosan, Dolmaeng."
Dongmyeong tertawa kecil mendengar ajakan Jun. Tangannya dengan atraktif mulai memasukkan alat tulisnya yang berserakan di atas meja. Setelahnya, ia mulai mengalungkan tali tas ke bahunya. "Jun hyung benar. Aku bosan" bibirnya mengerucut lucu kemudian. "Dongju selalu sibuk dengan buku-bukunya. Tak tahunya kakaknya sendiri sudah hampir mati karena bosan."
Jun terbahak. Merasa lucu dengan aduan yang ia dengar dari seseorang yang sudah menguasai dirinya, baik alam sadar maupun alam bawah sadarnya; Dongmyeong. Wajah polos tanpa dosa, dengan dimpel yang selalu ia pamerkan ketika sang empunya tersenyum, kian membuat si Sulung Lee mabuk kepayang. "Jadi, Dolmaengie mau kemana?"
Dongmyeong meletakkan salah satu jarinya di dagu, dengan bola mata yang ia arahkan ke atas—menerawang—, sementara bibir kembali mengerucut lucu; tanpa sadar berpose aegyeo. Kian membuat Jun berusaha sekeras mungkin menahan diri agar tidak segera menerjang tubuh ramping putra Tuan Son.
Belum lagi matanya yang berkedip lucu, membuat Jun nya—
"—tte adventure, hyung."
—ris menggila dimanapun ia berada. Eh, H—huh? Apa itu tadi? Apa yang baru saja meluncur dari bibir tipis seorang Son Dongmyeong? Ada yang bisa menjelaskannya untuk Jun? Sungguh segala tingkah laku si Mungil membuat fokusnya buyar tak menentu lagi.
Tapi, adakah yang bersedia mengulang jawaban Dongmyeong? Khusus untuk Jun?
"Ayo kita ke Lotte Adventure, hyung.."
Oh, taman bermain indoor itu ya. Jun mengangguk mengiyakan. Jemarinya meraih telapak tangan Dongmyeong, menelusupkan bagian dari tangannya itu disela jari lentik Dongmyeong. Senyum riang terulas sempurna di wajah tampannya. "Tentu saja. Ayo kita bersenang-senang."
Keduanya meninggalkan ruangan penuh semangat, menghampiri Outlander Sport berwarna hitam metalik yang terparkir sempurna di sudut halaman parkir kampus. Jun membantu membukakan pintu dan menghalangi kepala Dongmyeong dari benturan atap mobil, menutup pintunya perlahan-lahan; kemudian dengan segera menghampiri bangku kemudi. Setelahnya si Jangkung menginjak pedal gas, meninggalkan area kampus bersama sang terkasih. Bermaksud membunuh rasa bosan dengan bermain sepuasnya. Tanpa peduli Jung Jaehyun yang ia titipi pesan bahwa Jun hanya akan mengantar Dongmyeong —dan ini yang memang membuatnya terlambat berlatih dan melakukan bimbingan kepada adik tingkat— sebelum akhirnya ia akan kembali ke gedung selatan, atas perintah Rain-saem; tengah mengumpat sekeras-kerasnya dan mati-matian menahan hasrat ingin membunuh Jun.
.
.
.
.
"Oppa, kau melamun lagi."
Suara seseorang menyadarkan Jun dari jerat cengkeraman alam bawah sadarnya. Ketika kelopak mata si Sulung Lee terbuka, nampak si cantik Seoyoung tengah mengaduk bahan isian beberapa loyang adonan pizza yang sudah siap panggang. Bibir si Bungsu mengerucut, membuat Jun mengerutkan keningnya bingung.
"Kau kenapa?"
"Oppa yang kenapa? Beberapa bulan terakhir oppa sering melamun." Seoyoung mengedikkan bahu. "Parahnya oppa melamun sembari tersenyum sendiri. Hiii.."
Jun tertawa, bahkan terbahak-bahak di kursi counter. Sang Ibu yang sedari tadi sibuk dengan rangkaian bunga yang beliau dapat dari taman belakang hanya mampu menggelengkan kepalanya prihatin. Well, sebenarnya beliau tahu penyebab perubahan sikap sang Putra. Dari yang suka melamun, menulis jurnal harian, sampai membeli beberapa pernak pernik lucu—yang awalnya beliau kira hadiah untuk sang Adik—yang khas.
Praduganya, Jun sedang mengalami tahap dimana ia terlarut dalam perasaan antar sesama—dalam konteks cinta—. Nyonya Lee memang sempat terkejut, ketika mendapati sebait nama yang menurut beliau nama yang umumnya disematkan pada sosok yang memiliki gender yang sama dengan Jun—dan ternyata benar pada kenyataannya— di lembaran kertas lusuh yang terselip diantara lipatan kemeja merah maroon yang hendak beliau masukkan ke mesin cuci.
Kembali lagi, Nyonya Lee memperhatikan interaksi putra-putrinya. Beliau terkekeh pelan, hingga kemudian menyerahkan buket berisi bunga Carnation Merah[14] yang sudah beliau rangkai sedemikian rupa; berbalut wraping khusus bermotif tanda hati berwarna keemasan.
"Itu biasa terjadi jika seseorang tengah mengalami fase jatuh cinta."
Jun melirik sang ibunda yang dengan entengnya mendeklarasikan apa yang ada dalam pikirannya. Sang Ibunda hanya tersenyum simpul, menggoda anaknya itu sangat menyenangkan. "Uh, Ibu sok tahu." Jun cemberut, tapi tangannya tetap menerima sebuket bunga yang diserahkan padanya oleh sang Ibunda.
"Hei, hei, Ibu tidak sepenuhnya salah. Kau saja yang mengelak." Seoyoung mencoba untuk membela Ibundanya, lagipula dia juga memikirkan hal serupa setelah mendengarkan kalimat bundanya tadi.
Jun merotasikan matanya, "Kau masih kecil, tidak tahu apa-apa. Panggang saja adonan itu, jangan banyak bicara, nanti gosong."
"Dasar manusia menyebalkan, kenapa aku bisa punya kakak seperti dia sih."
Sang Ibunda yang kembali mendengar perdebatan antar saudara itu hanya terkekeh kecil. "Sudah-sudah, kalian ini tidak bisa apa sekali-kali menjadi saudara yang akur sehari saja?"
"Mulut Jun oppa yang menyebalkan ini selalu saja memicu pertikaian."
"Hei! Lidahmu itu yang terlalu licin, dasar adik kurang ajar."
Nyonya Lee mengibaskan tangannya tidak perduli, percuma saja dilerai, bukannya berhenti malah semakin menjadi. Akhirnya beliau memilih opsi lainnyayaitu meninggalkan pertikaian antar saudara itu terjadi. Toh nanti, kalau sudah lelah juga berhenti sendiri.
.
.
.
Sebenarnya jadwal bertemu mereka masih 30 menit lagi, tapi Jun yang terlalu bersemangat itu tidak bisa menunggu lagi. Persetan dengan omelan Jung Jaehyun di sambungan telepon tadi. Yang jelas biarkan ia bahagia kali ini. Toh jika ia menjelaskan pada Rain-saem akan dimaklumi. Hey, ia belum mengambil jatah libur bimbingan dalam kurun waktu 45 hari ini. Jadi, Jun memilih untuk menyenangkan dengan senang hati datang 30 menit lebih cepat dari waktu perjanjiannya dengan sang pencuri hati, siapa lagi jika bukan makhluk fluffy ciptaan Tuhan yang diberi nama Son Dongmyeong oleh kedua orang tuanya itu.
'Daripada nanti dia yang menunggu, kan kasihan.'
Memang yang namanya budak cinta itu nyata, bukan hanya khayalan semata.
Setelah Dongmyeong dengan senangnya mengajak Jun untuk pergi ke Lotte Adventure, Jun semakin bersemangat untuk mendekati si manis Dongmyeong. Si manis itu seperti memberi lampu hijau untuknya, tentu saja kesempatan emas ini tidak disia-siakan begitu saja oleh Jun.
'Gas terus Jun, jangan sampai kendor!'
Seperti itulah kata hati Jun kala itu, menyemangati dirinya sendiri.
"Halo, Jun hyung."
Mendengar suara yang sangat familiar di telinga, dengan secepat kilat Jun dapat menemukan sosok pujaan hati yang telah berhasil mencuri hatinya itu. Ah, Dongmyeong dengan kaus putih polos dipadu celana jeans biru muda dengan sneakers hitam putihnya itu terlihat sangat simple namun menggemaskan. Sangat.
Sejenak, Jun lupa bagaimana cara untuk berkedip. Dia hampir tidak mengedipkan matanya, selama 20 detik.
"Oh, hai, Dolmaeng." Jun menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, senyumnya pun terasa canggung. Tapi Dongmyeong sepertinya tidak sadar akan perubahan sikap dari si tampan tersebut.
Si manis hanya tersenyum kecil, "Sudah lama menungguku?"
Jun menggeleng, "Aku juga baru sampai."
How to spell Lee Jun young? N.
Lotte Adventure memiliki berbagai macam jenis permainan, mulai dari yang biasa-biasa saja sampai yang ekstrim pun ada. Jun tidak masalah menaiki wahana apapun, asal Dongmyeongnya senang, dia juga senang.
Bukan, itu bukan kataku. Itu kata Jun sendiri, aku hanya menyampaikannya pada para pembaca sekalian.
Dongmyeong tampak bersemangat melihat berbagai macam wahana yang tersuguh di depan mata, ia menengok kesana-kemari, seperti tidak sabar untuk segera menaiki semuanya. Tapi tubuhnya tidak bisa terbelah menjadi dua dan dia tidak bisa jurus kagebunshin[15] seperti karakter Naruto favoritnya, jadi tidak mungkin jika dia menaiki semuanya sekaligus.
"Ayo kita naikDrunken Basket!" Dongmyeong menarik tangan Jun dengan semangat membara. Berlari secepat kilat menuju antrian yang tidak terlalu panjang untuk menaiki wahana pertama yang ingin ia naiki.
"Dolmaengie, sudah makan 'kan?" yang ditanyai mengangguk dengan wajah berbinar. Jun menghela nafas lega, wahana ini berputar-putar. Akan berbahaya jika si manis menaikinya sebelum ia makan. Kesayangannya bisa mual di tempat.
Kesayangan? Sebentar, mereka kan belum official. Tapi bukan masalah besar, memang pada kenyataannya Jun sangatmenyayangi dan mengasihi Dongmyeong. UHUK!
"Ayo! Ayo!"
Wajah bersemangat Dongmyeong yang terlihat berseri itu seperti alat kejut jantung bagi Junyeong. Senyum lugunya itu berdampak besar bagi kinerja jantung Jun di dalam sana. Mendengar senda guraunya menjadi backsound tersendiri bagi Jun, suara Dongmyeong tentu saja menjadi salah satu suara yang paling ia favoritkan. Tanpa sadar ia tersenyum melihat bagaimana senyum menawan Dongmyeong itu terkembang dan tetap bertahan disana bahkan setelah mereka turun dari wahana, justru malah semakin lebar.
.
.
.
"Kamu senang?"
Dongmyeong mengangguk semangat sambil menyuap ice cream vanilla di tangan. "Tidak ada yang lebih menyenangkan daripada ini!" ucapnya dengan binar bahagia di mata. Jun melihatnya, membuat seluruh tubuhnya seperti tersengat aliran listrik. Ah, si manis ini benar-benar memberikan dampak besar bagi Junyeong.
"Aku senang jika kamu senang." Jun sedang tidak menggombal, dia mengatakannya dengan tulus. Dengan menatap kedua mata Dongmyeong yang juga tengah menatapnya sambil tersenyum. Si manis tersipu, kentara sekali terlihat rona merah jambu di kedua pipinya meski ia masih mempertahankan senyum manis itu.
"Aku mau mengambil barangku dulu, kamu tunggu disini, jangan kemana-kemana." Titah yang lebih tua pada yang lebih muda. Si manis mengangguk patuh, duduk manis di tempatnya ditemani satu cup ice cream vanilla kesukaanya.
Saat sedang asik menikmati ice creamnya, ponselnya berdering anda ada pesan masuk.
|Eomma
Dolmaengie, jangan lupa makan ya? Dan ingat, jangan pulang terlalu malam! |
Dongmyeong menggeleng, terkekeh kecil membaca pesan dari orang yang sudah menghadirkannya di duniadan terlalu mengkhawatirkannya. "Dongmyeong kan sudah besar." Cicitnya, sambil mengetikkan balasan untuk ibunda tercinta.
Tapi pandangannya terhalang sesuatu, ia mengerutkan dahinya lalu menegakkan lehernya.
Buket bunga?
"Sejak kapan ada bunga cantik disitu? Kenapa aku tak menyadarinya?" Dongmyeong mengerjap. Ia mengedikkan bahunya acuh sebelum kembali menampilkan raut penuh kegembiraan tepat sesaat setelah Junyoung kembali menghampirinya.
"Ah, Dolmaengie.. ada yang ingin hyung katakana padamu." Junyoung menelan salivanya kasar, yang entah mengapa menurutnya hampir menyerupai menelan pecahan koral. "Kau tahu kan, selama ini kita dekat, bahkan teramat sangat.."
Dongmyeong terus mendengarkan apa yang hendak sang kakak sampaikan. Ia memiringkan wajahnya, dengan matanya yang berkedip-imut-, membuat Junyoung mati-matian menahan hasrat untuk menerkam putra Tuan Son.
"Hyung menyuka-ah tidak.. Hyung mencintaimu, Dolmaengi…" Junyoung menatap sang submisif dengan tatapan penuh cinta. "Perasaan hyung untukmu sepekat warna bunga ini.. dan akan berkembang seiring dengan mekarnya buket yang kini ada di genggamanmu.."
Dongmyeong mematung. Ia masih mencoba mencernan untaian kata yang baru saja memauki rungunya. Mulutnya terbuka dan menutup secara konstan. Nyaris menyerupai ikan yang mengambil napas. "Hyung…"
Cup.
Tanpa di duga, bibir sensual sang dominan bermarga Lee mendarat sempurna di bibir tipis pria mungil berjuluk 'Dolmaeng'. Tanpa mempedulikan pekikan pengunjung disekitarnya, Junyoung bahkan tak segan-segan untuk melumat penuh gairah bibir tipi sang terkasih. Hingga kemudian pukulan ringan di dada bidangnya membuat aktifitas si Jangkung Lee terhenti.
"Hyung…"
Benang saliva yang seolah menjadi penghubung di antara wajah keduanya membuat wajah Dongmyeong memerah. Ibu jari Jun tergerak, menghapus sisa saliva yang membasahi bibir menawan Dongmyeong, menghapusnya pelan, berakhir dengan member kecupan lembut syarat godaan yang membuat sesuatu yang terlindung tulang rusuk di dada Dongmyeong menggila detakannya.
"Would you be my lover, Dolmaengie?"
Si Mungil menunduk, menyembunyikan rona kemerahan yang menghiasi paras manisnya. "Of Course, hyung.."
Dan, sudah bisa dipastikan.. dengan resminya ikatan asmara di antara mereka.. kegiatan saling menggilai satu sama lain akan terus berlanjut, sepanjang hari, sepanjang waktu.
.
.
.
Kkeut
Officially end
For this series
.
.
.
