NARUTO PUMYA MASASHI KISHIMOTO

I KNEW IT [hhibin]

Pairing : HINATA.H x SASUKE.U

RATE : M

NOTE : OCC, TYPO, AU.

#Awal Perjanjian

Ditempat pelelangan tadi semua anggota mafia yang mengadakan pelelangan berkumpul. Mereja berkumpul lagi karena ingin membahas topik pelelangan hari ini yaitu Hyuga Hinata.

"Kenapa jadi kacau begini, ini tidak sesuai rencana kan Kakuzu?" tanya pria berambut perak yang bernama Hidan dengan nada kesal.

"Iya benar apa yang kau katakan," jawab Kakuzu dengan nada yang biasa ia keluarkan.

"Bagaimana ini? Hinata sudah jatuh ketangan orang lain bukan tangan Itachi, jika terjadi sesuatu padanya bagaimana?" sekarang giliran Konan yang bertanya dengan nada yang khawatir.

Semua orang yang ada di ruangan itu pun mengangguk setuju dengan perkataan Konan. Pein yang bingung dengan ucapan teman-temannya perlahan mulai berfikir.

"Jika ia melakukan sesuatu yang membahayakan Hinata, aku akan mencoba mengambilnya kembali. Apapun caranya!"

Ucapan Pein langsung mendapatkan dukungan dari yang lain, dia adalah ketua yang cepat mengambil keputusan dan keputusannya itu bijak sehingga dapat diterima oleh yang lainnya.

"Jangan melakukan itu," ucap Itachi tiba-tiba. Semua yang ada diruangan ini menatap Itachi dengan tanda tanya besar dipikiran mereka. Apalagi Deidara yang tanda tanyanya paling besar. Kisame yang sudah tau persoalannya itu hanya bisa menatap Itachi dengan tatapan bosan.

"Hu ft~ ini seperti dorama-dorama yang menyedihkan. Kau sebaiknya jangan merelakannya hanya karena dia itu adik kesayangan mu Itachi."

Ucapan Kisame itu sukses membuat Deidara menatapnya dengan bingung dan kesal

"Apa maksud dari perkataan mu Kisame? Adik siapa yang kau maksud?" tanya Deidara kesal bercampur bingung. Bagaimana ia tidak kesal dan bingung, karena dari tadi mereka berbicara itu belum ada titik yang jelas untuk menjelaskan masalah ini.

"Uchiha Sasuke lah yang membeli Hinata, kalau sudah berkaitan dengan adiknya ia akan merelakan apapun demi adik kesayangannya itu," ucap Kisame menjelaskan ke semua orang yang berada dalam ruangan ini.

"Dari mana kau tau Kisame?" sekarang malah Tobi yang bertanya.

"Sasori jelaskan dan kau Tobi dengarkan Sasori jika ia sedang menjelaskan. Duduklah dengan manis," perintah Kisame kemudian menarik Tobi agar duduk kembali di sebelahnya. Tobi pun menurut dan mengerti dengan apa yang dibicarakan para seniornya.

"Pertama kali aku mengenalnya ketika temanku Gaara datang ketempat ini. Ia datang kesini dengan membawa seseorang yang menurutku sangatlah mirip dengan Itachi. Karena penasaran aku pun bertanya padanya, ia menjawab kalau itu Uchiha Sasuke. Aku lebih yakin sekalih ketika Sasuke berkata seperti ini pada kedua temannya 'Itachi sedang dirumah sakit menjaga Tousan ku'. Ia berkata seperti itu, jadi dapat aku simpulkan seperti itulah," ucap Sasori panjang lebar. Yang lainnya hanya mengangguk menandakan kalau ia mengerti dengan penjelasan Sasori.

"Wah kau hebat juga Itachi, jika kau Tobi menjadi Itachi apa kau akan melakukan hal yang sama?" tanya Deidara heboh setelah mendengar penjelasan Sasori tadi. Yang ditanya pun mulai berfikir dengan gayanya yang lucu seperti anak-anak.

"Mungkin juga seperti Senior Itachi," jawab Tobi semangat. Deidara yang mendengar jawaban dari Tobi hanya menatap Tobi dengan tatapan kagum. Baru kali ini seorang Deidara kagum dengan seseorang. Wahhh Tobi kau hebat karena bisa membuat pria ini kagum padamu.

"Jika sesuatu terjadi pada Hinata, aku minta kau ambil kembali Hinata walaupun Hinata bersama adikmu. Aku tidak mau tau," ucap Konan kesal. Semua yang ada disana setuju dengan ucapan Konan barusan. Siapa juga yang tidak kesal jika rencana mereka itu gagal total dikarenakan adik temannya sendiri.

"Pein," panggil Konan sedikit parau. Pein mengangguk mengerti ketika wanita yang ia cintai hampir menangis.

"Iya, ingat itu Itachi. Kami semua menginginkan yang terbaik untuk Hinata kami," ucap Pein mewakili perasaaan semua anggota. Semua yang ada disana mengangguk setuju dengan yang dikatakan Pein pada Itachi. Terdengar dengan jelas nada serius dari ucapan Pein ini.

Itachi yang sudah mulai tersudutkan hanya bisa berkata 'iya'

I Knew It

Pagi yang sedikit mendung mengawali pagi dua manusia yang berbeda gender ini. Si wanita masih saja terlelap dalam mimpinya sedangkan si pria sudah mulai melakukan aktivitasnya seperti biasa.

"Hinata bangun," ucap Sasuke pelan sambil menaruh air putih di meja samping ranjangnya itu, tapi yang dibangunkan tidak membuka matanya sama sekalih.

"Hinata bangun, ini sudah pagi," ucap Sasuke sekalih lagi dan duduk di samping Hinata. Dengan pelan ia menepuk-nepuk pundak Hinata agar bangun. Merasa ada yang menepuk pundaknya, Hinata mulai membuka matanya perlahan.

"Cepat bangun."

Bukannya bangun, Hinata malah tersenyum ke arah Sasuke. Sasuke yang melihat senyumannya itu tidak menanggapinya.

"Ohayo~ Uchiha Sasuke," ucap Hinata setengah sadar. Sasuke hanya diam tidak menjawab sapaan Hinata tadi. Hinata yang tau kalo pemuda ini tidak menjawab sapaannya mulai mencubit pipi kiri Sasuke.

Sasuke tetap diam dan datar ketika wanita didepannya ini mencubit pipi kirinya. Hinata yang sudah mulai sadar jika pria ini tidak merasa kesakitan hanya bisa gugup dan takut ketika melihat wajah datar dan dinginnya itu. Nampaknya wanita ini sudah tersadar dari mimpi indahya. Hinata masih tetap mencubit pipi kiri Sasuke, ia sekarang ini bingung sekalih harus bagaimana.

'A-aku bingung' batin Hinata. Dengan cepat ia mulai memutar otak.

Hanya butuh beberapa detik, ia akhirnya menemukan ide. Dengan perasaan yang gugup, takut dan bingung ia malah mengencangkan cubitan pada Sasuke.

"Sakit, cepat lepaskan," ucap Sasuke dingin. Hinata pun menurut dan melepaskannya, sekarang ini ia malah mencubit pipi kanan Sasuke. Ia mulai berfikir jika ia harus mengungkapkan kekesalannya dengan cara seperti ini. Lagipula jika dengan cara begini kan, bungsu Uchiha ini tidak tau perasaan gugup dan takutnya yang setengah mati ia tahan .

"I-ini adalah ungkapan kekesalan ku padamu Uchiha," ucap Hinata keras dan mengencangkan cubitannya. Ia sedikit senang juga karena bisa membalas perbuatan orang didepannya yang membuat dirinya ketakutan setengah mati semalam.

"Lepaskan Hinata."

Hinata langsung menggeleng dengan cepat.

"Tidak mau, jika ingin ku lepas cepat ganti kontrak itu," ucap Hinata mengancam Sasuke. Sasuke hanya terseyum dingin ke arahnya. Hinata yang melihat senyum Sasuke langsung ketakutan dan tambah keras mencubit pipi Sasuke tanpa ada rasa kasihan sama sekalih ataupun sadar sama sekalih. Sasuke yang mulai kesal dengan wanita didepannya langsung mencubit balik kedua pipi Hinata lumayan keras.

"Sa-sakit, kenapa kau malah balik mencubit ku?" tanya Hinata kesal dan ketakutan sambil menahan sakit di area pipinya.

"Jika kau lepaskan cubitanmu, aku akan melepaskannya juga," ucap Sasuke dengan ekspresinya yang bisa dibilang sama dengan Ekspresi Hinata yaitu menahan sakit.

Dengan gugup dan takut Hinata melepaskan cubitannya dan Sasuke pun sama.

"Dasar licik," umpat Hinata pelan.

"Apa?"

Hinata langsung menggeleng cepat dan tersenyum kaku.

"Minum ini," ucap Sasuke memberikan segelas air putih pada Hinata. Hinata pun mengambilnya dengan gugup dan meminumnya dengan cepat.

"Kontrak mana yang minta kau ganti?" tanya Sasuke dingin.

"Kalau aku bilang, apa kau akan mengantinya?" tanya Hinata dengan nada kesal yang sengaja ia buat agar menutupi rasa gugup dan takutnya

"Tidak juga."

"Dasar menyebalkan," ucap Hinata pelan. Dengan perlahan ia beranjak dari kasurnya dan masuk kekamar mandi. Sasuke pun mengikutinya dari belakang dan berhenti ketika Hinata menutup pintu kamar mandi.

"Sebentar lagi Kasaan ku datang, jadi bersiaplah. Handuk mu di atas meja kerjaku," teriak Sasuke dari luar kamar mandi. Hinata mengabaikan perkataan Sasuke karena ia sekarang ini sedang sibuk mengatur irama detak jantungnya yang tidak karuan karena rasa takut dan gugupnya yang berlebihan. Hampir 5 menit, akhirnya irama jantungnya kembali lagi. Setelah berhasil mengatasi irama jantungnya yang tidak karuan, tiba-tiba ia tersenyum aneh.

"Akhirnya aku bisa membalasmu dan menahan rasa gugup dan takutku."

Hinata tersenyum hanya beberapa detik, sekarang ia mengubah mode wajahnya dengan raut wajah kesal.

"Tapi, ia itu Licik, menyebalkan, curang. Ini semua kan menguntungkan untuk dirinya. Sedangkan untuk diriku tidak menguntungkan sama sekalih." Sekarang ia malah menggrutu . Jika begini kan ia terlihat seperti mempunyai kepribadiaan ganda. Dasar Hinata.

Dengan keadaan yang masih menggrutu, ia mulai membuka satu persatu bajunya perlahan dan mulai menyiramkan air ketubuhnya.

"Lihat saja nanti aku akan membalasnya."

Hinata mulai mengambil sabun dan mulai menyabuni seluruh tubuhnya. Sekarang ini ia tidak henti hentinya menggrutu akibat ulah Uchiha bungsu ini. Giliran tidak ada orangnya ia berani, tapi kalau ada orangnya? Mana mungkin ia berani.

Dengan sedikit lumayan kasar, Hinata mulai menggosok-gosokan tubuhnya dengan sabun yang tersedia agar tidak ada kotoran lagi ditubuhnya. Sedang enak-enaknya sabunan, tiba-tiba raut wajahnya berubah menjadi sedikir muram.

"Tapi kapan aku akan membalasnya, oh kami-sama."

Ternyata ia memikirkan itu. Dasar Hinata -.-

Setelah merasa sudah rata tubuhnya dengan busa sabun, ia mulai menyiramkan air lagi hinggah beberapa kali ketubuhnya hingga tidak ada busan sabun yang menempel. Sekarang ia mulai mengambil pasta gigi yang ada dan mengoleskannya ke sikat giginya.

Disaat gosok gigipun ia masih saja menggrutu dan bingung. Sebegitu kesal dan bingungkah ia dengan sikap bungsu Uchiha ini?..

Setelah selesai gosok gigi dan berkumur-kumur, ia mulai mencari handuk disekitarnya.

"Mana handuknya?"

Hinata mulai terus mencari handuk disekitar kamar mandi yang lumayan mewah ini. Raut wajahnya berubah menjadi gugup dan ketakutan ketika tidak menemukan handuknya.

'Tidak ada handuknya, orang itu menaruhnya dimana?' tanya Hinata bingung dan ketakutan dalam hati. Ia mulai panik dan ketakutan ketika tidak menemukan handuk sama sekalih. Ia mencoba mengingat-ngingat perkataan Sasuke tadi sebelum ia masuk kamar mandi.

"Sebentar lagi Kasaan ku datang, jadi bersiaplah. Handuk mu di atas meja kerjaku,"

"A-apa?!"

Ia sedikit tidak percaya dengan ingatannya sendiri. Dengan hati-hati dan sedikit tidak percaya ia mulai membuka pintu kamar mandi memperlihatkan kepalanya di depan pintu. Ia hanya ingin memastikannya saja.

"A-apa?!"

Ternyata benar handuk berwarna biru yang ia cari ada di atas meja kerja Uchiha ini. Ia hampir menangis ketika melihat handuk itu ada didepan matanya, tapi dengan cepat ia menghapus air matanya yang menggenang. Ia mulai memperhatikan keadaan sekitar. Setelah merasa cukup aman karena tidak ada tanda-tanda Sasuke ia mulai berlari.

"Kami-sama, aku mohon bantu aku," ucap Hinata pelan. Dengan kecepatan tinggi dan setengah sedih ia berlari ke arah meja kerja Sasuke.

"Aku berhasil."

Ceklek.

Hinata langsung berlari kekasur dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.

"Kenapa kau masih disana, cepat mandi. Sebentar lagi ia akan datang."

Perlahan Sasuke berjalan ke arahnya.

"A-aku akan mandi, ja-jadi kau keluar lah," ucap Hinata gugup dan ketakutan. Ia semakin mengeratkan selimutnya. Air mata yang tadi sudah hilang, sekarang menggenang lagi.

"Iya aku tau, tapi ponselku tertinggal."

Sasuke mulai mencari ponselya dikasur yang sekarang ini sedang Hinata tiduri.

"Sudah bi-biar aku yang carikan. Jadi pe-pergilah sana," bentak Hinata dengan nada gugup dan ketakutan yang semakin menjadi. Ia dengan sedikit gemetaran mulai menyingkirkan tangan Sasuke dari kasur. Sasuke masih tidak menyadari wanita didepannya hampir menangis akibat ulahnya sendiri.

"Kau ini kenapa si? Kenapa sekarang kau malah mengusir ku?" tanya Sasuke kesal. Niatnya sekarang kan hanya untuk mencari ponsel, tapi kenapa wanita didepannya itu malah memarahinya tanpa sebab.

"Kan aku sudah bilang, biar aku yang carikan."

"Kau akan carikan kapan aku tanya?"

"Na-nanti, maka dari itu kau cepat keluar," usir Hinata sekalih lagi dengan nada yang masih sama. Sasuke hanya diam di tempat memerhatikannya tanpa ada niatan untuk pergi.

"A-apa yang kau lihat? Ce-cepat sana pergi," usir Hinata lagi.

Sasuke bukannya pergi, ia malah mendekatinya dan duduk disampingnya. Ia mulai membisikan sesuatu ditelinga Hinata.

"Aku membutuhkannya sekarang Hyuga, jadi cepat carikan kalau tidak ingin aku yg mencarinya."

Hinata mengangguk takut dan mulai mencarinya. Air matanya tambah banyak yang menggenang akibat ketakutannya.

"I-Iya, tapi tutup matamu."

"Ya terserah kau saja," ucap Sasuke dan menuruti apa yang dikatakan Hinata yaitu menutup matanya.

Dengan terburu-buru dan gugup ia mulai mencari ponsel milik Sasuke. Ia mulai mengangkat selimutnya dan akhirnya ketemu juga ponsel milik Sasuke. Ia mulai berbaring lagi dan mengusap air matanya yang turun dengan lancarnya. Akhirnya ketemu juga.

"Su-sudah aku temukan ja-jadi ini," ucap Hinata dan memberikannya tanpa mengubah posisinya.

Sasuke pun mengambilnya perlahan dan Srek...

Ia malah menarik tangan Hinata sekaligus juga hinggah posisinya berubah menjadi duduk.

Mereka berdua hanya diam, tidak memberikan ekspresi apapun. Hinata malah hampir tidak mengedipkan mata dan Sasuke malah datar bercampur ekspresi kaget.

1

2

3

"Sudah aku bilang kan kau keluar harusnya dari tadi, dan lihat apa yang terjadi. Da-dasar ca-cabul," ucap Hinata setengah menangis dan memperhatikan tubuhnya. Ia bingung dan sedih ketika tubuhnya terlihat orang yang baru ia temui semalam.

"Harusnya kau bilang jika kau tidak mengenakan baju," ucap Sasuke membela dirinya.

Hinata langsung menatap Sasuke dengan dingin dan benci.

"Dasar kau cabul."

Hinata langsung bangun dari kasur dan berlari sambil membawa handuknya tadi.

Sasuke yang melihatnya hanya tertawa sedikit.

"Menarik."

Sasuke masih memperhatikan Hinata hinggah tubuh bagusnya itu tidak terlihat lagi.

Drrtt...

Sasuke langsung melihat isi pesan yang baru masuk. Ternyata orang yang akan datang kerumahnya sudah sampai diparkiran dan memintanya untuk menjemput di parkiran bawah. Ia meminta dijemput karena ia lupa no apartemen anaknya sendiri. Orang tua macam apa ini -.-

"Hinata aku akan pergi, jangan lupa membereskan kamarku," teriak Sasuke keras sebelum keluar kamarnya. Hinata hanya diam tidak menjawab perkataan Sasuke. Ia menjadi bingung dan malu karena tubuhnya terlihat dengan sempurnannya di depan orang yang membelinya. Ia jadi merasa tidak ada bedanya dengan wanita penghibur yang ada di bar-bar.

"Aku jadi merasa malu dan hina dengan diriku sendiri." Hinata berucap pada dirinya sendiri.

Tes

Air mata yang kesekian kalinya jatuh lagi dengan mulus dipipinya. Baru ada sehari ia tinggal dengan Uchiha ini, 3x lebih ia mengeluarkan air matanya karena ketakutan, gugup dan sekarang Hina. Dasar Hinata.

Semenjak ia tinggal dengan Sasuke ia jadi lebih sering menangis sendiri.

"Hinata aku akan pergi, jangan lupa membereskan kamarku."

Ia teringat dengan ucapan Sasuke. Dengan kasar Hinata mengusap air matanya dan keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk tidak seperti tadi yang polos tidak mengenakan apapun. Ia langsung menuju koper birunya, mengambil kaos tidak berlengan berwarna merah dan celana panjang jeans putih. Tidak lupa ia mengambil pakaian dalamnya yang berwarna senanda dengan kaos merahnya itu. Setelah mengambil itu, Hinata langsung masuk lagi kekamar mandi dan memakai bajunya dengan cepat. Setelah selesai berpakaian, ia keluar dari kamar mandi dan membersihkan kamar Sasuke dengan cepat dan juga bersih. Lagi pula kamar ini sudah rapi untuk ukuran pria lajang seperti Sasuke jadi Hinata hanya membersihkan sisa-sisa yang lumayan tidak bersih dan berantakan di kamar Sasuke.

Ceklek...

Tepat sekalih, ia selesai membersihkan dan merapikan kamar Sasuke baru Kasaan dari Sasuke datang.

"Kaasan kan sudah lama tidak kesini, jadi maklum lah jika lupa kan," ucap Wanita paruh baya yang baru masuk bersama Sasuke.

"Dia sudah datang."

Hinata berjalan keluar kamar Sasuke menuju ruang tamu apartemen Sasuke setelah mendengar suara seorang wanita. Hinata langsung berdiri tepat di depan ibu Sasuke yang baru duduk di sofa ruang tengah.

"Emmm.. A-aku Hyuga Hi-hinata. Sa-salam kenal."

Hinata langsung memperkenalkan diri pada Ibu Sasuke tanpa meminta ijin dulu pada Sasuke. Ia langsung meruntuki dirinya sendiri karena terlalu bodoh keluar dan memperkenalkan diri. Hinata masih memberikan salam tanpa ada niatan untuk menatap wajah dua orang didepannya karena ia merasa malu dan gugup setengah mati. Ibu Sasuke yang kaget melihat wanita asing dirumah anaknya hanya bisa bingung dengan keadaan didepannya. Tidak lupa juga Ibu Sasuke memperhatikan penampilan Hinata dari atas hinggah bawah dengan intens.

Sasuke yang tau Hinata gugup langsung berjalan karahnya dan merangkul pundak Hinata agar menatap wajah Ibunya dan tidak menunduk terus.

"Jangan menatapnya seperti itu Kaasan, lihat dia jadi merasa gugup dan ketakutan. Kaasan tidak lihat keringat di dahinya ini?"ucap Sasuke. Ia mengelap keringat dingin di dahi Hinata. Hinata dengan gugup dan sigap langsung menepis tangan Sasuke agar tidak usah mengusap keringat didahinya dan tidak merangkulnya seperti tadi.

"Dia siapa?" tanya Ibu Sasuke bingung menatap Hinata dan Sasuke dengan bergantian. Dan juga ia bingung kenapa ada wanita diapartemen anaknya. Sudah begitu kenapa wajah wanita didepannya ini tidak asing?

"Dia kekasihku," jawab Sasuke santai dan merangkul Hinata lagi. Hinata dengan cepat melepaskan rangkulan Sasuke dan bergeser sedikit agar menjaga jarak dengan Sasuke. Sasuke langsung menatap Hinata dengan tatapan yang seolah mengatakan'kau jangan bersikap seperti itu'

Hinata hanya bisa menunduk tanpa mau menatap mata Sasuke lagi.

"Kekasihmu? sejak kapan kau berpacaran dengan gadis ini? Dan juga sepertinya Kaasan pernah bertemu dengan gadis ini," ucap Ibu Sasuke panjang lebar dan masih terus memerhatikan Hinata dengan intens.

#TBC

Maap yak kalo jelek. Dan juga maap buat bikin judulnya, author ameng ga pandai bikin judul, dan semua sarannya juga makasih yak. Author udah ganti semua. Thanks :D